Ca.Pe.K yaa Istirahat Dulu

Halo teman. selanjutnya, sampai berjumpa kembali di …

Catatan Perjalanan Kitaย “

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Advertisements

Ketika Sinarmu Sampai Padaku

Dear mentari. Sudah lama juga yaa, aku tidak berbincang tentangmu. Akhirnya, bisa lagi. Waktunya saat ini. Perbincangan rahasia, tentang apa lagi ya? Ha!.

Ku pikir ini momen terbaik. Sebelum engkau berlalu, berbalik, pergi lagi, dan menjauh dariku. Sebelum sore benar-benar menenggelamkanmu ke tepi Barat. Sebelum malam memelukmu erat, sedangkan aku akan merasakan kedinginan oleh kuatnya hembusan angin malam.

Ayuk kita berbagi suara lagi. Meski suaramu tidak dapat ku simak, dengan sempurna. Walaupun suaraku sayup terdengar olehmu. Mari, kita bercerita lagi. Selanjutnya terserah padamu. Apakah akan menepikan cerita dalam memori, atau membiarkan berlalu, mulai sejak kita kembali ke dunia masing-masing. Seperti yang lalu-lalu dan engkau menyampaikan padaku.

Yuuk. Yuuk?

Berbeda denganmu mentari, aku tidak begitu. Sedapat mungkin, di sela waktu terluang, ku berupaya merangkai senyuman terayu, versi aku.

Senyumanku untukmu. Senyuman terbaru, dalam pandangmu.

Supaya menjadi kenangan yang tidak luntur oleh terpaan waktu. Namun tetap ada, meski sebaris adanya senyumanku. Semoga engkau mengingatnya selalu. Tepat, sejak ku membaginya denganmu. Seperti senyuman ini.

Iya. Makanya, ku mengajakmu kali ini. Ajakan yang belum tentu engkau sahuti. Karena engkau lagi sibuk dengan waktumu, berjibaku dengan upayamu, berjuang hebat dengan kondisi yang membuatmu tidak dapat menarik nafas lega.

Engkau berteriak pada seluruh alam agar melakukan aktivitas sepertimu. Fokus, konsentrasi, namun tetap tersenyum.

Halo teman. Aku mau engkau menghargai ajakanku. Ayo berteduh sejenak. Mari kita bersenyuman. Senyuman yang ku bagikan khusus untukmu, tentang kita.

Ya. Senyuman ini hadir untukmu yang tersenyum saat ini, bersamaku. Senyuman yang ku bagikan sebagai cinderamata khusus buatmu, sahabatku. Senyuman di bawah terik mentari sesungguhnya. Senyuman sebagai tanda bahwa kita menikmati aktivitas kita.

Haaai #melambai jemari tangan kanan sejajar pundak mengarah padamu.

Aku punya cerita terbaru, untukmu. Cerita untuk mengingatkan kita lagi, pada waktu yang akan datang. Cerita saat engkau dan aku, masih bisa bersapa namun belum bertatap mata.

Rasanya, hambar. Nah, supaya sedikit berasa, entah manis, asin, gurih, getir atau pedas, cerita ini ada. Cerita pada hari ini yang bermentari.

Yup. Mentarinya semarak sekali di sini, teman. Bersinarnya tidak kalem, namun perhatian. Sehingga membuatku terbahagiakan. Aku yang lagi sendirian, tanpamu di hadapan.

Engkau yang dekat dalam ingatan sedangkan raga kita berjauhan. Engkau yang berpanas-panasan di sana. Aku juga berpanasan, di sini. Engkau yang bermandikan sinar mentari, begitu juga aku. Engkau yang tidak dapat bilang lelah, apalagi mengeluh. Engkau yang mengajarkanku teguh meski berpeluh. Engkau yang tidak banyak bicara. Namun sekali bersuara, mampu membuatku tersentuh. Engkau yang tidak pernah ku temukan mengaduh, walau lukamu belum sembuh. Engkau yang mengobati luka dengan senyuman. Makanya engkau terlihat tegar.

Bahagianya aku, mengenalmu.

Selamat melanjutkan aktivitas yaa dan sampai bertemu bersama senyuman terbaikku untukmu, dalam pertemuan kita berikutnya.

Ya, ku berjanji dengan diriku sendiri. Untuk tersenyum, menyambut kehadiranmu.

Senyuman penuh syukur, dengan keberadaanmu di hadapanku. Senyuman manis, buatku dan juga engkau. Senyuman yang lebih manis dari senyuman manismu saat kita bertemu lagi setelah lama berjarak raga. Senyuman sebagai tanda bahwa memperlakukanmu adalah sebagaimana aku memperlakukan diriku sendiri. Bukan sebaliknya. Sebab engkau adalah aku.

Aku adalah dirimu yang bersemayam pada raga berbeda.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Kelak Engkau Merindukanku

Tersenyumlah, walau sulit. Berbagilah, meski sedikit. Bangkitlah, meski sakit. Berbahagia dengan cara yang unik. Sampaikanlah, walau pahit. Sebab semua tidak dapat engkau pendam sendiri, wahai sahabatku yang baik.

