Sebuah Rumah di Dunia Maya

“Write your story,” bisiknya. Saat aku pertama kali datang ke sini. Kalimat yang terangkai, mengajakku bercerita tentang kisahku, padanya.

Asoka di taman

Sejenak ku terdiam. Diam yang membawaku pada pikiran demi pikiran. Ide pun terbit. Ingatanku bangkit. Ruhku menemukan tempat berlabuhnya, jiwaku tenang, hatiku damai, wajahku pun tersenyum.

Senyumanku membaur dengan kata-kata yang detik-detik berikutnya, semakin ramai. Senyumanku menebar seiring huruf demi huruf yang terus bertaburan di lembar maya. Senyumanku bertumbuh dan bertambah, tanpa ku sadari. Hingga lama-lama, aku bisa tertawa, sendiri. Dalam diam, tanpa suara. Tawa yang menertawakan, diamku.

Ya, aku pun bercerita, melanjutkannya. Tepat, setelah satu titik bertemu, aku lanjut ke kalimat berikutnya. Sampai bertemu titik lagi. Hingga titik ke titik, menyatukan rerangkai kisah yang ku susun saat sendiri. Seperti saat ini, aku dalam kenangan pada proses yang ku tempuh, sebelum hari ini.

Kenanganku kali ini, adalah tentang perjalanan yang ku tempuh, selama berkunjung di sini, dunia maya. Di dunia maya ini, tepatnya ngeblog, adalah tempatku bersinggah.

Hah! Rumah ini pun ternyata, tidak hanya ada aku sendiri. Haai, para pengunjung, para tamu, teman-teman, atau pejalan yang singgah, apakabarnya hari ini?

Mudah-mudahan perjalananmu hingga sampai di sini lancar selalu? Seperti halnya musim yang silih berganti, bagaimana pergantian cuaca hatimu? Sebagaimana banyaknya pikiranku, apakah engkau juga? Let’s share it.

Yaaap, aku sedang menyapamu, di sana. Aku yang ku pikir sedang duduk-duduk manis di rumahku. Rumah yang membuatku sempat nyaman, saat bersamanya. Rumah yang ku buka pintunya lebar-lebar, lalu sesiapa saja bebas memasukinya. Lalu, memeriksa segala yang ada di sini. Hai, atau hanya memandang dari balik jendela, tanpa menyempatkan singgah dan masuk ke dalam rumah. Apakah engkau tidak mau merasakan leganya duduk manis seperti yang ku lakukan selama ini?

Ayolah, duduk saja, saat engkau lelah berdiri. Duduk sejenak, setelah engkau letih melangkah. Duduk saja, meski aku tidak selalu ada, di dalam rumah ini. Sebab, aku memang sering pergi-pergi, akhir-akhir ini. Pergi-pergi, jalan-jalan, tidak selalu di rumah, lagi.

Rumah yang ku rindukan untuk memasukinya, dari dunia nyata. Rumah yang sering mendekapku saat ku mau berteduh dari guyuran hujan saat membasahi bumi. Rumah yang melindungiku dari teriknya sinar mentari. Rumah yang ada banyak cerita lagi, saat ku berada di dalamnya. Rumah ini, memang maya. Rumah tanpa wujud, dan aku pernah menjadi bagian darinya. Hingga hari ini, masih. Hihiihiii.

Rumah untuk berekspresi, saat ku mau tertawa lebih lantang. Rumah untuk merenung, saat dunia nyata memberiku semakin banyak tantangan untuk ku taklukkan. Rumah untuk berdiam, ketika bibirku sering membuka dan suara-suaraku tidak dapat ku redam. Maka, di rumah ini ku bersunyi, menyepi, menenangkan diri. Agar ini bisa mengendalikan ekspresi apa saja yang muncul bersamaku.

Yeeaaaaaa… aku masih ingin berekspresi di rumah ini, sampai lama-lama, kapanpun ku mau. Walau kelak ia tidak bisa menampung ekspresiku lagi. Sekalipun space di rumah ini sudah penuh. Aku mau buat ruang baru berikutnya, untuk berteduh.

Dukung aku yaaa, agar semakin percaya, bahwa di rumah ini, aku tidak sendirian. Aku dan engkau, kita bersama, di sini. Walau rumah ini ku tinggalkan pada masa depanku, aku akan sempatkan mampir, untuk menyambut sapamu, atau membawakanmu segumpal mendung di langit hati. Untuk ku lebur menjadi senyuman berikutnya.

Hhmmmm…. lega rasanya, saat membaca kisah-kisah yang terpampang di dinding-dindingnya. Sebab, semua ada dari masa laluku.

Kisah yang muncul, mungkin hanya imajinasi semata. Atau ada di antaranya yang berasal dari kisah nyata. Bahkan, tidak jarang, merupakan impian yang ku harapkan menjadi nyata. Bagaimana pun jadinya kisah-kisah tersebut, menjadi alasanku tersenyum bersamamu di sini. Semoga engkau juga yaa, dalam senyuman terbaik saat membersamainya.

Ada salam dariku, yang bukan penghuni rumah. Hanya sebagai pejalan yang menepikan lembaran kisah, bersamanya. Selamat membaca, yaa. Sampai berjumpa lagi, di mana-mana.[]

🙂 🙂 🙂

2 thoughts on “Sebuah Rumah di Dunia Maya

  1. Perjalanan itu sangat panjang, antara titik demi titik terjadi suatu rangkaian hingga kamu singgah di dunia yang kau inginkan. Nah yang menjadi pertanya, apa yang kau dapat di tempat ini ? Dan jenjang apa kedepan yang lebih bermanfaat ?

    Liked by 1 person

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s