Mentari pun Tersenyum (36)

engkau mentari di hatiku921382085..jpg

Mentari Sore Ini

Sebelum engkau ada, beginilah kehidupanku. Aku yang hidup dengan duniaku. Dunia yang ku pikir tidak ada engkau. Dunia yang ku hadapi sendiri. Ku pikir di sini sendiri. Hiks, ternyata ramai sekali.

“Lihatlah, ya, melihatlah,” bisikmu.

Aku pun melihat. Ke belakang, kiri, kanan, bahkan di depanku. Ada banyak orang di sekelilingku.

Mereka berasal dari berbagai profesi. Mereka berasal dari latar belakang berbeda. Lalu, kami berjumpa di sini. Duduk, sama rendah. Tegak sama tinggi. Walau saat berdiri, tinggi kami tidak sama.

Dari semua, aku yang paling pendek. He. Paling kecil juga. Ha. Tentang tinggi, tidak ada yang komentar. Tentang kecil, pada bilang, makan, makan, makan, makan yang banyak. Biar gemuk. Uhuk! 😀

Semua, kami di sini saling bersinergi. Yang lemah membantu yang kuat. Agar si lemah tidak tertinggal. Yang kuat menopang yang lemah. Agar si kuat tidak pongah. Yang papa mendukung si kaya. Agar yang kaya tetap berjaya. Yang berada mengayomi si miskin. Agar si miskin tetap percaya diri, melangkah.

Kami, melangkah saling bahu membahu. Tidak lagi mengenal apa profesi masing-masing. Tidak juga memandang pangkat serta jabatan. Semua tidak bisa melakukan apapun sendirian.

Baru-baru ini pun ku sempat menyimak sesuara yang menyampaikan, bahwa, “Hebat itu bersama, bukan sendirian. Hebat itu barengan, tidak sorangan.” 

Hup! Aku bangkit dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Setelah mendapatkan selontar suara yang terdengar. Suara sayup, dari kejauhan. Suara yang lama-lama mendekat, membuatku ingin menepikannya. Membuatku segera menggenggamnya, tidak membiarkan. Lalu, ku pegang erat dan menuliskan, bersama senyuman.

Semoga, yang menyampaikan, tetap tersenyum dalam berbagai keadaan. Apapun jabatan beliau. Beliau yang menyampaikan dengan ketulusan.

Di sini, kami saling berangkulan. Tidak membiarkan yang bisa semakin bisa. Namun, membagikan segenap kemampuan yang kami punya, pada yang lainnya. Meski lelah meraja badan. Walau penat menimpa pikiran. Dengan berbagi, kami menemukan kehidupan baru. Ada pencerahan.

Engkau, selain diriku di sini. Padamu ku ingin menyampaikan segenap kebahagiaan. Bahagia, bisa bersama seperti ini. Engkau teman-temanku yang tidak kelihatan di sini. Aku pun tidak mau memperlihatkanmu. Sebab, engkau pun punya kehidupanmu dengan diri-diri yang engkau perjuangkan.

Aku bahagia, kita bisa berteman. Pertemanan kita bukan hanya atas kepentingan pribadi. Akan tetapi, ada orang-orang yang kita perjuangkan dan inginkan bahagia dalam kebahagiaan kita. Meski mereka ada di belakang kita.

Pada saatnya. Biarlah hanya seorang yang maju dan berada pada barisan paling depan. Namanya adalah pemimpin. Pemimpin yang tetap menyadari diri. Atas dasar apa ia bisa berada di depan. Karena, ada yang ia pimpin.

***

Sebelum engkau ada dalam kehidupanku, memang aku merasa sendirian. Sendiri yang ku rasakan sebagai kehidupan tanpa tujuan. Kehidupan tanpa harapan. Hidup tanpa penerangan. Namun, ku melangkah dan terus berjalan. Walau sendiri?

Hai, di sini tidak ada yang benar-benar sendirian. Di dunia ini, kita berteman. Pertemanan yang ku harapkan kemudian adalah pertemanan kita tidak hanya di dunia. Pertemanan kita bukan hanya hari ini. Bukan juga hanya di saat kita saling bertatap mata seperti ini. Akan tetapi, aku masih ingin membersamaimu, teman. Teman-teman dari berbeda profesi. Walaupun usia kita tidak sama. Meskipun akhir usia kita tidak serupa. Akan tetapi, semua kita akan tiada. Kelak, kenang aku sebagai temanmu, yaa. 

Engkau adalah pribadi-pribadi istimewa yang ku temui. Pribadi yang menjadi jawaban dari doa-doa orang yang sayangi aku. Engkau adalah pribadi yang menjadi bagian dari kesempurnaan-Nya. Engkau adalah inspirasi, hari ini.

Engkau yang ku sapa atau menyapa. Engkau yang bilang, “Aku serius amat dalam hidupnya. Senyumlah dikit, biar banyak yang suka.”

Ah, aku memang begini adanya. Sedangkan engkau yang tetiba membungah cerah di wajah, membuatku semakin terpesona. Ya, Allah, Engkau Sungguh Maha Kaya. Kekayaan-Mu melimpah. Mempertemukan kami, di dunia ini.

Engkau kayakan hati-hati beliau semua, melalui keceriaan yang beliau bawa. Kekayaan hati yang tidak terdata jumlahnya. Maka, senyuman beliau menebar. Bersama suara renyah tanpa beban, beliau berbagi berita.

Aku yang sempat terdiam, bersuara juga. Suara berat awalnya, lama-lama terbiasa. Ah, teman sungguh sangat bisa mempengaruhiku. Makanya, aku pilih-pilih? Ih. Engkau pun sedih.

Bukan, bukan karena aku pilih-pilih. Namun semakin ku menemukan diriku dalam seorang teman yang terpilih, aku yang sedih. Mengapa? Sebab tak dapat menatap kerling matanya saat ku merindukan. Aku tidak dapat mendengar suaranya karena belum akrab.

Selamanya, aku akan sedih. Aku sediiih, jadinya. Makanya, ku berbalik arah dan mencari sebuah tempat paling tersembunyi menurutku. Untuk selanjutnya, berbicara dengan dinding-dinding yang ada di sekitarku. Aku bilang padanya, semua yang ku rasa.

“Saat ini, aku tidak bisa bicara di depan mereka, namun hanya padamu ku bisa menyampaikan suara. Aku tahu, engkau tidak akan menyampaikan pada sesiapa, segala yang engkau tahu tentang ku, iya kan? Janji yaa?” ku tempelkan kepala di dinding. Airmataku menggelinding di sana. Dinding basah, lalu ku usap dengan jemari. Selanjutnya aku tersenyum sendiri. Sendiri saja, ku pikir. Namun ternyata tidak.

Di sudut dinding terpojok ada seekor cicak. Di sudut lain ada nyamuk. Di lantai ada debu. Tidak jauh darinya ada selembar kertas. Kertas putih yang kusam. Kertas yang diremukkan oleh entah siapa. Aku menemukannya, di sana.

Ku pikir tanpa tulisan, ternyata di dalamnya ada sebuah kalimat. SELAMAT. ENGKAU MENEMUKANKU. AKU ADA DI DALAM DIRIMU. Selanjutnya, aku histeris. Lalu, pingsan dan tidak tahu apa-apa lagi. Sampai akhirnya ku siuman. Terjaga. Aku melihat seseorang yang membangunkan, tepat saat mentari tersenyum di ufuk Barat. Aku pun tersenyum padanya, dari balik jemari ini.[]

🙂 🙂 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s