When I Miss You

Rindu

Ketika ku merindukanmu, ku menemukan engkau ada di dalam diriku. Begitupun, ketika engkau merindukanku, temukanlah aku yang ada di dalam dirimu.

Wahai tangan-tangan yang tak terengkuh. Hati-hati yang tak tersentuh. Sorot-sorot mata yang terus bertumbuh. Diri-diri yang tidak pernah mengeluh. Telapak tangan yang siap merengkuh. Pergelangan yang tidak akan pernah membiarkanku jatuh. Wajah-wajah yang memandangku teduh.

Ya, masih bisa ku pandang saja, meski tidak tersentuh. Duuuch. Mestikah ku mengeluh? Saat engkau begitu teguh? Pantaskah ku putus asa. Ketika engkau bersungguh-sungguh? Layakkah ku mengaduh. Saat engkau menanggung derita, namun engkau terus melangkah, menjauh.

Engkau akan menjauh. Saat ku membuatmu semakin jauh. Begitu pun sebaliknya. Maka, ku dekat-dekat denganmu, walau tidak lekat. Ku melipir-lipir di jalan yang engkau tempuh. Sekalipun hanya untuk menyaksikanmu dari jauh. Ku melangkah juga, melangkah dan hup! Akhirnya kita berpapasan lagi.

***

Senyuman

Engkau tersenyum, aku pun sama. Sekarang kita bersenyuman.Β Senyuman yang menebar penuhi seluruh wajahmu. Wajah yang tidak bisa menatapku lama-lama, makanya engkau segera berpaling.Β Engkau tersenyum ringan, sekilas saja. Namun ku bisa membaca makna senyumanmu, masih.

Setelah seuntai suara engkau alirkan, tentang aktivitas yang biasanya ku lakukan sambi melangkah. Dan engkau, mendeteksi sebagai kebiasaan. Padahal, hanya kebetulan. Makanya, bertemu lagi, engkau menanyai. Tanya yang ku jawab dengan senyumin aja.

Senyuman tentang rindu yang utuh. Karena aku pun tersenyum, meski sebentar saja. Senyuman yang tidak ku tebar-tebarkan lagi padamu, seperti sebelumnya. Karena aku merasa ada yang tidak biasa, sejak saat itu. Kapankah?

Senyumanmu untukku yang engkau rindukan. Senyumanku untukmu yang ku rindukan. Ya, saat ini, hanya bisa ku senyumi engkau sebentar saja. Senyuman yang kita pertukarkan, meskipun tiada berpandangan, lama.

Walau tidak tertatap lagi oleh dua mata ini. Namun dalam ingatan, sesekali engkau menghampiriku. Engkau melangkah di dekatku, bersama segenap kehadiranmu. Cukup rasakan, aku ada bersamamu. Aku pun merasakan, engkau ada bersamaku. Dan kini, kita sedang bercakap-cakap penuh bahagia.

***

Bahagia

Bahagia yang tidak terucap, namun tersurat. Bahagia yang kita jemput segera, bila belum berkunjung, mendekat. Bahagia yang masih ada, dalam ketidakbahagiaan. Bahagia yang menjadi alasan, kita kembali bangkit dan melangkah, menyusuri tepi-tepi jalan. Dalam bahagia, aku bertemu denganmu. Engkau yang tersenyum bersamaku, semoga benar-benar berbahagia, yaa.

***

Campur-campur

Ahaaa. Beruntung kiranya, engkau tidak mengenalku utuh. Beruntung juga engkau, yang tidak ku kenal jauh. Hanya sekadar sapa, salam di saat berpapasan, lalu engkau menarik perhatikanku. Meski ku tidak menghentikan langkah walau sejenak. Yap, karena aku sedang dalam perjalanan, teman.

Teman yang saat mengingatmu, membuatku tersenyum, lagi. Ya, tersenyum saja mengingati. Bahwa engkau, sosok sepertimu, pun pernah ada dalam daftar impianku. Jadi? Apakah yang harus ku perbuat? Ketika satu persatu impian menjadi nyata, lagi? Dan ini melaluimu.

Engkau yang tersenyum, sempat juga menyapaku sekilas. Aku suka dan bahagia. Ya, gitu aja. Terima kasih ya, sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku ini. Kelak, kapan-kapan ku teringatkan engkau lagi, aku mampir di sini.

Semoga saja jarak kita tidak jauh-jauh amat. Jadi, ku masih bisa tersenyum padamu, sekali-sekali. Pun, kalau kita berjauhan jarak, kelak di masa nanti. Cukup sudah bagiku, jejak tentang hari ini menjadi jalan hadirkan senyuman lagi.

Senyuman untuk diriku sendiri, yang tidak pernah mampu menyampaikan padamu, bahwa engkau sungguh berarti. Sekali lagi, terima kasih ku sampaikan. Ungkapan yang tidak akan terucap untukmu, barangkali. Hihii. πŸ˜€

Engkau, tahukah bagaimana semua ini terjadi? Supaya ku bisa menyelami makna kehadiran diri-diri lain dalam hariku. Apakah yang bisa ku bersamai sampai nanti lama-lama, atau yang hanya bertemu sekilas di dalam perjalanan.

Cukup sudah bagiku, selembar catatan lagi, menjadi buktinya. Bahwa aku sangat suka menerima kenyataan seiring impian menjadi nyata, seperti ini. Maka, mana bisa tidak ku senyumi? Bagaimana ku tidak berbahagia dengan semua ini? Atas kejutan demi kejutan dalam hari. Apakah ku prediksi atau tetiba sudah menghampiri. Awalnya ku tidak menyadari, lama-lama, ku pahami, sebagai bagian dari ingatan pada impian.

Seperti, tetiba seseorang melayangkan senyumannya dari depan sana. Ketika ku sedang melangkah sendiri. Lalu, menekukkan dua pergelangan tangannya, membawa jauh ke atas kepala. Dengan posisi jari-jari saling membelakangi. Ujung-ujung jari merapat, dan membentuk tanda hati, sebaik-baiknya. Seraya memiringkan badan lima derajat saja. Apa artinya? Ahaahaaa. πŸ˜€ Aduh, ini memang tidak biasa. Tapi, aku suka saja, ketika ia ceria menemuiku. Walau dari jauh, tidak tersentuh. Meski dari jauh, tidak terengkuh. Terima kasih, sekali lagi.

Apakah seseorang berikutnya adalah engkau? Ya, engkau di sana yang tidak ku tahu siapa nama? Engkau yang tidak ku tahu ada di mana? Engkau yang mudah-mudah saja mengajakku tersenyum juga. Meski tanpa bertemu, tidak bersua, aaaaa. Sungguh mengharukan ini semua, bagiku. Sungguh menyesakkan dada, bila tidak ku ingat bahwa ini maya. Sungguh menghabiskan semua ekspresi sekaligus.

Apakah menangis, tersenyum, kebingungan, berbahagia, terkejut, dan bisa saja ku marah-marah padamu. Ekspresi yang tidak henti-henti, ada lagi dan lagi, selamanya. Tapi, aku sungguh yakin, engkau di sana bisa juga berekspresi serupa. Apalagi saat menyadari, ku tidak sekalipun menganggapmu ada?

Yah! Aku sungguh kejam padamu, sesekali memang begini. Jadi, engkau mau apa? Aku bisa meniadakan keberadaanmu, dalam tatapan. Aku tidak bisa mengajakmu dalam langkah-langkahku saat berjalan. Hanya, membersamai semilir angin, seperti ini ku menganggapmu, terkadang. Semoga, engkau tidak marah yaa, seperti ku yang memarahimu dalam diam. Sepertiku yang suka saja bertukar ekspresi tanpa terduga.

Aku yang tiba-tiba nangis, lalu ketawa sedetik berikutnya. Aku yang mudah saja bertukar-tukar dalam sekejap. Ini pun tidak ku sangka. Semua terjadi, begitu saja. Ada apa denganku? Apakah ini yang namanya… Apa yaa? Aku sudah tahu, engkau pun pasti tahu.

Aku jadi tidak tega merangkainya menjadi sebaris kata pun. Padahal, aku ingin menjadikannya ada. Ini semua karenamu, engkau yang membuatku seperti ini. Ich, sudahlah yaa. Aku tidak akan menyalahkanmu sedetik berikutnya. Cukuplah baru saja, ia ada. Penyalahan yang ku sampaikan, karena aku tidak tahu juga, siapakah engkau sebenarnya?

Kalau ku mengetahuimu, tentu ku bisa menata segalanya menjadi sedemikian rupa. Supaya engkau dapat menerima kehadiranku, sebegini adanya. Aku yang tidak pernah engkau sangka, di luar perkiraanmu. Aku yang mudah berubah, di luar pemikiranmu.

Aku yang tentu saja terus berbenah, sekalipun aku lelah, payah dan sebentar kemudian rebah. Tapi ingat, ya, tolong ingat yaa. Bahwa semua adalah alasanku kembali bangkit, berjuaaaaaang dan semakin jauh meninggalkanmu. Kalau saja engkau tidak menyusuriku. Sekiranya engkau tidak menelusuri langkah-langkah dan jejak-jejak yang pernah ku tepikan dalam perjalanan tanpa bersamamu. Engkau tidak akan bertemu denganku lagi, kalau ku benar-benar pergi dari kehidupanmu. Apakah karena mauku, atau karena ketentuan-Nya sudah berlaku untukku.

Makanya, sebelum semua ku jalani, sekali lagi ku memikir ulang. Dalam rangka apa kita bertemuan? Untuk keperluan apa engkau menyapa dan kemudian tersenyum padaku? Sekalipun pertemuan kita tidak bisa lama-lama. Hanya sepersekian detik saja, sebentar, selama satu langkah mengayun. Selanjutnya, kita akan berselisih jalan, dan aku terus melangkah. Sedangkan engkau, ku tinggalkan. Bila engkau tidak bergerak juga, masih di sana, di tempatmu semula.

Ini yang terpikirkan olehku sejak lama. Ingatan pada diriku juga. Aku yang sedang menempuh hari, waktu, tanpa ku tahu, akan bertemu dengan siapa selangkah lagi? Makanya, sebagai ingatan pada diri sendiri, ku sampaikan tentang ini padamu. Supaya engkau pun tahu, bahwa engkau adalah aku. Aku adalah dirimu yang tidak pernah meninggalkan kita. Ya, ini tentang engkau dan aku.

Engkau tidak bisa langsung membiarkanku sendiri, bila ku tidak mau engkau bersamai. Begitu pun denganmu. Biarlah masa-masa kelam yang pernah kita jalani, menjadi pengingat dan pengalaman. Bahwa kita bisa meninggalkannya, dengan sepenuh keyakinan. Untuk berteguh-teguh tanpa mengeluh. Untuk menaati aturan tanpa menelantarkan. Untuk mengingat, ke mana kita sedang melangkah? Dalam rangka apa? Bersama siapa? Maka, adanya jalan-jalan yang membentang dapat kita tempuh dengan senyuman.

Di manapun berada, tetap bersungguh-sungguh. Kalau ada kecocokan, perteguh keyakinan. Bahwa di sanalah engkau mesti melangkah. Namun bila belum menemukan ketenangan, segera berpaling, merubah arah. Karena jalan banyak cabangnya. Engkau masih dapat memilih, sebelum melangkah jauh. Engkau dapat mempertimbangkan, sebelum benar-benar menjadi bagian dari jalan tersebut.

Apakah akan memilih jalan berduri atau jalan mulus tanpa rintangan? Apakah harus berlelah-lelah dulu, menyibak semak belukar, merintis jalan perjuangan? Atau, melenggang bebas di antara pepohonan berdahan panjang? Yang terbang-terbang gitu. Yah, engkau bisa mengingat, bagaimana ia melakukan pergerakan. Engkau bukan dirinya. Tapi, engkau adalah aku.

Engkau bisa saja tidak seperti yang engkau pikirkan, dalam pandanganmu dari masa depan. Atas jejak-jejak yang menyisakan senyuman. Atas jejak-jejak yang menghadirkan tangisan. Atas pelajaran yang tidak terlupakan. Atas pengalaman yang mesti dan harus engkau bagikan. Apakah artinya?

Selagi memiliki dua pasang malaikat sebagai pembuka ingatan, pencerah pikiran, penenang hati, pemeriah senyuman, turut dan ikut nasihat beliau. Beliau adalah orang tua tersayang. Jangan lalaikan, usah mengabaikan. Karena senyuman beliau adalah alasanmu tersenyum. Sedangkan kebalikannya, adalah penentu kehidupanmu yang akan datang.

Aku tidak bisa menerangkan, ada apa di balik semua catatan ini, dengan sangat baik. Namun, sebaris ingatan pada perjalanan seorang insan, membuatku mau tidak mau menjadikannya sebagai pengalaman diri. Supaya ku bisa menjadikan sebagai pelajaran. Untuk melangkah, di jalan-jalan yang semestinya.

Meski harus berurai airmata di awalnya, tidak mengapa. Walau bersusah payah berlelah-lelah, tidak masalah. Sebab, dalam ridha orangtua ada barakah. Berbagi ingatan tentang hal ini, sungguhlah indah, sangat mewah kesannya, dan membuat senyuman semakin membungah, cerah. Alhamdulillah, terima kasih Amak dan Ayah. Walau tanpa penopang sempurna, beliau sering-sering mengingatkanku, untuk tabah.

Di balik kesedihan hari ini, ada kebahagiaan setelahnya.

Di ujung kepiluan yang terlewati, ada senyuman yang kita temui.

Di balik tetesan airmata, ada kelegaan tidak terkatakan.

Di atas langit, masih ada langit. Maka, bila hari ini langit mendung yang terlihat, percayalah di atas sana, langit berbeda memperlihatkan wujudnya. Walau tidak tertatap mata, meski tidak terjangkau tangan, tetaplah menatap.

Jauhkan harapan, tinggikan ingatan. Lalu, tetaplah berjalan. Tersenyumlah, meski dalam tangisan. Hapus airmata, supaya jelas pemandangan. Sesekali, biarkan ia mengalir, untuk mengembalikan ingatan, bahwa ini nyata.

Alirannya yang membasahi pangkuan, jadikan sebagai teman. Teman yang siap menyejukkanmu, lagi. Alirannya mengantarkanmu pada harapan baru. Setelah satu harapan tertinggalkan.

Wahai, ke mana lagi mengadu? Atas segala sendu? Untuk setiap pilu? Pada siapa yang mau tahu? Pada siapa yang tidak perlu tahu? Ah, Ada Yang Maha Tahu. Dan semua sudah tercatat tersusun rapi, dalam bentangan tulisan-Nya di Lauhul Mahfuz. Jadikan ingatan tentang hal ini sebagai peneguh kalbu yang terus saja menggugu. Untuk kembali tunduk dan bukan merutuk. Untuk menerima, bukan mencerca. Untuk merangkul, bukan menghina. Untuk menyapa, bukan meninggalkan, membiarkan. Untuk menyadarkan, bukan mengabaikan.

Atas segala kelirunya, tolong maafkan.

Bukankah ia sudah menangis terisak-isak atas segala penyesalan?

Sebagai pejalan di atas bumi ini, kita perlu dalam kondisi ingat. Ingat untuk mengingatkan. Merangkul yang terjatuh, agar ia tidak melemah sendirian. Supaya tidak terinjak tanpa pertolongan. Semoga, sesiapapun yang dalam kesedihan, segera terbukakan jalan bahagianya. Lalu tersenyum menempuh masa.

Engkau tidak bisa mengandalkan bahagia atau dukamu, pada seseorang. Laa tahzan, innallaha ma’ana. Dan tersenyumlah teman…Β  πŸ™‚ I miss you. Aku merindukanmu yang tersenyum menawan. Tersenyum dalam kesedihan. Tersenyum untuk menjemput lagi kebahagiaan yang sempat tertinggalkan.

I Miss You

Sekarang, aku tenang, senyumanmu sudah hadir lagi. Senyuman yang semoga setia menemani, meski selanjutnya, bukan berarti tidak menetes airmata lagi, atas kesedihanmu. Namun, bisa engkau senyumi sebagai salah satu ingatan kepada Penentu segala langkah, jalan dan tujuan.[]

πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

Advertisements

37 thoughts on “When I Miss You

  1. Ketika ku merindukanmu, aku akan kembali ke sini. Semoga engkau bahagia selalu, meski saat ini kita berbeda jalan. Engkau tetaplah melangkah. Begitu pula denganku. Semoga di jalan berikutnya kita bertemu, tetap semangat wahai diriku. Selalu ada senyuman untukmu. Maka, kips smile and I will miss you, too. ^_ πŸ˜€

    Qu akan posting-posting dari lembar kecil ini aja lagi, hihii. Insya Allah. Tetap bersama, selama kita masih ada.

    Biar engga terlalu dekat, tidak juga menjauh dari teman-teman akrab. Apa sebab? Demi kenyamanan bersama.

    Maka mulai sekarang dan setelah ini, ku akan mengganti cara menjejak di sini yaa, sesuai tema perjalanan tahun ini, tentang “… Saat Rindu Datang Menyapa”

    Happy Day,
    -ttd-
    You and Me

    Liked by 1 person

    • Hampir saja airmataku jatuh. Sungguh. Tapi ku masih bisa teguh. Sehingga mereka hanya bernaung di pelupuk. Ku kejapkan mata beberapa kali, maka mereka pun patuh. Kembali surut, lalu tetap di sana.

      Duhai, terima kasih untuk kerja samanya, yaa. Dengan begini, aku kembali tersentuh. Menyentuhkan lagi harap pada keadaan sekarang, di sini. Harap yang sempat jauh di sana. Yah, hampir saja ku mengeluh. Bahkan sudah menampakkan wujud, ia. Apakah semua ini memang baik?

      Baik, baik-baikkanlah. Bukankah ada kebaikan dalam berbagai keadaan? Apakah yang ku sukai atau tidak? Mari, tersenyum lagi wahai diriku. Engkau masih ada kesempatan. So, baiklah, mari teguh, tidak mengeluh. Ayooo bangkit, terus bertumbuh. Meski sedikit, walau berpeluh.

      Jangan rebah walau lelah, tetap sumringah sekalipun ada gemuruh. InsyaAllah, senyuman mentari hadir lagi, esok. Berdoalah untuk kedatangannya. Tersenyumlah bersamanya. Sanggup?

      Aku tidak sanggup, tanpa kekuatan dari-Mu wahai Allah Yang Maha Kuat.
      Aku lemah, tulang-tulangku hampir patah, jemariku lelah, mataku basah. Nadiku tumpahruah, selamatkan aku, sebelum kalah oleh keadaan, aku masih mau melangkah.

      Di sini, di jalan ini ku berjalan. Menggerakkan lagi diri, hati dan pikiran. Walau sempat tertahan oleh keadaan, tapi ada peneguh berdatangan.

      Kawan-kawan bersenyuman denganku. Para relasi berbaris menyambutku. Adik-adik mulai memanggilku kakak. Kakak-kakak memanggilku adik. Bahkan ada yang membiarkanku bebas memanggil mereka dengan aneka panggilan. Aku suka memanggil mereka abang. Yah, sehingga kami lebih mudah bertukar ingatan.

      Satu persatu berdatangan. Ada yang mengulurkan bantuan. Ada yang menawarkan kebaikan. Ada yang hanya mengantarkan camilan berupa senyuman, pun tidak jarang duduk sebentar membersamaiku dalam jeda perjalanan. Semua datang tanpa undangan, apalagi ku jemput dengan kendaraan. Bukan demikian, namun kedatangan semua atas dasar persahabatan.

      Aku terharu, sungguh menggugu. Aku terdiam, sungguh merenung. Aku tersenyum, sungguh senang. Semua adalah jalan-jalanku melanjutkan perjalanan menuju impian.

      “Ayo bergerak, bangkit dan giat. Mari berjuang, bersama kita bisa. Semangat melangkah, engkau tidak sendirian. Selamat melanjutkan usaha, di ujung hasil menanti. Engkau mampu, jika mau. Engkau sanggup, kalau belajar. Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Perlahan-lahan, akhirnya kelar. Mari bergenggaman tangan. Walau jauh, genggam jemariku dalam ingatan,” semua hadir untukku. Aku terharu.

      Satu orang di antara mereka, berdekatan denganku. Aku yang sedang asyik dengan pikiranku, segera menghampiri. Tetiba sudah duduk manis, tanpa ku panggil. Tetiba sudah bersuara, tanpa ku pancing. Tetiba sudah bercerita, tanpa ku sangka. Aku yang lagi diam, semakin diam dan melangkahkan pikiran. Perasaanku ketepikan. Karena aku tidak boleh terbawa suasana lagi. Ceritanya, aku belajar tegar. Aku mau panen inspirasi lagiiih, hihii. πŸ˜€

      Kami duduk berdampingan. Ia di sisi kiriku, agak ke depan. Aku di depannya, memberikan perhatian. Dua bola matanya tidak lepas dari tatapanku. Sebuah ruang kosong di antaranya, ku jadikan titik pandangan. Aku terpesona padanya. Aku pun tersenyum.

      Sebelumnya, ku membaca wajahnya. Dua alisnya sudah sangat rapi. Tidak tebal juga tidak tipis. Namun menarik saat ku perhati. Warnanya hitam pekat, gelap dan elegan. Alis yang menjadi bukti, bahwa ciptaan-Nya indah sekali. Sungguh, memperhati alisnya saja, membuatku tidak mau berkedip. Sungguh, semoga ia tetap merawat rapi, menjaga dan menghiasi. Dengan demikian, bertambah nikmat dari-Nya untuknya.

      Dari alisnya, beranjak ke pipi. Pipinya luas dan berisi. Dasarnya putih dan semakin memperindah penampilannya, saat senyuman terbit di sana. Walau tidak sering, memang. Namun sesekali saja. Senyumannya, aku sukai. Aku suka membersamainya sebab ini juga. Yah, dari senyumannya, ada yang ia alirkan padaku. Inspirasi.

      Pertemuan kami lagi, setelah ia tidak kabar-kabari pergi. Pergi saja, sampai ku tidak bisa menghubunginya sama sekali. Kepergian yang membuatku rindu padanya. Nah, saat sudah duduk setengah berhadapan lagi seperti ini, aku senyum bersamanya.

      “Ada satu tanda kita berarti dan berharga. Saat kehadiran atau ketiadaan kita berbeda. Saat kita ada, kita bermakna. Saat kita tiada, ada yang merindukan. Ini baru hidup yang hidup. Demikian juga engkau harus menjadi,” bisiknya padaku, di antara suara demi suara yang ia alirkan lancar tanpa halangan.

      “Sepanjang masih dapat memperoleh pengalaman, perolehlah. Selagi masih ada kesempatan menimba pengetahuan, timbalah. Selama masih bisa baik, baiklah. Karena kebaikanmu akan berbalas. Balasannya belum tentu dan tidak selalu dari orang yang engkau baiki. Tidak juga langsung menerimanya saat itu juga. Tapiiiii, bisa setahun lagi, puluhan tahun, bahkan bisa saja setelah engkau tiada di dunia ini. Maka, tetaplah baik, dalam kebenaran, yang engkau yakini,” berainya melanjutkan. Menjadi ingatan bagiku padanya nanti, setelah kami berjarak tidak lagi berhadapan.

      “Bisa saja engkau bertemu dengan masalah, tapi sekali-kali, jangan lari. Tapi, hadapi. Karena lari dari masalah, akan menimbulkan masalah baru. Menghadapinya, menemukan solusi. Sebab tiada masalah tanpa solusi. Belajarlah dari pengalaman orang lain tentang hal ini. Memperhatilah, pasti saja ada masalah-masalah orang lain yang dapat engkau syukuri sebagai ingatan bagimu untuk memetik hikmahnya,” ia masih bersuara dengan penuh semangat.

      “Lain kali, beranilah dalam prinsipmu yang tidak bisa ada yang mengganggu gugat. Tegaslah untuk membela kebenaran. Biarlah ada yang tidak setuju denganmu. Kalau engkau tahu itu benar, tegakkan,” ia serius menyampaikan.

      “Suatu hari, engkau menemukan ada yang memperhatikanmu lebih-lebih? Karena apa? Sebab ia menemukan kelebihan padamu. Perhatikanlah ia. Berikan waktumu untuknya, dengan begitu, ada bakti yang engkau berikan padanya. Walau tidak ia sangka, kehadirannya sangat berharga bagimu,” tambahnya.

      “Saat ini, engkau mengalami kehidupan susah, esok ada masa berbinar dalam harimu. Jagalah harapan dan tetap berjuang, berusahalah mengubah keadaan yang belum sesuai harapan, dengan iringan doa. Bersamailah orang-orang yang mendukungmu untuk itu. Karena engkau tidak bisa melakukannya sendiri. Bekerja samalah, dalam menjemput hari-hari sesuai harapan. Semoga banyak kemudahan menyerta, yaa,” ia memperhatikanku yang hanya bisa tersenyum, tanpa sahutan dalam suara.

      Ia masih senang dan terus berpesan. Pesan-pesan yang ku rekam dalam ingatan, semampu ku memelihara kata per katanya. Semoga, sesuai dengan maksudnya berpesan dan sampai padaku, yaitu demi kebaikanku di masa depan.

      “Engkau, siapa saja, tentu memiliki impian untuk engkau wujudkan dalam kenyataan, kan? Semua orang juga begitu. Impian yang mengajakmu bergerak, melakukan yang terbaik saat ini. Sehingga apapun yang engkau lakukan, mendekatkanmu pada impianmu tersebut,” saat ia meneteskan kata tentang impian, mataku berkaca-kaca, aku terharu. Dalam hatiku bergumam, ‘iya, tentu. Ada impian yang ku tuju, memperjuangkannya di sepanjang sisa usiaku. Untuk tersenyum pada dunia, dan dunia pun tersenyum bersamaku.’

      “Selama ini bagaimana kehidupan yang engkau jalani? Ada-ada saja kebaikan dan kemudahan melingkupimu, bukan? Apakah engkau berpikir terjadi begitu saja, tanpa alasan? Tetiba ada saja orang baik yang membantumu? Sesungguhnya, kebaikan demi kebaikan yang engkau terima, merupakan jalan ingatan, bahwa ADA Yang Maha Baik… Lebih dari kebaikan sesiapa, padamu. Ingatlah, untuk berbuat baik, karena-Nya. Ingat ya, aku baik padamu pun karena-Nya. Semoga ingatan kita saling tertaut kepada-Nya, yaa. Kapanpun, di mana pun, Dia Mempertemukan kita, lagi. Setelah kelak kita berjauhan raga,” ia membuatku semakin haru.

      Dalam hal ini, siapakah engkau bagiku?
      -ttd-
      You and Me
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Aku baru saja terbangun dari lelap. Ketika sebuah panggilan datang, bertanya kabar bagaimana lagi di mana? Ku menyahut dengan segenap kekuatan. Ada dalam kondisi baik-baik saja, lagi di kosan dan habis ketiduran. Begini ku memaparkan, pada beliau my brother Own.

      Hoaaaam, masih tersisa sedikit kantukku. Sebelum ku benar-benar dalam kesadaran. Menjelang ku menyahuti panggilan.

      Dan kini, sudah sepenuhnya bangun.

      “Haaaatchii,” suara yang sudah tidak asing ini baru saja terdengar.

      Kondisiku baik-baik saja, tidak ada keanehan. Meski badan terasa masih lemas. Iya ya laa, orang baru siuman dan belum bangun beneran, maksudnya belum berjalan. Tapi sudah kembali ke dunia impian di sini, hihii. πŸ˜€

      Engga apa, kan ya? Lumayan, buat mengumpulkan separuh nyawa yang masih berjibaku dengan keadaan. Menetralkan kembali keberadaannya dengan badan. Begitu juga dengan pikiran. Semoga mereka semua bersinergi lagiiiiih.

      Satu persatu, ku menjejakkan jemari di sini. Melangkah meski tanpa tujuan.

      “Aaaapppaaaa? Engkau bilang tanpa tujuan? Aku melangkah dengan tujuan. Engkau saja yang terkadang angin-anginan. Sekali sadar sekali engga,” jemari mendadak antagonis pada pikiran. Ia tidak terima ku bilang gini. Hihii. Terkadang, aku (pikiran) dan jemari tak sejalan. Kami bisa saja usil-usilan lagi.

      “Hiks, hiks,” ia mulai menghapus tetesan airmata.

      “Ku perhati, ia dalam kesedihan. Cepat sekali ia terbawa keadaan. Padahal maksudku bukan demikian. Tak ada niat membuatnya membersamai permata kehidupan,” aku (pikiran) pun merasa bersalah.

      Sekeping hati mendekatinya, mengajaknya menepi dari langkah-langkah yang semakin cepat kalau ia biarkan. Terlihat mereka bertukar suara. Riuh suara yang hadir dari jemari, seiring dengan hati yang tersenyum lebih sering.

      Sempat ku perhati, sekeping hati menyapanya penuh kelembutan, supaya jemari tabah atas pikiran. Karena mereka merupakan bagian dari diri yang satu. Termasuk sekepinghati yang hadir sebagai penengah bila terjadi kejanggalan antara aku (pikiran), jemari pun dengan dia sendiri. Hihii. Hati pun sering juga ku jadikan objek keusilan, walau sering aku yang kalah olehnya.


      Di luar, hujan turun bergerombol. Beramai-ramai berbahagia, tertawa gembira sungguh ceria. Sungguh hebohnya, mengalihkan perhatianku dari sunyinya akhir pekan, ku pikir begini sebelumnya. Tapi, tidak lagi, saat ini. Karena hujan sudah lebih dahulu mengerti kondisiku. Makanya mereka turun ke bumi.

      Alhamdulillah, jika saja saat ini siang atau pagi atau sore, ku mau bergabung dengan mereka. Supaya waktuku tak lagi sunyi. Tapi menjadi bagian dari suaranya. Walau tidak dapat ku menolak, mereka akan mengguyurku sebagai tanda kebersamaan. Aku suka.

      Alhamdulillah, sekarang sudah malam. Jadi, hanya bisa ku simak suara-suara mereka lamat-lamat. Suara-suara yang mendamaikan, makanya ku menghayati. Suara-suara yang ku jadikan sebagai backsound saat merangkai kisah tentang, “Akhir Pekanku Tak Sunyi Lagi.” Karena mereka sudah menjadi bagian dari keriuhannya.

      Terima kasih, hujan, untuk mengambil peran. Engkau membuatku tersenyum kini. Senyuman yang ku tata rapi untukmu. Semoga engkau mengerti. Bahwa hadirmu sungguh berarti.

      Di bawah hujan ku berdoa. Doa untuk sesiapa pun yang lagi galau. Termasuk engkau yang lain di sana. Engkau yang masih saja menghubungiku, dengan alasan di baliknya. Modus, hihihii. Aku tidak sudiiiii. Apakah gerangan yang melatarbelakangi? Untuk mengajakku becanda-becanda aja? Atau sebagai teman sejati? Atau hanya teman biasa?

      Hmmm, bagaimana ini? Sungguh ku tidak habis pikir. Ya Allah, di saat ku berjibaku dengan perasaanku sendiri. Ketika ku berdamai habis-habisan dengan pikiranku yang mau tenang, tetiba ada lagi yang hadir mendekati. Apakah ia datang sebagai inspirasi dari-Mu? Untuk mengingatkanku, bahwa Engkau tidak pernah membiarkanku sendiri?

      Ya Allah, kalau ia baik untuk masa depan dan kedamaian hati, keteduhan pikir dan senyumanku menempuh waktu, condongkan hatiku padanya. Namun kalau ia hanya hadir sebagai iklan di sela-sela skenario-Mu yang telah Engkau susun rapi sejak mula, bukakan hatiku untuk menerimanya sebagai apapun perannya. Akan tetapi, bila ternyata ia jodoh terbaik dari-Mu ya Allah, Engkau Maha Pemurah. Di bawah nada-nada tetesan berkah-Mu, suara hujan yang jatuh di atap, ku berserah.

      Untuk saat ini, ku masih sibuk dalam berbenah. Berbenah segalanya, yang sempat berantakan. Apakah pikiran yang tidak pada tempatnya? Suasana hati yang mudah beruibah-ubah? Apalagi wajah yang sering bersimbah peluh saat lama melangkah? Maka malam menyapa, ku rapikan lagi segalanya. Aku masih berbenah.

      Tidak untuk berlemah-lemah, walaupun sebagai perempuan, aku adalah makhluk yang lemah. Semoga hanya raga.

      Tidak untuk menyembah-nyembah, kalau hanya kepada insan yang mempunyai Rabb yang ia sembah. Semoga istiqamah.

      Tidak untuk menyerah, lelah dengan segala yang ada. Semoga kekuatan terus bertambah, Allahu akbar. Engkau Maha Besar Ya Allah, dari sebesar apapun masalah yang ku hadapi.

