Pesan-pesan

Begini Pesan Orang Tua:

“Hidup adalah perjuangan. Tantangan perlu untuk menang,”
“Kesempurnaan manusia terletak pada kekurangannya,”
“Baik budi, taat beragama, berada di lingkungan yang benar,”

Begini Pesan Aa Gym:

Setiap pertemuan dengan orang lain, siapa saja, niatkan untuk belajar, memperoleh ilmu dan pengalaman. Yakinkan diri bahwa orang lain lebih dalam hal ilmu.ย  Menemui orang lain, tidak dengan niat merasa lebih pandai.ย  Sehingga pertemuan kita dengan siapa saja dapat memberi nilai tambah terhadap wawasan dan bermanfaat. Kata kuncinya adalah dengan berusaha rendah hati, yaitu tidak menganggap orang lain lebih rendah dari kita. Sedangkan rendah hati yang berlebihan tidak perlu kita lakukan. Semuanya adalah dengan keikhlasan. Tidak untuk mendapatkan pujian dari makhluk. Namun karena Allah semata.

Hati-hati dengan kesibukan kita sehari-hari. Jangan merasa puas dengan sibuk bekerja. Kita harus bisa cerdas untuk menggali ilmu dan pengalaman baru dalam waktu-waktu terluang. Untuk menambah ilmu yang bermanfaat pun menyampaikan ilmu yang bermanfaat. Karena apa lagi yang kita dapatkan ketika tubuh kita semakin tua dalam segi usia.

Manusia yang paling ajaib adalah yang paling kuat imannya. Tidak ada satupun kejadian kecuali menguntungkan, bagi orang yang kuat iman. Dan semua itu selalu membutuhkan ilmu dan proses dalam memperjuangkannya. Untuk bersyukur dan bersabar, membutuhkan ilmu dan kegigihan melatih diri. Untuk menjadi pribadi yang terbaik, kita pun perlu berlatih dengan penuh kesungguhan.

Atas kesalahan orang lain, kita maafkan, jangan dimarahi. Atas kesalahan kita, mohonkan ampunan atas segala yang terjadi.

Begini Pesan Saya:

Saya semakin percaya bahwa harapan saya menjelang nyata, setelah saya berjumpa dengan seorang yang istimewa sepertimu. Sehingga membuat saya menjadi semakin termotivasi untuk meneruskan harapan tersebut hingga ia benar-benar menjadi nyata, saat engkau hadir dalam berbagai kesempatan terbaik kehidupanku.

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Pembaca yang Semangat Menulis

Dalam Hitam dan Putihnya

Dalam Hitam dan Putihnya (Photo credit: abi hasan)

Yeee, aku semangat lagi untuk menitip rangkaian kalimat di sini. Xixii. ๐Ÿ˜€

Terkadang, kita menyampaikan alasan bahwa kita tidak mempunyai banyak waktu untuk melanjutkan hobi yang kita punyai. Karena kita mencari-carinya. Lalu, kita menjadikannya sebagai penghalang. Sehingga kita tak dapat lagi berjumpa dan bersama dengan sang hobi. Padahal, buat apa kita mempunyai hobi, kalau kita tidak pernah melakukannya? Dan bagaimana pula hobi itu dapat melekat pada kita, kalau saja kita tidak berusaha untuk melekat padanya?

Sebagaimana telah aku sampaikan pada beberapa detik waktu yang sudah berlalu, bahwa aku mempunyai hobi membaca dan menulis. Sungguh standar yak! ๐Ÿ˜€ย  Nah! akhir-akhir ini, ia seakan terabaikan. Karena aku menemukan satu alasan untuk tidak membersamainya. Padahal, saat tidak bersama dengannya, aku rasakan rindu sungguh-sungguh sangat! Hah!

Bagaimana bisa, aku dapat menemukan alasan itu? Bagaimana pula tarikan kuat dari dalam diriku seakan mengajakku untuk kembali mendekati hobiku? Karena ia bilang bahwa tak dapat untuk tidak bersama hobi dalam menjalani hari-hari.

Tanpanya, aku hampa,” begini curahan yang hati sampaikan.

