Tentang Teman Sejati

Teman 1

Teman 1

Syukur. Ya, kembali ku saat ini ke sini adalah membawa syukur. Syukur yang ingin ku bagikan. Syukur yang tidak terlihat pandang. Karena ia tanpa wujud, memang. Walau begitu, ku ingin menjadikannya ada. Salah satunya, yaa, dengan cara mampir di sini, lalu memberainya dalam rangkaian tulisan. Tulisan-tulisan singkat mewujud paragraf sederhana. Paragraf-paragraf yang semoga bermakna. Makna yang bisa menulari sesiapa saja yang ia sapa. Sapaan lembut, sapaan hangat, sapaan penuh cinta, sapaan yang sampai ke hati. Karena aku merangkainya dengan hati.

Hati. Ya, hati-hati sangat ku merangkai kalimat demi kalimat ini. Hati-hati yang mengingatkanku selalu untuk berbaik sangka sebelum ia tercipta. Hati-hati yang ku tata dengan semaksimal upaya. Supaya ada yang terberi dengan hati ini.

Memberi. Aku masih belajar memberi dan berbagi. Dengan kembali ke sini, aku belajar berbagi. Berbagi yang ku miliki? Atau memberi sebagian titipan yang ku terima. Ya, setelah menerima dan ku rasa bermakna, maka ku ingin membagikannya. Supaya kebahagiaan melingkupi sesiapa saja di sana. Mereka yang menerima. Sama seperti yang ku alami saat menerima.

Senang sangat senang, ku bahagia dengan menerima pemberian yang sampai padaku. Dalam bentuk apapun itu. Apakah sebaris kalimat motivasi, seuntai kisah dan cerita tentang perjalanan diri, sebuah kata tentang makna yang terpetiki dari kehidupan seseorang di sini. Mereka yang menemuiku atau aku yang menemui mereka. Maka, kembali ku ke sini adalah dalam rangka mengabadikannya. Supaya mereka yang baik padaku, ku ingat menjadi abadi. Ku abadi beliau di ruang hati. Lalu, semoga mengalir kebaikan demi kebaikan yang beliau beri, melaluiku. Entah sampai di mana nanti. Ku hanya ingin menjadi jalan agar kebaikan mereka semua tidak terhenti hanya sampai pada diri ini. Namun akan lebih banyak lagi yang tercerahi. Supaya semakin banyak lagi kebaikan membersamai pribadi-pribadi lain di sana. Di luar sana, ku ingin mengabadi tentang semua.

Semua yang ku terima, tidak ingin ku nikmati sendiri. Segala yang ku rasa, ku ingin membagi pula. Apakah bahagia yang menenangkan hati. Atau juga kesed-ihan yang menggerogoti hati. Aku tidak ingin mengalaminya sendiri. Sebab, kalau ku bagikan, ada senyuman yang menemani. Baik saat ku menyadari kekonyolan diri. Ketika ku menyadari keluguan jemari. Atau saat ku mensyukuri keberadaannya bersama kami. Maka dengan melakukan aktivitas berbagi seperti menulis di sini, ku rasakan lagi bahagia setelah derita mendera jiwa. Ku tertawakan diri sendiri setelah bulir-bulir airmata membasahi pipi. Karena ternyata, semua komedi dalam kehidupan ini tidak abadi.

Ada hari kita bahagia. Ada masa kita ceria. Pun ada selingan duka menghiasi masa. Begitulah warna-warni kehidupan di dunia. Maka jangan kaget atau terpesona terlalu lama. Cukup nikmati saja, dengan terus menjaga hati. Memperhatikan kondisi terbarunya. Apa yang kita laksanai, apakah dengan membawanya serta? Hati yang di dalamnya berkumpul cinta. Cinta yang saat mendengar tentang ia, maka aku menjadi bahagia. Lalu, mengembang senyuman di pipiku segera. Senyuman yang menghiasinya dalam beberapa waktu terbaik.

Lakukan sesuatu dengan hati. Cintai apa yang kita lakukan. Niatnya semua demi kebaikan. Untuk menjadi lebih baik. Untuk meneladani kebaikan. Sebab, niat baik mengikuti segala laku. Kesungguhan terlihat dari pribadi. Kepribadian tercermin pada ucapan, sikap dan perbuatan.