      Yes untuk tetap sumringah, dengan semangat yang melimpah. Semoga selalu berbarakah, aamiin ya Allah. πŸ™‚

      Ridha-Mu ada pada ridha kedua orangtuaku. Ridha beliau yang ku gapai lebih dahulu dalam apapun yang ku laku.

      Mudah-mudahan beliau setuju, siapapun berikutnya yang menjadi teman dekatku, aku mau. Dengan demikian, akhir pekanku selanjutnya tidak hanya mengintip tetesan hujan di luar sana. Namun kami berdoa bersama, ketika hujan turun lagi. Ia yang mengalirkan doa-doa kepada-Mu melalui suara merdunya dan aku mengaminkan sebagai makmumnya. πŸ™‚

      Who are you?
      -ttd-
      You and Me
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Dear you,
      Siapapun engkau yang hadir dalam ingat, ku ucapkan : Selamat, Aku Merindukanmu Sangat-sangat. Tetap hidup dan bermanfaat di dunia hingga akhirat, wahai sahabat.

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚


      Yuk cerita-cerita lagi, bersama teman. Bercerita untuk bertukar pikiran, berbagi pengalaman, berbarter pengetahuan, bersinergi dengan keadaan. Supaya masih ada senyuman dalam lembar hari ini. Senyuman yang bertebaran lebih menyegarkan. Meski mentari segera menepi.

      Sesorean, ketika kami duduk berhadapan. Di sisi kananku jauh di sana, tepi Barat dan mentari tersenyum menawan. Ia bercerita padaku. Cerita tentang perjalanan hidupnya yang berliku. Cerita yang tidak semua ia sampaikan dalam satu waktu. Namun ingin menceritai lagi, kapan-kapan pada waktu yang tepat.

      “Seperti kakak yang merangkai puisi dan ku membacanya, πŸ˜€ ” kami pun terkekeh bersama.

      Yaaap! Ia sempat membaca sebuah buku harianku. Buku harian yang tidak ku tulis setiap hari, memang. Hanya sesekali saja, kalau ku lagi jemu dengan waktu. Maka, meraihnya sudah tentu. Lalu menggerakkan pena bertinta hitam di atasnya. Seiring mengalirnya suara-suara agar ku tahu. What happen with me ketika itu?

      Aku tidak tahu sebelumnya. Kalau ia melirik-lirik sebuah buku. Buku bergaris yang tergeletak begitu saja di atas kasur. Ku pikir, hanya buku tulis biasa, ya biar saja. Toh kalau pun ia membuka-bukanya, tidak mengapa. Begini awalnya.

      Akhirnya, ku memperhati rona wajahnya yang cemerlang. Sesekali tangan menutupi bibir. Tampak olehku ia tersenyum. Senyuman khas yang ku pelajari, tentu ada maknanya. Aku hanya memandang, sebelum ia bersuara. Suara yang ujung-ujungnya riuh menertawaikah? Atau suka? Atau terpesona?

      “Kakak ni, romantisnyaaaa, hahahaaa, …,” (Dia membaca bersuara, di sela tanya yang ku ajukan).

      Aku jadi bertanya, kapan pula ku merangkai kalimat seperti itu? Huhuu, setelah ku ingat-ingat, ternyata tahun lalu. Saat pagi mulai menyapa, mentari menggeliat, siap bangkit dari lelap. Aku berlari ke atap, bergegas selayak kilat, demi inspirasi yang hadir sekelebat. Yaks, ada bulir-bulir ingatan di antara kalimat.

      Aku ingat, bagaimana kondisiku saat itu. Lagi ingat-ingatnya pada seorang sahabat. Tapi belum dapat ku lihat. Makanya mengalirkan ingat menjadi catatan sebagai pengingat. Ia ada, buat sahabat. Siapakah sahabat yang ku ingat? Sampai menjadi barisan kalimat super romantis, menurut temanku?

      Semoga ia ingat, bahwa kehadirannya bagiku sangat bermanfaat. Menjadi inspirasi walau hadirnya tidak lama. Namun begitu, ia sudah lekat dalam bagian waktuku, bersama ingatan. Semoga, ia semangat saat ini, bagaimanapun aktivitas, seperti apapun keadaan. Sehat-sehat yaa, sobat. Seperti yang engkau pesankan padaku, untuk menjaga kesehatan.

      Aku jauh darimu. Jadi, engkau harus sehat. Engkau mesti kuat. Engkau perlu rehat. Jangan sampai makannya telat. Supaya senantiasa semangat. Oke? Inilah nasihat dariku sebagai sahabat. Sahabat yang ingat padamu, meski belum pernah ku lihat. Percayalah, engkau sungguh bermanfaat. Yang taat yaa.

      Engkau hebat. Bisa membuatku tidak bisa melupakanmu. Walau sesaat hilang dari ingat, saat berikutnya muncul lagi. Sungguh, ini ku jadikan sebagai barisan kalimat. Supaya engkau tahu, bahwa engkau memang pantas untuk ku ingat.

      Engkau yang ku ingat lagi, sejenak setelah seorang teman di sini berbagi cerita. Ceritanya, ia sungguh bersyukur dengan segala rangkaian kisah hidupnya. Ada suka, duka, dan semua tidak datang satu waktu, tapi bertahap.

      Dalam kesempatan kami bercengkerama sore ini, ia ingat masa-masa yang membuatnya tidak bisa ngapa-ngapain, karena dalam kondisi tidak ingat keadaan. Istilahnya yaa, mendekati sekarat. Semua keluarga sedih berurai airmata. Adik kakak tidak sanggup menghadapi kenyataan. Saudara dekat berdatangan. Waktu itu pasca operasi, yang ia ceritakan. Di sela ia bercerita, aku malah menyelipkan candaan. Apa bemar? Bangkit lagi? Menit-menit berikutnya semua bersujud dalam syukur, karena ia kembali.

      “Iya, Kaaaak, detak jantungku kembali. Dokterpun tersenyum, ini cerita ibuku,” senyumannya penuh arti.

      Nah, inilah inti penting kebersamaan kami menjelang senja kali ini. Ia memesankan padaku begini, “Kita dapat belajar apapun, dari kisah orang lain. Karena untuk mengalami langsung keseluruhannya, belum tentu. Jadikanlah kisah orang lain sebagai ingatan, supaya kita lebih mudah bersyukur. Bersyukur atas banyak nikmat tidak terukur. Semoga mudah mengajak kita tersungkur, bersujud, tafakur, bukan takabur. Karena kita tidak ada daya dan kekuatan tanpa kemurahan dan rahmat dari Allah subhanahu wa Ta’ala,, makanya bersyukur dalam berbagai keadaan.”

      Ia tersenyum tenang saat bercerita. Karena berdasarkan kisah hidupnya yang nyata. Aku yang menyimak pun ingin segera merangkai menjadi susunan kata, sebelum lupa. Semoga, mengembalikan lagi ingatanku padanya, suatu masa yang akan datang. Bahwa ia ada pun menjadi inspirasi bagiku. Meski tidak ku sangka, walau tidak ku duga. Namun ia ada, bercerita begitu saja. Entah dari mana mulanya. Tetiba, ada yang teringat olehnya untuk ia bagi padaku.

      Yap, sebagaimana halnya denganmu, sahabatku. Terima kasihku atas kebersamaan.


      Kini, selepas senja. Setelah mentari benar-benar berlalu. Aku teringat-ingat suaranya yang mengalir mendamaikan. Ya, sebab sebelumnya ku sempat mengalami sedikit guncangan dalam pikiran. Lalu ku baca-baca beberapa artikel tentang perjalanan orang-orang dalam menyelesaikan masalah-masalahnya.

      Termasuk juga menghirup aroma khas kalimat-kalimat tentang cara membuat hidup menjadi lebih hidup, bagaimana memotivasi diri sendiri, langkah-langkah berdamai dengan keadaan, menemukan inspirasi dari sekitar, dan lain sebagainya yang bermakna.

      Selain itu, bagaimana cara untuk berbahagia pun tidak luput juga dari pantauanku, lagi. Bahagia yang setiap orang berbeda-beda dalam memaknainya. Beda kepala, beda lagi jalan bahagianya. Sedangkan aku bagaimana?

      Berada di sini membersamai huruf-huruf seperti ini adalah upaya yang ku lakukan untuk mendeteksi kebahagiaanku, adanya. Apakah ia ada? Atau lagi jalan-jalan bersamamu di sana?

      Ya, engkau yang berbahagia dalam waktu-waktumu. Semoga iya, yaa. Jadi, kebahagiaanku segera kembali, dengan bahagianya engkau di sana.


      Kesimpulan dari cerita yang temanku sampaikan tersebut adalah, mengingatkanku padamu.

      “Benarkah? Sebegitukah engkau menghargaiku? Padahal aku hanya sekelebat hadir dalam kehidupanmu,” engkau berusaha memastikan.

      Aku tersenyum dalam senyumanmu.

      “Bagaimana kalau saat ini ku tidak dalam kondisi tersenyum? Apakah engkau mau senyum-senyum sendiri, gitu,” suaramu tersendat-sendat antara haru atau pilu.

      “Makanya, ku tersenyum, semoga menebar pula padamu, wahai sahabatku. Begini ku mengafirmasi diri. Supaya ia mempraktikkan setitik demi setitik ilmu tentang kehidupan, yang engkau bagikan dengan ketulusan,” senyuman ini untukmu.

      “Aku mau menerimanya, tapi jangan salahkan aku, bila engkau kehilangan seluruhnya darimu, yaa,” engkau mengedipkan mata, mengukur deru jiwa dengan sempurnakan niat.

      “Bagaimana kalau semua berlaku untukmu, apakah engkau suka?” Mengembalikan lagi padamu adalah seutama-utama jawaban.

      “Inilah yang ku sebut dengan bertukar pengalaman, berbagi pengetahuan, berbarter pandangan. Sudahlah, mari kita sama-sama bersenyuman,” engkau mengembangkan senyuman lebih baik, seiring dua bola mata yang turut tersenyum berseri-seri. Setelah ini, engkau sudah tidak dapat lagi bersuara saja. Tapi, menggerakkan diri dalam lelaku nyata. Untuk apapun yang engkau cita, engkau damba dan engkau suka. Sebagai salah satu wujud syukur, kehadiranmu yang bermakna.

      Selamat yaa, atas kehadiranmu dalam ingatan,
      -ttd-
      You and Me

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Pagiii, penantian berlanjut…
      Ngapain lagi yaa?

      Aph, aku terkejut. Melirik gelombang rok balon tertiup angin. Ia mengembang, membentuk gelembung, gitu.

      Aku sedang melangkah ketika itu. Melangkahkan kaki-kaki ini, iya. Melangkah saja menelusuri jalan yang ku lalui. Melangkah lagi dan masih pagi.

      Suasana adem dan teduh. Sinar mentari masih hangat. Belum terik-terik sekali. Waktunya sekitar pukul setengah sembilanan. Waktu yang pas sangat untuk berjemur, memang. Tapi aku tidak berjemur, namun melangkah di bawah sinarnya.

      Sinarnya tersenyum untukku. Senyumannya mengingatkanku untuk tersenyum, juga. Tersenyum memperhatikan gelembung rok balon yang menjadi kostumku. Hu um, aku bahagia seketika. Bahagia saja tak terkata. Makanya, merangkai menjadi ada, melalui barisan kalimat-kalimat, segera. Yaa, segeraaa.

      Aku teringat sukses menanti. Segera ku mempercepat langkah-langkah kaki. Tidak hanya terkesima dengan gelembung tadi.

      Melangkah satu persatu, kaki kanan dan kemudian kiri. Begini yang terjadi berulangkali. Seraya menikmati indahnya nuansa pagi, bersama semilir angin menepi di pipi. Ku hayati langkah-langkah, sepenuh hati. Makanya, ku tidak memilih berlari. Kecuali melangkahkan kaki dengan anggun, berirama, sesuai kondisi hati. Hatiku bahagiaa, lalaalaaa…

      Alhamdulillah, bersyukurku semenjak pagi. Terima kasih ya Allah, atas semua nikmat yang Engkau beri. Atas rahmat yang tidak bertepi. Bersyukur atas semua ini, terima kasih yaa Allah, langkah-langkahku masih menjejak hari ini. Termasuk menarikan jemari seperti ini, aku sungguh suka sekali.

      Hup, penantian berakhir, yuu melangkah lagi…
      -ttd-
      You and Me
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Hari ini lumayan sibuk, ternyata. Kunjungan demi kunjungan silih berganti. Aku menyapa dan menyambut sapa demi sapa satu persatu dari orang-orang yang datang dan pergi. Ada yang bertemu langsung, tidak sedikit yang bersua via suara saja.

      Mereka adalah para tamu, relasi dan juga kolega di tempatku menempa diri, menimba ilmu lagi, menerima pengalaman dan masukan serta mengalirkan beraneka ekspresi yang ku kenali lebih baik.

      Apakah ekspresi tersebut bersumber dari internal diriku, maupun yang berasal dari eksternal. Mereka seakan bersinergi, membuat hari iniku penuh kesan, pesan, untuk menjadi kenangan.

      Terkadang mau tertawa selebarnya, terkadang senyum saja. Pernah kecewa? Atau mau menitik airmata? Sempat terluka, dan terbahagia jiwa? Semua ada hari ini. Meski tidak semua menunjukkan diri dan berwujud jelas, memang. Tapi, terlihat samar-samar saat ku perhati benar-benar. Sebagiannya ada di sana, sebagiannya ada di sini. Setelah ku pikir-pikir, semua ada, kali ini.

      Mereka datang dari orang-orang berbeda. Ada di antaranya yang sudah biasa bertemu sapa denganku, ada juga yang baru pertama kali. Bagi yang sudah biasa datang, pengalaman menyambutnya ada yang biasa saja dan ada juga yang luar biasa.

      Kali ini, yang baru pertama datang dan pergi, menyisakan kenangan berbeda.

      Ahiya?
      Iya lah, aku aja tidak sempat lho menepi-nepi di sini meski sebentar, sejak tadi. Padahal aku sangat suka berada di sini, lagi. Makanya, sekarang ada kesempatan terbaik, aku kembali. Meski hari sudah berganti, tanggal berubah, suasana sudah sunyi.

      πŸ™‚

      Selamat berjumpa lagi, teman, di ruang ekspresi yang damai ini. Semoga ada yang engkau petiki dan bawa pulang, sebagai oleh-oleh saat menjejakkan kaki di dalamnya, yaa. Barangkali ada kesan, pesan, atau kenangan untuk engkau sisipkan, ku mempersilakan. Selamat membersamai kamiiii.

      “Kali ini, tidak ada yang dapat ku bariskan menjadi kalimat, awalnya. Hanya saja, aku mau menepi di sini untuk melentur jemari. Supaya ku tahu, hari ini aku begini, seperti ini, dan bagaimana selanjutnya?” aku mulai bersuara.

      “… Haaai, bukankah sejak tadi engkau sudah bersuara,” pikirmu dalam tanya.

      πŸ™‚

      Selangkah dua langkah, ku meneruskan gerak jemari. Dari satu huruf ke huruf berikutnya, mereka berlari. Hai, siapa sajakah mereka? Hanya jempol memang, yang sering eksis, hehee. Tapi, jemari lainnya ambil bagian lho. Mereka menjadi pagar betis yang berjaga-jaga. Untuk mengendalikan layar bercahaya ini agar baik posisinya. Jadi, jempol bisa lebih nyaman.

      Info engga penting tapi genting, satu jempolku yang kiri, lagi kurang nyaman. Karena ujungnya atiit, atitt lamanya kambuh ternyata. Sejak beberapa hari terakhir. Aku belum tahu apa obatnya, kecuali memperhati saja. Huuwaa. Kondisinya sejenis ada bintik-bintik air di bawah kulit. Hanya di ujungnya aja, yaa, pas sekitar lokasi yang kuku teduhi. Demikian sekilas info, dari jempol kanan.

      Dengan ketidaknyamanan dan kenyamanan, jempol bergerak. Ia tidak mau hanya nyaman sendiri. Sedangkan temannya engga. Makanya, ia melanjutkan perjalanan, bersama. Supaya saling menyemangati saat melangkah lagi. Walau, perjalanannya di sini-sini aja siiih, hihihii. Tapi, butuh kerjasama dan partisipasi dari hati, lho.

      πŸ™‚

      “Kalau engga ada satupun yang mau engkau bagikan, ngapain mampir di sini lagiii? Cepat sana, berangkat dari sini,” engkau memintaku berlalu.

      Permintaanmu hanya ku senyumi seperti ini. Senyuman yang masih tersisa untuk ku beri.

      “Haaai, hanya sisa-sisa senyuman saja yang engkau bagi padaku? Engkau gitu ya, sama aku? Engkau belum tahu siapa aku, ya? Aku bisa saja melotot padamu dan engkau pasti takut nantinya,” seakan engkau segalak itu, aku berpikir seperti ini tentangmu.

      “Wahai, please pahami aku. Aku hanya melenturkan jemari, dear. Jadi, selama apapun di sini, aku senang. Apakah ada yang berarti di dalam kebersamaan kita kali ini atau belum, tidak mengapa. Yang ku mau, tolong izinkanku menetaskan sebutir dua butir barisan kalimat yaa. Walau mulanya memang tiada arti penting yang ku bawa,” tersenyumku, semoga engkau pun tersenyum.

      “Engga mau aku aslinya. Tapi, aku khawatir engkau merajuk. Ya, sudahlah, apapun maumu, terserah,” engkau menyerah, lalu asyik dengan kegiatanmu di sana.

      Sedangkan aku, mulai ada bayangan. Terbayanglah selintas dua lintas pikiran tentang kenangan, untuk ku berai menjadi senyuman.

      πŸ™‚

      “Kenangan? Engkau maunya gitu aja yaa. Hai, bergegaslah. Bangkit dan tatap masa depan, hari esok, say, bukan hanya mengenang-ngenang. Dengan kenangan, artinya, pikiranmu beranjak ke masa lalu, jadinya,” engkau kembali, tiba-tiba. Lalu jongkok tidak jauh di depanku.

      Aku yang sedang bersimpuh, menata posisi kaki. Kemudian berselonjor, dan bersandar ke dinding yang semula ada di samping kananku. Lalu engkau?

      Engkau memandangku penuh arti. Ada yang engkau mau tahu, tentang isi pikiranku saat ini. Jadi, engkau berjanji dengan dirimu sendiri. Engkau tidak akan meninggalkanku lagi. Meski lama ku di sini, engkau rela. Ciiyeee, kepo yeee. Hehee, oke, tak ape-ape. Silakan, mari kita ke pojokan lalu nangis barengan. Karena sama-sama lagi engga ada kerjaan penting untuk kita selesaikan dalam waktu dekat. Jadinya ya begini, berbagi suara hati lagi, yuu. πŸ˜€

      “Aku bukan kepoin kamu, tapi peduli. Makanya, ku menemanimu, di sini. Walaupun aku tidak tahu, apa yang engkau lakukan. Aku mau menjadi bagian dari waktumu aja. Syukur-syukur, ada tentangku di sini. Bisa aja, khaan. Karena ku sungguh merindukanmu. Aku suka menyimak rangkaian perjalananmu sejauh ini. Tetap melangkah, yaa. Melangkahkan jemari meski pelan. Melenturkannya sekalipun sudah malam. Mengajaknya bergerak, untuk menggerakkanmu. Supaya ada yang engkau lakukan, sekalipun tak banyak kegiatan. Seperti saat ini. Aku melihatmu santai sekaliiii, udah makan malam belum, say?” engkau tersenyum penuh arti. Bersila dan siap-siap menyimak ceritaku, lagi.

      “Yaelaaaa, sok-sok perhatian ceritanya ini, yaa. Hahaa. Tapi engga apalah yaa. Jadi ada inspirasi untuk ku bagi, saat kita bersama seperti ini.

      “Iya, lah. Aku kan bagian dari dirimu. Kita adalah sahabat akrab. Kita adalah kesatuan yang tidak akan terpisahkan oleh apapun. Kita adalah raga dan jiwa yang bertemu dari keadaan terumit perjalanan,” jawabmu mengingatkanku pada perjalanan kita.

      “Jadi, sudah seharusnya kita tetap bersama seperti ini, kan? Walau terkadang aku tidak mengerti yang engkau lakukan. Apakah benar-benar penting atau hanya engkau penting-pentingkan. Entahlah, aku suka aja kita bersama seperti ini. Bahkan saat ku hanya memantaumu, memperhati, memandang, dari sudut mataku, atau menatapmu tajam tanpa berkedip. Semua bisa menjadi bagian dari ekspresiku padamu. Namun engkau masih saja begitu, engkau yang ku tahu dan aku tidak akan pernah mengubahmu, percayalah,” engkau melanjutkan bersuara bersama senyuman sungguh leganya.

      πŸ™‚

      Senyuman legamu terbit, karena sudah mengumpulkan segala yang terserak di ruang hatimu. Engkau memungutnya satu persatu, lalu mempersembahkan padaku. Aku terharuuuu, engkau begitu padaku. Bagaimana lagi caraku menyampaikan padamu, bahwa kau sangat berarti bagiku? Engkau yang tidak terlihat, namun ada.

      Apakah ku harus merayap ke langit kelam di atas sana? Menggapainya meski tanpa pegangan? Atau terisak-isak pada deburan ombak? Untuk menanyakan keberadaanmu?

      Bagaimana kalau ku tenggelam sejauh-jauhnya ke dasar lautan? Bertanya pada helai-helai rumput laut yang meliuk tenang bersama air?

      Aku tidak tahu lagi. Makanya merangkai saja tanya-tanya ini, supaya engkau tahu. Aku mencarimu ke mana-mana. Bahkan pada semilir angin yang tak terlihat, aku sering menyapa. Barangkali engkau ada bersamanya.

      Hujan yang berjatuhan senja tadi pun tak mampu berikan jawaban. Saat ku tanyakan lagi pada mentari, juga sama. Dia hanya terdiam tanpa kata, lalu memilih tenggelam tanpa suara, menjelang senja tiba. Kepergiannya menyisakan sendu di relung hatiku. Hati yang masih bertanya kapan dia kembali? Esokkan? Begitu juga harapku tentangmu.

      Mentari berlalu hari ini, harapku bertumbuh lagi.

      πŸ™‚

      Setelah kepergiannya bergantilah waktu menjadi malam. Saat ku duduk di sini (atap), ada yang mengintip malu-malu, di antara bebintang berkedipan. Ialah rembulan.

      Menyaksikan mereka, aku senang. Harapanku semakin berkembang. Melihat alam meski dari temaram. Mereka bukan hanya diam, tapi perlahan, mengingatkanku pada satu tujuan. Bukan engkau, namun engkau pun tahu, kawan.

      Terjawab sudah pertanyaanku, kini. Jawaban yang hadir dari dalam diri ini. Sekeping hati yang menang dari pertempuran dengan dirinya sendiri.

      Berdamai adalah pilihan. Pilihan yang juga bisa engkau jadikan jawaban. Ketika pertanyaan demi pertanyaan menghampirimu pula. Begitu, yaa. Yaa, dengan begitu engkau tenang.

      Tenang-tenangkan hatimu. Engkau tak sendiri dalam segala masalahmu. Darinya jadikan pelajaran. Dari semua kenangan, jadikan alasan mengembangkan senyuman.

      πŸ™‚

      Tersenyumlah, kawan. Terlelaplah teman. Teruslah berjalan, tanpa menoleh lagi ke belakang. Tatap masa depanmu teman. Selalu ada jalan. Engkau hanya perlu membuka pikiran, hati dan pandangan.

      “Apa engkau bilang? Tanpa melihat ke belakang? Bukankah kita berasal dari masa lalu? Dan belakang adalah bagian dari masa lalu. Di belakang ada jejak-jejak yang kita tinggalkan. Di belakang ada punggung yang tidak dapat kita pandang. Haruskah kita meninggalkannya begitu saja? Pikirkanlah sekali lagi, teman. Tentang pendapat yang engkau sampaikan barusan,” engkau menerbitkan sinarmu yang benderang. Sinar yang menyilaukan pandanganku, meski ini malam hari.

      Segera, ku mengalihkan perhatianmu, menundukkan kepala, menghitung baris-baris sidik jari. Ku memandangnya sangat teliti, ku hitung hati-hati.

      Lama juga jedanya, sampai engkau bersuara lagi. Suara yang ku jadikan inspirasi berikutnya. Suara yang semakin benderang, berbinar-binar, menerangi pikiranku. Lalu, terbitlah ingatanku untuk merangkainya menjadi barisan senyuman berikutnya.

      πŸ™‚

      Terdiam jemari, mentafakuri,
      Tersedu bumi menatap angkasa yang semakin sunyi,
      Bebintang menertawai,
      Rembulan tersenyum rapi,
      “Adakah lagi yang mau engkau abadi tentang kami?,” tanyanya.

      “Engga ada lagi,” ungkapku.

      “Lalu mengapa masih betah di tengah kelam seperti ini? Ayo ke sana, bergabung saja dengan mereka yang bercengkerama dengan dunia. Supaya waktumu menjadi lebih berwarna lagi. Semoga di antara semua ada yang engkau sukai. Mari-mari kita menyusuri, jalan-jalannya yang banyak sekali. Ayo-ayo kita bergerak, melangkah hati-hati,” engkau mengajakku bangkit. Meraih pergelanganku dan engkau pun berdiri.

      “Kita menyusun strategi baru lagi dalam menghadapi rupa-rupa hidup ini,” engkau menegaskan.

      “Esok, kita harus lebih baik lagi dari hari ini,” bisikmu di telingaku.

      Sembari menyelipkan sebuah kertas kecil berisi sebaris kalimat. Hasil tulisan tanganmu sendiri. Tulisan yang huruf-hurufnya sedikit miring ke arah kanan. Apakah engkau menulisnya sambil memiringkan kepala juga, wahai kawan? Atau memang sudah bawaan?

      “Engga penting banget iih, ngapain juga engkau bahas-bahas bentuk tulisan tanganku yang demikian adanya? Aku senyumin mau engga, kalau begitu. Karena aku suka, sama perhatianmu yang berlebih-lebih padaku. Aku jadi semakin rindu padamu, saat kita berjauhan lagi, setelah ini. Mau yaa, maulah iii, hihiihiii, πŸ˜€ ” engkau menggodaku.

      “Engga mau, aku maunya memandangmu aja, dekat-dekat seperti sekarang. Engga mau jauhan. Bagaimana pun ekspresimu, aku senang. Tidak harus selalu tersenyum padaku. Apakah engkau suka dengan yang ku laku, atau bukan,” aku mengalihkan lagi perhatianmu. Supaya engkau mengerti, aku tidak hanya suka senyum-senyummu aja, tapi airmatamu yang jatuh berderai, juga ku suka. Karena engkau memperlakukanku juga begitu. Aii, so sweet yaa, kebersamaan kita.

      Love,
      -ttd-
      You and Me
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Senja perlahan redup sejak rona jingga menampakkan diri. Hingga gulita menguasai seluruh pusat pandangan. Gelap. Kelam. Tanpa penerangan. Inilah yang namanya malam.

      Embun perlahan memuai sejak sinar mentari menampakkan diri. Hingga benderang memperlihatkan pemandangan alam yang megah. Bening. Bersih. Tanpa kegelapan. Inilah yang namanya siang.

      Malam dan siang adalah waktu-waktu yang sebagian orang menunggunya. Tapi tidak denganku. Karena bagiku, siang atau malam sama saja. Ketika siang ku dapat melangkah menjejakkan kaki dan jemari, malam juga masih bisa.

      Lalu apa bedanya siang dengan malam? Sama saja, bukan? Menjadi waktu-waktu terbaik bagi kita untuk bergerak. Jadi jangan menunggu lagi, melangkahlah teman.

      Siang dan malam sama-sama waktu. Waktu-waktu untuk merenungkan ciptaan Allah yang membentang indah di seluruh alam. Waktu-waktu yang paling pas untuk bergegas, bangkit, bergerak, berjalan dan berlari serta terbang. Waktu-waktu yang tidak akan pernah terulang dan sama lagi, setelah berlalunya.

      Bila saja engkau lengah, bisa tergilas oleh waktu.

      Waktu tidak berwujud. Waktu adalah kesempatan. Waktu adalah peluang. Waktu adalah jalan-jalan membentang yang tidak terlihat. Waktu adalah engkau, teman. Bagaimana engkau memanfaatkannya, itulah dirimu. Maka engkau perlu menjadikan waktu sebaik-baik teman, seindah-indah pemandangan dan selamat menempuh waktu dengan senyuman.

      Senyuman yang engkau jadikan sebagai salah satu alasan, untuk tetap berjuang. Meski dalam waktu-waktumu engkau alami kesuntukan. Ah, alihkanlah dengan tersenyum. Bayangkan manfaat yang akan engkau dapatkan, kalau menempuhnya dengan begini, begini dan begini. Daripada begitu, begitu dan begitu. Keputusan ada padamu. Sudahkah engkau mengambil keputusan yang tepat dalam waktu-waktumu?

      Engkau bisa bertanya, bila tidak tahu. Engkau bisa bila membiasakan diri. Engkau mampu bila engkau mau. Engkau sanggup bila engkau bangkit.

      Semangat pagiiiii,
      -ttd-
      You and Me
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Berkenalan denganmu, menjadi kenangan tersendiri bagiku. Engkau yang hadir di rumahku, membawa stok keberanian untuk engkau bagi. Jadi, aku pun memberanikan diri menyambut kehadiranmu.

      Iya, kehadiran yang pernah ku impikan, menjadi kenyataan. Kehadiranmu bersama salah seorang sepupumu, engkau bilang. Sepupumu yang juga sepupuku. Jadi, hubungan kita adalah…

      Engkau adalah saudaranya sepupuku. Saudara jauh yang menjadi dekat, denganku. Saudara seiman, sekeyakinan. Saudara yang dipertemukan oleh Pemilik diri-diri kita. Saudara yang saling membantu dalam kebaikan. Saudara yang menghiasi waktu-waktuku berikutnya, insyaAllah. Semoga banyak kemudahan dalam prosesnya, menuju hari-hari yang lebih indah.

      Engkau, belum pernah mengenaliku? Aku, juga. Tapi akhirnya kita pun berkenalan. Perkenalan atas kebaikan orang-orang yang menyayangi kita sangat-sangat. Lalu, bagaimanakah kita menjalaninya? Akankah perkenalan kita akan berlanjut pada tahap selanjutnya? Engkau menjadi temanku yang sahabat baik.

      πŸ™‚ Saat ini, (?…?) Mari kita senyumi. πŸ™‚

      Engkau yang ramah, sopan, pengertian, dan menempatkan diri sebaik-baiknya untukku. Hingga hari ini sejak perkenalan, sudah ada saja kesan-kesan penting yang engkau selipkan di ruang ingatan.

      Semoga ingatan ini tetap ada seiring waktu, menyubur dalam pertumbuhannya, menjadi penyejuk pikiran. Menjadi pohon yang berdaun rindang tempatku berlindung dari teriknya sinar mentari. Menjadi alasan ku merangkai senyuman lebih cerah dari hari ke hari. Karena senyumku tidak hanya untuk diri sendiri, lagi. Tapi, ada engkau yang ku senyumi.

      Sebagai alasanku melanjutkan langkah-langkah kaki, karena ada engkau menyemangati. Ada alasanku tetap berdiri, bergerak dan menuju lokasi-lokasi yang ingin ku kunjungi, bersamamu yang menemani. Ada alasanku kembali ke rumah, menyambutmu yang menemuimu, dengan menanti. Dengan begitu ku mengerti, di mana semestinya ku berada dalam hari-hari.

      Dalam hal ini ku ucapkan, “Terima kasih untuk hadir, mengingatkan diri ini. Diri yang selama ini tenggelam di lautan mimpi-mimpi. Diri yang selama ini terbang jauh ke angkasa harapan. Diri yang sedang menjejak bumi, harusnya menyadari diri.”

      Alhamdulillah, aku bertemu denganmu di rumahku surgaku. Meski pertemuan kita tidak sampai satu jam, sungguh ingin ku ingat lagi.

      Pertemuan untuk menyatukan dua hati, menjalin tali silaturrahmi. Pertemuan untuk sebuah visi, menuju ridha Ilahi. Pertemuan untuk sebuah janji, mewujudkan baiti jannati. Pertemuan karena menyadari, setiap kita tercipta untuk saling melengkapi atas kekurangan, mensyukuri atas kelebihan, menyabari ketiadaan, mensenyumi keberadaan. Dan aku bersyukur atas hadirmu di pelataran hati yang selama ini mendamba pertemuan ini.

