air-putihPagi ini, bangun tidur, Mentari langsung membuka pintu kamar. Selanjutnya melakukan aktivitas pagi dan setelah itu berjalan menuju ruang tengah. Dan kemudian membuka pintu depan yang mengantarkannya ke teras. Sehingga ia dapat terhubung dengan dunia luar yang sejuk. Sejuk yang menyambutnya dengan kesegaran. Kesegaran udara pagi yang masih bersih, belum berpolusi.

Aku mengintipnya tidak terlalu jauh, seraya mensenyumi aktivitas paginya.  Karena aku menyayanginya, lebih dari sayangku pada diriku sendiri. Sejak kami berkenalan satu windu yang lalu.

Aha! Sudah sewindu kami berteman. Pertemanan yang berujung persahabatan akrab. Keakraban yang kami rawat dari hari ke hari. Hari-hari yang menitipkan kami beraneka uji. Terkadang suka cita, terkadang duka. Saat ku berduka, ia mengingatkanku untuk tak larut. Saat ku bersuka cita, ia mengingatkanku untuk tak terlena.

Yes, sampai hari ini, kami masih bersama, berdekatan, menjalani hari ini.

Dari teras, ia layangkan pandangan ke depan, lalu ke atas menyentuh awan. Sehingga ia dapat melihat jelas kabut tipis sisa hujan semalam serta atap-atap rumah tetangga. Sampai beberapa menit berikutnya, ia masih di teras. Berdiri mengembangkan tangan, seraya menghirup udara pagi. Sesekali ku melihatnya memejamkan mata rapat-rapat dan menghembuskan nafas pelan.  Lalu, mentari pun tersenyum.  🙂

Terlihat Mentari benar-benar menghayati suasana pagi ini. Pagi yang kembali menjadi jalan syukurnya atas anugerah termewah dari Sang Pencipta. “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah… Aku masih bernafas pagi ini, dengan tenang. Ku siap menjalani hari, dengan senang. Sebagai nikmat terindah dari-Mu Yang Maha Penyayang. Selamatkan dan bimbingku dalam melanjutkan langkah, karena bersama-Mu ku tidak akan lelah…,” bisiknya perlahan. Dalam lirih, ia berdoa. Disaksikan oleh semilir bayu yang menepi di pipinya dan juga aku. Termasuk cericit burung gereja yang sejak tadi ramai meriuhkan suasana pagi. Kami mengaminkan bersama.

Selanjutnya, Mentari kembali ke dalam ruangan. Lalu duduk manis di kursi santai yang terletak di ruang tengah. Tidak berapa lama, ia bangkit lagi dari duduknya. Kemudian melangkah dan mengambil segelas air. Oh, ternyata ia mau minum. Siiip, aku juga haus, aku mau minum juga yaa. Ku dekati ia dan ia pun tersenyum padaku. Sebelah tangan kanannya yang sudah memegang gelas, kini beralih ke pipiku. Sedangkan gelas beralih ke tangan kirinya. Ia menepuk-nepuk pipi tirusku.

Upz! Dingin sekali tangannya.

“Mentari, adakah engkau baik-baik saja?,” aku mulai cemas.

Mentari mensenyumiku. Tanpa suara sebagai jawaban yang terucap melalui bibir. Namun hanya senyuman yang ia berikan. Senyuman khas yang sering menghiasi wajahnya. Sehingga ia terlihat menarik saat tersenyum. Senyuman yang ku coba-coba juga menghiasi wajahku, supaya kami sama-sama menarik. Ya, menarik siapa saja yang ada di sekitar kami, untuk melakukan hal serupa. Supaya semakin banyak senyuman menebar di dekat kami. Karena kami senang menyaksikan wajah-wajah yang penuh senyuman. Dan tentang hal ini, ku pelajari dari Mentari, pertama kali. Aku belajar tersenyum bersamanya. Ia sahabatku yang baik.

