Dunia Mentari


Seperti ini ku pernah mendamba. Menatap dunia dari jendela. Lalu kita melangkah bersama.

Menyapa siapa saja dari mana-mana. Apakah yang tersapa mendengarkan, menyimak, atau diam saja. Ya.

Di sini, aku membuka mata. Untuk memperhati segalanya. Apa saja yang mau ku tinta menjadi kata. Apa saja yang ku jadikan sebagai suara. Apa saja yang tidak ingin ku lupa. Apa saja yang menitipkan rasa. Apa saja yang tidak akan pernah ku tatap mata.

Aku tetap menyapa. Menyapa dengan suara. Tidak akan membuat parau, sebanyak apapun bersuara. Namun, menumbuhkan suka.

Aku suka berlama-lama di depan jendela. Sambil rebahan, duduk manis, berdiri atau di sela-sela aktivitas yang ku lakukan.

Nah, saat ini, jendela masih terbuka. Karena masih siang juga. Dan aktivitas ku jeda sebentar. Untuk melihat dunia.

“Haai. Lagi apa, tadi? Sebelum mampir di sini? Menyetirkah atau menyetrika? Udah dimatikan dulu kah? Awas lengket. Atau masak siang. Sudah kelar kah? Awas gosong. Atau ngapain aja? Masih aman, kan? Bagaimana prosesnya? Lancar?,” engkau bersuara.

“Aku lipat-lipat baju aja. Sambil menjaga keponakan kembar. Tadi mereka bangun, sekarang sudah terlelap. Makanya aku berehat di sini. Hihii,” ku pandangi duo imut yang tidur posisi berbeda.


“Baby faris telentang dengan senyuman di bibir. Sedangkan baby Ferdi telungkup dengan jari-jari di mulut. Mereka kembar, namun kebiasaannya berbeda. Gayanya tidak serupa. Apakah lagi dengan kita? Iya, kita,” ku melanjutkan.

“Lalu, engkau sudah makan siang, belum? Sudah lebih tengah hari, lhoo…,” engkau bersuara lagi.

“Belum. Hehee, aku lupa,” ku baru ingat, menyantap menu terakhir pagi tadi. Dan aku tidak lapar juga. Makanya lupa.

“Waduh, nanti sakit perut. Ayo makan sanaa, cepat sebelum terlambat,” engkau memberikan perhatian.

“Ahiya, namun belum bisa. Karena aku belum minat saja,” ku senyumi engkau yang tetiba manyun.

“Jangan mencari alasan. Aku tidak bisa menjengukmu kalau engkau sakit. Lagi pula tidak tahu tinggalmu di mana. Lihatlah. Hanya jendela yang engkau perlihatkan padaku, bukan pintu, pagar, atau jalan menuju ke sana. Jadi, tolong, please, ayo cepetan. Makan dulu. Ini penting untuk kesehatanmu,” engkau mulai banyak ucapan. Lantas ku berpikir, engkau siapa?

Aku tidak tahu siapa engkau. Engkau padaku pun bisa jadi tidak tahu. Akan tetapi, kita bisa bertukar suara. Kita berbicara sekalipun tidak bertatap mata. Kita terlibat dalam satu topik ke topik pembicaraan berikutnya, dalam berbagai kesempatan.

Ada juga di antaramu yang tidak berbicara saat kita bertukar pandang melalui tulisan. Kecuali mencerna setiap kata yang ku rangkai meski awut-awutan. Tapi tetap saja engkau ada. Mengapa? Sering pun ku mempertanyakan.

Engkau, hanya tersenyum. Senyuman yang ku kenali pelan-pelan. Senyuman dalam diam. Senyuman tanpa paras yang kelihatan, namun rangkaian tulisan sebagai jawaban. Aih! Aku semakin penasaran. Siapa engkau sesungguhnya?

Kakak bukan, adik pun bukan. Bukan juga saudara dekat. Karena kita belum pernah bertemuan. Namun begitu, aku padamu ada ketertarikan. Makanya senantiasa mensenyumimu lagi dan lagi. Meski pun belum memberi makan ragaku, darimu ku menyantap menu untuk pikiran. Tambahannya adalah asupan gizi untuk perasaan. Padaku engkau memberikan, gratis tanpa bayaran. Ini kebaikan yang engkau bagikan.

“Iya, memang tidak ku pinta balasan darimu berupa materi, kawan. Karena ada satu kelegaan yang ku rasakan. Ada kepuasan tanpa tandingan. Saat kita dapat bertukar senyuman demi senyuman. Engkau tersenyum padaku melalui rangkaian huruf-huruf, mana pantas ku sambut dengan tangisan? Kecuali pada beberapa catatan, engkau membuatku meneteskan permata kehidupan. Apakah pada saat sama, engkau sedang dalam kesedihan mendalam? Lalu hadirmu bukan untuk memberitahu dunia. Namun sebagai alasanmu menjemput senyuman?,” tampaknya engkau sudah mempelajari rangkaian catatan demi catatan sebelumnya.

“Iya, salah satu tujuanku datang ke sini, untuk memperhati senyuman. Apakah senyuman yang hadir dalam kesedihan atau kebahagiaan,” ku tersenyum dari balik jemari yang ku rapatkan. Sejenak kemudian, engkau menggenggam jemariku dan kita pun bersalaman.

Mari ikut denganku. Jangan hanya menatap dari balik jendela.

Aku? Memandang sekeliling dan kembali pada kenyataan. Ini masih siang. Aku pun bangun dari mimpi dan menyadari. 😀

Dah dulu yaa teman… []

😊😊😊

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s