Selamat Bahagia, Mama

Mamamu mamaku

Bersama mama

Angka jam sudah lebih dari empat. Ketika kita masih bersama. Sempat tidak sempat. Engkau mesti berbahagia. Mengapa?

Ada yang terlalu penting untuk engkau tangisi, hingga berairmata. Dari pada menangisi sebaris kata yang sampai ke indera pendengaran.

Ya, tangisilah dosa-dosa. Menangis tanpa jeda. Harap akan ampunan-Nya. Maka, menangislah selamanya. Menunduklah dalam-dalam. Jangan tatap lagi mentari. Singkirkanlah keinginan. Jangan lagi berharap pada dunia.

Yah. Engkau sungguh terlalu bahagia untuk bersedih. Lihatlah, ya, perhatikan melalui cermin.

Bagaimana rautmu saat bersedih? Bagaimana rupamu saat menangis? Maksudnya, bukan saat menangisi dosa-dosa yaa. Namun menangis saat menerima sebaris kata. Kata-kata yang mengalir begitu saja. Melalui bibir sesiapapun yang berbicara, padamu.

Engkau menitik airmata, saat itu. Engkau membingkai kelopak mata dengan airnya. Iiiiiihhhhh, aku sedih melihatnya. Sorot matamu meredup. Sesaat kemudian, bening permata kehidupan membuatnya semakin hidup. Kehidupan yang mengajakku menyelaminya. Lebih dalam. Semakin dalam. Dalam sekali. Hingga ke dasar hati pun belum.

Aku membaca ekspresimu. Engkau mengejapkan bola matamu. Tatapan yang sudah tidak bening itu, seakan menikam jantungku. Degh! Aku memutar ingat. Aku menerobos sekat. Aku teringat sekilas. Aku pernah menyaksikan ekspresi serupa. Ku ingat-ingat, masih saja belum bisa. Lalu ku menunduk. Tidak lagi menatapmu. Karena seketika, ku terenyuh. Aku terpikir. Engkau yang tanpa senyuman.

Engkau membawa mata berkaca-kaca, dalam waktu berikutnya. Mata yang sempat ku baca ronanya. Merah. Sekelilingnya basah. Sorotnya tidak cerah.

Mentari tiada di sana. Hujan telah turun. Airmatamu berguguran. Sedikit, memang. Tidak sampai membanjir. Namun aku hadir di sana, untuk menculik hikmah. Apakah engkau menangis karena haru, pilu, sendu, atau menangisi dosa-dosamu? Atau sedang menetes airmata saja tanpa apa-apa?

Tidak dapat hanya menerka, aku mau mempelajarinya. Tidak mau mengira-ngira, aku mau tahu.

Ku pelajari sedikit-sedikit, seiring waktu. Sepanjang detik, setiap menit. Sampai satu jam pun berlalu. Dua jam juga sudah. Tiga jam terus melaju. Angka empat pun terlewat.

Tiga puluh menit kemudian, kita masih bersama. Engkau dan aku duduk berdua. Mengirim sapa satu dengan lainnya. Walau detik berikutnya, tak lagi bertatap mata. Aku menunduk, engkau juga. Aku terlelap, engkau sama.

Ahahahaaaa, samo-samo lalok kaduonyo,” kita tergelak berjeda. Engkau mulanya. Aku yang mengikuti.

Ya, selalu begitu dan masih. Aku memang agak sulit konek. Apakah karena masih memikirkan tentangmu? Makanya tidak bisa ekspresif lagi? Cenderung merenung, sering termenung. Suka mengedarkan pikir, hingga tergelaknya kita berjeda.

Aku belum menikmati suasana.

Ku pelajari nada suaramu. Nada indah yang sampai pada indera pendengaranku. Nada bening yang ku teliti dalam hening.

Yah, detik-detik berikutnya, hening. Engkau dan aku sama-sama tanpa suara.

Aku masih mempelajari. Suaramu yang terdengar beda. Beda saja dengan sebelumnya. Suara khas sebagai tanda, engkau berbahagia? Benarkah adanya? Kebahagiaanmu yang sempat terpendam? Lalu baru saja engkau luahkan?

Engkau tersenyum, kemudian. Senyuman yang ku perhatikan dengan perasaan. Yah. Aku perasa, orangnya. Suka merasa kalau ada yang sedih di hadapan. Rasa sedihnya pun berpindah tangan. Walau kami tidak bergenggaman. Sedihnya akan menebari perasaan, tidak perlu perizinan dari yang mengalami kesedihan. Aku segera paham. Bahwa ia sedih. Ih, aku.

Sejauh ini ku mempelajari. Semua ekspresi yang engkau beri. Ekspresi tentang kesedihan atau kebahagiaan. Walau memang aslinya, bukan aku yang mengetahui. Namun ada Yang Maha Tahu.

Semoga ya, semoga. Kehadiranku menjadi hiburan. Setidaknya sepanjang kebersamaan kita. Aku mau menitipkan kesan.

Ku mengajakmu bersenyuman. Dalam waktu-waktu kita berikutnya. Engkau di sampingku, duduk terdiam. Mulanya memang begitu. Lama kelamaan, mulai membuka pembicaraan. Sesapa tanya engkau ajukan. Aku pun memberikan jawaban. Berikutnya, giliranku. Aku bertanya, engkau menjelaskan. Satu dua tiga pertanyaan terlewat menjadi bagian dari kesan. Lalu ku memintamu berpesan. Engkau tersenyum penuh makna.

