😆🙂😆

Di dalam perjalanan ini, aku suka sinar mentari. Dan kini, aku mulai mencintai dedaunan. Karena ia melindungiku dari teriknya sinar mentari. Aku bahagia, karena pernah bertemu dan bersama dengannya, di dunia. Walaupun kelak ia akan luruh ke bumi dan bersatu dengan tanah, semoga ia berangkat dengan senyuman. Karena ia pernah berjasa. Terima kasih ya, engkau pernah menjadi bagian dari kehidupanku. Aku siap melanjutkan perjalanan lagi, walaupun tanpa bersamamu. Karena aku bersama ALLAH subhanahu wa Ta’ala, Rabb KITA, selamanya.

"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu.  Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, ...." (Q.S Asy Syams: 1-9)

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, ….” (Q.S Asy Syams: 1-9)

🙂🙂🙂

3 thoughts on “Asy Syams

  1. Kita boleh menjejakkan kedua telapak kaki ini bersama-sama,
    mengatur ritme perjalanan agar senada,
    mengukur tingkat kesyukuran dengan senyuman yang kita tebarkan,
    mulai berusaha menjelang sang fajar menyapa,
    hingga nanti mentari pagi hadir dalam wajah cerianya,
    wahai…bersama kita menantinya,
    berteman bahagia pula,

    Wahai mentari hati,
    teruslah membagi suara hati,
    sebagai bukti eksistensi,
    dalam kehidupan dunia ini,
    agar ia tak hanya sekadar mimpi,
    namun telah terlaksanai,
    ya, kita menjalani dengan sepenuh hati,
    menikmati….
    seperti suasana pagi ini,
    di sini,

    Wahai sahabat hati,
    kita akan selalu merindukan sampai akhir nanti,
    ai…!
    indahnya hari demi hari,
    semakin berseri-seri,
    di dalam naungan ridha Illahi,
    ingiiin sangat dapat terus berbagi,
    di jalan ini,
    yang sedang kita tempuh detik ini,
    harap bersua denganmu wahai sahabat hati,
    sesegera mungkin di dunia ini,
    dalam waktu yang terus mengelilingi,
    untuk kita isi,
    dengan jejak-jejak diri,
    hingga nanti kita pun kembali,
    ke kampung halaman yang abadi,
    nan telah lama menanti,
    merindui,
    seperti yang kita alami kini,
    yuuks kita saling mensupport, mengingatkan, menyemangati,
    meski jarak masih membatasi,
    namun saat hati kita bersemi,
    jarak bukanlah satu alasan pasti,
    untuk tidak saling mengingati,
    karena kita teman sejati,

    Wahai sahabat hati
    ku ukir senyuman saat ini,
    untukmu… ya, untukmu… ai!😀

    🙂🙂🙂

    Like

  2. Pikiran orang tua dengan pikiran anak-anak sangat jauh berbeda. Ketika orang tua memikirkan banyak hal yang akan terjadi sebelum bertindak. Maka anak-anak lebih senang menjemput risiko. Dengan demikian anak-anak mempunyai lebih banyak peluang untuk mengerjakan hal-hal yang baru baginya. Sedang seorang yang berpikiran lebih tua, ‘having and doing more of thinking before doing something.’

    “Ya, kita memang berbeda”.

    Terkadang kita memerlukan cara berpikir ketika masih kanak-kanak. Agar kita mau berinisiatif terhadap hal-hal baru. Karena kita tidak lagi memikirkan tantangan yang akan kita tempuh. Namun, kita lebih fokus pada hasil yang mempengalamankan kita. Sehingga kita lebih berani untuk mulai melakukan hal-hal yang menurut kita masih baru dan segar. Maka risiko segawat apapun, tiada pernah hampir dalam pikiran kita. Ia hanya sebuah kata. Hadapi tantangan, nikmati risiko. Kalau kita ingin memiliki pengalaman. Karena hidup ini bukan untuk bersenang-senang, Yan. Ia ada untuk mengajarkan kita arti kehadiran. Ia adalah diri kita. Semakin kita bersedia untuk melangkah. Maka hidup kita akan berubah. Yes!😀

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s