Kembali ke Alam Mimpi

Pesta memang telah usai. Namun tidak dengan kenangan yang kita tuai. Kenangan demi kenangan yang telah kita tanam, terus bertumbuh, berkembang, menjadi bagian dari hari-hari berikutnya yang siap kita mulai.

Yaph! Seiring usainya pesta, kenangan menata dirinya menjadi bibit-bibit senyuman yang terus saja mengembang di hati. Sedangkan pada wajah, ia memuai. Kemudian menepi di sudut-sudut waktu.

Daun-daun pun bahagia. Hijaunya menyejukkan jiwa. Sedangkan cintanya bermula tumbuh, berbunga indah.

Masa lalu telah berlalu. Hari ini adalah lembaran baru. Lembarannya masih kosong, belum bertulisan sama sekali.

Sekarang adalah tugas kita untuk menghiasinya menjadi bait-bait kisah menuju masa depan. Yuk, bersama kita bisa, menghiasinya menjadi berwarna tak hanya kelabu, warna-warni kayak pelangi.

Telah tertulis sejak semula. Bahkan sebelum kita bersama. Semuanya menjadi tanda, bahwa kita ada dengan makna. Makanya kita bersua sejak di dunia, lalu… menyatukan hati, jiwa dan raga dalam satu waktu tanpa ada lagi jarak.

Selamat datang teman, sahabat juga sang imam yang membimbing tangan, menguatkan langkah-langkah. Agar kita tetap melangkah beriringan.

Bergenggaman tangan semakin erat menyatukan jemarinya menjadi lebih kuat. Selamanya. Hingga masa tua menyapa dan kita masih berkesempatan ada di dunia. Menjaga setia sepenuhnya.

Semoga restu yang ada, menjadikan kita semakin tegap melanjutkan perjalanan. Semua adalah gerbang yang menyambut kita untuk memasukinya. Selanjutnya, bernaung di bawah atap bernama ‘keluarga’.

Belum sebulan usianya, baru hitungan hari adanya. Semoga hari-hari ke depan kita tempuh dengan senyuman lebih sering, dengan langkah-langkah kecil kaki-kaki ini.

Dalam melangkah, aku bisa penat. Engkau pun datang dan mengingatkanku pada akhirat. Sebuah ingat yang membuatku kembali semangat. Terima kasih, bersamamu ku melanjut taat.

Terima kasih untuk semua. Segala doa dan pemberian yang tidak ternilai. Sungguh semua menjadi tanda, betapa Dia mencintai kita tanpa bisa kita terka begitu saja. Mari bahagia bersama dalam restu ayah bunda, para sahabat, teman-teman, kenalan, semesta, seluruhnya.

Tidak perlu harus megah nan mewah, dalam merayakan cinta. Cukup sampaikan padanya, maukah engkau menerima titipan dariku?? Moment ini mengharukan.

Titipan yang bukan hanya berupa materi semata, harta benda, emas permata dan juga aneka hadiah sangat berharga. Akan tetapi, sebentuk ucapan doa dan senyuman menebar di wajah dalam bahagianya jiwa saat berjumpa, meringankan beban tanpa harus dipinta, memberi tanpa harus diminta, adalah kenangan terindah. Sungguh diluar duga. Semua ada tanpa sangka. Alhamdulillah.

Tidak perlu berbusa-busa demi mengungkapkan sayang, cukup rengkuh jiwanya dengan sekawanan pagar-pagar yang membatasi. Setelah itu, bebaskan ia menemukan siapa yang pantas ia ingat saat engkau tidak sedang di sisinya. Selanjutnya, lepaskan dirimu dari cengkeraman kuat perkiraan saja. Karena ia tak selalu seperti yang engkau sangka.

Ikutilah segala perintah dan jauhi larangan, hidupmu lempang, ringan dan tenang. Jalan-jalan membuka meski tidak selalu lapang. Tapi engkau masih perlu percaya, ada jalan mulus setelah terjal dan kerikil menghalang. Selamat meneruskan perjalanan hidup ini.

Dalam perjalanan hidupmu, sesekali melihatlah ke atas, untuk menatap harapan. Supaya bangkitmu mudah, sebelum atau saat rebah. Agar senyumanmu mengembang meski sakit atau senang. Semoga hari-harimu lapang, senantiasa. Seluas langit membentang, menaungi hamparan waktu.

Sampaikan rindu pada alam di atas sana. Ia yang meneladankan padamu agar tetap tenang dalam gamang, teguh dalam rusuh, senyum dalam kesedihan, masih bisa tanpa airmata, meski jiwamu mengaduh. Padanya berbagilah tentang duniamu. Maka ia tidak akan diam saja.

Sesiangan, ia akan menceritaimu tentang kehangatan mentari. Lalu menyulap diri menjadi biru tak bertepi. Engkau bisa tersedu saat menatapnya, berkali-kali. Engkau bisa memejam mata rapat-rapat, tanpa takut ia jatuhi.

Sesorean tampilannya bisa sejuk, cerah atau berairmata. Semua ada, untuk menghiburmu. Supaya engkau mengerti bahwa suasana hatimu juga bisa demikian. Maka, usah berbangga diri dalam bahagia sendiri.

Ingatlah untuk membagi. Agar sesiapapun merasai. Aih! Ternyata, begini yaa indahnya berbagi. Yang menerima tersenangkan hati. Yang memberi, apalagi. Just feel it.

Sesekali rentangkan tatap ke kiri dan kanan. Supaya engkau bergegas dan tidak leha-leha. Sesekali, merunduk menatap tanah, mengingat akhir perjalanan. Engkau kelak berada di dalam sana, di sebuah tempat sempit seukuran diri. Menataplah ke bawah untuk mengingatkan diri. Ia masih berdiri saat ini, supaya melangkah dan bergerak, lagi.

Selanjutnya, menjadilah seperti padi, yang bernas, berisi, menunduk, mematut diri, menjadi tahu siapa ia, dari mana mau ke mana. Dan kemudian menjadi bermanfaat dengan berproses.

Padi mesti menjadi bibit dulu, yang direndam dalam kondisi hangat. Sebelum akhirnya berada di tempat tertutup rapi dan rapat, tanpa boleh ada yang tahu siapa ia. Hingga waktunya tiba, tunas pun muncul sedikit demi sedikit dan saat siap disemai, ia harus diberaikan dari sahabat-sahabat yang selama ini tumbuh bersamanya. Lalu, ditebar lagi dijauh-jauhkan, hingga terpisah satu sama lain.

Dalam jarak, mereka bertumbuh dengan baik di persemaian. Hingga tiba masanya, dipisahkan lagi di tengah luasnya sawah. Mereka tabah. Mereka terus bertumbuh, sampai berbuah.[]

๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Advertisements

11 Comments

  1. Maa syaa Allah mba Yanii, terharu sekali rasanya…
    Walaupun kita belum pernah jumpa, tapi bahagia turut kurasa. Barakallah teman penaku, semoga Allah izinkan kau dan aku bertemu di suatu waktu. Aamiin ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

    Like

    1. Alhamdulillah, Mba Latifaa aku terharu jugaaa hughughug.. ๐Ÿค—๐Ÿค—๐Ÿค— aamiin ya Allah. Hope someday we meet and greet, bersenyuman dan bertukar tatap pula yaa, Mba yaa. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

      Like

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s