Berkunjung ke Rumah Teman

The Cia kakaknya Cio
Chia kakaknya Chio

Senandung jiwa berkata, ungkapkanlah. Namun bibir masih saja erat mengatup lekat. Akhirnya ku pilih tersenyum tenang dan duduk di pojokan. Tersenyum penuh arti.

Dalam sunyi di tengah hening, tepi-tepi suaraku memantulkan diri pada empuknya dinding ingatan. Ingatanku terbang melayang-layang ke masa-masa penuh kenangan. Kenangan yang mengajakku bernostalgia dengan masa silam. Sekejap ku terdiam.

Aku tersentuh. Aku terharu. Aku terkenang. Saat teman bertanya hal-hal yang aku pun tidak tahu jawabannya. Makanya aku memilih tersenyum dan senyum lagi.

Senyuman yang hadir untuk memberikan jawaban atas tanya. Senyuman tanda sayang pada teman.

Aku menyayangi temanku. Teman yang kebaikannya pernah ada dalam bayangan. Kebaikan yang nyatanya melebihi bayangan. Sehingga baiknya teman padaku membuatku senang.

Kebaikan teman tidak hanya berupa materi, namun sekuncup harapan yang teman bagikan, suara alarm yang berdering saat ini tentang harapan teman di masa depan tentangku, juga sebaris senyuman dari masa lalu yang teman jaga ada hingga saat ini, adalah anugerah terindah.

Teman, terima kasih atas perhatian dan segala yang engkau bagikan dan sampai pada diriku.

Aku memang belum terpikir sejauh yang engkau pikirkan. Sedangkan engkau sudah melebihi pikirku. Ini maknanya apa, yaa?

Aha! Tentu menjadi alasan ku membahagia jiwa, lagi. Lalu menyuratkannya menjadi barisan kalimat. Mewujudkannya menjadi senyuman yang memenuhi lembaran pipi. Sedangkan di taman hatiku, penuh kuncup bunga-bunga senyuman.

Chio adiknya Chia
Chio adiknya Chia

Bunga-bunga yang bermekaran dari waktu ke waktu. Semoga. Warnanya biru, kuning dan merah serta jingga. Bunga yang ku susun di jambangan hati. Lalu ku bagikan setangkai demi setangkai. Satu untuk teman. Sedangkan tangkai berikutnya untuk anak-anak temanku.

Wahai teman. Semoga bunga-senyuman yang ku titipkan senantiasa mekar mewangi menghiasi keindahan rumah tanggamu. Kelak semerbaknya kembali kita hirup bersama-sama dalam kunjungan berikutnya. Terima kasih atas sambutan hangatnya, yaa.

Waaah, rasanya tak ingin beranjak. Masih betah berlama-lama. Namun kunjungan sudah mesti usai dulu. Yuhuu.

See you next time. I will miss you.[]

😊😊😊

Advertisements

2 thoughts on “Berkunjung ke Rumah Teman

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s