Tersenyumlah, Masih Ada Harapan

Di tengah musibah, engkau tetap sumringah. Mengembangkan senyuman indah di wajah. Bibirmu merekah, meski airmata terus melimpah. Wahai sungguh ku tergugah.

Ku melangkah menujumu agar kita lebih dekat. Lalu duduk manis di sisimu. Ku perhatikan segala ekspresimu selanjutnya. Dari sana ada yang engkau persembahkan untukku.

Tidak mudah, memang. Tidak murah, memang. Tapi engkau memberinya dengan senang. Semua tidak terjadi begitu saja, bukan? Darimu ku memetik hikmah. Engkau yang tabah.

Engkau bisa saja tidak berkutik. Engkau bisa saja diam membisu. Engkau bisa saja segera berlalu. Setelah engkau tahu siapa aku. Tapi, alhamdulillah… engkau tidak begitu. Engkau cukup baik hati untuk kemudian membersamaiku.

Detik-detik berikutnya, kita pun bercengkerama. Di bawah pepohonan rindang, di antara dedaunannya yang berguguran satu persatu. Romantic moment, ku pikir.

Seiring hadirnya semilir angin, ku perhati wajahmu yang teduh. Ku sematkan perhatian sepenuh hati. Engkau mengerti kehadiranku ada arti.

"Tetap tersenyum ya, walau airmata menepi di pipi."

… (beberapa waktu kemudian)

Tanpa banyak bicara, kecuali sesekali. Tanpa banyak suara, kecuali dengan pertukaran ekspresi saja. Tanpa ku sadari, engkau sudah tiada di sisi. Apakah karena kita tidak bisa lama-lama bersama? Apakah karena kita memang bertemu untuk sebentar saja?

Saat ku sedang menghayati kebersamaan kita, engkau sudah menjauh, lagi. Engkau tidak di sisi. Padahal ku masih ingin kita tetap bersama. Engkau, ada di mana?

Terdudukku lagi, setelah sempat berdiri. Karena kaki-kakiku kram sebab terlalu lama menanti. Ya. Ku harap engkau kembali. Ternyata, tidak.

… (ku tertegun)

Tidak bisa begini.

Aku harus melangkah. Aku mesti bergerak. Tidak bisa hanya berdiam diri. Aku yakin, engkau meninggalkanku bukan karena benci. Namun sungguh beralasan. Alasan apa lagi, gerangan?

Aku tidak bisa hanya bertanya-tanya seperti ini. Aku ingin kita bersama lagi. Walau tidak di bawah pepohonan rindang. Semoga di lain jalan, kita bersua. Dan engkau masih mengenali ku. Meski wajahmu tidak dapat ku perhati sebebas sebelumnya. Sekali pun antara kita sudah ada aneka ragam batasan yang aku pun tidak akan sanggup melangkahinya.

Aku bahagia. Aku akan menjadikannya alasan sebagai jalan menghadirkan senyuman, lagi. Senyuman yang semirip dengan senyumanmu.

Engkau. Tetap di sana. Teruskan langkah. Meski kita tidak bersama. Di ujungnya, pada tujuan, selamat bersua. Itu pun kalau tujuan kita sama. Jika engga, ya sudahlah. Sampai di sini saja, yaa. Kelak, tentangmu tidak akan ada lagi cerita. Oiya?

Iya, aku tidak bercanda. Ini serius. Yuup, bahagialah. Engkau bisa tenang di sana, dengan langkah-langkahmu. Sedangkan aku, melanjutkan langkah, sepenuh hati. Menuju hari-hari yang lebih baik.[]

😊😊😊

Advertisements

Bersama Zoi (2)

Halo teman, selamat berjumpa lagi 😁pada hari yang cerah ini bersama hatiku yang bahagia selayak cuaca pagi ini.

Bagaimana kabarnya teman? Semoga semarak di sana yaa, dalam nuansa indahnya Ramadhan bersama keluarga.

