Engkau Sahabatku

Sekuntum Bunga Persahabatan

Sekuntum Bunga Persahabatan

Wajah kita memang tak sama. Usia kita juga berbeda. Apalagi isi pikiran. Begitu juga dengan perasaan. Kita, banyak bedanya. Akan tetapi, persahabatan antara kita dapat tercipta. Persahabatan karena pertautan kata-kata. Ya.

Kata-kata yang kita rangkai adalah jalannya. Rerangkainya adalah senyuman kita. Untaiannya adalah perekat jalinan persahabatan kita. Semua ini kita lakukan demi persahabatan yang terus abadi, selamanya, sepanjang masa.

“Meski ku akan layu?”, engkau bertanya.

Iya.

“Walau ku telah tiada?” dua matamu berkaca-kaca.

Iya.

“S3k4l1pun 4ku 3n994 t3rbitt aaggeee?” engkau mengdadak alay.

Iya.

“Bahkan, saat engkau tidak pernah sempat mengenaliku saat masih ada?”, engkau membaca arah tatapku.

Iya.

“Bahkan saat engkau dan aku tidak dapat menghabiskan waktu-waktu luang kita, menatap jendela tanpa jeda, mengintip mentari dari sela-selanya?”, engkau bersalaman denganku. Sebelum kita berjauhan.

Iya.

“Huuuwwwaa, bagaimana engkau bisa setega itu padaku. Apakah seperti itu maknaku bagimu? Engkau menyebutku sahabatmu. Masih?

Iya.

Lalu, mau engga ku ajak berkeliling sejenak. Ayo kita bergerak. Memutar arah pikir, menjelajah pesona maya. Akan ku tunjukkan padamu, langkah-langkah selanjutnya. Agar dapat engkau tempuh dalam perjalananmu.

Di sana, engkau dapat bertemu dengan siapa saja, dari mana saja. Apakah yang baik dan sebaliknya. Alangkah menyenangkan, di sana. Apabila engkau dapat berbesar hati, meluaskan pandang, membuka cara berpikir, maka shabatmu dapat lebih banyak lagi.

Sahabat yang tidak dapat engkau rengkuh jemarinya, meski engkau merindui. Sahabat yang datang dan pergi semaunya, meski engkau setia menanti. Sahabat yang menunjukkan padamu bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Semua dapat terjadi, sekedip mata. Apakah engkau mengerti?

“Senyuman ini adalah sebentuk ingatan dariku untukmu yang sudah ku pandang sebagai bagian dari diriku sendiri. Saat aku juga sedang mengingatkan diriku. Terima kasih untuk mampir di sini, menjadi sahabatku. Meski lambaian jemariku tidak akan pernah dapat engkau perhati, senyumanku apalagi. Namun ku menyapamu dari hati, sebab ku peduli. Jadi, tetaplah berbesar hati. Meski aku tidak akan pernah datang lagi di depanmu, untuk mensenyumi. Tersenyumlah, setiap kali engkau mengingatku dan membaca pesan ini,” engkau menambahkan.

Aku, tersenyum. Karena engkau sahabatku.

😊😊😊

2 thoughts on “Engkau Sahabatku

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s