      Ku merasakan kebahagiaan yang tidak terungkapkan. Aku merasa senang yang tidak mampu terucapkan. Walau begitu, pelan-pelan ku menyusun huruf-huruf yang bertebaran, supaya menjadi kata-kata. Untuk mengungkapkan segala bahagia, mengucapkan semua senang, mengatakan pelan-pelan, I am happy to meet you, I am proud of you, thank you very much for coming. Makanya hari ini ku menuliskannya.

      Tulisan yang hadir sebagai wujud syukurku kepada-Nya. Karena Allah Yang Maha Baik, mengizinkan kita menjadi bagian dari pertemuan yang tercipta. Pertemuan atas rencana keluarga, semoga menjadi rencana-Nya yang terindah untuk kita jalani ke depannya. Alhamdulillah…

      Walau bagaimana pun adanya engkau, kelak engkau yang membimbingku dalam meneruskan perjalanan hidup ini. Kita saling mengingatkan untuk senantiasa bersinergi dalam kebaikan, bahu membahu dalam segala tugas dan tanggung jawab, saling menguatkan untuk tetap tegak dan bergerak, saling mendukung demi tercapainya cita bersama cinta yang kita punya. Cinta yang merupakan titipan dari Allah Yang Maha Mencintai. Maka Dia mempertemukan kita.


      “Haai, pada saatnya nanti, kita main-main ke lokasi yang sebelumnya juga ku kunjungi, yuu. Tepatnya seperti picture di atas. Jadi, kelak ada acara piknik keluarga lagi, aku ada temannyaaaa, selain anak-anak yang biasanya menjadi teman kecilku. Mau yaa, yaa, yaa, I hope you will be my real soulmate until the end of my life as lifetime friend.”


      Sampai hari ini, sudah tujuh hari lamanya perkenalan kita. Aku masih memahami karaktermu, sesuai informasi demi informasi yang ku terima tentangmu. Termasuk melalui barisan kata yang mengalir darimu, dalam kesempatan kita berkomunikasi.

      Semoga lancar yaa, dan kita bisa saling mengenali, memahami, dalam bimbingan-Nya. Semoga segala gerak, ucap dan hasil fikir yang muncul satu sama lainnya, menjadi jalan kembalikan ingatan kita kepada-Nya. Dan menyadari bahwa tiada daya dan upaya yang dapat kita lakukan, tanpa pertolongan dan kekuatan dari-Nya.

      ~^Aku semakin cinta Allah, ya Allah… Titipkan kami cinta yang mendekatkan kami kepada-Mu, menjadi jalan hati kami semakin tertunduk tawadhu, hati yang melembut dari waktu ke waktu, hati yang menjadi tegar dari masa ke masa, hati yang rela dengan segala ketetapan-Mu, hati yang ikhlas dan tulus dalam menjalani segala keputusan-Mu, hati yang tenang dan tenteram bersama-Mu. Meski kami berjauhan, Engkau Yang Mendekatkan, selalu bersama-Mu, kami tenteram^ ~


      Satu persatu hari berlalu, menyisakan kenangan demi kenangan tentang kita. Seiring tumbuhnya harapan demi harapan yang kita jaga ada. Selamat menjaga dan terjaga selamanya. Hingga waktunya tiba, kita bisa jalan-jalan bersama. Sebelumnya, tetap berdoa, jalan-jalan yang kita pilih tetap senada.

      Kini, ku siap melanjutkan perjuangan ini. Aku siap berjuang lagi, bersamamu yang terpilih menjadi bagian dari kisah perjalanan hidup ini. Engkau seorang hamba shaleh-Nya yang menjadi calon imamku. InsyaAllah.

      Karena Allah sayangi kita, Dia menunjukkan keagungan-Nya, Dia memenuhi janji-Nya, bahwa Dia mempertemukan dan mengumpulkan yang terserak, pada waktunya. Dia mendekatkan yang berjauhan, pada waktunya. Semoga kita selalu ingat kepada-Nya.

      Masih banyak yang belum ku ketahui darimu, memang. Namun seiring waktu, kita perlu terus saling mengetahui, memahami, melengkapi, memberi dan mengabari. Sampai nanti, tanggungjawab atas diri ini menjadi bagianmu.

      Engkau laki-laki sejati yang ku damba selama ini. Walaupun sudah sejak lama sekali. Dan kini, insting dan naluri perempuan membawaku pada sebuah janji untuk ku tepati. Janji setia pada seorang laki-laki yang beruntung, aamiin ya Allah. πŸ™‚

      Di dunia ini hingga akhirat nanti. Bersama kita melangkah, melanjutkan dakwah, menebarkan senyuman karena Allah, lillah, billah, ilallah.

      Wahai engkau, aku bahagia engkau masih ada di dunia. Karena cinta-Nya padamu, membimbingmu selalu. Bimbing aku, teriring doa-doamu di setiap waktu shalat. Bimbing aku saat ku merasa lemah. Kuatkan aku ketika ku alami lelah. Bangkitkan semangatku lagi, karena berlebihnya semangatmu, melimpah.

      Wahai engkau kekasih Allah,
      teguhlah sayang, gigih berjuang,
      Karena Allah janjikan Islam menang dan engkaulah salah seorang pejuang.

      Duhai engkau yang penuh kasih sayang,
      Lembut hatimu terpancar jelas melalui suara dan sorot mata. Kelembutan menghias wajahmu yang penuh ketegaran.

      Duhai engkau seorang pejuang,
      Teguh jiwamu tidak kelihatan,
      Karena engkau membungkusnya dengan senyuman,

      Wahai sayang,
      Kita rukun dan damai selama di dunia, ini inginku.
      Senantiasa mendampingimu hingga nyawa berpisah dengan raga, ini mauku.
      Hingga kelak, jumpai aku di surga sebagai bidadarimu, yaa…


      Hingga saat ini, siapakah engkau yang sesungguhnya, masih menjadi tanda tanya besar bagiku. Tanda tanya tanpa wujud, tidak dapat ku lihat dengan dua mata ini. Tanda tanya yang ku ingin tahu jawabannya, πŸ˜€ . Tanda tanya yang membuatku terus bergerak, melangkah, mencari cara menjawabnya, versi aku sendiri. Alasan apa? Untuk tersenyum lagi dalam rindunya hati. Supaya ku bangkit lagi dan berjuaaaang mengoptimalkan kesempatan ini. Agar di ujung segalanya, dapat ku senyumi berseri-seri.

      Engkau, tanda tanya yang masih berdiri di ruang hati. Sampai saat ini, masih. Tanda tanya tanpa kenal hari, hadir saja dengan kokohnya di depanku. Tanda tanya yang utuh dengan satu titik di bawahnya. Tanda tanya yang melengkung indah di atasnya. Tanda tanya yang meliuk indah di tengahnya. Tanda tanya yang indah dan aku suka, ia masih ada di depanku.

      Engkau, ada di balik tanda tanya tersebut. Bersembunyi di balik identitasmu yang tidak mudah ku kenali, cepat. Bersembunyi saja, lama-lama, bila engkau tidak sudi ku jadikan bagian dari diri. Bersembunyi saja, dan aku sudi. Meski untuk selamanya, tanda tanya pun tiada lagi, I share this all for you, sebagai salah satu dedikasi diri, untuk membuktikan bahwa engkau berarti bagiku. Meski, engkau belum menunjukkan diri. Walau engkau jauh di sana dan aku di sini.

      Kelak kita bersenyuman secerah mentari, dan ku mengerti, bahwa engkau tak hanya impi namun ada dalam kenyataan.

      Engkau tak hanya impi, namun reality,
      -Ttd-
      You and Me
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Engkau bagiku, adalah taburan huruf-huruf yang dua puluh enam jumlahnya. Memahamimu seperti proses yang ku tempuh saat merangkai huruf-huruf tersebut menjadi kata. Lalu menyusun telaten hingga menjadi kalimat. Selanjutnya mewujud paragraf-paragraf singkat.

      Tidak hanya sampai di situ, bermodalkan jumlah huruf yang seada-adanya tersebut, ku mau merangkai sebuah kisah tentangmu. Meski pelan-pelan, walau sedikit demi sedikit.

      Engkau, mau yaa, ku jadikan sebagai alasanku menemui lagi huruf-huruf ini. Huruf-huruf yang ku rangkai menjadi kumpulan bacaan yang ku sebut senyuman. Bacaan yang di dalamnya ada engkau. Makanya ku tersenyum berbunga-bunga.

      Senyuman dengan bagian-bagian bunganya yang indah. Ada sari, putik, kelopak, tangkai, batang, daun, akar dan pot-potnya sekalian. Atau, se taman penuh saja bunga-bunganya, bagaimana? Bunga-bunga yang sempurna wujudnya. Karena bunga-bunga tersebut adalah bunga-bunga yang hidup, bersamamu.

      Bunga-bunga yang menebarkan semerbaknya, hingga ke seluruh penjuru bumi. Bunga-bunga yang tidak akan pernah layu, setelah berkembang. Bunga-bunga yang tidak pernah rontok, kelopak-kelopaknya. Bunga-bunga yang terus subur, bertumbuh, menjadi bagian dari dirimu.

      Mengapa harus engkau? Ya, bagiku engkau luar biasa. Meski dengan kesederhanaanmu, keluguanmu, kepolosanmu, kejujuranmu, keberadaanmu menjadi titik poros yang ku tuju.

      Mengapa harus engkau? Supaya aku fokus merangkai huruf-huruf ini dari hari ke hari. Akibatnya, semakin bersahabat pula aku dengannya. Karena ada engkau di balik semua.

      Ya, engkau yang ada dalam hari iniku, menjadi inspirasi berikutnya. Hingga terwujud pula senyuman ini. Senyuman yang ku hadirkan atas kenangan sepanjang kebersamaan kita. Dan kini saat kita berjauhan dan berjarak lagi, ada kerinduan ku rasakan. Semudah inikah rindu menjelang? Padahal baru-baru ini kita menghiasi waktu bersama. Bagaimana bisa? Karena ada alasan yang ku temukan, untuk menciptanya. Alasanku, masih engkau.

      Engkau yang membersamaiku seharian, menjadi jodoh titipan Tuhan. Engkau yang tersenyum, mengingatkanku untuk mengembangkan senyuman lagi. Engkau yang sahaja, mengajarkanku untuk meneladanimu. Engkau yang tidak banyak bicara, kecuali sesekali saja. Engkau yang tegas, berprinsip dan inginkan kehidupan lebih baik ke depannya. Engkau yang mudah membaur, namun tidak lebur dalam pergaulan. Engkau yang anggun, penuh kesopanan. Engkau bilang, “Aku ikut dengan kakak aja, yaa. Biar samaan kita.”

      Degh. Ada sebaris ingat di ruang pikirku, berkelebat. Saat mendengarkan pintamu tersebut. Pinta dari seorang yang baru bertemu denganku, sejak pagi ini. Dan engkau, mau saja ikut-ikut denganku? Semudah itukah?

      Ai! Demi kesetiakawanan, persahabatan yang baru tercipta dan alasan kesopanan, engkau rela-rela membersamaiku, meski harus mengorbankan keinginanmu sendiri.

      Sungguh, aku salut dan menjadikanmu sebagai motivasi. Sehingga, hari ini ku bersemangat lagi dalam menyelesaikan segalanya yang belum ku tuntaskan sebelum ini. Mengerjakan dengan senang, tenang dan penuh kesungguhan. Hingga sore menjelang, kita menutup hari dengan kelegaan.

      Alhamdulillah, akhirnya kelar juga. Selanjutnya, kita berpisah, dengan senyuman yang mengembang indah di pipi masing-masing. Senyuman tanda persahabatan.

      Sedikit tentangmu yang engkau bentangkan padaku, membuatku berdecak kagum. Engkau bilang di sini, tinggal bersama sahabat dekatmu? Sahabat yang akrab sejak lama? Lama-lama ia rela menebengimu dan memberikan kebaikan?

      Sungguh, persahabatan seperti demikian yang penuh ketulusan. Saat engkau dan sahabat, saling membagikan kebaikan. Kelak di hari nanti, semoga ada balasan atas kebaikannya padamu, yaa, ku mendoakan.

      Semoga begitu pula denganmu. Jauh-jauh dari sana, ke sini, mudah-mudahan bertemu yang engkau cari. Tercapai cita dan terwujud impi. Mudah-mudahan ada banyak jalan terang untuk engkau tempuh.

      Hai, selamat berjuang, sayang. Engkau bisa. Engkau sanggup.

      Sekilas mempelajari karaktermu seharian ini, menelusuri seluk-belukmu, mendata motivasimu, tampaknya engkau bisa menjadi bagian dari aktivitas di sini.

      Aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi, semangat diri, serta kerelaan menanya lebih sering atas ketidaktahuan diri. Apa sebab? Agar pengetahuan bertambah, maka bertanyalah.

      Yah, beliau pun mengingatkan sejak awal, bukan? Beliau yang akan mempersahabatimu nanti. Beliau yang selama ini mempersahabatiku selama di sini. Benar saja, makin mau nanya atas ketidaktahuan diri, maka semakin terbuka celah untuk belajar. Ujung-ujungnya engkau, bisa sepintar beliau, bila lama-lama di sini. Bahkan bisa lebih pintar lagi, dari beliau. Asalkan mau belajar, belajar dan belajar lagi, menekuni yang engkau laksanai.

      Walau tidak bisa langsung, milikilah kemauan. Walau pun tidak lancar secepat-cepatnya, milikilah kesenangan. Meski pun belum cinta, milikilah keinginan. Sekalipun engkau akan terlelah saat mempelajari keadaan, milikilah harapan. Meskipun tidak ada jeda waktu untuk menemukan penghiburan, milikilah jadual pribadi.

      Ya, aturlah me time mu. Susunlah prioritasmu. Jadualkan kewajibanmu. Selesaikan tugas-tugasmu. Nikmati waktu-waktumu, dengan caramu. Maka, ada-ada saja yang bisa engkau senyumi, kelak. Tepat, setelah satu hari berlalu. Apakah setelah dua hari, sepekan, sebulan, akan tidak terasa, ternyata sudah setahun berjalan. Begini pun yang ku alami dan pengalamani.

      Waktu akan terasa cepat, berlalu. Masa akan terasa cepat, bergulir. Detik ke detik akan mengalir begitu saja, menyisakan kenangan tidak terlupakan, selama di sini.

      Inilah kesempatan, maka sambutlah dengan senyuman. Rengkuhlah dengan penuh perjuangan. Hadapi segala kemungkinan, hayati semua kenyataan. Dengarkan yang orang sampaikan, renungkan dengan kematangan pikiran. Jalankan yang engkau yakini. Pintalah pendapat dari yang berkepentingan.

      Jangan telan mentah-mentah segala informasi, kecuali mempelajari dan merenungkan dalam-dalam. Yang baiknya jadikan penggebrak diri untuk terus maju. Sedangkan yang kurang baiknya, engkau pun tahu. Pertimbangkanlah, teliti, pelajari, sebelum menjadi bagian dari diri.

      Sesekali, di waktu-waktu senggang, berjalanlah, setelah berdiri. Melangkahlah setelah duduk lama. Edarkan pandangan ke luar sana, untuk memperhati yang terjadi. Di sana… Ada yang dapat engkau senyumi.

      Saat pikiranmu berkecamuk oleh segala informasi yang datang silih berganti. Ketika hatimu penuh oleh emosi. Saat ragamu sulit engkau kendalikan, maka berdzikirlah, untuk memuji, menyatukan ingat, rasa dan diri.

      Allahu akbar, sungguh Allah Yang Maha Besar, dari sebesar apapun masalah yang engkau hadapi. Allahu akbar, sungguh Allah Maha Besar, dari serumit apapun isi pikiran memenuhi ingatan. Sungguh, Allahu akbar, setinggi dan sebesar apapun diri yang engkau bawa-bawa pergi. Maka merunduklah seperti padi, semakin berisi, semakin merendahkan hatimu serendah-rendahnya. Lebih baik mengalah, demi kemenangan yang sejati. Apakah yang ku maksudkan di sini?

      Terkadang, dalam waktu-waktu yang engkau tempuh, ada-ada saja yang mengobrak-abrik emosi. Maka engkau perlu mengenali. Apakah engkau pantas membiarkannya sampai di dalam hati? Atau membiarkannya tetap di tepi? Artinya, tidak engkau biarkan menggerogoti diri, kecuali engkau mengizinkan. Maka, segala yang akan terjadi, apakah berpengaruh pada sikap diri atau tidak? Engkau yang memegang kendali.

      Menjadi tahu dirilah, engkau di mana, bersama siapa dan apa yang engkau lakoni? Apakah untuk kepentingan dirimu sendiri atau ada yang engkau perjuangkan? Apakah untuk kesenangan sesaat atau bahagia hingga akhir nanti? Apakah engkau inginkan menjadi kenangan dalam memori, atau membiarkannya pergi? Semua kembali lagi pada dirimu sendiri. Engkau yang mengelola emosi diri.

      Engkau manggut-manggut ku perhati. Hai, sekarang lagi apa, di mana, bersama siapa?

      Engkau ynag terkaget saat ku tanyai begini, segera mengubah posisi. Terlihat engkau memberikan perhatian. Perhatian, untuk mengenali lebih dalam lagi, apakah maksudku dengan semua ini?

      Aku tidak ada maksud apa-apa, kecuali mengingatkan diri sendiri. Agar bergerak lagi, dalam berbagai kondisi. Supaya berbenah lagi dalam berbagai situasi. Meski pun saat ini hujan turun dengan derasnya, namun tidak mengurangi maksud hati untuk menjalani hari dengan sepenuhnya. Agar ada yang ia senyumi, lagi. Seperti kali ini.

      Meski raga lelah tidak bisa berdiri kokoh karena letih, jemari masih mau berlari. Untuk merangkai senyuman buat semesta yang ia singgahi. Demi mewujudkan selembar lagi senyuman tentang hari ini, bertemakan ‘Cinta dalam Diam’.

      Mengapa cinta? Ada apa dengan diam?

      Diam-diam, ku mencintai aktivitas yang satu ini. Yaitu, aktivitas membersamai huruf-huruf yang berserakan menjadi tersusun rapi. Mewujudkan senyuman bagi sekeping hati yang menemani dalam prosesnya.
      .

      Timbul tenggelamnya semangat dalam menempuh waktu, memang akan selalu ada, menghiasi kehidupan. Namun satu yang ku pesankan. Semoga engkau segera ingat untuk menjemputnya lagi, bangkit dan terus berjalan.

      Ya, bantu membantulah dengan diri sendiri, lebih awal. Ingat-ingatkanlah diri, sejak mula. Pandai-pandailah mendata rasa. Jangan pernah jemu menyapa diri. Persahabati ia dengan sempurna. Semoga sahabatmu tersebut, tersenyum bahagia senantiasa.

      Ya, di antara hari-hari yang akan engkau tempuh selama di sini, engkau akan temukan sebuah kejenuhan. Apa sebab?

      Karena sendirian aja. Karena sunyi. Sebab sepi. Banyak horornya saat mengingati. Ada-ada saja ujian yang harus engkau taklukkan. Dengan demikian, sedikit banyak akan menguji nyali. Apakah engkau mau menjalani?

      Oiya, ada kabar, bahagia. Semoga kondisi ini tidak berlanjut selamanya. Mudah-mudahan di masa yang engkau tempuh nanti ada perubahan, yaa. Jadi, engkau tidak perlu mengalami sebagaimana yang pernah ku jalani.

      Mudah-mudahan, kepindahan ini benar-benar terealisasi. Jadi, engkau bisa merasakan lokasi baru, dengan nuansa yang baru pula. Semoga betah, yaa dan sukses selalu.[SR]

      Dedicated to ; generasi penerusku di sini,
      -ttd-
      You and Me
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Engkau pikir ini bercanda dan masih saja? Padahal ini nyata dan benar-benar ada. Tentang kata yang tidak pernah membohongi penyampainya. Tentang suara yang tidak pernah membodohi pita suaranya. Tentang apa saja yang tidak pernah tersapu angin bersemilir. Tentang rasa yang menyisakan sesuatu tak bernama.

      Ah. Engkau masih saja bilang ini bercanda? Canda tanpa arti dan lebih baik ku diam saja? Aku yang bodoh soal cinta. Apalagi jodoh yang sudah ada dalam ketentuan-Nya.

      Akankah semua masih engkau anggap bercanda? Dengan senyuman tipis tanpa makna, engkau menoleh padaku sekilas lalu berlalu tanpa kata.

      Ah. Ini hanya perasaanku saja, memang. Aku merasa engkau sedang bercanda. Canda tanpa tanda-tanda apapun selain titik di ujungnya. Ini berarti, tidak akan pernah ada canda lagi, darimu padaku. Sebab apa?

      Aku sudah lelah oleh semua. Aku tidak bisa lagi mendata. Apakah ini memang nyata atau ilusi semata. Tentang engkau yang benar-benar ada di dalam jiwa.

      Jiwaku berkata, lanjutkan saja. Hatiku tertawa tanpa jeda. Pikirku hampa seakan lupa, bahwa kita tercipta untuk tetap bersama. Bukan malah jauh-jauhan lalu saling mengurai rasa. Bukan malah bertanya-tanya lalu saling memberikan jawaban. Jawaban versi kita, aja. Tanpa pernah tahu jawaban sebenarnya apa. Bukan malah berpandangan saja, tanpa berani bertukar bahasa. Dalam diam, engkau pun masih bercanda. Sungguh keterlaluan. Tidakkah engkau menyadari, aku di sini masih ada?

      Yah, meski ku bukan siapa-siapa. Engkau juga, bukan siapa-siapa sebelumnya. Tapi adanya jarak sering menyampaikan sapa. Supaya kita bersitatap, menuju satu sama lainnya dengan niat, bertemu lalu bersatu dalam tekad, meneruskan perjalanan hidup dari dekat. Bukan malah saling mengingat, tapi tak mampu berbuat sesuatu, ini bukan hebat. Tapi, sebentuk jalan-jalan saja tanpa tahu kita mau ke mana? Engkau engga capek muter-muter gitu tanpa tujuan di depan sana?

      Engkau, di sana. Ayo mendekat. Sampaikan padaku bahwa di dalam hatimu ada yang engkau rekat sungguh erat. Sampaikan padaku bahwa di dalam pikirmu ada yang engkau ingat sungguh padat. Sampaikan padaku bahwa dekat dengan dirimu ada yang engkau perhati sebagai malaikat.

      Malaikat-malaikat tidak terlihat, namun sangat penting bagimu. Walaupun tanpa wujud, tapi dapat engkau lihat. Sekalipun jauh, tapi bagimu sangat dekat. Siapakah yang engkau maksudkan wahai sahabat?

      Bertanyaku padamu seperti ini, bukan karena ku mau tahu segala tentangmu yang tidak terlihat. Namun menjadi penggerakku supaya tidak lama-lama berehat. Menjadi pengingatku supaya tetap sehat dan kembali melangkahkan kaki-kaki ini dengan semangattt. Ini artinya, ada yang ku jadikan alasan lagi untuk menyusun kalimat. Itulah engkau, wahai sahabat.

      Hai, tahukah engkau, setiap kata yang menjadi bagian dari kalimat, ada yang ku ingat. Satu persatu berkelebat, secepat kilat, dan ku harus jeli menangkap. Agar tidak telat, tapi sigap, ligat dan haap lalu ku ikat, menjadi senyuman. πŸ˜€

      Senyuman yang efeknya sangat dahsyat sebagai pengingat. Ingat padamu, walau kita tidak pernah dekat. Ingat padamu, sekalipun engkau tidak terlihat namun pernah dekat. Ingat padamu, meski harus jauh ku melangkah dan engkau tidak tertemukan.

      Aku tidak akan pernah lelah dan putus asa. Karena ada yang ku ingat segera, Allah Maha Melihat. Dia tidak pernah membiarkan hamba-Nya sendirian, tanpa teman, tanpa kawan. Maka Dia mempersiapkan engkau menjadi kawanku di masa depan, dengan cara-Nya.

      Jadi, engkau harus kuat. Engkau mesti hebat. Engkau tidak perlu khawatir. Di sini, aku ingat padamu. Engkau sahabatku, sahabat baik sejak ku ingat. Sahabat dekat meski tidak terlihat. Sahabat yang bertemu dan berpisah dengan satu niat. Untuk bersama lagi di masa setelah ujung hayat. Ini artinya, engkaulah sahabat di dunia hingga akhirat.[]

      Thank you, sobat,
      -ttd-
      You and Me

      Like

    • Teduh suaramu, menebarkan makna. Bening akhlakmu, meningkatkan iman. Sejuk tatapmu, menambah taqwa. Damai senyummu, meluruhkan sendu. Semoga sehat selalu, meneruskan bakti, memberikan bukti, bahwa engkau berarti sejak di bumi.

      Sedikit canda menyemarakkan suasana. Semilir angin menjadi pembuka rahasia. Ada yang engkau simpan tidak terungkapkan. Semua menjadi temanku berjalan. Terima kasih teman, untuk menjadi bagian dari kisah hidupku ke depan.

      Kesederhanaanmu, kesahajaanmu, memikat hatiku. Kesopananmu, keteguhanmu, membukakan jiwaku. Keuletanmu, kebahagiaanmu, menenangkan pikirku. Semoga rahmah-Nya menyertaimu selalu.

      Berawal dari sapa, bertukar cerita, berbagi berita, beraikan segala menjadi ada. Dari balik sikap-sikapmu, nada suara, ada banyak pesan yang engkau bagikan. Meski tak mengalir seluruhnya melalui lisanmu, namun tertangkap olehku. Sedikit demi sedikit, ku mempelajarimu dengan caraku.

      Apakah harus selalu bertemu, untuk meluruhkan rindu? Aku maunya begitu. Tapi, saat jarak masih mendominasi, ku memohonkan kepada pemilik kalbu, supaya engkau terjaga selalu. Semangatmu terus menggebu, menderu, melaju, membawamu ke pintu-pintu yang senantiasa terbuka untukmu. Termasuk pintu hatiku yang perlahan merenggang.

      Selamat datang di pelataran hatiku yang bersimbah rindu. Selamat menjadi bagian dari ruangnya yang masih luas nan lapang untuk menyambut kehadiranmu. Semoga engkau betah, menjadi bagian yang menghiasinya. Semoga, Allah meridhaimu di dalamnya, kapanpun engkau bertamu dan kita pun bertemu.

      Atas kepatuhanmu kepada dua orangtua, semoga berkah segala langkah-langkah. Atas kegigihanmu menjalankan bakti, semoga diri, hati dan pikirmu bahagia selalu. Atas kesadaranmu akan bahasa alam yang engkau baca, semoga tenteram bersama-Nya.

      “Ya, hujan dan panas, sudah menjadi hukum alam. Jadi, tidak bisa kita sangkut pautkan dengan sedih senangnya seseorang, bahagia dukanya seseorang. Kalau pun kebetulan, tidak untuk menjadikannya alasan,” bisikmu menenangkanku, meluruskan, mengembalikan ingat. Bahwa ada aturan Allah di balik semua musim, pertukaran cuaca dan pergantian waktu. Terima kasihku padamu, doaku menyertaimu selalu.[CS]

      Engkau inspirasi, engkau motivasi,
      -ttd-
      You and Me

      Like

    • “Yaniii, yani,” bisikmu di sela suara yang serak-serak syahdu. Suara sedikit berat, dan terdengar merdu di telingaku. Suara yang baru pertama kali ku dengar selama usiaku. Suara khas yang menyejukkan kalbu. Suara yang tenang mendamaikan rinduku agar tak meletup-letup, tapi tertata.

      Wahai engkau yang ada di sana. Dapatkah engkau menjadi bagian dari waktu-waktuku yang berliku dan penuh pilu? Maukah engkau menjadi bagian dari hari-hariku yang berselubung haru? Akankah engkau menjadi bagian dari perjalanan hidupku yang berliku-liku?

      Yah, tidak selalu mulus, memang masa-masa yang ku tempuh. Karena ada saja belokan dan atau tanjakan yang muncul di depanku, saat melangkah. Ada-ada juga onak duri dan kerikil yang mencoba mengambil alih perhatianku. Bahkan sepercik dua percik airmata langit seringkali menetes di pundakku. Apalagi sinar mentari saat menyengat, ia akan mencubiti kulitku, huhuhuu.

      Tapi tenang, teman. Ada saja jalan-jalan yang membentang untuk ku tempuh. Tidak melulu di jalan-jalan berbatu, berkerikil, berbecek-becek atau penuh debu. Karena yang namanya pilihan, tidak meninggalkanku atau ku tinggalkan begitu saja. Makanya, ia sering mengikutiku. Lalu memberikan senyuman manisnya padaku. Senyuman yang ku kemas sangat rapi, di ruang kalbu. Entah bagaimana kondisi di perjalanan dengan segala cuacanya yang tidak menentu.

      Ya, engkau akan tenteram bersamaku. Kedamaian menyertai kita selalu. Rukun dan adem insyaAllah dekat di sini. Lantas, akankah engkau berlalu begitu saja sebelum sempat ku sapa?

      Apakah engkau tidak mau mencoba barang sehari dua hari, duduk-duduk di teras rumahku, lalu kita bertukar suara tentang rindu. Rindu yang kembali terasa, makanya ku ke sini. Agar engkau pun tahu, bahwa engkaulah yang ku rindu. Menyelimuti hatiku dengan sempurnanya, menitipkanku kelembutannya, dan aku pun bercakap dengannya. Rindu bilang, temuilah sesiapapun yang engkau rindu, dan tersenyumlah saat menyampaikan padanya tentang aku. Aku yang tidak berwujud, namun ada.

      I miss you, sure,
      -ttd-
      Me without You
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Engkau takut di ketinggian? Sejak kapan? Apakah engkau sudah mencoba lagi berangkat ke tempat-tempat tinggi yang engkau takutkan tersebut? Cobalah, engkau akan menemukan kesan dan pesan di sana.

      Ya, sesekali, berangkatlah ke tempat-tempat yang engkau takuti. Sesekali tinggalkan jejak-jejak kakimu di sana. Walau gemetaran dan engkau merasa tidak sanggup menahan takut. Karena sesungguhnya, ketakutanmu hanya perasaanmu saja.

      Ya, bergeraklah menuju ketinggian dan rasakan sensasinya. Karena ada pemandangan yang tidak pernah terbayangkan olehmu, menghampar indah di depan mata. Engkau akan tersungkur, malu, karena menyadari diri, selama ini engkau ke mana aja?

      Ya, dari ketinggian, engkau dapat memperhatikan rupa pemandangan dari atas sana. Tanpa engkau rencana, engkau akan tersenyum penuh kelegaan. Tersenyum saja, lebih sering, lebih bening, lebih hening. Seraya menikmati semilir angin menepi di pipi, senyumanmu menjadi penuh arti. Senyuman yang engkau artinya versimu, bermakna penting.

      Mengapa senyuman hadir? Karena baru menyadari, ternyata engkau tidak perlu memelihara ketakutanmu selama ini. Engkau tidak perlu menjaganya ke manapun engkau pergi. Termasuk ke tempat-tempat tertinggi yang engkau takuti. Kecuali engkau mau, tidak memperoleh kesan penting tentang ketinggian.

      Ya, engkau yang hanya membersamai ketakutan tidak beralasan? Dengan mengemukakan alasan asalan, teman. Lalu menjadi nyaman di posisimu sekarang, tidak mau mencoba mendaki?

      Hei, aku bukan menceramahimu, namun mengingatkan diri sendiri. Supaya ia mengambil pelajaran dari yang ia alami. Sebagai kenang-kenangan tak terlupakan, tentang ketakutannya. Hanya mengingatkan diri, tapi dengan cara begini. Alasan apa? Supaya ada yang mendapatkan inspirasi juga, dengan ku bagi seperti ini. Semoga engkau sudi, wahai selain diri.

      Mudah-mudahan engkau tersenangkan, dengan tema kita kali ini. Ku berharap engkau tetap betah, di ruang rinduku ini. Supaya antara engkau dan aku, kita, sama-sama saling mengingatkan. Karena tidak ada yang berhak merasa dirinya tinggi, di sini. Kita semua sama, hanya taqwa pembeda kita, yaa. Setuju, yaa.

      Yaa. Mari kita lanjutkan tentang ketakutan ini. Bagaimana selanjutnya?

      Sampaikan pada diri segumpal motivasi. Alirkan pada diri, semua inspirasi yang terpetiki. Dalam pertukaran informasi-demi informasi yang melibatkan engkau ada di dalamnya.

      Engkau kuddu menyampaikan padanya, “Kalau dia bisa, bagaimana engkau engga? Kalau mereka menemukan pesan dari lokasi yang engkau takutkan, bagaimana engkau engga? Makanya, menujulah pada ketakutan tertakutmu sekalipun. Beranilah. Sebab tidak ada keberanian, maka selamanya ketakutan akan membuntutimu, mengikutimu, lalu kapan beraninya?”

