Koma, belum Titik

The Messiah's Footsteps

The Messiah’s Footsteps (Photo credit: xdmag)

 

Ia masih koma. Karena masih ada beberapa tanda petik yang berada di dekatnya. Tik..tik..tik..teeet..tik.. (suara yang tiada henti berbunyi berasal dari peralatan kedokteran di ruangan ICU. Sedangkan titik belum terlihat sama sekali.

 

Ia sedang berjuang dengan segala kemampuan yang ia punya. Akankah ia mampu bertahan? Ataukah akan menghilang dari peredaran? Seiring dengan tenggelamnya mentari sore ini?ย  Masih belum jelas dan tidak dapat dipastikan. Hanya saja, ketika saya belum berlalu, masih terlihat tanda-tanda kehidupan pada raganya.

 

Nafasnya masih berhembus, keluar dan masuk dengan pelan.

Suaranya masih terdengar, meski tidak terlalu jelas, sangat samar.

Raga yang sedang telentang itu, masih berjuang dengan segala upaya.

Saya tidak segera berlalu. Karena masih ingin menyaksikan bagaimana kisah selanjutnya. Saya ingin memperhatikan dengan jelas, hingga detik dan detak jam terdengar dengan jelas. Hingga sunyi benar-benar sepi. Sampai kelam benar-benar merajai malam.

 

Saat ini, senja telah berlalu. Sedangkan raga itu masih tergeletak di tempatnya semula. Ada beberapa alat bantu pernafasan yang menjadi jalan bernafasnya lagi. Ada oksigen yang sedang mengalir ke alat pernapasannya. Ada juga doa yang melantun di sekitarnya.

 

Banyak yang terharu, pun pilu bercampur sendu.

Ada yang menitikkan airmata karena tidak tahan dengan apa yang ada di hadapan.

Mereka menggugu, sedangkan raga yang berada di hadapan, terlihat tenang.

Aku hanya mampu menatap pemandangan yang ada dengan kedipan mata yang tiada henti. Seraya memperhatikan selang demi selang yang berangkaian. Banyak helainya, tidak ku hitung satu persatu. Pemandangan yang membuat hatiku miris.

 

Ini adalah kunjunganku yang ke sekian kalinya ke ruangan yang sama. Kunjungan yang segera mengingatkanku, bahwa segalanya mungkin saja terjadi. Baik kepada kaum yang sudah berusia senja, atau masih belia dan balita. Kondisi koma dengan nafas yang tersendat tidak lancar. Sedangkan raga, berjuang keras untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Lalu, bagaimanakah kondisi jiwa pada saat yang sama? Apakah ia tenang dalam menjalaninya? Ataukah, banyak pula derita yang sedang ia rasa?

 

Koma terjadi dengan tiba-tiba. Bisa saja karena kecelakaan di perjalanan. Atau karena beberapa penyakit dari dalam rongga tubuh. Sehingga mengakibatkan kondisi raga tidak lagi seperti sedia kala. Semua tidak dapat kita tolak, kalau akan terjadi. Dan semoga kita senantiasa dalam kondisi berjaga-jaga setiap saat. Ingat kematian, lebih sering. Yaa. Apalagi kalau kita sedang berada di perjalanan. Semoga kita selamat sampai ke tujuan. Hingga di negeri abadi.

 

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

 

 

 

Dini Hari menuju Pagi

Ge'ule Teman haMeyasdim st 01

Ge’ule Teman haMeyasdim st 01 (Photo credit: Wikipedia)

Malam ini, hujan turun dengan derasnya, bergemuruh. Dan suara tetesannya yang ramai, membuatku terjaga dari lelapku semula. Ku menyimak dengan saksama, setiap suara yang ia cipta. Suara di tengah sunyinya alam. Suara hujan, teman. Sungguh syahdu mendengarkannya.

