Mentaripun tersenyum (Bag 2)

The silver threads of my tasbih

The silver threads of my tasbih (Photo credit: Swamibu)

Syukur terdalam saat dikaruniai kondisi tubuh yang mulai melemah, virus menjangkiti tubuh.  Fisik tak berdaya, dan fikir mungkin bisa dibilang lebih mudah down dan untuk yang namanya konsentrasi saja, di upayakan semaksimal mungkin, agar masih dapat beraktivitas optimal.  Istirahat sudah beberapa saat yang lalu, kini waktunya untuk kembali berfikir.  Melangkah dan melanjutkan perjalanan.  Hidup itu tidak mudah!  Kalau kebanyakan istirahatnya, bagaimana mungkin bisa sampai ke arah yang dituju?  Keep spirit now…

Bener apa yang baru saja sahabat sampaikan; “Anggap saja sakit yang engkau alami sebagai penggugur dosa-dosa yang selama ini mulai merayap, menjangkiti dan memenuhi relung-relung jiwa.  Hadirnya pasti bermakna, ia menyampaikan pesan terindah untuk segera difahami,”  begitu beliau berujar.  Kembali aku terdiam dalam perenungan panjangku.  Setelah difikir-fikir lebih mendalam, ternyata memang benar: saat sakit, ketika itulah baru terasa betapa indahnya sehat selama ini.  Kesan terindah juga aku temui saat merasakan betapa nikmatnya ‘bersin’  hatchiiiiii, hatchiiiiii.. (berulangkali bersin-bersin di hari ini).  Alhamdulillah…. sungguh nikmat!

Jadi ingat kejadian terindah  saat ini , ternyata sudah setahun lebih ia berlalu.

Begitu banyak nikmat dariNya yang selama ini tak sengaja dilupakan, pura-pura lupa atau terlupakan sama sekali salah satunya nikmat  🙂 SEHAT 🙂  yang sangat mahal nilainya, Allah sangat sayang padaku, DIA selalu menjagaku, lalu tersimpan dimana ungkap syukur atas nikmat-nikmat lain dariNya yang tiada bisa dihitung???

Alhamdulillah… bersamaNya selalu indah…

🙂 🙂

(Bersambung…)