      Ingatan tentang hal ini, hadir dalam pikirku, sepanjang kebersamaan kami hari ini. Aku dan seorang teman yang beraktivitas bersama, menjalani waktu seharian. Seorang teman yang akan menjadi penerusku di sini. Seorang perempuan muda, tidak sebaya denganku. Tapi, kami akhirnya berteman, bersenyuman, menempuh waktu penuh kesungguhan.

      Waktu yang mempertemukan kami di sini, sebuah tempat yang biasa ku sebut ‘Ruang Sukses’ ini. Semoga kesuksesan yang ku rasakan selama di sini, ia pun merasakannya, aamin. Mengapa? Sebab ia masih muda. Berbeda denganku yang sudah bukan ceria lagi. Akan tetapi. Kami akhirnya berteman, yaa, berteman.

      Pertemanan kami baru terjalin, sejak sepekan terakhir. Pertemanan atas izin-Nya yang mempertemukan kami di sini. Pertemanan yang mudah akrab, karena kami serasi. Sehingga, jauhnya kami lagi setelah sore menyapa, membuatku rindu kebersamaan kami. Makanya, di bawah langit malam berbintang ini, ku tersenyum bersama rindu padanya yang bertebaran.

      Rindu, ya, ku akan merindukan lagi kebersamaan kami, tidak hanya hari ini. Namun kelak di nanti-nanti, rinduku ada untuknya.

      Engkau teman, terima kasih yaa. Atas segalanya, termasuk ingatan yang hadir dalam pikirku, melaluimu. Ingatan untuk menghadapi ketakutan yang ku takuti, ketinggian. Padamu pun terukir dedikasi diriku hari ini, semoga engkau semakin rendahkan lagi hatinya, berangsur-angsur seiring perubahan diri. Sebab, berubah ke arah kebaikan, ini penting sekali.

      Jadi, sudah terpetik kan ya, teman. Intisari dari catatan kecil yang ku bagi kali ini. Yaitu tentang berbakti pada orang tua. Lha, apa hubungannya? Mari kita kupas sebersih-bersihnya. Supaya ada yang menikmati sendunya sendirian. Siapa lagi kalau bukan aku? Makanya ku mampir di sini, mengurai rindu yang sempat menepi.

      Rindu yang ku hirup sedalam-dalamnya, lalu mengalir ke dalam diri. Selanjutnya, menjadi bagian dari diri, untuk ku rasakan alirannya ke seluruh nadi. Rindu kebersamaan kami, lagi. Aku yaa beginilah.

      Merindumu, begini judul lirik yang ia putar di sepanjang kebersamaan kami dan aku suka, ia juga, makanya memutarnya,
      -ttd-
      Me without You
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Bila cemburu itu ada, maka tempatkanlah ia pada lokasi yang sesungguhnya. Untuk memuliakan cinta dan orang yang kita cinta, bukan mengekangnya tanpa alasan. Karena cinta adalah kebebasan. Kebebasan yang bertanggungjawab. Hingga mampu membawa orang yang cinta hinggapi, menjadi dirinya yang sejati.

      Bersama cinta, ia melakukan yang terbaik dari dirinya. Bersama cinta, ia mengelilingi dirinya dengan kebaikan. Dan dengan cinta, kebaikan demi kebaikan datang padanya. Cinta yang membahagiakan jiwanya, lebih lama, lebih sering, lebih banyak. Itulah cinta yang sebenarnya.

      Bila cemburu itu ada, maka bebaskanlah orang yang engkau cinta dengan memberinya tanggungjawab atas cinta yang engkau titipkan padanya.

      Ya, bebaskan ia menjadi dirinya yang engkau mau. Bebaskan ia seperti engkau membebaskan dirimu yang ia mau. Maka, tidak akan ada yang namanya kejahatan atas kehadiran cemburu, namun kebaikan demi kebaikan.

      Bila cemburu itu ada, maka tempatkanlah dirimu menjadi orang yang engkau cemburui. Sanggupkah engkau menerima perlakuanmu padanya, bila perlakuan tersebut ia sampaikan juga padamu? Beginilah cara mengukur cinta, saat cemburu menyapa. Supaya cintamu padanya tidak buta, karena cemburu. Namun cinta yang membukakan mata hatimu, untuk memperhati yang tidak terlihat mata. Semoga, cemburumu bermakna.

      Bila cemburu itu ada, peluklah erat cintamu agar tidak terbakar oleh api cemburu. Rengkuhlah cintamu supaya tidak tenggelam dalam lautan cemburu. Jagalah cintamu, simpanlah di tempat yang lebih tinggi, perlakukan dengan lebih berbobot dan jangan biarkan cintamu merendahkanmu, oleh kecemburuan.

      Bila cemburu itu ada, maka kehadirannya untuk menyapa dan mengingatkanmu. Sejauh apa engkau bisa bergerak, tanpa cinta yang menggerakkan. Sedekat apa engkau mengenal diri, tanpa cinta yang mendekatkan. Semampu apa engkau bertahan, tanpa cinta yang engkau pertahankan. Seperti apa engkau berusaha, tanpa cinta yang engkau usahakan. Dan bagaimana engkau meyakinkan diri, bahwa cintamu tidak terbagi, sebagaimana yang engkau cintai tidak membagi cintanya.

      Bila cemburu itu ada, maka perlakukanlah cemburumu dengan romantis, bukan bengis. Sampaikan pada hatimu supaya tetap klimis, sehingga ia tidak mudah menangis. Ungkapkan yang engkau rasa, karena rasa tidak terlihat. Pikirkanlah sekali lagi, betapa selama ini engkau berjuang mati-matian demi cinta yang manis. Jadi? Senyumi rasa cemburumu, maka ia pun tersenyum padamu. Karena sesungguhnya ia hanya perasaanmu saja, prasangkamu semata, hanya perkiraan saja.

      Bila memang cemburu itu ada, semestinya engkau lebih mengenali, siapakah yang engkau cemburui dan seperti apa mencemburuinya. Apakah hanya urusan dirimu saja atau demi kebahagiaan bersama? Apakah hanya mementingkan ego diri, atau engkau mampu bertoleransi dengan dirimu? Agar cemburumu lebih beralasan. Tidak hanya memperturutkan kemauan diri, tanpa bukti dan kejelasan. Tanpa konfirmasi dan klarifikasi pada yang engkau cemburui. Tabayyunlah.

      Bila memang cemburu itu ada, semestinya engkau semakin mengenal diri, bukan tidak mengenalinya lagi. Seharusnya menambah bahagiamu bukan malah menggerogoti hati atas hadirnya cemburu. Sebaiknya membuatmu segera menanya diri, bukan menemukan jawaban asalan tanpa pertanyaan. Selamanya, engkau semakin mudah mengingatkan diri, bukan malah sebaliknya.

      Bila memang cemburu itu ada, engkau mestinya bersyukur atas cinta yang engkau bawa. Bersyukur pada Pemilik cinta, karena-Nya semua ada.

      Jaga dirimu baik-baik, saat cemburumu menyapa. Tempatkan dirimu pada lokasi tertinggi, dan pandanglah ke bawah, ada apa di sana?

      Engkau tidak perlu merendahkan dirimu sendiri oleh cemburu yang ada. Karena cemburu yang sesungguhnya, memuliakanmu, meninggikanmu, meningkatkan kualitasmu, mengangkatmu, bukan sebaliknya. Karena cemburu yang seharusnya, menjadikanmu teladan bukan terhina. Karena cemburu yang sejati, membuatmu semakin giat, membuktikan bahwa engkau berarti.

      Bila cemburu itu ada, maka ingatlah, siapakah yang pantas engkau cemburui? Bagaimana memperlakukannya saat cemburu mengelilingi diri? Tenang, tenangkan diri, sapa hati, tanya pikir, lalu…

      Bersabarlah, karena bisa saja cemburumu adalah salah satu cara syaitan untuk menjerumuskan. Ingatlah, Allah Maha Melihat, percayakan dirimu dengan keyakinan berlebih kepada-Nya. Untuk menjagamu selalu, meski saat cemburu meraja jiwa. Agar engkau tidak berbuat gegabah yang berakibat penyesalan di ujungnya. Namun tetap bertaqwa, penuh kehati-hatian dalam menyikapi cemburu. Agar di ujungnya senyuman menebar indah. Karena ternyata, berbaik sangka sungguhlah indah. Sedangkan berburuk sangka, hanya awal dari masalah. Begitu, yaah. ^^

      Yah, cemburulah dengan elegan, berkelas, dengan kemuliaan, dengan bermartabat.

      Catatan ini hadir, sebagai pesan dari salah satu siaran televisi yang membahas tentang hubungan dengan selain diri. Judulnya apa yaa? Tadi aku nonton aja, trus tulis-tulis sepanjang tayangan berlangsung. Untuk mengingatkan diri, lebih awal. Semoga, bermanfaat dan berhikmah yaa teman.[]

      With love,
      -ttd-
      You and Me
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Sukses, Semangat, Sehat

      Tips sukses adalah semangat.
      Tips semangat adalah sehat.
      Tips sehat adalah sukses.

      Sukses, semangat dan sehat adalah lingkaran keadaan yang saling mendukung satu sama lain. Tanpa salah satunya, maka akan terjadi ketimpangan dengan yang lainnya.

      Tentang sukses, berbeda orang berbeda pula cara mengartikannya. Sebab sukses bagi sebagian orang belum tentu sukses bagian sebagian orang lainnya. Jadi, kembali lagi pada pribadi masing-masing dalam mendefinisikan suksesnya.

      Bagiku, bisa berekspresi lagi hari ini adalah sukses yang selama ini ku perjuangkan. Sukses yang ku capai hari ini, tidak terjadi begitu saja. Namun membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar. Lama, sangat. Bahkan lebih dari sepuluh tahun, baru tercapai. Sukses yang mengajakku tersenyum membersamainya. Karena ia sudah ada di dalam waktu-waktuku. Sehingga, ku jalani hari-hariku bersamanya, sukses yang selama ini ku damba saja. Sedangkan saat ini, sudah menjadi nyata.

      Apakah sukses yang ku maksud dengan ekspresi? Ya, berekspresi saja semampu yang ku bisa. Bila ku sedih ya, aku mengekspresikan kesedihanku. Tanpa perlu malu dan takut ada yang menghina dan menjelekkanku karenanya. Dan aku sangat menikmatinya. Aku enjoy melakukannya, tanpa halangan dari siapapun. Aku bebas mengekspresikan diriku tanpa ada yang menghalangiku. Ini adalah suksesku yang sejati.

      Selain itu, termasuk juga bagian dari ekspresiku adalah mampir di sini. Hai, ngapain lagi memangnya, Yan? Untuk menepikan ekspresiku dalam sehari. Ekspresi yang ku jelaskan sebelum ini. Dengan membagikannya seperti ini, hidupku lengkap sudah. Sehingga tidak ada lagi yang perlu ku cari. Tidak ada lagi yang kurang. Karena semua ada dalam hari iniku. Apakah ada yang mengetahui ekspresiku dalam sehari, atau cukup diriku saja yang tahu. Semua membuatku tenang.

      Apalagi kalau ku mampu menyuarakan ekspresiku lebih sering lagi. Pada siapapun yang ku mau, ke mana pun ku mau. Maka, menjadi sukses terbesar bagiku, yang tidak dapat tergantikan oleh materi sebanyak apapun. Tidak ada yang mampu menukarnya.

      Nah, bagaimana caraku mensyukurinya, sukses yang ku maksud? Membagikannya adalah pilihan. Supaya lebih banyak lagi kelegaan di tengah lega yang ku rasakan. Agar semakin banyak lagi kebahagiaan menyelimuti, di tengah bahagia yang ku hayati. Agar ada yang turut menyelami pengalamanku atas bahan-bahan pengalaman yang ku kemas rapi dalam file kenangan.

      Semoga, semua tetap berharga, sekalipun hanya satu orang yang ada di balik sukses yang ku rangkai. Semoga tetap bertebaran, bertaburan, walaupun hanya pada seorang yang menjadi latar belakangku terus menyebarkan kabar tentang suksesku. Apakah dalam bentuk cerita yang ku rangkai bersama senyuman, atau hanya barisan-barisan kalimat tak bertuan, yang selanjutnya akan berserakan begitu saja, sebelum ada yang memungutnya. Tidak mengapa.

      Semangat. Semangat adalah satu kata yang senantiasa menemani, di belakang layar sukses yang ku kembangkan. Bersama semangat, ada yang menarik-narikku tetap bertahan di tengah tekanan. Dengan semangat, ada yang meringankan keberatan di tengah perjuangan.

      Semangat ada di dalam usaha demi usaha yang tidak pernah tertinggalkan. Meski ke mana pun ku bersinggah. Sekalipun ke tempat sunyi nan sepi tanpa suara-suara di sekitaran. Walau ku pernah hadir di kegelapan, tanpa penerangan. Semangat menjadi bagian dari cahaya yang menerangi kebuntuan pikiran.

      “Asalkan engkau tidak henti, aku senantiasa meneman sampai di tujuanmu,” bisiknya penuh ketulusan.

      Semangat yang tidak berwujud, namun sangat berarti kehadirannya, bagiku. Semangat yang mendobrak energi untuk tetap berkobar dari dalam diri, menyala, menghangatkan kebekuannya. Semangat yang senantiasa ada, dalam berbagai keadaan.

      Sehat, adalah salah satu pesan yang engkau sampaikan padaku, saat kita berjauhan.

      “Tolong jaga kesehatan, badan, hati dan pikiran selagi ku jauh darimu seperti ini. Apalagi saat kita berdekatan, semoga semua senantiasa dalam kondisi penuh penjagaan, yaa,” engkau menekankan.

      Penekanan yang mengingatkanku untuk segera mengembangkan senyuman. Ya, tersenyum saja, walau tidak akan pernah terlihat olehmu. Tersenyum saja, untuk membuktikan bahwa aku sungguh bersyukur dengan yang engkau sampaikan.

      Syukur sebagai rasa yang tidak terungkapkan dan engkau pun tahu, kan? Betapa, selama ini terbayangkan pun tidak sama sekali, akan menerimanya darimu. Padahal engkau siapalah, bagiku.

      Kita yang dipertemukan oleh waktu dan keadaan. Keadaan yang membuat kita perlu terus saling melayangkan ingatan. Untuk saling menjaganya, selalu dan selamanya. Kesehatan yang juga tanpa rupa dan raga. Namun kehadirannya atau ketiadaannya sangat berpengaruh pada aktivitas yang kita lakukan.

      Ya, sebentar saja ia berjarak dengan diri, maka kita akan kewalahan. Kita akan kehilangan banyak kesempatan, peluang dan kemudahan-kemudahan. Namun dengan kesehatan yang menjadi bagian dari diri, hati dan pikiran, banyak yang bisa kita lakukan. Selagi ada kemauan, maka kesehatan membantu kita menjadi kuat dalam kelemahan. Kesehatan ada di depan, mengajak kita terus berjalan. Dengannya, ada senyuman penuh yang kita tebarkan pada seluruh alam.

      Saat hati sehat, tidak sakit-sakit, maka prasangka kita baik pada siapapun. Ketika kita mendeteksi kondisinya dalam berbagai waktu, maka kita tahu, kapan ia sehat dan kapan dalam kelelahan. Saat ia sakit, segalanya jadi runyam dan buram. Saat hati dalam kondisi prima, segala kemungkinan muncul di hadapan.

      So, jaga-jagalah hati yang kita bawa-bawa. Ia adalah bagian dari diri kita. Hati adalah poros segala laku dan perbuatan kita. Bila ia terkondisikan, insyaAllah, banyak senyuman yang kita pertukarkan dengan alam-Nya yang megah ini.

      “Bila hati bersih nan bening, ia akan menyampaikan kejujuran demi kejujuran nan menenteramkan. Ia akan menjaga kita, sebab kita menjaganya. Ia mengingatkan kita, sebab kita mengingat kondisinya, selalu. Sehingga hati menjadi penasihat yang tidak membiarkan kita sendiri, melanjutkan perjalanan hidup ini. Setelah kita mengenalinya, dan menjadikannya sebagai teman. Buktikanlah wahai teman. Hidupmu akan berhikmah penuh kemulusan.”

      Jauh dari mata, memang. Namun hati ada di dalam dada. Ia pun bisa jauh, kalau tidak kita kenali sebagai teman. Hati yang terjaga, akan menjaga.

      Begitu pun dengan pikiran. Pikirkanlah yang sanggup engkau pikirkan, tanpa berlebihan. Apalagi memikirkan yang berada di luar kendalimu sebagai insan, manusia. Pikirkanlah hasil ciptaan-Nya, untuk meningkatkan keimanan dan menambah ketaqwaan. Pikirkanlah solusi dari permasalahan, dengan terus melibatkan-Nya, Allah Yang Maha Menentukan segala keputusan. Pikirkanlah, bagaimana cara lebih baik dari dirimu yang sebelumnya, agar engkau mendapatkan keberuntungan.

      Buktikan hasil pikirmu menjadi sikap dan perbuatan. Lakukan, jalankan dengan semangat. Sukses menantimu. Kesehatan jiwa, raga dan pikiranmu bukan hanya impian, namun kenyataan.[]

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Hari ini kita berjumpa kembali. Bersapa, bersama, menghiasi masa dengan ceria. Bercengkerama saling membagi bahagia. Bertukar cerita saling membagi berita. Bersenyuman penuh makna, melalui lirikan mata. Berganti ekspresi selama-lama yang bisa kita upaya. Karena hari ini tidak akan terulang lagi, sama serupa dengan hari-hari yang akan datang. Dan kita tahu, semua menjadi ingatan sebagai kenangan, kelak kita kembali berjauhan.

      Hari ini ku terbahagiakan oleh kehadiranmu yang tidak ku sangka. Engkau yang sudah ada, tanpa ku perkirakan, membuat wajahku terceriakan, segera. Engkaulah my roommate yang beberapa hari terakhir jauh di sana. Namun hari ini, berada di depan mata, sungguh aku bahagia.

      Sejak bertemu lagi ku bertanya kabar keluarga di sana. Lalu engkau bercerita, sesekali mengerjapkan mata, sesekali menggerakkan tangan, sesekali kita berpandangan. Sungguh, engkau semakin mengesankan. Setelah lama tidak bersama, engkau punya banyak cerita, yaa. Cerita yang engkau bagikan, sungguh membuatku ingin pula bercerita. Lalu, kita pun berganti kisah.

      “Hai, Scatzy, kakak mau bilang, kalau bulan ini adalah terakhir di sini,” ku pandangi matamu yang segera berkedipan.

      Di sana, ada airmata yang engkau tahan, sehingga berkaca-kaca keadaannya.

      “Bagaimana bisa?” Engkau bertanya dengan suara yang engkau paksakan.

      “Karena untuk sebuah urusan, jadi kita akan berjauhan,” ku menjelaskan padamu, sesuai yang ku mampu, dengan suara pelan untuk meyakinkan. Semoga engkau paham wahai teman. Dan kemudian, tidak tersedihkan. Namun menyambutnya dengan senyuman.

      Sedikit bertukar kabar di awal pertemuan kita, lagi. Ada yang bisa ku baca dari sorot matamu dan nada-nada suara yang mengalir melalui bibirmu. Sedangkan suaramu masih seperti biasanya, sungguh tenangnya.

      Iya, ku percaya, pasti ada duka di dalam jiwamu. Iya, ku percaya, tentu ada luka di dalam hatimu.
      Akan tetapi, ku berharap hingga ujung kebersamaan kita nanti, kita lebih sering bersenyuman. Untuk saling menebarkan kekuatan. Sehingga tidak menghabiskan waktu yang tersisa sepanjang kebersamaan dengan kesedihan, tapi membersamai kebahagiaan.

      Iya, ku tahu engkau tak rela, teman. Akan tetapi sudah menjadi ketetapan-Nya. Sebagai bagian dari jalan hidup yang mesti ku lalui. Jadi, demi kebahagiaan semua, ayo kita jadikan detik-detik waktu yang tersisa semakin penuh kenangan.

      Apakah sudi atau tidak sudi, perpisahan akan tetap terjadi. Makanya mengembalikan pada inti penting pertemuan semoga membuat kita teringatkan tentang kesabaran dan ketegaran saat menjalani perpisahan, yaa. Ini adalah untuk mengingatkan diriku lebih utama agar ia tabah dan teguh. Meski airmata siap runtuh, jatuh.

      Ya, keadaan apapun yang ku jalani, menjadi ingatan bagi diri. Supaya ia mau memetik makna yang terselip di dalam berbagai keadaan tersebut. Dengan harapan, ia dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tetap melakukan yang terbaik dari dirinya, sebagai temanku selamanya. Meski kami pun akan berpisah setelah bertemu dan menjalani kebersamaan selama di dunia. Perpisahan raga dan jiwa, kelak akan tiba masanya. Perpisahan yang sudah tentu akan kami alami juga, meski tidak tahu kapan? Perpisahan, ya, perpisahan.

      Sebelum hari itu tiba, kami masih bisa berbaikan, dalam berbagai keadaan. Termasuk saat perpisahan dengan teman, akan ku jalani. Semoga menjadi kekuatan tambahan bagi hatiku, hingga ia tidak tenggelam dalam kesedihan atas perpisahan. Makanya, kami saling menyapa lagi. Sapaan yang mendekatkan kami dengan sesiapapun yang kami ingat. Walau jarak sudah akan membentang tidak lagi terukur jauhnya. Seperti dalamnya hati, siapa yang tahu. Sweet, sweet.

      Dari mata, kita boleh berjauhan, raga. Namun di dalam doa, kita masih dapat saling menyapa. Sapaan yang akan sampai pada satu dengan lainnya, melalui perantara-Nya, Yang Maha Menggenggam hati. Jadi, memberikan perhatian pada hati dan pemiliknya hati, mendekatkan kita yang berjauhan. Sebab, pertautan hati kita, atas izin dari Allah Yang Maha Mendekatkan yang Jauh, dan menjauhkan yang dekat. Semua terjadi, dengan izin-Nya.

      Selanjutnya, ketika hati kembali mendamba pertemuan dengan beliau-beliau yang selama ini berjauhan, berdoalah wahai diriku. Sapa beliau semua dalam doa-doamu, rasakan pertemuan terjadi lagi, berlangsung dengan sebaik-baiknya. Doa yang engkau lantunkan pada beliau semua, walau tanpa suara, meski hanya melalui lirih di tengah sunyi, gulita, dan tanpa sesiapa yang mengetahui. Namun Ada Yang Maha Tahu. Doa-doa yang engkau sampaikan pada beliau semua, akan kembali padamu. Innallaaha ma’ana. Tersenyumlah…[]

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Telah tersusun indah, rerangkai kisah, setiap insan para hamba Allah. Tentang jodohnya, takdir baik dan buruk, jalan rezekinya dan batas usianya, tercatat sudah. Sehingga tidak ada yang tahu, kapan akan bertemu dan berpisah. Dengan siapa akan berjumpa atau sebaliknya.

      Sungguh sudah terdata dengan indah, bahkan sebelum setiap insan ada. Sudah rapi dan jelas, menarik, menawan nan unik. Sehingga, bagaimana diri menjalani kehidupan yang masih tersedia ini?

      Apakah lebih sering bersyukur atau menyabari? Apakah gelisah, gundah merana atau tenang tenteram nan mendamaikan?

      Lalu, kepada siapa tertumpah? Segala gundah? Di mana akan tergudangkan? Semua resah? Ke mana akan melangkah?

      Sungguh. Jangan sampai engkau menjauh, setelah kita berdekatan. Karena bagiku, sungguh tidak mudah menjalaninya, tanpamu. Apalagi untuk berpisah setelah kita berkenalan, bertemuan, dan bersama.

      Yaa, sedapat mungkin, jaga aku tetap ada menemanimu. Meski pun hanya harapanku, jagalah engkau tetap membersamaiku. Sehingga aku, merasakan lebih dekat dan selalu begitu, denganmu. Bukan malah sebaliknya. Apa sebab?

      Aku mau, semakin banyak kenangan, pesan, kesan, tentang kita. Ya, ini adalah tentang kita. Kita yang masih dan selalu bersama, selamanya. Apapun alasannya, serumit apapun kondisi kehiduanmu sebelumnya. Namun, setelah engkau tahu aku ada, maka tidak mudah bagimu meninggalkanku begitu saja, bukan? Beginilah alasanku melipir sejenak lagi, di sini. Karena memang tidak mudah pun bagiku, untuk melupakanmu begitu saja, seperti pintamu.

      Nah, kalau kita sudah sama-sama tidak mudah menjalani waktu bila tidak bersama, engkau dapat memikirkan solusinya. Bagaimana cara agar dapat selalu bertemu, meskipun raga berjarak tak lagi sedepa? Solusi yang sudah ada, sejak kita belum ada. Solusi yang mengingatkan kita untuk bersegera merengkuhnya. Solusi yang membuat hari-hari kita terceriakan, tercerahkan, dan engkau dapat move on, dariku. Yuups.

      Solusinya adalah, doakan aku dengan khusyukmu. Lantunkan pintamu atasku, kepada-Nya Pemilik diriku. Memohonlah, segalanya yang engkau inginkan untukku, melaluimu. Walau tidak langsung, kebaikanmu sampai padaku, ada kebaikan-Nya yang senantiasa mengalir padaku. Lalu, menangislah atas ketidakmampuanmu, tanpa kekuatan dari-Nya, untuk membaikiku. Supaya engkau menyadari, bahwa tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah semata. Maka, usah membangga diri, mengedepankan kemampuannya sendiri, tanpa melibatkan Allah dalam setiap urusanmu. Sungguh.

      Bersungguh-sungguhlah… Kesungguhan yang membuatmu tidak mudah merubuhkan tubuh, mengeluhkan atas segala yang terjadi di luar keinginan diri. Dengan begini, engkau semakin yakin, bertambah keimananmu, semakin percaya engkau, bahwa Ada Yang Maha Mengatur segalanya, untuk engkau tempuh, lalu bersujudnya, merendahkan diri, hati, dan teruslah bertumbuh.

      Pertumbuhan yang membuatmu terus menjulang, meninggi, merengkuh asa, menjemput cita, meraih harapanmu, dengan tetap bersungguh-sungguh. Sehingga tidak lagi mudah mengeluh, menyalahkan, apalagi mencari-cari pembenaran diri sendiri, atas segala perbuatan.

      Bukan, aku bukan menceramahimu, namun mengingatkan. Mengingatkan diri sendiri lebih awal. Supaya ia bercermin darimu, sebagai salah seorang sahabatnya, teman, kawan yang pernah bertemu dengannya di dalam perjalanan hidup ini.

      Engkau yang tidak akan pernah tergantikan dengan apapun, bagi diri ini. Terima kasih ya, untuk hadir beberapa saat dalam waktu-waktu yang ku tempuh. Menjadi sahabat meski dari jauh, lebih akrab walau tidak tersentuh, tetap istiqamah, yah, semoga tertemu segalanya yang engkau cari.

      Tetaplah menjauh, dariku. Menjauh tanpa dekat lagi, dan tidak hanya raga. Namun dalam ingatan pun sama. Apalagi jiwamu, biarkan ia jauh dariku, tidak mengapa. Agar engkau dapat melangkah lebih jauh, bergerak lebih utuh, tersenyum penuh. Apakah bisa? Sanggup?

      Laahaula walaa quwwata illaabillaahil’aliyyul’adziim. Tiada daya dan kekuatan tanpa pertolongan dari Allah. Agar engkau tak lagi angkuh, bila ia sempat menyapamu dan tersamarkan melalui bahasa tubuh, penglihatan, atau ucapan yang tidak berwujud.

      Bukan. Aku tidak bermaksud membuatmu terlihat angkuh. Justru untuk mengingatkan diriku sendiri, lebih awal. Agar ia mau berendah hati, menurut apa mau-Nya untuk diri, tanpa sedikitpun embel-embel untuk merasa diri tinggi, atau mengharapkan puji, apalagi takut dengan caci. Kalau cacing sih boleh ia takuti, biar tidak cacingan. Nanti kesehatan terganggu, tanpa kelihatan. Banyak-banyak makan, tidak bertambah kekuatan dan berpengaruh pada kesehatan. Makin lama badan semakin tidak kelihatan, lalu apa yang terjadi kemudian? Jangan bayangkan.

      Bayangkanlah kebaikan demi kebaikan, sebelum engkau menjalani keadaan. Hatta yang ada di luar rencana sebagai insan. Bayangkanlah hari-hari yang berkesan dengan senyuman saat menjalaninya. Tentang banyaknya kesempatan untuk menyampaikanmu pada kebaikan berikutnya. Tentang menyemutnya tantangan untuk engkau taklukkan. Tentang hari-hari yang tidak pernah terbayangkan sama sekali, jalanilah dengan ketulusan, keikhlasan, penuh keyakinan, ada kebaikan di dalamnya.

      Sungguh, banyaaaaak kebaikan yang akan menaungimu, teman. Sungguh, banyaaak kejutan demi kejutan yang akan engkau tempuh, teman. Apa alasan? Menjadilah jiwa yang penuh ketundukan. Menjadilah diri yang yakin dan percaya, kepada Tuhan. Menjadilah pribadi beriman yang segala perkara adalah baik baginya. Ada saatnya menghadapi dengan kesabaran, ada masanya menghiasi dengan kesyukuran. Lalu temukanlah keajaiban demi keajaiban dari-Nya, yang tidak pernah engkau duga. Sungguh, mengharukan segala rencana Tuhan. Dia Allah Yang Maha Berkehendak, mudah saja membolak-balik setiap keadaan, sesuai ketentuan-Nya. Allahu Akbar.

      Perteguh keyakinan, tingkatkan keimanan, jaga keistiqamahan, bersamai harapan dengan senyuman, lepas segala beban dan kepenatan dengan tulisan-tulisan ringan. Semoga berhasil kemudian, menjadi jalan hadirkan harapan berikutnya. Dengan demikian, kehidupan yang engkau jalani menjadi lebih mengesankan, penuh senyuman, bersama teman, kawan, sahabat dan handai taulan.

      Ingat, ingatlah, bahwa engkau tidak pernah sendirian. Kapanpun, engkau berteman. Pertemani diri, sebagai awalan. Pertemani selain diri, sebagai akhiran. Artinya, pertemanan dengan diri dan selain diri adalah imbuhan dari sebuah kata hidup, menjadi ke-hidup-an.

      Hiduplah dan menghidupkan hari, bersama teman-teman terpilih. Tetap jaga persahabatan, meskipun melalui ingatan. Sekalipun engkau tidak bertemu dengan sesiapapun yang engkau ingat. Ingatlah teman, hal demikian sungguh berkesan, memesankan. Allahu Akbar.

      Terima kasih, untuk perkenalan. Perkenalan yang mengajarkan kita arti perpisahan. Untuk apa? Supaya kita menyadari, Allah Yang Mengatur segalanya, untuk kita. Maka ingatlah, dengan mengingat Allah, engkau tenteram…

      Ya Allah Yang Maha membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati ini…
      Yaa muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘aladdiinik.

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Mama, engkau memang segera percaya, dengan segala yang ku kata. Sebab apa? Apakah karena engkau sudah berpikir bahwa aku sebaik itu?

      Kebaikan yang menurutmu, perlu aku teruskan sesuai saranmu. Kebaikan yang terlihat oleh dua matamu. Kebaikan yang ‘mungkin’ engkau rasakan? Hanya melalui percakapan kita dari hari ke hari? Meski kita tidak bertemuan? Engkau bilang, “Iya.”

      Mama, apabila memang, engkau percaya denganku. Baiklah, aku menerima. Penerimaan sepenuh hati, tanpa perlu engkau tahu. Bahwa aku, sungguh sangat bersyukur mendengarkan segala yang engkau sampaikan tentangku, di depanku. Sedangkan di belakangku? Apakah yang engkau bilang? Sungguh di luar dugaku. Engkau setega itu? Setega itu? Huhuu.

      Mama, memang engkau baik di depanku, bermanis muka, mencerah wajah, namun ada yang berbicara, selain suaramu. Ada yang berkata selain gerak bibirmu. Ya, dua sorot mata itu, sungguh mengalirkan kejujuran. Maka, mama, baiknya kita sering-sering bertukar tatap saat bicara. Mama tidak perlu melirik-lirik jauh ke sana. Apalagi mengangkat wajah. Atau seakan berbicara dengan dinding di sekitar kita. Tapi, fokuslah. Aku menyimakmu.

      Mama, engkau adalah pemantasku selami hari. Engkau membagiku rangkaian pesan. Engkau menggugahku saat bermimpi. Supaya tidak larut-larut, namun bangun lagi. Engkau menggembirakanku di depanmu. Namun di belakangku, engkau berbeda. Ah, engkau siapa sesungguhnya, mama?

