Sejak terlahir ke dunia dan berjarak dari ibu ...
Anak-anak. Sejak mereka lahir ke dunia dan berjarak dari ibu … melaluinya kita dapat belajar tentang jarak.

Kita, tak bisa selalu bersama untuk dapat merasakan bahagia. Maka jarak ada di antara kita. Jarak ada bukan berarti memisahkan kita untuk selamanya. Namun sebagai jeda kebersamaan sepanjang masa.

Jangan sesali jauhmu yang tidak dapat ku rengkuh. Jangan salahkan aku yang sempat mengaduh saat engkau jauh.

Memang aku tidak seteguhmu untuk bertahan tanpa keluh. Aku bukan sesempurna yang engkau pikirkan untuk bersabar selalu tanpa rintih. Aku bukan boneka yang dapat engkau permainkan dan perlakukan semaumu. Sebab aku bernyawa, hidup dan ada, maka aku pun alfa.

Ya. Aku masih manusia. Manusia yang pernah menanya, “Bagaimana bisa kita berjarak?”

Lambat laun ku belajar tentang jarak. Jarak yang mengajarkanku arti rindu. Jarak yang meneladankanku tentang berartinya dekat. Jarak yang sempat membuat ragaku terasa ringan dan merinding, lalu harap engkau mendekap. Jarak yang pelan-pelan menguatkan. Agar ku tetap tegak dan melangkah. Supaya kita dapat bertemu. Dengan adanya jarak, aku belajar arti kuat. Kuat yang sesungguhnya.

Pohon kelapa tinggi dan kuat, ada yang lebih kuat darinya
Pohon kelapa tinggi dan kuat, ada yang lebih kuat darinya

Sepanjang jarak yang membuat kita tak bisa berdekatan ku memperhati alam.

Aku mempelajari keadaan. Aku menyelam di daratan. Aku terbang melayang ke dasar bumi. Aku tenggelam di dalam awan. Aku terombang ambing di tengah samudera langit biru. Aku hilang ditelan angin.

Malam, siang aku terus berharap kita dekat tanpa jarak, meski sekejap. Tapi mana bisa? Makanya aku rindu.

Rindu yang membuat bibirku membiru kalau lama-lama diam. Makanya aku menggerakkannya dan mulai bicara.

Meski terbata, belum jelas bicaraku. Kata-kataku sering tak tertata, yaa.

Ah! Aku terus belajar. Belajar dan engkau percaya bahwa aku serius, kan? Yaa. Percaya saja ya. Sebab harus.

“Bagaimana kalau tidak?” engkau bertanya.

Telah ku pilih engkau wahai sobat, sebagai alasanku menitip kalimat. Supaya aku tersemangat dengan kepercayaan yang engkau amanat. Yah, dengan demikian aku ingat, bahwa engkau benar ada, menjadi saranaku bercuap-cuap.

Yap-yap-yap, meski terkadang ku gagap. Hap. Dan aku masih saja tidak bersedia menutup mulut rapat-rapat untuk diam saja yaa.

Sudah ku coba pun untuk tidak curhat. Namun sering gagalnya. Ya. Ternyata aku tidak bisa hanya diam tanpa meluahkan. Seperti saat ini. Dalam jarak yang membentang antara kita, aku lagi dan lagi, mau saja curhat.

Curhat pada dirimu tentang diriku. Hu um, aku lagi kurang sehat. Mataku panas, hidungku tersumbat, kepala dan suaraku berat, tatapanku melompat-lompat serta badanku penat jadinya. Yaa rehat.

Yeah, sekarang aku rehat. Rehat sejenak dari aktivitas harian. Lalu berselimut dan siap terbang ke alam mimpi.

Mimpiku adalah engkau bertamu. Engkau yang tidak lagi berjarak denganku. Engkau yang tetiba hadir saat ku rindu. Engkau yang tersenyum manis di hadapanku dan bilang, “Aku datangggg.”

Engkau mendekat, menuju ke arahku dan duduk di sisi pembaringanku. Selanjutnya menempelkan jemari lembutmu di pundakku, mengalirkan energi baru.

Bersama tatapan teduhmu, engkau seakan menyerap panas yang ku alami pada mataku. Seketika, ku mengantuk dan engkau menjagaku sepanjang lelapku.

Saat ku tidur, engkau terus memperhati kondisiku, mendongengi, walau aku tidak dapat mengikuti alur dongengmu. Namun engkau senang melakukannya. Engkau terus bercerita, mengisahkan padaku tentang deritamu selama kita berjarak. Engkau pun ingin kita dekat.

Degh! Jantungku berdetak lebih cepat. Degupnya mengagetkanku. Aku terkesiap. Lantas ku membuka mata dan menatapmu lekat.

Engkau memandangku dekat-dekat dengan dua matamu yang membulat. Engkau terus mengedarkan pandang ke arahku. Mencari-cari arti dari tatapku. Menyusul setiap kedipanku. Seakan tidak mau terlewatkan sudah berapa kali aku mengedipimu?

Sekitar sepuluh menit sudah, kita terus bertatap mata. Engkau tidak bicara, aku juga. Akan tetapi, padaku engkau berpesan. Pesan yang ku baca melalui sorot matamu.

Engkau berpesan padaku agar menikmati waktu. Karena waktu sungguh berharga. Harganya tidak dapat terganti dengan emas dan permata. Makanya, jangan biarkan waktu terlewat begitu saja.

Aku mengatupkan mata, lagi. Aku memejamkannya, rapat. Lalu merapikan raut wajahku yang semula kusam.

Ku tersenyum padamu. Senyuman yang ku layangkan sangat ringan. Senyuman persahabatan. Senyuman mensyukuri kebersamaan kita. Senyuman tanda suka cita atas kehadiranmu di sisiku, lagi. Senyuman bahagia dan ku bagikan untukmu. Agar engkau tahu, betapa berartinya kehadiranmu bagiku.

Ketika jarak tak lagi berarti, maka kebebasan adalah kenikmatan alami
Ketika jarak tak lagi berarti, maka kebebasan adalah kenikmatan alami

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s