Cinta Membaca Selamanya

Rembulan di sepertiga malam

Mentari dan rembulan. Engkau adalah teman-temanku. Teman-teman yang ku baca dalam berbagai kesempatan, terbaik. Kesempatan yang mempertemukan kita dalam waktu tertentu, tempat tertentu dan masa tertentu. Engkau adalah mentari dan rembulan. 

Rembulan.

Dari hari ke hari, ku rasa, aku semakin mencintaimu. Cinta saja, terus begitu. Tersenyumku, dalam ingat padamu. Ku rasa, ini memang cinta. Cinta saja, tetap begitu. Tersenyumku, melihatmu. Ku rasa, ini sungguh cinta.

Aku mencintai, tidak setengah-setengah. Bukan tanggung, namun sempurna. Maka, tersenyumlah selalu,  aku mencintaimu.

Aku membacamu pada ujung kelam, saat waktu bernama pagi. Ya, membacamu, saat jarum jam hampir sampai pada angka lima. Ketika nuansa alam sunyi, masih sepi, belum riuh oleh suara-suara kehidupan.

Mentari.

Cinta mentari, luar biasa. Aku saja bisa kegerahan saat bersamanya. Namun cintanya ada bukan untuk membuatku gerah. Aku masih mempelajarinya, dan aku mesti tahu, alasannya membaluriku dengan hangat sinarnya. 

Aku membacamu sore hari. Saat jarum jam berada pada posisi sama. Dua pemandangan berbeda, dalam waktu berbeda. Akan tetapi, ada kesamaannya, yaitu posisi jarum jam yang berdekatan. Keadaan tersebut membuatku terpikir, apakah ada makna di baliknya?

Selanjutnya, ku belajar memaknai. Memaknai tampilan alam yang sempat ku baca. Memaknainya, seraya mengembangkan senyuman di pipi, membaca penuh bahagia. Membaca, untuk mewujudkan syukur diri atas indahnya tampilan alam. Sebagai salah satu alasan untuk tetap melihat-lihat sekeliling dan kemudian tersenyum padanya. Walau pada saat sama, aku sendiri. Jadi, tersenyum sendiri adalah keasyikan tersendiri. Seperti saat ini. Senyumanku mengembang lagi, dalam ingat padamu, teman-temanku.

Wahai teman-teman, membacamu adalah sebuah kebahagiaan, bagiku. Karena dengan membacamu, aku bisa tersenyum, kembali. Senyuman yang ku mau, engkau pun tahu. Bahwa senyumanku khusus untukmu. Bukan pada siangnya. Bukan pada malamnya. Bukan pada keduanya. Namun padamu, yang menjadi penanda siang dan malam, berlebih pada Sang Pencipta yang menjadikan engkau ada. Dalam ingat, selalu…

Iya, engkau dan aku, sama-sama ciptaan-Nya. Maka, sudah pasti dan tentu, aku mengagumimu, teman-temanku. Sudah pantas aku mencintaimu, sepantas-pantasnya. Bersyukurlah atas kesempatan dan waktu yang mempertemukan kita. 

Engkau mentari yang bersinar, maka alam bernama siang. Siang sebagai akibat dari kehadiranmu menerangi alam. Engkau rembulan yang bercahaya ketika malam, membuat alam jadi temaram. Malam berlangsung bukan ketika engkau ada saja, namun saat engkau tiada pun, malam ada. Maka, apakah yang engkau banggakan tentang ada atau tiadanya engkau dalam waktu? Ehiya, engkau tidak begitu.

Mentari di tepi barat

Wahai mentari. Saat engkau tiada, aku bisa tersenyum. Apalagi ketika engkau ada. Senyumanku bisa lebih semarak dan sebelumnya. Lalu, apakah yang engkau banggakan dengan dirimu? Ketika ada dan tiadamu sama saja, bagiku?

Mentari tetap bersinar sahaja, yaa.

Wahai rembulan. Saat engkau bercahaya sempurna, aku bisa tersenyum megah. Ketika engkau tiada aku juga tidak jarang sumringah. Lalu, apakah yang engkau pikirkan tentangku, terhadapmu?

Rembulan bercahaya.

Engkau, mentari dan rembulan, Pencipta kita satu, sama. Kita sama-sama ada, untuk bersatu. Menyatukan ingat kepada-Nya dalam setiap waktu. Maka, ketika ku melihatmu, ingatan kita pun menyatu kepada-Nya.

Hey, rembulan dan mentari, adalah perumpamaan saja. Perumpamaan yang terlihat, mata. Perumpamaan yang benar, nyata. Mereka adalah engkau.

Engkau mentari yang tersenyum. Rembulan yang berbahagia.

Engkau mentari di hatiku. Engkau rembulan di malamku.

Engkau yang bercahaya, bersinar, mengingatkanku untuk tersenyum, lagi. Karena engkau pun tersenyum, setiap waktu. Tidak mesti harus dan perlu ada yang melihatmu, engkau tetap melakukannya, for youself. Tersenyummu untukmu, kembali padamu. 

Tersenyumlah.
Meski waktumu, tersisa detik.  Semoga, di ujungnya, senyuman pun engkau terima. Meskipun untuk menarik dua ujung bibir bersamaan, tidak bisa lagi. Wajahmu tidak mampu berekspresi lagi. Semoga, kelebat ingatan, membayang dalam kenangan, pada hari-hari yang penuh senyuman, mensenyumkanmu.

Memang tidak mudah tersenyum, selalu.

Berlatihlah.  Sampai engkau paham, senyumanmu, ada yang mengharapkan. Senyumanmu, ada yang menanti. Seperti mentari yang tersenyum setiap pagi, dan aku menantinya. Seperti rembulan yang bercahaya terang pada malam tertentu, dan aku tersenyum saat melihatnya. Begitu pun aku padamu, yang cinta.

Tersenyumlah, ada banyak yang mencintaimu, termasuk aku. Selamanya, aku mencintaimu, senyumanmu jaga selalu. 

๏˜„
Senyum
๏’Œ
Pesan
Tentang

Makna dari membaca senyuman rembulan

Malam, kelam, gelap, senyumanmu menerangi.

Makna dari membaca senyuman mentari

Terang, senyumanmu menyemarakkan suasana.

Advertisements
Tags: , , ,

9 Comments

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s