One Day from the World

sleep

sleep (Photo credit: Sean MacEntee)

ย From the world where I am living now, I am sitting.ย  ย 
Me, alone, on the dark.ย 

Although there are many people who is living in this world, too. But tonight, they are far with me. And may be, many people there are sleeping, now. Because sleeping time was coming, of course.ย  But, not with me.ย  Because of I am not other people. And me is myself.

I am doing my activities now. Because I have time to do my task at night only and in holiday. And just now, I am remembering you, my friend. So, I come here, and say, “How are you tonight?”.

Tonight, I am continuing my task. And I hope that it’s ready in right time.ย  While doing my task, I hope the miracle happen. For example; I am not sleepy when doing it, and I still keep my best with full of spirit. Huhuy! This is next experience for me. After got this experience when I will finished my formal education as Diploma about three years ago.ย  As that experience (when I did my task), I ever not slept too, for some night.

In my daily,ย  I spent my time while build my effort to do my best.ย  And one of the reason is, I wish to be the best after graduate my study.ย  And this moment is same with my wish since I make a decision to continue study at University.

I think that there are many people whose have experience like me too. And I believe now, that I am not alone. I am not on the dark. And there are many people who doing their best and you too. I believe it.

Berikut catatan-catatan kecilku pada saat ini:
Insya Allah…, Jadual
————- W
———– I
——– S
—— U
—– D
—— A
—– Gak kerasa, akhirnya sampai juga pada BaB “Lambaian tangan kanan.”
—- Alhamdulillah… Hitung-hitungan sudah selesai, dan perlu mengecek ulang.
— N’ Bahan-bahan sudah terkumpul, lanjut merapihkan.
— Draft juga sudah ada, kemudian mengisinya dengan data yang terkumpul.
– Apa lagi yaa..? Oh, lampiran-lampiran pun harus menyatu. Dan hasilnya adalah sebuah “Skripsi”.
Pun menjelang nyata.

Ya Allah, berikutnya, 
aku pun ingin menyempurnakan separuh agamaku dengan izin-Mu... ^^

(Nah, sekarang, aku pengen banget minta doa dari sahabatku di sini, di lembaran maya. Agar, lancar dan diberi kemudahan dalam berbagai proses yang aku jalani, hingga kelar dan benar-benar berhasil sempurna tugas yang aku kerjakan. Tentu saja dengan harapan, nilai memuaskan berada dalam genggaman pada akhirnya. Aamin ya Rabbal’alamiin… )

Thanks a bunch, yess… ??!
๐Ÿ˜€ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ˜€

I Miss You

็ญๅบ•ๅ†…ๅŒบ Pantai Dalam, Kuala Lumpur

็ญๅบ•ๅ†…ๅŒบ Pantai Dalam, Kuala Lumpur (Photo credit: Tianyake)

Yah…
Hari-hari nanti, kita akan kembali merindukan kebersamaan tentang hari ini.
Pada suatu masa ketika kita pernah menjalani kehidupan bersama-sama.
Dalam deru canda dan tawa pun senyuman yang saling kita pertukarkan.
Di siniย  ada kisah teman…

Kisah tentang kita.

Dalam kebersamaan kita, ingin ku rangkai beberapa bait puisi untuk mengabadikannya.
Akan tetapi, setiap aku mulai menekan tuts-tuts ini, hatiku bilang bahwa aku bukan pujangga yang pandai menyusun kata.
Akibatnya, ya begini.
Sampai detik ini belum ada lagi puisi yang ku rangkai.
Sungguh.
Padahal aku ingin membuat prasasti tentang kita.

Cukup dengan bernyanyi,ย  mungkin saja kita dapat mengungkap rasa.
Berlari-lari mengitari alam, dapat kita jadikan jalan untuk berolah raga.
Sedangkan untuk mencairkan suasana, apa yang dapat kita upaya?
“Swwwwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..”
“Swwwwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..”
“Swwwwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..”
(Satu kata ini menginspirasi kita, akhirnya. Dari sebuah drama korea berjudul “I Miss You“)-Aku Merindukanmu-

Terkadang memang begini adanya.
Saat kita kembali berjarak raga.
Tidak lagi bersua dalam tatapan mata yang berbinar.
Tidak lagi bersama dalam ekspresi wajah yang bercahaya.
Tidak juga dengan rautnya yang segar.
Kita pasti akan kembali merindukan.
Aku merindukanmu, teman.

)** Catatan ini hadir, saat perpisahan kita baru satu jam. Lalu, bagaimana kalau sudah bertahun-tahun, ya?