***

Sebelum aku datang, engkau memang tersibukkan dengan pikiran-pikiranmu yang berbelit, pelik, penuh onak duri dan membuatmu tidak dapat berpikir baik. Kini, aku sudah ada bersamamu, ayo berbalik. Putar arah dan jalur menuju yang terbaik.

Yup! Mulai sejak saat ini, jangan hanya fokus dengan dirimu sendiri, lagi. Sebab engkau sudah memiliki aku.

Engkau yang selama ini mendamba kehadiranku. Walau dari lipatan harapan, saja. Tapi, ku lihat engkau tidak hanya mengharap, bukan? Engkau juga berusaha, yaa. Engkau berjuang, yaa?

Hei! Kini, biarlah airmatamu tak hanya rintik. Lepaskan ia menjadi banjir, biarlah meluap, membasahi seluruh lembaran pipimu. Tidak mengapa. Jika memang dengan cara begitu, dadamu merasa lapang.

Menangislah, karena tangisan bukan berarti sedih. Menangislah dalam harumu. Relakan airmata masih menemani waktumu. Jadikan airmatamu sebagai peramai suara hatimu yang tidak pernah mampu engkau ungkapkan padaku. Walau sekata adanya.

Yap. Aku membagimu, caraku menempuh waktu. Aku yang memang tidak sanggup bicara untuk mengungkapkan rasaku.

Kita sama. Jadi, aku menemanimu sebab ku memahami yang engkau alami. Aku merasakan yang engkau rasa.

Ya, sungguh ku bersyukur kita bertemu dan melanjutkan hidup bersama.

Wahai sahabatku yang baik. Aku menyampaikan tentang hal ini, padamu sebagai wujud kasih sayangku terhadapmu. Meski mengungkapkannya pun tidak dapat langsung, melalui suara. Karena aku tidak dapat bicara.

Semoga engkau memahami maksudku. Walau melalui barisan kalimat yang ku sebut senyuman, seperti ini.

Engkau sahabatku.

Dari hari ke hari, bersyukurku selalu. Apalagi saat tertemukan satu lagi kesamaan kita. Kesamaan yang membuat wajahmu bersemu, seketika setelah ku tahu.

Aha! Setelah sama-sama tahu, tatanan ekspresi kita pun bersatu, menjadi semakin lucu. Dan kemudian saling salah tingkah. Ah! Engkau semakin menggemaskanku.

Engkau dan ekspresimu itu membuatku sangat ingin menggenggam bayu. Lalu melemparkan padamu dan tepat hinggap di hidungmu. Mau, aku sungguh mau melakukannya sekali seumur hidupku. Supaya engkau juga dapat merasakan, perih yang ku rasa. Setelah engkau memencet hidung kecilku erat-erat hingga membekas hampir biru. Huhu. Engkau setega itu padaku. Tidak pernah ku memprediksi perilakumu…

Hai, tidak mengapa.

Kelak, engkau dapat merindukanku dengan caramu.

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Sebuah Rumah di Dunia Maya

“Write your story,” bisiknya. Saat aku pertama kali datang ke sini. Kalimat yang terangkai, mengajakku bercerita tentang kisahku, padanya.

Asoka di taman

Sejenak ku terdiam. Diam yang membawaku pada pikiran demi pikiran. Ide pun terbit. Ingatanku bangkit. Ruhku menemukan tempat berlabuhnya, jiwaku tenang, hatiku damai, wajahku pun tersenyum.

Senyumanku membaur dengan kata-kata yang detik-detik berikutnya, semakin ramai. Senyumanku menebar seiring huruf demi huruf yang terus bertaburan di lembar maya. Senyumanku bertumbuh dan bertambah, tanpa ku sadari. Hingga lama-lama, aku bisa tertawa, sendiri. Dalam diam, tanpa suara. Tawa yang menertawakan, diamku.

Ya, aku pun bercerita, melanjutkannya. Tepat, setelah satu titik bertemu, aku lanjut ke kalimat berikutnya. Sampai bertemu titik lagi. Hingga titik ke titik, menyatukan rerangkai kisah yang ku susun saat sendiri. Seperti saat ini, aku dalam kenangan pada proses yang ku tempuh, sebelum hari ini.

Kenanganku kali ini, adalah tentang perjalanan yang ku tempuh, selama berkunjung di sini, dunia maya. Di dunia maya ini, tepatnya ngeblog, adalah tempatku bersinggah.

Hah! Rumah ini pun ternyata, tidak hanya ada aku sendiri. Haai, para pengunjung, para tamu, teman-teman, atau pejalan yang singgah, apakabarnya hari ini?

Mudah-mudahan perjalananmu hingga sampai di sini lancar selalu? Seperti halnya musim yang silih berganti, bagaimana pergantian cuaca hatimu? Sebagaimana banyaknya pikiranku, apakah engkau juga? Let’s share it.

Yaaap, aku sedang menyapamu, di sana. Aku yang ku pikir sedang duduk-duduk manis di rumahku. Rumah yang membuatku sempat nyaman, saat bersamanya. Rumah yang ku buka pintunya lebar-lebar, lalu sesiapa saja bebas memasukinya. Lalu, memeriksa segala yang ada di sini. Hai, atau hanya memandang dari balik jendela, tanpa menyempatkan singgah dan masuk ke dalam rumah. Apakah engkau tidak mau merasakan leganya duduk manis seperti yang ku lakukan selama ini?