Aku membuka dua mataku, mengusapnya sejenak, mengedipkan lebih lama. Kemudian duduk dan belum berdiri. Kini, aku menghadapmu, menyertakan wajah yang mulai tersenyum lagi. Ai! Senyuman yang mengalir sebab aku bahagia dan mempunyai harapan lagi. Bahwa musim memang berganti. Ada masanya siang, pun malam menyelingi. Dan ketika kini mentari sedang tiada bersinar di sini, semoga esok ia kembali tersenyum pada bagian bumi tempat keberadaan kita, yaa.

Harapan ini, terus ku jagai, agar ia senantiasa ada dan menemani. Sehingga aku tidak lagi merasakan sunyi walaupun sesungguhnya sunyi itu memang ada. Aku tidak lagi merasa berada di tengah kelamnya alam, meskipun sebenarnya kelam itu ada. Karena membekas ingatan pada pikir ini, ingatan yang mengingatkanku untuk terus menyalakan harapan. Bahwa mentari ada, dan ia akan bersinar setelah kelam menyelimuti alam.

Pada malam begini, satu kondisi yang sedang ku nantikan adalah hadirnya pagi bersama sinar mentari. Pagi yang membuatku bangkit dan segera berdiri. Untuk meneruskan perjalanan lagi. Sedangkan kini, biarlah begini. Aku akan duduk-duduk di sini untuk beberapa waktu ke depan. Untuk membersamaimu, teman… Agar engkau pun mempunyai teman. Karena dalam yakinku, hadirmu di sini saat ini pun karena engkau sedang berjalan-jalan, bukan? Dan terhentinya engkau di sini walaupun sejenak, tentu engkau sedang memetik pesan,ย  bukan? Atau engkau telah menyusun beberapa pesan untuk engkau sampaikan padaku, aku yang sedang duduk di dalam sunyinya alam. Bersama kelam malam.

Di tengah deras hujan yang masih menetes ke alam seperti ini, aku teringat dan kembali mengingat seorang teman. Teman yang hadir hanya di saat mentari bersinar saja. Teman yang sebelumnya ku kenal dari kejauhan. Dan wajahnya yang entah rupawan atau menawan, tidak dapat ku lihat dengan jelas. Hanya saja, aku dapat melihat bahwa ia begitu menarik perhatian. Sehingga walaupun tanpa bertatapan, ia telah membuatku tertarik padanya. Teman seperjalanan.

Saat ini, ingatanku kembali meningkat. Lalu, ku bagi ia dalam potongan kertas-kertas kecil yang ku usaha untuk menyatukannya lagi. Agar aku dapat menangkap makna tersembunyi dari ingatan ini. Dan aku tidak menjadi terpusingkan karenanya. Apa sebab? Karena aku meyakini dan menyadari dengan sepenuhnya. Bahwa tiada satu keadaan, kondisi dan kejadian walau sebentar saja, yang tidak ada hikmah dan makna di dalamnya. So, kemauan kita dalam mendata hikmah tersebut akan sangat menentukan bagaimana kita dalam menyikapinya. Seperti saat ini. Terbangunnya aku dari lelap, karena denting suara hujan yang semakin menderas, tentu ada makna. Untuk mengingatkanku lagi, setelah hujan kan hadir sinar mentari. Walaupun tidak kini. Karena ini masih dini hari, teman, dan belum dapat disebut pagi.

Di sini, ku menyambung lagi mimpi yang tadi terputus… Dan ia menjadi sarana bagiku untuk melanjutkan perjalanan. Ketika belum lagi ku dapat melangkahkan kaki-kaki ini di alam. Karena masih terlalu dini hari. Malam dan Kelam. Hiiy. Dan esok, ketika pagi benar-benar kembali, aku ingin melanjutkan langkah-langkah lagi di bawah sinar mentari pagi.ย  Aku janji. Sekalipun mentari tidak dapat menampakkan senyumannya, maka aku akan tetap tersenyum. Karena dalam yakinku, mentari pun tersenyum, walau belum dapat ku lihat jelas senyuman itu. Hanya dalam ingatan, kami bertemu.

