Engkau Sahabatku

Sekuntum Bunga Persahabatan
Sekuntum Bunga Persahabatan

Wajah kita memang tak sama. Usia kita juga berbeda. Apalagi isi pikiran. Begitu juga dengan perasaan. Kita, banyak bedanya. Akan tetapi, persahabatan antara kita dapat tercipta. Persahabatan karena pertautan kata-kata. Ya.

Kata-kata yang kita rangkai adalah jalannya. Rerangkainya adalah senyuman kita. Untaiannya adalah perekat jalinan persahabatan kita. Semua ini kita lakukan demi persahabatan yang terus abadi, selamanya, sepanjang masa.

“Meski ku akan layu?”, engkau bertanya.

Iya.

“Walau ku telah tiada?” dua matamu berkaca-kaca.

Iya.

“S3k4l1pun 4ku 3n994 t3rbitt aaggeee?” engkau mengdadak alay.

Iya.

“Bahkan, saat engkau tidak pernah sempat mengenaliku saat masih ada?”, engkau membaca arah tatapku.

Iya.

“Bahkan saat engkau dan aku tidak dapat menghabiskan waktu-waktu luang kita, menatap jendela tanpa jeda, mengintip mentari dari sela-selanya?”, engkau bersalaman denganku. Sebelum kita berjauhan.

Iya.

“Huuuwwwaa, bagaimana engkau bisa setega itu padaku. Apakah seperti itu maknaku bagimu? Engkau menyebutku sahabatmu. Masih?

Iya.

Lalu, mau engga ku ajak berkeliling sejenak. Ayo kita bergerak. Memutar arah pikir, menjelajah pesona maya. Akan ku tunjukkan padamu, langkah-langkah selanjutnya. Agar dapat engkau tempuh dalam perjalananmu.

Di sana, engkau dapat bertemu dengan siapa saja, dari mana saja. Apakah yang baik dan sebaliknya. Alangkah menyenangkan, di sana. Apabila engkau dapat berbesar hati, meluaskan pandang, membuka cara berpikir, maka shabatmu dapat lebih banyak lagi.

Sahabat yang tidak dapat engkau rengkuh jemarinya, meski engkau merindui. Sahabat yang datang dan pergi semaunya, meski engkau setia menanti. Sahabat yang menunjukkan padamu bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua dapat terjadi, sekedip mata. Apakah engkau mengerti?

“Senyuman ini adalah sebentuk ingatan dariku untukmu yang sudah ku pandang sebagai bagian dari diriku sendiri. Saat aku juga sedang mengingatkan diriku. Terima kasih untuk mampir di sini, menjadi sahabatku. Meski lambaian jemariku tidak akan pernah dapat engkau perhati, senyumanku apalagi. Namun ku menyapamu dari hati, sebab ku peduli. Jadi, tetaplah berbesar hati. Meski aku tidak akan pernah datang lagi di depanmu, untuk mensenyumi. Tersenyumlah, setiap kali engkau mengingatku dan membaca pesan ini,” engkau menambahkan.

Aku, tersenyum. Karena engkau sahabatku.

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Advertisements

Rindu Bertemu di Ujung Waktu

Ketika rindu membawamu pada ujung waktu, jangan teriak. Tenanglah, santai saja dan hayati waktumu sebenar-benarnya.

Sebelum sampai waktunya, bilang pada rindumu, bahwa aku datang. Lalu, tidak ada yang perlu engkau pertanyakan lagi, ke arah mana waktu akan membawa rindumu. Apakah Timur, Barat, Selatan, Utara atau Ruang Maya. Ikuti saja dan tersenyumlah.

Hari ini, aku rindu padamu. Rindu bertemu denganmu.

Waktu membawaku, mendekatimu. Waktu sekarang dan aku menikmatinya benar-benar. Waktu yang tidak akan pernah terulang lagi, setelah terlewat. Ia tidak akan kembali, maka bergeraklah aku, melangkah, bersama waktu. Akhirnya kita pun bertemu. Pertemuan di ujung rindu. Rindu bertemu satu waktu. Menikmatinya.

Ya. Aku merindumu dan kita pun bertemu. Ini adalah ujung rindu kita.

Rinduku padamu tidak lagi semu. Terlebih setelah ku tahu siapa dirimu. Engkau yang tidak pernah mau ku temu, kapan pun ku mau.

Kalau begitu [engkau dan aku] apakah layak memelihara rindu? Bukankah menebarnya menjadi pilihan? Kita sama-sama setuju. Untuk membungkus rindu di ujungnya waktu, agar rindu kita bersatu.

“Sudah sekian lama, kita tidak bertemu. Yaa. Pertemuan yang menumbuhkan rindu,” sapamu padaku awal kita bertemu, setelah lama-lama membersamai rindu.

Engkau membentangkan tanganmu lebar-lebar, siap memelukku. Aku? Bingung. Ada apa denganmu? Engkau senyum aja. Aku? Semakin bingung. Ada apa denganku? Engkau bertanya. Aku? Mengajakmu duduk dan kita pun menikmati waktu bersama.

Waktu sama. Di tempat sama. Berdua saja. Tidak ada yang mengganggu. Kita, bernostalgia.

Dulu, aku pernah membayangkan rinduku tak hanya maya. Rindu yang sering-sering mencubit sudut hatiku, membuatku sering-sering menitikkan airmata.

Aku yang tidak mau rindu selamanya. Apalagi padamu. Maka, aku berusaha menepisnya dari waktu ke waktu.

Ku menyibak waktu, menuliskan sebagian rindu dalam diari. Sehingga bersama rindu, aku menangis. Setelah melepasnya, ku tersenyum. Sehingga tidak selamanya ku rindu dan berairmata.

Aku, berusaha dari waktu ke waktu. Hingga kita pun bertemu.

Hingga di halaman akhir diari, masih saja ada rinduku padamu. Walau kita sudah bertemu, rinduku semakin menggebu, menderu, menjangkau langit, menjalar mengikuti arah angin.

Ke mana lagi rinduku bertamu? Setelah padamu, dan kita bertemu.

Kita bertemu di sini. Di ujung rindu, di tepi waktu. Pertemuan dalam satu waktu. Sehingga tidak ada yang ku ragu lagi, tentangmu.

Aku semakin yakin. Engkau adalah aku. Kita satu. Meski berbeda raga, kita bersatu dalam kalbu.

Bruuk! Hatiku jatuh padamu. Engkau menyambutku dan uhuhuhuuu, ku tersedu. Haru. Pilu. Sendu. Rasanya abu-abu. Warnanya biru.

Tentang rindu, memang begitu. Rindu, tidak akan berkunjung kalau aku dan engkau tidak satu. Yaa, yang ku maksud adalah kalbu.

Meski kita tidak akan pernah bertemu, seperti saat ini, rinduku tetap memanggilmu. Supaya mendekatiku dan kita dapat saling terharu atas alasan rindu.

Tidak ada yang tiba-tiba rindu, jika saja tidak saling mengenal. Tidak. Maka, sudah sewajarnya, rinduku padamu menjadi seperti ini. Menagih temu. Berat buat melunasi.

Hai! Selamat yaa untukmu. Engkau yang mengajariku tentang rindu, sejak dulu. Membersamaiku dalam suka, duka, bahagia juga sedihnya, tawa dan tangisan, huwwa, thank you yaa. Bersama kita bisa.

Dulu adalah masa lalu. Sekarang adalah saat ini. Esok, lusa dan kapan-kapan adalah rinduku padamu. Aku masih akan, rindu. Meski waktu tidak akan mempertemukan kita lagi. Setelah saat ini, kita sudah harus berjarak lagi. Sampai bertemuuu. ๐Ÿค—

Jarak, bukan alasan hadirnya rindu. Karena saat bertemu pun, rindu gesit melaju. Engkau harus percaya. Sebab rindu hadir, bukan sembarang waktu. Tidak padamu dan pada yang lainnya, rinduku ada selalu.