Mentari tidak dalam kondisi baik hari ini. Karena ia sedang asyik dengan pikirannya. Pikiran yang bercabang-cabang dan banyak sekali. Sampai aku pun tidak mengerti, mengapa ia pemikir sekali? Sedangkan aku, suka-suka dan tenang-tenang serta santai-santai saja dengan hidupku. Sehingga aku merasa lebih ringan menjalani hari-hari. Sesuatu yang tidak ku pahami tentangnya, ya itu. Tentang ia yang terlalu pemikir. Sampai menjadikannya tidak dapat menikmati detik waktunya dengan baik. Ketika ia berpikir panjang dan sangat serius.

Namun begitu, aku mengerti, begitulah ia adanya. Mentari yang pemikir dan aku yang bisa santai. Tapi aku perasa. Kami pas sebagai sahabat baik yang saling membantu. Terkadang ia memikirkan tentangku, yang pergi-pergi tanpa ku rencana. Ia sampaikan padaku, untuk ingat waktu. “Jangan lupa kembali dan selalu ingat jalan pulang yaa,” bisiknya pada suatu hari. Ketika ku sampaikan padanya, aku mau berjalan-jalan dulu. Supaya suasana hatiku membaik.

“Ooo.. tentu saja aku lupa jalan pulang. Kalau engkau tidak bersamaku, menemani,” candaku mengagetkannya. Padahal saat itu ia sedang tidak enak badan. Panas tinggi mendera raganya. Namun karena sayang padaku dan tidak mau aku hilang di perjalanan, ia pun menawarkan diri untuk menemaniku. Aku tidak menolak, karena memang itu mauku. Supaya apa? Agar ia cepat sembuh. Karena tips ini ku terapkan pada diriku juga. Saat demam dan panas tinggi, apalagi kalau flu tahunan-ku menyapa, maka aku senang jalan-jalan. Pulang dari perjalanan, maka demam pun berkurang dan flu tersisa sedikit saja. Dan ku ingin Mentari cepat sembuh dengan meniru caraku menyembuhkan diri sendiri. Hihiiii. 😀 Aku kejam, kadang-kadang. Kejam pada diriku sendiri. Karena aku tak mau ia menjadi anak manja dan lemah.

***

Setelah mengambil air putih dan menyerahkannya segelas untukku, kami pun duduk bersama. Ia mengajakku duduk di tikar saja, bukan di kursi. Karena ia lebih senang bersimpuh atau selonjoran meregangkan otot-otot kaki. Sebab terbiasa jalan kaki, kaki-kakinya sering pegal. Ahahaa… 😀 Aku juga, sama sepertinya. Makanya, kami bisa berteman seperti ini. Sangat akrab, tanpa sekat. Walau ke mana-mana kami tidak selalu bersama.

Ya, akhir-akhir ini, minuman tersering yang kami minum adalah air putih. Segelas pagi, dan bergelas-gelas siang hari. Pun malam hari, juga air putih yang kami minum. Karena tidak ada lagi hot tea or ice tea seperti hari-hari lalu. Sejak kami mulai memedulikan diri. Maka, meminum air putih untuk menghilangkan dahaga, adalah pilihan kami. Pilihan pejalan kaki yang suka haus-haus. Apalagi kalau melangkah di bawah terik sinar mentari di luar sana. Maka, kami segera mencari bergelas-gelas air putih saja.

Selain itu, saat panas tinggi pun, minum banyak air putih menjadi penurun panas.

***

Duduk-duduk berdua pagi hari, kami habiskan dengan bercerita. Ia bercerita tentang pengalaman yang ia peroleh saat sedang tidak bersamaku. Pun aku juga. Aku sampaikan padanya hal-hal baru yang ku temui di dalam perjalananku.

Memang, kami tidak selalu bersama. Karena terkadang, aku dan atau dia, suka berpisah tanpa kami duga. Sehingga kami harus saling mencari, saat yang lainnya pergi begitu saja tanpa memberi tahu. Ketika hal ini yang ku alami, serta merta ku segera merindukan Mentari.

Ia yang sering membuatku kangen, saat tidak bersamanya. Begitu pun dirinya. Pernah juga ku mendapati wajahnya berselimut mendung nan kelam ketika ku perhati. Dan setelah ku telusuri, ternyata semua itu ia alami, karena ia kehilanganku. Sedangkan aku tidak menyadarinya lebih awal.