Cuaca kan berganti, musim kan berubah. Teruslah melangkah.

Masa bertukar dan jarum jam berputar. Teruskan perjuangan.

Hari ini, bukanlah hari esok. Sedangkan hari esok itu belum pasti. Keep our best effort today only and now.

Wahai bentangan alam yang benderang, see you… ***

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Selamat Jalan Ciripa, Selamat Jalan Kuroko… T_T

Bahasa Melayu: Gambar kubur di perkuburan Isla...

Bahasa Melayu: Gambar kubur di perkuburan Islam. Batu nisan berbentuk bulat adalah kubur lelaki, manakala yang berbentuk leper adalah wanita. Namun, tidak semua batu nisan mengikut perlambangan ini. (Photo credit: Wikipedia)

Sering mengingat, teringat dan diingatkan dengan kematian, semoga menjadi jalan bagi kita untuk senantiasa ingat, bahwa kita juga akan mengalaminya. Sedih rasanya saat ditinggal, memang. Sendu adanya menerima kabar kehilangan, pasti. Namun semua itu adalah bahan pelajaran bagi kita, untuk menyadari, bahwa keberadaan kita di dunia ini memang hanya sementara. Tidak lama, dan tidak selamanya.

Beberapa hari yang lalu, kami ditinggalkan oleh Kuroko. Sedangkan hari ini, Ciripa menyusul saudaranya pula. Mereka telah kembali kepada-Nya dalam waktu yang dekat. Dua saudara itu, adalah kucing yang ada di kost-kostan kami. Mereka kakak beradik, saudaranya Borjin. Masih satu Ibu dengan Bonchu, namun mereka adalah generasi kedua.

Setelah meninggalnya Ciripa dan Kuroko, berarti tersisa dua lagi anak-anaknya Catchy, yaitu Bonchu dan Borjin.

Bonchu dekat denganku semenjak keberadaannya di dunia ini. Sedangkan tiga saudaranya yang lain (adik-adiknya; Ciripa, Kuroko, dan Borjin) tidak begitu dekat. Karena semenjak kelahiran mereka, ada yang mengurus dan memberi makan. Sedangkan aku hanya berperan sebagai penikmat pemandangan saja. Aku turut ceria dalam keceriaan mereka saat bermain-main di halaman. Dan aku turut tersenyum bersama senyuman teman-teman yang mempermainkan ketiga kucing-kucing lucu itu. Namun kini, setelah mereka tiada, akhirnya nama-nama mereka menjadi bagian dari catatanku. Wahai, walau kita tidak pernah bersama, Ciripa dan Kuroko, namun ketiadaan kalian membuatku sendu juga dan terkesan.

Untuk pertama kalinya, Senin yang lalu, aku berperan sebagai perempuan penggali kubur, bersama Rini salah seorang sahabat penghuni kostan juga. Dan sangat berkesan. Di setiap tanah yang kami gali, teringatlah kamiย  pada kematian. Teringat kami pada lempengan yang untuk masa berikutnya akan menjadi bagian dari diri kami juga. Teringat kami pada akhir keberadaan kami di dunia ini. Ai! Dalam haru, meneteslah airmata pelan-pelan. Muncul di sudut mata, kemudian berhenti sejenak di kelopaknya. Untuk selanjutnya, ia pun menderas di pipi. Dengan membaca Bismillah, kami meletakkan ‘jenazah‘ Kuroko di peristirahatannya yang terakhir.

Untuk kedua kalinya, hari ini, aku kembali melakoni peran sebagai perempuan penggali kubur. Kuburan yang aku gali sebisanya, dengan beberapa peralatan yang tersedia. Ya Allah… ini yang aku bisa upaya. Hah!