Ayolah, duduk saja, saat engkau lelah berdiri. Duduk sejenak, setelah engkau letih melangkah. Duduk saja, meski aku tidak selalu ada, di dalam rumah ini. Sebab, aku memang sering pergi-pergi, akhir-akhir ini. Pergi-pergi, jalan-jalan, tidak selalu di rumah, lagi.

Rumah yang ku rindukan untuk memasukinya, dari dunia nyata. Rumah yang sering mendekapku saat ku mau berteduh dari guyuran hujan saat membasahi bumi. Rumah yang melindungiku dari teriknya sinar mentari. Rumah yang ada banyak cerita lagi, saat ku berada di dalamnya. Rumah ini, memang maya. Rumah tanpa wujud, dan aku pernah menjadi bagian darinya. Hingga hari ini, masih. Hihiihiii.

Rumah untuk berekspresi, saat ku mau tertawa lebih lantang. Rumah untuk merenung, saat dunia nyata memberiku semakin banyak tantangan untuk ku taklukkan. Rumah untuk berdiam, ketika bibirku sering membuka dan suara-suaraku tidak dapat ku redam. Maka, di rumah ini ku bersunyi, menyepi, menenangkan diri. Agar ini bisa mengendalikan ekspresi apa saja yang muncul bersamaku.

Yeeaaaaaa… aku masih ingin berekspresi di rumah ini, sampai lama-lama, kapanpun ku mau. Walau kelak ia tidak bisa menampung ekspresiku lagi. Sekalipun space di rumah ini sudah penuh. Aku mau buat ruang baru berikutnya, untuk berteduh.

Dukung aku yaaa, agar semakin percaya, bahwa di rumah ini, aku tidak sendirian. Aku dan engkau, kita bersama, di sini. Walau rumah ini ku tinggalkan pada masa depanku, aku akan sempatkan mampir, untuk menyambut sapamu, atau membawakanmu segumpal mendung di langit hati. Untuk ku lebur menjadi senyuman berikutnya.

Hhmmmm…. lega rasanya, saat membaca kisah-kisah yang terpampang di dinding-dindingnya. Sebab, semua ada dari masa laluku.

Kisah yang muncul, mungkin hanya imajinasi semata. Atau ada di antaranya yang berasal dari kisah nyata. Bahkan, tidak jarang, merupakan impian yang ku harapkan menjadi nyata. Bagaimana pun jadinya kisah-kisah tersebut, menjadi alasanku tersenyum bersamamu di sini. Semoga engkau juga yaa, dalam senyuman terbaik saat membersamainya.

Ada salamย dariku,ย yangย bukanย penghuniย rumah.ย Hanyaย sebagai pejalan yang menepikanย lembaranย kisah,ย bersamanya.ย Selamatย membaca,ย yaa.ย Sampaiย berjumpaย lagi,ย diย mana-mana.[]

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Mata Rantai Kebahagiaan

Mudah dalam memberi, murah dalam menerima.

Engkau memberi, maka ada yang menerima. Engkau mau menerima, karena ada yang memberi.

Keduanya, memberi dan menerima adalah mata rantai kebahagiaan yang akan terus saling bersambung. Mata rantai yang terus menguatkan hati, agar semakin percaya. Bahwa memberi dan menerima adalah rangkaian aktivitas yang senantiasa ada beriringan.

Saat engkau rela memberi, engkau menjadi semakin rela saat menerima. Saat engkau senang memberi, engkau semakin tersenangkan saat menerima. Saat engkau mudah memberi, maka semakin murah pula engkau menerima.

Artinya?

Pemberianmu tidak akan pernah tersia. Sebab ada yang menerima dan penerima pun suka.

***

Fyi, catatan ini terbit, atas perenungan panjangku seharian ini. Perenungan yang berlanjut dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Perenungan dalam rangka memeriksa makna memberi dan menerima. Perenungan untuk memberikan ingatan pada diriku terutama. Supaya ia mengerti. Bahwa antara memberi dan menerima ada keterkaitan.

Keduanya, memberi dan menerima tidak dapat dipisahkan. Sebab mereka adalah jodoh yang bertemu demi terciptanya kebahagiaan.

โ™กMemberiโ™ก

Saat dan setelah memberi, tidak ada seorang pun yang tidak bahagia. Mengapa? Karena ada sejumput lega terasa, dengan aktivitas memberinya.

Kelegaan yang terpancar pada wajah pemberi, terbaca oleh penerima. Pancaran kebahagiaan yang tertatap mata, sungguh membuat penerima bahagia. Ia pun tersenyum cerah.

โ™กMenerimaโ™ก

Saat menerima, ada bahagia terasa di dalam jiwa. Bahagia, ya bahagia saja. Apalagi saat membaca aura kebahagiaan yang berkelipan di mata pemberi. Rasanya sungguh damai nan menenteramkan. Maka, menerima pemberian pun menjadi kebahagiaan.

Penerima, menerima kebahagiaan.

Pemberi memberi kebahagiaan.

***

Memberilah dengan suka cita. Maka saat menerima jiwamu merasa sentosa.

