Jalan Hidup

Tidak ada kata terlambat, atau lebih cepat. Karena semua sudah tercatat, tepat. Bahkan sebelum kita berniat dan bertekad.

Yah. Semuanya sudah tersurat dalam kitab Lauhul Mahfuz. Tentang perjalanan hidup kita. Hari ini bertemu siapa? Esok bagaimana? Lusa ke mana? Maka, apalagi yang membuat kita bertanya-tanya? Jalani saja.

Menjalani pilihan-Nya dan kita pandangi lekat-lekat, sungguh memerdekakan ingat. Menempuh jalan-Nya dan kita lalui hemat-hemat, sungguh melegakan tatap. Menyusuri petunjuk-Nya dan kita hadapi kuat-kuat, sungguh menumbuhkan semangat. Mengikuti perintah-Nya dan kita syukuri sangat-sangat, sungguh mampu meruntuhkan airmata lebat-lebat.

Aha!

Begitu pun dengan pertemuan kita, wahai sobat. Engkau yang lekat dalam ingat, meski tidak setiap saat. Engkau yang ku ingat, saat ini, sangat erat. Yap! Tentangmu pun ku bagi menjadi kalimat. Semoga dalam taat.

Sejenis berwasiat, engkau memberiku nasihat. Nasihat yang engkau sampaikan melalui ucap. Hap! Lalu ku tangkap.

Hari ini engkau menasihatiku tentang belajar.

“Bodoh dan tidak tahu itu, sebelum kita tahu. Setelah belajar dan tahu, kita menjadi tidak bodoh lagi. Maka, belajarlah tentang ketidaktahuan untuk mengetahui. Belajarlah yang kita ketahui untuk memahami. Karena sungguh sangat banyaknya yang belum kita tahu, tetap belajar yaa. Jangan merasa sudah tahu segalanya, mengakibatkan kita tidak mau belajar lagi. Ingatlah, ini pesan dariku sebagai bagian dari alam,” beraimu bersama senyuman. Senyuman persahabatan.

Engkau, adalah seorang sahabat. Meski kita tidak selalu dekat, namun sempat. Ya, kita sempat dekat. Dekat tapi tidak rapat.

Sahabat akrab, bukan sesaat. Namun hingga akhirat aku berhasrat. Maka, ku ikat engkau dalam kalimat. Semoga menjadi pengingat.

Mudah-mudahan engkau senantiasa sehat, bersemangat, tersenyum hangat, seperti yang ku lihat.

Sejak pertama kita bertatap, aku gagap. Sedangkan engkau pintar mengendap-endap, dalam ingat. Ya. Aku terkesiap. Sejak engkau ku ingat. Ingatan pada seorang sahabat. Sahabat berkarakter kuat.

Awal-awal kita dekat, engkau pernah bilang padaku, “Jangan serius-serius amat.”

“He em, aku memang seriusan orangnya, dan perlu engkau ingat,” tanggapku seraya terus mencatat.

Catatan singkat yang kemudian mengembalikan ingatku padamu, saat membacanya. Tepat, saat ingatanku tentangmu sebagai sahabat, berkelebat. Ciiaaat. Pikirku melompat-lompat. Aku tergelak dalam hening dan gelap. Aku mengeluarkan suara, walau bibirku terkunci rapat. Engkau hadir, bukan tanpa manfaat. Terima kasih, sobat. I ever dream about you.

Sejak pertemuan pertama kita, kedua dan selanjutnya, ku membersamaimu masih serius. Seraya tak henti engkau memberi ingat, “Jangan serius-serius amat.”

Aha!

“Mana bisa, wahai sobat. Pada saat serius, aku tidak mampu merenggangkan rekat. Aku tidak bisa mengulur niat. Aku tidak dapat beristirahat. Aku mesti dan harus menyelesaikan, meski berat. Aku siap menembus sekat. Aku sungguh-sungguh bertekad. Jadi, saat engkau mendeteksiku dalam keseriusan, ini sudah biasa, sobat. Engkau mesti paham,” aku bersuara padamu, hanya dalam pikiran.

Karena ku tahu engkau tidak akan mendengarkannya, kalau ku suarakan. Apa sebab? Engkau adalah pribadi yang mudah saja bercanda, sedikit-sedikit menatapku lekat. Membuatku harus melihatmu dan menghentikan aktivitas sesaat. Kalau tidak, aku bisa salah catat.

Pertemuan terbaru kita adalah hari ini. Akhir pekan yang biasanya ku manfaatkan untuk istirahat, kali ini tidak. Karena antara kita ada rapat. Rapat kecil-kecilan, tentunya bersama niat.

