0

Who is He?

Sebuah nama di kertas kecil. Beliau menuliskanya untukku

***

Beliau datang saat ku lagi duduk manis. Sendiri. Dalam diam. Hening. Sunyi. Seperti biasa.

Mengetahui beliau datang, lantas ku berdiri dan menyambut di depan pintu. Kemudian mempersilakan masuk.

Siapakah beliau yang bertamu?

Yees. Pagi-pagi sekali, beliau sudah bertamu. Beliau adalah tamu pertama hari ini.

Aku menyambut beliau dengan ekspresi cerah. Secerah mentari yang menyapaku dengan cemerlang sinarnya.

Wajahku ceria, karena aku dan beliau berjumpa lagi. Setelah sebelumnya, kami pernah berjumpa juga.

Ya. Pertemuan pertama kami, ku pernah menanya maksud kedatangan beliau menemui kami. Makanya bertemu lagi pagi ini, aku tidak menanya lagi. Namun menyambut dan melayani beliau, ramah.

Kedatangan beliau tidak ku sangka, namun nyata. Kedatangan tiba-tiba untuk kedua kalinya dan sendiri saja. Sama seperti sebelumnya.

Ya. Lalu ku meminta beliau duduk, setelah masuk. Ku menawari agar beliau duduk di sofa tamu. Akan tetapi beliau memilih duduk di kursi tidak jauh dari sampingku. Kursi yang memang untuk tamu juga, namun kursi biasa.

Ya, ku mempersilakan. Lalu aku kembali duduk

“Sungguh asri yaa, lingkungannya,” setelah duduk, beliau mengeluarkan suara sambil berdecak, menggeleng kepala, dan mengitarkan arah pandang ke sekeliling.

Suara yang beliau perdengarkan padaku, nadanya jernih. Suara dari seorang laki-laki yang tidak lagi muda. Suara penuh semangat dan semangat beliau mengalir padaku. Semangat pagi.

Suara rapi. Serapi ikat yang melingkar di kepala beliau. Suara yang ku simak jeli, seraya mengembangkan senyuman di pipi. Suara beliau, sebening embun pagi. Suara hati yang detik-detik berikutnya, sering-sering mengucap syukur, memuji, Allahu Akbar.

Aku tersenyum mengiyakan suara beliau. Detik berikutnya ku tersadar. Lalu berdiri dan mengambilkan air minum kemasan di meja tamu, lanjut menghidangkan untuk beliau.

“Minumannya yaa, Pak, silakan…,” ku tersenyum manis.

“Iya, terima kasih alhamdulillah…,” beliau menyahut.

“Bapak, berangkat dari rumah pukul berapa, tadi?” aku melanjut tanya.

“Bapak berangkat tadi, pukul delapan. Sebelum ke sini sudah shalat dulu dan sarapan. Lalu melangkah, bergerak, dengan kendaraan yang ada. Tujuannya berusaha, menjemput rezeki. Sedangkan takdir adalah bagian akhir dari usaha. Takdir ada di akhir,” beliau menjawab dan bersuara lebih banyak. Memberikan penjelasan, lebih dari yang ku tanyakan.

Aku mengangguk, memahami. Lalu melanjut tanya.

“Oiya, nama bapak siapa lengkapnya, ya? Pak…?” aku mau tahu aja, lalu menguntai tanya. Tanya yang muncul sejak kami berpisah saat pertemuan pertama, pekan lalu. Pertemuan tiba-tiba juga.

” Ha. Ha. Ha. Panggil saja ลžรฃฤŸฤ…. Sรธlรธ ร€lfฤƒ Gฤฏgฤƒ ร€lfฤƒ,” beliau berekspresi sungguh bahagia. Sedikit berahasia.

“Aku mau nama lengkapnya, Pak. Pasti ada tentunya yaa, nama bapak yang lebih panjang. Apalagi bapak sudah menempuh jenjang pendidikan lebih tinggi. Tentu ada embel-embelnya. Insinyur apa, gitu. Atau doktor, atau….,” aku tersenyum, siap mengetahui siapa beliau sesungguhnya. Sebelumnya baru mengetahui sedikit tentang beliau.

“HA.HAA.HAAA. Ga boleh sebut-sebut. Cukup Allah Yang Tahu. Apalagi sudah berapa kali haji, berapa kali umrah, dan sebagainya. Takut nanti riya. Kalau maksudnya ibadah yaa ibadah aja, termasuk gelar, pangkat dan sejenisnya, cukup, cukup,” tawa beliau mengembang lepas nan lebar. Selanjutnya menempel telapak tangan di depan dada.

Tawa yang muncul berdampingan dengan suara terang. Tawa yang membuatku juga melakukan ekspresi sama. Tapi di dalam hati saja.

