🙂🙂🙂

Wahai sahabat, disisa-sisa usia ini, izinkanku berada di sini… untuk menitipkan suara hati.  Meski dengan suara yang tak mampu tersuarakan.  Sehingga ku menulis di sini, untuk beberapa saat saja. Lalu, menyapa duniamu. Apakah engkau baik-baik saja? Kemudian, izinkan jemari ini menyampaikan beberapa bait pesan dari sang sahabat yang sangat ku sayangi.  Dengan sepenuh hati.

Wahai sahabat, jangan pernah lelah.  Ketika sekali engkau mencoba, lalu gagal. Teruslah mencoba lagi.  Yakinlah engkau pun berhasil. Seperti sebuah kebun yang berhiaskan indahnya bebungaan.  Ia tak ada dengan sendirinya.  Pasti ada yang menanam, merawat, menyirami, menjaga dan mengurusnya.  Hingga engkau dapat menikmati keindahannya. Hargailah. Ketika engkau berkunjung ke sana. Engkau boleh memetik bunga yang ada.  Meski kebun sedang ditinggalkan oleh penjaganya.  Namun, ketika ia tahu dan menyadari. Telah kehilangan sekuntum bunga di kebunnya? Kemana ia akan mencari tahu si pemetik?  Kecuali bila engkau bersedia, sisipkanlah sebaris namamu di pagarnya.  Lalu, berangkatlah engkau.  Membawa kuntum-kuntum terbaik yang engkau sukai.  Penjaga kebun pasti senang.  Lalu ia tersenyum.  Engkau senang, sang penjagapun senang.  Subhanallah… indahnya, ya… :)

Wahai sahabat, atau tinggalkanlah setetes dua tetes air dari persediaan minummu di akar batang sang kembang.  Agar ia terus bertumbuh dan mendapatkan kesegaran.  Itupun sudah cukup bermakna baginya.  Engkau memberi tanpa diketahui oleh si penerima? Tentang siapa gerangan sang pemberi itu? Ia tak terlihat? Sungguh kemuliaan cita yang senantiasa ada dalam harapan ini.  Membisik senandung hati.  Mengharap ia terus menemani.  “Seperti kasih ibu, yang tulus memberi.  Tiada harap kembali.  Bagai mentari menyinari dunia”.

***

Wahai Ibunda….. ingatku pada beliau, mampu menderukan gemuruh jantung lebih cepat lagi.  Beliau yang jauh di mata, namun sangat dekat di hati. Sampai nanti dalam waktu yang tidak pasti. Ku persembahkan karya ini.

Wahai sahabat, di sisa-sisa usia ini, izinkanku berada di sini… untuk menitipkan suara hati. Yang sempat terdengar olehku dan aku pun peduli. Lalu berusaha mengingatnya lebih kuat lagi. Sembari memahami apa inti yang disuarakannya. Itu saja. Apabila engkau menemukan di sini ada tangisan. Hatiku lagi menangis ketika itu.  Begitu pula saat engkau menemui ada senyuman di sini. Begitulah keadaan yang sedang ia alami.  Ya, di sini, ku hanya belajar menyusun kata.  Ketika ia bersuara. Itu saja. Sekali lagi, itu saja. So, tolong maafkan atas segala khilafnya yaa. Tak bermaksud mempengaruhi, hanya membuktikan eksistensi. Itu saja. Terima kasih yaa. Engkau telah mengerti. He, :D

Wahai sahabat, maka tolong izinkanku…

-^^Belajar Berbagi, Bersama Blog; ^^-

 B–> Buat Beribadah –

– B–> Buat Bunda –

– B–> Buatmu Sahabat Baik –

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s