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Cuaca Hari Ini

Ketika cuaca alam seperti saat ini, aku sangat suka menatap ke arah atas. Karena di sana, ada banyak sekali halilintar dan kilat sambar menyambar. Datangnya yang cepat, begitu pula dengan perginya. Sungguh inginku menatapnya lagi, beberapa saat setelah ia berlalu.

Sengaja ku membuka daun jendela dan menyibakkan tirainya. Agar aku dapat menyaksikan dengan jelas, setiap perubahan yang terjadi. Terkadang benderang di langit, berwarna ungu dan benderang. Kadang berubah menjadi biru dan memutih. Sungguh tampilan alam yang mampu membuatku takjub. Sungguh aku terpesona dengan pemandang

Bahasa Indonesia: Foto ini diambil ketika meli...

Bahasa Indonesia: Foto ini diambil ketika melintas di daerah Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah. Tepat di pinggir jalan Provinsi. (Photo credit: Wikipedia)

an serupa. Inginku tidak mengedipkan dua bola mata ini, agar ku tidak terlewat satu episode yang ia tampilkan.

Kilat dan halilitar, ia datang seringkali ketikaย  hujan sedang turun ke bumi. Seperti halnya bunyi gemuruh yang menjalar di angkasa, begitu pula dengannya. Ya, seakan mereka saling memberi pertanda. Tentang siapa yang akan hadir duluan, atau yang berikutnya. Sungguh perpaduan kejadian alam yang memesona mata saat memandang dan menyentuh alat indera pendengaran ini.

Ketika cuaca siang terang benderang, aku menyukai sinar mentari. Saat gelap malam menyelimuti alam, aku terkagum pada rembulan. Begitu pula saat ini. Ketika hujan sedang membasahi alam, aku tiada henti menyaksikan pergerakan kilat. Dan menyimak sangat hikmat suara gemuruh yang bersahutan. Walaupun dari kejauhan, ia sedang memperdengarkanku musik kehidupan yang alami. Betapa semua menyisakan kesan tersendiri di dalam hati. Danย  berbeda-beda pula pesan yang ia titipkan di sana.

aH… Alangkah tak layak aku kiranya, masih menikmati itu semua. Kalau saja aku tidak segera mengingat ADA SIAPA di setiap moment yang ku perhatikan di alam ini.

Termasuk pula ketika damai alam sedang memenuhi ruang hari ini. Bersama semilir angin yang memang tidak akan pernah terlihat. Namun kehadirannya dapat aku rasakan dengan kesejukan yang membaluri raga ini. Subhanallah… betapa kemewahan yang tidak akan pernah dapat ku bayar dengan harta benda. Hanya syukur kupersembahkan kepada Allah Yang Maha Mengatur segalanya. Lalu tersungkur di hadapan-Nya. Bersama segenap harap dan doa yang kembali menyemaikan benihnya. Berharap, esok lagi ku dapat menikmati kondisi yang serupa. Menjadi bagian dari berbagai cuaca alam yang menghiasi semesta.

Hari ini, akan menutup pintunya. Sedangkan aku tidak akan lagi dapat memasukinya setelah pintu itu benar-benar merapat. Dan aku tidak akan pernah lagi dapat menyaksikan beraneka cuaca yang pernah berlangsung di dalam hari ini. Kalau saja aku tidak bersegera untuk mengabadikannya di dalam rangkaian kata. Karena tiada alat perekam yang ku punya di sisi. Untuk memprasastikan segala yang ada. Namun semoga, dengan membuka lagi halaman ini, aku dapat kembali bernostalgia dengan cuaca yang terjadi di sepanjang hari ini. Cuaca yang tiada henti membuatku terkagum sungguh terpesona. Aku bahagiaa semenjak pintu hari ini mulai membuka. Hingga ia akan segera menutup lagi.

Bersama tampilan raga yang lama dan telah ku bawa semenjak lama. Aku melangkahkan kaki-kaki ini untuk meneruskan perjalanan di dunia. Berbekal cita yang senantiasa ku perbarui adanya, harap dapat menjadi nyata. Bersama jiwa yang ku usaha menata sedemikian rupa, harap ia menjadi terjaga. Bersama doa-doa terindah dari keluarga, teman-teman, sahabat dan sesiapa saja, harap ia menjadi pelindungku dari segala bahaya. Bersama-Nya, harapanku kembali bersemi.

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

  • Day 32 (danaelina.wordpress.com)

Memendam Rindu Membuncah Haru

Bahasa Melayu: Air bubble trapped in a water d...

Bahasa Melayu: Air bubble trapped in a water droplet in a clothes line. (Photo credit: Wikipedia)

Haru itu ada di dalam kalbu. Ia hadir saat kita ingat pada sesiapa saja yang kita rindu.

