Tentang Mentari

“Matahari atau rembulan, engkau memilih apa?” Arel bertanya pada Ru.

Ru tersenyum. Ia tidak menjawab. Hanya tersenyum. Senyuman yang membuat Arel memandangnya penuh tanya. Senyuman yang sangat asing bagi Arel.

Ya. Saat ia bertanya, hanya senyuman yang Ru berikan. Tanpa jawaban.

“Hai, apa maksudnya? Tersenyum aja,” Arel beralih dari duduknya dan mendekati Ru.

Sebelumnya, mereka duduk berseberangan. Sekarang, mereka bersebelahan. Arel berdiri tepat di samping Ru, memandangnya bersama senyuman.

Arel menempelkan tangan kanannya di pundak Ru, sedangkan Ru, mengangkat wajahnya sedikit. Sehingga pandangan mereka menyatu. Senyuman mereka, juga. Senyuman yang membuatku teringatkan pada, Mentari. Ia yang saat ini tidak di sisiku.

Aku memperhati mereka saling memandang tanpa berkedip. Arel dan Ru yang tersenyum penuh makna. Melihat senyuman mereka aku sedikit iri. Rasanya ada yang menelusup di dada ini. Hatiku remuk menyaksikan. Sebab, keduanya adalah pasangan yang bertemu lagi setelah berpisah, lama. Sedangkan aku dan Mentari baru saja berjarak lagi. Dua perbedaan yang jelas.

“Ah! Bagaimana kalau ku menyapa mereka? Agar kami dapat bercengkerama,” pikiran anehku tiba-tiba menghampiri.

Pikiran yang ku senyumi, getir. Kemudian menepisnya agar menjauh, jauh, jauh dariku. Karena ia datang bukan pada saat yang tepat.

Pikiranku mulai berulah. Ia menembus ruang sadarku, dan mengajakku ke ruang mimpi, lagi. Ia ingin ku membersamai Arel dan Ru, yang tidak jauh dariku.

Yah! Mana mungkin aku bergabung dengan Arel dan Ru? Siapa mereka saja, aku tidak tahu. Kami tidak saling kenal. Hanya saja, aku memperhati mereka sejak tadi sambil mengelus dada berulang kali. Supaya ia kembali tenteram. Meski di depan mata ada pembakaran suasana hati, yang menghancurluluhkannya menjadi abu.

Aku harus kuat. Aku mesti tegar. Aku bisa bertahan dalam kepedihan ini. Hati yang terlanjur hancur, ingin ku benahi.

Aku berkata pada diriku sendiri. Supaya ia masih bisa tersenyum, menyaksikan pemandangan di depan mata. Pemandangan yang mengembalikanku pada kenangan tentang hari-hari kebersamaan kami. Mentari dalam impian. Aku merindukannya.

Beberapa saat kemudian, aku melangkah, gontai. Wajahku menunduk. Jemariku mengepal, tidak kuat. Lalu, mengangkat wajah. Di atas sana, ada mentari. Aku melambaikan jemari padanya yang bersinar hangat. Lambaian bersama senyuman yang mengembang di pipi. Mentari sungguhan.

Aku ingat, ia selalu ada untukku. Meski jauh di sana, tidak tergapai tangan.

Mentari yang mengajarkanku arti rindu, cinta dan airmata serta senyuman. Mentari yang benar-benar ada, bukan hanya damba. Mentari yang menyinari, menerangi, membuatku dapat melihat isi dunia selama ini. Mentari yang terbit lagi, membuka hari-hari dengan lembaran baru. Bersama kehangatannya, pagi tak lagi ku lewati dengan gigil, tapi bersemangat.

Menatap mentari, aku bisa tersenyum. Karena mentari pun tersenyum tidak hanya untukku. Ini yang ku pelajari, darinya. Maka, mana bisa ku tersenyum hanya untuk diriku sendiri? Bagaimana kami bersenyuman berdua saja?

Mentari impian. Aku, tidak lagi merasa memilikinya. Karena ia adalah pengingatku kepada-Nya. DIA yang menghadirkan Mentari dalam satu episode hidupku dan itu sudah berlalu menjadi kenangan.

Kini, hidupku tetap berlangsung. Mentari impianku memang telah tiada, namun mentari yang menyinari alam, masih ada.

Wahai jika saja Arel bertanya padaku pertanyaan serupa, maka aku pun tersenyum saja sebagai jawaban untuknya dan tidak akan memilih satu di antara mentari atau rembulan. Karena bagiku, mereka adalah sama. Sama-sama menjadi alasanku tersenyum hingga saat ini.

Terima kasih rembulan. Terima kasih mentari. Kalian adalah para sahabat yang tidak akan pernah ku temui dalam satu waktu. Namun, kalian hadir dengan waktu masing-masing. Untuk menghiasi waktuku.

Mentari bersinar pada siang hari. Sedangkan rembulan bercahaya di malam hari. Mereka tentu sangat saling merindukan satu sama lain.

Rindu bertemu, sambil bersenyuman. Rindu terus ada bagi dunia. Bahkan melebihi rinduku, tentunya ya. Maka bagaimana cara ku memaknai kebersamaan dalam ingatan seperti ini? Ingatanku pada Mentari impian.

Caranya adalah merangkai senyuman lagi. Lalu bilang padanya, “I miss you so much.”

Mentari
Mentari

Saat ku asyik memandang mentari yang tersenyum, ku teringat niat. Tentang niat yang juga sedang menjadi topik bahasan tausyiah via radio dan ku simak seraya melanjut merangkai senyuman. Temanya adalah tentang ‘Mengawal Niat’, berikut. Semoga menjadi ingatan buat kita.

***

Niat manusia lebih cepat berubah dibandingkan air yang sedang mendidih di dalam periuk. Maka, penting untuk mendata niat kapan pun. Apakah sebelum, saat dan setelah beramal.

Supaya niat awal tidak berubah, kawal niat selalu. Sebelum beramal, apabila niat belum ada, hadirkan niat. Saat beramal, supaya niat tidak melenceng, jaga niat rapi-rapi. Setelah selesai beramal, tetap ingat niat. Sebab di dalam amal yang kita lakukan, syaithan senantiasa ada.

Menjaga amalan sesuai niat awal, membutuhkan waktu seumur hidup, selama hayat masihhh bernyawa, selagi kita masih berada di dunia ini. Maka, berlatih selalu lagi dan lagi adalah perjuangan yang perlu terus kita rutinkan. Menjaga keikhlasan dalam beramal, berusaha mengajak diri bangkit, saat ia merasakan keletihan dalam beramal. Sebab, untuk menjadi ikhlas, memang tidak instan. Perlu proses panjang, nan lama.

Hingga akhirnya. Saat ikhlas sudah digenggam, segala amal menjadi ringan menjalankan. Tidak mesti ada yang melihat. Supaya tetap melakukan. Walaupun banyak yang memperhati, tidak menurunkan semangat dalam mewujudkan niat beramal. Segalanya, karena Allah, semata. Sejauh ini, apakah kita sudah ikhlas dalam beramal??

Wallahu a’lam.

***

Tentang ikhlas, belajar yuk pada mentari yang bersinar cerahkan hari. Mentari yang terbit setiap pagi, menjalankan bakti kepada-Nya. Mentari yang masih tersenyum menerangi alam, sekalipun awan gemawan sering mencandai. Mentari yang rela berbagi sinar terbaiknya, maka tetumbuhan dapat menjalankan proses fotosintesis dengan sinarnya.

Mentari… bagiku adalah inspirasi.

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Advertisements

5 thoughts on “Tentang Mentari

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s