“Aku melakukan aktivitas dengan sepenuh hati. Sejak dulu. Saat masih muda. Ketika melakukan aktivitas, aku mencintai, benar-benar mencintai yang ku kerjakan. Hingga hasilnya ku panen saat ini. Setelah puluhan tahun kemudian.
Teman 2
Teman 2
Benar, pada saat dulu, ku tidak mengharapkan balasan atas kebaikan yang ku lakukan. Namun semua ku terima saat ini.
Pamrih? Ah, aku tidak terpikir ke sana sejak lama. Aku tidak mengharapkan kebaikan ku terima saat ku berbuat baik. Aku tidak menginginkan balasan kebaikan serupa pada saat itu juga. Akan tetapi aku percaya, semua pada waktunya. Saat kebaikan memang menjadi hakku, maka akan menjadi milikku juga. Begini ku meyakinkan diri. Aku kuatkan hati, ku percayai benar-benar. Dan benar adanya, terbukti. Maka, saat ini ku bercerita, karena aku ingin engkau, mereka yang ku temui, pun memetik hasil yang serupa. Pengalaman ini tidak ku sampaikan padamu seorang, saja. Namun sesiapa saja yang ku temui, ku kisahkan hal serupa. Tentang mencintai aktivitas yang kita kerjakan. Maka, kita ringan melangkah saat menempuh jarak menuju tempat aktivitas, tenang saat bergerak menjalankan aktivitas. Tidak ada beban, namun menikmati.
Aku menyampaikan semua ini bukan untuk menyombongkan diri, namun berbagi pengalaman.”

Beliau, adalah seorang yang sedang duduk manis di dekatku. Seorang yang berpengalaman dalam kehidupan ini. Beliau yang bekerja keras semenjak lama. Beliau yang berjuang walau tidak semua menerima. Beliau yang keras pada tempatnya. Beliau yang tegas pada waktunya. Dan juga akrab serta dekat dengan teman-teman pada waktunya.

“Sampai saat ini, aku punya teman-teman baik. Teman-teman sejak kecil, bahkan sejak kelas satu. Aku punya satu teman baik. Kami akrab dan baik sampai saat ini, di usiaku yang sudah bertambah, tak lagi muda.
Saat kelas lima, aku juga punya teman baik. Sekarang sudah menjadi orang sukses dan berada. Di masa es em pe pun sama. Aku punya satu teman baik. Sekolah menengah atas juga, ada teman baikku. Kami masih baik sampai saat ini. Di kuliahan juga, teman baikku ada.
Saat ini teman baikku sudah menjadi orang sukses dan berjaya. Namun saat berjumpa, kami tidak memperbincangkan kekayaan satu dengan lainnya. Akan tetapi menyadari, bahwa kami masih sama seperti saat sekolah dulu. Sama-sama dekat dan akrab, terlepas dari apapun jabatan dan predikat yang melekat pada diri saat ini.
Aku punya teman dekat orang kaya juga. Namun kedekatan kami bukan karena harta. Kedekatan kami adalah karena kepribadian yang sama. Kami saling menjaga, saling menghargai. Dan hargaku tidak dapat ternilai dengan angka-angka hingga berjuta-juta. Karena ku posisikan diriku tidak dapat terbeli. Begini cara kami berteman. Hingga teman-teman sejak masa kecil dulu bahkan, masih terhubung baik sampai saat ini.
Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan teman sebangku masa es de dulu. Entah kenapa, kami bertemu di kota ini. Lalu ku traktir ia, teman baikku. Kami berpelukan, setelah lama tidak bertemu.
Saat ia datang ke kotaku, maka aku traktir teman baikku. Dalam hematku, sesekali bertemu dan meneraktir teman, boleh. Namun kalau setiap hari bertemu, lalu meneraktir selalu, ini tidak baik. Begitu pula kalau aku berkunjung ke kota teman baikku, maka mereka yang meneraktir aku. Sungguh, pertemanan kami tidak terbatas oleh waktu.”