Setiap galian, ada makna. Setiap galian, ada ingatan. Setiap tarikan tanah yang ku angkat ada pesan. Begitu pula dengan kedalaman yang ku perkirakan. Cukup untuk seekor kucing kecil. Semoga Allah meridhai. Karena sebelumnya aku tidak tahu, bagaimana peraturan dalam penggalian kuburan. Hanya saja, ketika menjalankannya, masih terbersit tanya di dalam hati. Memang beginikah caranya?

***

Atas dua kejadian tentang kematian ini, mengakibatkan saudaranya yang lain terlihat bersedih. Apalagi ibunya yang sangat sendu dan berlinangan airmata. Catchy, ia menjadi tidak doyan makan. Tidak semangat bergerak, dan bawaannya tidur melulu. Tidur dari satu keset ke keset lain, kemudian berpindah pada lokasi yang berbeda. Terkadang di depan kamar mandi, tidak jarang pula di depan kamar-kamar yang biasa ia kunjungi.

Sebagaimana hari-hari yang lalu, hari ini Catchy masih terlihat sama. Ia tidak bersemangat dan layu tubuhnya. Kemudian ku coba menyapanya lagi untuk ke sekian kalinya. Memberikan beberapa potong menu yang ku kira dapat ia sukai. Namun hasilnya masih NiHiL. Catchy masih mogok makan. Ia tidak bergeming sama sekali, saat disuapipun. Wahai… kesedihannya masih tersisa.

***

Kematian mampu menyisakan luka di hati sesiapa saja yang mencintai dan menyayangi kita. Kematian akan sangat membuatnya berduka, ketika menerima kabar bahwa kita telah tiada. Kematian sungguh erat kaitannya dengan jiwa. Apabila kita mempunyai jiwa yang sama, maka seakan tertariklah jiwa yang lainnya, atas kepergian kita. Sehingga ia rasakan ada yang merenggut jiwanya juga. Ia pun ikut terluka.

Tetesan airmata yang masih membekas di kedua pipi dan ujung mata Cathy, ku coba usap. Ku coba membersihkannya lagi. Namun ia masih tidak berkutik sama sekali. Tanpa senyuman sama sekali, dan ini merupakan pertanda bahwa Catchy sedang dalam kesedihan mendalam. Wahai Catchy, ia adalah seekor kucing yang sedang dalam nuansa berkabung. Ia sedang menjalani masa-masa kehilangan dua anak yang sangat ia sayangi dan cintai. Dan kesedihannya masih berlanjut hingga saat ini.

Catchy, ia adalah makhluk yang punya hati, ia memiliki kasih dan sayang. Namun ada yang kurang darinya, tidak Allah karuniai dengan akal sebagaimana kita. Catchy bersedih dan tidak mau makan, karena ia tidak memikirkan. Bahwa dengan cara demikian akan berakibat pada kesehatan raganya. Ia tidak menimbang hingga sejauh itu. Oh… betapa kasihan. Benarkah Catchy tidak memikirkan hal ini, yaaa…??!

Fakta terkadang memang tidak kita inginkan. Namun saat ia berlangsung, maka sikap kita dalam menjalaninya merupakan penentu. Bagaimana reaksi yang dapat kita berikan terhadap fakta? Lalu menyelami lautan makna yang ada padanya. Untuk kita bawa menjadi bekal dalam menghadapi fakta-fakta yang berikutnya. Fakta yang belum pernah kita duga, dan tidak sempat kita rencana. Namun kita mempunyai kesempatan untuk bersua dengannya.

Meningkatkan ingatan kita pada peristiwa kematian semoga menjadikan kita insan-insan yang senantiasa terjaga setiap saat. Terjaga saat menitipkan harapan di dunia. Tidak menitipkan padanya, namun kepada-Nya.