      Mama adalah sebuah panggilan saja. Mama bukan seorang yang benar-benar ku tuju. Kecuali untuk menyampaikan saja seputik sapa, teruntuk ‘seseorang’ di sana. Seorang yang sangat berkesan bagiku, kali ini. Seorang yang berkarakter berbeda, bukan penuh kelembutan. Namun, yaa gitu deh.

      Ehiya. Udah lah dulu yaa. Biarkanlah mama bicara. Karena mama berpikir sesuai maksudnya. Sedangkan maksud hati kita, mama tentu tidak dapat membaca.

      Mama… Ya, mama.

      Sedangkan kita, mari melanjutkan rencana yang telah kita susun sejak mula. Untuk tetap memberdaya diri, terus mencari, tetap bersinergi dengan semesta. Untuk menjemput asa, meneruskan cita, melanjutkan perjuangan di dunia, hiyyyaaa.

      Selagi masih ada kesempatan, mari memanfaatkannya, yaa, dear me. Engkau, tetap bersenyuman dengan sesiapa saja, yaa. Walau bagaimana pun mereka memperlakukanmu. Bukan seperti yang mama teladankan, untuk membalas kejahatan dengan yang serupa? Hwaa? Kalau begitu, apa bedanya kita dengan orang yang menjahati?

      Kali ini, tepikan saran mama yang tidak sesuai dengan prinsipmu. Lalu melangkahlah lagi, dear me. Sedangkan mama, tetaplah mama yang menyampaikan suara untukmu. Suara sebagai tanda kepeduliankah? Suara untukmu yang masih muda adanya, belum banyak mencicip rasa asin, asam, pahitnya dan manis kehidupan, lebih banyak dari yang mama rasa. Makanya mama menyuarakan pengalamannya padamu, supaya engkau mengerti. Jadi?

      Intinya adalah : dangakan nan di urang, lakukan nan di awak. Karena sesiapa pun yang hadir dalam kehidupan kita, hanya menyarankan, membagikan hasil pandangannya. Sedangkan yang menjalani adalah kita, ya, kita. Jadi?

      Intinya lagi, ambil baiknya dan pakai sebagai bekal dalam meneruskan kehidupan, ketepikan jeleknya agar tidak terbawa-bawa dalam menjalani kehidupan. Karena berbeda orang, berbeda pula prinsip hidupnya. Ada yang begitu ada yang begini.

      Ada yang keras tanpa kelembutan, ada yang terlihat tak berdaya karena menggunakan hati dan perasaan. Sedangkan engkau ada di bagian mana? Kenalilah diri, dan pahami mama. Mama? Siapakah mama. Mama adalah petikan huruf-huruf dari teMAn-teMAn.

      Ada mama yang seusia denganmu, ada yang berbeda usia. Ada yang suka menasihatimu dengan segala kebaikannya dan maksud baik di dalamnya. Ada juga yang ceplas-ceplos asal bicara tanpa mengerti engkau mau menyimak suaranya atau tidak. Ada yang kebanyakan mikir, tak bergerak-gerak. Ada yang action terus, tanpa banyak mikir. Ini namanya berani ambil risiko. Semua, tentu tidak sama. Dan engkau bagaimana?

      “Menurutku, keputusan yang engkau ambil terlalu berisiko. Blablabla…” tambah mama, pula. Dan kemudian menguraikan lagi berbagai sudut pandangnya terkait keputusanku.

      Untuk menanggapinya bagaimana? Ku iya-iyakan saja, sambil mikir, ini mama sungguh perhatian juga yaa, atau hanya kepo tanpa benar-benar peduli? Atau hanya basa-basi? Atau, yaaa, mari kita ambil baiknya saja. Dengan begini, engkau menerima masukan lagi yang masih fresh, bening nan menyejukkan pikir dan meneduhkan pandang. Ku mengingatkan diri tak henti-henti. Supaya ia mau tersenyum lagi, berseri-seri, meringankan wajah, melapangkan hati, menerangkan pikir. Supaya ada jalan keluarnya yang terbaik.

      Semoga, mama sehat selalu, yaa. Semoga, kelak kita bisa berjumpa, entah di mana lagi. Setelah hari ini kita berbincang banyak tentang apa saja.[FT]

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Catatan ini ku rangkai lima tahun ke depan, dan ku baca lagi hari ini. Bacaan yang hadir dari masa depan. Bacaan yang mengingatkanku padamu, dear… Tentang kebersamaan kita di penghujung hari, pada tahun 2018, bulan Februari tanggal dua puluh dua, menjelang senja.


      Perlahan, rona jingga di ufuk barat mulai berkurang. Seiring tenggelamnya mentari yang ku kagumi. Ketika itu, kita saling menukar isi hati. Menjelang hari perpisahan benar-benar terjadi. Engkau bersuara, aku menanggapi. Aku bersuara, engkau berseri-seri. Sesekali, ku menatap dua bola matamu. Lebih sering, kita melemparkan pandang ke ujung tatap, menembus awan sore hari.

      Di antara suara-suara yang sampai ke indera pendengaran ini, engkau sempat bilang, lebih kurang begini, “Bundoooo, tega sekaliii. Tundalah kepulangannya barang beberapa hari. Atau jangan pergiiiii. Di sini ajaaa iii, hikss, hikkss. Nanti aku siapa temannya, kalau mau pergi-pergi? Saat ku merasa sepi, siapa lagi yang ku temui, di akhir pekan nanti. Trus, gaa mungkin kan, aku datang-datang ke sini lagi, kalau engga ada Bundoo. Kalau ku mau lihat mentari atau menikmati suasana sore hari di atap ini.”

      Masih ku dengar nada suaramu, kini. Nada suara khas yang membuatku tergeli. Lalu, mengingati segala ekspresi yang engkau bagi. Ekspresi atas ketidaksudianmu, hihihii. Mengapa tak sudi?

      Aku, sungguh egois sekali, yaak. Tidak memikir gimana engkau nanti. Apakah tersedihkan atau tidak. Dan pasti, ekspresimu ketika itu sungguhan. Terdengar olehku, melalui nada suaramu yang merdu. Engkau tidak terima dengan kenyataan.

      Kenyataan tentang ku yang harus berpisah denganmu, lagi. Perpisahan setelah kita menghabiskan waktu bersama-sama. Untuk pergi-pergi menikmati nuansa alam di kotamu.

      Yah, lima tahun yang lalu dan sekitar dua tahun sebelumnya, di kotamu aku menjejakkan kaki. Untuk keperluan apa lagi? Kalau bukan bersilaturrahmi. Begini awalnya. Aku masih ingat.

      Ketika itu, kisah hidupku berlanjut di kotamu. Setelah ku ikut dengan salah seorang famili. Ceritanya mau kunjungan keluarga saja, dan bonusnya adalah jalan rezeki. Hingga akhirnya, aku bertemu denganmu lagi. Pertemuan tanpa kita duga, tidak merencana.

      Ketika mendengar kabar kedatanganku yang sempat ku kabarkan padamu, engkau terbahagia sungguh senang sekali. Menjelang hari kelahiranmu, seingatku, tangga sembilan belas Mei, kita bertemu. Pertemuan di ka-ef-si. Hihii.

      Sepupuku yang mengantar, hingga lokasi. Karena ia ada waktu dan kesempatan. Maka, meluangkannya untuk menemani.

      Pertemuan yang menyisakan memori di ruang waktuku, sungguh teringat jelas, saat ini. Karena sangat berkesan, bermakna sekali. Mengapa?

      Hai, ingatkah engkau, teman. Bagaimana bisa, scoopynya sepupuku dan sepeda motor birumu bisa berduaan di parkiran sepanjang kita bercengkerama di ka-ef-si? Iya, ingat-ingatlah lagi tentang hal ini. Kebersamaan mereka yang sempat kita tertawai. Karena ternyata, mereka berjodoh, hiihihii.

      Iya, aku sangat terinspirasi tentang hal ini. Inspirasi yang ingin ku bagi kali ini. Saat ingatanku padamu menepi, lagi. Ingatan tentang pertemuan yang diluar prediksi.


      Just for your information, — Scoopy dan motor birunya temanku bersebelahan di parkiran. Padahal kami tidak berjanji parkir barengan di tempat sama. Lagi pula, luasnya lokasi parkir, sungguhan. Jadi, kalau bukan atas rencana-Nya, siapa yang mendekatkan? Kalau bukan atas izin-Nya, siapa yang mempertemukan? Kalau bukan karena-Nya, siapa yang berperan?

      Di lokasi janjian tersebut, temanku sudah datang duluan. Lalu ia bilang sudah di lokasi, kalian di mana? Ku tunggu di dalamnya, berainya mengabarkan. Sedangkan aku dengan sepupu, bergegas. Setelah kami sampai di tujuan. Tanpa pernah menyangka, kami parkirnya sebelahan. Ketika itu, aku dan sepupu belum kenalan dengan motornya temanku, jadi tidak mungkinkan, kami memilih di sebelahnya saja.

      Hei, tentang bagian ini, engkau ngerti engga siih, maksudnya aku? Atau malah engga? Kebingungan? Aku juga, engga tahu lagi cara menjelaskan. Intinya, jodoh tidak akan tertukar. Kalau saatnya bersanding, pasti bertemuan. Entah datangnya dari mana? Pada waktu yang pas, berteman dech dengan sang pangeran. Eits, aku ratunya.

      Singkat cerita, kami pun bertemuan. Aku membawakan temanku yang super baik ini, buah tangan. Buah tangan kreasi rumahan, dari Amak tersayang. Beliau bilang, titipkan salam dari Amak yaa, buat teman yang akan engkau kunjungi, Nak. Bilang hanya ini yang bisa kita bawa, sebagai kenang-kenangan.

      Ku sampaikan pada temanku, pesan Amak dengan senyuman. Tidak lupa pula, ku tuliskan sebaris pesan untuknya, sebagai tanda sayang. Tulisan tangan yang ku tempelkan di atasnya, “Selamat Menikmati.”

      Dan temanku sempat bilang, ia masih menyimpan itu ucapan, dengan rapi. Karena baginya, sangat berkesan. Sebab ada rangkaian doa yang juga ku tuliskan? Dan ia suka. Hai, sekarang masih ada engga yaa?


      Tyaaaaa, saat ini sudah lima tahun kita berjauhan. Aku di sini, sedangkan engkau di sana. Lumayan lama yaa? Mari kita berkabar lagi, tentang segala perkembangan. Karena ku sangat merindukanmu, dear sister…

      Tya, apakah saat ini lagi tersenyum? Di mana berdomisili lagi? Apakah jadi meneruskan perjalanan ke kota berbeda? Atau memilih ikut dengan pasangan? Hmm, bagaimana dengan keluarga, mama, papa, abang-abangnya? Semoga dalam keadaan sehat sejahtera, penuh kebahagiaan, yaa.

      Dear Tyaa, sengaja ku merangkai catatan saat ini, spesial untukmu. Engkau yang sangat baik padaku, sepanjang kebersamaan kita. Engkau yang mengerti aku, lalu memaafkan kesalahan. Engkau yang memaklumi aku, lalu mengajak jalan-jalan. Walau ajakanmu menjelang hari-hari terakhirku di kotamu, tidak ku iyakan. Mengapa?

      Semoga ada kesempatan, lagi. Kita bisa jalan-jalan bersama. Karena untuk saat itu, aku sudah mau pulang. Pulang, untuk memenuhi janji pada diriku sendiri. Bahwa aku pernah berjanji, untuk menjadi bagian dari suasana rumah yang asri. Walau sempat menjauh darinya, untuk beberapa masa, di perantauan. Ketika panggilan kembali datang, ku menurut. Karena yang memintaku pulang adalah beliau tersayang, Amak.

      Amak bilang, tidak memaksaku. Tapi, bagaimana baiknya aku. Sedangkan beliau menyarankan. Beliau selalu begitu. Maka, ku menundukkan diri merendahkannya. Lalu bilang, baik Amak. Bersama senyuman yang mengembang, ku jalani dengan senang.

      Senang bisa lebih dekat dengan Amak lagi. Senang dapat menatap beliau setiap hari. Senang kami bisa beraktivitas menyibukkan diri bersama-sama. Dan yang sangat ku rindukan adalah saat kami ke mana-mana bersama, selayak teman, seperti sahabat, lalu bercengkerama berdua.

      Meski berdua, suara kami bisa segudang. Walau berdua, obrolan kami bisa panjang. Sekalipun sebentar, kebersamaan kami sangat ku kenang. Makanya, senyuman kembali mengembang, dalam berbagai kesempatan yang ku luangkan. Meluangkan waktu untuk merangkai lagi senyuman, yang ku dedikasikan buat beliau, tersayang.

      Eiya, Tya pun akhirnya jumpa juga dengan Amak. Saat beliau berkunjung ke kotamu, untuk menjemputku lima tahun yang lalu. Beliau bahagia mengenalmu, sebagai salah seorang teman baikku, sahabat akrab yang cantik, jelita, dan beliau suka dengan gayamu. Tetap sehat dan semangat, beliau memberi nasihat.

      Terima kasiiih Tyaaa, untuk segalanya yang engkau undangkan. Meski tidak semua ku jelang, percayalah, di hatiku ada senang. Senang menjadi temanmu, dan kita menghiasi waktu terluang dengan kebersamaan. Sehingga, masih banyak kenangan tentang kita yang mau ku susun ulang.

      Sebagai kenangan yang tidak akan pernah hilang. Sebagai hadiah yang tidak akan pernah usang. Sebagai senyuman yang akan tetap mengembang. Sebagai lantunan yang akan tetap menembang. Sebagai jalan yang akan terus membentang. Sebagai tanda persahabatan kita dalam jangka panjang. Maka, teruslah berjuang. Semangat.

      Sekarang bagaimana kabarnya Tyaaa? Aku sungguh merindukanmu, sekarang. Makanya ku datang, walaupun ke lokasi yang tidak pernah engkau datangi. Meskipun ke daerah yang tidak pernah kita kunjungi berdua. Maksudku yaa, di sini.

      Di sini, ku hanya ingin mengenang, tentang perjalanan kita. Karena di dalamnya, ada banyak sekali rangkaian kata yang terinspirasi melaluimu, dear sister. Semoga, kebaikan yang ada di dalamnya, melimpah untukmu.

      Di sini, ku tata harapan demi harapan dan impian yang ingin ku jelang. Di sini, ada ambisi, visi, misi dan juga langkah-langkah seorang pejuang. Pejuang peradaban yang ku sebut dengan ‘Mentari’. Hihii. Engkau adalah salah seorang yang bersinar di dalam hatiku. Maka, tersenyumlah… I miss you, will and always miss you. Where ever you are, enjoy and happy day.

      Semoga, saat ini, engkau sedang menjalani impian demi impianmu dalam kenyataan, yaa. Semoga, saat ini, sudah bertambah anggota keluarga yang menjadi peneduh pandang, yaa.
      Semoga, saat ini, kita kembali bertemu, walau dalam ingatan, yaa. Tapi ku mau, kita jumpa langsung untuk reunian, di kotamu?

      Aku dataaaaaang. Tyaaaa pulanglah, bila saat ini lagi merantau. Di mana sekarang? Aku menyapamu, sejak ku ada di ruang hati berwarna pink di kotamu. Sampai ku ada di ruang hati berwarna biru di kotaku. Always, I miss you always. Thank you for all kindness.[]

      Baiti Jannati, 22 Februari 2023
      -ttd-
      Your sister and Happy Family
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Ini yang ke tiga puluh empat.

      Yes, tidak terasa. Sudah tiga puluh tiga little note tercipta di ruang ini. Ruang yang menjadi tempat ku menepi sejenak. Menepi dari langkah-langkah kaki. Untuk melangkahkan jemari, lagi.

      Melangkah saja, menbersamai sesiapapun yang ku rindui. Melangkah saja untuk mensenyuminya. Melangkah saja, untuk merangkai senyuman tentang hari ini.

      Supaya kelak di hari nanti, catatan-catatan kecil ini menjadi penanda. Aku pernah bersama dengan siapa dan berapa lama? Bagaimana kebersamaan kami jalani, hingga menyisakan rindu di ruang hati ini pada beliau semua? Seperti apa ku menggugah diri untuk memetik inspirasi dalam berbagai keadaan? Apakah saat sendiri atau di tengah keramaian?

      Ya, sendiri dan keramaian adalah dua nuansa yang berbeda. Kesannya pun tidak sama, saat menjalani. Aku yang lebih suka suasana sunyi, hening nan sepi, akan sangat bahagia kalau sendiri. Tapi, tidak selamanya dalam kesendirian. Sebab, sebagai makhluk sosial, aku pun bersosialisasi. Bertemu, berkomunikasi, bertukar informasi, berbagi dan menjalani hari bersama senyuman berseri-seri dengan selain diri.

      Yaa, dari hari ke hari, ada-ada saja yang ku senyumi. Senyuman untuk menghiasi waktu, senyuman untuk menyelami masa. Bahkan tersenyumku untuk mengingat lagi, sebuah kisah yang ku alami. Seperti halnya saat ini.

      Ada senyuman yang menaburi pipi-pipi ini. Senyuman atas ingatan pada seorang, dua orang, tiga orang, empat orang, lima orang, … Dan selanjutnya, mereka pun berdatangan dalam ingatan. Sehingga semakin meriah senyumanku, ini. Bersama ingatan, terhadap semua.

      Aku tersenyum saat ini, seraya mengingati. Ya, aku ingat dengan teman-temanku yang baik hati, berbudi, suka mencandaiku, memahamiku, mengomeliku? Eh, bukan mengomeli, tapi ia bilang sudah mengerti siapa aku dan bagaimana.

      Aku yang hanya akan berhaha-hihi, tidak mengenal emosi tinggi, dengan mereka. Karena bawaanku adalah menertawai. Apakah dalam kesedihan yang ku alami saat sendiri? Lalu saat bersama, ku ceritai mereka tentang sedihku.

      Kesedihan yang mereka tanggapi dengan, emang sepenting itukah mengabari? Apakah perlu pakai toa segala, supaya orang sekampung mengerti, aku habis nangis karena sedih? Ih… Begini tanggapan mereka. Yang ku hadapi dengan ckckck…, iyaa, karena ini penting sekali. Setelah ku sampaikan padanya, airmataku baru saja meleleh di pipi, saat ia belum bersamaku.

      Lain lagi, ada yang engga jelasnya. Saat kami menonton film-film horor apalagi yang romantis bersana-sama. Maka ekspresiku sukar terkendali. Alias, tidak tepat menggunakannya. Yang lain pada bersedih, karena skenario yang teman-temanku hayati, malah ku senyumi.

      Akibatnya, ada di antara teman-teman yang mengerti aku, memilih tidak mengajakku nonton bersama lagi. Karena mereka jadi tidak bisa konsentrasi.

      Tapii, aku masih mau nonbar. Haii, aku akan diam saja, nanti, sepanjang tayangannya berlangsung. Ku usaha menyampaikan alasan, supaya mereka membolehkanku bergabung. Tapi masih saja, tidak ya, tidak. Hahaaa. Karena aku perusak situasi. Tidak serius nontonnya dan menghayati. Namun asyik dengan pikiranku sendiiri, tentang skenario yang tayang. Lalu berekspresi selepas-lepasnya, bersuara sebebas-bebasnya. Tersenyum seluas-luasnya hati. Tertawa selebar-lebarnya pipi.


      Sejenak berpaling ke masa kini. Ku dapati engkau mensenyumi. Senyuman yang ku harapkan, tetap menemani diri ini hingga masa nanti. Sampai kita tidak bersama lagi? Karena jalur hidup sesuai ketentuan Ilahi Rabbi yang kita jalani, masih.

      Jalur hidup kita yang tidak sama seiring menanjak tinggi usia, seiring bertambah kurang kesempatan hidup di dunia. Jalur hidup yang ku syukuri.

      Bersyukur diri, membersamaimu sampai hari ini, teman. Kebersamaan yang menempel di dalam hati, menjadi memori di dalam pikir, menjadi senyuman sesaat berikutnya. Ihii.

      Hari ini, terjadilah yang terjadi. Teman-temanku benar-benar tidak merestuiku, untuk kami nonbar. Sampai salah seorang menyediakan satu leptop khusus buatku, agar nonton sendiri. Supaya mereka tidak ada gangguan. Sampai menyediakan snack khusus, agar ku tidak mendekat-dekati mereka. Supaya tidak pecah konsentrasi. Aduuhai, teman. Apakah ku sepengganggu itu? Entahlah.

      Maksud mereka adalah agar aku bisa tenang, dengan tontonanku sendiri. Sungguh, mereka pengertian, ini yang ku petik intisarinya untuk memori.


      Lirik-lirik ini adalah salah satu backsound dari drakor berjudul : Miss Granny, yang ku tonton malam ini, sendiri. Setelah temanku rekomendasikan saja tema ini untukku. Yuuks, mari kita simak sekejap. Yuuk kita menghayati, …

      —– πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ —–

      Jangan lagi dirindukan
      Semua sudah jadi masa lalu
      Jangan lagi dikenang
      Ia adalah orang yang telah pergi

      Kelopak bunga jatuh berguguran
      Jangan lagi dirundung kesedihan

      Saatnya telah tiba…
      Akan membuka kembali…
      Jangan lagi menyesali…
      Ke mana perginya?
      Lelaki yang tersesat
      Harus pergi ke mana?
      Kupu-kupu yang ada di langit

      Kelopak bunga jatuh berguguran
      Jangan lagi dirundung kesedihan
      Saatnya telah tiba
      Akan membuka kembali
      Jangan lagu dirundung kesedihan
      Kelopak bunga jatuh berguguran

      — πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ —


      Di antara cuplikan skenario yang ku sukai adalah :

      Doo Ri :
      Kau benar-benar suka padaku?
      Maaf.
      Kau bukanlah tipe yang ku suka.
      Tidak berani mengungkapkan perasaanmu seperti seorang pria layaknya.
      Masalah kerjaan dan pribadi tidak bisa kau bedakan.
      Tidak bisa mengendalikan emosi.
      Membuat teman-teman di sekelilingmu menjadi jenuh.

      Ditambah…

      Hal yang paling tidak ku sukai…
      Kau sendiri saja tidak tahu betapa gantengnya dirimu.
      Aigoo Ji Ha…
      Kalau tersenyum semakin ganteng.

      Ji Ha : Hey, siapa kau sebenarnya?

      Doo Ri : Aku? Aku adalah…

      I–iiii— ada satu lagii lirik lagunyaaa, aku suka jugaaa πŸ˜€

      Hari yang penuh dengan kesusahan
      Tanpa disadari berubah menjadi sehari yang lalu
      Bagaikan fajar yang kembali datang menyongsong

      Esok pagi…
      Sebuah harapan yang cerah akan menyinarimu
      Bahu yang terbebani…
      Langkah kaki yang berat
      Yang menghantuimu di dalam kegelapan

      Tapi tanpa disadari,
      Bintang-bintang yang berkelip…
      Seolah-olah menunjukkan jalan yang harus kau tempuh.
      Akan menyinarimu dan membuatmu bersinar.

      Sekali lagi…
      Betul, sekali lagi…
      Walaupun kadang terlihat bagaikan sebuah fatamorgana yang tidak teraih…

      Sekali lagi…
      Betul, sekali lagi…
      Jangan pernah berhenti berlari…
      Pada akhirnya mimpi akan berubah menjadi kenyataan.
      Bernyanyi untuk dirimu yang gemerlap.

      Yang tidak pernah dimiliki kemarin…
      Bintang-bintang yang gemerlapan.
      Seolah-olah menceritakan kebahagiaan hari esok.
      Akan menyinarimu dan membuatmu gemerlap.

      Sekali lagi…
      Betul, sekali lagi…
      Jangan pernah berhenti berlari…
      Pada akhirnya mimpi akan berubah menjadi kenyataan.
      Bernyanyi untuk dirimu yang gemerlap.

      Sekali lagi…
      Betul, sekali lagi…
      Berlari hingga jantung terasa seolah-olah akan meletus

      Sekali lagi…
      Betul, sekali lagi…
      Bersinar menyilaukan bagai bintang pagi.

      Sekali lagi…
      Dan terakhir kalinya…
      Jangan pernah berhenti berlari…
      Pada akhirnya mimpi akan berubah menjadi kenyataan.
      Bernyanyi untuk dirimu yang gemerlap.

      Inilah kisahku malam ini. Kisah yang akan mengingatkanku pada teman-teman selama di sini. I will miss you dear sisters,
      -ttd-
      Me
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Like

    • Sekarang adalah saatnya. Aku kembali merindukanmu. Aku merindukanmu saat menunggu. Aku menunggu kabar darimu. Aku mau tahu kondisi terbarumu. Tapi, tidak bisa ku menyapamu langsung. Makanya, ku meluangkan waktu untuk menyusun huruf-huruf lagi. Huruf-huruf yang kemudian menjadi alasanku membersamaimu, meski dalam ingatan.

      Kali ini, apa lagi, siapa lagi, yang akan ku jadikan objek untuk menjadi jalan ingatkanku padamu, yaa? Ada ide gaa? Ah, ku tanya-tanya pun engkau tak akan menjawab. Iya, kan? Iya, aja. Karena memang engkau engga tahu apakah aku lagi mengingatmu atau bukan. Atau, jangan-jangan kita memang sudah sehati, meski tak sepemikiran, ya? Jadi, saat ku ingat padamu, engkau ingat padaku? Kita lihat saja lagi.

      Ada siapa kali ini, yaa? Hyaa, udah ada. Cepat, cepat, sebelum terlambat. Oke, aku berkisah tentang keadaan sekarang yaa. Tapi karena ada beberapa waktu yang sudah lewat saat mengisahkannya, ku akan tuliskan tanggalnya. Sip? Mari, menyimak.


      Betapa indahnya jalur hidup yang sudah Allah subhanahu wa Ta’ala rancang, rencanakan, untuk ku jalani. Skenario-Nya sungguh terbaik, sangat menenangkan, mendamaikan, membuatku malu, bila lagi dan lagi tidak mensyukuri. Syukur dan menerima.

      Ya, di dalamnya, aku hanya perlu menerima, menerima, menerima, menjalani, memberikan ingatan kepada-Nya.

      Penerimaan sebagai wujud syukurku. Syukur yang menjadi jalan bagiku dalam menempa diri menjadi mudah tersenyum. Agar kesabaran melatih hati menjadi mudah bersyukur. Karena dalam berbagai keadaan pasti ada hikmahnya. Percayalah kepada-Nya, jangan kepadaku. Sebab aku manusia tempat salah dan khilaf. Hamba, yang dhaif, pernah lupa. Maka, agar engkau percaya padaku, percayakan dirimu. Perteguh kepercayaanmu kepada-Nya. Yaa.


      Malam ini, adalah pukul sepuluh lebih lima belas menit lima belas detik. Tanggal dua puluh empat Februari tahun dua ribu delapan belas.

      Aku sudah entah di mana? Aku sudah jauh pergi ke dunia lain di sana. Aku menempuh jarak yang tidak pernah ku sangka. Aku sudah berjalan-jalan entah bersama siapa, ke mana, berapa lama, dan dalam rangka apa?

      Semua ada dan menghiasi perjalananku. Perjalanan yang ku tempuh, saat ragaku rehat. Perjalanan di alam mimpi. Hihii. (Hei, udah malam, jangan ketawa sendiri, nanti ada yang dengar. Tidurlah, karena aku pun lagi tidur).

      Ya, malam ini ragaku lemahhhh sangat. Sehingga tidak banyak pergerakan yang ku lakukan. Kecuali ada di antara kasur dan selimut. Rehat cantik. Tapi, ternyata ada yang menyapaku. Sapaan yang ku baca keesokan harinya. Pesan dari seseorang yang sangat menginspirasiku selama beberapa tahun terakhir. Seorang yang membuatku tersenyum, bersamanya, ataukah saat kami berjarak.

      Ia mengirim pesan, ternyata. Pesan yang ku baca, seperti ini rangkaiannya, “Bundoooo… Besok bangunin yaaa. Biar kita bisa jogging, ce-ef-de dan alamayang. Hehe.”

      (ehiya, mestinya susunan huruf yang benar sesuai abjad c-d-e, yaa… Ah, pikiranku ketawakan aku)

      Menjelang Subuh aku membacanya. Aku tersenyum mengingat pesan yang sampai padaku. Pesan yang menjadi alasanku menghubunginya pagi-pagi sekali. Tapi, tiada sahutan di sana, pada saat sama. Setelah kami akhirnya berjumpa, ku bertanya dan ia bilang, ada dengar. Hanya saja, ia mikir suara alarm, hahahaa. Sungguh, lalu kami tertawa bersama. Menganggap ini lelucon dan intermezo semata.

      Sebelum kami bertemu, ia berpesan begini, “Bundooo… Lagi apooo? Siap-siap yaaa. πŸ™‚ .” Pesan ini telah ku terina pukul tujuh lebih empat puluh dua menit dua puluh detik, pada pagi hari keesokannya.

      Setelah deal, kami pun berjumpa. Ia datang saat ku masih dandan-dandan cantik. Eiits, aku terkaget, atas ekspresinya yang penuh tanya, tidak terima dengan penampilanku. Hahahaa.

      “Bundooo… Bla-bla-bla,” aku yang tidak menyangka, memilih tertawa bersamanya. Kami penuh ekspresi. Eits, aku aja yaa. Sedangkan ia sungguh tidak rela dengan semua. Lalu aku mengalah, ikut apa maunya. Hahaa. Menerima adalah yang membuatku bahagia. Menerima dengan senyuman. Menerima, saja. Selebihnya, aku pun teringat padanya kini.

      Sungguh ia luar biasa. Penuh cerita bersamanya. Sungguh, ia tidak ada duanya di dunia ini. Ia tidak ada di sini, saat ini. Makanya ku merindukannya.

      Tidak lama mengganti dandanan, aku sudah semakin fresh dengan kostum oren kesukaanku. Selanjutnya, kami melaju. Ia menceritaiku apa saja, sepanjang kebersamaan kami di perjalanan. Aku menjadi pendengar yang baik, bagiku. Aku bahagia, aku tersenyum. Senyuman bahagia, karena ku menjadi pendengar, menyimak, memahami, memetik intisari dari suara yang ia perdengarkan untukku.

      Suaranya terus ada, di antara laju kendaraan. Sehingga, sesekali ku bilang dengan kuat, “Enggaaa dengarr, tunggu bentar yaa, ini bising sekaliii, hihii.” Dan ia mengerti, lalu memperjelas lagi, saat mesin-mesin kendaraan yang melaju di sekitar kami, berkurang. Ia memelankan kendaraannya dan menjelaskan lagi. Hingga aku mengerti dan kami sungguh sangat menikmati perjalanan.

      Tidak terasa, jarak tempuh semakin jauh. Sebelumnya, kami mengisi perut yang mulai konser dadakan. Kami menyantap menu dengan senyuman. Sambil masih bercerita ini dan itu, tanpa pernah merasa bosan. Namun, menjadi senang karenanya.

      Iya, biasalah, rumpi memang membahagiakan. Rumpi sehat yaa, bukan ngomongin orang. Tapi membicarakan masa depan. Merencanakan kebaikan. Mempersiapkan diri dalam menghadapi kenyataan sedetik lagi yang entah seperti apa kesannya.

      Tidak berlama-lama, kami pun melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang ku hayati sangat-sangat, sampai akhirnya kembali ke kosan.

      Saat paragraf ini hadir, aku sudah di kosan. Jam menunjukkan angka tujuh lebih dua puluh menit tiga detik, menjelang malam.

      Aku mulai menggerakkan jemari, meski ragaku letih. Syuuut, ada tamu yang berkunjung, seperti biasa. Kak Dewi, hihii. Meninggalkan kesan pula atas kunjungannya. Karena kunjungannya menemui teman sebaya, jadi aku masih bisa melangkahkan jemari di sini.

      Aku mulai menulis, tentang rerasa yang ku bawa atas perjalanan seharian ini.


      Jauh jarak perjalanan yang kita tempuh hari ini, membuatku ingin mengingatnya lagi. Oleh karena itu, aku mampir di sini. Mampir sejenak, menepi, supaya tidak menitik airmata di pipi.

      Mampir membawa buah tangan sebagai hadiah dari jalan-jalan seharian, untuk ku bagikan. Yang suka, mari mendekat. Bagi yang engga suka, senyumin aja yaa.

      Mampir menyemai benih harapan agar senyuman tetap membersamai. Walau tidak dapat terbendung lagi, airmata akan jatuh juga. Makanya ku mengakali, dengan begini.

      Awalnya ya, begini. Akhirnya ya, begitu. Sebelumnya, senyum dulu. πŸ™‚ Begini yang ku mau.

      Hmm…

      Sempat ku menanya diri, masih bisa tersenyum engga yaa? Kalau suasana hatiku lagi terharu birukan oleh sendu, syahdu di dalam kalbu?

