Surat untuk Sahabat

Dear Tya yang cantik, sahabatku di sana. Bagaimana kabarnya saat ini? Apakah engkau sedang berbahagia dan tersenyum senantiasa menjalani masa?

Apakah masih teringat denganku yang sering membuatmu kecewa? Apakah masih terkenang dengan perjalanan demi perjalanan kita? Apakah engkau merindukanku, saat ku merindukanmu seperti ini? 

Dear Tya yang baik hatinya, sahabatku sejak di dunia. Sekarang lagi apa? Ke mana-mana sekarang sama siapa? Bagaimana kabar keluarga, papa-mama-kakak-kakak dan para tetangga? Apakah semua membaikimu, wahai gadis jelita? Seperti apa perkembangan terbaru di sana, kini?

Hai, sangat rindu aku padamu, sungguh. Benerannnn. Sure. Kerinduan yang ku pertahankan tetap ada. Makanya sering-sering tak menyapamu. Walau ku teringat engkau pada suatu ketika. Aku tidak becanda, ini benar adanya.

Nah, kali ini rinduku tak bisa tertahan lagi. Jadi ku menyusun senyuman tentangmu di sini. Senyuman yang ku jaga ada menyertai diri. Agar rerintik airmata tidak turun di pipi. Supaya ku berbahagia dengan kerinduan ini. Maka, senyumam ada sebagai penanda. Ada segenap bahagia dalam rinduku padamu.

Ya, medan yang memisahkan kita memang tak lagi satu kelurahan. Akan tetapi sudah perbukitan dan pegunungan. Maka saat ku dalam kerinduan, ingatan bertaburan, tak bisa lagi hanya memiscol hapemu. Lalu satu jam kemudian engkau datang ke tempatku. Selanjutnya kita jalan-jalan tanpa tujuan. Muter-muter dengan kendaraan roda duamu. Engkau selalu yang di depan. Sedangkan aku penumpang.

Atau. Engkau tetiba muncul di pintu. Tanpa mengabari terlebih dahulu. Kedatanganmu membawa berkantong-kantong camilan. Yang bisa kita santap selama sepekan. Tapi engkau memang dermawan. Membaginya pada tetangga-tetanggaku di kosan. Sungguh kebaikanmu teman, semoga berbalas senyuman demi senyuman dari siapapun yang ada di hadapanmu. Sehingga hari-harimu penuh kebahagiaan. Supaya engkau tetap tersenyum.

Atau. Kita bertemu di perjalanan. Engkau memberiku kode di mana kita bertemuan. Ehiya, bukan di perjalanan. Tapi di tepi jalan. Engkau memintaku menunggu sebab engkau sudah di perjalanan. Selanjutnya kita menuju taman dan sekitarnya. Lalu jogging, dan memesan baso bakar lima belas tusuk. Kita habiskan berdua sama banyak. Eh, ternyata ada lebih. Engkau bilang buat aku. Supaya ku cepat gemuk. Ya Allah, engkau lagi dan lagi memanjakanku dengan porsi terbanyak dari semua yang kita pesan. Saat kesempatan kuliner datang.

Atau. Engkau tetiba manyun dan berekspresi penuh kesedihan. Saat menemuiku sepulang dari beraktivitas seharian. Ya, sore hari kita berjumpa tanpa janjian. Ternyata aku sudah makan baso duluan, yang ada di jalan balam. Tanpa mengajakmu atau menawarimu berangkat bersama. Padahal saat sama engkau juga pengen menyantapnya.

Ah, tidakkah ku teringat padamu sebelumnya? Masih saja aku sibuk dengan pikiranku yang banyak. Makanya mau ke sana ya ke saja saja. Aku berangkat pun tanpa rencana, alasanku padamu.

Akhirnya engkau tidak jadi ngebaso. Engga ada teman, engkau merajuk. Aku temenin ya, mau? Mari kita berangkat lagi. Ku usaha menghiburmu namun mana bisa? Moodmu sudah terlanjur pergi. Engga pengen lagi, engga laper tambahmu. Dan waktu-waktu berikutnya kita memilih ke rooftop menghirup udara sore berteman camilan.