Memberilah, bukan dengan tujuan menerima. Dengan demikian engkau belajar tentang ikhlas.

Memberilah dalam rangka menjemput senyuman indah penerima. Dan saat menerima, bagilah senyuman buat pemberi.

Menerima, mengajarkanmu tentang bagaimana cara mensyukuri pemberian. Memberi, mengingatkanmu tentang bagaimana cara agar bersabar sebelum dapat memberi.

Memberilah dengan sepenuh hati. Sebab hati penerima dapat merasakan rasamu.

Hati-hatilah saat menerima pemberian yang engkau tidak pernah tahu siapa pemberinya.

Bersuka hatilah saat memberi pada penerima yang engkau pahami bagaimana keadaannya.

Berterimakasihlah pada penerima. Sebab pemberianmu sampai pada yang semestinya.

Memberilah, sebab engkau layak melakukannya. Menerimalah, karena engkau pantas untuk itu.

Sebelum menerima dan memberi, jangan lupa mengingatkan diri, untuk tetap melanjutkannya. Karena memberi dan menerima adalah mata rantai kebahagiaan yang tidak akan pernah terputus. Meski pemberi dan penerima sudah berbeda dunia.

Walau sudah berjarak raga, namun rekat erat jalinan persahabatan, memudahkanmu saat menerima dan memurahkanmu saat memberi. Sesaat sejak ingatan pada sahabat datang dalam hari inimu, engkau pun terkenang padanya. Lalu mengemas janjimu menjadi sebuah hadiah untuk engkau kirimkan pada sahabat. #terkenangsahabat

Semoga sampai pada tujuan dengan selamat yaa, hadiahnya. Meski engkau tidak dapat menemui sahabat langsung, untuk memberi. Mudah-mudahan sahabat menerima seakan engkau yang datang menemuinya.

Berbahagialah engkau masih dapat menerima. Dalam kondisi tidak ada lagi yang dapat engkau beri. Terimalah dan berjanji dengan diri sendiri untuk dapat melakukan hal serupa, di kemudian hari. Camkan dalam hati, tekadkan dalam jiwa.

Rayakan dalam hari-hari tentang kebahagiaan yang akan semakin menebar dengan adanya saling memberi dan menerima.

Memberi bukan untuk berbangga diri. Akan tetapi mengembalikan ingatan kepada Pemilik segalanya.

We are just the way. They are just the way.

Tujuan dan asal adalah Allah Yang Maha Kaya.

Ya ghaniiy, kayakan hati kami saat memberi dan menerima. Kekayaan abadi, kekayaan sejati.

Ya Allah, mudahkan kami dalam memberi, murahkan hati kami dalam menerima segala pemberian dari-Mu yang Engkau bagikan untuk kami, melalui hamba-hamba-Mu.

Alhamdulillah.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Berkunjung ke Rumah Teman

The Cia kakaknya Cio
Chia kakaknya Chio

Senandung jiwa berkata, ungkapkanlah. Namun bibir masih saja erat mengatup lekat. Akhirnya ku pilih tersenyum tenang dan duduk di pojokan. Tersenyum penuh arti.

Dalam sunyi di tengah hening, tepi-tepi suaraku memantulkan diri pada empuknya dinding ingatan. Ingatanku terbang melayang-layang ke masa-masa penuh kenangan. Kenangan yang mengajakku bernostalgia dengan masa silam. Sekejap ku terdiam.

Aku tersentuh. Aku terharu. Aku terkenang. Saat teman bertanya hal-hal yang aku pun tidak tahu jawabannya. Makanya aku memilih tersenyum dan senyum lagi.

Senyuman yang hadir untuk memberikan jawaban atas tanya. Senyuman tanda sayang pada teman.

Aku menyayangi temanku. Teman yang kebaikannya pernah ada dalam bayangan. Kebaikan yang nyatanya melebihi bayangan. Sehingga baiknya teman padaku membuatku senang.

Kebaikan teman tidak hanya berupa materi, namun sekuncup harapan yang teman bagikan, suara alarm yang berdering saat ini tentang harapan teman di masa depan tentangku, juga sebaris senyuman dari masa lalu yang teman jaga ada hingga saat ini, adalah anugerah terindah.

Teman, terima kasih atas perhatian dan segala yang engkau bagikan dan sampai pada diriku.

Aku memang belum terpikir sejauh yang engkau pikirkan. Sedangkan engkau sudah melebihi pikirku. Ini maknanya apa, yaa?

Aha! Tentu menjadi alasan ku membahagia jiwa, lagi. Lalu menyuratkannya menjadi barisan kalimat. Mewujudkannya menjadi senyuman yang memenuhi lembaran pipi. Sedangkan di taman hatiku, penuh kuncup bunga-bunga senyuman.

Chio adiknya Chia
Chio adiknya Chia

Bunga-bunga yang bermekaran dari waktu ke waktu. Semoga. Warnanya biru, kuning dan merah serta jingga. Bunga yang ku susun di jambangan hati. Lalu ku bagikan setangkai demi setangkai. Satu untuk teman. Sedangkan tangkai berikutnya untuk anak-anak temanku.

