Selamat Sore

Gambar terkaitSelamat sore. Hehee.

Sebelum senyuman mentari benar-benar meredup di tepi barat. Sebelum langkah-langkah berikutnya menjejak lagi, di bumi. Sebelum kepenatan jemari sempurna. Sebelum waktu yang sangat berharga, berlalu juga. Sebelum semua menjadi tiada. Sebelumnya, mari kita bersenyuman lagi, teman.

Yah, untuk merangkai senyuman, saja. Tersenyum pada sesiapa yang menghiasi hari menjadi lebih bermakna. Tersenyum pada kehadiran dan kepergian. Tersenyum pada kedatangan dan perpisahan. Tersenyum pada permulaan. Semoga masih bersama senyuman hingga penghujungnya, yaa.

Senyuman yang kita lazimkan lagi dan lagi. Meski bagaimana pun kondisi hati. Senyuman yang masih saja harus dan mesti ada. Kapanpun waktunya.

Senyuman pagi hari yang masih berat, menyambut mentari lagi.

Senyuman siang hari yang lumayan ringan, membersamai mentari menerangi alam.

Senyuman sore hari yang seakan enggan.

Karena ada yang membuat wajah tidak bisa tersenyum seringan awan. Tersebab mentari akan segera berlalu dari pandangan. Begitu pun dengan senyuman malam hari. Iiiii, senyuman ini seperti apa, yaa kawan?

Tapi, sebelum malam datang. Setelah pagi berlalu. Sebelum sore benar-benar menjadi kelam, menjelang senja, lagi. Lagi dan lagi, ku ingin menepi di sini. Menepi saja, mengajak jemari melangkah. Satu persatu, pelan-pelan. Dalam rangka, menyisihkan sebagian waktu, untuk menggoreskan lagi sebait ucap, sapa, salam, dan pengertian. Pada sesiapapun yang tersapa, menyapa, datang dan pergi, tidak bermalam.

Yah. Senyuman tentang apa lagi, gerangan?

  1. Bagaimana?
  2. Apa?
  3. Kapan?
  4. Siapa?
  5. Ok, di mana?

Baiklah, mari kita singkat dengan B.A.K.S.O

^^_______^^

Sorenya teduh, aku jadi laper, dan siap menyeduh hangat kuah bakso, sebentar lagi, hihii. ๐Ÿ˜€

Tapi, sebelumnya, merangkai senyuman dulu, mari. Selanjutnya, baru boleh menikmati bakso, ya, dear me. Ku hadiahi engkau semangkok saja, sebagai pengganjal perut yang belum terisi sejak tadi?

“Hai, mana ada belum terisi? Kerjaanmu pun mengunyah aja dari tadi. Hihii. Makanya ku penuh begini, aku jadi sudah pewe jadi mager, ckckckk,”

“Tapi kok masih laper yaa?” mata bicara.

“Wah, mata mana ada laper, paling ngantuk, iya khan?” sapa jemari.

“Iya, aku ngantuk, ini asli. Mari kita menuju alam mimpi, lagi,” tanggap mata, dan kemudian memejam… Have a nice dream.  ๐Ÿ˜‰

***

Di sini, aku suka bermimpi, lagi. Memimpi aja, memimpin diri sendiri. Supaya ia tidak langsung berkata lelah, saat kenyataan membuatnya rebah. Agar ia bangkit lagi dan kemudian berbenah. Supaya ia segera menyadari, segala sesuatu tentu berhikmah. Maka, ia pun belajar menemukannya lagi. Walau sedikit adanya. Meski untuk mengumpulkannya, harus ada yang ia dengarkan dulu, ada yang ia perhatikan, dan ada yang ia jadikan sebagai inspirasi. Kali ini, siapa lagi?

Setelah sesiapa berlalu, teringat diri tentang masa-masa yang mau tidak mau akan ia hadapi sendiri juga. Saat tiada teman-teman yang ia persiapkan untuk menjadi bagian dari diri, kelak, di alam berikutnya.

Saat sanak saudara kembali pulang, setelah mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir. Harta dan juga kekayaan yang kalau pun ia punya, tidak akan menemani. Kecuali ia manfaatkan untuk keperluan berarti, kepentingan sesama, dan kesejahteraan selain dirinya. Dengan begitu, mereka merubah diri menjadi peneman diri di masa depan nanti.

Di sinilah, saat sendiri, ingatan kembali. Kembali ingat hal-hal yang terkadang ia lupai. Maka, kehadiran seseorang adanya, mengingatkan diri lagi. Hihii. Sungguh, sungguh.