Atau. Kita memesan roti burger super gede di jalan Sumatera, belakang taman kota. Burgermu banyakin sayurnya tanpa tomat. Sedangkan aku apapun suka. Buat kita santap sambil memperhati aktivitas pengunjung taman. Sampai menjelang senja, kita habiskan waktu bercengkerama.

Menyapa kerinduan pada sahabat jiwa yang belum menampakkan diri. Menyusun harapan lagi tentang pribadi yang kita impi. Bahkan saling berbagi berita tentang kabar terkini sang hati. Untuk saling menenangkan dan mensemangati. Agar kita bisa tersenyum lagi.

Atau. Kita duduk-duduk di atap saja. Memandang langit berawan. Menghitung pesawat yang lewat di atas kita. Menerka tujuannya mau ke mana. Meneriaki hingga kering tenggorokan, meski tanpa suara. Menyalakan lagi ingatan pada masa kecil. Agar kebahagiaan saat itu kita rasakan lagi. Berharap, seraya melambaikan tangan meminta pilot menjulurkan tali yang panjang untuk mengajak kita serta. Sambil tiduran menengadah langit menjelang senja. Lalu memotret mentari di tepi barat. Hingga senja pun berlalu dan kita kembali.

Atau. Engkau tetiba sudah menenteng dua bungkus sate. Satu untukku, satu untukmu. Porsinya satu dan aku sering tidak mampu menghabiskannya. Ditambah pula kerupuk cabe. Engkau bilang harus habis, biar ku cepat gemuk juga bilangmu. Ku tersenyum dan engkau gembira karena sukses membuatku mau melanjutkan.

Atau. Tetiba datang pada jam istirahat ke lokasi ku beraktivitas. Sambil tersenyum pada sekitar. Dan donat-donat paha ayam ada dalam genggaman. Ditambah dua gelas natadecoco yang super dingin. Untuk menghiasi menu makan siang.

Atau. Engkau membawakan dua bungkus nasi ramas lengkap dengan lauk rendang serta sayuran dari ‘Rumah Makan Padang’ padahal aku ada bekal. Engkau bilang, kita makan ini saja. Bekalnya bawa lagi pulang. Atau makannya beberapa jam lagi, sesi kedua. Hahahaa. Biar ku cepat gemuk juga alasanmu.

Atau. Engkau berekspresi aneh yang aku sudah tahu maknanya. Keb3let yaa, hahaaa. Walau begitu, engkau tidak mau sembarangan mampir. Karena harus terjamin kebersihan air dan tempatnya. Meski kita harus melanjutkan perjalanan jauh lagi untuk sampai, ke tujuan.

Atau. Pada akhir pekan, kita berkunjung ke toko buku untuk menjemput beberapa titik ilmu melalui bacaan demi bacaan yang kita dekati. Tapi tidak beli buku, hanya baca di tempat. Selanjutnya kembali lewat pasar dan belanja bahan masakan. Lalu masak-masak di rumahmu.

Akan banyak lagi atau, atau, nya. Kalau ku melanjutkan.

Dear Tya pribadi yang sahaja, sahabatku di sana. Sangat banyak yang engkau titipkan padaku selain benda sepanjang kebersamaan kita. Apalagi ingatan demi ingatan yang terus ada. Akankah ku biarkan begitu saja tanpa menorehkannya menjadi kata?

Supaya ia tetap ada, sekalipun nanti aku sudah menua. Sampai kelak ku beranjak usia dan aku pun lupa. Aku ingin ia tetap ada menjadi bagian dari kehidupanku di dunia ini. Semoga ku teringatkan engkau lagi, saat membacanya. Makanya ku menulis barisan ingatan tentang kita.

Kita yang bertemu hari ini, walau tidak bertatap mata. Apalagi untuk bertukar suara, belum bisa. Karena aku lagi pengen diam, sebab terkesima. Terkesima pada apa yang ada di hadapan mata. Engkau tersenyum cerah ceria, aku suka. Terima kasih yaa, untuk masih ada. Meski pun berkali-kali ku menghilang dari sapamu, aku terharu. 

