Bahagianya Bersamamu

As like as my dream come true
As like as my dream come true

Ini adalah salah satu kisahku tentang bahagianya bersamamu. Kisah yang semoga engkau setuju untuk ku rangkai menjadi senyuman, lagi. Tersenyum, ya, tersenyum saja.

Senyuman tanpa suara, dalam diam, tanpa kata-kata. Hanya hening, dalam sunyi. Senyuman yang masih ingin ku bagi. Agar aku tahu, bagaimana rasaku, selalu. Yuhuu.

Ini sungguh bahagia. Kisahku saat kita bersama. Kisah yang ku lanjut, dalam penatnya jemari. Kisah yang ku sambung, dalam hebatnya kantuk. Kisah yang ku tambal dalam lubang-lubang yang terus terbentuk di mata ini.

Mata yang sempat berair, tapi lega rasanya. Aku pikir, ini memang bahagia.

Yap. Kita bersama. Aku merasakan nuansa sejuk di jiwa. Pikiranku tenang. Hatiku teduh. Wajahku mengembangkan senyuman. Semakin lama, semakin ringan terasa. Lalu aku terbang dan melayang hingga ke pucuk-pucuk daun cita. Lalu ku menyentuhkan jemari di ujung ranting impian. Selanjutnya melingkarkan pergelangan pada dahan harapan.

Aku pun bersandar pada kokoh pohonnya. Bersandar, yang membuatku merasa sungguh damai. Rasanya tenteram, adem, ayem, jadi ingin berlama-lama.

Sore ketika itu. Saat kita melanjutkan perjalanan berikutnya. Perjalanan untuk mengitari kampung halaman, menuju lokasi-lokasi di ketinggian. Kali ini ke alam lagi. Hihii.

Dalam perjalanan, ku menyampaikan padamu tentang potongan episode hidup yang ku lewati. Seraya ku tersenyum di balik punggungmu. Sebab, aku malu, masih. Untuk memperlihatkan bahagiaku. Jadi, engkau belum dapat melihat bahagiaku. Kecuali suara yang ku alirkan. Berbeda lagi, kebalikannya.

Saat aku diam, tanpa bicara, engkau dapat membaca arti raut wajahku. Yayaya. Aku tidak akan pernah menunjukkan padamu tentang bahagianya aku, bersamaan, melalui ekspresi dan suara.

Maksudnya aku adalah supaya bahagiaku tidak berlebihan, namun terdata dan ku dapat segera kembali ke kenyataan.

Apa sebab? Setelah menyadari, ternyata dalam bahagiaku, tidak semua merasakan. Jadi untuk menetralisasi keadaan pada diri dan mempelajari serta memahami perasaan selain diri. Yeeyy. Ini sungguh menyenangkan.

Berangsur-angsur, bertahap yaa, ku belajar tentang peduli. Supaya tidak berlebihan dalam segala situasi.

“Apakah ini sebagai cara untuk menyeimbangkan?” engkau memastikan.

“Yuuup, menyederhanakan adalah sebuah keutamaan. Supaya keadaan demi keadaan mendekatkan kita selalu kepada keadaan berbeda. Dengan demikian, masih tertata segala bahagia,” aku siap beranjak.

Sebelumnya. Hug. Hug. Hug. Engkau memelukku erat. Aku tidak bisa mengelak. []

😊😊😊

Advertisements

7 thoughts on “Bahagianya Bersamamu

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s