      Sempat ku mendata rasa, masih bisa melangkahkan jemari engga yaa? Sekalipun suasana jiwaku lagi engga bersinergi dengan raga?

      Lagi pula pipi-pipi mulai terasa berat dan bibir siap melengkung ke bawah. Sedangkan di ruang-ruang mata, mulai ada mendung. Gumpalannya memberat dan siap berubah menjadi tetesan bening permata kehidupan nan hangat.

      Ya, hangat. Namun hangatnya dapat menyejukkan lembaran pipi. Hangat yang mendamaikan ruang hati. Hangat yang menyegarkan pikir.

      Sedangkan gemuruh, mulai bersahutan dari dalam dada. Semakin lengkap sudah, sungguh sempurna seiring hadirnya rindu padamu, seketika ini juga.

      Semua sedang bersatu saat ini. Semua seakan pernah mengikat janji. Janji untuk mereka tepati dan lunasi, lalu menjalankan saat ini.

      Bagaimana bisa, semua hadir bersamaan?

      Untuk mendeteksi semua, ku rasa-rasa pelan-pelan. Ku raba keadaannya sepenuh hati. Ku hayati kedatangannya dengan sebaris ingat. Setelah ku ingat-ingat, memang inilah saatnya mereka menunjukkan diri. Saat yang tiba juga, memang. Karena waktunya sudah dekat. Mereka semakin mendekat, seiring waktu yang berkelebat.

      Mereka adalah pergantian rasa yang menghiasi suasana. Mereka adalah saudara dari rasa berbeda. Mereka hadir untuk menyemarakkan kisah dalam kehidupan.

      Sungguh, mereka menjadi pelengkap yang hadir pada waktunya. Pada saat yang tepat dan sudah ada dalam rancangan-Nya. Jadi, sudah bisa, yaa? Yaa? Mengekspresikan rasa. Let’s cry together, huuwaaa.

      Dalam hal ini, ku tahan airmata agar tak tumpah. Karena bisa lama, jika ia sudah menetes. Akibatnya engkau tahu, kan ya? Mata panda yang ku bawa.

      Haai, mengapa menangis? Engkau bertanya.

      Hahaay, entahlah. Tapi, aku tahu alasannya, saat ini. Ya, selain efek akhir bulan, tentu efek perubahan dari dalam diriku yang utama. Karena sudah sering ku perhati, tanggal-tanggal segini adalah perubahan cuaca di dalam hati.

      Hati yang tetiba menderas hujan, tanpa ada mendung terlebih dahulu. Hati yang sudah membanjir, menyamudera, membentuk laut biru nan bening, tanpa ada tetesan-tetesan terlebih dahulu. Aku pun mulai mengerti, sedikit-sedikit. Jadi, sudah biasa.

      Pilihannya, ada padaku, saat ini. Apakah akan melibatkanmu atau cukup dengan diriku saja? Lalu, masalah pun selesai sebelum terjadi.

      Karena aku tidak bisa tiba-tiba menghempaskan semua ekspresiku pada sesiapa lagi, semauku. Tanpa mereka tahu, ada apa denganku? Karena aku sudah terlebih dahulu mengenali, perubahan diriku dari waktu ke waktu.

      Makanya, mohon ku mohon memaklumi, sesiapa saja yang berinteraksi denganku. Agar antara kita tetap akur, rukun, damai, baik-baik saja, adem, ayem, tenteram dan nuansanya teduh, bahkan sejak berkenalan. Apalagi setelah kita sering-sering bersama. Semoga masih banyak yang dapat saling kita pahami dan maklumi, satu sama lainnya, yaa.

      Termasuk denganmu saat ini. Engkau yang bertanya bagaimana kondisiku, apakah baik-baik saja? Dan tentang liburanku seperti apa?

      Mari, ku beraikan bersama senyuman yang ku tarik-tarik agar mendekat, yaa. Lalu, ia ada bersamaku, menjadi bagian dari diriku, dan memasuki diriku. Senyuman yang ku bagikan padamu, meski satu awalnya. Tapi saat engkau tersenyum, ia bisa balik padaku, jadi dua. Karena engkau lebih dari satu, dan semua tersenyum padaku, senyumanku lebih megah lagiii. πŸ˜€

      Alhamdulillah, hingga saat ini aku terdeteksi sehat-sehat saja di sini. Sudah terkendali segalanya, termasuk jadual dan menu makan malam, sudah ku santap dengan baik dan semangat, penuh senyuman, bersama seorang temanku di sini.

      Teman yang engkau sudah tahu, sebaya denganku. Ada kami saja di sini. Berhubung teman-teman yang lain pulang kampung. Begitu pun denganmu. Engga ada di sini, lagi di mana? Sama siapa? Tolong jaga diri dengan baik, yaa.

      Tentang liburan ada kenangan berkesan & berarti yang mau ku bagi denganmu. Ya, hari ini ku jalan-jalan dengan seorang teman. Teman yang akan berpisah denganku. Karena aku akan bertemu denganmu.

      Iya, dalam kehilangannya, engkau menemukan. Dalam kesedihannya engkau berbahagia? Dalamnya sendu di ruang hatiku, tercipta karena kalian berdua? Huwaa?? Jadi ku memilih untuk bagaimana?

      Ya, engkau tahulah, biasa… Hahaa. Aku memilih untuk menepi di sini, untuk menyapa diriku. Maunya apa? Supaya, kami bisa bersinergi lagi dan memberikan senyuman demi senyuman pada kalian, yang akan ku temui dan tinggalkan.

      Bersama senyuman yang mengembang indah di pipi, membuat rasaku lebih dari sebelumnya. Senyuman yang hadir di tengah dua rasa yang berbeda, kesedihannya dan kebahagiaanmu. Aku? Ekspresinya gimana?

      Aku nulis-nulis aja, yaaa. Supaya tahu, apakah ku harus ikut keduanya dalam waktu sama? Menangis dalam tawa? Tertawa di tengah airmata? Sudah biasa juga.


      Ku menuliskan tentang kalian, yaa.

      πŸ™‚ πŸ˜€ πŸ™‚

      Pertama, engkau yang akan ku tinggalkan::

      Saat angka jam menunjukkan semangat, engkau datang menemuiku. Pukul empat lebih lima menit. Angka yang ku jadikan sebagai catatan. Supaya ku ingat.

      Ingatan padamu juga. Ingatan pada waktu yang perlu ku catat. Ingatan pada kebersamaan kita yang berlanjut hari ini. Ingatan untuk sebuah kenangan, lagi.

      Aku menjadikannya, sebagai kenangan tentang kita. Kenangan yang tetap menyalakan harapan, supaya ia tetap ada. Kenangan yang ku pandang-pandangi dan ku senyumi, sebagai simbol persahabatan. Kenangan yang berkesan, bagiku sangat berarti.

      Engkau sahabatku. Sahabat baik. Sahabat yang unik. Sahabat yang menarik. Sahabat yang menitipkanku inspirasi, secuplik demi secuplik. Sahabat yang sering membuat ingatanku terbit, terhadap diri.

      Lalu, cling. Aku punya ide untuk ku rangkai lagi menjadi senyuman untuk ku senyumi. Atau senyuman yang akan tersenyum padaku.

      Apakah setelah membersamaimu, beberapa menit bahkan detik-detik sebelum menjumpaimu, bahkan saat kita belum bisa jumpa-jumpa dalam waktu lama. Maka ide pun terbit satu persatu.

      Engkau temanku, senyuman ini ku kreasi untukmu. Senyuman persahabatan yang terus mengembang. Senyuman persahabatan yang tidak akan pernah layu seiring waktu.

      Senyuman sebagai tugu persahabatan yang terus tegak, menjulang, meninggi dan bertumbuh, meski persahabatan bukan makhluk hidup. Namun persahabatan kita terus bertumbuh, dari waktu ke waktu. Persahabatan bermutu. Walau kelak ku berjarak raga lagi denganmu, tidak lagi sebatas dua orang yang bertemu.

      Masih terbayang di mataku, gurat-gurat manyun bibirmu, lipat-lipat halus di wajahmu, atau kedipan-kedipan di sudut matamu, bahkan sikap dan gerak tubuhmu. Semua ku ingat menjadi tanda persahabatn darimu untukku.

      Aku, memang akan menjauh darimu, hanya raga. Namun dalam doa kita bertemu sapa, bercengkerama dalam ingatan, saling mengabari dalam hati. Rindukan aku yaa, aku pun merindukanmu.


      Berikutnya, engkau yang akan ku temui. Tetap jaga diri, pelihara ingatan, bersihkan hati. Semoga, pertemuan kita yang ku damba bersama senyuman, segera terlaksana dengan sebaik-baiknya, wahai teman.

      Padamu ku sampaikan, tolong doakan aku selamat dalam perjalanan, lalu kita pun bertemu, berjodoh dalam kebersamaan, menjadi bagian yang saling melengkapi hingga masa-masa yang kemudian, insya Allah.

      Kelak, ku datang padamu, sambut aku dengan keterbukaan. Terbuka atas semua kekurangan dan kelebihanku. Begitu pun aku denganmu.

      Meskipun kebersamaan kita untuk pertama kali, semoga buat selamanya. Kita bersinergi saling menguatkan, berkolaborasi saling melengkapi, bertukar informasi, saling menyempurnakan. Hingga hasil terbaik, bukan hanya impian, namun kita raih dalam kenyataan. Aamin ya Allah.

      Mari saling mendoakan, walau engkau di sana dan aku di sini. Jarak, menjadi perantara kita. Allah Yang Mempertemukan, kita.

      Percayalah, engkau sampai di tujuan bila terus melangkah, bergerak, berjuang, … Dan saatnya merayakan kemenangan di ujung perjuangan.[]

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Liked by 1 person

    • Engkau tak ada di sini. Namun rasanya dekat di sisi. Iya, memang hanya perasaanku saja. Perasaan yang membuatku mau tidak mau, menjejakkannya menjadi kata. Supaya apa? Agar engkau tahu, bahwa engkau sangat berarti bagiku. Makanya, engkau ada menjadi bagian dari diriku.

      Engkau, siapakah engkau adanya? Masih ku menanya seperti ini. Apakah karena ku benar-benar mau tahu tentangmu atau hanya bertanya saja? Bukan, bukan keduanya. Namun, aku merangkainya menjadi ada seperti ini, untuk melenturkan jemari saja. Supaya pikirku tetap terjaga. Agar rasaku tetap ada. Ya.

      Aku mau tetap terjaga, berpikir, merasa dan menjalaninya dalam hariku. Hari-hari yang nyata, bukan hanya impian saja. Hari-hari yang benar-benar ada, tidak hanya imajinasi semata. Sehingga, ku menghiasnya saat ini. Hiasan yang ku alirkan melalui jemari, penuh teliti, lebih telaten dan tentu saja bersama senyuman.

      Wah. Aku sudah bisa tersenyum lagi? Bukankah sebelum ini ku nangis-nangis meluruhkan airmata, yaa? Yah.

      Sudah ku hentikan segala duka. Lalu ku tepikan rasa-rasa yang ada. Ku tempatkan pada posisi yang semestinya. Begitu juga dengan hasil-hasil pikir, ku mau ia ada dan terlihat. Seluruhnya, ku tata seksama, hikmat dan penuh penghayatan. Kayak apa aja yaa?

      Iya, semestinya memang begini. Untuk hasil maksimal, kita perlu mencurahkan tenaga, ingatan, perasaan dan harapan. Kita harus optimis dan yakin. Kita mesti bersemangat dan penuh energi. Kita harus berjuang dan melakukan yang terbaik. Kita mesti berkolaborasi dengan hebat. Caranya bagaimana?

      Cara adalah jalan, langkah-langkah, upaya, yang perlu kita tempuh sebelumnya. Menempuh dengan mengerahkan seluruh jiwa dan raga, hyaaa, hahahaa. Aku pikir begini, yaa. Emang aku lagi ngapain sich, yaa?

      Begini teman.

      Berkebetulan, aku pernah menyimak sebait pesan dari seorang kawan. Kawan yang berbagi denganku terkait pentingnya ketelitian, fokus, jeli, penuh dedikasi, rajin dan cermat. Selain itu, yang tidak boleh lupa adalah, hemat. Ya.

      Hematlah bukan untuk mengayakan diri sendiri. Namun berhemat untuk menjadi lebih bermanfaat. Sehingga, ada yang bisa kita bagi, kita beri, kita alirkan, lagi. Dengan berhemat, kita memanfaatkannya pada waktu yang tepat. Seperti apakah contohnya?

      Contohnya adalah air. Hemat air. Air apakah? Airmata. Ya. Hemat-hematlah menggunakan airmata. Jangan biarkan ia tercurah percuma, tanpa bermakna. Lebih jelilah mengenal suasana. Kapan airmata mesti mengalir, atau tetap di dalam cangkangnya. Agar, kebersamaan dengannya semakin penuh makna, yaa.

      Jangan sampai, sedikit-sedikit bermanja, trus berairmata, trus mata panda, trus pandanya melotot padamu, karena matanya ada padamu? Hai, mata panda besar dan bulat, lho. Apa engkau tak keberatan membawanya?

      Iya, menurutku begini. Berairmata lama-lama, membuat mataku membulat dan memberat. Lalu ujung-ujungnya, mereka merapat. Akibatnya, terlelap. Lalu, engkau menemuiku, menyapa dan ku bilang, mataku beraaat. Eh, engkau malah tidak menyetujui. Kalau mata berat, gimana membawanya? Ku pikir ulang, iya juga yaa. Engkau benar dan aku pun setuju.

      Setuju-setuju saja aku dengan yang engkau bilang. Karena yang engkau sampaikan yang benar-benar saja. Jadi, untuk apa ku berdebat? Ya, lebih baik ingat, sebelum ujung dari perdebatan yang tak berujung tidak tertemukan. Makanya, kalau mau berdebat, bukan denganku. Aku akan setuju-setuju aja denganmu, lalu angguk-angguk. Taat.

      Yaps. Engkau yang ku rasakan sangat dekat, mulai ku tatap. Ku perhati dua bola matamu lebih lekat. Di sana, ku melihat ada aku yang bercermin. Yeeee… Engkau, melaluimu, ku bisa bercermin, kini. Cermin yang asli, bisa bicara, menyapa dan ku jadikan sebagai diriku yang lain, tapi di sana. Huwaa. Aku nangis lagi, yaa.

      Demimu, aku tidak hemat-hemat airmataku. Namun ku taburkan saja, semau-mauku. Dengan alasan yang ku jemput-jemput, ku tarik-tarik, saat ia di ujung sana. Hingga akhirnya, ada lagi alasan yang ku beraikan padamu, tentang menangisnya aku lagi. Mengapa? Karena ada yang masih nyangkut di ruang mata, terhimpit di ruang jiwa, terbayang-bayang di ruang asa. Tentangmu, ya engkau. Engkau di sana

      Engkau memang tidak banyak bicara. Namun saat kita bertukar suara, bisa tidak putus-putusnya. Ada-ada saja yang kita bahas, ku tanya, engkau ceritakan. Hingga tidak terasa, sudah lama juga kita bersama. Meski hanya perasaanku saja?

      Hahaaa. Biarin lah yaa. Demiku bahagia, engkau harus rela. Kalau engga rela? Engkau pasti tahu solusinya. Sampai bertemu solusi, aku masih ada rasa-rasa, pikir-pikir, dan langkah-langkah untuk beranggapan engkau ada.

      Jadi, sekarang bagusnya gimana? Ku lanjutkan saja yaa. Meski pun engkau tiada. Walaupun ku bicara-bicara sendiri saja, monolog, ini pun sudah biasa. Makanya, kalau mau bicara denganku, ada rahasianya. Apakah itu? Rahasia ya, rahasia. Tiada yang boleh tahu, selain-Nya. Sehingga ku simpan rapi di dalam jiwa, saja. Sampai akhirnya, rahasia bukan lagi rahasia, tapi benar-benar nyata.

      Ih, ngomongin apasih? Engkau terlihat mengerutkan bibir. Lantas, meneliti seluruh ekspresiku. Aku juga. Memperhatimu yang tetiba henti dari langkah-langkahmu. Lalu, turun di sini, menepi sebentar.

      Oia, engkau ke sini pakai apa, tadi yaa? Aku tidak melihat sejak mula. Tetiba sudah ada aja. Engkau datang dari mana?

      Dari ruang rindu, ku berasal, bisikmu. Bisikan yang ku jadikan sebaris kalimat. Kalimat untuk ku ingat. Bahwa engkau pernah mengalirkan suaramu untukku. Suara yang segera ku tangkap, hap! Suaramu merdu sangat. Suara tenang, khas nan mendamaikan. Aku mau lama-lama bicara denganmu. Tapi, ini sudah semakin malam. Apakah engkau berkenan, ku sudahi dulu, teman?

      “Iya, lah. Selamat istirahat,” tanggapmu masih dengan suara khas nan menenangkan hatiku, menyejukkan gendang telingaku.

      Engkau memang begitu. Kalau bicara, dataaaar, bersuara sedang, dan semoga, istiqamah yah hingga masa mendatang. Supaya aku bisa betah denganmu. Lagi pula, berbicara mengapa mesti bernada tinggi, kalau nada rendah dan sedang masih ada stoknya? Ingat, ingat, ingatlah teman, untuk hemat.

      Hemat juga energimu yang akan terkuras habis, dengan bicara nada tinggi. Ini sangat memboroskan energimu, bukan? Jangan boros. Karena saudaranya syaithan. Na’udzubillahi minzalik. A’udzubillaahiminasyaithaanirrajiim.

      Lagi. Lagi. Lagi.

      Kalau bicara, yang perlu-perlu saja. Tidak usah banyak-banyak bila tak bermanfaat. Karena bicara banyak, banyak pula salah dan kelirunya kita. Bicara banyak-banyak, banyak pula yang terbicarakan oleh kita. Apakah orang lain? Keluarga kita? Bahkan tetangga?

      Hai. Teman. This is my note, when I miss you. Saat ku teringat padamu yang kalem, sopan, ramah, dan yaa, aku mendamba pribadi sepertimu menjadi rekan bicaraku.

      Engkau yang mencoba memaklumi dan memahami yang ku sampaikan terlebih dahulu, sebelum menghakimi. Engkau yang mau klarifikasi, mencari titik temunya, sebelum beranggapan saja begini dan begitu, terlebih dahulu.

      Sehingga antara kita ada kedamaian, ketenteraman, kecocokan, dan saling melengkapi tanpa ada yang merasa lebih rendah atau tinggi dari yang lainnya. Karena kita, engkau dan aku, sama dalam pandangan-Nya. Kita sama-sama hamba-Nya. Jadi, ya, kita sama, yang berbedanya pada tingkat ketaqwaan di dalam dada.

      Engkau, bertemu denganmu, mengingatkanku pada diriku yang lain. Aku yang bersemayam di dalam dirimu. Aku yang ada di dalam engkau. Engkau, yaa. Tetap ada, selamanya, di dalam diriku juga. Kita, engkau dan aku, adalah satu.

      Laksanakan perintah, jauhi larangan. Menjadilah hamba Allah yang bertaqwa, beriman dan penuh kebahagiaan. Di manapun engkau berada, ingatlah, aku dekat. Begitu pun denganku. Aku dekat denganmu. Di mana pun engkau berada, jangan lupa kembali, yaa. I will miss you as my lifetime friend. []

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

      Liked by 1 person

    • “Always remember to keep smiling where ever you are,” begini pesan yang ia sampaikan dengan riang.

      Pesan sebagai penutup kebersamaan kami kali ini. Kebersamaan untuk pertama kali. Mungkin juga untuk terakhir kalinya. Mengapa?

      Ya, karena aku baru bertemu dengannya. Aku pun baru mengenalnya. Pertemuan tanpa tatap mata. Hanya melalui suara hati saja. Pertemuan tanpa jumpa, namun dengan mendengar dan bicara melalui kata-kata. Pertemuan yang sangat berkesan bagiku. Makanya ku menuliskan menjadi sebuah catatan.

      Betul, betul sekali. Catatan ini tentang kami. Catatan yang ku hadirkan karena terinspirasi olehnya. Siapakah ia sebenarnya? Sehingga begitu mudahnya ku terinspirasi olehnya. Ya, siapakah ia bagiku?

      Ia adalah yang suaranya ku dengarkan melalui radio. Yups, di radio, kami bersua. Aku sebagai pendengar sedangkan beliau sebagai penyiar.

      Bagiku, ia ada. Meskipun tanpa rupa. Walaupun tidak dapat ku tatap mata. Sekalipun selama-lamanya kami tidak akan pernah berjumpa dalam nyata. Namun pertemuan kami yang pertama dan terakhir kalinya ini, ingin ku jadikan sebagai wujudnya di hadapanku. Bisa engga yaa? Bisa aja yuu.


      Bisa karena biasa. Begini pesan darimu, padaku, khan? Pesan yang teringat olehku saat ini. Ketika ku bertemuan dengannya. Ia yang menjadi jalan kembalikan ingatanku padamu (lagi), yuhuu… Eits ada lagu yang mengalun, judulnya “Havana”.

      Lagu yang ia perdengarkan juga padaku. Lagu yang menurut temanku selainnya yaa, lagi naik daun dan booming alias fenomenal. Saat ku sampaikan, bahwa ku juga menyimaknya melalui seorang teman, kemarin.

      “Heheheee, ini lagu lagi hits kaliiiii, hihihii. Ke mana aja, Yaanii,” pecahlah suaranya menjadi semarak.

      Semarak yang semakin ramai oleh suaraku juga. Sehingga malam terang berembulan ini, menjadi sangat menarik bagi kami.

      Ya, aku sangat menikmati kebersamaan dengannya. Engkau, mau serta yuuuk, teman. Kami lagi di atap.

      Apa? Ngapain di atap malam-malam begini? Engkau pengen tahu aja.

      Ini sudah biasa pun bagi kami. Kebiasaan yang tidak setiap hari kami jalani, memang. Namun, dalam kesempatan terbaik saja.

      Ketika galau menyapa-nyapa hati. Saat suntuk menerpa-nerpa pikir. Lantas, kaki-kaki kami melangkah hingga sampai di lantai paling atas, mata menengadah langit, punggung nempel di atap, dan semilir angin menjadi backsound. Semilir yang tidak akan pernah tergantikan kesejukkannya. Semilir angin yang menyisakan sejuk di kulit. Ini antik dan unik saat ku merasakannya. Adakah engkau juga?

      Oiya, kembali ke percakapanku dengannya, yuuk. Percakapan yang menerbitkan inspirasi di ruang hatiku. Percakapan yang mengingatkanku untuk mengingatnya, kelak. Percakapan yang menjadi kenangan tentang kebersamaan kami.

      Ya, aku bersama dengannya. Teman sebaya, begini ku menyapanya sejak mula. Karena memang terdeteksi usia kami tidak berbeda jauh. Hanya beberapa bulan saja. Dalam hal ini, aku lebih banyak usianya. Tapi aku memanggilnya kakak. Karena ku mau lebih muda, aja.

      Muda yang mendapatkan pengayoman dari yang dewasa. Muda yang bisa bermanja, mendapatkan pemakluman, dan tentu saja bebas berekspresi selepas-lepasnya. Sehingga, menjadi adik manis hadapannya.

      Ah, ngapain juga ku membahas-bahas ia ya? Kalau bukan karena ia bermakna? Maka tidak akan pernah ada tentangnya dalam hariku. Sudah jelas, kan?

      Ya. Aku dan teman sebaya, lagi di atap. Saat ia yang pada awal catatan ini, ku bersamai. Jadi, sekarang kami ada berapa? Ada berapa yaa?

      Tidak hanya kami saja yang ada di sini, lho. Tapi ada rembulan juga. Rembulan yang tersenyum sungguh cerahnya, meski ia belum bulat sempurna. Tapi, sudah berceria ria.

      Aku sungguh menyukainya. Lalu ku sampaikan padanya untuk menemani kami malam ini. Menemani kami yang lagi galau?

      Iyak. Kami galau makanya ke atap. Untuk menepikannya sejenak. Supaya saat malam beranjak semakin jauh, kami tetap membersamainya sungguh-sungguh. Bukan malah tidak menikmati waktu, tapi lebih menghayatinya. Walaupun di tengah kegalauan yang melanda jiwa. Hahaa. πŸ˜€ hei, jangan ketawa. Aku aja engga berekspresi apa-apa. Karena lagi serius merangkai huruf ceritanya.

      Huruf-huruf yang ku bersamai dengan wajah tenang, sejak tadi. Sampai tidak ada senyuman sedikitpun di pipiku. Bagaimana ini?

      Iya, lantaran mataku sudah mulai memberat. Harus berapa lama lagi ku ada di sini? Hingga senyuman membersamai? Karena salah satu alasanku mampir lagi di mari adalah untuk menjemput senyuman, teman.

      Ya, senyuman yang ku rindukan, saat ia jauh di mata.

      A’udzubillaahiminassyaithaanirrajiim. Aku pun sudah mulai menguap. Namun cahaya rembulan semakin terang, membuat mataku kedip-kedip tak beraturan. Ia sungguh suka sangat berkenan membuka lebih lama. Karena ia belum mau mengantarkanku ke alam mimpi, teman. Mata yang pengertian. Asyiks!

      Yuks, mata, mari kita lama-lama saja di sini. Ini pun engkau sebut seperti alam mimpi, kan? Alam yang dapat mengantarkanmu pada senyuman demi senyuman.

      Senyuman yang bagimu, sungguh impian yang ingin engkau wujudkan ketika masih jauh darimu. Senyuman yang engkau praktikkan segera, tepat saat engkau tersasar pada tips-tips untuk tersenyum dalam berbagai suasana. Lalu engkau bilang, AhA!

      Kemudian engkau bergumam, “Inilah dia yang selama ini ku cari-cari. Makanya ku sampai ke sini. Sungguh, ini masih ku rasakan sebagai mimpi. Sekalipun dalam nyata, sudah sangat ringannya wajahku tersenyum. Maka ku sebut sebagai impian yang menjadi nyata.”

      Ya, senyata-nyatanya impian yang bukan impian lagi. Senyata-nyatanya impian yang sudah ku alami di dalam nyata.


      Kenyataan yang seperti impian. Menjalaninya, sungguh luar biasa. Bagaimana denganmu, teman? Apakah berada di sini, seperti ini pun pernah ada dalam impianmu juga? Impian yang menjadi nyata. Sehingga saat menjalaninya dalam kenyataan, engkau seakan mimpi.


      Malam semakin larut…

      Angka jam sudah menunjukkan 9:49. Ini artinya, angka yang cantik. Iya kan? Cantiknya di mana? Lihatlah dua mata pada angka sembilan tersebut. Mereka pun masih dan selalu membuka, bulat sempurna. Ia sedang memandangku, memandangmu dan kita bersenyuman bersama.

      Senyuman yang saling kita pergulirkan dari mata ke mata lainnya. Karena kita tersenyum dengan mata. Mata yang tersenyum, dengan kata-kata. Senyuman yang membuat kita membaginya satu sama lain, saat bertatapan. Senyuman yang mengajak kita membersamainya lagi. Sekalipun kebersamaan kita bukan lagi untuk bertatapan. Namun kebersamaan dalam ingatan saja, seperti saat ini.

      Ya, aku mengingatmu, walau tiada di sini. Makanya, kita bertemu lagi, di ruang rinduku ini.

      “Hihii, thank you very much for following me, my dear readers. I will miss you. Always. Keep smiling where ever you are,” ini adalah pesan yang ku sampaikan padamu, juga. Apakah kebersamaan kita saat ini untuk pertama atau terakhir kalinya? Wallahu a’lam bish shawab.


      Di bawah langit malam berembulan,
      Di atas atap maroon berteman nyamuk-nyamuk malam,
      Ku merangkai senyuman,
      Untukmu kawan, teman, sahabat seperjalanan, yang selalu ku rindukan…

      Di sepanjang rerangkai kata yang bertaburan, bila ada khilaf tolong maafkan, ada benar tolong pahamkan, bahwa semua berasal dari-Nya, Tuhan Pemilik seluruh alam,
      Atas apapun keadaan, semoga mengembalikan ingatan kepada-Nya, dan hati pun penuh ketenteraman.

      Akhirnya ku pesankan, ku kesankan,
      Pejamkan matamu, sebelum ia kelelahan,
      Jangan paksakan terus membukanya, demi kesehatan,
      Selamat malam dan selamat meneruskan perjalanan,
      Kelak kita kembali bertemuan,
      InsyaAllah dalam berbagai kesempatan,

      Meski kita belum pernah bertemuan dalam kenyataan, kenangkan aku teman,
      Walaupun kita sudah pernah bersama dalam kenyataan, tenangkan aku teman,
      Mari saling mendoakan, tolong menolong dalam kebaikan,
      Semoga lancar segala urusan, tertemu segala pencarian, terukir sebaik-baik senyuman, tergapai cita dan harapan, yaa teman.


      Aaa, tak ingin menyudahi ini catatan. Tapi, semoga ada jalan lain, untuk kita bersenyuman. Maka, catatan ini pun ku selesaikan juga dini hari. Saat ku siuman. Setelah mata memejam.

      Aku yang merindukanmu. Aku yang berharap kita bertemuan. Walau bukan dalam kenyataan, semoga dalam ingatan demi ingatan. Lalu mengalirkan doa-doa, berkelanjutan.

      Senyum ini ku rangkai penuh kebahagiaan. Senyuman yang ku bagikan, semoga semua kebagian, yaa…
      Kalau pun belum semua kebagian, semoga yang udah menerima makna senyuman melaluiku, dapat pula membagikan. Sehingga senyuman kita terus bersenyuman dengan lainnya. Insya Allah. πŸ™‚


      Terima kasih, alhamdulillaahirabbil’alamiin…
      Akhir kalam, “Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubuilaik.
      “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
      ^^

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€
      πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ˜€

      Liked by 1 person

    • Saat Aku Datang Lagi –

    Ya, aku yang datang lagi. Ini aku. Aku yang tidak bisa tidak, masih saja mau dekat-dekat denganmu. Apakah aku sudah begitu merindukanmu sangat-sangat? Sehingga tidak tahu waktu, aku masih ingin menyapamu. Aku lagi lapeEerr.

    Laper aja aku, jadi ke sini dulu. Belum mau beranjak dari dudukku, memang. Karena menyapamu walau sejenak, bisa membuat laperku hilang dan selanjutnya aku senang. Meski tiada jawaban darimu atas sapaku, padamu. Tidak mengapa, aku tenang.

    Ya, aku tenang. Karena menyampaikan padamu bahwa I miss you. Masih. Setelah cinta lama bersemi kembali yang ku sampaikan padamu, tidak engkau sahuti, pun. Jadi, mau ku bawa ke mana hubungan kita ini?

    Apakah hanya sebatas maya yang tanpa realisasinya? Begitu teganya engkau padaku, yaa? Termasuk tanyaku padamu, tentang tanggapan orang tuamu bagaimana?

    Engkau yang hanya bisa bilang, “Lha, masih saja yaa. Bukankah sudah ku bilang sejak mula? Bahwa kita tidak bisa bersama? Saat ini begini pikirku adanya. Kecuali memang ketentuan-Nya sudah tidak bisa kita ubah? Ketentuan yang sudah tertulis sejak kita belum terlahir ke dunia, melalui perantara orang tua kita. Selama kita mau merubah, nasib, selain yang sudah Ia tentukan, masih ada kesempatan, bukan? Jadi, selagi aku masih dalam ranah penjagaan orang tua, bolehkah? Aku masih berbakti pada beliau? Sebelum pada seorang hamba berikutnya yang beliau serahi tanggungjawab atas diriku?”.

    Aha! Jawabanmu sungguh membuatku semakin gila. Aku sudah tidak bisa lagi menjelaskan padamu, betapa aku sungguh suka. Aku tidak bisa tidur pun, memikirkanmu wahai sang pujaan, hati.

    Hatiku semakin rindu, padamu. Rinduku di ujung sendu. Sampai makanku tidak selera. Meski pun lapar, aku tega menepi-nepi padamu, dan kemudian aku kenyaaaaaag. Lihatlah, aku semakin kurus, sayaaang. Engkau mau, aku mati kelaparan? Mari, ke sini. Aku mau bilang sesuatu lagi. Aku masih ingin bercerita banyak. Tapi, engkau belum juga bersuara. Huwwaa, mau ku bawa ke mana segala ini?

    Pantaskah aku semakin tidak bisa berpikir normal, lagi? Sanggupkah aku terus begini, demimu? Sekali lagi saja, tolong jawab, sapaku. Aku ingin menyampaikan padamu, “I miss you”. Kalimat pendek yang membuatmu tahu, bagaimana rasaku padamu. Rasa yang engkau anggap tiada. Padahal ia ada. Meski tidak terlihat mata. Matamu tidak melihat, tapi hatimu dan matanya masih ada, bukan?