“Hari ini, apakah pesanmu untukku? Tentang kebersamaan kita, teman?” ku bertanya sekaligus mengajukan permintaan. Namun engkau tersenyum saja. Senyum yang ku pandangi, menanti jawaban. Senyumanku berharap pesan. Namun engkau masih tersenyum. Hanya senyum. Tanpa suara.

Ku mengajukan pinta dua kali, untuk memastikan bahwa ku masih terhubung denganmu. Namun engkau tetap tanpa jawaban. Hanya senyum. Dan … ini artinya?

Aku pun mengambil kesimpulan. Bahwa engkau memang pendiam. Diam-diamanlah kita dalam waktu berikutnya. Diammu yang ku jadikan kesan. Diammu yang mengandung pesan.

Terima kasih teman, untuk berpesan yang sungguh elegan. Pesan yang penuh hikmah dengan perilakumu barusan. Engkau yang menanggapi tanya dan pintaku, hanya diam. Sedangkan senyumanmu memberikan jawaban.

Aku tenang, kemudian.

Baiklah, kita masih bersama. Kebersamaan yang tidak mesti hanya diam-diam, bukan? Meski dalam diam masih ada kesan, berekspresi pun memesankan. Maka, terekaplah ekspresi kita kemudian, menjadi senyuman ini.

Senyumanku saat menunduk. Menunduk kita karena ngantuk? Lalu tertidur dalam senyuman? Atau menjemput impi menjadi kenyataan?

Senyumanmu saat menunduk. Bagaimana maksudnya, teman? Apakah engkau sedang membaca segala ekspresi yang ku alirkan? Engkau sedang menghayati kebersamaan kita?

Kita tidak bicara lagi. Namun menghayati. Sungguh, dekatmu tanpa bicara, mendekatkanku dengan suara. Sebab, bersamamu ku masih ingin bersuara. Meski dalam diam.

Wahai, engkau yang sahaja. Terima kasih atas kebersamaan yang berharga. Waktu-waktumu yang tidak engkau buang percuma. Untuk berbicara tanpa makna. Kecuali ada yang engkau ingin pesankan dan bermakna, baru angkat bicara. Selainnya, sangat anti untuk mengeluarkan suara. Apalagi becanda-becanda saja.

Bagimu, semua tidak harus dengan dan hanya kata-kata. Namun membuktikan dalam lelaku nyata adalah yang utama. Aplikasikan semula, menjadi teladan sepanjang masa. Wahai, terima kasih ya.

Kita tetap bersama, walau dalam diam. Diammu yang berkesan. Diammu yang berpesan. Diammu yang tidak ku diamkan. Namun menjadikan sebagai senyuman. Senyuman ini buatmu, teman. Temanku yang ada di hadapan.

Semoga, saat ini, engkau masih tersenyum, tetap tersenyum, dalam senyuman, membersamai. Karena aku pun tersenyum, padamu. Senyuman persahabatan. Senyuman yang hidup dan menghidupkan. Senyuman yang hadir sebagai bukti bahwa engkau bagiku, berkesan.

Esok, semoga kita masih bersama. Bukan berpisah. Esok, semoga engkau tetap tersenyum. Bukan bersimbah airmata. Esok, semoga aku dalam senyuman, membersamaimu.

***

Ketika engkau melihat seseorang menitikkan airmata, bukan berarti ia dalam kesedihan. Karena terkadang ia tidak dapat meluahkan bahagianya melalui kata-kata dan suara. Maka, airmata yang berbicara.

Engkau yang arif dan bijaksana, dengan pengalaman hidup yang engkau punya, dengan pengetahuan tentang rasa, dapat mengenalinya.

Apakah airmatanya berarti bahagia? Atau terluka? Atau bagaimana?

Ingatlah, sebelum berkata-kata. Pikirkanlah, tentang hati di sana. Sebab, ia tidak terlihat. Engkau tidak akan pernah tahu bagaimana kondisinya. Karena hati tidak terlihat mata. Namun mata hati yang terang dan terbuka bisa memandang, suasana di dalam hati seseorang melalui ekspresi wajahnya.

Engkau tidak selalu harus tahu. Bagaimana suasana hati seseorang? Lalu bertanya untuk mencari tahu. Tidak. Terkadang, diammu dan diamnya dapat menjadi penanda. Bagaimana suasana hatinya dan hatimu. Apakah kalian bahagia saat bersama?

Bersamailah seorang anak. Lalu akrabilah ibunya. Engkau menemukan, di sana ada dunia yang lebih luas.

Mereka adalah bagian dari kisah hidupmu. Mereka adalah bagian dari duniamu juga. Supaya engkau mengerti, bahwa bahagia bukan hanya tentangmu dan anaknya. Namun ibunya, adalah yang utama. Karena ia ada melalui ibunya.

Bagaimana kesanmu bersamanya? Seperti apa kesanmu dengan ibunya? Apakah sama atau berbeda?

Selamat bahagia, bersama keluarga, yaa.[]

😊😊😊

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s