Akhirnya

Tetanggaku Idolaku

Dari kejauhan, ada yang melambai-lambaikan tangan. Aku belum ngeh, kalau ternyata ia melambai padaku. Ternyata, setelah ku perhati, Ka Dewi. Hihii. 😀 -Pemandangan alam sebelum hujan turun

🙂

​Awalnya, aku tidak dapat melakukan apa-apa. Seakan tiada, hampa, kosong, mata tidak berbinar. Sorot mataku seakan gelap. Apakah benar yang ia sampaikan, “Akhir-akhir ini aku terlihat kurang semangat?”

“Benarkah? Memang gitu, yaa?” ku tanya balik, seorang sahabat. Sambil mikir, ‘betul gitu engga yaa?’ Aku yang bisa saja kepikir-pikir dalam waktu lama. Kalau belum ku tulis isi pikiran. H-a! Pa-ra-h, sich.

Seorang sahabat bilang, kalau aku mesti banyakin makan sayuran, biar sehat. Sahabat lainnya yang mendengarkan, kebetulan ia duduk di sampingku membelaku, “Ada kok, dia makan sayuran, sering malah, meski engga setiap hari.” Sedangkan aku, menanggapi dengan senyuman. Hehe. Trus mikir, “Seperhatian itukah ia padaku? Meski kami tidak selalu bertemu? Sekali bertemu, bilang gitu. Uch (many-un).”

Padahal aku merasa sehat-sehat aja. Adakah yang tidak ku ketahui lagi tentang kesehatanku? Atau karena efek pikiran yang hadir menerpa ingatanku?

“Halo, dear me. Engkau mikirin apa lagi, ssiiih. Please,” ku tanya diri, namun ia hening, tidak menjawab. Tanpa ekspresi pula.  Aku masih bertanya dan mikir lagi. Bagaimana menghadapinya? Ia maunya gimana?  So, ku ajak ia merangkai senyuman. Biasanya, kalau sudah begini, ia mudah tersenyum lagi. Seperti hasil pengalaman dan pengamatanku sejauh ini.

Ku mulai dengan menulis judul, “Akhirnya”. Dengan harapan, akhirnya senyuman pun menebar indah melalui wajah. Yah, sejenis afirmasi gitu. Lalu, mulai dari paragraf awal, di atas.

Mengapa Akhir-nya. . . ?

Akhir-akhir ini, aku suka dengan kata ‘akhir’. Entah mengapa, suka aja. Apakah terpengaruh oleh bacaan demi bacaan yang ku baca? Bisa jadi. Karena biasanya, bacaan yang ku baca sedikit banyak mempengaruhi pikiranku. Ciaaa, aku bisa mikirjugaselainmerasarasa. 😀 Aku bahagiaaa. Karena pikiran demi pikiran yang hadir, dapat ku susun menjadi catatan lagi. Setelah mikir-mikir, namun belum ada solusinya. Maka ku tulis saja untuk lebih meringankan pikiran. Setelah ku ruangkan menjadi tulisan.

Memang, akhir-akhir ini, aku suka terpikir tentang ‘akhir’. Akhir yang mengajakku meneliti. Akhir apakah yang ku tuju? Akhir seperti apakah yang ku mau? Termasuk dengan perjalanan ini. Perjalanan yang masih berlangsung. Karena aku masih berada di sini.

“Ha? Datang lagi ke sini? Kok bisa ya? Bukankah sudah berakhir? Engkau masih ada?” sebuah suara menyapa dan menanyaku.

Aku juga masih bertanya. Pertanyaan yang ingin ku temukan jawabannya. Setelah sebuah catatan lagi, hadir. Ya, catatan saat ini. Catatan tentang perjalanan menuju ‘akhir’. Berakhir bagaimana? Bahagiakah atau sebaliknya? Berakhir ketika ku sampai di tujuan, atau berakhir sebelumnya? Apakah berakhir airmata atau senyuman?

Intinya, yaa, aku ingin merangkai catatan saja. Bisa jadi saat membacanya -nanti-kelak- aku menangisinya, menertawainya, mensenyuminya, atau tidak pernah ku baca-baca lagi.

Yup, setelah ‘akhir’ ku temui. Setelah perjalanan menuju ‘akhir’, berakhir. Selanjutnya, aku tidak akan di sini lagi, untuk selamanya. Setelah, tidak ada kesempatan lagi, untukku melangkahkan kaki di sini. Di manakah ku berada saat ini?

Aku, mirip seperti halnya dirimu teman. Selama ini juga beraktivitas. Masih melangkah di bumi. Ya, aku juga mempunyai kaki-kaki yang melangkah. Aku juga merasakan lelah. Aku juga mengalami sejuknya angin bersemilir, pagi hari nan ramah. Seperti pagi ini. Tepat setelah ku membuka pintu pertama kali, semilirnya menyambutku akrab, dengan ringannya yang tidak kelihatan.