    Lihatlah, ayo perhatikan. Betapa menderitanya aku dengan segala ini. Aku sungguh tidak mengerti. Bagaimana bisa semua ini ku alami? Tolonglah sekali lagi, ku pinta kepadamu, dear me. Apakah engkau masih saja belum mau peduli? Aku tidak bisa membencimu, tapi aku rindu.

    Sekelilingku pun tahu, seperti apa kondisi terbaruku. Selautan ikan di laut pun paham, ada apa denganku. Semilir angin tertunduk, tidak mampu menatapku. Senyuman mentari pudar, tidak lagi setuju. Selembar daun juga kaku, tidak lagi melambai. Setumpuk awan tidak menarik lagi bagiku. Apalagi yang ku nikmati dari indahnya ciptaan Rabb-ku? Semua hampa, selainmu.

    Aku senyap tanpamu yang membisikiku. Aku sendu tanpamu yang menyapaku. Aku kelam tanpamu yang menerangiku. Aku beku tanpamu yang menghangatiku. Aku kecil, hina, tanpa arti, tanpamu yang menjagaku. Aku semakin halus, kemudian hilang, tanpamu yang menyahut panggilanku. Aku bukan siapa-siapa lagi, sayang. Hanya engkau yang mewakili, aku.

    Seluruh alam pun tidak tertatap lagi olehku karena malu. Aku malu atas kecerobohanku memperlakukanmu. Aku malu sudah merasa engkau milikku. Padahal aku? Aku pun bukan milikku.

    Aku sungguh rindu padamu yang kemudian jauhi aku. Engkau pergi saat ku sedang jatuh cinta padamu. Engkau meninggalkanku, sebelum ku tahu alasanmu. Engkau masih sayang padaku?

    Meski tidak sekali pun ku dengar ungkapan sayang keluar dari bibirmu padaku, tapi aku merasakan semua rasa sayangmu untukku. Sungguh, percaya diriku sudah terlalu. Apakah karena ku lupa siapa aku dan dirimu?

    Sekali lagi, aku mau menyampaikan padamu. Selanjutnya aku akan merindukanmu saja. Aku rindu keluguanmu itu. Aku senang saja dengan ekspresimu, saat menjawab sapaku. Aku tenang, engkau tidak ke mana-mana. Ah, rinduku karena engkau ada dalam impianku.

    Seuntai suaramu tentang, “Di sini aja, satu aja, dan aja, aja yang lainmu itu, membuatku tersenyum mengingatmu. Walau tidak ku tahu, apakah semua itu asli atau masih untuk menenangkanku yang jauh darimu. Tapi yang jelas, aku suka gayamu. Tetap begitu, wahai engkau yang ku rindu. Jangan pernah mengubah dirimu tanpa sepengetahuanku. Karena bagaimana pun aku tahu, siapa engkau sesungguhnya.”

    “Engkau, tetaplah dirimu, yaa. Aku masih rindu. Pertemuan kita. Kenangan tentang kebersamaan kita. Masih ingatkah engkau, saat kita melangkah bersama? Menjelang senja tiba? Sebelum mentari menautkan dahinya pada ujung pantai di Kuta? Sebelum matanya tenggelam di tepi barat, meninggalkan rona jingga di ujung laut? Engkau masih ingat? Ketika ku pinta padamu sebuah rasa. Namun engkau mengelak, dan aku hanya bisa tersenyum penuh tanya”, engkau aneh, begini pikirku.

    “Menjadi shalehah, ini yang ku damba darimu, namun engkau malah menangkupkan tanganmu di depan dada. Lalu, membiarkan jemariku harus berpuasa, tidak berbuka sebelum saatnya. Aku tidak terpikir sejauh itu, tentang menjaga sebelum masanya. Untuk terjaga sebelum tertidur. Untuk ingat sebelum lupa. Untuk berbenah sebelum rusak. Untuk berjarak sebelum dekat. Untuk mencegah sebelum mengobati. Dan saat ini, aku sakit karena rindu ini. Aku letih, terus begini. Aku lelah, harus tetap melangkah, tanpamu di sisi. Wahai, siapakah lagi yang engkau nanti?”

    “Engkau masih saja tidak menjawab, bahkan saat ku sapa lagi. Terdiam, tanpa jawaban. Hening saja di sana. Sedangkan aku di sini terus memekik memanggil namamu berulangkali. Tapi engkau, tidak mau peduli. Engkau siapa sih sebenarnya? Apakah malaikat atau bidadari? Tidak terketuk sedikitpun hatimu dengan sapaku yang menggombali? Atau engkau sudah tidak merasa aku ada?”

    Aku cahaya dari kegelapan. Aku benderang yang tak kan padam. Aku lentera di tengah gulita. Aku paras tanpa senyuman. Aku jalan tanpa jejak. Aku langkah tanpa kaki. Aku tatap tanpa mata. Aku kalimat tanpa huruf. Aku bukti tanpa janji. Aku siang tanpa mentari. Aku tiada tapi terlihat. Aku adalah engkau yang tidak akan menjadi sesiapa, namun diri sendiri.

    Aku? Aku lapar sekaliii. Beneran ini, mau tidur engga bisa merem, mau masak dulu yaa. Kalau masih saja menunggumu, aku benar-benar bisa m4ti sebelum saatnya. Lalu gelap, kayak ruangan malam hari tanpa lampu. Aku masih mau hidup seribu tahun lagi. Walaupun itu tidak terjadi, hiduplah aku di dalam hatimu. Aku masih dan selalu ada, dalam senyumanmu. Jadi, meski ragaku tak bernafas lagi, nafasku ada bersamamu. Karena aku hidup, dalam hidupmu. Aku ada, selama-lamanya.

    Aku mau masak dulu, yaa. Meski sudah semalam ini. Asli, aku laper, dear me, tetap di sini. Engkau tidak laper, kan? Kalau iya, asyik! Kita sehati.

    Ai! Nantikan lanjutannya, saat ku merindukanmu, lagi.

    Selamat bermimpi indah, tidurlah dengan nyenyak,
    -ttd-
    You and Me

    πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    Like

  2. Alooo. Ha-i. Masih ada engga sich? Aku datang lagi, menyapamu. Sapa yang ku alirkan melalui rerangkai rindu. Rindu aku padamu. Tapi bagaimana denganmu?

    Setelah sekian kali ku mencoba menghubungimu. Namun yang ada masih hening. Engkau masih ingat engga sama aku?

    Aku yang belum menyerah, hingga detik ini. Makanya, aku mengusaha lagi. Ya, barangkali masih ada kesempatan itu? Please, sedikit penjelasan darimu, kiranya dapat menenangkan aku. Aku yang masih saja rindu padamu.

    Ya, rinduku padamu belum berujung. Ingatku padamu, makanya berkunjung. Ingin mengembalikan kenangan lalu, meski sudah tergilas waktu. Tapi, bagiku tidak. Tidak ada yang tersia, meski engkau tetap membisu.

    Berikanlah padaku walau senyumanmu. Senyuman yang dapat menjadi sangat berharga bagiku. Senyuman yang bagimu hanya penghias wajah? Ah. Bagiku, senyuman adalah ibadah. Maka aku rela berpayah-payah membagikannya padamu, menyapamu lagi, mengulangi, mencoba, meski engkau tidak membacanya.

    Hai, iya ini aku. Aku yang tetap menyapamu, tapi bagaimana denganmu? Ku hitung yaa. Dalam sehari ini saja, sudah lima kali ku menyapamu. Tapi engkau masih begitu. Ini sebentar lagi, hari pun berganti. Akankah ku masih melanjutkan sapa padamu? Tunggu saja yaa. Ya, untuk membuktikan keseriusanku padamu. Supaya engkau mengerti mauku.

    Aku mau masih tetap bersamamu, terus di sisimu, selalu ada untukmu, selama nafasku ada, engkau ku mau. Sayangnya, engkau masih saja belum mengerti, aku. Harus bagaimana lagi cara meyakinkanmu? Bukankah nyamuk-nyamuk di sekitarmu pun tahu? Menerangkan padamu? Bahwa aku ada, untuk mengusirnya darimu. Jadi, engkau tidak hanya bersamanya lagi, tapi aku. Iya, aku siap menjagamu dari nyamuk-nyamuk usil itu.

    Tunjukkanlah aku caranya, bagaimana menujumu? Supaya aku lebih mudah menjadi bagian darimu? Aku sungguh sangat ingin. Nah, khan ku melihatmu memperhatikan sebuah bekas gigitan nyamuk di pergelanganmu.

    Aku tidak rela sungguh, engkau jadi sakit hanya karena nyamuk. Aku mau dech, jadi obatnya. Kalau pun sudah terlanjur sampai gigitannya padamu. Salahmu juga sih, yang tidak dengarkan apa mauku. Makanya nurut. Ku bilangin ikut. Jangan lagi mau sendiri.

    Oiya, aku baru ingat. Sekarang engkau lagi di mana? Sama siapa? Sejak kapan? Aman engga? Yang ku maksud, selain nyamuk-nyamuk itu yaa. Ahahaa, jangan tertawa. Aku engga becanda. Karena ini yang ku tahu darimu. Biasanya kan, engkau juga sama nyamuk-nyamuk aja, kan? Ku tahu engkau tak nyaman. Makanya jam segini masih siuman. Eits, baru siuman yaa. Aku sih belum tidur-tidur dari tadi, memikirkanmu.

    Tidurlah, selamat malam, jangan mimpikan aku, cukuplah kita bersama dalam kenyataan,
    -ttd-
    You and Me

    Like

  3. Aku datang lagi-karena rindu masih tersisa, padamu. Rinduku membersamaimu dalam berbagai waktuku. Waktu yang terluang, senggang, dan ada kelonggaran. Makanya ku sebut-sebagai penepis rindu padamu. Supaya ku tidak ingat-ingat saja padamu, namun menyapamu segera.

    Allahu Akbar. Aku belum bisa tidur, masih. Makanya saat ini jam segini, aku masih ada untukmu. Ya, ada saja. Meski kelam, walau gelap, gulita, tanpa penerangan. Namun aku mau melangkah dalam terang, tidak hanya diam tanpa pergerakan. Inilah yang ku buktikan padamu, wahai cahaya mataku.

    Aku datang padamu, di sela waktuku menunggu. Menunggu seorang teman yang lagi memasak menu makan malam kami. Ahiya? Jam segini masih bergentayangan di alam? Engkau kenapa? Tanyamu.

    Ini semua karenamu, tahukah engkau?

    Iya, berat mataku menghilang. Penat tubuhku berkurang. Senyap ini ku senang. Karena dalam keadaan begini, aku semakin luang melepaskan rinduku padamu, sayang.

    “Sabar yaa, kakaak,” sapanya padaku.

    “Iyya,” jawabku senyumku, senangku, serius ini aku tidak sendiri, meski tanpamu.

    Ha? Engkau terkaget kan?

    Yeah, malam sebegini kami sama-sama engga lelap. Namun bangkit, bergerak, seiring perut keroncongan belum ada asupan makanan.

    “Hah? Makan malam orang,” suara Berb pun keluar.

    Berb baru bergabung, dan siap-siap ikutan makaaaan. Ckckckk. Hari yang di luar kebiasaan. Waktu yang aneh. Hehee.

    “Bersih, kan?” Lanjutnya seraya melirik kotak bercahaya yang bersuara di sudut ruang. Aku baru ngeh, setelah tivi kami sehat sejahtera.

    “Iya, Berb so sweet dech, maaaciie (melap airmata dengan sapu tangan),” aku terharu dengan beningnya lagi tivi jadul yang biasa kami tonton rame-rame..e..e.. πŸ˜€

    “Hu um, Berb baik kan,” dua bola matanya yang bulat, melirikku penuh makna.

    “Appa, Berb? Ku memperjelas pendengaran.”

    Berb mengulang yang ia sampaikan sebelumnya dan aku pun paham.

    Yeee… Menu sudah siap, ayoo kita bersantap,
    -ttd-
    You and Me

    Like

  4. Hai, engkau. Ya, aku menyapamu lagi. Seorang yang menjadi tempatku bernaung. Raga yang ku bersamai ke mana-mana. Eh, tidak selalu, memang. Karena terkadang engkau berulah. Atau aku ya, yang berulah padamu? Sampai ku temukan engkau semakin jauh dariku?

    Sayang sekali, bila kita tak akur. Sungguh kasihan, bila kita tak saling sapa. Padahal kita adalah kebersamaan yang tidak terpisahkan. Meski engkau dan aku sudah berbeda dunia, aku tetap ada. Engkau bisa saja ku tinggalkan, kelak usiamu berakhir. Akan tetapi percayalah, aku selalu ada. Aku tetap hidup di dalam hati orang-orang yang mengenalmu dengan sepenuhnya.

    Aku, tidak akan hilang dari ingatan mereka. Aku selalu membersamainya ke mana pun mereka melangkah. Sekalipun aku belum pernah menjumpai mereka semua. Akan tetapi, peran sertamu dalam mengenalkan kami, membuatku bahagia. Walau engkau, aku dan mereka yang menyayangimu, mencintaimu, tidak bisa selamanya bersama. Percayalah, aku terus ada. Tersenyum padamu, pada semua.

    Aku memang tanpa rupa. Tapi, ku memanfaatkan kesempatan menjadi bagian dari ragamu, sebaik-baiknya. Untuk menterjagakanmu, menjagamu, menjagakan sesiapapun yang ada bersamamu. Supaya mereka tidak terlena dengan yang ada di sekitar. Supaya mereka tetap awas, siaga, bersiap-siap. Sebelum waktu itu datang, kesempatan hilang. Kapankah?

    Saat ujung waktu pada diri-diri menjelang, mereka tidak lagi berjuang. Namun menerima dengan tenang, hasil upaya jerih payah saat berjuang. Kalau tidak berjuang, akankah hasil mereka pandang? Seperti apakah ujung waktu yang siap mereka jelang? Begitulah mereka harus berusaha selagi kesempatan datang. Ini dariku yang rindu senyumanmu masih ada, di ujung kebersamaan kita, sayang.

    Makanya, ku menyapamu lagi, sekarang. Sapaan penuh rindu, rindu yang penuh. Untuk menterjagakanmu, lagi. Jangan dengar semua yang orang bilang, namun cernalah dulu dan timang-timang. Apakah ada baiknya? Pertimbangkan dan kemudian jadikan alasan berjuang. Yah, berjuanglah untuk menang. Menang? Emang ada perang?

    Haiiii, engkau. Ini adalah zaman penuh perjuangan. Meski tiada perang dengan pergolakan senjata, namun engkau masih hidup, bukan? Yah, perjuanganmu adalah menghidupkan harimu menjadi kemenangan. Memenangkan dirimu dari musuh-musuhnya. Apakah yang terlihat atau tiada. Siapakah saja mereka? Ayo belajar lagi.

    Musuh-musuh yang tersembunyi dan terlihat. Bisa saja hawa nafsu diri sendiri, yang perlu engkau tata lagi. Mau mementingkan ego tanpa peduli orang lain, bisa jadi. Tidak ngasih makan kucing, ini pun termasuk ketidakpedulian. Apa sebab?

    Miaoo, dia juga mau makan, lapar juga sama sepertimu, yang tidak nyaman dalam kondisi demikian, bukan? Begitu pun Miaoo, dia pun makhluk yang hidup.

    Lihatlah, renungkanlah, apakah Miaoo bilang padamu setelah memberinya makanan? Ia bersuara, kan? Meski tak terdeteksi apa yang ia ucapkan, sebenarnya ia berbicara padamu. Kenalilah bahasa tubuhnya dalam berbagai kesempatan. Saat ia belum makan dan setelahnya. Engkau bisa terharu menyaksikan. Selamat membaca segala perubahan, yaa.

    Dariku, yang merindukanmu bersama senyuman,
    -ttd-
    You and Me

    Like

  5. Aku datang lagi, hai engkau, menyapamu. Karena aku rindu padamu, masih. Mau bertanya keadaan terbarumu. Tapi, bagaimana engkau padaku? Adakah engkau juga merindukanku, wahai engkau yang ku rindu?

    “Ini adalah hari-hari yang lapang. Waktu-waktu banyak terluang. Tapi jangan sampai terbuang. Kan sayang, bila tidak ada yang kita kenang. Maka, yuk mari kita melanjutkan berjuang. Berjuang untuk menang. Menang untuk senang. Senang untuk tenang. Tenang untuk menenangkan,” engkau bersuara, tapi masih saja aku bertanya.

    Engkau lagi apa? Sama siapa? Met mimpi indah yaa. Ini yang terpikir olehku tentangmu saat ini. Lalu aku bangkit, dan bergegas menyusulmu. Aku pun terlelap. Semoga ku hadir dalam mimpimu.

    “Hai, masih mimpi-mimpi aja. Hiduplah dalam kenyataan,” sergahmu padaku.

    Aku yang bersiap hinggap di hamparan lembutnya permadani pengantar tidur, pun kaget. Addduuuchh, jangan gitu kali padaku. Aku melakukan semua ini, karena merindukanmu, lagi. Tapi, aku belum bisa menyapamu, bahkan menjumpamu lagi. Makanya, ku mau menemuimu di alam mimpi ajha. Untuk bisa mimpi, tentu tidur lelap, dong. Udah, aku bobo dulu yaa.

    “Bangun, bangun, bangunnnnnnnnn,” engkau menjewer telingaku. Aku tidak menyangka. Engkau sungguhlah kejaaaam padaku. Perlakukanlah aku dengan lembut, jangan gitu kali. Karena aku pun berperasaan, sekalipun tidak mau tahu perasaanmu. Ini semua ku lakukan demi menjaga perasaanku.

    Engkau yang tidak mengerti maksudku, membaca lagi uraian suaraku. Sedangkan aku, bersiap lelap. Ku tinggalkan engkau yang terpukau, terkesima, dan tidak menyangka. Ternyata aku begitu, padamu.

    “Selanjutnya, ku hanya bisa mengimpikanmu seperti ini. Aku tidak akan dapat lagi merengkuhmu. Meski dalam mimpi?,” lah kok aku jadi sendu begini, yaa.

    Rinduku bertambah padamu. Sedangkan aku tidak tahu, bagaimana lagi cara melerainya agar menyusut. Tolong kabarkan padaku, tentang semua ini. Supaya aku bisa tenang. Setenangmu yang tidak berkutik sedikit pun atas sapaku. Tidak menyahut sekata pun atas suaraku yang sudah menggunung kalau ku kumpulkan semua. Suara-suara yang engkau anggap apa lagi?

    Engkau, tetaplah dirimu yang ku tahu. Ku tidak akan menyapa-nyapamu lagi, bila ku tidak merindukanmu. Namun jangan hentikan aku, saat rinduku hadir untukmu. Aku tetap berusaha menyapa lagi. Meski tanpa suara, darimu sama sekali.

    Ku akan menyapamu lagi, bila rindu bilang, “Tetap berjuang, sebelum ada yang menghalalkannya dan ia bilang, jangan ganggu aku lagiiiiii.”

    Hihii, semua mimpi di atas adalah rancangan semata, tanpa maksud menghilangkan sesiapa dari ingatan.

    Buatmu ku berpesan, “Wahai para pejuang cinta, tidak ada daya dan kekuatan, tanpa kekuatan dari-Nya. Maka, sapalah Dia Sang Pemilik cinta, sampaikan damba, harap dan asa, kepada-Nya. Maka ada banyak jalan-jalan tidak terduga yang membentang untuk engkau tempuh. Tetap berjuang, jangan lupakan Allah Yang Menggenggam hati-hati, yaa. Semoga semakin dekat dengan-Nya, semakin tenang di jiwa. Tidak galau-galau lagi, sepertiku yang engkau pikir, jauuuuh dari-Nya. Wahai, aku juga manusia sama sepertimu, wahai yang ku damba.”

    Usahaku ada, bagaimana denganmu?
    -ttd-
    You and Me

    Like

  6. Shalat, jangan menjadikannya sebagai kewajiban. Tapi, sebagai kebutuhan. Sehingga kita mendirikannya dengan enjoy, khusyuk, bahagia dan lebih menyenangkan. Tidak lagi terpaksa, enggan atau tidak semangat. Siap?

    Shalat adalah kebutuhan kita menghadap Allah, mendekati taat kepada Allah. Mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar yang dibenci oleh Allah.

    Shalat adalah yang pertama kali akan ditanya saat kita di yaumil akhir, bila pemeriksaan tentang shalat lancar, loloslah segala amalan yang kita lakukan, tanpa periksa lagi.

    Di antara gerakan shalat, terdapat doa-doa berikut;
    “Rabbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fuanni.”

    Note Cantik : Serambi Islami TVRI bersama Bunda Dra. Mursyidah Thahir, MA, tema kajian tafsir QS Al Ankabut : 45 – 46

    Like

  7. Hai, siapa yang menghubungiku pagi-pagi? Saat mentari belum terlihat lagi? Saat tidak ada sebab yang ku ketahui, sebelumnya. Kecuali, sebabnya adalah karena tidak biasa. Makanya, ku sempat terpikir juga, bagaimana bisa? Aku pun langsung menanya pada pelakunya.

    Buat ngehiburmu, menepikan waktu, daripada ku hanya bengong gitu aja saat menunggu. Karena aku datangnya kepagiaaaaaan, jadi, belum ada sesiapa di sini, Yaaan. Jadi ku menyapa dirimu, dech. Hey, udah bangun belum? Lagi ngapain? Tanya ku padamu.

    “Aku udah bangun, lagi rumpi aja sama Berb, soalnya lagi dalam antrian kamar mandi Beeeb,” jawabmu. Jawaban yang membuatku masih mau membersamaimu beberapa menit ke depan. Lalu, kita pun bertukar suara lagi. Setelah sehari saja tidak berjumpa, aku sungguh merindukanmu. Adakah engkau juga?

    Ah, tanpa bertanya padamu pun aku sudah tahu. Aku tahu dari ekspresimu saat menyambutku. Rindumu semakin bertambah dari hari ke hari, sejak jumpa denganku, khaan? Ahiyo, ngaku aja.

    Aku meledekmu langsung. Tapi, engkau malah berekspresi engga jelas dari ujung sana. Ekspresi yang ku tatap melalui mataHatiku. Iya, hatiku punya mata untuk memperhatikanmu dari sini. Walau ku jauh darimu.

    Aku menyapamu lagi, karena ingat saja padamu. Ingatan yang membawaku mendekat padamu, bertanya ini dan itu, kemudian engkau bahagia. Engkau tersenyum di sana, melalui suara serak-serakmu yang terdengar merdu di telingaku.

    “Hai, engkau bilang antri kamar mandi? Berapa orang memang yang ada di sekitarmu?,” tanyaku mau tahu.

    “Ada empat orang aja siih,” jawabmu singkat. Engkau tidak mau kan, kalau ku mencari tahu lebih banyak tentangmu dan sekitarmu? Makanya engkau begitu. Tapi, siapa dulu, ini aku lho. Iya, aku yang merindukanmu saat kita berjauhan. Teringat-ingat lagi.

    “Lha, kalau begitu, bagaimana kalau kita cari saja sewaan baru? Untuk kita berdua, mau engga?,” aku mencanda aja aslinya. Tapi, engkau malah setuju. Aku tidak tahu mau bilang apa lagi, setelahnya. Apalagi karena engkau tersenyum puas, dan aku pun bahagia dengan senyumanmu.

    “Ayooo, hanya saja belum ada yang ngebangun sewaan untuk kita. Bukankah kita maunya yang di atas pelangi, dekat langit biru?” Jawabmu. Dan detik-detik berikutnya malah bertanya padaku tentang mentarimu itu. Huhuuu, kenapa harus dia lagi, sich?

    “Oiya, mentarinya kenapa engga ada, yaa, pagi ini?,” tanyamu.

    “Emang engga ada, di sini juga, sama. Lagi bersedih dia tu. Karena kita berdua di sini, bertukar sapa tanpa engkau bilang-bilang padanya. Rasain lah ya, nanti dia marah kalau ketahuan, engkau menyahuti sapaku,” ku beri engkau sedikit ingatan. Supaya engkau paham, ckckckck.

    “Iya, aku jadi ingat padanya. Setelah kemarin juga engga menampakkan muka,” suaramu memelan. Aku mendengarnya, semakin ingin menemuimu dan kita berpandangan. Bahasa kerennya, ‘berkasihsayang’.

    Ya Allah, siapakah dia sesungguhnya?
    -ttd-
    You and Me

    Like

  8. Haai engkau. Aku merindukanmu lagi, ternyata. Apa sebab? Karena masih ada ingatan tentangmu yang belum tuntas ku tebas. Jadi, masih tinggal sepotong dan masih menghalangi pandanganku, ternyata. Bagaimana lagi cara meluruhkannya? Supaya tidak terbawa-bawa ingat? Ya, beginilah yang ku upaya.

    Iya, aku rela menata lagi huruf-huruf ini dengan bahagia. Bahagia tanpa senyuman. Mengapa? Begitulah yang ku tahu. Karena sejak awal sampai di sini lagi, wajahku terfokuskan pada rindu. Huhuu, ini membuatku syahdu.

    Nah, sekarang ia sudah tersenyum. Wajahku perlahan ringan. Setelah ia tidak beraikan senyuman. Dan ia tahu saja kalau kehadiranku ke sini adalah dalam rangka tersenyum, lagi. Senyuman seperti apapun yang akan terangkai kemudian, tidak mengapa. Yang ia tahu, ada yang bisa ia senyumi tentang hari ininya.

    Ya, hari ini masih ada. Begitu pun dengan dirinya. Diri yang sungguh bahagianya, membersmai lagi sahabat. Sahabat yang sudah sekian lama meninggalkannya demi ikuti kata hati. Untuk menjemput segumpal semangat di sana. Iyah, berlibur ke sana.

    Tyaaaaa, terima kasih yaa. Buat beberapa oleh-olehnya. Hya, spesial buat keluarga, ia membawa aneka oleh-oleh ternyata. Balik dari melancong ke tiga kota berbeda. Sedangkan aku sebagai bagian dari ; yang ia sebut sebagai keluarga, memperoleh juga.

    Selembar hadiah cute, ku terima dengan senyuman. Beberapa pernik hiasan, ku hayati sepenuh cinta. Begitu pun dengan oleh-oleh yang ku bawa dari kampung halaman, ku serahkan dengan kasih sayang, sebagai tanda cinta dari keluargaku juga.

    Senangnya, bisa bertukar cinderamata. Walaupun sederhana, kami bersenyuman membaginya. Aku membawakannya sekarung camilan, sedangkan Tya memberiku beberapa jenis buah tangan. Salah satunya kembang-kembang yang bermekaran, warnanya biru, warna kesukaan Tya. Jadi, setiap kali ku memandangnya, ingat Tya dech. Hehee.

    Tya, memang selalu begitu padaku. Dalam berbagai kesempatan ia berlibur ke luar kota, tidak lupa membawakanku cinderamata. Ketika ke Bali, tahun-tahun lalu, oleh-olehnya khas Bali. Selain itu, ada lagi. Sebuah potret dirinya dengan latar belakang sunset di pantai, membuatku jingkrak-jingkrak karena bahagia. Wahai, mentari yang cerah dan aku suka. Ku simpan di dalam lembaran perjalananku, sebagai kenang-kenangan darinya.

    Saat ia pulang kampung dan kami terpisah jauh, ia masih ingat padaku. Meski ia di atas awan ketika itu. Ingatan yang ku tandai dengan potret awan putih bergumpal-gumpal di sisi pesawat, ia kirimkan spesial untukku juga. Aaah, aku masih ingat. Betapa ia masih mencari-cari celah untuk membekukan senyuman mentari yang hangat itu, buatku. Masih melalui selembar potret dan aku suka.

    Perjalanan demi perjalanan kami selama bersama, ia abadikan juga melalui ponselnya dan mengirimkan padaku beberapa waktu kemudian. Karena ketika itu, hapeku engga ada kameranyaaa. Hahaaa. Sampai tentang hal ini, menjadi bagian dari impianku, ‘Mempunyai Hape yang ada kameranya’, pun tergapai seiring waktu dan aku bahagia, saat impian ini menjadi nyata. Sungguh sederhananya caraku bahagia.

    Lagi dan lagi, Tya suka saja mengajak-ajakku ikut kegiatan-kegiatannya. Apakah bersama keluarga, atau menemaninya ke mana-mana. Aku mau aja, demi bahagianya dan aku bahagia. Sampai belanja keperluan kecil-kecil aja, tidak jarang kami bersama. Ini memang biasa tapi bagiku berkesan adanya.

    Dua hari yang lalu, kami baru berjumpa lagi. Jumpa pertama di tahun ini. Jumpanya kami sambil makan di luar dan menghirup udara sore hingga malam selepas magrib. Ia menyapaku dan rela jemput ke kosan, karena ku engga punya ‘kaki’. Begini bahasanya, sama orangtua. Makanya menjemputku, karena ku tidak bisa ke mana-mana tanpa kendaraan. Hahaaa, sungguh cantik dan baik budinya.

    Semoga impian dan citamu tercapai, teman. Engkau dermawan dan tidak pernah membiarkan teman kesusahan. Sungguh peduli dan tidak meninggalkan. Bahagianya kita berteman, dan bagiku engkau berharga. Saat ini, ku ada waktu luang, tersenyum padamu dalam ingatan. Ingatan seraya membaris senyuman dan menepikannya menjadi catatan.

    Catatan ini tentangmu yang ku rindukan. Rindu saja, walau belum lama kita ketemuan. Tyaaa, ada yang mau ku ceritakan. Cerita terbaru tentang seorang kawan. Kawan yang pernah engkau pertanyakan, bagaimana aku dan dia berkenalan. Lalu, engkau bersihkan ingatanku tentangnya, bersama pendapat-pendapat dan pemikiran. Bukan mengabaikan, namun mempedulikan.

    Semua ekspresimu saat berpesan, jelas ku ingat sebagai alasan tersenyum lagi. Masih tentangmya yang engkau bilang, “Itu konyol tidak masuk akal”. Ah, aku pun tidak kepikiran dan engkau lebih paham. Makanya, ku mempertimbangkan pendapatmu, menimang-nimang sebelum memutuskan. Esok, insya Allah, akan ada kisah tentangnya, spesial.

    Aku tahu, engkau tidak membacanya saat ini, esok, lusa atau kapan-kapan. Ahiya? Bukankah catatan ini untukmu? Mengapa aku tidak memintamu membacanya?

    Engga apa-apa, ini hanya coretan pikiranku saja yang berterbangan. Semoga lembarnya sampai padamu, kemudian. Entah kapan? Sampai berapa lama? Haii, sungguh aku tidak dapat membayangkan, betapa akan menjadi kejutan buatnu teman. Sebab, engkau akan tahu, siapa gerangan yang ku maksudkan. Apakah yang sebelumnya pernah engkau pikir ku penasarani?

    Iya, itu dia. Tentangnya yang masih saja menjadi bagian dari ingatan ini. Besok, semoga semua kelar. Seiring hadirnya sebungkus rapi ingatan yang ku kemas dengan rapat. Tidak akan ku buka-buka lagi. Kecuali ada yang membukakannya untukku, dan Ketentuan-Nya sungguh sangat indah.

    Ini yang mau ku pesankan, supaya mengembalikan ingatan kepada-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala dalam berbagai situasi. Apakah yang kita sukai atau bukan. Bukankah, dalam keadaan yang kita benci, ada kebaikan di dalamnya? Sedangkan yang kita sukai belum tentu baik untuk kita? Maka, berbaik sangka dalam berbagai situasi adalah penting. Supaya hidup kembali dalam-kedamaian, setelah gelojak memporakporandakan ruang jiwa yang tak tertata. Sedangkan … Aku udah ngantuk. Bocan dulu dan insya Allah, besok ku lanjut yaa, di note khusus for you.

    Bersamamu bahagia, tanpamu ku rindu,
    -ttd-
    You and Me
    πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    Like

  9. Telah terbuka pintu hatimu, oh kawan. Kita berteman jadi sahabat di perjalanan. Hiduplah selalu di dalam senyumanku. Tetaplah bersatu dalam ingatanku. Menjadi mentari di dalam hatiku.

    Terus tersenyum, meski engkau pilu. Sampaikan segala yang engkau mau. Cuplikan sedikit pesanmu padaku, menjadi penerang sepanjang waktu. Beraian nasihatmu untukku, senantiasa menjadi temanku. Ketika engkau jauh dariku, ia mengingatkanku dalam kelupaanku, menghiburkanku dalam kesedihanku, membersamaiku dalam bahagiaku.

    Terima kasih teman, untuk hadirmu dalam hidupku. Ku kenang engkau selalu menjadi cahaya mata. Ku abadikan ragamu dalam bait-bait indah rangkaian senyuman ini.

