Engkau Terharu?

affection appreciation decoration design

Photo by Carl Attard on Pexels.com

Menangislah. Engkau tidak akan pernah merasakannya lagi. Setelah haru melimpah ruah menjadi airmata. Karena kelegaan yang menaungi ruang jiwa. Hangatnya airmata, tidak lagi berarti apa-apa. Ia bicara padamu selayak sahabat. Lalu engkau, bagaimana membersamainya?

Persahabati airmatamu, jangan menghapusnya. Namun biarkan meleleh, membasahi pipi. Jadikan sebagai kenang-kenangan tentang hari ini. Hari ini yang mengharukan.

Haru. Ya, baru saja engkau terharu. Terharu atas sesapa suara dari sana. Suara yang engkau simak teliti. Suara yang berasal dari penyampainya. Suara hati, lebih tepatnya.

Sepotong hati mengajakmu merenungi hidup ini. Hidup yang masih engkau jalani. Hidup yang menghiasimu dengan segala pernak-perniknya. Hidup yang membuatmu segera berekspresi, haru.

Harumu hadir baru saja. Haru hingga berairmata. Haru dengan sapa, seraya mengingat segala yang ada.

Semua yang terdekat denganmu, engkau perhatikan. Engkau rasakan, engkau pedulikan. Semua yang terdekat denganmu, engkau jadikan perhatian, saat ini. Masih.

Setelah engkau menyimak suara, lalu menyadari diri. Di mana engkau berada saat ini? Bagaimana orang-orang sekitar memperlakukanmu? Seperti apa engkau memperlakukan beliau semua?

Airmatamu semakin deras. Airmata yang menyampaikan padamu tentangmu yang haru.

Haru, engkau pantas terharu atas segala yang ada. Atas gelimang kasih sayang yang membasuhmu, jiwa dan raga. Atas limpahan materi yang membanjirimu, sepenuhnya. Atas semua yang engkau rasakan, tidak lagi terungkap kata. Namun engkau mau tahu, juga. Seperti apa engkau menghayatinya?

Engkau melanjut haru. Harumu pun tumpah ruah menjadi kata. Merangkainya, sedikit demi sedikit, pelan-pelan dan lama-lama semakin deras, ia. Kata-katamu mewakili yang engkau rasa. Untuk menyapamu, menyampaikan keadaanmu. Engkau semakin terharu.

Engkau ingat, dengan mensyukuri segala anugerah, maka nikmat untukmu bertambah.

Bersyukurlah, dengan cara yang indah. Tersenyumlah, sebagai bentuk syukur termudah. Ucapkan, alhamdulillah.

“Terima kasih ya Allah. Engkau memberiku kesempatan, lagi. Kesempatan untuk menikmati indahnya waktu, menghayati kebersamaan, memberikan senyuman, meski pada seorang yang ku temui. Lalu, seorang tersebut membawanya, senyumanku lagi. Berikutnya, sampai terus ke sana, ke mana-mana.

Aku tidak tahu, sampai di mana senyumanku menepi. Hanya Engkau Yang Maha Tahu.

Senyumkan beliau-beliau yang mendoakanku, meski aku tidak tahu. Senyumkan hatinya, yang tidak terlihat olehku. Pada hati beliau-beliau semua, ku berterima kasih dengan memberikan senyuman ini. Sebagai salah satu wujud syukurku.”

***

Dengan syukurmu, engkau tersenyum menjalani hari. Hari yang engkau syukuri, sejak pagi. Lalu menyapa sesiapa yang engkau temui. Termasuk menyahut sapa dengan senang hati. Dari dalam hatimu, engkau melazimi. Termasuk sapa dari para anak kecil yang sedang bermain di halaman. Mereka mengajukan permintaan dan engkau mengabulkan. Pengabulan atas keinginan, yang membuat senyumanmu semakin berseri. Engkau bahagia, bisa memberi. Lalu terharu, lagi.

“Berikan aku kebaikan, maka aku tersenyum padamu,” begini suara-suara yang muncul dari wajah-wajah mereka yang engkau temui.

Lalu, engkau pun membaiki. Kebaikan yang mungkin saja tidak engkau beri, jika saja tidak mensyukuri anugerah yang melingkupi diri.

Syukurlah yang mengajakmu menggerakkan jemari. Rasa syukurlah yang membawamu ke mana-mana. Walau engkau tidak menyangka, sekalipun tidak menyadari. Begitulah, kuasa-Nya berlaku untuk diri.

Engkau tidak bisa melakukan apapun, sendiri. Ingat, ini. Ingatlah, untuk berbagi. Berbagi energi, tanpa harus kehilangan energi. Namun dengan berbagi, engkau mendapatkan tambahan energi. Sebelum energimu habis.

Luangkan waktu untuk membaca. Bacalah apa saja. Apakah ekspresi, atau suara hati. Bacalah, dengan aneka ekspresi yang engkau punya. Tidak selalu harus haru. Namun, kalau bacaan tersebut menyentuhmu, haruslah haru. Harulah dan harus, ini mesti. Ini artinya, engkau menghadirkan hati, di dalamnya.

Tidak mengapa, terharu. Karena haru adalah bagian dari ekspresi. Bukankah keberadaanmu di mana-mana adalah untuk berekspresi? Termasuk saat merangkai kata menjadi kalimat, tentang harumu. Haru yang tetiba hadir, tanpa engkau panggil. Haru yang tetap ada, setelah engkau meluahkan. Haru yang tersisa, tidak lagi airmata. Namun senyuman yang engkau bawa.

***

“Menangis boleh, tapi jangan lama-lama,” begini engkau berpesan, padaku.

“Sakit, boleh, tapi jangan hati, yaa. Apalagi karena aku. Aku tidak mau engkau mengalaminya,” engkau menambahkan.

Aku pun terharu. Tapi tidak menangis, namun tersenyum.

Dari sana, engkau pun tersenyum. Setelah mengetahui, sakit ku bukan karenamu. Namun, karena aku lupa bersyukur atas hadirmu.

Ini menjadi pelajaran dan ingatan untukku ingat, selagi kita dekat. Supaya bersahabat dengan syukur, bukan malah menghujat.[]

🙂 🙂 🙂

4 thoughts on “Engkau Terharu?

    • Sesuai pengalaman Mba, memulai menulis dengan niat terlebih dahulu. Dalam rangka apa kita merangkai apa? Selanjutnya nulis-nulis dech, tentang apa saja yang kita mau tulis. Bisa harapan, keinginan, kenyataan, perasaan dan sebagainya yang sudah tidak bisa terungkapkan melalui suara atau ekpresi. Ayo tuliskan. Jadilah tulisan.. 🤗🤗🤗

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s