Aku suka, menikmati angin bersemilir. Seraya mengedarkan pandang jauh ke depan, ku hayati kehadirannya untukku. Lalu, ku ulur pandangan jauh ke depan. Terlihatlah atap-atap rumah tetangga. Atap-atap bersusun rapi. Atap-atap yang menaungi penghuni rumahnya. Sehingga mereka bisa berteduh saat hujan mengguyur alam. Mereka tidak akan kepanasan, sekalipun mentari bersinar garang siang hari. Begitulah atap adanya, sebagai pelindung.

Ku pandang atap-atap tersebut lebih lama, sebelum menutup pintu lagi. Sebelum ku beralih ke dalam ruangan. Sehingga ku masih bersamai bayu yang bersemilir lembut sampai di pipi. Ku nikmati pemandangan pagi, nan anggun menenangkan.

Hampir setiap hari. Di sela-sela melakukan aktivitas. Sebelum melanjutkan langkah. Ini kesanku lebih sering, tentang pagi. Menyambut angin sejak pagi, di teras. Pagi yang menjadi awal hari.

Selain itu, aku juga memperhati mentari bersinar sangat cerah. Aku juga suka hujan-hujanan dan sangat bahagia rasanya, bila ku bisa menangis di tengah hujan. Karena tidak ada yang dapat melihat derai airmataku sebanyak apapun.

Aku juga menikmati dingin air ketika alam masih kelam sebelum ia benar-benar benderang.

Aku juga berpijak di tanah basah, kering, atau jalanan rapi beraspal. Aku juga tidak jarang duduk-duduk di bawah pohon rindang, berhenti sejenak dari perjalanan. Aku juga berjumpa dengan manusia lain dalam perjalanan.

Seperti halnya engkau, aku juga senang, bila orang-orang yang ada di sekitarku senyum bahagia bersamaku. Aku terpikir dan sangat tidak tega, melihat orang-orang yang ku sayang tersedihkan. Apalagi oleh sikapku, ucap, dan perbuatan. Semua dapat mempengaruhi hari iniku.

Aku juga perempuan yang suatu hari bisa rapuh, tidak selamanya tersenyum utuh. Aku, tidak berbeda denganmu. Karena kita sama-sama ciptaan-Nya. Iya, aku manusia juga. Aku bukan robot, atau alien yang turun ke bumi. Aku bukan makhluk halus tidak terlihat. Aku ini, ya, beginilah adanya.

Aku punya perasaan dan pemikiran yang ku dayakan saat menempuh waktu. Aku punya raga yang bergerak dan melangkah lebih jauh. Hingga sampai ke sini, dan kita berjumpa lagi.

Saat ku sedang melangkah di sini, aku terhenti sejenak. Yap! Ada tamuuuu. Siapakah dia? Mari kita sambut ceriaaaa. 😀

***

Menit-menit berikutnya, aku datang lagiiii.

Begini sedikit, diantara percakapan demi percakapan kami hari ini.

Welcome back, dear sister. Saat cuaca bermendung, teduh nan damai. Kiranya mendukung perjalanan yang engkau lanjutkan hari ini. Perjalanan untuk menjemput rezeki. Perjalanan yang semoga selamat sampai tujuan. Ke mana pun engkau menuju, nanti. Perjalanan yang engkau nikmati, bagaimana pun kesan di perjalanan hari ini. Perjalanan yang semoga, mengajakmu menghayatinya, mensyukurinya, dan tetap hati-hati di jalan, yaa,” sebagai rangkuman sambutan dan harapanku untuknya.

“Kakak ini, doanya yang baik-baik aja selalu, yaa. Aku mau doain baik-baik juga ah, untuk Kakak,” ungkapnya menebar senyuman dan menoleh pada temanku yang lain, di sini. Sedangkan temanku, tersenyum saja. Ia sedang meneruskan aktivitasnya. Ia maklum.

“Oiya, Kak, kapan-kapan jadi ku c-u-l-i-k kakak yaa, nanti main ke rumahku. Kita bisa masak-masak atau mengolah adonan kue, okeeee. Pada waktu yang tepat, aku mau,” pintanya padaku. Setelah pekan lalu, kami tidak jadi bertemu.

Yah, ia-gagal-men-c-u-l-i-k-ku. Karena ada agenda lain yang mengakibatkan kami tidak dapat menghabiskan waktu libur bersama. Walau begitu, ia masih ingat. Nah kunjungannya kali ini sekaligus untuk mengingatkanku, agar main ke rumahnya.