Yuhuuu…

Tapi? Malu menyampaikannya yang ku tuju. Sebab apa? Aku ingat usiaku. Aku tahu, siapa yang ku rindu. Aku menyadari, siapa aku?

Adakah yang ku rindu tahu? Bagaimana ku menjaga rindu? Tanpa harus ku beritahu. Tanpa mesti menggugu.

Rindu sampai setiap waktu. Tepat, saat ku membuka mata dan atau menutupnya. Apakah masih ada waktu atau sudah habis waktuku? Bagaimana aku tahu?

Biru itu rindu. Rinduku adalah engkau. Just be you and I miss you, hingga ujung waktuku.

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Tentang Mentari

“Matahari atau rembulan, engkau memilih apa?” Arel bertanya pada Ru.

Ru tersenyum. Ia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Senyuman yang membuat Arel memandangnya penuh tanya. Senyuman yang sangat asing bagi Arel.

Ya. Saat ia bertanya, hanya senyuman yang Ru berikan. Tanpa jawaban.

“Hai, apa maksudnya? Tersenyum aja,” Arel beralih dari duduknya dan mendekati Ru.

Sebelumnya, mereka duduk berseberangan. Sekarang, mereka bersebelahan. Arel berdiri tepat di samping Ru, memandangnya bersama senyuman.

Arel menempelkan tangan kanannya di pundak Ru, sedangkan Ru, mengangkat wajahnya sedikit. Sehingga pandangan mereka menyatu. Senyuman mereka, juga. Senyuman yang membuatku teringatkan pada, Mentari. Ia yang saat ini tidak di sisiku.

Aku memperhati mereka saling memandang tanpa berkedip. Arel dan Ru yang tersenyum penuh makna. Melihat senyuman mereka aku sedikit iri. Rasanya ada yang menelusup di dada ini. Hatiku remuk menyaksikan. Sebab, keduanya adalah pasangan yang bertemu lagi setelah berpisah, lama. Sedangkan aku dan Mentari baru saja berjarak lagi. Dua perbedaan yang jelas.

“Ah! Bagaimana kalau ku menyapa mereka? Agar kami dapat bercengkerama,” pikiran anehku tiba-tiba menghampiri.

Pikiran yang ku senyumi, getir. Kemudian menepisnya agar menjauh, jauh, jauh dariku. Karena ia datang bukan pada saat yang tepat.

Pikiranku mulai berulah. Ia menembus ruang sadarku, dan mengajakku ke ruang mimpi, lagi. Ia ingin ku membersamai Arel dan Ru, yang tidak jauh dariku.

Yah! Mana mungkin aku bergabung dengan Arel dan Ru? Siapa mereka saja, aku tidak tahu. Kami tidak saling kenal. Hanya saja, aku memperhati mereka sejak tadi sambil mengelus dada berulang kali. Supaya ia kembali tenteram. Meski di depan mata ada pembakaran suasana hati, yang menghancurluluhkannya menjadi abu.

Aku harus kuat. Aku mesti tegar. Aku bisa bertahan dalam kepedihan ini. Hati yang terlanjur hancur, ingin ku benahi.

Aku berkata pada diriku sendiri. Supaya ia masih bisa tersenyum, menyaksikan pemandangan di depan mata. Pemandangan yang mengembalikanku pada kenangan tentang hari-hari kebersamaan kami. Mentari dalam impian. Aku merindukannya.

Beberapa saat kemudian, aku melangkah, gontai. Wajahku menunduk. Jemariku mengepal, tidak kuat. Lalu, mengangkat wajah. Di atas sana, ada mentari. Aku melambaikan jemari padanya yang bersinar hangat. Lambaian bersama senyuman yang mengembang di pipi. Mentari sungguhan.

Aku ingat, ia selalu ada untukku. Meski jauh di sana, tidak tergapai tangan.

Mentari yang mengajarkanku arti rindu, cinta dan airmata serta senyuman. Mentari yang benar-benar ada, bukan hanya damba. Mentari yang menyinari, menerangi, membuatku dapat melihat isi dunia selama ini. Mentari yang terbit lagi, membuka hari-hari dengan lembaran baru. Bersama kehangatannya, pagi tak lagi ku lewati dengan gigil, tapi bersemangat.

Menatap mentari, aku bisa tersenyum. Karena mentari pun tersenyum tidak hanya untukku. Ini yang ku pelajari, darinya. Maka, mana bisa ku tersenyum hanya untuk diriku sendiri? Bagaimana kami bersenyuman berdua saja?

Mentari impian. Aku, tidak lagi merasa memilikinya. Karena ia adalah pengingatku kepada-Nya. DIA yang menghadirkan Mentari dalam satu episode hidupku dan itu sudah berlalu menjadi kenangan.

Kini, hidupku tetap berlangsung. Mentari impianku memang telah tiada, namun mentari yang menyinari alam, masih ada.

Wahai jika saja Arel bertanya padaku pertanyaan serupa, maka aku pun tersenyum saja sebagai jawaban untuknya dan tidak akan memilih satu di antara mentari atau rembulan. Karena bagiku, mereka adalah sama. Sama-sama menjadi alasanku tersenyum hingga saat ini.

Terima kasih rembulan. Terima kasih mentari. Kalian adalah para sahabat yang tidak akan pernah ku temui dalam satu waktu. Namun, kalian hadir dengan waktu masing-masing. Untuk menghiasi waktuku.

Mentari bersinar pada siang hari. Sedangkan rembulan bercahaya di malam hari. Mereka tentu sangat saling merindukan satu sama lain.

Rindu bertemu, sambil bersenyuman. Rindu terus ada bagi dunia. Bahkan melebihi rinduku, tentunya ya. Maka bagaimana cara ku memaknai kebersamaan dalam ingatan seperti ini? Ingatanku pada Mentari impian.

Caranya adalah merangkai senyuman lagi. Lalu bilang padanya, “I miss you so much.”

Mentari
Mentari

Saat ku asyik memandang mentari yang tersenyum, ku teringat niat. Tentang niat yang juga sedang menjadi topik bahasan tausyiah via radio dan ku simak seraya melanjut merangkai senyuman. Temanya adalah tentang ‘Mengawal Niat’, berikut. Semoga menjadi ingatan buat kita.

***

Niat manusia lebih cepat berubah dibandingkan air yang sedang mendidih di dalam periuk. Maka, penting untuk mendata niat kapan pun. Apakah sebelum, saat dan setelah beramal.

Supaya niat awal tidak berubah, kawal niat selalu. Sebelum beramal, apabila niat belum ada, hadirkan niat. Saat beramal, supaya niat tidak melenceng, jaga niat rapi-rapi. Setelah selesai beramal, tetap ingat niat. Sebab di dalam amal yang kita lakukan, syaithan senantiasa ada.

Menjaga amalan sesuai niat awal, membutuhkan waktu seumur hidup, selama hayat masihhh bernyawa, selagi kita masih berada di dunia ini. Maka, berlatih selalu lagi dan lagi adalah perjuangan yang perlu terus kita rutinkan. Menjaga keikhlasan dalam beramal, berusaha mengajak diri bangkit, saat ia merasakan keletihan dalam beramal. Sebab, untuk menjadi ikhlas, memang tidak instan. Perlu proses panjang, nan lama.

Hingga akhirnya. Saat ikhlas sudah digenggam, segala amal menjadi ringan menjalankan. Tidak mesti ada yang melihat. Supaya tetap melakukan. Walaupun banyak yang memperhati, tidak menurunkan semangat dalam mewujudkan niat beramal. Segalanya, karena Allah, semata. Sejauh ini, apakah kita sudah ikhlas dalam beramal??

Wallahu a’lam.

***

Tentang ikhlas, belajar yuk pada mentari yang bersinar cerahkan hari. Mentari yang terbit setiap pagi, menjalankan bakti kepada-Nya. Mentari yang masih tersenyum menerangi alam, sekalipun awan gemawan sering mencandai. Mentari yang rela berbagi sinar terbaiknya, maka tetumbuhan dapat menjalankan proses fotosintesis dengan sinarnya.

