Belajar Memaknai Senyuman Sekuntum Mawar

Sejak pagi kemarin, mawar yang tumbuh di halaman depan rumahku, mekar. Sampai sore hari, mawar masih tersenyum lebar. Ia menghadap ke arah Timur. Timur adalah arah terbitnya mentari. Pertama kali menyaksikannya, aku tersenyum. Tersenyumku, padanya. Kemudian memaknai senyumannya.

Senyumannya seakan menebarkan sebuah kabar. Kabar yang membuat sesiapapun berbunga-bunga saat mendengar. Kabar tentang hati yang berlatih sabar. Kabar pada diri yang sedang belajar.

Senyuman sekuntum mawar mengabarkan supaya sesiapapun yang mengalaminya, dapat menakar diri. Sejauh apa ia menyelami makna dari kabar ini? Kabar bahagia bagi sekeping hati yang sedang dan masih menanti.

Bersabarlah sehari lagi, engkau akan mengerti. Bersabarlah setitik lagi, engkau akan menyadari. Bersabarlah selangkah lagi, engkau akan sampai. Bersabarlah sedetik lagi, engkau akan merasakan bahagia.

Ya. Dengan bersabar, engkau lega. Dengan bersabar, engkau leluasa dan merdeka. Dengan bersabar, engkau mampu menghadapinya.

Dengan bersabar, tiada yang tidak mungkin di dunia ini. Dengan bersabar, rasakanlah ketenangan hati. Dengan bersabar, rayakanlah kemenangan sejati. Dengan bersabar, tidak ada yang perlu engkau sesali.

Sekali lagi, bersabar. Ini inti dari senyuman sekuntum mawar yang ku maknai.

Hari-hari terus berganti. Masa terus melaju. Waktu terus bergulir, memecah sunyi, menyibak tabir, mendobrak halangan, menyingkap rahasia, menyusun strategi.

Sebentar saja terlewat, engkau tidak akan pernah bertemu waktu yang sama, lagi. Lalu, apakah yang engkau tunggu, teman?

Ayo bangkit. Bergeraklah. Angkat suara, mulai bicara, namun ingat, untuk bersuara yang benar-benar perlu. Selebihnya, keep smile and silent. Be your self & do your best. Maka engkau mendapatkan, manjadda wa jadda.

Berbuatlah. Tidak perlu banyak bicara, apalagi tanpa aksi nyata. Lebih baik berbuat, walau tiada manusia mengetahuinya.

Bersegeralah. Apalagi demi kebaikan, tidak usah menanti-nanti. Bagi yang sudah yakin dan berniat, tunaikan.

Berjuanglah. Kelak engkau menuai hasil, setelah menyemai dan merawat. Engkau bisa panen, setelah berusaha sejak mula. Ingatlah untuk terus berjuang.

Berjuanglah dan bermanfaat. Semoga berhasil. Sekalipun hina, caci, pengabaian dan celaan tanpa bukti menampakkan diri di hadapan, dalam perjalanan.

Hadapilah dan jaga diri, bentengi ia dengan ingat kepada Tuhan. Selanjutnya, silakan tersenyum pada yang ada dan berseru, “Allahu Akbar.”

Tersenyumlah. Semua adalah penghias dalam perjalanan di dunia ini. Dunia, sementara. Ia akan engkau tinggal pergi, seiring waktu.

Seperti halnya kelopak-kelopak bunga, kan layu. Semua, akan berlalu. Yang tersisa adalah kenangan tentang kuntum bunga yang tersenyum padaku. Indahnyaaaa… 😘 Meski kelak ia pun layu. Maka sebagai kenangan tentangnya, ku merangkai senyuman saat ini.[]

😊😊😊

3 thoughts on “Belajar Memaknai Senyuman Sekuntum Mawar

  1. wah dari sekuntum bunga bisa keluar tulisan menyemangati hidup yg mandiri dan berdaulat. terimakasih sudah berbagi. kami juga mengalami indahnya bunga ajaib lewat bunga telang. sila mampir ke kebun bunga telang si mbah saat jalan2 ke Prambanan. gak jauh dari Candi Prambanan. pinarak.

    Liked by 1 person

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s