***

Teman-teman

Teman-teman

Beliau berkisah di hadapanku, dengan sesekali mengembangkan senyuman di pipi. Aku pun menyimak penuh senyuman. Seraya mengingat-ingat pesan penting untuk ku abadi.

Pesan tentang teman, ini penting. Pesan yang beliau beraikan dengan penuh harapan. Serta kesan-kesan dalam pertemanan.

“Di masa depan nanti, kita pasti membutuhkan teman. Teman yang ada di dekat kita saat kita membutuhkan. Teman sejati. Sebab, kita tidak dapat mengharapkan anak sebagai teman setelah kita tua nanti. Bisa kita lihat di sekitar kita saat ini, kenyataan yang terjadi. Anak-anak tidak selalu ada di sisi, bukan? Begitu juga dengan pasangan hidup, apabila ia meninggal lebih dulu? Bagaimana? Apabila suami meninggal lebih dulu dari istri? Apabila istri kembali ke negeri akhirat lebih awal? Maka, temanlah yang menjadi bagian dari kehidupan kita nanti,” beliau menambahkan dengan ekspresi sulitku mengerti. Ekspresi asing.

Aku pun berpikir, lalu siapakah teman yang selalu ada di sisi? Teman yang tidak pergi-pergi? Ada saat ku membutuhkan? Teman yang sejati? Teman yang abadi? Teman yang bukan hanya imajinasi?

***

Saat ku masih ada di dunia untuk melangkahkan kaki, menggerakkan jemari, mungkin teman-temanku banyak di sini. Namun saat ku meninggal nanti, siapakah teman yang masih setia menemani? Siapakah teman yang masih mau berada di sisiku dan menjadi sahabat sejati? Siapakah ia, teman yang sesungguhnya? Ku menanyai.

Aku percaya, kehidupan kita tidak hanya di dunia ini. Seperti halnya beliau yang menceritaiku tentang adanya kehidupan berikutnya. Beliau, adalah seorang teman yang mencerahiku lagi tentang hal ini. Tentang tujuan segala laku. Tentang tujuan segala sikap. Tentang menemukan makna saat beraktivitas.

***

Beliau melengkapi di ujung kebersamaan kami hari ini. Dulu dahulu sekali, untuk menilai seseorang pertama kali melalui kualitas intelektualnya yang tinggi. Berikutnya, seiring dengan perkembangan teknologi, semakin banyak orang-orang yang pintar. Semakin menjamur para lulusan dari perguruan tinggi dengan titel bergengsi. Semakin tinggi kualitas intelektual yang mereka miliki. Sehingga kebanyakan tersebut pun mengganti/mengubah penilaian terhadap seseorang.

Bergantinya menjadi, kualitas emosional. Yah, kemampuan dalam bersosialisasi mendapat peringkat tertinggi pula. Sehingga mereka yang mempunyai kemampuan emosional mumpuni, mempunyai peran dalam berinteraksi. Dan semakin ke sini, ke sini, penilaian pada seseorang bukan hanya lagi pada kemampuan emosionalnya. Namun pada kepribadian yang melekat pada diri. Kepribadian yang menjadi karakter. Karakter yang sangat menentukan perilaku. Apakah mereka baik, atau bukan.

“Hidup ini pilihan. Kita tidak dapatkan yang kita mau semuanya. Makanya, menjadi tahu dirilah. Pandailah mengenal diri. Berkorbanlah satu hal, jika memang ia menjadi bagian dari pilihan. Sebab, kita tidak selalu bisa bersama-sama melakukan sesuatu yang kita mau. Ada waktunya, teman pergi menjauh, lalu kita jadi sendiri… Maka, kenalilah siapa teman yang sejati. Teman sesungguhnya. Ia yang tidak pergi-pergi. Yang selalu dekat, di hati. Pikirkanlah. Temukanlah ia. Nikmati hari-harimu bersamanya. Bersenyumanlah, berbahagialah.”

Saat teman sejati belum kau temukan, maka temukan ia di dalam dirimu sendiri. Saat teman sejati sudah kau bersamai, maka perlakukan ia sebagaimana dirimu sendiri. Sebaik-baiknya, semampumu. Agar saat ia pergi nanti, engkau tidak menyesali apapun.