Mentari… bagiku adalah inspirasi.

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Tentang Rasa

Jamur
Jamur

Berderai airmata, mengingat segala cinta. Meluruhkannya bersama kepingan rasa yang sulit terucap kata.

Sungguh, lebih seringku ingin terjaga. Membuka dua mata. Membaca bentangan alam semesta. Agar ku temukan makna cinta yang sesungguhnya. Supaya ku terima semua rezeki yang ada. Semoga semakin hari, bertambah juga rasa ingin memberi. Demi hari-hari yang berseri-seri.

Ku senandungkan bait-bait rasa, berupa rintik airmata. Secara berkala, semakin tertata waktunya. Sehingga membuat bening pandangan mata. Ya. Ia tidak buram.

Pada suatu ketika. Aku kembali menangis, meneteskannya sedikit demi sedikit. Sebab rasa yang tak mampu ku ungkap segera, sudah menumpuk adanya. Sehingga, tumpukkannya, membuatku lupa bahwa aku sudah dewasa. Mereka bilang, “Jangan menangis. Apalagi bukan waktunya.”

Hey! Ku bangkit dan menatapnya. Ia yang bilang demikian. Lanjut memperhati bola mata yang bibirnya berbicara, padaku. Lalu ku bergumam, “Apakah ia tidak membaca? Alasanku mengalirkan airmata di hadapannya?” Gumam yang terhenti di ruang hatiku. Karena ku tidak pernah sanggup menyampaikan langsung, padanya. Salahkah aku?

“Airmata yang keluar, bukan sia-sia. Airmata ku mengalir, sebab bendungan di sekitar mataku sudah terlalu berat,” aku tersedu dalam diam. Dan tersenyum kemudian.

Kini, engkau harus mengerti. Mesti. Engkau harus paham. Tidak boleh tidak. Karena engkau tidak bisa bertanya-tanya lagi, tentangku. Mengapa aku tidak dapat bicara terus terang padamu, tentang rasaku. Tidak akan. Kecuali ada kekhilafan dan aku dalam kondisi tidak sadarkan diri, pingsan. Bisa saja aku mengigau dan berbicara apa saja. Termasuk tentang rasaku yang terus menjamur, padamu.

Yuuk!

Rasa yang terus bertumbuh, bertambah dan berkembang serta berkecambah. Engkau saja tidak akan sanggup memprediksi berapa jumlahnya. Apalagi memastikan, rasaku saat ini. Apakah rasaku haru, pilu, bahagia, sendu, lagi berkecamuk atau berbunga-bunga? Apakah rasaku getir, pahit, manis, asin, asam, gurih, atau pedas?

Aku pun tidak dapat menjelaskan padamu. Apakah aku suka atau tidak, denganmu.

Yah. Sebegitu ramainya rasaku. Sehingga ku kesulitan mendefinisikannya. Apakah engkau mau membantuku, semampumu?

Iya, meski sedikit saja yang engkau mampu. Kalau engkau mau, engkau pasti bisa.

Engkau bisa mengungkap semua rasaku. Engkau bisa tahu diriku. Engkau tidak akan pernah jauh dariku, sejak engkau mengenal aku.

Aku adalah dirimu. Kita satu. Kesatuan yang tetap dan tidak akan pernah berubah. Walau bagaimana pun, dan apapun yang terjadi.

Engkau tersenyum, aku juga.

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S Al A’raf [7] : 58)

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Look at That!

Sky. Blue. Cloud. White. Sunset. Orange. Semua adalah warna-warna dan tampilan alam yang terlihat oleh mata. Namun, ada yang tidak terlihat tapi ada.

Persahabatan.

Ya, warna persahabatan kita. Persahabatan yang penuh warna, meski tidak terlihat mata. Ia ada, sebagai pemercik ingat pada kenangan. Kenangan yang teringat, semoga mensenyumkan.

Engkau. Lagi dan lagi hadir menjadi alasanku tersenyum. Tersenyum pada biru, pada langit itu. Tersenyum pada orange, sunset di tepi Barat. Tersenyum pada awan tipis berwarna putih, putih nan manis. Tersenyum pada kenangan dan persahabatan kita. Tersenyum padamu yang menyapaku, dengan suara hatimu. Walau suaramu bukan untukku, tapi aku dapat mendengarnya.

Berbicaralah, dear dan tersenyumlah. Sebab? Aku sedang tersenyum juga. Tersenyum padamu yang tersenyum padaku.

Yah, engkau adalah sahabatku. Sahabat yang kembali jauh dalam jarak. Sehingga kita tidak dapat bertemu dalam waktu cepat. Ketika rinduku padamu, berkelebat. Atau ingatmu padaku, membuat kepalamu memberat. Karena kita tidak bisa langsung dekat. Apalagi ketika engkau butuh curhat seraya menatap mataku, aku tidak dapat mengabulkan. Tidak, tidak bisa.

Hari ini, engkau membagi biru di sana, untukku di sini.

Aku bisa bisu, jadinya. Setiap kali engkau mengingatkanku tentang biru. Termasuk saat ini.

Biru yang membuatku diam di tempat, lalu menengadahkan kepala ke atas. Apa sebab? Aku tidak mau, airmataku jatuh saat rindu menyapa. Termasuk saat ku rindu padamu.

Yah. Aku merindukanmu, sahabatku. Rindu yang bertemu, di bawah lengkung langit yang satu. Semoga sampai, padamu. Rindu yang ku alirkan seraya menatap langit biru juga di sini. Lalu membayangkan engkau duduk di sampingku, dan kita bercerita tentang biru.

Biru adalah haru. Haru yang pelan-pelan meneteskan airmata di pipiku. Sebelumnya? Bola mataku terasa hangat, lalu memanas. Dan bulir bening pun menggelinding bebas di pipi.

Pipiku pun basah. Ah! Aku tidak sanggup menahannya agar tak tumpah. Semudah itulah aku lemah. Lemah dan menangis? Syuut, jangan bilang aku menyerah, yah. Aku masih tabah. Lalu mengukir indah senyuman di wajah, setelah airmataku tumpah dan pipiku basah.

Aku lega, engkau menyapa.

Sapaanmu dari sana, di lokasi berbeda. Sapaanmu melalui suara yang ku simak sangat teliti. Sapamu, melalui rerangkai kata yang ku rasakan sebagai bentuk peduli. Engkau yang peduli, pada rinduku. Tepat, saat ku menyalakan alat komunikasi dan melirikmu, engkau lagi ‘online‘.

“Tyaaaaa, ini di kosan kannnn? ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜‰ ,” sudut pandang pengambilan gambar, sangat ku kenal.

Aku pernah di sana, beberapa lama. Pagi hari menanti mentari yang tersenyum, serta sore melepasnya kembali. Seringnya yaa pagi dan sore. Kesannya adalah membersamai mentari. Kenangannya adalah saat sendiri. Lebih sering. Sesekali ada Tyaa, sambil ngemil apa aja. Bahkan melahap angin malam hari. Hihihiii.

“Iya, kemarin sore. Indah banget, Bund.. ๐Ÿ˜ Mau videonya?” Tya menawarkan.

Aku mau sangat. Apalagi yang ku tunggu, kecuali mengiyakan. Dan tidak berapa lama kemudian, pemandangan cantik langit biru sore hari pun mengembangkan senyuman termanis di pipiku. Sekaligus menggugurkan airmataku. Sebab ku terharu, tentang persahabatan kami.

Persahabatan yang tidak kenal waktu. Persahabatan sepanjang hari. Meski kami belum dapat bertemu lagi. Ia jauh di sana, sedangkan aku di sini dalam rindu.

Ia yang sebelumnya rindu padaku dan kemudian mengunjungi tempat biasa kami bersama. I miss you, dear.

