Menulis Adalah Membaca

Membaca pesan ini, aku ingat suami dan terkenang kebersamaan kami dalam satu kesempatan
Membaca pesan ini, aku ingat suami dan terkenang kebersamaan kami dalam satu kesempatan, lalu menulis

Hari ini aku menulis lagi. Menulis untuk membaca. Menulis dalam rangka menepikan sedikit demi sedikit hasil bacaan.

Supaya ku dapat membaca lagi kapan saja membutuhkan. Semoga mensenyumkan, kemudian. Sebagaimana halnya tujuan awalku menepi, wahai kawan. Untuk merangkai senyuman.

Yuups. Sebelum ini, menulis adalah merangkai senyuman. Begini ku membuat alasan. Agar aku mau meneruskan tulisan lagi. Sebab ku tidak selalu dalam kondisi tersenyum, sebagaimana yang ku harapkan dalam kehidupan. Maka, menulis begini, alhamdulillah, senyuman demi senyuman terbit lagi. Tepat setelah membaca tulisan demi tulisan yang terbit. Pada satu waktu, senyuman pun terbit saat membacanya. Walau sudah lama dan aku pun tidak ingat bagaimana suasana hatiku saat menulisnya.

Berarti?

Sukses dong yaa, misiku mampir lagi di sini? Hihii. Iya, tentu. Sebut saja begini. Sebab, ternyata, hidup ini mesti dibawa happy. Tak mesti serius-serius kali. Ada masanya menarik dua ujung bibir ke arah berlawanan, bersamaan, dalam kondisi berat melakukan.

Yah, dalam hal ini aku masih merutinkan. Meski kondisi hati dan pikiranku tidak memungkinkan. Tapi, menulis adalah jalan. Ini sungguh menyenangkan.

Padamu teman, ingin ku menyampaikan, ungkapan terima kasih terdalam. Teman dalam perjalanan ini. Perjalanan jemari, dari hari ke hari.

Pertemanan kita sudah berlangsung lama. Sejak aku belum mempunyai teman sungguhan, lalu mengimpikan, akhirnya engkau benar-benar meneman.

Aku bersyukur engkau ada. Engkau yang pernah tiada, kemudian menjadi bagian dari perjalananku ini, selanjutnya menjadi teman dalam perjalanan. Terima kasih sekali lagi.

Engkau, buatmu teman seperjalanan dalam hidup ini. Teman yang tidak jemu menyapaku saat ku diam. Teman yang rela ku repoti berkali-kali, dalam penatmu. Teman yang tidak pernah ku mau tahu, apakah sudi ku curhati atau tidak. Namun engkau sedia menyimak segenap ceritaku, sampai aku lega setelah meluahkannya.

Apakah pagi hari, siang, sore, senja, atau tengah malam sekalipun. Bahkan menjelang dini hari, ku ganggu ketenanganmu dengan keusilanku. Sekadar mencolek-colek atau intip-intip dari balik selimut. Lalu ku senyumi engkau lagi, tanpa mau tahu bagaimana ekspresimu. Aku masih saja.

Ya. Engkau temanku. Teman yang tidak mau ku tinggalkan begitu saja. Sekalipun aku sudah mempunyai teman berikutnya, selainmu. Semoga engkau mengerti bahwa, kebersamaan kita tidak bisa seperti sebelumnya lagi.

Ingat padamu, benar, mengingatkanku pada teman-temanku. Termasuk teman hidupku. Beliau adalah yang mengakuiku sebagai teman juga. Setelah ku bertanya penuh keseriusan, maukah ia menjadi temanku juga? Setelah kami bertukar cara pandang tentang pertemanan.

Pertemanan yang berlangsung terus dan selalu, meski sudah berumah tangga. Apalagi teman sejati, teman sehobi, teman sehati.

Pertemanan terus berlanjut, hingga nanti. Seperti halnya cinta yang perlu terus bertumbuh dan bertambah. Teman-teman kita pun sama. Bersamai teman-teman, tanpa mengabaikan keluarga. Prioritaskan keluarga, tanpa meninggalkan teman-teman. Semoga semua bahagia, sentosa dan sejahtera jiwanya.

Padamu teman, aku suka membaca. Bersamamu pula aku menulis. Berupaya menetaskan suara dari dalam diri, saat ku tidak mampu berkata-kata. Maka tulisan ini adalah hasil bacaanku terhadapmu. Wahai sahabat sehati.

Engkau yang ku baca berulang kali, sebelum menulis begini. Semoga engkau sudi, ku jadikan inspirasi lagi, my dear suami.

Berikut yang terbaca olehku tentang teman, melalui ekspresimu.