Dari kejadian sehari-hari yang kita temui,ย  maka kita dapat merangkai beberapa baris kalimat. Dengan demikian, kita telah dan sedang meneruskan hobi menulis yang kita punya. Begitu pula dengan hobi membaca yang tidak kita ingin saat ia tidak terlaksana. Membacalah sebaris ekspresi yang sedang kita pandangi pada wajah yang berada di hadapan. Membacalah aktivitas yang kucing-kucing sedang lakukan saat ia berkumpul di halaman. Membacalah sekuntum bunga di taman. Membacalah lalu lalang kendaraan yang kita pandangi di sepanjang perjalanan. Membacalah gerakan awan yang berpindah sungguh perlahan. Dan membacalah pada langit yang menaungi alam raya. Hey! di sana ada mentariiii…

Pagi ini, aku sedang membaca. Membaca suasana pagi yang damai sungguh sejuk. Menatapnya mataku pada gumpalan awan yang memutih di atas sana, pertanda bahwa ia sedang membaca. Ia membaca tanda-tanda kekuasaan-Nya di angkasa. Sedangkan saat mata ini kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia pun sedang membaca. Ia membaca hijau dedaunan yang menjuntai. Ia pun sedang membaca pepohonan yang berdiri kokoh sebagai penopangnya. Dan dari balik atap di depan, aku sedang membaca beberapa orang tukang yang sedang beraktivitas. Beliau-beliau sedang melanjutkan pembangunan gedung baru milik tetangga kami.

Ai! Membaca tentu tidak hanya buku-buku, bukan?

Setelah itu, tergeraklah kita untuk segera merangkai beberapa bahan temuan yang kita peroleh dari aktivitas membaca melalui tulisan.

Aku senang membaca alam. Aku suka berjumpa dengan tampilannya yang sering berubah. Dan aku sangat terkesan dengan pergantian musim yang berlangsung dengan cepat. Pagi ini, kita dapat tersenyum karena mentari sedang meneladankan kita untuk memulai hari dengan senyuman. Begitu pula dengan siang hari. Kita masih dapat tersenyum bersamanya. Namun, tidak dapat kita prediksi, bahwa ia akan tersenyum hingga sore nanti, bukan?

Musim dapat berubah, begitu pula dengan cuaca. Namun kembalilah ingat sebuah pesan yang beliau sampaikan ini, “Cuaca boleh buruk, tapi pikiran, hati, sikap dan lisan harus selalu bagus. (Aa Gym)

Dari sini, aku belajar bahwa aku perlu berlatih untuk tidak menyesuaikan pikiran, hati, sikap dan lisan dengan cuaca. Karena cuaca bukanlah aku dan aku adalah makhluk hidup. Makhluk yang Allah cipta dengan akal pikiran, hati dan perasaan. Aku dapat memikirkan terlebih dahulu, sebelum menghujani pipi dengan tetesan permata kehidupan yang siap mengalir kapan saja. Pun, aku dapat menyeleksi terlebih dahulu, kapan saatnya bahagia berbunga-bunga, dan kapan waktunya menimbang dengan logika. Sungguh, sungguh dan sungguh! Berbagai keadaan, kejadian dan hal-hal yang kita temui dalam kehidupan ini terdapat banyak hikmah dan bahan pelajaran. Bacalah, lalu tuliskanlah. Agar kita dapat sama-sama belajar. Aku belajar dari pengalamanmu yang engkau tuliskan, teman… karena aku membacanya. Akuย  membaca dari ekspresi yang engkau tampilkan, teman… saat menceritakannya. Lalu ku tulis ia sebagai pengingatku. Karena ia berharga.

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Go Around

Aku bukanlah dia juga dirinya. Karena aku adalah aku.

Aku gampang menangis seperti aku mudah tersenyum.

Aku bukanlah seorang yang terkenal, namun aku mengenal seseorang.

Aku menjadikannya sebagai mentari di hatiku.

Oleh sebab aku suka mentari. Dan mentari hanyalah satu. Itulah dia.

Dia? Siapakah dia?

Dia adalah engkau,ย  engkau mentari di hatiku.

Engkau, teruslah bergerak, menembus malam, membelah alam. Karena engkau tidak pernah dapat menduga, di negeri yang mana engkau menemukan pengalaman. So, teruslah berjalan hingga sampai ke tujuan. ย Selayaknya mentari yang terus berevolusi, ia tidak pernah henti walaupun sejam.