Kepada-Mu Tuhan, ku memohon selalu. Buatnya sahabatku, kirimkan sahabat terbaik. Sahabat yang dapat menjadi bagian dari hari-hari sendu juga harunya. Sahabat yang selalu ada untuknya saat aku tidak bisa. Sahabat yang menemaninya, saat ku jauh. Sahabat dekat, akrab, dan membuatnya semakin semangat dalam taat. Sahabat hati yang berbudi baik, penuh kepedulian padanya, sebagaimana ia padaku bahkan lebih. Sungguh, Engkau Maha Tahu.

Ya Allah, Engkau mempertemukan kami dalam rencana-Mu yang selalu mengharukan. Walau kami terlambat dan telat menyadarinya.

Buat sahabatku yang jauh di sana. Bersabarlah senantiasa. Ingatlah untuk bahagia. Walau kita tidak dapat bersama, bertatapan, bertukar suara di dunia ini lagi. Dalam doa, kita semoga saling mengingati.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Bersamamu dan Rembulan

Rembulan di balik dedaunan dalam kelam malam
Rembulan di balik dedaunan dalam kelam malam

Malam, pun tahu. Tentang rinduku yang hidup selalu. Meski sudah ada engkau di sisiku. Maka untuk melerai rindu, malam menampilkan kecantikkan rembulan yang tersenyum dalam kelam.

Haru. Syahdu saat memandangnya. Ia tersenyum pada kita yang berada di tengah suasana sunyi, sepi, jauh dari keramaian dan bising. Betul, kondisi yang cocok untuk merenungi diri, introspeksi, menyapanya, lagi.

Seraya sesekali melirik rembulan, engkau tidak henti bergumam, berdecak kagum, menyampaikan kata demi kata yang ku coba, mengusaha, mencerna artinya.

Engkau bicara tidak banyak-banyak, kecuali sesekali saja. Namun dalam maknanya. Sehingga membuatku terpesona, padamu.

Engkau sungguh diluar duga. Aku yang masih terus mempelajarimu, pun mengangguk-angguk sesekali. Sambil membagi tatap, tanpa bicara. Tatapan yang engkau tatap balik, seakan bertanya, apakah artinya?

Hai! Lagi dan lagi aku mengatupkan bibir saat bersamamu. Tidak sanggup ku berbicara, banyak. Selayak mengimbangimu.

Yuuups, sebab engkau adalah aku. Aku adalah dirimu.

Wahai, lama sudah ku merindukan momen duduk bersama denganmu di bawah siraman cahaya rembulan, seperti semalam. Aku akan kembali merindukannya, momen serupa. Maka kelak ku merindukannya lagi, senyuman masih mau ku tebar, meski kelak ku sendiri, tanpamu di sisi.

Aku masih akan terus menyusun rindu. Rindu pada rindu yang tidak terkatakan, just feel it. Ini asyik!

Di sela waktu memandang rembulan, ku selipkan padamu sejumput memori. Memori tentang rindu yang tidak terucapkan, berikutnya.

Yah, bersanding denganmu.

Sebuah memori tentang kita
Sebuah memori tentang kita

Ini adalah keharuan yang terkemudiankan. Ditambah lagi dengan memorimu yang begitu kuat mengingatkan. Agar aku senantiasa membersamai senyuman dalam perjalanan hidup ini.

Tersenyum, seindah cahaya rembulan di kelam malam.

Hai, ingatkah engkau? Ketika kita berjauhan? Lalu, hanya bisa saling mengingat, untuk sebuah kebersamaan yang berkesan.

Ingatan yang kita jaga ada menjadi harapan.

Harapan yang kita pinta menjadi kenyataan. Sampai akhirnya, seluruh alam pun mengizinkan, impian menjadi nyata.

Bersamamu bahagia.

Kebahagiaan yang ada sejak lama, saat ini, esok, lusa, dan hari-hari yang tidak ditentukan, mari saling membahagiakan. Mari saling menjaga. Mari saling mengingatkan.

“Alhamdulillah, semua berasal dari-Nya dan aku kembalikan kepada-Nya. Sebab ku hanya insan yang hadir untukmu dengan kekurangan dan kelebihan, sepaket,” bisikmu seraya menundukkan wajah. Ketika ku memujimu.

Aku pangling. Sekali lagi, bergeming. Sungguh, engkau yang selama ini asing, tidak lagi. Sebab, dari waktu ke waktu, kita terus saling mengenali. Perkenalan berkelanjutan.

“Bukankah, tak kenal maka tak sayang? Dari perkenalan, hadirlah kasih dan sayang,” engkau menambahkan.

Aku mengedipimu berulang kali. Kedipan untuk memangkas airmata, agar tidak runtuh segera. Maka, yang terlihat hanya, senyuman berbunga-bunga.

Dalam haru, ku tersenyum padamu. Senyuman di bawah cahaya rembulan.

Rembulan, yang semoga tak cemburu. Namun ikut terharu. Sebab engkau, aku dan dirinya adalah bahagia yang tidak pernah tertunda. Meski ia jauh di sana. Kehadirannya, senyumannya adalah penambah bahagia kita.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Belajar dari Anak-anak

Anak-anak adalah penyejuk mata, pendamai tatap, peneguh rasa, pengungkit semangat, penggugah asa menjadi berdaya. Bersama anak-anak maka indahlah dunia, semakin berwarna, penuh suara, mengguyur ekspresi di ruang masa. Sehingga, kehadirannya adalah harapan bagi semua keluarga.

Bersyukur diri ini berada dalam keluarga yang ada anak-anak. Lalu menjelmalah aku sebagai bagian dari dunia mereka.

Ya. Berbahagia hati ini melihat anak-anak, sebagai peneduh tatapan mata. Apakah malam hari sebelum terlena impi atau subuh kelam setelah terjaga. Menyaksikan anak-anak mampu mengubah ekspresiku segera. Sejenis ada yang menggodaku, supaya tertawa dalam sedih, tersenyum saat pedih. Begitulah peran mereka, bagiku.

Sehingga, bersama anak-anak, aku pun lupa dengan waktu. Aku lupa usiaku. Aku lupa seperti apa berekspresi. Yang ku ingat adalah, saat bersama mereka, ku bahagia. Apa sebab?

Ku bertanya pada sesiapa yang membersamaiku, selain anak-anak. Bagaimana mereka menilaiku adanya?

Kamu kok kayak anak-anak sih, mudah tergelak, cepat terisak. Terkadang enggak jelas, teriak-teriak tanpa sebab. Atau lain waktu, membuatku cemas berulang-ulang. Tanpa sebab, tetiba jingkrak-jingkrak. Haghaghag. Aku jadi pusing kan? Memangnya kamu siapa siih?

Aku juga heran. Sedih-sedih pun engkau tertawa. Engga punya tetap bahagia. Berpunya apalagi. Semaunya saja melepas ekspresi. Tidakkah engkau berpikir, apa kata mereka nanti?

Tuch, tuch, tuch, lihatlah, orang-orang pada memperhati. Malulah, sedikit. Over pede kali ih!

Nah, ada lagi. Kamu masih saja engga peduli. Padahal sudah diingatkan berkali-kali. Untuk jaga-jaga image, gitu. Masa iya? Udah seusia gini, masih loncat-loncat, lari-lari, diam dong, duduk manis dan tersenyum, saja. Jangan bicara sembarangan lagi yaa. Berubahlah! Engkau sudah tidak anak-anak lagi. Okee?

He. He. He. He. Aku jawabnya gini, “Bcoz of, masa kecilku kurang bahagia. ๐Ÿ˜ Sehingga aku merdeka melakukan apapun yang ku ingin. Sebab, aku punya teman yang mengajariku. Pelajaran yang mereka beri, tidak menggurui, namun dengan teladan, sikap, bahasa tubuh, sebab mereka belum bisa bicara. Begitulah, harap maklum yah.”