“Harap husnul khatimah adalah ujung kehidupan kita di dunia… Aamiin ya Rabbal’alamiin. Harapan yang memberikan kita peluang untuk bergegas melatih diri setiap saat. Berjuang untuk mengingatkannya setiap waktu. Bahwa dunia hanyalah tempatnya bersinggah. Di dunia ia hanya merantau, dan akan kembali lagi pada kampung halaman yang abadi, akhirat. Kapankah… kita tidak pernah tahu waktunya.”

^^^_____________________________________^^^

Go Around

Aku bukanlah dia juga dirinya. Karena aku adalah aku.

Aku gampang menangis seperti aku mudah tersenyum.

Aku bukanlah seorang yang terkenal, namun aku mengenal seseorang.

Aku menjadikannya sebagai mentari di hatiku.

Oleh sebab aku suka mentari. Dan mentari hanyalah satu. Itulah dia.

Dia? Siapakah dia?

Dia adalah engkau,ย  engkau mentari di hatiku.

Engkau, teruslah bergerak, menembus malam, membelah alam. Karena engkau tidak pernah dapat menduga, di negeri yang mana engkau menemukan pengalaman. So, teruslah berjalan hingga sampai ke tujuan. ย Selayaknya mentari yang terus berevolusi, ia tidak pernah henti walaupun sejam.

Walaupun kita tidak dapat melihat sinarnya untuk beberapa jam, ketika malam. Namun yakinlah bahwa ia terus dalam pergerakannya. Untuk menyampaikan peran dan menitipkan bakti pada segenap alam. Begitu pula denganmu. Engkau yang mungkin saja belum lagi terlihat untuk beberapa kesempatan, aku yakin sedang teruskan perjuangan. Meskipun bukan di sini, teman.

Hanya lakukan yang terbaik dan engkau mau menjalankannya.ย  Karena setiap kita mempunyai jadwal yang tenggat waktu pencapaian. So, keep focus dan berkonsentrasilah pada apa yang sedang engkau kerjakan.

Jangan abai dengan sekitar, pedulilah pada lingkungan. Untuk menjadikan berbagai keadaan, kesempatan, kondisi dan kejadian sebagai bahan perenungan. Belajarlah dari alam. Maka engkau dapat menemukan pencerahan kapanpun engkau memerlukannya. Lalu, selipkanlah beberapa diantaranya pada lembaran catatan yang telah engkau persiapkan. Yaa.

Sang Petualang - The Origin :)

Sang Petualang – The Origin ๐Ÿ™‚ (Photo credit: M Reza Faisal)

Menjadilah sang petualang yang tidak takut terhembus angin, yang kembali bangkit saat terjatuh. Bersikaplah sepenuh hati, yang rela raganya bersimbah peluh demi mengalahkan teriknya sinar mentari. Pun, berusahalah dengan sepenuh hati, tanpa kenal lelah. Karena sepanjang kita masih berada di dunia, maka langkah-langkah kaki ini perlu terus menjejak bumi. Ia perlu kita gerakkan lebih sering. Kalau tidak di sini, ya di sana. Kalau bukan di sana, ya di mana-mana. Intinya, go around until your last step, ok?

Ups! Aku ingin menjadi sepertimu pula, teman. Engkau yang mengenalkanku pada pelosok-pelosok negeri yang belum pernah aku tempuh.ย  Engkau yang memperlihatkan padaku berbagai pemandangan alam yang belum pernah aku temui. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa luasnya negeri ini, tidaklah sebanding dengan lokasi tempatku berada saat ini. Sungguh, aku ingin berkeliling ke berbagai bagian bumi yang berbeda, setelah aku di sini. Karena aku ingin mengabadikannya di dalam sisi kehidupanku pula. Tidak hanya memandangmu saja, seperti ini.