Oiya, menemuimu lagi seperti ini, mengingatkanku pada suatu masa. Masa berseri-seri, di bawah sinar mentari yang tersenyum bening. Masa penuh harapan, di antara hehijau dedaunan. Masa penuh kesejukkan, di pojok ruang seraya menebarkan senyuman di pipi. Masa yang asyik, di dalam hari ininya. Masa ramai ekspresi, di seluruh sudut keberadaan diri. Masa sih? Iyakk… 😗 😘 😎 😂 😄 🤗 😙

Begitu hari ini datang, bertaburanlah senyuman. Seluruh alam seakan mengumandangkan syahdu, harimu adalah hari ini. Hiduplah sehidup-hidupnya dan semangattttt! Wah, gitu ya? Sure… 🍃🐝

Berbisik embun, menyampaikan salam. Tertunduk ranting-ranting pohon, menyampaikan hormat.

Tersibak ilalang, memberikan jalan pada sesiapapun yang mendekatinya. Melangkahlah di sisi kami, ungkapnya.

Tanah membantu dengan khusyuk, silakan melaluiku penuh kedamaian. Sedangkan angin turut berperan, memberikan ketenteraman. Selamat bertemu lagi, walau engkau tidak akan pernah melihatku walau sekali. Meski begitu, rasakanlah kehadiranku kapan saja, dengan melambaikan jemarimu, mengucap sapa untukku. Aku ada di sana.

Begitu juga dengan Zoi, ia melirikku manja dan berpesan, agar menemuinya sebentar lalu kami bersenyuman.

Zoi adalah kucing yang lucu. Kami sudah berkenalan dan bersama sejak kami berjumpa. Zoi berbulu warna abu-abu nan lembut. Aku suka padanya awal kami bertatap mata. Lihatlah, perawakannya teman. Sungguh menarik jiwa untuk berkata, aku mencintainya. Cinta yang bermula melalui tatapan mata. Karena di sana ada ‘Cinta’.

"Terima kasih ya Allah, untuk mempertemukan kami sejak di dunia. Sehingga menjadi jalan kembalikan ingatan kami kepada-Mu, sungguh ini mengharukan. Airmata menetes pelan, seiring terasa kesejukkan di dalam hati."

😊😙😍

Hidup Ini Singkat, “Bahagialah”

Begini engkau berpesan padaku. Pesan yang engkau sampaikan meski dari jauh, tempo hari. Pesan yang membuatku segera tersenyum, mengingatnya lagi, hari ini. Sebuah pesan tentang bahagia.

Ya, sejak ku mendengarkan semua yang orang sampaikan tentangku, aku merasa tidak bahagia. Ketika semua pendapat mereka yang sampai padaku tidak masuk dalam pikiranku, aku pun tersedu. Saat itulah, engkau datang, mendekat, pelan-pelan, lalu duduk manis di dalam hatiku.

“Untuk bahagia, terkadang kita harus ‘tega-s’,” tambahmu pula.

“Ya, tega saja pada keadaan yang tidak engkau harapkan, tapi engkau temui. Tegaslah pada sesiapa yang membuatmu terusik, lalu tersenyumlah. Karena barangkali, mereka datang sebagai ujian, bagimu. Atau mereka datang, untuk mengingatkanmu, bahwa engkau tidak sendiri. Mereka ada, untuk menghiasi harimu. Supaya engkau tetap merasakan kehidupan yang sebenarnya dan masih mau bersemangat dengan kehadiran mereka,” engkau melanjutkan, sambil memperhatiku, tenang-tenang.

“Kelak pada masanya, sampaikan ucapan terbaikmu padanya. Ucapan terima kasih. Ya, Berterimakasih atas kehadirannya sebagai sahabatmu. Sahabat baik yang memperhatikanmu, hingga engkau mengerti dan mengenal, segala hal yang tidak engkau ketahui tentangmu, sebelum mereka ada,” engkau melengkapi. Selanjutnya, bangkit dari ingatanku, untuk menjauh, lagi.

Aku mengangguk, bersama ekspresi yang engkau pernah menyaksikannya, sepanjang kebersamaan kita. Semoga engkau pun berekspresi sama, teman.

“Semakin jauh engkau di sana, semakin dekat keberadaanmu di dalam hati ini. Terima kasih, yaa.”