Engkau niat sangat datang memenuhi rapat, walau dari jauh dan harus menerobos hujan lebat. Engkau sudah merancang niat, makanya melanjutkan perjalanan, meski tak dekat. Walau di perjalanan ada saja yang menggoda ingat. Hay! Engkau punya tujuan. Akhirnya, kita bersua dalam rapat. Engkau datang dan tidak telat. Engkau bergabung dan tersenyum hangat. Hingga pukul empat, kita rapat.

Rapat berujung senyuman panjang, bagiku khususnya. Makanya ku tebarkan juga sampai ke sini. Panjangnya sebanyak kalimat ini. Sedangkan engkau, bersama wajah dengan senyuman singkat, saat ku lihat. Yah, senyuman singkat yang engkau tebarkan sering-sering. Lama-lama menyangkut dalam memori untuk ku ingat.

Tidak mau teringat-ingat, aku pun mencatat. Catatan yang ku senyumi akrab, sebagai kenangan tentang rapat. Begitu pun tentang engkau yang dalam waktu dekat akan melangsungkan akad. Hai, aku juga. Waktunya berdekatan. Sungguh dekat.

“Lalu, akan kah engkau mengundangku, duhai sobat??,” ku menanyamu setelah memastikan langsung padamu. Tepat, sejak kabar angin mendekat.

“Insya Allah, tentu saja. Rekan-rekan sekitar sini semua habis ku sikat,” jawabmu berwajah memikat.

“Hureeey, siap, aku datang yaa,” lantas terkenangku dengan beberapa sahabatku, di sana. Mereka yang tinggal tidak jauh denganmu.

Domisilinya di sekitar wilayah tempat tinggalmu. Ada Ima, Liza, Uun, Rita, dan satu orang lagi, namanya diujung lidah dan sulit saat ku ingat. Ku ingat-ingat ulang, masih saja tidak ada huruf yang muncul. Akan tetapi wajahnya jelas dalam pikirku. Aaiyaa aku ingat. Seorang lagi namanya Deli. Delita.

Semoga semua teman-temanku di sana, pun ada yang engkau kenali, yaa. Hii! I hope, when I come to your party, I meet one of them. They are my friend at vocational high school, 13 years ago. .. Dan semoga kami masih saling ingat.

Pertemuan kembali, setelah lama terpisah jarak dan waktu. Berjumpa lagi, bersama haru. Setelah kami berkelana sepanjang jalan kehidupan masing-masing. Untuk memenuhi titah diri, mengarungi hidup ini, bersama aneka ekspresi. Begini ku mengimpi dan tersenyum berseri-seri.

Semoga, pertemuan yang tidak kami sangka tersebut, membungahkan senyuman di pipi. Seraya mengenang masa-masa indah di sekolah, kami bereuni. Sedangkan engkau adalah jalannya, perantara bertemunya kami, lagi. Impiku berlanjut lagi, sebagai rencana diri.

Halo sobat. Sebagaimana pertemuan kita sebelum ini, termasuk saat rapat tadi, tidak ada dalam rencanaku, sejauh ini. Akan tetapi, menjalani.

Sehingga dalam meneruskan perjalanan hidup ini, ku ingin selalu mengoleksi beraneka momen yang ku temui. Apa saja momen nya, ingin sangat ku senyumi, seperti ini. Senyuman sebagai bukti bahwa ku serius dalam hari-hari. Keseriusan yang engkau deteksi pula dariku. Bahkan sebelum kita berkenalan dan bergenggaman jemari.

Hai, kelak ku ingin menyelamatimu bersama senyuman di pipi. Sebagai caraku untuk membagikan bahagia ini. Bahagia, sungguh sangat, aku mengenalimu, menjadi bagian dari hari, lalu memetik inspirasi untuk ku bagi, dalam catatan hari iniku.

Hari ini, ku merangkai senyuman tentang kita. Kita yang sama-sama merencanai sebuah momen berikutnya dalam hidup ini. Semoga sama-sama sesuai kehendak hati, sesuai kehendak Ilahi, sesuai dengan yang kita impi.

“Living happily with new family, for you and me. Aamiin ya Allah”.

This note created for us, specially. []

Kelap-kelip matamu. Berkedipan mataku.

Kelak ku membacanya, aku teringat padamu. Sebagaimana halnya catatan-catatan sebelumnya. Satu catatan ku baca, teringatku pada seseorang di sana. Ku baca satu catatan lagi, teringat seorang lagi. Begitu, terus. Hingga, semakin banyak ku baca, semakin banyak yang teringat, kebaikan demi kebaikan beliau semua.

Aku pun terharu. Mengingat semua yang jauh di sana. Beliau yang mengasihi dan menyayangiku serta mencintai dengan cara masing-masing. Dalam ingatan, beliau hadir. Tanpa mampu ku bendung, menderaslah rindu, menjadi…[]

😊😊😊

2 thoughts on “Jalan Hidup

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s