“InsyaAllah, tentu Aurora. Saatnya akan tiba. Kita bisa menghabiskan waktu bersama, juga. Semoga kebersamaan kita di kota ini, masih lama. Jadi, kita bisa menjalankan rencana demi rencana bersama,” jawabku mensenyuminya.

“Sampai berjumpa lagi, Aurora. Aku senang membersamaimu bahagia. Terima kasih yaa, kunjungannya. Sampai berjumpa lagi,” ku melepas Aurora. Saat ia pamitan, lagi.

***

Seorang gadis berkunjung lagi, hari ini. Gadis bermuka cerah (tersenyum) di depanku. Gadis cantik bermata jeli, dalam pandangku. Gadis ceria bersuara merdu, di telingaku. Gadis dengan bulu-bulu mata lentiknya, menarik perhatianku. Saat ia mengejap-ngejapkan matanya. Mengikuti gerakan kelopak mata saat ia bicara. Bulu mata yang hitam, kelam, melengkung ke arah atas, menawan. Bulu matanya, aku suka. Seperti sukaku pada senyumannya yang lebih sering terukir mudah pada bibirnya. Saat bicara, ketika henti sejenak, senyuman itu masih ada. Senyumannya, juga salah satu yang ku suka, darinya.

Aurora. Yah. Aurora kembali lagi, menebar bahagia untukku, specially. Aurora yang sudah menemuiku untuk kesekian kalinya, termasuk hari ini. Pertemuan kami yang tidak akan ku hitung lagi, ke depannya. Karena insyaAllah, kami akan lebih sering bertemu, lagi. Begitu Aurora menjanjikan padaku, tentang rencana kunjungannya yang akan ada lagi dan lagi.

Asyiik, berarti aku akan lebih sering juga menyaksikan kesempurnaan ekspresinya. Itupun kalau aku masih ada di sini, ya. Sehingga kunjungannya berikutnya, benar untuk menemuiku.

Aurora. Sesaat setelah ia ada di depanku, ia mampu mengalihkan duniaku. Termasuk mengalihkan perhatian ku dari sini. Makanya, sebelum ini ku menepikan sejenak aktivitas merangkai senyuman, untuk membersamainya lebih akrab.

Nah, kini aku kembali lagi, untuk memberai kisah tentang kebersamaan kami. Kisah yang tidak pernah ku sangka akan tercipta, juga. Kalau saja sejak awal bertemu, kami tidak berakraban setelah berkenalan. Kisah yang turut menghiasi hari ini ku. Kisah tentang aku dan Aurora yang berjumpa lagi, hari ini.

“Hai, sebenarnya Aurora itu siapa sich? Ngapain datang lagi mengunjungimu? Sepenting apakah Aurora bagimu? Berapa lama ia membersamaimu? Sampai mengabadikannya dalam hari inimu?,” engkau bertanya padaku, karena mau tahu? Atau, engkau mulai bo-sen, tersebab Aurora lagi Aurora lagi yang ku kisahkan padamu? Benar begitu, teman?

Engga engga, ini hanya perasaan dan pikiranku saja. Karena engkau belum tentu berpikir begitu, bukan? Engkau malah akan mengizinkanku memberai tentang apa saja, asalkan aku bahagia dan tersenyum menjalani waktuku. Termasuk tentang Aurora, ini.

Atau engkau akan segera berlalu. Karena lebih baik menurutmu. Karena engkau tidak akan membuang-buang waktu berhargamu, begitu saja. Bila saja di sini tidak ada hal berarti yang dapat engkau petik. Namun, kalau masih ada yang ingin engkau tahu, tentu masih asyik menelusuri setiap kata yang ku baris serapi ini. Hihii, sudah rapi belum yaa? Dari tadi ku sibuk menatanya.

Aurora, datang lagi untuk sebuah misi. Misinya adalah menggodaku. Yah, walaupun kami sesama perempuan, ia menggodaku untuk tergoda dengan penawarannya. Akan tetapi, aku sedang tidak memerlukan tawarannya, lalu ku sampaikan kronologinya, termasuk beberapa alasan yang dapat ia mengerti. Hingga Aurora pun paham.

Selanjutnya, kami masih tetap bersama hingga puluhan menit berikutnya. Kebersamaan yang ingin ku ingat lagi. Makanya, tepat setelah ia berlalu, aku pun merangkai inti pesan yang ia selipkan padaku. Karena waktu yang kami habiskan bersama, harus begitu. Bukan untuk hal sia-sia, namun bermutu.

Mesti ada hikmah yang ku petik, harus ada makna yang ku genggam erat. Untuk menguatkanku lagi, setelah sepotong hatiku ia bawa pergi. Ketika ia harus meneruskan langkah-langkahnya, lagi. Sebab, tidak selalu kami bersama. Hanya untuk bercerita-cerita saja.