    Telah tiba masanya. Mimpi menjadi nyata bersamamu.
    Telah penuh airmataku di pelupuknya. Menjadi aliran tak terbendungkan.
    Telah berakhir segala duka. Saat engkau menyapa, membawa bahagia.
    Telah terdata sungguh rapi, segalanya sejak mula.
    Usah menyesali yang telah terlewati.
    Usah menangisi yang telah berlalu.
    Ku hiburkan engkau dengan senyumanku.
    Menjadi jalan bahagiamu.
    Meski raga kita tak bertemu, percayalah engkau hidup di dalam sanubariku.
    Dalam langkah-langkahku ada dirimu.
    Dalam diamu ada senyumanmu.

    Tetap berjalanlah, lanjutkan perjuanganmu. Semoga segala cita menjadi nyata pada saatnya.
    Jangan menangis, berairmata. Menangislah dengan rangkaian kata.
    Tumpahkan segalanya menjadi ada. Agar tidak hanya engkau yang mengalaminya. Semua penghuni dunia boleh tahu. Bahwa engkau juga pernah pilu. Bukan untuk membawa-bawa sesiapa ke dalam sendumu itu. Tapi cukup menjadikannya sebagai peneguh kalbu. Semua ada dalam ketentuan Rabbmu. Ingatlah kepada-Nya selalu semoga tenteram hatimu. Sapalah Dia dalam heningmu semoga mengalir airmatamu. Sedikitkanlah tawamu dalam bahagia. Karena di sana ada yang terluka. Susutkan airmatamu dalam dukamu. Karena di sana ada yang terbahagia.

    Engkau hanya perlu taat. Kembali kepada ingat. Supaya tidak terlena dengan segala yang belum saatnya.

    Bila tiba waktunya, berbahagialah jiwa. Tidak ada yang tersia dari segala pengorbanan, airmata, kesedihan, pasti ada ujungnya.
    Sambutlah dengan sederhana. Tanpa terlupa-lupa, bahwa engkau adalah hamba yang mempunyai Penguasa.

    Tuluskanlah baktimu, teguhkanlah pelayananmu, menjadilah sebagai abdi yang paling setia. Tanpa pernah memberontak. Tapi, taat dan patuh sebagai peneguhmu.

    Melangkahlah tanpa keluh. Meski ragamu berpeluh.
    Melangkahlah tanpa kesah. Meski jiwamu resah.
    Melangkahlah tanpa gundah. Sekalipun pipimu basah.
    Aha!
    Sudah pagi, dan senyuman mentari sudah terlihat lagi, ayo bangkitttt.

    Selamat berakhir pekan, teman. Semoga senyumanmu tetap mengembang indah, yaa. Semangat dan menjadilah seperti yang engkau impikan. Maka, impianmu menjadi nyata, saat engkau membiasakannya.

    Oke?
    -ttd-
    You and Me
    πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    Like

  10. Hari yang teduh. Karena mentari sudah sembunyi lagi. Mariii kita tetap berseri-seri, meski temaram dan tiada penerangan. Ayo bergerak lagi, sekalipun dalam penantian. Tetap tersenyum, meski belum ada kejelasan. Apakah ia akan datang, atau tetap di sana tanpa jawaban?

    Semangat pagi, untuk menjemput siang yang berbinar. Semangat siang, untuk menyusul sore yang berkesan. Semangat sore, untuk menghidupkan malam yang tenang. Semangat malam, untuk menyambut pagi yang benderang.

    Yah, menjalani hari bersemangat adalah awal hadirnya terang. Terang yang kita impi, ketika sekitar masih gulita. Terang yang kita damba, ketika gelap merajalela.

    Saat cahaya belum terlihat, menjadilah pelita, berkelipan. Menjadilah sinar yang tidak pernah padam. Menjadilah lentera yang menerangi. Maka terang tak hanya impi.

    Kita tidak bisa selalu merutuk kegelapan, bila cahaya belum hadir. Begitu pun dengan basah karena hujan yang membuat kita kedinginan. Segera, ingatlah payung. Supaya hujan berikutnya, sudah siap-siap bawa payung. Artinya, tetap semangat kawan. Tersenyumlah menjalani hari.

    Selamat tinggal jejak-jejak dalam perjalanan.

    Happy week end,
    -ttd-
    You and Me
    πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    Like

  11. Dari perjalanan, kita menemukan pengalaman. Dari kesalahan, kita mengenal pemaafan. Dari ketidaktahuan, kita mengenal pengetahuan. Dari pertanyaan, kita menemukan jawaban. Dari percakapan, kita memetik pelajaran.

    Hari ini ada pelajaran baru, lagi. Pelajaran yang ku syukuri atas pertemuan. Pertemuan dengan beliau untuk pertama kali. Namun kami mudah akrab, lalu bertukar suara beberapa kali. Tidak terlalu riuh, memang, namun cukup untuk memetik sebuah inspirasi. Inspirasi kali ini tentang mentari.

    “Mentari? Ngapain malam-malam ia muncul? Bukankah sudah gelap dan dari tadi gerimis menyapa? Lagi pula, siapa yang engkau temui? Haiii, engkau pergi-pergi yaa. Ke mana? Sama siapa? Berapa lama?” Tanyamu berguguran, bersama senyuman. Karena engkau tahu, pasti ku tidak sendirian pergi-perginya. Meski tanpamu bersamaku. Sebab engkau bisa menerka, siapa saja yang ada di sekelilingku, akhir-akhir ini. Hai, engkau kepo ya sama aku?

    Iya, aku perginya sama Tya, my soulmate sejak kenalan. Teman baik tak berkesudahan. Sahabat akrab tanpa alasan. Tetiba, kami sudah sampai di sebuah tempat makan. Tapi, sebelumnya ku sudah duduk manis di belakangnya sebagai penumpang dadakan. Sebelumnya lagi, ia menyapaku, “Bundoooo, udah di mana? Aku samperin barusan mau jemput, ternyata udah engga di tempat. Ayo, kita jalan, ketemuan di kosan aja yaa. Aku ke sana sekarang.”

    Sapanya berlanjut, tak henti-henti, sampai menemukan kabar terbaruku. Dan ternyata, aku sudah jalan duluan. Karena memang kami tidak janjian buat ketemuan. Tapi, begitulah yang terjadi, teman. Ke mana-mana ia mengajakku, lalu kami pun jalan-jalan, makan-makan, atau apalah namanya sebagai pelepas penat dan pembuka cakrawala pandang dalam pertemuan.

    Tidak lama setelah sapaan, ia sudah muncul di depan sana. Aku terpesona dan ia senyum-senyum manis seperti biasa. Kemudian, mempersilakanku duduk manis dan jangan berjalan lagi. Hihiihiii, ini anak engga kabar-kabari, sudah nyampe aja. Iya, iya, mariiii kita berangkat, bisiknya tanpa bisa ku tanya banyak lagi. Lalu kami melaju dengan kecepatan sedang, sambil bertukar kabar masing-masing.

    Sampai di lokasi pertama, kami menyantap menu yang super huwah dan aku mencoba-coba saja, ternyata suka. Kami pun kenyang dan kemudian siap-siap meneruskan petualangan lagi, menuju lokasi berikutnya. Hingga sebuah benda impian ada dalam genggamannya. Setelah, berjuang ke sana ke sini, menemukan solusi. Hihi, inilah kesempatanku menanya saat bertemu beliau yang ku maksud di awal tadi.

    Saat Tya berjibaku dengan aneka prosesi akad, kami bertukar suara. Kak Lis namanya. Seorang perempuan yang ku perhati dan menarik untukku ku tanya. Selanjutnya, kami bertukar sedikit cerita. Cerita ringan, untuk membagi wawasan.

    “Begitulah kami di sini. Datang saat mentari belum terbit, kembali saat mentari sudah tenggelam. Jadi, tidak bisa menyaksikan sinarnya setiap hari. Beginilah istilahnya,” urai Kak Lis tentang aktivitasnya.

    Tepat, saat ku menyampaikan rasa ingin tahuku padanya. Termasuk rasa ingin tahu dengan jadual-jadual aktivitasnya yang menurutku, unik. Ya, tentang bagaimana ia melakukannya, sedangkan bagiku tidak terpikir. Ia telaten dan mahir, lancar serta paham yang ia sampaikan. Ia menguasai aktivitasnya, aku jadi suka.

    Dalam kesempatan berikutnya setelah beberapa lama bertukar suara, ku menyadari. Bahwa beliau adalah pribadi yang tulus, loyal dan setia pada pelanggannya. Meski kedatangan kami hampir di ujung waktu, Kak Lis tidak lantas meninggalkan kami atau menjuteki. Namun, mau meluangkan waktunya demi melayani kami dengan prima, sangat baik. Hingga aku pun terharu.

    Hal penting lainnya yang tidak luput dari pandanganku adalah keramahannya, mendahulukan konsumen dan memberikan kepuasan, sesuai kemampuannya. Atas ketidaktahuan, ia menjelaskan. Dengan pengetahuan, ia mendetailkan informasi. Sehingga, kami tidak bertanya-tanya lagi. Karena semua ia sampaikan jelas, padat, ringkas dan tepat.

    Yang bertransaksi adalah Tya sebenarnya. Sedangkan aku sebagai pengantar saja, menemaninya. Walau begitu, ada bahagia yang ku petik dalam waktu kebersamaan kami kali ini.

    Terima kasih Tyaa, untuk jalan-jalannya, pertemuannya, dan pengalaman bertemu dengan orang baru yang akhirnya menitipku senyuman terbaiknya, dengan Kak Lis.

    Buat Tyaa, semoga ke depannya semakin bertambah tumbuh manfaat diri dan menebarkannya tiada henti. Berkah segala harta, setiap titipan berguna panjang, tanpa henti. Akhirnya, sampai berjumpa lagi, I will miss you dear sister. Hehee, selamat ya, buat pernik terbarunya. Selamat juga untuk tercapai impiannya.

    It is the wonderful blue one,
    -ttd-
    You and Me

    Like

  12. Aku : Hai engkau, iya, engkau. Aku datang lagi untuk menyapamu, menitip rindu yang terbersit. Supaya engkau tahu, bahwa engkau kembali ku ingat. Iya, ingat saja, dan menepikannya menjadi kalimat. Seperti ini, menjadi tersurat, dan engkau bisa mensenyuminya, yaa. Karena ku merangkainya bersama senyuman.

    Engkau lagi apa, sekarang? Kabarnya bagaimana? Semoga sehat dan senang yaa. Karena sekarang kan hari libur, jadi lebih banyak waktu buat keluarga.

    Selamat menjalani kebersamaan yaa. Bersamailah keluargamu dengan akrab, selagi masih sempat. Supaya mereka ingat, bahwa engkau pun ingat keluarga. Engkau menyayangi semua, sangat-sangat.

    Oiya, aku juga sama. I love my family, aku suka berada di tengah-tengah keluargaku. Walaupun jauh, ku masih merasakan semua dekat, jadi sangat jarang ku tidak merindukan mereka. Huuwaa. Akhirnya, ku tepikan ingat menjadi susunan kata. Supaya ku tahu, sejauh apa ku peduli pada keluarga.

    Ah, mengerti juga aku akhirnya, bagaimana ku semestinya. Setelah menyadari, hanya menyimpan kebersamaan kami dalam ingat, dan tidak sering-sering merangkai senyuman tentang keluarga. Dan sekarang, saat ku ingat keluarga, ku mau menepikannya menjadi senyuman.

    Ingat keluarga, aku ingat dengan masakan. Aku ingat dengan ibu, dan ingat menu-menu kesukaan kami. Jadiii solusinya, agar tidak hanya ada dalam ingatan, ku berangkat ke pasar, belanja bahan-bahan, lalu bereksperimen menjadi koki dadakaaan. πŸ˜€

    Nah, satu yang mau ku pesankan. Engkau tidak boleh membayangkan bagaimana penampilanku saat ini. Karena engkau akan… syuut, sensor.

    Saat ini, ku sedang memasak. Tapi bisa mampir sini juga.

    Engkau : Haaaah? Napa kau tinggal-tinggal, nanti gosong, keasinan, kurang garam, cepetan aduk-aduk sayurannya. Eh, engkau masak apa? Ada sayurannya engga? Aku suka sayur soalnya.

    Trus, bawang-bawang, cabai, masih kurang bersih cucinya. Benerin lagi potong-potongnya. Dan jangan lupa mengolah dengan senyuman, yaa. Agar hasilnya pun manis dan lezat. Yummy, saat menikmatinya.

    Aku : Engkau udah kayak senior koki gitu padaku. Ku memandangmu penuh makna, tanpa bicara. Hanya ku lirikkan mata, tanpa suara memang. Tapi, ada yang mau ku sampaikan padamu sekarang, “Karena ku sedang menunggu, jadi begini deh. Menunggumu yang tak kunjung tiba. Menunggumu yang mau ku masakin, ckckckkck. Nanti masakan udah ada, masak iya masak-masak sendiri, makan-makan sendiri,… (*engkaunya di manaaa?)”

    πŸ˜€

    Hahaahaaa, aku mampir karena lagi nunggu. Jadi daripada ku melamun, saat menunggu. Maka ku meratakan jemariku di antara huruf-huruf ini. Lalu mengolah juga sebuah catatan. Agar ada yang ku jadikan sebagai kenangan tentang aktivitas ini. Hihihii. Jadi ku tidak sepenuhnya meninggalkan olahan menu masakan kali ini.

    Engkau : Beneran? Engkau masak apa gitu? Emang bisa masaknya? Bukankah sukamu jalan-jalan? Main-main di sini, trus lupa waktu?

    Aku : Huwaaa, adonanku sudah mendidih, ku tinggal dulu yaa? Sekejap. Aku kembali, hihihii. πŸ˜€

    … Menit-menit berikutnya, aku pun bolak balik. Ke sini dan ke sana.

    Engkau : “Hai, fokus lah, fokus, kalau masak ya masak aja. Kalau main ya, main aja. Jangan multitalenta, dear. Cepetaaan, aku lapeerr, mau ikut makan ceritanya.”

    Aku : Dah, udah, daaah siap sajiannya. Makanya, ku kembali lagi ke sini.

    Engkau : Huups pinteer. Masak apa tadi? Jangan-jangan boonglagii. Mana ku percaya engkau masak. Paling juga lagi berjuntai kaki, atau leyeh-leyeh di depan tipi, atau jangan-jangan menunggu mentari yang tak kunjung menampakkan diri sejak pagi tadi? Hihihi, pardon me, menyangkamu sekali lagi. Tapi ku tahu engkau tak begitu. Engkau pasti tahu jadual harianmu. Engkau tentu paham rutinitas dan keseimbangan di antaranya. Bahwa engkau harus pintar masakkkkk, kakakakakaaa, karena ku suka yang pintar masak.

    Aku : Eheheeheee, iya, ku tahu. Semua suami pun mau yang istrinya pintar masak. Biar hematlah, supaya lebih sehatlah, semoga istri kreatiflah, agar tahu bagian mana dari bahan-bahan dapur yang pedas, asin, asam, dan sebagainya rasa yang ada. Seperti hidup ini yang beraneka ragam rasanya.

    Ini beneran, dan masakanku di luar dari yang orang-orang prediksi tentangku. Aku asli dari suku yang terkenalnya penyuka pedas, tapi aku engga suka pedas. Berlatarbelakang ras yang biasanya masak rendang, aku masaknya semur. Biasanya masak gulai yang banyak bumbu-bumbuan, sedangkan aku sering mengolah tumis-tumisan yang ada iris-irisan bawangnya. Kalau sambel ijo ini udah biasa, sama goreng tempe dan tahu, di mana-mana ada.

    Aku : Siapa jadinya? Aku ya, aku. Bukan sesiapa. Saat ada yang bertanya, gimana ku tidak suka sambel yang pedas-pedas sangat. Karena sudah pedas pun hidup ini, tertemui dan terlewati.

    Pesan moralnya: “Kita tidak bisa menilai seseorang dari suku dan ras mana ia berasal, lalu mencap ia begitu dan begini semaunya, sesuai penilaian kita saja, yaa. Kecuali mengerti dan memahami, semua kita sama dalam pandangan Allah, kecuali tingkat ketaqwaan yang membedakan kita.”


    Aku : Memang, sederhana aja masakanku, tapi ku percaya engkau mau, mau, mauuu? Mari kesindang, kita berpandang-pandang, lalu kenyang. πŸ˜€

    Engkau : Kenyang aja pandang-pandangan? Mana bisa? Aku mau yaa? Mana-mana hasilnya?

    Aku : Udah siaaaph. Mariii ini buat maksii (makan siang).


    Eits, ada pesan.

    Tya menyapa, “Bundoo..
    Get ready at 2 o’clock yaaa..
    Jgn lupa helm.”

    Artinya, Tya mau ajak aku jalan-jalan lagiii, menemaninyaaaa. πŸ˜€

    Wahai Tya, ku berdoa untukmu sayang, semoga segera berjumpa jodoh terbaik yaa, dan kelak jalan-jalannya engga hanya sama aku lagi, tapi sama seseorang yang menyayangimu, mencintaimu, tulus padamu, dengan segala yang ada padamu.

    Bukan hanya karena berlimpahnya hartamu, menariknya parasmu yang cantik dan semakin cantik dari hari ke hari, tapi demi melengkapi separuh agamanya yang masih setengah. Karena ia memandangmu dari sisi keimanan yang dapat menunjang taatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

    Seperti yang engkau sampaikan semalam, dalam pertemuan terbaru kita, tentang cintamu pada kedua orangtua dan ingin beliau senang saat engkau sudah berumahtangga.

    Semoga, semoga terjawab dalam tahun ini, yaa, aamiin ya Allah. Sangat berharap ku tentang hal ini, sebagaimana yang engkau pinta juga tentangku.

    Kita bisa mengimpi, saling mendoakan, meski tidak saling tahu, mendamba tanpa jemu, menguntai harap selalu.

    Semoga, ini menjadi peneduh kalbu yang sempat dan masih saja menanya, “Ya Allah, benarkah ia jodohku? Jika benar, dekatkan kami dengan cara-Mu, atas ridha-Mu, dengan ridha dari kedua orang tua kami. Karena kami menyayangi beliau berdua, sebagaimana beliau menyayangi kami semenjak kecil. Karuniakan kesehatan, kebahagiaan, ketenangan di dalam hati-hati beliau, meski saat ini kami belum membersamai menantu idaman untuk beliau pandang. Jadikan hati beliau rela, siapapun yang datang meminang, sekalipun dari jauh beliau datang. Mudahkanlah prosesnya ya Allah, proses yang kami tempuh dalam mengikuti dan menjalankan sunnah Rasul-Mu. Dengan begini, kami tenang melanjutkan perjalanan hidup ini, yang kami tidak tahu, akan berujung kapan dan di mana. Sampai di ujung perjalanan, kami ingin tetap bersama, saling mengingatkan kepada-Mu. Bahwa engkau adalah Penentu segala pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya raga.”


    Ku melanjut catatan lagi, menyambungnya, karena ada perannya di sini, menjadi inspirasiku tak bertepi. Setelah akhirnya Tya menyapa via suara, karena ku belum membalas pesannya.

    Iyaalaah, saat ku asyik mencuci, pesan masuk dan aku membacanya setelah panggilannya datang. (B-coz, suara panggilan lebih jelas dan tinggi nadanya daripada bunyi pesan).

    Tapi Tya sudah mengerti, aku memang begitu. Hape entah di mana, diri ada di mana. Nah, sekali pegang hape, jadi lupa waktu.

    Aku tersadar, “Haaai, udah jam berapa? Jam dua Tya udah datang. Aku mau siap-siap, yaa. See you, teman. I will miss you. Saat rindu datang menyapa lagi, aku tersenyum untukmu.”

    By : Calon istrimu. Catatan ini selesai, dan dia lagi nyuci baju. Sebagai kelanjutan aktivitas sebagai perempuan, di rumah. Sembari menyahut sapa dari tetangga yang bertanya, apakabarnya? Aku main ke tempatmu yaa? Masak apa hari ini? (Yang masih damba).

    Semangat!
    -ttd-
    You and Me
    πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    Like

  13. Aku lagi bersantai. Setelah berpinta camilan di dalam kotak, padanya. Aku duduk di sampingnya. Siapakah dia?

    Dia adalah seorang teman. Ia sedang menyantap menu makan malamnya. Ia menikmati sendok demi sendok, sangat teliti. Sesekali melirik tipi, sesekali menyuap.

    Aku sibuk sendiri, meski santai. Serius, setenang embun pagi. Senyum, seanggun mentari sore hari. Seraya membaca-baca sebuah catatan. Di antara perut keroncongan, karena ia ku isi menu berbeda hari ini. Jadinya?

    Bertanyalah ia, begini, “Engkau bagi apa padaku? Aku belum ingat ini semua. Aku tidak mau menerimanya. Tapi sudah terlanjur ada, padaku. Makanya ku kriuk-kriuk yaa. Bukan berarti lapar, tapi aku bersabar. Aku berusaha mencernanya. Aku mencoba mengolahnya. Engkau baik-baik saja, kah? Aku masih aman.”

    Dalam ketenanganku, keseriusan tapi santai, temanku tadi sudah sibuk juga. Huwahhuwah berulangkali. Ku pikir memang harus begitu. Karena ada si cabai super pedas di antara menu. Aku yang sempat mengicipnya juga, engga sanggup menahan perih di lidah. Tampaknya ia mengalami kondisi sama.

    Hingga sebaris suara ia luahkan, atas deritanya, “Udah kayak naga dah, aku jadinya, haaaaah. πŸ˜€ .”

    Aku masih asyik. Hingga detiik-detik berikutnya, lama berselang, aku tertawa senang. Karena baru konek dengan penderitaannya. Tawa yang ia tertawakan, kemudian. Karena ku terlambat koneknya.

    “Yaaaah, baru tertawa dah kakak. Aku udah dari tadi kayak gini, hihii πŸ˜€ ,” ia menertawaiku.

    Yaaach, beginilah koneksiku terkadang… . Orang tertawa kapan, aku kapan. Udah gitu, lebih lamaan. Teman yang mestinya udah usai tawanya, menertawai sudah. Ah, engga usah terpesona gitu, kawan. Ini menjadi selingan kami dalam kebersamaan. Sehingga ekspresiku menjadi sejenis hiburan juga bagi teman-teman yang akhirnya mengerti, aku. Setelah lama-lama kami berteman.

    “Cepat, cepat obatin pakai buah, biar cepat hilang pedasnya, hahaa πŸ˜€ ,” ku memberinya saran.

    Selanjutnya kami berpandangan. Ia tersenyum penuh makna. Aku mulai merapikan ekspresi lagi. Ekspresi yang sempat berantakan. Karena menyadari yang ia sampaikan.

    Berikutnya, kami melanjutkan aktivitas masing-masing. Menyusuri waktu rehat bersama senyuman.


    Tidak perlu ragu, siapa yang ada di sisimu. Kalau engkau mau menghayati waktu, ada saja pelajaran yang bisa engkau petik bersamanya. Selanjutnya, menghiasi waktu bersama senyuman. Senyuman dalam kebersamaan. Senyuman tentang pemakluman, pengertian, pemahaman dan pengertian terhadap teman.

    Teman yang menjadi bagian dari perjalanan. Perjalanan hidup kita yang masih berlangsung. Apakah yang engkau pikirkan, teman? Memang beginilah aku yang sebenarnya. Sedangkan yang sebenarnya engkau inginkan, bagaimana? Masih merindukan?

    “Iya, saat kita berjauhan, aku merindukanmu. Sedangkan saat kita bersama, aku bahagia,” jawabmu tanpa sempat menoleh padaku sedikitpun.

    Selanjutnya, engkau pun asyik dengan gerak jemarimu yang sempat tertunda demi menjawab tanyaku.

    “Okelah, kalau begitu, bagaimana kalau kita saling merangkai bahasa saja? Tentang rindu yang bermunculan, sebelum kita bertemuan. Ini tentu sangat mengesankan. Apalagi, yang kita rindukan sama-sama merasakannya terhadap kita. Ya, seperti engkau padaku? O, bukan. Seperti aku padamu. Tapi, padaku engkau tidak menyampaikannya. Karena engkau sudah tahu pun, tentang rindumu padaku. Jadi, deal, kan?

    “Heii, bukankah sebelumnya engkau pernah bilang padaku, tentang -biarkan engkau saja yang merindukanku. Sedangkan aku jangan? Karena akan ku rasakan juga seperti yang engkau rasakan. Akan ku alami juga sebagaimana yang engkau alami. Akan ku rangkai juga kalimat sebagaimana yang engkau rangkai. Bukankah akan sangat tersibukkan kita dengan begini? Waktu-waktu kita terhias dengan ingatan demi ingatan satu terhadap lainnya. Lalu, bagaimana dengan ingatan kita masing-masing pada penggenggam diri dan segala yang ada pada kita.

    Iya, semua yang ada pada diri kita sebagai titipan, ini. Bagaimana kita mendayagunakannya? Apakah membuat kita terlalai dan terlena, bahkan tersibukkan padanya, bukan kepada-NYA? Dan ku tanya padamu satu hal saja kali ini, engkau lagi apa?”

    “Memandangmu,” jawabku.

    “Nah, lha, lha, mandangin aku aja betah berlama-lama atau baru saja? Ngajinya udah ada belum, sehari ini?” Tanyamu.

    (Aku terdiam).

    “Napa kok diam?,” engkau mau jawaban.

    “Jawabannya ada padamu. Karena apa yang ku lakukan adalah cermin lelakumu. Bukankah kita merupakan bagian satu dengan lainnya?,” beraiku.

    “Iya, karena engkau cerminku dan aku cerminku, maka, mari kita tetap berteman. Menjadi teman yang saling mengingatkan satu sama lainnya. Dengan begini, kita sama-sama dapat bersenyuman, saling membagi ingatan dalam kehidupan,” engkau tersenyum menawan. Senyuman yang menjadi cermin bagiku.
    -ttd-
    You and Me
    πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    Like

  14. Ku memperhati ada motornya di parkiran. Saat melewati lokasi parkir, motor berbeda terlihat lagi. Ya, ada penandanya, ‘Rafa’ tertulis rapi di sekitar plat nomer.

    Rafa adalah nama keponakannya. Nama yang ku senyumi pertama kali, karena menempel di plat motor, dan sempat membacanya. Berkali-kali membaca pada waktu-waktu lalu, terketahuilah bahwa motor tersebut kepunyaan Scatzy, hihii. πŸ˜€ Dulunya memang begini. Namun hari ini sudah ku ketahui jelas. Sehingga ku tidak hanya tersenyum saja, namun terbahagia jiwa. My roommate datang lagi.

    Mengetahui Scatzy kembali, segera ku berlari menaiki tangga. Anak-anak tangga yang lumayan terjal, ku langkahi satu persatu, tanpa merasa-rasakan lelah. Padahal sebelumnya ku sudah melangkah lumayan lama dan jauh dari sana menuju ke sini. Hingga seluruhnya terlewati dan sampailah aku di pintu besi.

    “Scatzy, welcome home again. Happy with you dear sister and I am really, miss you so much,” ku menyapanya saat masih di pintu.


    Engkau ternyata datang lebih cepat. Bukan esok, tapi sekarang. Horeee, ada teman lagi. Aku tersenyum mengetahui keberadaanmu kembali.

    Ketika ku datang, engkau sedang berdandan. Kedatanganku engkau sambut dengan senyuman. Senyuman cerah yang engkau bagi. Senyuman ayu menenangkan hati. Senyuman manis meneduhkan pandang. Senyumanmu ku sukai.

    Bertemu lagi setelah berjarak raga, adalah kebahagiaan yang ku alami. Ada rasa berbeda di dalam hati, dari sebelumnya. Rasa yang membuat senyuman lebih mudah menebar di pipi. Senyumanku pun terbit berkali-kali. Meskipun sudah sore dan sinar mentari perlahan memudar.

    Mentari. Sore-sore begini menjelang senja, biasa ku ajak engkau memperhati mentari. Meski tidak selalu, engkau memenuhi. Tapi, saat mentari begitu cantiknya dan godaanku manjur, engkau segera berlari ke arah teras. Ini sering terjadi, saat ku kembali dan menyapamu segera. Ketika ku dapati, engkau ada di dalam.

    “Hai, Scatzy, ayoo ke sini. Lihatlah, sunsetnya cantik dan menarik.

    Lalu, tanpa membuang waktu, engkau sudah ada di sisiku. Sehingga, aku tidak melepas kepergiannya sendirian, lagi.

    Selain itu, kita juga pernah terpesona dengan tampilan langit di tengah kelam. Selepas senja menjelang malam, ketika itu. Terlihat awan bergerak dengan kecepatan di luar dari biasa. Ditambah lagi gumpalannya yang ringan, melayang seperti kapas-kapas, ringan sekali.

    Sebuah fenomena alam dalam gelap malam yang kita syukuri. Seraya terus menerus melantun puji dan syukur kepada Allah yang menggerakkan awan, membuatnya indah dalam pandangan. Meniupkan angin, supaya awan berpindah dengan mudah. Menjadi pemandangan alam yang berkesan, bagiku.

    Engkau juga terkagum-kagum, menengadahkan wajah ke atas. Di ujung tatap, terlihat bebintang satu satu.


    Hari ini, engkau ada rencana menemukan sesuatu. Barang titipan untuk engkau bawa kembali ke kampung halaman. Dan seorang teman siap menemanimu menemukannya, teman sebaya denganku. Sebelum pamitan, tidak lupa engkau mengingatkanku, barangkali ada titipan?

    “Kak, mau ada nitip sesuatu? Apakah baso goreng, tahu bakar, mie ayam, nasi goreng, atau apa aja, nanti kita carikan,” engkau menawarkan kebaikan.

    Ketika tanggapanku engga ada, engkau masih bersedia mencarikan selainnya untukku.

    “Atau mau titip pacar, bisa aja,” tambahmu.

    “Oiyaa, mau, mau, Scatzy, yang berjanggut tipis yaaa…,” request-ku berseri-seri. Sambil menepikan aktivitasku sejenak.

    “Waahahaaaa, kalau janggutnya lebat yang bertemu, gimanaaa,” teman sebaya menambahkan.

    “Kalau begitu, berarti bonus, ckckCckk…,” senyumku pun menaburi pipi.

    “Siyaaph, nanti aku bungkusin satu yaa, kaaak,” balas Scatzy dan bersiap berangkat.

    “Okesiip, hati-hati di jalan yaa. Semoga selamat sampai di tujuan dan kembali lagi dengan senyuman. πŸ™‚ ,” ku melepasnya berangkat.

    Jangan malam-malam kali pulangnya yaa, gumamku di dalam hati saja. Karena ku tahu, ia mengerti jadual. Apalagi teman sebayaku, sungguh paham dengan waktu.

    Semoga tertemukan yang engkau cari, dear. Untukmu, untuknya dan semoga untukku juga. Terima kasih, sebelumnya.


    Dua jam kemudian, Scatzy dan teman sebayaku pun kembali. Mereka membawa buah tangan. Bukan yang berjanggut tipis seperti pintaku. Namun bulat-bulat kecil yang Scatzy bilang ‘engga ada janggutnya, tapi botak-botak’, mereka adalah para duku yang manis saat kami santap bersama. Yihaa.

    Berikutnya kami pun menikmati waktu lagi, bersama senyuman. Sambil melirik-lirik tayangan sinetron terbaru yang tayang pukul dua puluh satu tiga puluh. Menonton kali ini engga adem ayem, tapi penuh komentar, hahaaa. Sebab, ada saja yang kami uraikan terkait pendapat masing-masing, atas tema tayangan yang berlangsung. Menghiasi masa kebersamaan saja, bukan benar-benar menyeriusinya. Namun ada pengalaman dan pelajaran yang kami petik di dalamnya.

    Bersamamu lagi ada cerita tentang kita,
    -ttd-
    You and Me

    πŸ™‚ πŸ™‚ πŸ™‚

    Like

Ψ§Ω„ΩŽΩ‘Ψ°ΩΩŠΩ†ΩŽ Ψ’ΩŽΩ…ΩŽΩ†ΩΩˆΨ§ وَΨͺΩŽΨ·Ω’Ω…ΩŽΨ¦ΩΩ†ΩΩ‘ Ω‚ΩΩ„ΩΩˆΨ¨ΩΩ‡ΩΩ…Ω’ بِذِكْرِ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω Ψ£ΩŽΩ„ΩŽΨ§ بِذِكْرِ Ψ§Ω„Ω„ΩŽΩ‘Ω‡Ω ΨͺΩŽΨ·Ω’Ω…ΩŽΨ¦ΩΩ†ΩΩ‘ Ψ§Ω„Ω’Ω‚ΩΩ„ΩΩˆΨ¨Ω ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s