🙂 🙂 🙂

Indahnya Mengenalmu

Bila Lelah Rehatlah Sejenak

Bila Lelah Rehatlah Sejenak

Berbekal sebatang pensil di tangan dan selembar kertas kosong, aku mulai melangkah. Melangkahkan jemari ini, aku. Menggerakkannya dengan perlahan di awal. Kemudian semakin cepat dan akan terus menambah kecepatan. Ya, seiring dengan bertambahnya ide-ide yang mengalir di kepala. Ide yang ingin segera keluar dan menelurkan buah-buah pikir. Untuk selanjutnya ku rangkai paragraf-paragraf antik tentang dunia dan kehidupan. Aish, membayangkannya tentu sangat indah. Membayangkan saat akhirnya aku mampu menghadirkan sebuah bacaan untuk pembaca. Bacaan yang bermutu, tentunya.

Namun tidak lupa, sebelum memulai menulis tadi, aku membaca doa terlebih dahulu, bismillaahirrahmaanirrahiim. Robbisrohli sodri wa yassirli amri wahlul ‘uqdatammillisaani wa yafqahul qauli. Semoga setiap baris tulisan yang terhadirkan mampu dimengerti, dan dipahami oleh sesiapapun yang menemukannya. Ya, Allah terangilah dada ini dengan cahaya ilmu darimu. Ilmu yang bermanfaat dan berarti. Aamiin.

Dalam melanjutkan aktivitas melangkahkan jemari bersama pensil di tangan, tak henti ku bertanya. Bertanya pada hati, bertanya pada pikir, bertanya pada alam. Tanya yang ku ingin agar menemukan jawabannya kapanpun. Dengan demikian, aku bukan tidak akan mau bertanya lagi tentang apapun yang aku tahu, namun semakin ku tahu, maka semakin akan sering ku mengajukan pertanyaan. Nah, begitulah manfaat bertanya. Aku akan semakin penasaran dan penasaran lagi, dengan apa yang aku belum ketahui.

Saat ini, satu pertanyaan yang ku ingin sampaikan adalah tentang kesehatan. Ya, kesehatan yang saat ini mulai menepi dari ragaku. Raga yang sedjak kemarin lusa mulai mengalami penuruan imun. Raga yang masih ku paksakan untuk melangkah bahkan berjalan. Walau tidak sanggup berlari, untuk saat ini. Makanya, jemari yang melangkah kini, menjadi pengganti diri yang membuktikan bahwa aku perlu teruskan perjuangan.

Melangkah lagi dan lagi ku seraya bertanya pada teman, “Bagaimana kabarmu di sana? Apakah dalam kondisi sehat dan bahagia?”. Alhamdulillah saat ku temukan jawaban teman dalam kondisi sehat wal’afiat. Aku pun bahagia saat beliau bahagia di sana. Namun ada waktu teman yang lain mengalami kondisi yang sama dengan ku. Ya, kurang sehat raga adanya. Lalu segera ku ucapkan semoga cepat sembuh untuk sahabat di sana. Semoga beliau segera mengalami raga yang sehat. Aamin. Karena aku merasakan sendiri, kondisi raga yang kurang sehat, tentu tidak menyenangkan. Hm, iya, betul, kann? Maka semoga teman dan sahabat di sana segar dan bugar seperti sediakala. Begini doaku terlantunkan untuk beliau di sana.

Dalam doa ku sampaikan pinta agar raga segera baikan. Bersamaan dengan mencari makna dan hikmah dari keadaan yang ku alami saat ini. Karena ada arti dalam setiap kondisi dan keadaan, tentunya. Supaya dalam hari-hari ku lebih perhatian dengan kondisi raga, jangan sampai kelelahan dalam menjalankan aktivitasnya. Pun, supaya ia lebih perhatian dengan perkembangan pikir, begini hikmah yang dapat ku petik saat ini.

Setelah menemukan arti, ku berusaha/berikhtiar dan istiqomah untuk berobat raga. Namun tentu tak lupa berikhtiar terus berusaha menata jiwa dan pikir. Agar ia senantiasa cemerlang tak berkesudahan. Karena ku pahami bahwa, sumber penyakit terkadang berasal dari pikiran yang menumpuk dan banyak sekali. So, keep our think, yaa… bisikku pada diri. Lalu, kami pun tersenyum bersama. Senyuman penuh makna sebagai tanda persahabatan yang erat. Senyuman yang ingin kami sampaikan pula pada dunia, senyuman untuk memberi inspirasi pada semesta. Senyuman yang hadir dari pengalaman yang kami dapatkan. Setelah kami mengalami, tentunya.

