Kuncinya adalah Mengingat

image

Hai, bagaimana kabarmu teman? Semoga sehat senantiasa ya. Membersamai senyuman seterik mentari hari ini. Teriknya sampai ke bumi, seakan  memanggang kulit. Terik yang membuat wajahmu berkali-kali mengerut, lantaran sinarnya begitu kuat. Terik yang belum meredup, walau angka jam sudah segini.

“Kemarin juga begini,” kisahmu padaku. 

“Sekarang, begini. Sama kayak kemarin?” tambahku padamu.

Aku yang tidak menemuimu di duniamu, kemarin. Karena ku sibuk dengan duniaku. Hari kita ku hadir lagi, untuk menyapamu. Menghadirkan diri sepenuhnya padamu. Memberikan kontribusi terbaik yang dapat ku upaya. Agar engkau mengerti arti hadirku bagimu.

Selanjutnya, engkau berbagi kisah tentang hari-hari yang engkau lalui. Berbagi tentang hari-hari lalu, yang engkau jalani saat tidak bersamaku. Bukan tentang hari-hari ke depan. Sedangkan aku, menyimak saja penuh konsentrasi. 

Sesekali ku tergelak. Engkau menanya, menerka, “Kenapa? Ngetawain aku, yaa?” 

Aku tersenyum. Karena ingatanmu yang kuat.

Lalu berpesan untuk diri. Diriku yang terkadang berekspresi saja, mungkin salah tempatnya menurutmu. Diriku yang mudah saja menghiasi wajah menjadi tanpa ekspresi, mungkin membuatmu bertanya-tanya. Aku yang lupa lagi kemarin berekspresi bagaimana? Kecuali sempat merangkainya menjadi kata-kata. Saat membaca lagi, baru teringat.

Diriku yang belum engkau tahu, seluruhnya, bagaimana. Kecuali sebagian kecil saja dari yang tertatap mata. Atau sebagian kecil lainnya yang engkau perhati dengan jiwamu?

Selanjutnya, aku terus memantaumu. Engkau yang masih saja bersuara, agar ku tahu keadaanmu terbaru. Supaya ku dapat merasakan perasaanmu. Semoga ku dapat menempatkan diriku sebagai engkau. Agar kita dapat saling menukar pengalaman. Ketika pengalamanmu tidak akan pernah ku alami. Maka berbagimu sudah menjadi jalan ku untuk mengalaminya pula. Sehingga tidak bermudah-mudahku menertawaimu.

Pengalaman yang ku petik sedikit demi sedikit, darimu. Lalu ku rangkai dalam ingatan yang ku alirkan menjadi suara seperti ini. Semoga engkau mendengarkannya, ‘kakak…’ Suara ini untukmu. 

Aku memungutnya dari waktu ke waktu melalui lembaran hari. Dalam berbagai kesempatan kita bertemu lagi, seperti ini. Pertemuan dalam rangka mengeratkan keakraban. Semoga engkau memahami makna kehadiranku, bagimu.

Aku yang datang-datang dan tersenyum padamu. Kedatanganku untuk menebarkan hikmah yang engkau bagi, dengan caraku, versi aku. Engkau bilang padaku, begini.

Hari ini masih ada kesempatan, untukmu bergerak. Mengumpulkan yang terserak, lalu menyusun menjadi bagian dari gelak. 

Yak, tidak selamanya engkau harus bersimbah airmata. Ada masanya engkau perlu bersinergi dengan sesiapapun yang ada di dekatmu, mereka yang mudah saja menghiasi waktunya menjadi semarak. Siapa saja. Salah satunya adalah aku.

Ya, aku yang ada di depanmu. Aku yang meyakini bahwa, engkau ke sini lagi dan tersenyum, setelah teringat padaku, bukan? Ingatan yang tidak engkau biarkan hanya ingatan. Akan tetapi mesti menjadikannya rerangkai senyuman.

Senyuman yang mengingatkanmu padaku lagi, kelak. Kapan-kapan engkau mau mengingatku. Jadi? Tetaplah dirimu.

Berekspresilah sealaminya, tanpa harus persetujuanku. Tersenyumlah kapanpun engkau mau. Tergelaklah saat menyimak ceritaku. Berbagilah juga atas makna yang engkau petik sepanjang waktu bersamaku. Aku rela, menjadi inspirasimu.