Nah, hebatnya, Mentari sering memedulikanku. Walau aku terkadang cuek. Bahkan saat ku kelelahan pun, ia tidak lupa mengingatkanku untuk segera beristirahat atau berhenti sejenak dari aktivitasku. Begitu baik ia padaku. Namun lagi lagi, aku suka tidak mengindahkannya. Lalu asyik dengan diriku sendiri. Tanpa merasa yang ia rasakan. Tanpa mengerti, bagaimana ia memberikan kebaikan untukku.

Seperti pada suatu hari. Aku tidak menyadari, kelelahan ku alami. Hingga aku pun tumbang dan ‘mungkin’ pingsan. Karena setelah terjaga, ternyata sudah lama ku tertidur. Aku bangun dalam kondisi lapar. Lapaaaar, sekali. Setelah ku ingat, rupanya aku belum menyantap sesuap pun nasi dalam sehari. Aku pun rindu makan. Dan kemudian memasak nasi dan sayuran untuk ku santap. Padahal sudah malam, menjelang dini hari.

“Anggap saja makan sahur,  😀 ” celotehku pada Mentari yang mengikutiku kian ke mari dan bertanya-tanya, “Ngapain, masak malam-malam begini?” Lagi dan lagi aku tidak pedulikan ia.  Tapi ia selalu baik padaku. Sejak pagi hingga siang mengingatkanku tidak henti. Untuk istirahat sebentar dan kemudian menambah energi dan nutrisi. Tapi aku malah meneruskan aktivitasku. Ujung-ujungnya, yaa… merugikan diri sendiri.

Aku beruntung, mempunyai sahabat seperti Mentari. Walau kami tidak selalu bersama, ia selalu mau mengingatkanku dengan kesabaran berlebih. Bukan malah meninggalkanku, seperti yang ku lakukan padanya, kalau ada yang tidak ku sukai darinya.

Namun seiring waktu, aku menjadi tahu diri. Belajar mengerti, belajar memahami, belajar banyak hal lagi dari Mentari. Karena kehadirannya tentu ada arti bagi perkembangan diriku.

Ia mengajakku bergerak, kalau ku berdiam diri. Saat ku tanpa suara, ia menyapa. Saat ku bicara banyak, ia mengingatkan lagi. Ia tersenyum, kalau ku mau mendengarkan nasihatnya. Ia tersenyum, saat ku tidak pergi-pergi tanpa dirinya. Dan senyuman Mentari pagi ini, ia persembahkan untukku. Sebagai wujud syukur atas kebersamaan kami yang awet sampai detik ini.

Pagi-pagi, Mentari mengajakku memulai hari dengan senyuman. Melalui senyuman yang menghiasi wajahnya. Sejak awal berkenalan, Mentari sudah mengingatkanku tentang hal ini. []

🙂 🙂 🙂

Pesan-pesan

Begini Pesan Orang Tua:

“Hidup adalah perjuangan. Tantangan perlu untuk menang,”
“Kesempurnaan manusia terletak pada kekurangannya,”
“Baik budi, taat beragama, berada di lingkungan yang benar,”

Begini Pesan Aa Gym:

Setiap pertemuan dengan orang lain, siapa saja, niatkan untuk belajar, memperoleh ilmu dan pengalaman. Yakinkan diri bahwa orang lain lebih dalam hal ilmu.  Menemui orang lain, tidak dengan niat merasa lebih pandai.  Sehingga pertemuan kita dengan siapa saja dapat memberi nilai tambah terhadap wawasan dan bermanfaat. Kata kuncinya adalah dengan berusaha rendah hati, yaitu tidak menganggap orang lain lebih rendah dari kita. Sedangkan rendah hati yang berlebihan tidak perlu kita lakukan. Semuanya adalah dengan keikhlasan. Tidak untuk mendapatkan pujian dari makhluk. Namun karena Allah semata.