Selain menemukan hikmah dari kondisi kurang sehat nya raga, maka dapat juga menjadi jalan untuk introspeksi diri sendiri. Introspeksi seringkali aku lakukan, bahkan dalam kondisi sehat sekalipun. Agar, aku tahu, ada perubahan apa dengan diriku? Termasuk sikap dan perbuatan. Begitu.

Setelah introspeksi diri, ku kembali melangkah dan terus berjalan untuk menemukan ilmu dan pengalaman. Oiya, akhir pekan ini aku tidak ke mana -mana padahal liburan. Ya, aku sengaja melakukannya, bed rest full day on my room. Untuk memperoleh energi lagi di aktivitas esok hari. Dan dari aktivitas liburan pekan lalu, ku sempat mengunjungi sebuah sumber ilmu di masjid terdekat dengan tempat tinggalku saat ini. Adapun temanya adalah tentang tuntunan berpakaian dan berhijab muslimah. Adapun inti dari pengajian yang ku ikuti tersebut, adalah bahwa muslimah yang sudah berakal dan baligh, maka wajib baginya menggunakan pakaian yang syar’i.

Adapun pentingnya berpakaian syar’i bagi muslimah adalah sebagai kewajiban. Kewajiban yang harus dipenuhi sebagai jalan terjaganya ia lahir dan bathin. Ya, selain itu, supaya ia lebih mudah untuk dikenal, sebagai muslimah. Dan dengan berpakaian syar’i, juga menambah ketenangan hati bagi orang lain yang memandangnya. Hal ini merupakan pengalamanku juga. Karena aku sangat senang dan tenang melihat muslimah-muslimah berpakaian syar’i. Apalagi saat berkesempatan berkumpul dengan beliau semua dan menjadi bagian darinya. Subhanallah, aku bahagia dan senang. Kebahagiaan yang menghadirkan senyuman lagi di wajah ini. Bahagia karena aku pernah bercita demikian. Alhamdulillah.  🙂

Teman… Ini adalah catatanku untukmu. Engkau yang saat ini ada di depanku, walau pun kita mungkin tidak akan pernah bertemu dalam nyata. Namun aku bahagia, karena mempunyai kesempatan untuk berbagi denganmu. Berbagi hasil pikir dan suara hati. Catatan yang semoga engkau anggap sebagai uluran jemari hati dariku. Sehingga engkau menyambutnya dengan uluran jemari hati pula. Lalu kita bergenggaman jemari, di dalam hati. Genggaman yang semakin erat dan terus begitu, sampai nanti. Bahkan hingga kelak raga kita sudah tiada di dunia lagi. Semoga, kelak di negeri yang abadi, kita kembali bereuni dengan senyuman lebih indah menebar di pipi, Aamiin. Senyuman yang hadir karena kita kembali teringatkan akan pertemuan kita kini, di sini. Ah, alangkah bahagianya di dalam hati, dengan semua ini.

“Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun waja’alna lilmuttaqina imama,” begini doa yang senantiasa terlantun di bibir ini. Doa yang ingin sangat ku alami. Doa yang selamanya akan senantiasa mengiringi perjalanan di dunia ini. Doa yang menjadi inspirasi untukku terus introspeksi diri, memperbaiki diri, dan berubah menjadi lebih baik dari saat ini. Semoga, kelak ku bertemu dengan imam dan teman-teman yang senantiasa menyemangati untuk terus bergerak dalam kebaikan. Doa yang selalu menjadi penyemangat diri untuk melangkah lagi, menuju arah yang ku impikan selama ini. Doa yang sering dilantunkan Ayah dalam shalat berjamaah kami, saat ku masih kecil dulu.