Selanjutnya, sesiapapun yang menilaiku seperti anak-anak pun tersenyum, membawa pikiran yang aku pun tidak tahu, tentang apa?

Yang ada dalam pikirku hanya, hidupku adalah tentang mengekspresikan diri, memantau perkembangannya dari hari ke hari, melalui sapa salam yang ku layangkan padanya, dalam waktu-waktu tertentu. Supaya aku dapat mengenalinya lebih baik, dengan caraku. Seiring pengenalan sesiapapun yang membersamaiku dalam hidup ini.

Terserah, bagaimana mereka memperhati. Tidak mengapa, seperti apa mereka menilai, aku pun mempelajari bahwa diri ini terus belajar dari semua. Bersama mereka, bertumbuh menjadi sesosok pribadi yang tidak ada duanya di dunia ini. Karena setiap kita unik, bukan?

Yah, yah, ini sekadar luahan suara hati yang sungguh peduli padamu, wahai diri. Diri yang ku bawa ke mana-mana, membersamai. Diri yang memang tidak dapat berubah bentuknya yang sudah begini yaa begini. Akan tetapi, bagaimana menyikapi, menjadi sebentuk hadiah untuk diri di kemudian hari.

Semoga, sesiapapun yang hadir dalam hari-hariku di dunia ini, berbahagia. Semua tersenyum dalam senyumanku, sebab bersama mereka ku bertumbuh, berkembang, menjadi diriku hari ini.

Kesan, pesan tidak akan pernah usai, walau titik menjadi penutup kalimat, ku mengucapkan, terima kasih atas perhatian dari dalam hati. Sebagai sebentuk peduli pada diri ini. Diri yang ada jiwa anak-anak di dalamnya. Meski sesekali kambuh. []

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Memaknai Pemandangan dalam Perjalanan

Pemandangan ini adalah tentang kita. Kita yang bersua dalam perjalanan dan kemudian saling memandang. Lalu mengungkapkan hasil pandang masing-masing dari berbagai sudut.

Yah. Semoga ada hikmah yang dapat kita petik. Meskipun cara pandang kita tidak sama.

Melihat ke atas, mengingatkan diri. Bahwa ada yang lebih tinggi dari yang tinggi
Melihat ke atas, mengingatkan diri. Bahwa ada yang lebih tinggi dari yang tinggi

Pemandangan kali ini adalah alam, lagi.

Hai. Selamat bertemu lagi teman, di alam. Alam yang penuh dengan pemandangan menariknya. Sehingga tidak membuat mata penat meski harus membukanya lama-lama. Namun memandang alam mampu membuai mata, membuatnya harus membuka sering-sering. Agar lebih banyak yang dapat kita pandang dengan cara kita masing-masing.

Saat kembali ke alam, bagaimanakah cara pandangmu, teman?

Ilalang di ketinggian
Memandang dari ketinggian

Saat memandang ke atas, ke bawah, ke sekeliling, adakah yang engkau perhati? Bagaimana engkau memaknai hasil pandang tersebut? Untuk selanjutnya membawa dalam perjalanan hidup ini. Sebagai bahan pelajaran, kenangan, pesan dan juga kesan tentang hari ini.

Mentari, every where with us
Mentari, every where with us

Akhir-akhir ini, pemandangan yang ku perhati memang alam. Sebab wilayah yang ku kunjungi ya ke alam. Bersama denganmu yang mengajakku, “Ayo kita jalan-jalan.”

Sekilas, aku memandangmu. Lalu teringat masa kita belum bersama. Hal-hal menarik yang biasanya ku pandang, teringatlah aku padamu. Lalu bertanyaku, “Siapakah engkau sesungguhnya yang akan mengajakku pergi-pergi dan aku mau? Malah mengajak-ajakmu saat aku mau ke sebuah tempat yang ingin ku tuju?”

Selanjutnya, ku melepas pandang nun jauh ke depan. Saat akhirnya kita bertemu dan aku bebas memandangmu di sela-sela memandang alam, saat engkau memandangku, aku pura-pura tidak tahu, lalu memejam mata rapat-rapat dan berteriak pada langit bermentari, “I miss you, thank you, terima kasih untuk membersamaiku selalu, aku terharu.”

Mentari pun tersenyum
Mentari pun tersenyum
Berjanggut tipis, ternyata ๐Ÿ˜˜
Berjanggut tipis, ternyata ๐Ÿ˜™

Pada langit bermentari, ku tersenyum malu. Sebab ia mengikutiku selalu. Atau karena kami sudah benar-benar sahabat? Sehingga ke mana pun aku, ia memandangku selalu, memantau perjalananku, lalu mengedipiku tanpa henti. Membuatku silau saat bersikukuh menantang sinarnya. Ah, aku terkadang mau bercanda dengannya. Lalu ia semakin panas, hahaaa. Aku bahagia.

Meski mentari semakin terik bersinar, sejuk terasa di kulitku. Membuatku sangat ingin berada dalam tatapannya, selamanya.

Akan tetapi, mentari adalag ciptaan yang sangat tunduk. Ia menuruti titah untuk diri. Terbit pada waktunya dan tenggelam saat masanya tiba. Aku belajar darinya, tentang taat yang menyentuh kalbu.

Engkau mentari di hatiku
Engkau mentari di hatiku

Mentari pun tersenyum. Saat ia tahu, bahwa ia sangat berarti bagiku. Arti yang tidak dapat ku jelaskan dengan terbatasnya kata-kataku. Aku sudah cukup tenang, saat ia hadir lagi selama hari masih ada.

Mentari yang menerangi, maka gulita tiada

Mentari yang berbudi, maka maknanya ada.

Mentari yang tersenyum, maka bersama kami bersenyuman.

Terang, alam bermentari
Terang, alam bermentari

Mentari rela memberi, tanpa harus cemas kekurangan untuk diri. Mentari adalah penerang, tanpa harap tersinar balik. Mentari adalah sosok yang senang menyenangkan, dengan senang hati. Mentari adalah engkau yang tersenyum saat ini. Walau bagaimana pun keadaan diri, tetap semangat.

Engkau yang saat sakitpun, tidak merasa-rasai. Karena engkau percaya, ada yang memerlukan dirimu, untuk bersinergi. Sehingga, bangkit lagi dan menelan obat yang pahit, bersama keyakinan lekas sembuh.

Terang, alam bermentari

Alami, hayati, berbagi

Mari, menikmati pemandangan alam
Mari, menikmati pemandangan alam

Bersenyuman denganmu di sepanjang perjalanan, membuatku terkenang masa lalu. Saat ku belum bersamamu, aku hanya bisa bersenyuman dengan mentari, langit biru, awan yang terkadang kelabu, rerumputan, dan tetesan air serta serpihan rasa yang menggigiti kalbu dengan rindu.

Semua sering mengingatkanku padamu, dengan caranya masing-masing. Sehingga aku pun mengubah cara pandangku, selalu. Supaya tak melulu sendu, tapi tersenyum sipu. Yups, aku memang terkadang rindu padamu, ketika itu.

Akhir-akhir ini, dan sekarang, aku suka tersenyum. Apalagi saat baca tulisan ‘pohon jomblo’ itu. Engkau pun tersenyum padaku. Seraya bertanya, “Ngapain senyum-senyum gitu?”.

Lalu ku kisahkan padamu tentang hari-haruku. Engkau tampak bahagia dan berbunga-bunga. Karena ternyata, engkau sudah lama ku tunggu. Namun tidak ketemu-temu. Sampai akhirnya perjalanan yang terus sama-sama kita lanjutkan, membawa kita pada sebuah cerita untuk kita senyumi dalam satu waktu. I love you.[]

๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Happy Green Day

Hijau adalah warna yang ku suka. Suka saja warnanya. Karena hijau mengingatkanku pada dedaunan.

Hijau adalah warna yang memukau. Saat memandangnya ku tidak bisa sebentar. Maka melihat lagi dan lagi, ini yang ku lakukan, padanya yang hijau.