Hati-hati dengan kesibukan kita sehari-hari. Jangan merasa puas dengan sibuk bekerja. Kita harus bisa cerdas untuk menggali ilmu dan pengalaman baru dalam waktu-waktu terluang. Untuk menambah ilmu yang bermanfaat pun menyampaikan ilmu yang bermanfaat. Karena apa lagi yang kita dapatkan ketika tubuh kita semakin tua dalam segi usia.

Manusia yang paling ajaib adalah yang paling kuat imannya. Tidak ada satupun kejadian kecuali menguntungkan, bagi orang yang kuat iman. Dan semua itu selalu membutuhkan ilmu dan proses dalam memperjuangkannya. Untuk bersyukur dan bersabar, membutuhkan ilmu dan kegigihan melatih diri. Untuk menjadi pribadi yang terbaik, kita pun perlu berlatih dengan penuh kesungguhan.

Atas kesalahan orang lain, kita maafkan, jangan dimarahi. Atas kesalahan kita, mohonkan ampunan atas segala yang terjadi.

Begini Pesan Saya:

Saya semakin percaya bahwa harapan saya menjelang nyata, setelah saya berjumpa dengan seorang yang istimewa sepertimu. Sehingga membuat saya menjadi semakin termotivasi untuk meneruskan harapan tersebut hingga ia benar-benar menjadi nyata, saat engkau hadir dalam berbagai kesempatan terbaik kehidupanku.

🙂 🙂 🙂

Hai Pagii,… ?!

Janji Mentari

Janji Mentari (Photo credit: M Reza Faisal)

Hai Pagii… Mentari bersinar lagi, lho.  Inginkah engkau ikut bersinar bersama kami? Mentari pagi ini. Ketika kami sudah datang padamu, dan kami mensenyumimu. Alangkah  indah dan baik rasanya, kalau engkau turut serta. Karena kehadiran kami di sini bersamamu adalah untuk menjadikan hari-harimu lebih baik lagi. Dan walaupun untuk beberapa waktu ke depan saja kita dapat bersama, itu sudah dapat membuat mentari menjadi lebih baik. Karena engkau telah memperkenankannya untuk menjadi bagian darimu, wahai pagi.Pagi, kami ingat, sudah sekian kali kita bersama, bukan? Dan pada pagi ini, kami ingin menjadikanmu lebih bermakna bersama kami. Dengan demikian, kami dapat memulai hari ini dengan semaksimalnya.Wahai pagi, kami di sini, bukan untuk menyapamu saja. Namun kehadiran kami adalah untuk menitipkan beberapa baris kalimat berisi kata. Kami ingin agar ia abadi di sini, di lembaran pagimu yang sempurna. Dan kelak bila kami inginkan melihatnya lagi, tentang pagi yang hari ini, maka kami dapat menyapanya kembali. Ya, sama seperti pagi ini, ketika kami menyapamu, wahai pagi.

Walaupun kita tidak akan bersama hingga siang dan sore nanti, namun mengunjungimu saat ini sudah membuat kami berseri-seri. Turut menserikanmu, adalah salah satu kebahagiaan terdalam yang ingin kami gali lagi. Dan saat ini, kami yang sedang berada di atas langit pagi, sedang bercengkerama dengan awan gemawan yang masih lembab. Begitu pula dengan embun yang belum lagi memuai menjadi awan, ia akan kami sudahi dengan sinar yang kami pancarkan lebih kuat lagi. Oleh karena itu wahai pagi, mari kita bersama menjalani kebersamaan ini. Agar, semakin berkesan ia dengan bekas-bekas yang dapat kita namakan prasasti.

Pagi adalah suasana yang sangat mendamaikan. Terlebih lagi ketika mentari perlahan muncul. Raga yang semulanya sedang mendekap jemari dan mempermainkannya, dapat pula mengubah posisi dengan menggerakkannya, bukan? Sehingga ia yang awalnya kaku dan tidak bertenaga, kini menjadi semakin lemas dan cepat gerakkannya. Ia melentur dan berlarian dengan lebih leluasa. Wahai inilah salah satu jalan bagi kita untuk dapat menghadirkan beberapa baris kalimat. Dan kini, mentari yang menjadi saksi pergerakan jemari, sedang senyum-senyum sendiri sembari terus melayangkan tatapnya pada seluruh alam.

