Tetesan Ingatan

Hujan sore hari

Hujan

Hai, engkau, teman di sana. Saat ku menanya kabarmu terbaru, engkau tidak menyahut dan tidak bersuara. Apalagi merangkai kata, untuk memberitahuku beritamu. Mengapa oh, mengapa?

Apakah ada yang terjadi denganmu? Kejadian yang membuatku tidak boleh tahu? Keadaan yang membuatku tidak perlu tahu? Apakah memang? Atau, karena engkau masih sibuk, yaa? Yaudah, aku sibuk juga, ah. ๐Ÿ˜€

Saat ini, ku sibuk mengacau kata, tentang keadaanmu di sana. Sesuai dengan yang teringat olehku saja, tidak mengapa, yaa? Sebagai tanda bahwa saat ini ku teringat padamu. Walau setelah ku menyapa, engkau tak bersuara. Okey.

Engkau begitu, aku juga. Jadi, siapa yang mau mengalah?

Eits, aku lupa. Ternyata engkau sempat merangkai kalimat untukku, yaa. Kalimat yang terbaca olehku, dengan dua mata. Kalimat demi kalimat yang ku jadikan sebagai ingatan untuk merangkainya juga. Walau tidak sama, serupa, semirip, atau senada setelah ia ada. Kalimat demi kalimat yang sangat ingin ku sampaikan padamu. Seperti engkau yang merangkainya untukku.

Yah, aku terlalu leluasa pun begini. Jadi, kalau engkau begitu pun, imbang, bukan? Baiklah, mari kita lanjutkan pembicaraan ini, dengan senyuman. Tersenyum saja, tentu lebih baik. Seperti ini, aku sedang tersenyum, di depanmu.

Yah, ku sebut ini merangkai senyuman. Tersenyum dalam diam, tanpa suara. Tersenyum seraya mengalirkan kata-kata yang terpikirkan dan terasa. Ini sungguh menyenangkan. Rasanya lebih senang dari pada menerima setumpuk uang. Oiya?

Ada kebahagiaan yang ku rasakan, saat ada kesempatan mengalirkan segalanya yang ingin ku sampaikan, melalui tulisan seperti ini. Walaupun tidak sampai pada yang benar-benar ku tuju.

Meski sekian lama dulu, baru sampai pada yang bersangkutan. Sekalipun tidak akan sampai, selama-lamanya. Tapi, aku masih ingin menyampaikan segalanya, yang mau ku alirkan. Karena memang, tidak selamanya ku dapat bersuara, teman. Termasuk padamu, kali ini. Huhuu.ย Betapa sendu hatiku mengingat semua ini. Kesenduan berbuah pilu, lalu aku pun menggugu dalam haru.

Haru saja, saat tetesan ingatan ada untukmu. Ingatan yang mengajakku mengedarkan pandangan ke segala arah. Barangkali engkau ada di sekitarku? Apakah engkau memperhatikanku? Atau tetiba engkau sudah ada di hadapanku? Engkau yang siap mendengarkan berita demi berita dariku. Berita dari ruang kalbu. Yuhuu.

Ada suara-suara yang sempat terdengar olehku, lalu mengalir, masih dan selalu ada, meski hari telah berganti. Walaupun engkau yang ku tuju, belum ada di hadapan. Dan aku percaya, semua memang ada waktunya.

Sejauh ini, aku hanya bisa bersedih, kalau ku ingin bicara tapi tiada sesiapa yang bisa ku ajak bicara. Selama ini ku terlalu larut, saat ingin bercerita tapi tak ada yang mendengarkan. Selanjutnya, aku pun terpikir untuk menemukan jalan keluarnya. Lama-lama, hanya menghabiskan waktu? Tidak. Ini adalah melatih kesabaran. Yeeee. Hehee.

Ada waktu untuk menunggu, agar ku mengerti arti kesabaran. Ada waktu untuk ditunggu, agar ku mengerti arti keikhlasan. Ada waktu untuk bertemunya kita, agar ku mengerti arti perjuangan, pengorbanan, perjalanan, pun keberanian yang engkau punya. Hup.

Hingga sampailah saatnya, sekarang kita bisa bersapa.