Hijau adalah warna yang menarik. Sehingga membuatku tertarik untuk menjadikannya sebagai inspirasi cantik, kali ini. Lalu tersenyum bersamanya, hingga beberapa titik ke depan. Bersama hijau, kita bersenyuman, yuuk teman.

Hijau adalah keabadian rasa. Membuat mata menjadi segar saat melihatnya, pikiran menyibak dan kuntum-kuntum bunga senyuman mekar di rongga mulut yang berbisik, “Ia mengingatkanku pada nuansa surga. Semoga hijau selalu ada di dunia kita, yaa. Hijau sahaja. Selalu muda. Walau usia kita bertambah, rupa berubah, pikiran berulah.”

Hijau adalah warna yang segar. Membuat senyuman melebarkan sayap-sayapnya pada wajah. ร€lhamdulillah, sebulan sudah kita menikah dan apa hubungannya dengan hijau?

Hijau adalah warna yang bersih. Sehingga keadaan berseri-seri bersama hijau. Bawaannya mau terus menatap padanya, melihatnya, menjadi bagian dari hijau yang mewah. Semoga terkabul segala pinta, yah.

Hijau adalah penggugah diri agar tetap hidup, bertumbuh subur, berkembang menjadi banyak, bertambah-tambah anak dan menjadi bagian dari peramai suasana semakin semarak. Semoga anak-anak peneduh tatap, semakin dekat dalam dekap, terlihat dalam hayat, terwujud sesuai niat.

Hijau adalah lambang kehidupan. Ia adalah warna alam yang ada pada bagian atas, contohnya pucuk-pucuk daun kelapa. Lihatlah teman, hijau cerahnya mendamaikan tatapan, menyejukkan ingatan. Sedangkan hijau-hijau pepohonan yang rindang, meneduhkan sesiapapun yang bernaung di bawahnya. Bersama hijau ku berharap, demikian.

Hijau adalah pemandangan alam di bumi. Apabila kita melihat dari atas sana, sebelum melintas awan, yaaa. Melihat dari lokasi lebih tinggi lagi, warna hijau masih mendominasi. Begitulah hijau menurutku. Selamat melanjutkan kehidupan dan tetap hijau, menghijaulah.

***

Bonus senyuman akhir pekan :

Lhaa, lumut juga hijau. Rumput juga hijau? Rumput laut, warnanya apa?

Lumut hijau hidupnya menempel di tempat-tempat tertentu, seperti batu, pohon hidup dan sebagainya. Sedangkan rumput, hidupnya menempel pada tanah. Lalu rumput laut ada di laut. Tahukah engkau warnanya apa?

Kalau rumput laut yang ada dalam segelas es rumput laut warnanya kok putih yaa? Aku pengen, mau, mau, mauuu.

“Hai, siapa yang nawarin?”, engkau tiba-tiba datang dan tersenyum di depanku. Aku pun tersenyum. Kita bersenyuman penuh rindu, karena masih ada kesempatan bertemu.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Memaknai Saat Engkau Jauh

One Day Without You
One Day Without You

Satu hari tidak bersamamu, aku rindu. Rindu yang ku pupuk dari detik ke detik waktu. Sehingga hatiku, memilu. Hu. Hu. Hu. Aku bisa saja menangis, menggugu, lalu tidak bangun-bangun dari tidurku. Karena tanpamu, aku tidak mau melihat dunia.

Tanpamu sehari saja, duniaku mendadak kelabu. Warnanya abu-abu, tidak cerah sama sekali. Seperti mendung dan sebentar lagi akan turun hujan, begitulah pemandangan dalam pikirku. Yuhu.

Akan tetapi, aku percaya. Bersamamu, aku tidak selalu. Aku yakin itu. Jadi, aku perlu menemukan penghibur hatiku. Apalagi saat tidak bersamamu. Lalu, apakah yang ku lakukan?

Aku tersenyum pada waktu. Ku selami diriku sendiri. Ku baca alur pikiranku. Ku katupkan bibir dan kemudian bersenandung, seindah yang ku mau. Pada waktu itulah, aku menemui kesejatian diriku. Aku yang jauh darimu, ingin dekat, belum sempat. Akhirnya, apa yang terjadi?

Pikirku terbuka, wajahku mencerah, hatiku berbunga, lalu aku menari-narikan jemari di lembaran kertas.

Aku pun sibuk, sibuk sendiri. Aku sibuk menyapamu, walau engkau tak tahu. Aku mengeluarkan segala uneg-unegku tentangmu. Aku dan engkau pun bercakap-cakap, bercengkerama tanpa sekat. Semua suaraku alirkan dalam kebersamaan kita. Aku pun hanyut di alam lain. Bersamamu, engkauku.

Engkau yang tidak selalu dapat bersamaku menghiasi waktu. Engkau yang bukan milikku, mana bisa ku perlakukan semau hatiku? Engkau yang juga mempunyai waktu dengan dirimu. Diri yang engkau bawa selalu juga bukan milikmu. Maka, aku belajar mengerti.

Engkau, engkauku yang ku tulis. Aku menulis tentangmu. Semoga engkau tahu, pada suatu waktu, kelak. Apakah dalam waktu dekat atau lebih lama lagi. Aku mau, engkau membaca, kisahku. Aku yang ingin selalu bersamamu.

Engkau belahan jiwaku. Separuh diriku ada padamu. Sebagian pikirku mengelilingi kehidupanmu. Dalam kesempatan ini, mauku engkau di sisiku. Untuk menempuh waktu.

Ah, lagi dan lagi, airmataku menitik ke dalam. Rasanya engkau dapat merasakan. Perih dan pedih yang tidak terkatakan. Sungguh dalam maknanya, teman.

Hey! Engkauku yang ku pikirkan. Engkau mau aku menguraikan segala penatku, bukan? Untuk mencurahkan segala permasalahan. Jangan pendam dan simpan sendirian. Apalagi merendam lama-lama dalam pikiran. Nanti ia kedinginan.

Yuk jemuran masih kosong, cucilah rendaman dan isi jemuran tersebut. Selanjutnya temukan keajaiban. Do you understand what I mean?

Artinya adalah, bergerak. Bangkit dan lakukan sesuatu.

Saat sendiri, bekerjalah. Tetap berusaha, yang engkau mampu. Ini yang ku maksudkan. Bukan leha-leha, yaa. But, berupaya. Apapun itu.

Ingat! Allah Maha Melihat, Engkau harus ingat. Dia tidak mengubah keadaanmu, tanpa kemauanmu melakukan perubahan. Berdoalah dalam prosesnya lalu, bertawakkal sebagai ujungnya.

Hughughug.

Padamu yang ku ingat. Sungguh airmataku bisa menderas kalau ku perturutkan. Akan tetapi, kini kita bersenyuman. Senyuman ini untukmu. Semoga berkenan. Terima kasih, untuk menjadi ingatanku saat ini. Kepada-NYA, tiada henti ku mengalirkan ungkapan syukur di hati terdalam atas Penjagaan-Nya selalu untukmu.

Aku ingin memelukmu segera. Untuk mengalirkan segenap kegalauan, kegetiran, kecemasan, keserakahanku padamu. Sampai-sampai aku ingin engkau menemuiku saat ini juga, lalu ku curhati. Dengan demikian, lepaslah masalah yang ku rasakan. Masalah ini dari dalam diriku. Adakah engkau memahamiku?

Yap! Sudah sekian lama aku mengatakan. Siapa aku dan diriku yang sesungguhnya, padamu. Walau engkau tidak pernah mendengarkan. Meski engkau tidak membaca setiap catatan-catatanku. Namun, bagaimana bisa engkau mengetahui perasaan dan isi pikiranku? Termasuk ketidakmampuanku berbagi tentang permasalahan yang ku hadapi? Bagaimana bisa, duhai.