Alhamdulillah, aku bahagia saat ini. Karena satu persatu langkah kaki terus menjejak bumi dengan ringan. Seiring dengan perjumpaan kita di sini, aku yakin bahwa engkau adalah bagian dari doa-doa tersebut. Semoga, doamu juga sama yaa, makanya kita berjumpa di sini, saat ini.

Terus ku melangkahkan jemari, bersama suara yang keluar dari dalam hati. Suara yang ku simak dengan sepenuh nya. Suara yang ku ingin sampai ke padamu di sana. Entah siapa… Suara yang terus membuncah dan menambah cepat gerak jemari saat menulisi lembaran kertas yang sudah terisi sebagiannya. Kertas yang kini tidak kosong lagi, namun mulai bertaburan huruf-huruf ini. Xixiii. Hanya ingin berbagi. Semoga mewujud bunga nan mekar di taman hati, bersemi di pipi berupa senyuman.

Teman… aku sampaikan bahagia dari awal pertemuan kita, di sini. Semoga kebahagiaan ini terus berlangsung yaa. Walaupun kelak aku tidak dapat membersamaimu lagi, namun yakinlah, maknamu akan terus ada. Karena engkau telah menjadi bagian dari jiwaku yang kelak akan pergi dari dunia kita ini. Jiwa yang akan kembali ke sana, bukan selamanya di sini. Makanya, selagi raga ini bisa, ia akan terus berusaha untuk menepikan beberapa baris kalimat, untukmu, teman.

Aku bahagia mengenalmu dan aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi. Kalau bisa sedekat hati ini. Boleh yaa… 😀 Meski kita belum pernah berjumpa, tapi hatiku berkata, bahwa engkau adalah temanku untuk melangkah bersama. Inilah yang ku yakini, hingga saat ini ku masih melanjutkan langkah-langkah ini. Harapan untuk pertemuan kita.

Ya Rabb… rangkullah hamba bila rasakan lelah dalam perjalanan ini. Dengan begitu, hamba kembali mau bangkit dan berdiri, untuk melangkahkan kaki lagi. Karena hamba yakin bahwa ia senantiasa dalam keadaan tenang, bersama-Mu. Karena dalam kondisi ia lelah dan merasa letih, maka ia akan menjadi bu-ta sehingga ku tidak dapat melihat jalan yang akan ku tempuh. Maka, tenangkan ia ya Rabb. Raihlah ia dalam dekapanmu, sering-sering. Dan ingatkan hamba untuk segera kembali kepada-Mu dalam berbagai keadaan. Aamiin.  Dengan demikian, langkah-langkah ini menjadi senantiasa ringan bersama-Mu. Seiring dengan jalan yang terlihat luas membentang di hadapan. Dan tujuan yang menanti dengan senyuman.[]

 🙂 🙂 🙂

Keperluan Penting

Damai

Damai

Akhirnya aku pernah ke sini. Xixi. Di manakah aku berada saat ini?

Aku ingin tersenyum, namun pipi kaku.
Ku ingin tertawa, tapi tidak kuasa.
Aku ingin menangis, buat apa?

So, aku pun meraih sepotong note yang beberapa saat lalu ku simpan di dalam kantong. Aku menyalakannya, kemudian menekan tombol-tombol penting yang dapat menyampaikan aku ke sini. Hingga akhirnya, aku pun berada di lembaran maya. Lembar yang tak mampu berkata apa-apa saat aku mencurhatinya. Pun, lembar yang dapat melampirkan ekspresi ku setiap kali aku mengunjunginya.

Aku pun meluahkan rasa.

Aku bahagiaaaa…
Aku terpesonaaaaa…
Aku sungguh bersyukur adanya.

Ibu SurTini. Adalah beliau yang aku temui di sini. Beliau yang akhirnya berbaik hati pada ku. Beliau membuka pintu untuk menampung aliran bahagia ku segera. Aku ingin menjadi seperti beliau.

“Bunda yang baik, ramah dan bersahaja”, bisik ku.

Ibu, terima kasih atas senyuman. Terima kasih atas bantuan. Untuk ke depannya, aku ingin mengikuti saran yang Ibu pesankan.

***

Saat kita menemui orang asing dengan senyuman, maka ada kelegaan yang menaungi jiwa. Saat kita berhadapan dengan beliau untuk sebuah keperluan penting, maka beliau pun mengalirkan bantuan. Lalu, sudahkah kita bersyukur hari ini, teman?