Walaupun kita tidak dapat melihat sinarnya untuk beberapa jam, ketika malam. Namun yakinlah bahwa ia terus dalam pergerakannya. Untuk menyampaikan peran dan menitipkan bakti pada segenap alam. Begitu pula denganmu. Engkau yang mungkin saja belum lagi terlihat untuk beberapa kesempatan, aku yakin sedang teruskan perjuangan. Meskipun bukan di sini, teman.

Hanya lakukan yang terbaik dan engkau mau menjalankannya.ย  Karena setiap kita mempunyai jadwal yang tenggat waktu pencapaian. So, keep focus dan berkonsentrasilah pada apa yang sedang engkau kerjakan.

Jangan abai dengan sekitar, pedulilah pada lingkungan. Untuk menjadikan berbagai keadaan, kesempatan, kondisi dan kejadian sebagai bahan perenungan. Belajarlah dari alam. Maka engkau dapat menemukan pencerahan kapanpun engkau memerlukannya. Lalu, selipkanlah beberapa diantaranya pada lembaran catatan yang telah engkau persiapkan. Yaa.

Sang Petualang - The Origin :)

Sang Petualang – The Origin ๐Ÿ™‚ (Photo credit: M Reza Faisal)

Menjadilah sang petualang yang tidak takut terhembus angin, yang kembali bangkit saat terjatuh. Bersikaplah sepenuh hati, yang rela raganya bersimbah peluh demi mengalahkan teriknya sinar mentari. Pun, berusahalah dengan sepenuh hati, tanpa kenal lelah. Karena sepanjang kita masih berada di dunia, maka langkah-langkah kaki ini perlu terus menjejak bumi. Ia perlu kita gerakkan lebih sering. Kalau tidak di sini, ya di sana. Kalau bukan di sana, ya di mana-mana. Intinya, go around until your last step, ok?

Ups! Aku ingin menjadi sepertimu pula, teman. Engkau yang mengenalkanku pada pelosok-pelosok negeri yang belum pernah aku tempuh.ย  Engkau yang memperlihatkan padaku berbagai pemandangan alam yang belum pernah aku temui. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa luasnya negeri ini, tidaklah sebanding dengan lokasi tempatku berada saat ini. Sungguh, aku ingin berkeliling ke berbagai bagian bumi yang berbeda, setelah aku di sini. Karena aku ingin mengabadikannya di dalam sisi kehidupanku pula. Tidak hanya memandangmu saja, seperti ini.

Aku, saat ini memang berada di sini. Di bawah atap yang melindungiku dari tetesan air hujan yang mulai berjatuhan. Karena di atas sana, langit yang tadiย  bermendung, mulai mengelabu. Ya, tidak ada mentari saat ini. Hanya saja, aku dapat menyadarkan diri bahwa ia hadir saat ini. Dan aku sangat berkesan dengan kondisi ini.

Dari mentari, aku belajar untuk berbagi. Aku belajar menemukan teladan darinya. Ia yang bergulir tiada henti, sungguh ku hargai. Terlebih lagi ketika hujan turun membasahi bumi. Maka ingatanku terhadap mentari pun mengucur deras sekali.ย  Ingatan yang membasahi hingga ke ruang hatiku. Hingga ia pun menghangat seketika. Akibatnya, aku tidak lagi merasakan kedinginan yang menggigilkan ragaku, saat musim berlangsung seperti ini.ย  Karena aku tahu, bahwa mentari hadir untuk memberikan kehangatan pada sekitar. Pun menghangatkan ingatanku untuk segera merangkai beberapa baris kalimat di sini, setelah aku berjalan berkeliling di sepanjang pagi hingga siang ini.

***

Mati lampu yang berlangsung tadi malam, tidak menyurutkan langkah kami untuk terus bergerak. Ya, walaupun gelap di sekitar, namun kami mempunyai segudang asa untuk kami buka pintunya. Sedangkan di bagian sisinya, ada jendela yang dapat menjadi jalan bagi kami untuk dapat melihat dunia di luar sana. Hingga kami pun akhirnya sampai di ZOE.