***

  1. Bagaimana?

Ada saja yang datang, lagi. Datang saja, untuk menitipku sekelumit geli di ruang hati. Bagaimana tidak? Engkau saja barangkali tidak mempercayai. Kalau ku merasa ini mimpi. Ya, mimpi saja.

“Kaaak, kalau ternyata ada orang^gila masuk sini macam mana kakak nanggapi?” ia yang baru saja datang, menanya saja.

Engkau tahu bagaimana ku berekspresi dan menanggapi?, “Jangan sampai lah iiii, kan ngerii.”

Selama di sini, ku membiasakan diri berpikir baik-baik saja. Semoga kebaikan demi kebaikan yang menyerta dalam detik ke detik waktu yang ku jalani. Supaya yang berkesan baik saja yang menemui atau ku temui adanya. Makanya, saat menjalani waktu meski pun sendiri dan sunyi, ku bisa menikmati.

Setelah seorang demi seorang pergi. selesai berinteraksi denganku. Yap, mereka datang silih berganti. Ada lagi dan lagi. Namun tidak bisa lama-lama. Jadinya yaa, sebentar saja.

“Ini kan, -.kalau.- ku bilang juga, kira-kira gimana kakak? Eiya, kak. Dulu ada lho, orang^gila masuk sini. Waktu itu ada tiga orang cewek-cewek, sebelum ini,” ia meluruskan lanjut membuka cerita terhoror menurutku.

“Lhaaa iya, kah? Jadi, gimana tanggapan mereka semua?” sedikit rasa ingin tahuku kambuh juga.

“Mereka tereaak ramai-ramai. Jadi kami dengarnya sangat ribut. Kami yang di sebelah keluar semua.” berainya, tersenyum ringan. Terus berekspresi sangat lucu. Karena sukses menggoda nyaliku.

“Waaa, ๐Ÿ˜€ Hahahaaa,” sedikit menjadi kisah yang terdengar lucu bagiku di sore ini. Seraya ngebayang-bayangi, kondisi saat itu.

“Iyak, ini benerannn jangan malah ketawa,” lanjutnya.

“Trus gimana jadinya?” ku menyimaknya dengan ekspresi berganti-ganti.

“Mereka minta bantuan kami buat usirnya. Eits, kami juga takut lah. Tapi kami bantu dan bilang supaya orang^gilanya pergi. Sampai dia pergi dengan tertawa puas,” tawanya pecah.

“Saat orang^gilanya udah pergi. Mereka cewek-cewek pada nangis engga?” tanyaku.

“Engga lah, malah ketawa-tawa mereka, heheeheee,” ia siap berangkat lagi.

***

2. Apa?

Pake ilmu apa kamu? Kok ya engga pernah kena marah sama Bapak. Malah nanyanya ke saya, tentang kelirumu?” salah seorang teman tiba-tiba menghubungi dan bilang begini padaku.

“Aha? Ada keliru di mana ya, Bro? Memang ada yang salah, ya?” ku bertanya padanya. Terkait informasi yang ia sampaikan padaku.

“Iya, barusan Bapak kroscek sama aku, begini dan begitu. Kamu sih, ku bilang gini, enam kali lima totalnya tiga ratus. Malah, engkau buatnya kebalikan. Memang masih enam kali lima, tapi jumlah dan penempatan angka nol kebalik. Bukan di angka lima, tapi di angka enam, gitu. Memang jumlahnya sama, hanya saja rinciannya yang ngaco kamu ah. Tapi kok ya bukan nanya ke kamu. Tapi, padaku. Aku yang jadi omelan,” terangnya dengan senyuman terpaksakan. Senyuman yang terdengar melalui suaranya. Suara berat yang ku kenal sangat.

“Ah, apa benar? Bapak engga ada konfirmasi tentang hal itu padaku. Sebelumnya kami berkomunikasi dan bertemu juga, malahan. Aduch, aku minta maaf kalau begitu. Memang aku yang salah dan keliru. Please,” aku prihatin padanya.

Atas kasus ini, ku bisa saja menjadikannya rangkaian senyuman juga. Mengapa? Terkadang ada hal-hal yang tidak kita duga, lalu bersua dalam nyata. Ada yang kita tahu dari semua, namun ada yang sangat tidak kita tahu. Ada yang memandang kita sesuai persepsinya, padahal bukan begitu yang kita kira.