Bersama jemari, kita dapat merengkuh asa. Bersama jemari pula kita dapat menyampaikan tanya pada sesiapa. Walaupun mulut tidak dapat membuka dan suara tidak mengalir sebagaimana mestinya. Maka cukup dengan menguntai tanya melalui suara hati yang mengalir melalui pergerakan jemari, maka kita dapat menemukan jawaban dari apa yang kita tanya.

Bertanya, bertanyalah kapan saja, teman. Baik ketika pagi mulai menyapa, pada siang maupun sore ini. Dan setiap kali engkau hendak menyampaikan sapa, ingatlah pada mentari. Ia yang sedang menyapamu saat ini, ketika pagi. Maka engkau akan menampilkan wajah berseri-seri penuh dengan tanda tanya, pada sesiapa saja yang ingin engkau tanya. Karena mentari meneladankan hal yang sama, padamu.
Mentari, ia sedang menjalankan baktinya. Ia sedang melanjutkan revolusinya. Ia yang kita lihat sedang diam saja, itu hanya akibat dari pandangan mata karena kita jauh darinya. Namun kalau kita perhatikan dengan saksama, adalah setiap waktu dan detik yang ia bersamai, penuh dengan pergerakkannya. Karena mentari tidak akan pernah henti menyampaikan sinarnya, kecuali pada akhir waktunya.Alangkah gelap dan bekunya dunia ini, tanpa mentari yang bersinar. Dan semua itu dapat kita saksikan setiap waktu, bukan? Coba engkau bayangkan dan engkau dapat pula langsung membuktikannya. Berangkatlah ke kutub utara dan atau kutub selatan. Di lokasi yang mentarinya sangat tidak terlihat sama sekali. Beku sungguh dingin, bukan? Ah… tentang hal ini, aku memang belum pernah membuktikan. Namun dari hasil membaca dan menyimak pelajaran, aku menjadi tahu informasi yang mencengangkan ini. Lalu kita, di manakah kita berada saat ini? Di bagian bumi yang manakah kita berada wahai pagi? Pagi yang sedang menyediakan dirinya untuk menyambut kicau beburung dan membersamainya. Pagi yang sedang memberikan kesempatan pada mentari untuk bersinar lagi. Pagi yang ada bersama hari ini, menjadi salah satu lembaran kehidupan. Semoga dalam berbagai kesempatan terbaik, jadual pagi dapat kita selipkan di sini. Baik saat aktif dan bersemangat, maupun ketika kantuk masih menyerang dua mata ini. Namun kita akan usaha untuk mengalirkan berbagai kondisi dalam rangkaian kalimat, yess?

Mentari pagi, aku suka. Dan pagi ini, kami bersama.

Sapaku dan Mentari pada Pagi, “Hai, Pagiii… ??!”

🙂 🙂 🙂

Pembaca yang Semangat Menulis

Dalam Hitam dan Putihnya

Dalam Hitam dan Putihnya (Photo credit: abi hasan)

Yeee, aku semangat lagi untuk menitip rangkaian kalimat di sini. Xixii. 😀

Terkadang, kita menyampaikan alasan bahwa kita tidak mempunyai banyak waktu untuk melanjutkan hobi yang kita punyai. Karena kita mencari-carinya. Lalu, kita menjadikannya sebagai penghalang. Sehingga kita tak dapat lagi berjumpa dan bersama dengan sang hobi. Padahal, buat apa kita mempunyai hobi, kalau kita tidak pernah melakukannya? Dan bagaimana pula hobi itu dapat melekat pada kita, kalau saja kita tidak berusaha untuk melekat padanya?

Sebagaimana telah aku sampaikan pada beberapa detik waktu yang sudah berlalu, bahwa aku mempunyai hobi membaca dan menulis. Sungguh standar yak! 😀  Nah! akhir-akhir ini, ia seakan terabaikan. Karena aku menemukan satu alasan untuk tidak membersamainya. Padahal, saat tidak bersama dengannya, aku rasakan rindu sungguh-sungguh sangat! Hah!

