Close Your Eyes and Feel It

Lokasi : Dermaga Danau Singkarak dan Pulau Belibis Kota Solok

Waktu : Sore hari

Sebelum mentari benar-benar tenggelam di tepi Barat, kami pun sampai di lokasi. Lokasi yang kami kunjungi untuk jalan-jalan, memanfaatkan waktu luang di akhir pekan. Lokasi yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Lokasi yang ada air-airnya, juga dedaunan di sekitar.

Selain itu, ada angin juga, peneman kesejukkan. Ada mentari juga nan menghangatkan, mengintip dari kejauhan. Ada tanah yang kami pijak, menopang diri tetap tegak dan tidak teriak-teriak. Ada kesempurnaan dan keindahan ciptaan-Nya yang sulit terungkapkan, dalam ucapan. Maka merasakannya menjadi kemestian. Walau sulit, aku masih ingin mengungkap. Mengungkap makna di balik sebuah perjalanan, menjadi senyuman untuk kawan.

Perjalanan berhenti sejenak, saat kami sampai di tujuan. Tujuan pertama adalah Dermaga Danau Singkarak. Dermaga yang menjadi saksi, betapa ku sangat happy menjalani waktu. Dermaga yang terdiam, saat ku sampaikan padanya bahagiaku. Dermaga yang mungkin juga tergelak, menyaksikan segala ekspresiku.

Aku tersenyum penuh arti, seraya menarik nafas lega. Lega dan bersyukur atas perjalanan yang berbunga-bunga. Ya. Bagaimana tidak? Jalan-jalan lagi bagiku adalah sebuah alasan untuk tersenyum. Kali ini, bersama Uda.

Uda adalah seorang yang baru dalam kehidupanku. Seseorang yang belum lama ku kenali, begitu pun beliau padaku. Maka, masa-masa inilah perkenalan kami jalani. Setelah menikah, tentu saja. Sebagai lanjutan dari perkenalan sebelumnya yang hanya mengetahui nama dan juga sedikit tentang diri masing-masing. Selanjutnya, momennya adalah hari ini. Mengenal lebih jauh, lebih dalam. Sambil jalan-jalan dan duduk-duduk, berduaan. Kesannya, menyenangkan.

Hari ini adalah kemarin lusa. Ketika kami berkesempatan jalan-jalan. Jalan-jalan perdana, sejak kami saling mengenal.

Aku suka sungguh senangnya dalam perjalanan bersama beliau. Aku senang, termasuk lokasi-lokasi yang kami kunjungi. Yah, alam pun turut berbahagia. Buktinya, mentari bersinar tidak terlalu terik. Sehingga udara tidak panas. Angin bertiup sepoi, makanya terasa adem. Sesiapapun yang ada di sekitar kami, tersenyum. Tersenyum dengan caranya masing-masing. Termasuk sekuntum bunga berwarna pink yang ku petik di sudut taman dermaga.

Hey teman, kenalkan… beliau adalah temanku, kakakku, sahabatku, imamku, pendamping hidupku, suamiku, penambah warna dalam hari-hariku, menjadi bagian dari perjalanan hidupku selanjutnya.

Uda mengajakku meneruskan perjalanan bersama, pada akhir pekan. Perjalanan yang bagi beliau adalah ke sekian kalinya ke lokasi sama. Berbeda, denganku. Bagiku adalah yang pertama ke lokasi tersebut. Lantas beliau menanya dalam jeda kami bertukar senyuman. Pertanyaan tentang perjalananku, selama ini. Pertanyaan yang ku senyumi, seraya mengingat-ingat, mengenang langkah-langkah. Selama ini ke mana aja, bersama siapa?

Ada makna unik dari senyuman beliau saat menyimak jawaban demi jawaban yang ku berikan terkait tanya yang beliau sampaikan. Salah satunya adalah tentang sudah pernahkah ku mengunjungi lokasi di mana kami berada?

Gelenganku, senyumanku, lirikan mataku, merupakan jawaban tulus yang sangat-sangat bernyawa. Termasuk nada suara yang ku tata, supaya tidak berbeda dari sebelumnya. Sebab ku terharu seketika, mengenangkan semua, sebelum memberikan jawaban. Terharu juga, bisa pergi-pergi dengan beliau, akhirnya. Hahaaa.

Yah, aku memang tidak sering kemana-mana. Ke mana-mana pun di lokasi yang dekat-dekat saja. Dekat-dekat pun dalam waktu-waktu tertentu, seperti momen hari raya, kumpul keluarga. Sedangkan sama teman-teman, sangat jarang pergi-perginya. Termasuk ajakan beliau sebelumnya sebagai calon teman hidup untuk jalan-jalan, sejak kami berkenalan. Ajakan yang suksesku tolak, dengan berbagai alasan. Dan kini, aku tidak bisa menolak lagi. Karena aku memang sangat suka diajak-ajak. Cckckckk.

Usai menakar kedalaman air di danau Singkarak. Selepas menghabiskan beberapa puluh menit waktu di dermaganya. Ajakan beliau berikutnya adalah ke Pulau Belibis.

Di Pulau Belibis, ku terpesona. Alangkah indah pemandangannya. Betapa menarik sambutan alamnya. Apalagi mentari yang terus saja mengintip-intip kami, membuatku tidak henti menarikan pikir. Lalu, mengukirnya dalam memori, untuk ku jadikan senyuman paling berseri. Selanjutnya ku simpan rapi sebagai kenangan tentang kami. 

Yup, ke sini adalah untuk pertama kali, bagiku. Hihihii. Padahal usiaku sudah segini. Padahal pulau ini sudah sejak dahulu kala, adanya. Namun aku baru sempat mengunjunginya, baru pertama kali. Alangkah menyedihkan yaa? 

Tidak, aku tidak sedih. Aku malah senyum-senyum manis. Karena menyaksikan dua bola mata yang menatapku syahdu. Beliau bilang, segitunyakah aku? Jadi, sebelum ini engga pernah ke sini? Beliau memastikan berulang kali. Sedangkan aku, tersenyum pada rerumputan, setelah menitipkan segumpal harapan pada sorot mata beliau yang meneduhkan aku dari terik sinar mentari.

Cuaca sangat bersahabat sepanjang perjalanan yang kami tempuh. Kami menghabiskan waktu akhir pekan di dua lokasi, membawa kesan tersendiri.

Kesannya adalah, tentang semesta yang semangat-menyemangati, untuk memeriahkan kebersamaan kami.

Ya, lihatlah…teman. Tidak lama setelah kami menepi, sekumpulan beburung terbang meliuk, menghiasi tampilan di atas sana. Aku yang memang senang melihat-lihat ke atas, pun tidak ketinggalan momen ini. Alangkah mengesankan. Terima kasih ku ucapkan, pada seluruh alam, alhamdulillah.

Buat sahabatku mentari yang tersenyum, dedaunan yang melambai-lambaikan telapaknya gemulai di kejauhan, angin yang tidak kelihatan namun ada untukku penuh kontribusi, bentangan air beriak sedang yang mendamaikan jiwa, awan putih beraneka formasi, langit biru penuh tawadhu, bunga-bunga yang berbaris rapi,semuanya berarti. Terima kasih, atas segalanya.  





Advertisements

5 Comments

  1. Jalan-jalan bersama imam hidup, romantisnya.. :)) Semoga panggilan ‘beliau’ itu lekas berganti ‘dia’. Karena mgkn terdengar lebih dekat, akrab. The love journey begins.. Hihihi

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s