Wahai teman. Semoga bunga-senyuman yang ku titipkan senantiasa mekar mewangi menghiasi keindahan rumah tanggamu. Kelak semerbaknya kembali kita hirup bersama-sama dalam kunjungan berikutnya. Terima kasih atas sambutan hangatnya, yaa.

Waaah, rasanya tak ingin beranjak. Masih betah berlama-lama. Namun kunjungan sudah mesti usai dulu. Yuhuu.

See you next time. I will miss you.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Ketika Cinta Berbuah Senyuman






Happy Smile ๐Ÿค—

Sebelum nafas kan terhenti, tersenyumlah

A message for you and me

Sebelum menempuh hari ini. Kita kembali saling meminta dan memberi. Salah satunya adalah tentang pesan.

๐Ÿ“–โœ’๐Ÿ“–

“Apakah pesanmu untukku hari ini?”, engkau mengalirkan suara lembutmu nan menenangkan jiwaku.

๐Ÿ˜Š๐Ÿค—๐Ÿ˜Š

“Jangan lupa tersenyum yaa,” bisikku pelan, sayup, seraya mendekatkan hati denganmu.

๐Ÿ’—๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ÿ๐Ÿ’Ž๐Ÿ’—

Engkau pun tersenyum. Senyuman ringan yang mengembang indah pada wajahmu. Senyuman yang membuat jantungku seakan henti berdetak.

โ™กโ™กโ™ก >>>Hug <<<โ™กโ™กโ™ก

๐Ÿ’Œ๐Ÿ’›๐Ÿ’“๐Ÿ’›๐Ÿ’Œ

Aku pun mengatupkan mata dan tersenyum, juga. Senyuman tanda suka, sangat-sangat. Makanya, ku ingin merasakan indahnya dengan tidak membuka mata.

โš˜๐ŸŒพโš˜

Selanjutnya ku tenggelam dalam lautan bahagia. Engkau juga. Kita tersenyum bersama. Tanpa tahu, bagaimana detik berikutnya akan kita jalani.

๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ

Apakah senyuman serupa masih menyertai kita? Sebab, kita tidak tahu tentang alur nafas mengalir. Apakah hentinya saat kita menyadari diri, atau tidak. Tentang bagaimana ujungnya, kita tidak mengetahui sama sekali. Maka, tersenyumlah sejak saat ini.

๐ŸŒน๐Ÿ€๐ŸŒน

Semoga senyuman serupa kembali menemani kita di ujung perjalanan hidup ini.

โ˜†โ–ชโ–ชโ–ช๐Ÿ˜โ—‹๐Ÿ˜โ–ชโ–ชโ–ชโ˜†

Sekuntum harap mekar lagi. Harap yang tidak akan pernah berguguran ke bumi. Harap yang terus menanjak, melambung tinggi ke tempat terbaiknya. Harap yang sudah sepantasnya meneman diri. Ketika ia masih saja menanya begini dan begitu. Sedangkan kenyataan terkadang tidak selalu sesuai dengan harapnya.

๐Ÿ˜Šโ™กโ˜†โ—โ˜†โ™ก๐Ÿ˜Š

Hai, tersenyumlah sepenuh harap. Berharaplah demi senyuman terbaik kita.

๐ŸŒผ๐ŸŒท๐ŸŒผ

Bersamai senyuman dan jagalah dengan sebagusnya, sesempurna kemampuan dan kemauan kita. Meski kita tidak mampu lagi untuk tersenyum.

๐ŸŒปโš˜๐ŸŒป

Semoga segala senyuman yang pernah ada dan menebar dapat menjadi alarm yang mengingatkan kita lagi saat terlupa padanya. ๐Ÿ’๐ŸŒฑ๐Ÿ’๐ŸŒฑ

Senyuman menjadi teman yang membersamai. Walau sudah sampai di ujung usia kita.

Wallahu a’lam…[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Basaba

Ketika mimpiku padamu terus terpaut
Ketika mimpiku padamu terus terpaut

Dua puluh empat adalah jumlah hitungan angka jam dalam sehari semalam. Angka yang mengingatkanku padamu, engkau para inspirasi.
Engkau yang hampir setiap hari ku colek-colek, apakah merasa terganggu olehku? Engkau yang terkadang membuatku ingin meluahkan segala rasaku, tentangmu. Engkau yang selama ini, menjadi bagian dari keseharianku. Engkau yang menitipkanku ilmu dan pengalaman, secara tidak langsung. Tanpa ku menyadarinya, ternyata engkau sudah memberikanku kebaikan demi kebaikan.

Apakah melalui sebentuk sapa, salam, perhatian, pemakluman, pengertian, dan sejenisnya, yang membuatku segera terharu, kebaikanmu sampai padaku. Huhu. Hingga membuatku tersentuh olehmu. Meski pun engkau tidak sekali pun menyentuhku. Apakah ini namanya ukhuwah yang utuh?

Aku yang merasakan.

Ketika aku hampir rubuh, engkau segera merengkuh. Sebelum ku terjatuh, engkau segera menyambut. Meski pun ragamu bermandikan peluh, saat engkau melakukan semua, untukku.

Engkau yang memikirkan.

Bagaimana keadaanku terbaru. Makanya engkau segera menyapa. Sebelum ku menyapa, engkau sudah memberikan suara padaku lebih awal. Hingga ku selalu dan terus terpikir, tentangmu.

