Close Your Eyes, You Can’t See It

Sepotong mimpi terkubur lagi. Mimpi untuk membersamaimu lebih lama. Karena ada yang mengingatkanku, segera. Agar bangun, bangkit, hidup dan hadapi kenyataan.

Hap! Sebuah suara menyeringai!

Suara usang yang mau mendekat. Suara asing yang ingin agar aku tetap lelap. Suara bising dalam senyap. Suara kering bukan lembab. Suara semu tanpa bisa ku tatap.

Kenyataan adalah lebih penting dari pada maya. Sekarang lebih utama dari damba. Bagaimana?

Sejenak ku memang masih lelap. Lama-lama, aku teringat. Mimpi ini harus sudah usai. Aku membuka mata, menutup lembaran yang sedang ku baca. Seraya berkaca-kaca, ku tersenyum segera. Senyuman seorang manusia. Manusia yang punya hati di dalam dada. Hati-hati.

Hatiku ada untuk merasa. Ingatan hadir agar menjaganya. Sedangkan raga, kapan bergerak?

Mata sudah terbuka. Bibir mengembang pula. Wajah sudah ceria. Ingatan semakin nyata. Diriku ada di sini, lebih dekat dengan kenyataan pun. Kenyataan yang berangsur-angsur ku dekati.

Ku tepikan bacaan. Aku bergegas menata segalanya. Lalu, beralih ke aktivitas menulis.

Ku tuliskan ‘sesuatu’ tentang cita, harapan dan impian, demi bahagia. Ku lanjutkan dengan senyuman di antaranya. Senyuman demi senyuman yang nyatanya hanya perasaanku saja. Hyaaaaa. Aku tertawa.

“Hai, kenapa tertawa? Sendiri? Hiiiiy, ngeri,” ini pun perasaanku saja yang menyapa. Sedangkan yang ada di depan mata, tersenyum lega. Setelah ku jawab, lagi baca-baca. Hening.

***

Membaca bebintang yang berkelipan, aku. Membaca surat penuh makna, aku. Membaca airmata yang bertetesan menjadi kata, aku. Membaca ekspresi tanpa rupa, aku. Segalanya ku baca. Engkau juga.

Aku membacamu baru saja. Bacaan tentang tulisan yang ku tulis.

Tulisan hadir dari perasaan, ingatan, impian, harapan-harapan, kenangan, pesan dan kesan, yang ku pungut lembar-lembar daunnya sepanjang kenyataan. Tulisan berisi kerinduan pada segala yang tak terlihat, mata. Aku mau melihatnya namun mataku buta. Lalu aku tertawa.

Tulisan yang hadir dari petualangan diri, langkah-langkah kaki, pertautan jemari dengan huruf-huruf, ekspresi yang berganti-ganti, sebutir demi sebutir hikmah untukku koleksi, yang hadir lagi dan lagi menjadi ide untukku bagi.

Tulisan berisi keadaan terkini yang terpantau oleh pendengaranku, telinga. Aku mau mendengarkannya lagi, tapi tidak bisa. Karena sudah tidak dapat mendengarkannya sempurna. Sayup-sayup masih terdengar ada yang bicara, tapi aku sudah koma. Terlambat.

Tulisan menyapaku yang membaca. Aku menyahut dalam kelu. Bibirku tidak dapat bicara. Padahal banyak yang mau ku ungkapkan tentang jawaban atas sapa. Tapi lagi dan lagi, semua sirna.

Aku tidak bisa bersuara sama sekali. Walau sudah ku buka mulutku lebar-lebar. Yang terdengar hanya suara angin.

Aku menangis. Hatiku luka. Alampun mendadak kelam. Ikut menangis, dalam diam.

Isak tidak berarti apa-apa lagi, atas semua yang mengoyak-ngoyak raga. Airmata tidak berfungsi apa-apa lagi, atas semua yang mengalihkan rasa. Apalagi tatapan tanpa dapat merayakannya dalam nyata. Ini sungguh lucu yaa.

Seindah apapun suara, tidak terdengar lagi. Jika telinga sudah tidak berfungsi sempurna.

Semanis apapun rupa, tidak terlihat lagi. Jika mata sudah tidak mampu memaknainya.

Ini tentang rasa. Rasakan. Maka tanpa melihat rupa, mendengar suara, bertatap mata, bertemu raga, engkau bisa tersenyum segera. Lalu bagaimana mengungkapkannya? Semua yang seperti mimpi.

***

Hi! Usaikan mimpi. Kubur dalam-dalam. Tanam bunga terharum di atasnya. Lalu rawat dengan baik.

Bunga-bunga yang bertumbuh subur di kuburan impian, sudah hidup. Akarnya melekat di tanah yang semula merah. Batangnya sudah bercabang. Durinya panjang dan tajam. Engkau harus berhati-hati menatanya.

Sirami bunga-bunga di kuburan impianmu, dengan air mata, lagi yaa. Biar tetap basah tanahnya, meski musim kemarau.

Engkau harus berusaha. Sampai ia ada. Meski dalam kondisi bahagia apalagi duka. Demikian.

Rasakan… itulah cinta yang sebenarnya.

Cinta. Terkadang membuatmu berairmata. Tapi rela membaginya, menyirami sepenuh rasa demi bunga yang tetap bahagia.

Bunga yang engkau jaga, semenjak ia engkau tanam. Engkau tata. Engkau rawat. Engkau pelihara.

Kelak ada yang memetiknya, engkau tersenyum, lega. Bungamu ada di tangan yang lembut, penuh cinta, kasihnya sahaja, sayangnya luar biasa.

Tersenyumlah, iya. Tersenyum dan berbahagia. Bungamu ada yang membawa. Pemiliknya.

Di sana, di kuburan impian, tetap bekerja. Bersama cinta. Tetap berbahagia. Bersama airmata. Hingga kelak, ada yang menaburkan bunga di sana. Di bawahnya engkau berada. Tersenyumlah juga. Dalam rongga tanah yang tidak lagi berarti apa-apa. Karena dengannya engkau sudah terbiasa. Dari-Nya engkau berasal, kepada-Nya engkau kembali.

Di sana, engkau tersenyumlah…

Di dunia, engkau tersenyumlah…

“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?” (Q.S Al Furqon : 20).

Ingatlah, semoga tabah. Yah. Ku genggam jemarimu erat. Engkau lega. Hatimu lapang, jiwamu tenang.

Selamat berjuang, tetap hiduplah wahai para pemenang.[]

😊😊😊

4 thoughts on “Close Your Eyes, You Can’t See It

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s