Tips Tetap Bahagia Akhir Pekan ala Me (10)

Satu Desember tahun ini, bercuaca cerah. Alhamdulillah, jumpa lagi kita, yah. Kali ini, lebih sumringah. Suasana hatiku lagi meriah. Semoga engkau juga, harapku.

Halo, selamat berakhir pekan, teman. Di mana pun engkau berada. Sejauh apapun jarak memisahkan kita. Sehingga tidak bisa menghabiskan waktu akhir pekan bersama, tetap bahagia, oke? Hehee.

Engkau yang jauh di sana. Sedangkan aku di sini. Aku teringat padamu, lalu merangkai senyuman lagi. Senyuman tentang akhir pekanku yang bersemi, sebab kini tidak sedang sendiri.

Yup! Ada ingatan yang mempertemukan dua hati. Meski raga tak saling memperhati. Begitulah, kekuatan cinta ini. Hihii.

Aku dan engkau, memang tidak berjumpa. Tapi senyuman ini ada, terinspirasi darimu, engkauku.

Hai! Aku teringat padamu, lalu tersenyum. Sebab bertemu inspirasi lagi. Inspirasi yang membuatku tersenyum, seperti ini. Senyuman yang ku bagi, dalam wujud rangkaian catatan.

Catatan ini adalah refleksi dari keadaan di sekitarku, terkini. Cerminan dari kondisiku, terbaru. Semoga akhir pekanku yang tetap bahagia sesuai impi, tidak hanya imajinasi. Siip?

Dalam kesempatan ini, tips tetap bahagia akhir pekan ala me adalah memperhati langit.

Lagi dan lagi, ketika ku tidak bisa pergi-pergi sesuai ingin hati, maka aku duduk mengenang diri. Aku menengadah mengangkat wajah. Aku mengusap wajah yang tidak bisa tersenyum lagi. Lalu? Menata hati berulang-kali. Hingga akhirnya wajah pun tersenyum menyadari, diri.

Ku sampaikan padanya, bahwa ini adalah hari kita. Maka berbahagialah.

Yah. Bahagia dengan yang ada dan terdekat dengan diri. Bahagia dengan impian yang masih jauh dari diri. Bahagia dengan kenyataan yang mendekap erat jemari. Bahagia dan berbagilah tentang sekelumit ingatan lagi. Berbagilah dan tersenyum. Engkau bisa mewujudkan bahagiamu yang sejati.

Ku menatap ke atas, memperhati sudut-sudut awan. Aku melebarkan tatap sejauh-jauhnya dan tersenyum sesejuk angin. Sebelumnya ku mencari-cari sinar mentari pertama sekali, lalu menyipitkan mata sering-sering setelah mata kami bertemu.

Aku menitipkan pada apapun yang ku perhati, tentang suasana hati ini. Apakah ia sudah bahagia di akhir pekan ini?

Ku tanya-tanya diri, sendiri. Ku berikan ia sebuah memori tentang yang ia alami. Memori yang tidak akan pernah terlupa, meski ia kelak tidak dapat mengingat lagi. Memori tentang tujuan jemari melangkah lagi. Demi bahagia yang ku cari. Lalu kini, apakah yang terjadi?

Langit bermentari, hampir tertutup awan, mengajakku berdamai dengan situasi. Selanjutnya membisikkan padaku agar bergerak dan melangkah.

Langkah-langkah pun ku ayun, dengan tenang. Meninggalkan waktu yang tidak boleh terbuang, percuma. Menjemput masa yang kudu dan mesti dalam bahagia. Maka, berbahagialah aku, seraya menggerakkan kaki satu persatu, dengan irama sama. Sambil melihat ke atas, lalu henti sejenak. Kemudian melangkah lagi dan menggenggam harap, di depan sana ada yang ku jumpa. Meski bukan engkau. Karena ku tahu, engkau di sana. Kita jauhan. Jadi, belum bisa berbagi bahagia.

Semoga suatu masa kelak, jejak-jejak langkah kita berada di jalur sama, kemudian bercanda pula dengannya di alam ini. Aku tidak pernah membayangkan, engkau pun tiba tanpa bilang-bilang. Lalu memergokiku yang terhanyut bayang. Bayangan tentangmu yang ku ingat.

Aku ingat, engkau akan pulang. Hanya saja, nanti setelah petang. Jadi, bahagiaku tidak harus tertunda, tanpa engkau, yang ku ingat.

Engkau tetaplah di sana, melanjutkan aktivitas, yaa. Aku di sini, tetap bahagia. Walau tiada engkau di sisiku.

Sebuah pesan yang ku layangkan, sudah mewakili, betapa aku padamu sungguh sayang. Karena engkau bukan bayang-bayang. Engkau ada dan benar ada. Terima kasih untuk masih berada di dunia sama. Aku bahagia, dalam ingatan yang mempertemukan kita.

“… Sampai berjumpa,” adalah penutup pesan yang sukses menyandarkan rinduku padamu. Pesan yang ku rangkai dalam ingat. Ingatan padamu di sana.

Saat ku asyik menatap ke atas, tetiba rerintik airmata langit menepi di pipi. Secepat inikah perubahan cuaca?

Aku pun terpikir kemudian. Pikir yang mengajakku mengenang, sebuah pesan yang pernah engkau titipkan untukku. Bahwa segala ada dalam kendali-Nya. Apakah cuaca mau hujan, atau panas. Terimalah saja, dengan tenang. Mudah-mudahan bahagia.

Lama kelamaan, hujan semakin deras. Tetesannya semakin ramai. Suara angin yang bersatu dengan hujan, membuat ku bergegas ke dalam ruangan.

Ya. Aku tidak bisa lama-lama di alam terbuka. Kini, saatnya bernaung di bawah atap yang meneduhkanku dari guyuran hujan airmata langit. Sambil menunggumu, kembali.[]

😊😊😊

Advertisements

4 Comments

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s