Dalam pikir ku berbicara, ahihiihiii, pasti mereka habis merumpikanku sebelum ini. Lalu, dalam ingatku, si Bapak memaklumiku. Makanya tidak malah memarahiku. Apa sebab?

Iya, lah. Ada banyak yang ku lakukan. Trus, saat ku melakukan seabrek-abrek aktivitasku, tiba-tiba ia bilang-bilang padaku, tentang angka-angka yang ia pinta untuk ku hitung-hitung. Caranya, ya, bilang saja, tanpa tulisan. Trus, jumlahnya tiga ratus, udah. Aku pun tidak crosscek balik. Jadilah keliru, karena yang ku buat sesuai persepsiku. Sedangkan persepsinya bukan seperti yang ku pikir.

Begitulah, inti penting dalam berkomunikasi yang ku petik. Untuk lebih jelas, dan memastikan yang kita ajak berkomunikasi juga mengerti maksud kita, agar tidak miscom.

Lain waktu, ia datang lagi dan bincang-bincang di depanku dengan temannya. Saling mencurahkan kegalauan dan kegetiran menempuh masa. Sampai melipir-lipir menyinggung namaku, yang ia bilang sangat damai dan tenangnya. Karena tidak ada mendapat marah dari Bapak.

“Iya, dia tuch, enak kali yaa. Kita aja, udah sampai tebal telinga sering kepanasan kena marah, tahan ajaaaa. Dianya, engga ada digituin,” ia melirik-lirik padaku, menepikan sehelai senyum tipis. Senyuman yang ku sambut dengan senyuman balik yang terkirim padanya. Ia duduk di depanku.

“Ihiihiii, emang pada pernah kena marah semuanya?” begini ku menanggapi sedikit persepsi yang mereka beri.

Mereka adalah teman-temanku satu lokasi, di sini. Teman-teman yang memperhati, bagaimana ku berekspresi dalam kebersamaan kami. Teman-teman yang menitipkan secuplik perhatian dari sudut hatiku, kini. Bahwa beliau, adalah bagian dari segala kondisi yang ku alami, hingga saat ini. Tapi yang tidak habis terpikir, dalam kondisi ku begini, ternyata di sana beliau begitu.

Sehingga sampai detik ini, ku mengusaha menemukan lagi, hal-hal inti yang masih ada dan bisa ku syukuri lagi. Terlepas dari suka dan tidak sukanya mereka. Termasuk persepsi demi persepsi yang mereka antarkan. Semua memberikan kontribusi terbaiknya. Bahkan yang tidak pernah ku prediksi.

***

3. Kapan

Seperti baru-saja. Tya sahabatku, masih saja mengingatiku, memperhati, sekalipun ia sedang berlibur. Tya, saat ini dalam perjalanan di kereta api menuju Jogjakarta. Hyaaa, sempat-sempatnya juga ia menghampiriku yang sedang bersibuk ria di sini. Tya yang menyapa dengan bersuara, kali ini.

Suaranya semakin jauh seiring laju kereta api, membawanya menuju kota yang pernah ku impi. Dan sapaannya lagi dari sana, seperti mimpiku menjadi nyata. Meski raga kami berjauhan, seakan ku ikut dengannya bersama ingatan.

Semoga lancar perjalanannya, yaa Tyaaa. ๐Ÿ˜€ Menyimak kisah terbarunya, bisa membuatku lega. Karena perjalanannya banyak kemudahan. Terima kasih yaa, my friend, yang mendoakan buat temanku yang super baik ini.

Iya, aku pernah mengimpi sampai di sana. Ternyata tidak bisa tiba-tiba ingat dan langsung sampainya, clink, gitu dong yaa. Ah, sejauh ini, Jogja memang masih dalam impian. Mengimpi saja, semoga bisa menjejakkan kaki di sana. Untuk keperluan apa?

Beberapa orang teman yang sebelumnya sempat menjejakkan kaki dan menetap di sana, sempat juga memanggil-manggilku supaya mendekat dengannya. Mereka menyapa lalu mengajak dan menawariku, “Mari ke sini. Mumpung aku masih di sini. Tahun depan udah engga di sini lagi, lho.”

Begini ia menyampaikan. Teringatlah aku dengan Mba Vera, seorang humoris yang romantis. Seorang yang manis dan kini, sudah kembali ke kampung halamannya di Palembang. Walau begitu, Jogja masih dalam impian untuk ku kunjungi, oneday, hihiihiii. ๐Ÿ˜€

4. Siapa

Siapa kali ini adalah pembicaraan tentang jodoh. Jodoh yang beliau bilang, tidak ada yang bisa menerka-nerka. Kelak aku dengan si Aini, si Siti, dan si si si lainnya. Tidak bisa menebak-nebaknya.