“HA. HAA. Anda lucu. Nama bapak adalah nama sebuah masjid di Turki. Dulu adalah gereja. Pada zaman Salahuddin al Ayyubi, terjadi perang antara Islam dan Yunani. Dalam peperangan tersebut, Islam menang dan diambillah gereja tersebut. Lalu diubah menjadi masjid di Turki. Itulah nama bapak,” beliau gembira melanjutkan suara. Sedangkan aku terpikir, tentang suara-suara yang beliau alirkan dan bertekad mencari tahu.

Kegembiraan beliau alami. Apakah karena sukses menyembunyikan sebuah nama, dariku? Sedangkan aku, menanggapi dengan muka datar. Penuh tanya, masih dan tidak mau mengalah begitu saja. Apalagi mengalihkan pembicaraan.

“Aku belum tahu Pak? Apakah Hagia Sophia adalah nama lengkap Bapak?,” ku coba menerka, meski tak yakin jawabanku benar.

“HA. HAA. Makanya, menjadi Pe-Er Yan, yaa. HA. HAA. HAAA. Dari sini saja bapak sudah tahu, watakmu seperti apa. HA. HAA. HAAA,” lantas beliau berdiri dan melanjut suara.

“Bon bon ada, Yan,” beliau bertanya. (Yang beliau maksudkan adalah permen).

Aku menjawab dan mengantarkan beliau, dengan pandangan, “Iya Pak, silakan. Masih ada.”

Beliau mendekati meja tamu dan meraih sebutir permen. Lalu membuka bungkusnya dan memasukkan ke mulut. Selanjutnya, kembali duduk di kursi semula. Setelah duduk, beliau berekspresi serius.

“Yan, ingat besi, Yan. Pernah lihat orang bikin kamp4k, sab1t, c4ngkul, par4ng dan sejenisnya?” beliau menanyaku.

“Lihat langsung belum pernah, Pak, hanya tahu saja,” jawabku tenang.

“Baiklah. Melihat langsung belum pernah yaa. Tapi tahu aja yaa. Begini caranya, besi biasa dipanaskan, sampai merah, lalu dikeluarkan dan dipukul, ditempa, lalu di panaskan lagi, dipukul lagi, begitu terus berulang kali, sampai bertemu bajanya. Jadi inilah intinya. Brain. Otak kita ini yang berkerut-kerut. Semakin banyak kerutannya, semakin bagus! Kalau otak kita ini dimanfaatkan, insyaAllah, ini yang bernilai tinggi. (Beliau mendekatkan telunjuk ke arah kepala). Ini yang mahal harganya. Apalagi kalau sudah diisi. Isinya yang membuat otak kita semakin berkerut. (Keningku mengerut, seraya membayangkan bentuk otak manusia dan ada kerutannya). Orang yang tidak diisi otaknya, bentuk otaknya licin aja, mulus, dan tidak berkerut. ๐Ÿ˜ ,” beliau berekspresi lucu sambil tertawa dan aku juga).

Beliau tertawa. AHA. HAA. HAAA.

***

Meski ada yang bilang, apalah arti sebuah nama. Namun bagi beliau, sebuah nama yang beliau bawa penuh arti. Tapi tidak boleh di sebut-sebut. Makanya, beliau tetap menyembunyikan nama, dan tidak mau memberitahuku. Walau sudah ku korek-korek sejeli-jelinya. Apakah maknanya bagiku?

Beliau bisa jadi seorang ahli dalam ilmu pengetahuan, akan tetapi tidak mau dikenal sebagai yang berpengetahuan. Kagum aku, sungguh. Apalagi saat ku pinta pada beliau, sebagai yang lebih tua dan berpengalaman, tolong nasihatilah aku sebaris pesan. Bagaimana beliau menanggapi? Alhamdulillah, terima kasih sudah mengingatkan tentang akhir usia yang semakin dekat.

Ya Rabb. Kehadiran beliau tentu penuh arti. Membawa makna untuk diri ini. Aku yang mau tahu saja, atau sangat ingin tahu tentang beliau, pentingkah mengetahui?

***

Terkadang, ada hal-hal yang tidak perlu kita tahu, dari seseorang. Apalagi yang bersangkutan tidak mau memberi tahu. Jadi, jangan malah memaksa-maksa agar ia tetap mau, ya.

Pahamilah. Pasti ada maksud seseorang tidak mau berbagi tentang dunianya, pada kita.

Begitu pun sebaliknya. Terkadang kita bertemu dengan seseorang yang mudah saja membagi tentang dunianya pada kita. Maka, terimalah dengan senyuman. Lalu, berbagilah tentang duniamu dengannya.

Berbagi tentang hal-hal yang ingin engkau bagikan. Tentu menyenangkan yaa, dapat berbagi. Kita menjadi tahu yang belum kita tahu. Kita juga dapat membagikan pengetahuan, meski secuil hikmah adanya. Semoga, menerbitkan senyuman megah di kemudian hari.[]

๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค—