Tentang Pertemuan Demi Pertemuan

Pertemuan berlangsung, bisa dengan dan atau tanpa rencana. Tetiba sudah bertemu, padahal tidak pernah merencana. Tetiba bertemu lagi, padahal sudah bertemu sebelumnya. Sebagaimana halnya pertemuanku dengan beberapa tema, berikut.

Pertemuan dengan atau tanpa rencana ini, membuatku ingin juga membariskan tentangnya menjadi rangkaian senyuman seperti ini. Sebagai jalan untuk mengingatkan diri dan memaknainya.

1. Bertemu dengan seekor kucing kecil

Kemarin lusa, kami bertemu. Pertemuan untuk pertama kali. Pertemuan dua mata, lalu kedip-kedipan. Sempat, ia menatapku penuh. Sehingga bola mata beningnya seakan menelanku utuh.

Saat ia menatapku tanpa kedipan, ku tersentuh. Yah. Meski pun aku belum menyentuhnya atau pun ia padaku. Sungguh. Tampaknya, aku suka padanya, saat pandangan pertama. Makanya, ku menepikan tentang kesan bertemunya kami.

“Halo manis, siapa namanya?,” tanyaku detik-detik berikutnya. Seraya menempelkan jemari kanan di pundaknya dan juga kepala. Selanjutnya apa yang terjadi? Ia bersuara. Suaranya sedikit saja dan agak parau. Meski begitu; merdu, terdengar olehku.

Dia adalah seekor kucing kecil. Sangat kecil. Usianya entah berapa, aku belum tahu. Yang jelas, ia adalah sebuah hadiah istimewa bagiku, khususnya.

“Mengapa? Bagaimana bisa? Di mana engkau bertemu dengannya? Buat apa mengistimewakannya?,” engkau menanyaku beruntun.

Pertanyaanmu ku senyumi, seraya mengatupkan mata, lalu mengenang. Kenangan tentang hari haruku yang mengesankan, bersamanya.

2. Bertemu dengan sahabat

Keharuan menyelimuti rasa, tepat sejak kami bertemu. Pertemuan ini adalah dengan beliau. Sahabat, begini ku ingin menyebut.

Sahabat yang ku maksud adalah seorang ibu. Ibu muda dengan dua orang putri yang manis. Ibu dengan dua ekor kucing-kucing yang imut. Ibu dengan berpuluh-puluh ekor ayam peliharaan yang meriuhkan sekitar.

Ibu dengan segudang ilmu yang beliau bagikan padaku dalam berbagai kesempatan terbaik. Ibu dengan raut wajah yang membuatku sering terharu setiap kali kami bertemu. Ibu yang membersamaiku sesekali, lalu mengingatkanku pada impian. Bahwa ku pernah mengimpi, dulu.

Impian yang menjadi kenyataan, seiring waktu. Impian membersamai beliau-beliau yang baik dan ku merasakan dalam kalbu. Selanjutnya terharu, sebab impian menjadi kenyataan dengan bertemunya kami, hampir setiap hari.

3. Bertemu denganmu

Salah satu impianku yang menjadi kenyataan lagi adalah bertemu denganmu, di sini. Lalu kita berbagi ilmu, menukar pengalaman, bercakap-cakap, bersenyuman, menebar rindu, mendamaikan perasaan, menyusun harapan, menjalani kenyataan, menghiasi waktu dengan tetap percaya bahwa kita tidak pernah sendirian. Meski pun saat ini engkau dan aku sama-sama sendiri, ingat.

Ada Yang Sedang Menyaksikan, kita. Ada Yang Selalu Memperhatikan, kita. Ada Yang Mengatur setiap pertemuan. Dan pertemuan kita di sini pun ada dalam aturan-Nya. Pertemuan yang ke sekian.

Halo teman, senang rasanya dapat bersenyuman lagi, dalam kesempatan terbaik ini. Bertemu saat engkau dan aku sama-sama duduk manis, tidak berjalan. Bertemunya engkau dan aku, untuk melanjutkan perjalanan. Bertemunya kita dalam misi meneruskan kehidupan. Semoga, lebih mendamaikan, dengan bersama seperti ini. Yaa.

Sepanjang pertemuan, kita tidak selalu berbicara. Sesekali memang membuka suara, lalu mengheningkan cipta. Sesekali engkau menanya, aku memberikan jawabannya. Begitu pun sebaliknya. Aku menanya, engkau menjawab. Begitulah, yang kita jalani seiring bergeraknya jarum jam.

Jarum jam yang terus berputar, selalu. Detaknya seakan mengingatkan kita, untuk mengingat, akhir waktu.

Jarum jam terus bergerak. Ia berputar dari satu angka ke angka berikutnya. Kita masih bersama, duduk bertukar suara, berbagi informasi, menepikan kesan dan pesan bersama senyuman.

Sambil duduk dan berbicara, kita memperhatikan sekitar. Di sekeliling, ada juga yang duduk seperti kita. Ada juga yang berbicara. Pun ada juga yang merenung. Ada yang bertanya dan memberikan jawaban. Ada yang baru datang, lalu tersenyum pada kita. Kita pun melakukannya. Selanjutnya di antara kita dan mereka saling menyapa.

Engkau tampak bahagia dengan ekspresimu saat kita berjumpa. Ku menyimak dari nada-nada suaramu yang merdu. Apalagi engkau mulai bebas mengekspresikan tampilan wajahmu.

Hi! Sesekali ku melirikmu dan tersenyum. Meski engkau sedang berpaling dariku. Aku masih tersenyum padamu, saat kita bertukar suara dan bertatapan, lagi. Adakah engkau menangkap makna senyumanku? Senyumanku hadir, mengingat sebait impi. Impi yang menjadi nyata, bertemu denganmu.

Nyata sudah, kini. Kita sama-sama menjalani. Ku duduk manis di sisimu, untuk menanti. Menanti saatnya tiba dan kita melangkah bersama. Kini, masih tahap siap-siap. Kita bertemu, untuk mengikuti prosedur yang semestinya. Agar, melangkahnya kita tetap dalam aturan yang seharusnya. Bukan bersama semau saja.

Satu hal yang tidak asing darimu dan tidak luput dari perhatianku adalah, keramahanmu. Pada sesiapa, engkau mau menyapa. Walau tidak mengenali sebelumnya. Ujungnya dapat berbagi suara, lalu kenalan. Selanjutnya tercipta kesan.

Darimu ku belajar tentang hal ini. Semoga ke depannya, kita dapat lebih baik lagi, yaa. Dengan terus belajar. Belajar dalam hidup. Hidup bersama dengan selain diri.

4. Bertemu dengan selainmu

Selainmu, ya. Selagi masih hidup, kita akan bertemu dan bertemu lagi dengan siapa saja. Apakah untuk pertama kali, atau melanjutkannya.

Semoga kita mau memaknai setiap pertemuan ya. Membuatnya berarti dengan menjalani sepenuh hati. Pertemuan yang menciptakan melodi di ruang hati. Bahkan setelah berjarak lagi. Sebab, sepanjang pertemuan, kita menghayati, benar-benar menghadirkan diri, hati dan pikiran untuk berkomunikasi, benar-benar memberikan perhatian, makanya pertemuan berkesan. Dengan demikian, kesan sepanjang pertemuan, tidak akan terlupakan.

5. Pertemuan tanpa rencana dan merencanakan

Pertemuan harus ada tujuan. Tidak bisa asal-asalan. Pertemuan mesti berkesan. Tidak bisa sembarangan. Ini tentang pertemuan yang direncanakan.

Lalu, bagaimana dengan pertemuan tanpa perencanaan?

Tetiba kita bertemu, di satu jalan. Bertemu saja, tanpa janjian. Ini namanya takdir pertemuan. Semoga menjadi jalan hadirnya ingatan pada Sang Perencana terbaik segala pertemuan.

Percayalah, yakini sangat. Lalu, menjalani pertemuan yang tanpa kita rencana sebagaimana mestinya, dengan tetap mendekatkan diri kepada-Nya yang menpertemukan kita. Semoga menjadi ingatan selamanya.[]

😊😊😊

Advertisements

4 Comments

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s