Ini ku pengalamani, sendiri. Meski sudah mengenali seorang teman perempuan selama tujuh tahun, di tahun ke delapan ku menikah dengan perempuan yang tidak pernah sebelumnya, ku kenali sama sekali. Padahal, kami bertetangga.

Begitulah jodoh. Aku akhirnya bisa bilang, kalau si dia yang selama ini ku pikir jodohku, ternyata bukan. Dan kami berjodohnya ternyata dengan cara berbeda. Yah, rumah kami tetanggaan, sekarang. Jadi sekali berpapasan, kami bisa bersapaan dan bertukar senyuman. Namun sangat menjaga batasan-batasan. Karena saat ini, kami sama-sama sudah berkeluarga.

“Hahaay, berarti jodoh masih, namun realisasinya jadi begitu, yaah?” ku senyum dan ia pun meneruskan.

Iyah, si dia yang selama ini ku pacari selama tujuh tahun, sering berjumpa dan bersapa denganku, tapi dalam lingkup lain pertemuannya. Sehingga, sampai saat ini kami masih menjaga silaturrahmi dengan baik. Walaupun sudah sekian lama berkenalan namun tidak berjodoh di sisi lain.

Tahun pertama sampai tahun ke tujuh kebersamaan, kami baik-baik saja. Pada tahun ke delapan, awalnya, kami break untuk saling mengumpulkan bekal ‘ceritanya’ nabung untuk persiapan pernikahan. Namun yang terjadi?

Komunikasi masih berlangsung, tahun-tahun selama kami tidak bertemuan. Nah, suatu ketika janjian mau bertemuan. Tapi, ada saja kendalanya.

Awalnya kami janjian bertemu di sebuah tempat, sebut saja Utara. Lalu ku datang di sana. Ia pun menuju. Tapi, aku tidak mau menunggu karena ia kelamaan sampainya. Begitu pun dengannya. Saat aku ada waktu untuk berjumpa lagi dengannya, ia yang tidak punya waktu luang. Saat ia mempunyai waktu senggang, aku yang penuh dengan jadual.

Singkat cerita, setahun pun berlalu. Aku tetap menghiasi waktu dengan aktivitas-aktivitas seperti biasa. Dan kami sempat terputus kontak, berikutnya bertemu lagi tanpa rencana. Setelah saling cari-carian. Tapi, tidak pernah bertemuan, lagi. Padahal, ia pun terus mencariku. Aku juga mencarinya. Giliran ku tidak mencari-carinya, kami bertemu di hari meninggal kakeknya, saat ku melayat. Pada saat kami bertemuan lagi, aku sudah menikah sedangkan ia, belum. Karena masih menunggu kabar dariku, dengan setianya.

***

“Lha, bagaimana pula ceritanya, Paa?” aku jadi penasaran.

Begini ceritanya. Lalu, berceritalah beliau dengan selingan senyuman. Bersama inti-inti pesan yang beliau tekankan, padaku. Tentang jodoh yang telah beliau persiapkan, ternyata bukan jodoh, akhirnya. Malah berjodoh dengan seorang yang sangat asing sama sekali, dengan beliau. Yang belum pernah berjumpa, bertemu sapa, sebelumnya.

Namun yang namanya jodoh, yaa, mudah saja jalannya. Banyak saja cara yang mengiringi perjalanan beliau untuk berjodoh dengan sang jodoh. Pertemuan beliau berlangsung lancar, ada saja yang mendukung dan merestui.

5. Di mana

Di mana adalah tentang lokasi bertemunya kita. Kita yang belum pernah bertemu dan merencana pertemuan. Pertemuan yang belum pernah sekalipun berlangsung, atau sudah pernah yaa? Barangkali saat kita masih sama-sama belia. Masa yang sudah jauh dari ingat dan kenangan. Dan kelak, kita kembali bertemuan, namun di mana? Wallahu a’lam bish shawab.

Di mana adalah tentang lokasi bertemunya kita. Kita yang akhirnya bertemu juga, dengan rencana-Nya yang tersusun sangat indah untuk kita jalani. Maka, tetaplah melangkah, teman, di jalan yang engkau pilih, di sana. Semoga jalan kita sama, dan kita pun bertemuan. Entah di persimpangan yang ke berapa. Entah di mana? Percayalah, kalau jodoh bertemu juga.[]

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Sore

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s