Aku tahu, langkah-langkahmu untuk sampai padaku, tidaklah seperti yang ku bayangkan. Engkau tentu memerlukan motivasi, sebelum melakukan. Dalam rangka apakah, teman? Apakah hanya ikut-ikutan, atau ada yang sedang engkau tuju?

Apapun tujuan perjalananmu, semoga dalam rangka menambah kadar keimanan. Meningkatkan keshalehan, menumbuhkan semangat hidup, dan mau mengukur kadar syukur. Menjadikan segalanya, alasan untuk kembali menyadari, bahwa engkau, aku, kita bukanlah siapa-siapa. Kita yang sedang menempuh perjalanan hidup ini, semoga lebih sering teringatkan tentang adanya Dia Yang Mengatur segalanya untuk kita.

Hei, engkau mengapa masih saja diam? Belum menyampaikan selirih suara pun? Adakah karena engkau sebegitu pemalunya? Sesuai yang ku perhatikan, melalui ujung mataku? Apakah betul engkau demikian?

Hi, tersenyumlah, please. Aku pun sama. Tidak jauh berbedalah, kita, hahaa. ๐Ÿ˜€ Meski di sini ku bisa saja berbicara banyak-banyak seiring rangkaian kalimat yang semakin ramai. Sekalipun aku seakan tidak henti bicara sampai sebuah titik engkau temui. Walau tidak engkau mengerti apa yang sedang ku bicarakan. Percayalah, saat ini pun aku sedang diam-diam aja.

Bukankah sudah ku sampaikan padamu, sejak lama? Mampirku ke sini, dalam kesempatan merenungi hidup ini, menyendiri, menghirup udara kebebasan, menelurkan sebutir dua butir ingatan, lalu ku senyumi tenang-tenang.

Atau, kehadiranku di sini adalah menitikkan setetes dua tetes airmata, supaya menyuburkan pandangan. Agar ia tidak mengering seperti yang terlihat dari sana. Supaya ku kembali ingat, ia masih ada dalam berbagai suasana. Apakah saat ku bahagia atau sebaliknya. Airmata yang setia menemani, sebagai teman tidak terganti. Selagi engkau belum ada di sini, ya, beginilah aku.

Ada juga masanya, ku mengukir seberkas … (Hup! Ada nyamuk, lalu ku bertepuk tangan dan nyamuk pun tertangkap. Dalam hal ini, aku sudah ahli, hihiii. Kalau nyamuknya engga lari itu pun. Adduuh, mengapa ia mesti mendekat-dekat yaa? Jadinya, ia harus mengorbankan diri sendiri, demi kebahagiaanku. -Dear nyamuk, jangan salahkan aku, aku hanya terkaget, tadi. Lalu jemariku beraksi).

Mengapa ada nyamuk? Eh, tidak mengapa. Justru karena itulah, kehadirannya menjadi berharga. Kalau engga ada nyamuk melintas baru saja, maka paragraf di atas tidak akan tercipta. Hahaa. ๐Ÿ˜€

Setelah nyamuk dan suaranya menepi, aku sudah tidak bisa lagi berkata-kata, jadinya. Mengingat, segala yang ada di sekelilingku ada suara. Jadi, ku memilih diam, lagi. Diam-diam, ada yang ku senyumi. Siapakah ia?

***

Ada juga masanya, ku mengukir seberkas ingatan pada waktu-waktu yang telah menjadi kenangan. Ada waktunya, ku mengalirkan seberkas harapan pada masa-masa yang akan ku jelang. Sedangkan yang sering ku lakukan adalah menghayati detik ke detik dalam kesempatan yang ku tempuh.

Ada apa di dalamnya? Untuk ku petik pesannya? Ada apa di dalamnya? Untuk ku petik kesannya? Ada apa di dalamnya? Untuk ku jadikan sebagai jalan menghadirkan senyuman?

Dalam waktu-waktu, ada saja yang mengajakku tersenyum. Senyuman yang ku jadikan alasan untuk mampir di sini. Tersenyum saja, ya tersenyum. Walau apapun yang terjadi.

Dan saat ini, ku lagi ingat padamu. Tapi tak bisa ku menyapamu. Makanya, merangkai suara yang semestinya engkau dengarkan, menjadi rangkaian kata adalah pilihanku kini. Selagi masih ada waktu dan kesempatan. Itu saja.[]

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Tetesan Ingatan

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s