Bagaimana bisa, aku dapat menemukan alasan itu? Bagaimana pula tarikan kuat dari dalam diriku seakan mengajakku untuk kembali mendekati hobiku? Karena ia bilang bahwa tak dapat untuk tidak bersama hobi dalam menjalani hari-hari.

Tanpanya, aku hampa,” begini curahan yang hati sampaikan.

Dari kejadian sehari-hari yang kita temui,  maka kita dapat merangkai beberapa baris kalimat. Dengan demikian, kita telah dan sedang meneruskan hobi menulis yang kita punya. Begitu pula dengan hobi membaca yang tidak kita ingin saat ia tidak terlaksana. Membacalah sebaris ekspresi yang sedang kita pandangi pada wajah yang berada di hadapan. Membacalah aktivitas yang kucing-kucing sedang lakukan saat ia berkumpul di halaman. Membacalah sekuntum bunga di taman. Membacalah lalu lalang kendaraan yang kita pandangi di sepanjang perjalanan. Membacalah gerakan awan yang berpindah sungguh perlahan. Dan membacalah pada langit yang menaungi alam raya. Hey! di sana ada mentariiii…

Pagi ini, aku sedang membaca. Membaca suasana pagi yang damai sungguh sejuk. Menatapnya mataku pada gumpalan awan yang memutih di atas sana, pertanda bahwa ia sedang membaca. Ia membaca tanda-tanda kekuasaan-Nya di angkasa. Sedangkan saat mata ini kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling, ia pun sedang membaca. Ia membaca hijau dedaunan yang menjuntai. Ia pun sedang membaca pepohonan yang berdiri kokoh sebagai penopangnya. Dan dari balik atap di depan, aku sedang membaca beberapa orang tukang yang sedang beraktivitas. Beliau-beliau sedang melanjutkan pembangunan gedung baru milik tetangga kami.

Ai! Membaca tentu tidak hanya buku-buku, bukan?

Setelah itu, tergeraklah kita untuk segera merangkai beberapa bahan temuan yang kita peroleh dari aktivitas membaca melalui tulisan.

Aku senang membaca alam. Aku suka berjumpa dengan tampilannya yang sering berubah. Dan aku sangat terkesan dengan pergantian musim yang berlangsung dengan cepat. Pagi ini, kita dapat tersenyum karena mentari sedang meneladankan kita untuk memulai hari dengan senyuman. Begitu pula dengan siang hari. Kita masih dapat tersenyum bersamanya. Namun, tidak dapat kita prediksi, bahwa ia akan tersenyum hingga sore nanti, bukan?

Musim dapat berubah, begitu pula dengan cuaca. Namun kembalilah ingat sebuah pesan yang beliau sampaikan ini, “Cuaca boleh buruk, tapi pikiran, hati, sikap dan lisan harus selalu bagus. (Aa Gym)

Dari sini, aku belajar bahwa aku perlu berlatih untuk tidak menyesuaikan pikiran, hati, sikap dan lisan dengan cuaca. Karena cuaca bukanlah aku dan aku adalah makhluk hidup. Makhluk yang Allah cipta dengan akal pikiran, hati dan perasaan. Aku dapat memikirkan terlebih dahulu, sebelum menghujani pipi dengan tetesan permata kehidupan yang siap mengalir kapan saja. Pun, aku dapat menyeleksi terlebih dahulu, kapan saatnya bahagia berbunga-bunga, dan kapan waktunya menimbang dengan logika. Sungguh, sungguh dan sungguh! Berbagai keadaan, kejadian dan hal-hal yang kita temui dalam kehidupan ini terdapat banyak hikmah dan bahan pelajaran. Bacalah, lalu tuliskanlah. Agar kita dapat sama-sama belajar. Aku belajar dari pengalamanmu yang engkau tuliskan, teman… karena aku membacanya. Aku  membaca dari ekspresi yang engkau tampilkan, teman… saat menceritakannya. Lalu ku tulis ia sebagai pengingatku. Karena ia berharga.

🙂 🙂 🙂