Syukur itu tidak untuk kita simpan sendiri. Namun ia ada untuk kita alirkan. Agar, setiap bahasa yang kita suarakan saat bersyukur, mengalun indah memelodi dalam sikap dan perbuatan. Sehingga, benar-benar tercipta kedamaian yang sesungguhnya. Ya, syukur itu adalah jalan munculkan senyuman.

Syukur ku ingin ku titipkan pada engkau jua, wahai lembaran maya yang sedang ada di hadapan.
Syukur ku ingin ku alirkan senantiasa pada kehidupan yang menjadikan aku mengerti makna kehadiran diri di dunia ini.
Syukur ku untuk memberikan aku barisan senyuman, setiap kali aku belum lagi membersamainya.
Syukur ku menjadi jalan yang membawa ku bertemu dengan orang-orang ‘yang sebelumnya asing’ dalam kehidupan ku.
Syukur ku mengenalkan aku pada seorang Ibu nan sahaja.
Syukur ku segera menjadi jalan ingatan ku pada Ibunda.

Wahai Ibunda…
Aku ingat pesan beliau, “Berterima kasihlah pada sesiapa pun yang menjadi jalan bahagia mu, Nak. Berterima kasih lah. Kemudian, baru engkau kabarkan pada Ibunda, yaa. Dan yakinlah pada saat yang sama Ibunda sedang tersenyum.”

Aku terharu.
Di sebuah gedung yang baru.
Gedung yang selama ini aku pandangi dari kejauhan. Gedung ini kini mendekap ku erat. Aku merasakan kehangatan kasih Ibunda bersamanya. Ibunda.

🙂 🙂 🙂

Engkau yang awalnya satu. kini tak lagi begitu. Ada yang senantiasa bersamamu dalam melangkah. Buka mata, lalu melihatlah. Optimalkan fungsi telinga, lalu mendengarlah. Raba hati, lalu rasakanlah apa yang sesama rasakan. Indera penciuman, ada pada hidungmu. Pedulilah pada lingkungan. Ada kulit yang membentang luas pada dirimu, itulah alam.
Renungkanlah…”

~ Marya Sy ~

Visualisasi Senyuman

Smile of you
Smile for You

Teman, aku menyaksikan ada senyuman ku pada wajah mu, setiap kali aku melihat mu tersenyum. Ada bahagia di dalam hati ku, saat melihat mu berbahagia.

Dan begitu pula yang sebaliknya. Karena engkau adalah diri ku yang lain. Engkau adalah bagian dari diri yang sedang membersamai ku. Diri yang menjadi teman ku saat melanjutkan langkah-langkah dalam perjalanan kehidupan ini.

Mengetahui bahwa engkau sedang berbahagia di sana, aku tersenyum di sini. Hehe… Karena tersenyum adalah bagian dari aktivitas ku di dunia ini. Senyuman yang ku usaha merangkainya dari waktu ke waktu. Senyuman yang aku sangat yakin, dapat menjadi jalan ku menuju pada cita terbaik. Senyuman yang ingin ku bingkiskan sebagai oleh-oleh dari perjalanan, kepada beliau semua yang sangat aku sayangi. Beliau yang seringkali mendoakan ku, walaupun aku tak tahu. Beliau yang berupaya menitipkan bait-bait kalimat berupa nasihat buat ku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beliau yang aku hargai, aku hormati dan aku teladani. Termasuk, beliau yang aku kagumi dengan sungguh-sungguh. Sungguh!

Teman, ingatkah engkau, kapan terakhir kali engkau menebarkan senyuman dari wajah mu? Lalu, bagaimana perasaan yang engkau alami, sesaat setelah engkau tersenyum? Apakah engkau mengalami nuansa yang berbeda, dibandingkan ketika engkau sedang tidak tersenyum?

Bagiku, sangat berbeda.

Ada perbedaan nyata yang tercipta, saat wajah kita penuh dengan senyuman dengan wajah saat tanpa senyuman. Betul, betul, kannn… ?!

Please practice it, by yourself first. Then, share it to others.

🙂 🙂 🙂