Kapan Bisa Merangkai Senyuman?

Saatnya kita mengUDARA, lagi. Menjadi bagian dari semesta. Menjadi diri yang tidak terlihat dari mana-mana. Tidak terdeteksi keberadaannya. Namun ada. Terus ada. Sekali pun dianggap tiada, kita ada.
Ada ya, ada.
Kita ada di mana-mana. Kita ada di dalam diri siapa-siapa. Kita ada membersamai suaranya. Kita ada dalam hela nafasnya.
Saatnya kita berSUARA, lagi. Tetap bersuara walau tidak ada yang mendengar. Sampai tidak ada lagi yang mau mendengarkan. Hingga semua tahu, kita benar-benar ada, meski tanpa rupa.
Kita ada dalam ingatan demi ingatannya. Lalu sesiapa saja bisa mewujudkan kita, menjadi ada. Ia tersenyum, mengingat kita.

***

Agar ada, kita tidak bisa tidak, harus menjadi. Menjadi siapakah kali ini? Apakah bisa konsentrasi? Apakah dapat benar-benar menjadi?

Tidak.

Kalau tidak, yaa, begini jadinya.

***

Hallo my dear friend. Aku datang membawa suasana riuh di sekeliling. Ramai-ramai, dengan teman-teman. Teman-teman yang menghiasi waktuku, menjadi syahdu, biru, haru dan sendu.

Berikut ini adalah kebersamaanku dengan teman-teman unikku lainnya. Keunikan yang ingin ku bagikan melalui suara. Namun bibirku terbata mengucapkannya. Jadi, biarlah gambar yang berbicara.

Nyamuk, akhirnya terdetek juga. Meski agak kecil, ini memang nyamuk penasaran. Yang aku penasarani selama ini. Tentang bagaimana cara menangkapnya dan tersenyum bersamanya seperti ini.

Nyamuk

Akhirnya terdeteksi juga. Meski agak kecil. Ini memang nyamuk, kawan. Nyamuk yang aku penasarani selama ini. Tentang bagaimana cara menangkapnya dan tersenyum bersamanya seperti ini.

Kebersamaan tentang nyamuk yang ingin ku senyumi, terinspirasi dari seorang teman. Teman yang datang-datang membawa suara.

“Yaaan, siapa emak-emak yang ada di belakang sana? Orang mana aja?” ia menanya padaku.

Ku melihat wajahnya kecut. Masam. Tanpa senyuman. Pria berkulit hitam legam, dengan bentuk wajah bulat bak bapao ini, terdeteksi tidak enak perasaan. Hai, ada apa gerangan? Aku tidak mau menerka, kecuali menemukan penjelasan, atas tanyanya barusan.

“Masih orang sini juga, masa engga kenal?” ku menanya balik.

“Iya, engga ada senyum-senyumnya sama sekali. Manyuun, aja,” ia berlalu, dan semakin jauh tanpa bisa ku ajak bicara lagi. Aku tersenyum melepasnya.

Seperti nyamuk, ia datang membawa suara. Suara yang mengusikku lalu terpikir-pikir, apa maknanya yaa yang dapat ku petik melaluinya?

Oiya, tentang senyuman. Makanya, senyuman ini hadir, tentangnya. Ia yang menghadapi wajah manyun, dan menanggapi melalui tanya padaku.

***

textonphoto_7401928782824.png

Kupu-kupu

Kupu-kupu adalah lambang perjuangan. Perjuangan yang membutuhkan proses lama agar menjadi secantik ini.

Kecantikan berproses sejak ulat hingga menjadi kupu yang lucu. Kupu-kupu dengan sayap indahnya yang memukau. Membuat mataku tak henti hanya menatapnya. Dan sangat berminat menggerakkan jemari untuk berbicara beberapa patah kata tentangnya. Walau dalam diam, masih tanpa suara.

Ada yang ia sampaikan padaku tentang upaya. Tidak mau hanya menikmati hasil, tanpa usaha. Biarlah lelah berpayah-payah terlebih dahulu, sebelum berhasil. Begini pesan yang kupu-kupu sampaikan dalam kebersamaan kami.

***

textonphoto_432-2135085607.png

Sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, ia ada. Ia yang tidak terdeteksi siapa nama, namun bermakna.

***

textonphoto_280928645632.png

Amor, adalah kucing kami yang lucu. Sangat tidak sabaran kalau lagi minta makan. Suka mengintip dari celah-celah dan ku intip balik dech, hehe. Intip-intipan, seraya bersenyuman. Karena ketahuan.

***

Angel. Saat ku lagi asyik berdiam, ia datang ‘merusak suasana’. Angel mengambil alih meja, menginjak-injak keyboard, bolak-balik tanpa rasa berdosa, ia semakin menguasai keadaan. Hingga menarik perhatianku. Selanjutnya terbang ke negeri impian, lelap sungguhan.

Dear Angel, enaknya menjadimu, teman.

Enjel

The Enjel

***

Anak Ira, adalah keponakanku yang perempuan. Putri kedua dari saudara perempuanku yang kedua juga. Kami berteman, dan saling bertukar senyuman dalam berbagai kesempatan. Bercanda dan tertawa gantian, karena ia orangnya usilan. Aku sering terhibur olehnya, ketika dalam kesedihan. Melihatnya, seperti melihat diriku masa silam. Beberapa orang bilang, antara kami ada kemiripan.

textonphoto_659-1951846643.png

textonphoto_392-1440326735.png

textonphoto_6-14718108.png

textonphoto_902-1278965949.png

textonphoto_4661261201676.png

***

Selanjutnya adalah tentang kerinduan yang menjadi teman. Teman tanpa wujud dan badan. Teman yang hadir kalau ku lagi sendirian tanpa melakukan pekerjaan apapun. Maka rindu datang diam-diam. Maka, pesanku padamu teman yang terkena ujian rindu, bergeraklah, melangkah dan berjalan.

Pergilah sejauh engkau mau, kembali dengan senyuman. Sapa sesiapapun yang engkau rindu, karena ia pun mengalaminya.

textonphoto_426-1392054265.png

***

Hujan. Hujan turun membawa kebahagiaan. Berbahagialah anak-anak seraya turun ke halaman. Berbahagialah anak-anak seraya bermain hujan. Berbahagialah anak-anak yang menikmati masa kecilnya dengan hujan-hujanan.

20180828_1024561273957913.jpg

Hujan

Awet yaa, hujannya awet. Sejak pagi tak henti-henti. Turunnya kecil-kecil meramaikan suasana. Meriuhkan alam ini menjadi lebih semarak. Bercampur dengan suara anak-anak yang teriak-teriak. Membuatku tergelak, lalu bangkit dari duduk manisku. Tidak hendak membersamai mereka, karena sejak tadi, berkali-kali ku bersin-bersin.

Aku memilih hanya melihat dari kejauhan. Menyaksikan pemandangan di depan mata dengan senyuman. Senyuman yang menebar sebagai teman dalam kesendirian.

Sendiri yang memesankan. Agar ku tidak hanya berdiam, namun menggerakkan jemari lagi.[]

🙂 🙂 🙂

4 thoughts on “Kapan Bisa Merangkai Senyuman?

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s