Aku benar-benar mau engkau hadir di hadapan. Saat ini juga. Supaya engkau tahu, saat inilah aku mau mencurahkan segalanya. Tentunya, hanya padamu. Haaaap!

Meski mulutku terkunci rapat. Tapi ku mau engkau masih mendengarkan, menyimak yang ku sampaikan. Supaya engkau dan aku dapat berbagi kekuatan.

Engkau yang kuat karena tidak curhat ke mana-mana dalam segala permasalahan, kecuali kepada orang yang benar-benar engkau percaya. Adakah engkau telah menemukan? Kecuali kepada Tuhan, adakah engkau selalu melakukannya?

Aku, lalu bagaimana denganku? Engkau yang bisa-bisanya mengerahui tentang diriku sampai tahap perasaan. Apakah engkau adalah diriku sungguhan? Namun berada pada lain badan? Ragamu di sana, membawa aku di dalam dirimu? Apakah saat ini merasakan yang ku rasakan? Apakah engkau menghadirkan ingatan untukku?

Selagi ada waktu luang dan kesempatan, ingatlah aku. Ingatan yang mendekatkan kita, meski engkau dan aku tidak bersama. Seperti saat ini. Aku tidak bersamamu dan ada ingatanku padamu. Ingatan yang mengajakku menepikan waktu sejenak, lalu kita bersenyuman. Senyumanku sudah manis, bukan?

Hush! Jangan menertawakan. Aku serius, benar-benar. Aku yang tersenyum dalam keadaan tidak memungkinkan untuk tersenyum, tapi masih melakukan.

Semoga, senyuman ini menjadi yang termanis dari semua senyuman yang ku bagikan. Sebab ku dalam kesungguhan. Sungguh, aku dalam kesungguhan. Aku sungguh mengharapkan engkau tetap bersamaku. Apalagi di akhir pekan seperti ini.

Jika saja kemauanku semua engkau kabulkan, lalu kapan lagi ku percaya dengan ketetapan Tuhan? Dia Maha Tahu, yang ku butuhkan. Dia cemburu, aku denganmu saja, lalu melupakan-Nya. Makanya, sejenak antara kita ada jarak, bukan?

Begini aku memaknai jauhmu yang tidak dapat ku rengkuh. Senyuman di wajahmu yang tidak dapat ku sentuh. Sorot matamu yang tidak dapat ku tatap.

Aduh.

Aku tidak mau mengeluh, aslinya. Aku mesti teguh, menjadi tangguh dan tetap tersenyum utuh dalam waktu-waktu yang ku tempuh.

Inilah makna yang ku petik… saat engkau jauh. See you. I will miss you.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Dear Mom ๐Ÿ˜™

Ibu…

Di dalam dirimu ada sepotong hati yang tidak pernah henti mengingatkan diri. Walau tidak pernah terlihat oleh dua mata ini. Akan tetapi, ia cukup mudah berempati. Demi keselamatanku hingga ujung perjalanan hidup nanti.

“Semoga, kesalahan demi kesalahan yang terus engkau perbaiki dan tidak mengulangi, membuat senyuman pun menebar di pipi. Yah. Harap tidak ada penyesalan di hari akhir,” bisikmu di telingaku.

Ibu…

Bagian dirimu ada di dalam diri ini. Diri manusia yang tidak selalu benar. Diri yang tidak patut ku banggakan. Diri yang membawa sekeping hatiku dan sekepinghatimu yang selalu engkau jaga. Sehingga ia terlindung selagi ada di dalam sini. Diri yang tidak pernah sendiri. Karena ada doa ibu menemani. Meski ku dalam sunyi di tengah sepi.

Ibu…

Doa-doamu adalah penopang diri tetap tegak, berdiri, teguh bergerak dan bangkit lagi, mewujud impi dan merealisasikan.

Ibu…

Segenap kekuatan yang engkau bagikan, mengalir pada diri ini. Kekuatan yang terus ada sepanjang hayat, menjadi darah dan daging, melalui ASI yang engkau beri semenjak ku bayi, dengan senang hati.

Ibu…

Tidak terbalas pengorbananmu. Sebanyak apapun materi yang ku bagi. Tidak terhitung jasa-jasamu, selama apapun ku menghitung. Tidak terukur pengorbananmu, sepanjang apapun ku berpikir. Tidak pantas ku merengut, bermuka masam di hadapanmu. Tidak patut ku mendiamkanmu, seberat apapun bibirku untuk berbicara.

“Menyahutlah… setiap sapa beliau, sebelum terlambat dan beliau tidak lagi dekat,” bisik sekeping hatiku di sini.

Ibu…

Engkau adalah malaikat tanpa sayap. Selalu ada membelaku. Walau engkau dalam kondisi tidak memungkinkan untuk itu. Akan tetapi ibu yang hebat, pada diri buah hatimu senantiasa dekat. Ibu yang penuh semangat, dalam ingatanku. Kita selalu akrab dalam rindu sebelum bertemu setelah lama berjauhan. Ibu yang melahirkan, mengasuh, memeliharaku, semoga sehat walafiat selalu dalam lindungan-Nya.

Ibu…

Ketika engkau jauh, ku rindu dekat denganmu. Ketika engkau dekat, ku rindu mendekapmu. Semoga di akhirat kelak kita tetap dekat.

Ibu…

Terima kasihku. [โ™ก]

๐Ÿฅฐ ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜๐Ÿ˜Š๐Ÿฅฐ

Sama Dengan

Allahu Akbar. Tersungkur sujud, wajah menekur. Teringat kubur, menjadi penghibur sekeping hati. Agar memenuhi waktu berbalur syukur. Sungguh. Allah Maha Besar.

Dia, mempertemukan kita tentu ada makna. Karena masing-masing membawa kelebihan dan kekurangan. Engkau pelengkapku, aku pelengkapmu. Aku lupa, engkau mengingatkan. Engkau lupa, aku mengingatkan.

Aku adalah bagian dari dirimu. Engkau adalah separuh jiwaku. Kita sama, para hamba-Nya yang Dia pertemukan untuk menjadi jalan kembalikan ingatan kepada-Nya. Dia yang menciptakan kita, bukan sia-sia. Maka. Pikirkanlah, ada apa dibalik semua?

Pertemuan, jodoh, rezeki. Kebersamaan, suka, benci. Perpisahan, rindu, kenyang.

Semua ada dalam rencana-Nya. Sedangkan kita menjalani. Apakah kita mau mengambil pelajaran dari segala yang kita temui, alami dan menghampiri? Meski kita tidak merencana. Akan tetapi, rencana-Nya juga yang berlaku untuk kita. Seperti, tentang kisah semalam dan sepagian ini. Adakah kita mau peduli?

Semburat sinar mentari pagi, mencari-cari tempat kembali. Senyuman tenang mentari sore, menari-nari di ujung tatap ini. Aku sanggup memperhatinya lagi, karena izin-Nya. Apalagi menguliti sorot matamu yang tidak pernah mengingkari janji.

Ya.

Tatapanmu yang meneduhi diri ini. Ku pandangi berkali-kali. Walau saat mata kita bertemu, bukan di bawah terik mentari. Tapi aku, teringatkan olehmu, padanya.

Engkau, adalah perantara. Engkau jalan yang tidak berliku-liku. Akan tetapi, engkaulah jalan hidupku kini. Jalan yang ku tempuh dengan sesungguhnya hati.

Hati-hati sangat aku memperlakukanmu. Saat menguji dan mempelajari. Supaya engkau tidak selalu tahu. Apakah aku serius dengan segala yang ku ucapkan, atau hanya menilaimu.

Ternyata.

Engkau selalu sungguh-sungguh. Makanya tidak pernah terlewat dalam perhatianmu. Kapan aku bercanda dan kapan serius. Ini di luar dugaku sebagai hamba. Apakah karena aku benar dirimu dan engkau adalah aku? Benarkah? Sampai engkau tahu diriku, bahkan lebih dari yang ku tahu.

