Ketika Sinarmu Sampai Padaku

Dear mentari. Sudah lama juga yaa, aku tidak berbincang tentangmu. Akhirnya, bisa lagi. Waktunya saat ini. Perbincangan rahasia, tentang apa lagi ya? Ha!.

Ku pikir ini momen terbaik. Sebelum engkau berlalu, berbalik, pergi lagi, dan menjauh dariku. Sebelum sore benar-benar menenggelamkanmu ke tepi Barat. Sebelum malam memelukmu erat, sedangkan aku akan merasakan kedinginan oleh kuatnya hembusan angin malam.

Ayuk kita berbagi suara lagi. Meski suaramu tidak dapat ku simak, dengan sempurna. Walaupun suaraku sayup terdengar olehmu. Mari, kita bercerita lagi. Selanjutnya terserah padamu. Apakah akan menepikan cerita dalam memori, atau membiarkan berlalu, mulai sejak kita kembali ke dunia masing-masing. Seperti yang lalu-lalu dan engkau menyampaikan padaku.

Yuuk. Yuuk?

Berbeda denganmu mentari, aku tidak begitu. Sedapat mungkin, di sela waktu terluang, ku berupaya merangkai senyuman terayu, versi aku.

Senyumanku untukmu. Senyuman terbaru, dalam pandangmu.

Supaya menjadi kenangan yang tidak luntur oleh terpaan waktu. Namun tetap ada, meski sebaris adanya senyumanku. Semoga engkau mengingatnya selalu. Tepat, sejak ku membaginya denganmu. Seperti senyuman ini.

Iya. Makanya, ku mengajakmu kali ini. Ajakan yang belum tentu engkau sahuti. Karena engkau lagi sibuk dengan waktumu, berjibaku dengan upayamu, berjuang hebat dengan kondisi yang membuatmu tidak dapat menarik nafas lega.

Engkau berteriak pada seluruh alam agar melakukan aktivitas sepertimu. Fokus, konsentrasi, namun tetap tersenyum.

Halo teman. Aku mau engkau menghargai ajakanku. Ayo berteduh sejenak. Mari kita bersenyuman. Senyuman yang ku bagikan khusus untukmu, tentang kita.

Ya. Senyuman ini hadir untukmu yang tersenyum saat ini, bersamaku. Senyuman yang ku bagikan sebagai cinderamata khusus buatmu, sahabatku. Senyuman di bawah terik mentari sesungguhnya. Senyuman sebagai tanda bahwa kita menikmati aktivitas kita.

Haaai #melambai jemari tangan kanan sejajar pundak mengarah padamu.

Aku punya cerita terbaru, untukmu. Cerita untuk mengingatkan kita lagi, pada waktu yang akan datang. Cerita saat engkau dan aku, masih bisa bersapa namun belum bertatap mata.

Rasanya, hambar. Nah, supaya sedikit berasa, entah manis, asin, gurih, getir atau pedas, cerita ini ada. Cerita pada hari ini yang bermentari.

Yup. Mentarinya semarak sekali di sini, teman. Bersinarnya tidak kalem, namun perhatian. Sehingga membuatku terbahagiakan. Aku yang lagi sendirian, tanpamu di hadapan.

Engkau yang dekat dalam ingatan sedangkan raga kita berjauhan. Engkau yang berpanas-panasan di sana. Aku juga berpanasan, di sini. Engkau yang bermandikan sinar mentari, begitu juga aku. Engkau yang tidak dapat bilang lelah, apalagi mengeluh. Engkau yang mengajarkanku teguh meski berpeluh. Engkau yang tidak banyak bicara. Namun sekali bersuara, mampu membuatku tersentuh. Engkau yang tidak pernah ku temukan mengaduh, walau lukamu belum sembuh. Engkau yang mengobati luka dengan senyuman. Makanya engkau terlihat tegar.

Bahagianya aku, mengenalmu.

Selamat melanjutkan aktivitas yaa dan sampai bertemu bersama senyuman terbaikku untukmu, dalam pertemuan kita berikutnya.

Ya, ku berjanji dengan diriku sendiri. Untuk tersenyum, menyambut kehadiranmu.

Senyuman penuh syukur, dengan keberadaanmu di hadapanku. Senyuman manis, buatku dan juga engkau. Senyuman yang lebih manis dari senyuman manismu saat kita bertemu lagi setelah lama berjarak raga. Senyuman sebagai tanda bahwa memperlakukanmu adalah sebagaimana aku memperlakukan diriku sendiri. Bukan sebaliknya. Sebab engkau adalah aku.

Aku adalah dirimu yang bersemayam pada raga berbeda.[]

😊😊😊

Advertisements