Aurora. Kehadirannya lagi hari ini, memesankanku untuk tersenyum. Senyuman yang ia teladankan, ia bawa, ia bagikan. Bahkan hingga detik-detik akhir kunjungannya hari ini. Sebelum ia pamitan. Dan kemudian meninggalkanku. Setelah urusannya selesai, bersamaku.

Bisa bersama lagi dengan Aurora hari ini, tentu mengagetkanku. Walau kehadirannya bukan lagi untuk pertama kalinya. Akan tetapi, bagiku berkesan. Kedatangannya yang mengingatkan pada teman lainnya, di sana. Ia yang juga datang-tiba-tiba tanpa kabar-kabari dulu, membuatku terharu menyambutnya. Tetiba sudah berdiri manis, di depanku. Membawa bahagia, atau cerita-cerita lucu buatku. Membawa pengalaman, atau uneg-uneg untuk ia bagi denganku.

***

Aurora tidak lama-lama di sini. Karena ia ada kepentingan berikutnya. Aurora, yang saat ini sudah berangkat lagi. Karena ia mesti meneruskan perjalanannya.

Sekitar sepuluh menit setelah Aurora berlalu, hujan pun turun. Deras. Sibuk. Ramai. Riuh. Heboh. Berderai-derai gelak tawanya di atap. Hujan yang sangat suka cita mengguyur alam. Lalu, Aurora, bagaimana perjalanannya, ya?

Semoga ia sudah sampai di tujuan, atau kalau pun belum, semoga menemukan tempat berteduh. Sehingga hujan tidak membasahkan pakaiannya. Karena tadi Aurora bilang, tidak bawa jas hujan. Aku masih mengingatnya. Semoga aku pun lekat dalam ingatnya, tepat saat ingatanku mampir untuknya.

“Berhentilah sejenak dari perjalananmu, Aurora. Saat hujan turun. Karena pasti ada hikmahnya. Untuk bisa rehat sejenak, memandanginya turun ke bumi. Hujan yang datang untuk menceriakan pepohonan, dedaunan, rerumputan, bebungaan, serta tanaman hijau lainnya. Mengingat ini, dapat mensenyumkanmu lagi. Walau mesti henti sejenak, dan tidak dapat melanjutkan perjalananmu. Sepenting apapun perjalananmu. Bersyukurlah juga di tengah hujan. Karena hujan adalah karunia untuk kita syukuri,” hatiku berbisik untuknya. Meski Aurora tidak dapat mendengarnya, semoga sampai ke hatinya.

***

Sebagaimana halnya hujan yang turun ke bumi. Begitu pula aktivitas demi aktivitas yang kita lakukan. Aktivitas yang semoga kita nikmati dan syukuri. Karena hujan tidak selamanya. Begitu pun kita, juga tidak selamanya di sini. Maka, hayatilah, bersungguh-sungguhlah dalam melangkah. Bersyukurlah dalam perjalanan. Karena ada hikmah yang kita temukan, tentu ada maknanya. Hanya, kita mesti semakin jeli menemukannya.

Menjalani langkah sebaik-baiknya. Sebelum ia berlalu dan kita tidak dapat melakukannya lagi. Sebelum semua berakhir, dan kita tidak menemuinya lagi. Untuk hidup yang lebih tenang, damai dan tenteram. Karena segala yang kita jalani, tidak ada yang di luar kuasa-Nya.

Hanya saja kita terkadang lupa. Lalu menge-luh atas keadaan yang tidak kita suka. Hanya saja kita lupa, lalu ngo-mel atas keadaan di luar harapan kita. Hai, sudahilah semua itu. Saatnya melanjutkan langkah. Sebelum perjalanan ini berakhir. Lalu kita tidak bisa ngapa-ngapain lagi.

Di bawah atap meneduhi, kita duduk manis meneruskan perjalanan hidup. Sedangkan di sana…, ada yang terguyur hujan demi meneruskan perjalanan hidupnya.
Di jalanan kering, kita melangkah. Sedangkan di sana…, ada yang melangkah di tanah dan berlumpur.
Di atas bumi, kita berada kini. Sedangkan di sana…, ada yang sudah di dalamnya dan tidak bisa kembali lagi.

Hai, apakah yang engkau pikirkan, teman?

Hari ini aku masih di bumi. Semoga engkau juga ya. Kita bersama-sama meneruskan langkah-langkah lagi. Meski berbeda lokasi, tidak mengapa. Engkau di sana, aku di sini. Mari, bersemangat lagi menjalani hari ini, sepenuh hati.[]

🙂 🙂 🙂