Aku semakin yakin, kini. Bahwa antara kita terus menyamai. Walau banyak sekali perbedaan yang ada. Apakah terlihat atau terasa. Akan tetapi, saat kita melebur dalam satu kata sama, perbedaan pun memuai menjadi tiada. Ah, alangkah indahnya. Jadi? Apakah maknanya?

Segala lelakumu adalah cerminan diriku. Setiap sikapku adalah perwakilan dirimu. Artinya, antara kita adalah sama dengan. Hey! Semudah inikah menyatukan dua pribadi berbeda menjadi satu? Hanya dengan kata sama dengan?

Apabila engkau ingin aku baik, maka baikilah dirimu terlebih dahulu. Apabila engkau mau aku begitu, lakukanlah lebih awal. Apabila engkau mau aku begini, jalankan terlebih dahulu. Aku mengikuti tanpa engkau instruksi.

Selayak bayangan yang tidak akan pernah terpisahkan dari diri, seperti itu pun aku denganmu. Kita adalah perbedaan yang sudah tiada berarti apa-apa lagi. Sebab, aku adalah dirimu dan engkau adalah aku, kini.

Engkau sakit? Aku turut merasakan sakitmu. Engkau tenang? Aku tenang. Engkau perih? Aku tidak bisa nyaman. Engkau terluka? Bolehkah aku mengobatinya? Engkau bahagia? Tidak usah bilang-bilang. Karena bahagiamu adalah kebahagiaanku juga. Aku merasakan pada waktu sama. Percayalah.

Tutup matamu dan rasakan aku di dalam dirimu. Saat ragaku jauh darimu. Lalu tersenyumlah. Aku juga melakukannya.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Tentang Sandaran Hati

Berbunga-bunga, berpita manis
Berbunga-bunga indah dan berpita senyuman manis

Senyuman kali ini adalah tentang sandaran hati. Sandaran hati yang masih ku pelajari.

Belajar pertama adalah melalui sandaran hatiku. Ia yang manis rupa. Bentuknya ‘love‘ berpita dengan corak bunga di sudutnya. Ia adalah yang segera ku namakan sandaran hatiku. Sejak kami sering bersama dan aku bisa nyaman dekatnya.

“Di manakah ia akan ku tempatkan malam ini,” aku bertanya pada sesosok pria.

Pria yang sering ku sandari dalam jaga atau lelap. Pria yang saat ku perhati lebih saksama, sungguh rupawan.

Aha! Apakah aku sudah mencintainya? Atau cinta lagi dan lagi padanya? Setelah mencintainya selama ini?

Namanya adalah sandaran hati. Ia yang ku cari-cari sebelum merebahkan kepala ini. Setelah bertemu, aku pun merasakan ketenangan. Apalagi saat kepala ini bersandar padanya, aku merasakan kenyamanan luar biasa.

Ya, tiada gejolak, prahara, bising apalagi keributan. Suasana menjadi damai, teduh dan aku mau saja tidur lama-lama bersamanya. Aku tidak mau membuka mata lagi dan lelap selamanya.

Ku pikir-pikir, ia sandaran hatiku. Ku pikir-pikir lagi, ternyata bukan. Ia adalah sandaran kepalaku. Sebuah bantal kecil, berbunga-bunga.

Lalu siapakah sandaran hatiku, kalau begitu? Engkau tahu, teman? Siapakah sandaran hati yang sebenarnya ku maksud?

Aku belajar lagi. Mempelajari keadaan, suasana dan situasi serta segala yang ada di sekitar dan dekat denganku.

Berikutnya, aku bersandar lagi.

Semua berlangsung alami. Mulai dari perkenalan yang ku jalani dengan perasaan biasa saja, kebersamaan yang ku lalui tanpa banyak tanya, berlanjut canda-canda ringan yang mengalir begitu saja tanpa rencana dalam berbagai kesempatan kami bertukar cerita. Hingga terciptalah keakraban yang terus bermekaran menjadi bunga-bunga senyuman.

Aku tersenyum penuh makna. Senyuman yang mengembang sahaja, di balik rasa yang terus saja ku pendam. Padahal, aku bisa saja menyampaikan padanya, aku cinta. Tapi, lagi dan lagi ku berdusta. Huh!

Sebal-sebal-sebal aku padanya. Sebal karena akhirnya ia membuatku tidak mampu berkata-kata. Padahal ada banyak hal yang ingin ku sampaikan padanya tentang rasa yang ada. Termasuk tentang sandaran hati sesungguhnya. Hanya saja, aku tidak dapat mengungkapkan semua, saat bersamanya. Maka. Sekarang. Aku memulai.

Aku belajar mengungkapkan rasa, melalui tulisan. Sebab dengan begini, aku bisa bebas. Bebas tertawa dalam tangis, menyadari keliruku menempatkan hati. Bebas terisak tanpa airmata, sejak menyadari ke mana hatiku bersandar. Bebas berairmata tanpa ada yang ku sedihi, ketika akhirnya aku ingat, sandaran hatiku yang abadi.

Aku pun bisa koma tanpa ku duga, menyaksikan keindahan di depan mata. Semua ada sebagai jalan kembalikan ingatanku, kepada-Nya. Dialah sandaran hatiku agar selalu terjaga.

Bersandar kepada-Nya, hatiku tidak akan jatuh-jatuh pada sembarang tempat. Bersandar kepada-Nya adalah kenikmatan terindah. Apalagi yang berkaitan dengan harapan hati. Apalagi bersandar kepada-Nya tentang pilihan untuk menemukan teman hidup, sungguh mengharukan.

Aku hanya bisa mengatupkan bibir, jadinya. Tidak sanggup membukanya lagi. Sebab ku malu, atas banyak yang ku mau. Aku yang suka ragu, atas pilihan-Nya untukku. Padahal Dia Maha Tahu kebutuhanku. Aku saja tidak tahu.

Tentang sandaran hati, terus ku pelajari. Sejak aku belum menyadari, hingga sedikit tersadarkan. Tentang sandaran hati sejati.

Ia bukan sandaran hatiku juga. Namun sandaran diri. Rasaku padanya, terus bertunas. Sejak ia menyemai bibit senyuman di ruang hariku. Senyuman yang tumbuh dari waktu ke waktu. Karena ia menjaga, merawat, memupuk, dengan sangat baik. Sehingga aku sempat terpesona, jadinya.

Ya. Aku tidak menyangka saja. Ternyata ia adalah sosok humoris yang romantis. Karakter impian sejak lama. Ditambah pula janggut tipis yang menghiasi dagunya saat ia tidak mencukur. Aku baru tahu. Setelah memperhatinya, lagi dan lagi.

Iya. Aku sempat menyandarkan hatiku padanya. Tapi, ia hadir untuk mengingatkanku. Bahwa tidak selamanya ia dalam kondisi kuat, untuk menopang hati di dalam diriku. Apalagi ia tidak pernah tahu bagaimana kondisi hatiku. Sama sekali, tidak.

Ditambah pula saat ia mengetahui ketidakjujuranku padanya. Aku yang tidak bisa bersuara, mengungkapkan rasa. Saat ia membaca ekspresi demi ekspresiku dan menerka suasana di hatiku, aku pun terkesima. Tanggapannya berbeda dengan yang ku rasa.

Sejak itulahhhhh. Ia yang sahaja mengarahkanku segera. Sebelum terlanjur salah arah. Sebelum bersandar pada makhluk.

Temukanlah sandaran hati Yang Maha Kuat, Yang tidak pernah tidur, dalam lelap atau pun saat ku jaga. Agar hati ini dapat bersandar, sebaik-baiknya.

Hati yang mudah patah, kalau tak kuat. Hati yang mudah lemah, kalau tak taat. Hati yang mudah lalai, kalau tak ingat. Hati yang mudah berbolak-balik, karena tak terlihat. Hati yang berada di dalam diri, jangan bersandar pada diri sendiri. Namun bersandarlah kepada Pemilik diri.[]

๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™