🙂 🙂 🙂

Restumu Ibu Awal Langkahku

Engkau kira ini tidak nyata? Ah, percayalah, ya percaya saja. Walaupun engkau harus berulangkali menyeka airmata. Percayalah, tanpa pernah lagi berduka. Percayalah, dan jalani saja. Percayalah, sudah menjadi ketentuan-Nya untuk kita. Lalu, tersenyumlah. Melihatmu tersenyum, senyumanku kembali hadir.

***

Pagi ini, mentari bersinar semarak, kawan… Ku kabarkan padamu tentang hal ini, sebagai alasanku melangkah lagi. Sinar yang mengajakku ke sini, melangkahkan jemari, lalu tersenyum bersamamu. Senyuman yang engkau bagi, jauh-jauh hari, bahwa ia ada untuk menyemarakkan hari-hari kita.

***

Ya, bahkan sebelum ku bisa membuka mata, engkau sudah tersenyum padaku. Senyumanmu dalam pedih, perih dan sakit yang ku tahu, semua demi aku. Senyuman yang tidak terjadi begitu saja, tanpa alasan. Senyuman yang hingga hari ini, masih engkau bagi, walau sembilu melukai hatimu.

Ibu… Tulus kasihmu, membuatmu tidak dapat tidak, tersenyum juga. Ketika ku haturkan padamu, seberkas wajah penuh senyuman, sapa, dan sedikit lirikan manja. Aku suka, engkau tersenyum akhirnya.

Ibu… Sejak ku tahu yang engkau damba, sejak ku yakin yang engkau pinta. Sejak saat itu ku tidak lagi mendua. Ku persembahkan sepenuh hati, seluruh kemampuanku sebagai permata jiwa. Hingga akhirnya, ku merasakan hari-hari yang berlalu tidak lagi hampa. Ku mengiringi segala tawamu, dengan sukacita. Begitupun dengan duka yang sesekali hadir menyapa, ku senyumi sesungguhnya.

Ibu… Kelak tiba masanya, ku ingin senyumanmu yang menebar selalu ada. Walaupun tidak selamanya kita dapat bertatap mata. Sekalipun sudah lama ia tiada. Tapi senyumanmu yang pernah ada, hari ini, akan selalu bersemayam di ruang jiwa. Aku suka, lalu menjadikannya sebagai peluruh rasa. Dengan harapan, selamanya bahagia atas senyuman yang ada. Selamanya tersenyum atas luka yang tersisa. Selamanya, semua tersenyum untuk kita.

Ibu… Sudah seratus dua hari sejak engkau menjadi jalan bertemu ku dengannya. Bukan hitungan angka sebentar, tidak juga lama. Bukan.

Ibu… Terima kasih atas izinnya. Atas lega yang engkau lukiskan pada dua tatap mata. Atas pinta yang engkau guratkan pada ekspresi wajah. Atas kumpulan doa tanpa jeda. Atas segalanya yang tidak dapat ku reka-reka. Namun terekam jelas dalam ingatan. Selamat bahagia. 😉

Ibu… Masanya akan tiba juga. Impian bukan lagi angan. Cita tidak sekadar damba. Harapan menjadi nyata. Seperti hari ini, senyumanmu ada, tetap tersenyum, yaa. Aku suka.

Ibu… Terima kasih atas kelonggaran, kesempatan, termasuk semua fasilitas ini, untukku. Terima kasih, untuk memberiku peluang seluas-luasnya, menentukan yang terbaik demi masa depan. Terima kasih, untuk senyuman persahabatan, yang tidak akan pernah pudar di dalam ruang hatiku.

Ibu…

***

“Tersenyumlah, meski berairmata,” pesanmu.

“Ini haru, namanya,” tambahku.

“Iya, engkau tidak membiarkan ibu bersedih, jadi jangan sedih-sedih yaa,” engkau mengedipkan mata berbinar-binar padaku. Aku mengedipkan mata berair padamu. Bersama ekspresi yang selama ini ku eksperimenkan dari hari ke hari. Bahwa dengan tersenyum, kita bisa bahagia, segera. Ya, sesegeranya.[]

🙂 🙂 🙂