ZOE adalah singkatan dari Zone of Edutainment. Zoe berlokasi di Jl. Pager Gunung No. 3 Bandung. Lokasinya terletak di sini. Berkunjung ke ZOE untuk pertama kalinya selama hampir tujuh (7) tahun aku di Bandung? Oh.. Hahahaa… membuatku tertawa. Bagaimana bisa?

Tawaran dari Kaito untuk berkunjung ke ZOE, aku terima dengan senang hati. Karena kami memang belum ada jadwal selanjutnya, untuk menghabiskan malam akhir pekan yang sungguh terasa panjang itu *)tanpa seseorang special di samping. Jadilah kami berjalan di tengah gelap malam, tanpa penerangan di sekitar. Gelap-gelapan, bergentayangan di sepanjang jalan, semalam. Hingga tibalah kami di ZOE, setelah lampu menyala kembali.ย  Karena sebelumnya sempat memutar niat untuk pulang saja. Akan tetapi, karena jodoh masih berlaku, aku pun berkenalan dengan ZOE pada dua Februari 2013, on 08.00 WIB at night.

And what happen at there?

Ada banyak buku asyik dan menarik di ZOE. Buku jadul, banyak banget. Usang tampilannya, namun unik dan bagus-bagus isinya. Aku senang berada di ZOE. Pengalaman pertama yang berkesan. Sungguh aku ingin lagi ke ZOE dalam berbagai kesempatan terbaik. Hanya untuk baca-baca saja, atau sekalian kuliner, bisa. Karena di ZOE pun terdapat cafe yang menyediakan makanan dan minuman.

Wah! Aku tidak tahu akan berapa lama lagi di kota ini. Sedangkan lingkungannya yang asri, ramah dan sejuk, belum semuanya aku kunjungi. Sungguh-sungguh aku akan menyesal sekali kalau tidak bersegera mengunjungi berbagai lokasi yang aku belum kunjungi. Padahal, keindahan yang ada di sini, menarik hati dan sangat cocok untuk mencuci-cuci mata.

Hai! Engkau yang senang berbagi, negeri manakah yang engkau pernah kunjungi, dan berkesan hingga kini? Aku ingin pula ke sana. Untuk menemukan bukti, lalu ku bagikan pula di sini. “Karena berbagi adalah salah satu kunci untuk memasuki ruang bernama BAHAGIA.”ย  Agar ia menjadi prasasti atas jejak perjalanan diri, di dunia ini.

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Terbitkan Sinar Terbaikmu

Footprint (mine)

Footprint (mine) (Photo credit: CharlesFred)

Hari ini mentari baru telah terbit. Ia datang membawa senyuman paling baru. Dan baru saja aku menatap keluar jendela untuk menyaksikan senyuman itu. Senyuman yang tak lagi pias. Senyuman mentari pagi ini menciptakan selirik nyanyian dari dalam hatiku.

Aku bersinar untukmu... duduuduuu... ย 
Aku tersenyum padamu... duniaaaa...

***

Senin pagi telah kembali. Seiring dengan terbitnya sinar mentari, aku memulai langkah. Langkah-langkah yang segera menjejak dengan sesamanya. Ia mulai menempel pada permukaan bumi yang masih basah oleh sisa-sisa hujan semalam.ย Aku yang berjalan di atasnya, segera mengangkat kaki untuk ke sekian kalinya. Agar, semakin jauh jarak yang aku tempuh.

Satu persatu, langkah membuktikan bahwa ia masih semangat hari ini. Bermula semenjak pagi yang dingin. Brrr… ย Kesejukkan alami terus menjalar hingga ke tulang sum-sum. Membuat aku teringat pada masa-masa yang penuh dengan perjuangan. Ya, saat aku dengan senyuman terindah mengepalkan kedua telapak tangan ini dengan kuat. Lalu membawanya ke arah wajah, membuka dan mengusapkannya pada lembaran pipiku untuk menghangatkan. Kemudian menepikannya.

Untuk selanjutnya, apa yang engkau saksikan, teman? Wajah itu pun mencipta senyuman. Senyuman penuh kebahagiaan. Kebahagiaan yang ingin ia tebarkan. Termasuk pada mentari yang sedang tersenyum.

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