Begitu pula yang ingin saaaaangat untuk ku lakukan padamu. Kita dapat saling melengkapi dalam upaya bergerak dan menggerakkan. Supaya semua tetap merasakan betapa indahnya kebersamaan.

Walau jemari kita tidak selalu dapat bergenggaman. Akan tetapi potongan hati kita yang telah berkenalan, senantiasa berangkulan, saling menguatkan. Kekuatan yang dapat kita bagikan, meski sedikit demi sedikit, berulang-ulang, berupa rerangkai huruf mensenyumkan.
Akhirnya, benar tertemukan. Bahwa sendirian bukan menjadi pilihan. Apabila ternyata kebersamaan adalah lebih utama.
Terima kasih ya, untuk masih ada bagiku. Bersamamu, ingin ku terus dan tetap melakukan, aktivitas dalam ruang pikir, ini. Bersamamu, ingin ku mewujudkan impian melalui ruang rasa, ini. Bersamamu, ingin ku selalu ada. Untuk menjejakkan kaki-kaki lagi. Di mana saja kita berada. Selagi masih ada kesempatan, di ruang hari ini.
Apakah saat duduk-duduk manis? Seraya tersenyum atau menjemput sebuah senyum saja? Dalam rangka membagikannya atau menyelipkan pada sudut paling tersembunyi? Bersamamu ku mau tetap ada di sini.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Bahagianya Bersamamu

As like as my dream come true
As like as my dream come true

Ini adalah salah satu kisahku tentang bahagianya bersamamu. Kisah yang semoga engkau setuju untuk ku rangkai menjadi senyuman, lagi. Tersenyum, ya, tersenyum saja.

Senyuman tanpa suara, dalam diam, tanpa kata-kata. Hanya hening, dalam sunyi. Senyuman yang masih ingin ku bagi. Agar aku tahu, bagaimana rasaku, selalu. Yuhuu.

Ini sungguh bahagia. Kisahku saat kita bersama. Kisah yang ku lanjut, dalam penatnya jemari. Kisah yang ku sambung, dalam hebatnya kantuk. Kisah yang ku tambal dalam lubang-lubang yang terus terbentuk di mata ini.

Mata yang sempat berair, tapi lega rasanya. Aku pikir, ini memang bahagia.

Yap. Kita bersama. Aku merasakan nuansa sejuk di jiwa. Pikiranku tenang. Hatiku teduh. Wajahku mengembangkan senyuman. Semakin lama, semakin ringan terasa. Lalu aku terbang dan melayang hingga ke pucuk-pucuk daun cita. Lalu ku menyentuhkan jemari di ujung ranting impian. Selanjutnya melingkarkan pergelangan pada dahan harapan.

Aku pun bersandar pada kokoh pohonnya. Bersandar, yang membuatku merasa sungguh damai. Rasanya tenteram, adem, ayem, jadi ingin berlama-lama.

Sore ketika itu. Saat kita melanjutkan perjalanan berikutnya. Perjalanan untuk mengitari kampung halaman, menuju lokasi-lokasi di ketinggian. Kali ini ke alam lagi. Hihii.

Dalam perjalanan, ku menyampaikan padamu tentang potongan episode hidup yang ku lewati. Seraya ku tersenyum di balik punggungmu. Sebab, aku malu, masih. Untuk memperlihatkan bahagiaku. Jadi, engkau belum dapat melihat bahagiaku. Kecuali suara yang ku alirkan. Berbeda lagi, kebalikannya.

Saat aku diam, tanpa bicara, engkau dapat membaca arti raut wajahku. Yayaya. Aku tidak akan pernah menunjukkan padamu tentang bahagianya aku, bersamaan, melalui ekspresi dan suara.

Maksudnya aku adalah supaya bahagiaku tidak berlebihan, namun terdata dan ku dapat segera kembali ke kenyataan.

Apa sebab? Setelah menyadari, ternyata dalam bahagiaku, tidak semua merasakan. Jadi untuk menetralisasi keadaan pada diri dan mempelajari serta memahami perasaan selain diri. Yeeyy. Ini sungguh menyenangkan.

Berangsur-angsur, bertahap yaa, ku belajar tentang peduli. Supaya tidak berlebihan dalam segala situasi.

“Apakah ini sebagai cara untuk menyeimbangkan?” engkau memastikan.

“Yuuup, menyederhanakan adalah sebuah keutamaan. Supaya keadaan demi keadaan mendekatkan kita selalu kepada keadaan berbeda. Dengan demikian, masih tertata segala bahagia,” aku siap beranjak.

Sebelumnya. Hug. Hug. Hug. Engkau memelukku erat. Aku tidak bisa mengelak. []

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Tentang Jarak

Sejak terlahir ke dunia dan berjarak dari ibu ...
Anak-anak. Sejak mereka lahir ke dunia dan berjarak dari ibu … melaluinya kita dapat belajar tentang jarak.

Kita, tak bisa selalu bersama untuk dapat merasakan bahagia. Maka jarak ada di antara kita. Jarak ada bukan berarti memisahkan kita untuk selamanya. Namun sebagai jeda kebersamaan sepanjang masa.