Oh, sungguh…!

Memendam rindu mampu membuncahkan haru di dalam kalbu. Sedangkan pada saat yang sama, ruangnya menjadi lebih luas, mengembang dan ketika kita menyaksikan ruang tersebut, suasananya sedang kosong. Sehingga kita melihat diri kita sedang berada di sana. Ia menatap ruang yang sedang hampa dan tiada sesiapa. Ia memandang setiap sudutnya yang tidak berpenghuni. Dan haru itu hadir di sana, ketika rindu telah memenuhinya. Rindu yang tidak terlihat, namun sesungguhnya ia ada.

Haru hadir di dalam kalbu. Kalbu yang sedang tidak berisi. Sehingga memungkinkan baginya untuk menghadirkan apa saja yang sedang ia rindukan ke dalamnya.

Semalam… aku terharu, karena rindu. Hingga ku dapati pinggiran mata ini membengkak, this morning. Hah! It was happened.ย  Dan aku akan seringkali mengurai kerinduan ini, walaupun ujung-ujungnya mata ini mengatup dan tak membuka lagi. Karena dari haru yang menyelimuti kalbu, aku menjadi tahu. Siapakah aku? Siapakah yang aku rindu?

Tidak lama waktu berlalu, aku kembali merindu. Aku rindu suasana itu. Suasana yang penuh dengan keharuan. Ketika aku mengunjungi sebuah ruang yang sedang tidak ada penghuninya. Ketika kalbuku sedang kosong. Saat tiada sesiapa di sana. Maka dapatlah ku menghadirkan sesiapa di sana. Ai! Menghapal nama-nama-Nya, semakin membuncahkan haru.ย  Hingga tenggelam ku di dasar lautan rindu. Di sekitarnya banyak mutiara-mutiara nan bening wujudnya. Airmata keharuan pun menetes. Sungguh kenikmatan terindah.

Di dunia ini, ada masa kita menangis, pun ada waktunya kita tersenyum. Menangislah karena harumu sedang membuncah, dan tersenyumlah saat engkau mampu memendam rindu. Karena keduanya ada, untuk menghiasi kisah dalam perjalanan kehidupanmu.

Betapa indahnya memendam rindu, hingga ia membuncah haru. Karena pada saat ia hadir, meneteslah permata kehidupan di sekitar matamu, dengan derasnya.

Wahai, mengapa engkau merindu, ada apa dengan haru? Cukupkah dengan menangis engkau dapat melepaskan rindumu? Dan sanggupkah engkau tenggelam dalam lautan haru yang akhirnya menenggelamkanmu?

“Aku ingin terus memendam rindu. Rindu yang hanya ku sampaikan dalam buncah penuh haru,” bisikmu di telingaku.

Ketika suara memang dapat mengalir, namun ia tidak dapat tersuarakan. Maka pada saat itulah mulut mengatup. Saat suara itu sesungguhnya ada, namun ia tidak dapat terdengar, maka pada saat itulah engkau perlu mengeluarkannya.

“Keluarkanlah rindumu, hingga engkau benar-benar tahu, bahwa engkau sanggup menghadapinya. Karena ujung-ujungnya, kerinduan itu akan mensenyumkanmu. Dari pada engkau memendamnya, yang berujung haru. So, pilih yang mana?,” aku menantangmu. Agar engkau merubah pemikiranmu.

Sedangkan engkau menggelengkan kepalamu. Engkau masih belum setuju dengan permintaanku.

“Karena dengan begini, aku kenal siapa aku,” tambahmu.

Lalu aku mendekatimu dan memeluk erat. Karena aku pun sangat kenal, mengerti dan memahami siapa engkau. Engkau yang beberapa saat kemudian, menempelkan kedua telapak tanganmu di sekitar punggungku seraya menepuk-nepuknya. Sungguh keakraban ini ingin terus ku jaga. Karena dengan begini, kita kembali dapat bersenyuman. Nah! ketika kita berjauhan kelak dan tidak lagi bersama seperti ini, maka aku akan merindukanmu. Rindu yang ku pendam hingga membuncah haruku. Hingga kita kembali bersua. Dan pada saat yang sama, aku akan tersenyum lagi, bersamamu. Seperti saat ini.

Kalau rindu dan engkau terharu, sendiri aja. And enjoy it.ย ย But kalau engkau bahagia dan tersenyum, bersama-sama tentu lebih indah, bukan? Karena kesannya tentu berbeda.

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

C78CFB59525D8620A655F4C0D3B966C7