Dear Tya yang berbahagia, sahabatku di sana. Semoga kebahagiaan senantiasa menyertaimu teman. Kebahagiaan yang tidak terlihat mata namun terasa.

Kebahagiaan yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari relung hatimu terdalam. Kebahagiaan yang tidak terukur tingginya. Kebahagiaan yang asli, dan engkau miliki sampai akhir. Kebahagiaan yang engkau bagi, sebelum perginya. Kebahagiaan yang terlihat melalui sikap, sorot mata dan ekapresimu. Kebahagiaan yang terus bertambah dari waktu ke waktu, sejak engkau bagikan. Kebahagiaanmu yang terasa olehku.

Dear Tya, hallo. Aku belum mau bersuara lagi. Makanya masih melanjutkan merangkai senyuman sejauh ini. Hihii.

Dear Tya yang unik tidak terganti. Engkau membuatku tertarik untuk membersamaimu lebih lama lagi. Setelah sejenak kemarin kita bertukar senyuman. Lalu teringat-kan lagi aku padamu.

Engkau sahabat yang pandai menyenangkanku. Sahabat yang tidak dapat ku cari di mana-mana selainmu. Karena engkau hanya satu. Maka ku jadikan engkau seribu. Yuhuu.

Dear Tya, antara engkau dan aku memang terdapat beda. Berbeda dari yang terlihat. Namun di dalam hati siapa yang tahu? Pun telah menjadi bukti sepanjang kita menghabiskan waktu demi waktu dalam kebersamaan.

Engkau yang setia menunggu saat ku pergi tanpa kembali-kembali. Engkau yang tidak banyak komplen kecuali demi kebaikanku. Engkau bersikap dan berbicara anggun dalam berbagai keadaan berhadapan dengan teman-temanku. Makanya engkau mudah akrab walau baru pertama kali ketemu.

Engkau, mengalihkan duniaku sejenak. Tepat saat kita berhadapan dan engkau menceritai. Selanjutnya tersenyum penuh arti. Senyuman yang membuat wajahmu lebih cantik dari sebelumnya.

Dear Tya yang ramah pekerti. Berulang kali engkau tersakiti oleh perlakuan sesiapapun yang engkau hadapi. Namun engkau tidak balas menyakiti. Engkau tersenyum dan berlalu dari sesiapapun yang menjahili. Engkau mengajakku menjemput hari dengan kebaikan demi kebaikan. Kebaikan yang engkau lazimkan menjadi tradisi diri dalam kehidupan.

Dear Tya yang masih bertanya kapan dan di mana jodohku berada? Engkau tidak sendirian, wahai sahabat. Engkau kuat dan engkau wanita hebat. Engkau yakinilah benar-benar tentang pertemuan dan kebersamaan yang semakin dekaaaat. Sebab sudah sekian lama engkau menantinya, beliau yang terbaik.

Dear Tya tetaplah tersenyum. Ada yang sedia menjadi bagian dari kehidupanmu pula. Hanya saja belum bertemuan saja. Tetap lanjutkan perjalanan hidup ini duhai sahabat yang penuh kebaikan.

Engkau berharga tinggi untuk mengeluh, berhenti atau menjatuhkan diri. Pandanglah langit biru di atas sana, biru warna kesukaanmu. Jadikan luas lengkungnya sebagai cermin, untuk mengaca diri. Kita tidak berdaya apa-apa tanpa-Nya.

Semoga engkau menjadikan kesempatan sendiri seperti saat ini, untuk terus bergiat, berbenah, membendung tanya dengan bergiat. Jangan henti yaa… engkau tidak sendiri.

Ada banyak sahabat baik yang mendoakanmu, mendoakan kita, sejauh ini. Ada banyak yang memberikan ingatannya pada kita. Semoga semua kembali pada yang memberikan, dan mereka berbahagia.

Dear Tya, sahabatku yang jauh di mata. Terima kasih untuk menjadi bagian dari perjalanan hidupku sampai saat ini. Aku senang membersamaimu. Meskipun aku begini adanya, engkau begitu. Akan tetapi ada yang merekatkan kita lagi, yaitu komunikasi.

image

Dari waktu ke waktu meski tak selalu. Engkau ingatkan aku untuk tidak begini-begini saja tapi begitu. Demi melihatku mempunyai gandengan dan baru engkau semakin yakin gandenganmu juga ada.