Aku, saat ini memang berada di sini. Di bawah atap yang melindungiku dari tetesan air hujan yang mulai berjatuhan. Karena di atas sana, langit yang tadiย  bermendung, mulai mengelabu. Ya, tidak ada mentari saat ini. Hanya saja, aku dapat menyadarkan diri bahwa ia hadir saat ini. Dan aku sangat berkesan dengan kondisi ini.

Dari mentari, aku belajar untuk berbagi. Aku belajar menemukan teladan darinya. Ia yang bergulir tiada henti, sungguh ku hargai. Terlebih lagi ketika hujan turun membasahi bumi. Maka ingatanku terhadap mentari pun mengucur deras sekali.ย  Ingatan yang membasahi hingga ke ruang hatiku. Hingga ia pun menghangat seketika. Akibatnya, aku tidak lagi merasakan kedinginan yang menggigilkan ragaku, saat musim berlangsung seperti ini.ย  Karena aku tahu, bahwa mentari hadir untuk memberikan kehangatan pada sekitar. Pun menghangatkan ingatanku untuk segera merangkai beberapa baris kalimat di sini, setelah aku berjalan berkeliling di sepanjang pagi hingga siang ini.

***

Mati lampu yang berlangsung tadi malam, tidak menyurutkan langkah kami untuk terus bergerak. Ya, walaupun gelap di sekitar, namun kami mempunyai segudang asa untuk kami buka pintunya. Sedangkan di bagian sisinya, ada jendela yang dapat menjadi jalan bagi kami untuk dapat melihat dunia di luar sana. Hingga kami pun akhirnya sampai di ZOE.

ZOE adalah singkatan dari Zone of Edutainment. Zoe berlokasi di Jl. Pager Gunung No. 3 Bandung. Lokasinya terletak di sini. Berkunjung ke ZOE untuk pertama kalinya selama hampir tujuh (7) tahun aku di Bandung? Oh.. Hahahaa… membuatku tertawa. Bagaimana bisa?

Tawaran dari Kaito untuk berkunjung ke ZOE, aku terima dengan senang hati. Karena kami memang belum ada jadwal selanjutnya, untuk menghabiskan malam akhir pekan yang sungguh terasa panjang itu *)tanpa seseorang special di samping. Jadilah kami berjalan di tengah gelap malam, tanpa penerangan di sekitar. Gelap-gelapan, bergentayangan di sepanjang jalan, semalam. Hingga tibalah kami di ZOE, setelah lampu menyala kembali.ย  Karena sebelumnya sempat memutar niat untuk pulang saja. Akan tetapi, karena jodoh masih berlaku, aku pun berkenalan dengan ZOE pada dua Februari 2013, on 08.00 WIB at night.

And what happen at there?

Ada banyak buku asyik dan menarik di ZOE. Buku jadul, banyak banget. Usang tampilannya, namun unik dan bagus-bagus isinya. Aku senang berada di ZOE. Pengalaman pertama yang berkesan. Sungguh aku ingin lagi ke ZOE dalam berbagai kesempatan terbaik. Hanya untuk baca-baca saja, atau sekalian kuliner, bisa. Karena di ZOE pun terdapat cafe yang menyediakan makanan dan minuman.

Wah! Aku tidak tahu akan berapa lama lagi di kota ini. Sedangkan lingkungannya yang asri, ramah dan sejuk, belum semuanya aku kunjungi. Sungguh-sungguh aku akan menyesal sekali kalau tidak bersegera mengunjungi berbagai lokasi yang aku belum kunjungi. Padahal, keindahan yang ada di sini, menarik hati dan sangat cocok untuk mencuci-cuci mata.

Hai! Engkau yang senang berbagi, negeri manakah yang engkau pernah kunjungi, dan berkesan hingga kini? Aku ingin pula ke sana. Untuk menemukan bukti, lalu ku bagikan pula di sini. “Karena berbagi adalah salah satu kunci untuk memasuki ruang bernama BAHAGIA.”ย  Agar ia menjadi prasasti atas jejak perjalanan diri, di dunia ini.

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