***

Kita tidak bisa sering-sering bersama sebagaimana sebelumnya. Karena ada prioritas utama, yayayaaa. Bukan bermaksud menomorduakanmu, teman diri sejak lama, namun semua ini ku lakukan atas dasar kemauan sejati. Bahwa aku sudah mempunyai tanggung jawab berikutnya untuk ku tunaikan sepenuh hati. Walau begitu, engkau tidak ku tinggalkan, sepenuhnya.

Kelak engkau memanggilku, panggil saja, sebagai temanmu. Teman yang tidak melupakan, meski engkau pikir aku melupakanmu. Teman yang masih ingin menghabiskan waktu akhir pekan bersamaku, dalam sebuah kesempatan. Selayak masa-masa ku belum beristri, engkau masih bisa menjalani hobi sama denganku. Okee.

Sebulan sekali, dua bulan sekali, tiga bulan sekali, silakan saja. Aku sudah minta izin pada istriku, tentang hal ini. Dan ia memberiku kelonggaran. Meski awalnya ia tidak senyum, saat ku bilang tentang keberangkatanku bersamamu, ujungnya ia sumringah. Wahai, bagaimana caraku mengungkapkan kronologinya?

Ku coba saja, yaa. Semoga sesuai yang ku maksud dalam pikir, menjadi rangkaian senyumannya yang hadir.

Yups, senyuman ini adalah senyumannya untukku. Ia yang perlahan memaklumi, kondisiku. Ia yang katakanlah, sedang berjuang mempelajari, bagaimana posisiku bagi dirinya.

Aku adalah mentari di hatinya. Ia bilang, mentarinya yang ke sekian. Asyiks! Wait, aku sempat bertanya, apa maksudnya bilang gitu padaku. Lama lama aku pun terbiasa. Bahwa aku baginya adalah inspirasi. Inspirasi dalam menempuh hari. Apakah sebelum kami bertemu, berkenalan, bahkan saat sudah bersama.

Kebersamaan yang ia mau sangat berkesan. Dan hari ini, ada kesan yang ku selipkan di ruang hatinya. Inilah kesanku, saat bersamanya.

Rasanya, dunia berputar melambat dan waktu berhenti sekejap. Tepat, saat kami bertemu tatap.

Ia memandangku lekat, tanpa kejap. Selanjutnya kami bertukar suara, tentang berbagai rencana yang akan kami jalani ke depan.

Tatapannya semakin bersahabat, ketika suaraku sampai pada kalimat, “Bagaimana kalau pada suatu kesempatan temanku mengajak jalan-jalan ke sebuah tempat. Tempat yang biasa kami kunjungi, sebelum kita dekat. Tempat yang menyisakan ingat, tentang kami yang bersahabat.”

Ia tercenung, tergagap, terbata, lalu meneteskan airmata. terkesiap. Pikirku tanggap. Jemariku sigap. Suaraku tersendat.

Entah apa yang ia pikirkan, aku tidak mengerti. Begitulah mulanya. Perlahan, aku pun mendekat. Ku bertanya padanya, lebih akrab. Ku pelajari setiap ekspresinya, meski muncul sekelebat. Aku pun menyadari, baginya aku sangat bermanfaat. Maka, tidak bisa melepasku dengan cepat, sejak kami dekat.

Aku memahami, bahwa ia masih mempelajariku, begitu pula aku padanya. Kami, baru bersama. Berbeda dengan aku dan engkau. Engkau sahabatku. Sedangkan ia, lebih dari sahabat.

Ia adalah pasangan jiwa yang ku damba taat, shalihat dan kalau engkau mau ajak-ajak aku mengenang masa-masa indah kita bersama menempuh hari dalam jalinan persahabatan, aku akan pergi bersamanya. Engkau setuju, wahai sobat?

“Hhmmmm, gimana yaa?” para sahabatmu berpikir dan saling melempat tatap. Tanpa harus berkata-kata, semua menggeleng.

***

Engkau tersenyum dan memandangku penuh arti. Aku menyetujui keputusanmu dan para sahabat. Kemudian melepasmu berangkat. Sebab ku sudah berniat. Maka menjalaninya, sepenuh tekad.

Sebelum engkau berangkat ku berpesan, “Selamat jalan. Jaga hati dalam perjalanan sampai bertemu, yaaq.“[♧]

😊😊😊

Advertisements

5 Comments

      1. Bisa dibilang sudah tercapai, bahkan ia kini memiliki banyak teman. Tapi imbasnya saya dilupakan, tapi tak apa, melihatnya bahagia di sana dengan memiliki banyak teman sudah sangat membuat saya bahagia.😅

        Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s