Dear Tya yang masih bertanya. Beberapa waktu lagi kita membuktikan. Bersabarlah sebentar lagi. Bahwa tanya tidak ada tanpa jawaban. Maka tersenyumlah wanita anggun.

Engkau yang tidak hanya diam menanti gandengan mendekati. Namun juga berusaha selama ini. Hanya belum bertemu yang tepat dan yang terbaik saja. Maka teruslah berjuang.

Engkau bukan wanita yang hanya menunggu si dia datang, namun aktif bergerak. Wanita penuh rasa percaya diri. Buktinya, pernah dalam pertemuan pertamamu dengan teman-temanku, engkau mudah membaur. Bahkan dengan atasanku mudah berbagi kisah. Mudah juga nyambung dalam pembicaraan. Syahdu melihatmu yang cepat akrab.

Lalu apa lagi yang kurang darimu? Engkau yang sabar ya, dalam melanjutkan perjuangan. Jalan masih panjang, melangkahlah.

Dear Tya yang pintar mengendalikan diri, dan membawanya pandai-pandai. Sehingga dengan orangtuaku pun engkau mudah bertukar suara dan beliau senang dengan gayamu. Walau dengan bahasa berbeda.

Engkau berpenampilan sederhana namun elegan. Engkau tidak banyak bicara, kecuali yang bernas. Engkau bercanda dengan takaran yang pas. Engkau yang pintar memadupadankan warna sehingga terlihat menarik dan membuatku melirik setiap kali berpenampilan. Eits.

Engkau terlihat energik dan segar dalam berbagai suasana. Penuh semangat dan menjadi pemeriah suasana. Kehadiranmu menambah semaraknya.

Dear Tya yang teguh dan tidak manja. Sedapat mungkin engkau berusaha dan berupaya membahagiakan orang tua tercinta dengan caramu. Meskipun engkau putri perempuan satu-satunya dalam keluarga dan paling muda dari semua. Engkau tidak menunjukkan kecengengan, kecuali menjadi pribadi tangguh dan mandiri.

Engkau terus berupaya tidak menyulitkan sesiapa, kecuali mempermudah urusannya denganmu. Walau dalam prosesnya ada saja yang tidak sepenuhnya menyadari, bahwa engkau manusia biasa yang juga mempunyai batasan dan kekurangan. Maka tidak bisa seenaknya memperlakukanmu semau mereka.

Engkau mempunyai prinsip hidup dan menggenggam erat di dalam hati. Untuk engkau jadikan panduan dalam menjalani hidup ini.

Dear Tya, sahabatku yang menyenangkan. Engkau bergaul dengan siapa saja tanpa memandang kasta, harta, pangkat dan jabatan. Karena inti penting dalam pergaulan adalah saling memahami, pengertian, kepedulian, tidak merasa diri lebih dari yang lainnya, tidak merasa diri rendah dari yang lainnga. Tidak hanya merasa, namun memikirkan risiko yang akan terjadi kemudian, sebelum terlalu jauh bergaul.

Dear Tya yang unik. Terimakasih lagi ku sampaikan padamu atas segalanya yang engkau selipkan di dalam hati, tersangkut di ruang ingat, terbit di lembaran wajah menjadi hiasan sepanjang masa.

Terima kasih, yaa, udah datang ke pesta pernikahan sepupuku Tesa. Meski ku tidak datang pada hari-H, mengingat dan menimbang kondisi raga, yang harus menempuh perjalanan panjang menuju ke sana. Ku sampaikan padamu untuk tetap hadir meski ku tiada.

Terima kasih juga buat senyumannya yang menebar indah, bersama Tesa dan keluarga.

image

Ketika tiba masanya, engkau dan juga aku menjalani kondisi serupa, wallahu a’lam bish shawab, entah kapan waktunya.

Mari kita saling mendoakan setulus kemauan, sekhusyuk penghambaan. Doa orang yang mendoakan akan sampai padanya. So, do it heartfully, dear friend.! 💐🎊💙🎉[]

🌝🌝🌝

Advertisements