Jangan sesali jauhmu yang tidak dapat ku rengkuh. Jangan salahkan aku yang sempat mengaduh saat engkau jauh.

Memang aku tidak seteguhmu untuk bertahan tanpa keluh. Aku bukan sesempurna yang engkau pikirkan untuk bersabar selalu tanpa rintih. Aku bukan boneka yang dapat engkau permainkan dan perlakukan semaumu. Sebab aku bernyawa, hidup dan ada, maka aku pun alfa.

Ya. Aku masih manusia. Manusia yang pernah menanya, “Bagaimana bisa kita berjarak?”

Lambat laun ku belajar tentang jarak. Jarak yang mengajarkanku arti rindu. Jarak yang meneladankanku tentang berartinya dekat. Jarak yang sempat membuat ragaku terasa ringan dan merinding, lalu harap engkau mendekap. Jarak yang pelan-pelan menguatkan. Agar ku tetap tegak dan melangkah. Supaya kita dapat bertemu. Dengan adanya jarak, aku belajar arti kuat. Kuat yang sesungguhnya.

Pohon kelapa tinggi dan kuat, ada yang lebih kuat darinya
Pohon kelapa tinggi dan kuat, ada yang lebih kuat darinya

Sepanjang jarak yang membuat kita tak bisa berdekatan ku memperhati alam.

Aku mempelajari keadaan. Aku menyelam di daratan. Aku terbang melayang ke dasar bumi. Aku tenggelam di dalam awan. Aku terombang ambing di tengah samudera langit biru. Aku hilang ditelan angin.

Malam, siang aku terus berharap kita dekat tanpa jarak, meski sekejap. Tapi mana bisa? Makanya aku rindu.

Rindu yang membuat bibirku membiru kalau lama-lama diam. Makanya aku menggerakkannya dan mulai bicara.

Meski terbata, belum jelas bicaraku. Kata-kataku sering tak tertata, yaa.

Ah! Aku terus belajar. Belajar dan engkau percaya bahwa aku serius, kan? Yaa. Percaya saja ya. Sebab harus.

“Bagaimana kalau tidak?” engkau bertanya.

Telah ku pilih engkau wahai sobat, sebagai alasanku menitip kalimat. Supaya aku tersemangat dengan kepercayaan yang engkau amanat. Yah, dengan demikian aku ingat, bahwa engkau benar ada, menjadi saranaku bercuap-cuap.

Yap-yap-yap, meski terkadang ku gagap. Hap. Dan aku masih saja tidak bersedia menutup mulut rapat-rapat untuk diam saja yaa.

Sudah ku coba pun untuk tidak curhat. Namun sering gagalnya. Ya. Ternyata aku tidak bisa hanya diam tanpa meluahkan. Seperti saat ini. Dalam jarak yang membentang antara kita, aku lagi dan lagi, mau saja curhat.

Curhat pada dirimu tentang diriku. Hu um, aku lagi kurang sehat. Mataku panas, hidungku tersumbat, kepala dan suaraku berat, tatapanku melompat-lompat serta badanku penat jadinya. Yaa rehat.

Yeah, sekarang aku rehat. Rehat sejenak dari aktivitas harian. Lalu berselimut dan siap terbang ke alam mimpi.

Mimpiku adalah engkau bertamu. Engkau yang tidak lagi berjarak denganku. Engkau yang tetiba hadir saat ku rindu. Engkau yang tersenyum manis di hadapanku dan bilang, “Aku datangggg.”

Engkau mendekat, menuju ke arahku dan duduk di sisi pembaringanku. Selanjutnya menempelkan jemari lembutmu di pundakku, mengalirkan energi baru.

Bersama tatapan teduhmu, engkau seakan menyerap panas yang ku alami pada mataku. Seketika, ku mengantuk dan engkau menjagaku sepanjang lelapku.

Saat ku tidur, engkau terus memperhati kondisiku, mendongengi, walau aku tidak dapat mengikuti alur dongengmu. Namun engkau senang melakukannya. Engkau terus bercerita, mengisahkan padaku tentang deritamu selama kita berjarak. Engkau pun ingin kita dekat.

Degh! Jantungku berdetak lebih cepat. Degupnya mengagetkanku. Aku terkesiap. Lantas ku membuka mata dan menatapmu lekat.

Engkau memandangku dekat-dekat dengan dua matamu yang membulat. Engkau terus mengedarkan pandang ke arahku. Mencari-cari arti dari tatapku. Menyusul setiap kedipanku. Seakan tidak mau terlewatkan sudah berapa kali aku mengedipimu?

Sekitar sepuluh menit sudah, kita terus bertatap mata. Engkau tidak bicara, aku juga. Akan tetapi, padaku engkau berpesan. Pesan yang ku baca melalui sorot matamu.

Engkau berpesan padaku agar menikmati waktu. Karena waktu sungguh berharga. Harganya tidak dapat terganti dengan emas dan permata. Makanya, jangan biarkan waktu terlewat begitu saja.

Aku mengatupkan mata, lagi. Aku memejamkannya, rapat. Lalu merapikan raut wajahku yang semula kusam.

Ku tersenyum padamu. Senyuman yang ku layangkan sangat ringan. Senyuman persahabatan. Senyuman mensyukuri kebersamaan kita. Senyuman tanda suka cita atas kehadiranmu di sisiku, lagi. Senyuman bahagia dan ku bagikan untukmu. Agar engkau tahu, betapa berartinya kehadiranmu bagiku.

Ketika jarak tak lagi berarti, maka kebebasan adalah kenikmatan alami
Ketika jarak tak lagi berarti, maka kebebasan adalah kenikmatan alami

Alam Takambang Jadi Guru

“Jika wajah membuatmu jatuh cinta. Bagaimana caramu mencintai Tuhan yang tidak berwujud?” [Sebuah pesan dalam perjalanan, yang seketika membuatku terharu]

***

Bentangan alam sungguh sempurna. Tampilannya ada untuk bahan pelajaran. Supaya kami kembali dan menyadari, perjalanan di dunia ini akan berujung. Akhirnya adalah tujuan yang abadi. Sedangkan di dunia, sementara.

Kami dalam perjalanan di dunia. Saat membaca pesan pada awal catatan ini. Lalu teringat untuk merangkai senyuman, tentangnya.

Perjalanan menuju kota. Kota yang jauh dari desa. Desa yang semakin berjarak dari kami, seiring semakin dekatnya kami ke kota. Kota yang sesekali kami kunjungi, untuk melihat-lihat pemandangan alam.

Alam yang indah di kota, seperti halnya di desa dengan pemandangan mewahnya membuat kami terkesima. Kemewahan yang kami nikmati setiap hari, sepenuh hati. Alhamdulillah. Termasuk hari ini. Masih ada kesempatan memperhati, membaca alam lagi.

Alhamdulillah, perjalanan kami lanjutkan, perlahan dan hati-hati. Hingga sampailah di tujuan. Tujuan yang menanti senangkan hati. Hati yang memang sukanya berjalan ini, segera memetik pelajaran, lagi. Sebelum kembali, sebelum pulang, ini mesti.

Di kota, pelajaran berikutnya adalah membaca picture ini.

Tampilan cantik masjid Raya, ingin kami pandang lagi. Sebagai pengingat diri sebelum kembali. Untuk bertanya padanya. Adakah ia mengingat-Nya sebagai wujud syukur diri? Sesibuk apapun beraktivitas dalam sehari, semua atas izin-Nya.

Ayo kembali, wahai diri. Mari meraih kedamaian hati dengan mengingat-Nya.

***

Kembali pulang ke desa hari ini, setelah jalan-jalan di kota, sebagai pelajaran bagi diri. Supaya ingat, seluruh aktivitas di dunia akan berakhir. Setiap perjalanan akan berujung, sampai.

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Bahagianya Mencintai dalam Diam

Sepanjang perjalanan, ada yang berkesan. Kesan yang tidak ingin terlupakan, meski kelak, masa menggantikannya menjadi kenangan.

Kenangan tentang kita yang tidak selamanya dapat mengingat kisah dalam perjalanan.

Kali ini, kesan yang mendekam dalam pikiran adalah tentang satu hari saat kita bertemuan dengan kembaran yang berjauhan.

Mereka adalah dua keindahan yang sungguh memukau pandangan. Sehingga sepanjang perjalanan, tak henti senyuman mengembang di wajahku yang perlahan kedinginan.

Aku menempuh perjalanan ke ketinggian, lagi. Maka ku menyibukkan diri dengan mengedarkan pandangan ke sekitaran. Agar mata lebih jauh menatapnya. Pikiran lebih luas pandangannya. Sedangkan dekat di dalam hati, sesekali berdesir.

Hey! Ku sedang mencintaimu. Ketika engkau tidak menyadari, pandangan demi pandangan yang ku layangkan padamu tanpa bicara. Dapatkah engkau membaca maknanya?

Jam ke jam, terus berlanjut. Mengubah waktu menjadi sore, dari siangnya. Mengantarkan sore pada malamnya. Jam yang mengantarkan kita pada tepi pegunungan berawan. Berikut pemandangan alam dengan hehijau dedaunan. Alam yang tak henti memamerkan keindahan alami.

Saat asyik memandang, tetiba pandanganku terhenti. Ketika ada yang meraihnya mendekat. Sebelum merapatkan mata, ku merapal doa-doa. Ku mengalirkan pinta termesra. Aku semakin cinta.

Cintaku menepi, perlahan, di pundakmu. Setelah menyentuh keningmu hingga ke dagu. Cintaku jatuh di pipimu, setelah bertengger di hidung. Cintaku menebar pada senyumanmu, setelah ku izinkan menghiasi rumpun alismu.

Aku syahdu, setelahnya. Setelah engkau bilang, padaku ada sayang yang tertunda, padamu. Saat engkau menerka arah tatapku.

Benar. Belum terlambat, hanya tertunda. Ah! Apa bedanya?

Selama hidupku yaa. Aku sering terpesona. Terpesona pada yang ada dan mejeng di depan mata. Sekarang, engkau menjadi salah satu alasanku terpesona. Yappz, cintaku padamu semakin saja. Tanpa bicara, masih.

Esok, lusa. Masih. Tak akan berubah. Meski ingatanku kembali berulah dan aku semakin payah. Padamu, aku, tetap cinta.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ™ƒ๐Ÿ˜Š