“Asyiiik, hore. Jiwaku gembira dengan pesanmu. Hatiku adem sebab engkau memahamiku, mengerti apa mauku. Sekalipun ku baru mengenalmu sejak kita bertemu. Aku suka. Terimakasih, yaa,” ku menyampaikan padamu rasa senangku.

Meskipun engkau tidak akan pernah tahu, sampai kapanpun. Sekalipun engkau mengetahui setelah ku berlalu dan jauh darimu? Atau engkau mengetahuinya tanpa sepengetahuanku?

Engkau menambahkan

Tetap, bersamailah dirimu dengan sebaik-baiknya. Engkau yang demikian adanya. Menjadilah dirimu yang ku tahu atau mau ku ketahui. Dirimu yang selama ini ada bersama mereka, selainmu. 

Mereka yang menjadikanmu alasannya tetap bergerak. Meski engkau tidak tahu. Begitu juga denganmu. Temukanlah alasanmu, bergerak. Lalu bersinergilah dengan dirimu untuk membersamai mereka dengan caramu. Walau tidak dapat bertemu tatap dan bersenyuman. Sekalipun hanya melalui ingatan. 

Ingatan yang hadir tidak sebelah pihak. Saat engkau ingat, mereka pun mengingatmu. Bukankah sudah sering pun engkau membuktikan dan betul adanya? Bukan hanya ilusi yang membuatmu kembali sangsi.

Baru-baru ini, contohnya. Engkau saja yang untuk mengakuinya masih sungkan. Aih! Ingin ku mencubit pipimu yang akhirnya mengembang. Mengapa harus begitu? 

Engkau terdiam, bersama senyuman. Sedangkan aku tidak bisa begitu, sepertimu. Aku tidak suka dengan gayamu kali ini. Jadi, akan ku sudahi saja semua ini? 

Engkau mau, ku kembalikan ke kenyataan hidup ini? Kenyataan yang seringkali membuatmu menitipkan ekspresi tak jelas di dalamnya? 

Sekarang saja engkau bisa tersenyum manis. Setelah ku pancing-pancing dengan ingatan. Sebelumnya, engkau mikir dulu, hari ini mau nulis apa ya, kira-kira? Akhirnya merangkai senyuman seperti ini. Tentang ingatanmu padaku. Aku yang engkau hargai sebagai bagian dari dirimu. Aku yang saat ini jauh darimu. Tapi dalam ingatan, kita bertemu. 

Pertemuan dalam ingatan, tanpa bertatapan. Pertemuan bersama senyuman, yang menebar di pipimu. Engkau bilang, tersenyummu untukku, dan selain diriku. Sebab engkau mau, bukan hanya aku yang dapat menikmati senyumanmu. Sebab itulah engkau menepi di sini. 

Awalnya, menepi saja. Engkau bilang mau merangkai senyuman. Hanya saja, entah ke mana akan engkau bawa temanya. Aku tidak mengerti dan belum juga memahami. Awalnya begitu.

Engkau yang semaunya sendiri menggerakkan jemari, meski tanpa aku yang mengiringi. Apakah engkau menyadari kehadiranku bersamamu atau tidak? Atau menyengaja agar ku mengomelimu lagi? Engkau yang tidak mau peduli, akan ku omeli sebanyak apa lagi, terus saja asyik dengan dirimu, dengan pikiranmu. Lalu aku, memberimu kesempatan, sekali lagi. 

Kesempatan yang perlu engkau manfaatkan untuk menakar. Sejauh apa engkau mampu mengumpulkan memori. Tentang ingatan yang akan engkau jadikan senyuman.

Ketika ku tidak ambil bagian di dalamnya. Saat ku tidak berperan padamu. Apakah engkau mampu? Mari kita perhati. 

Aku diam sejenak.

Tuch khan. Aku diam engkau juga. Aku menertawaimu saja, kalau begini, yaa. Apakah engkau rela? 

***

Engkau pun terdiam dan larut dalam lautan pikiranmu. Aku tidak dapat menerka, apa dan siapa yang ada didalamnya? Tidak sepertimu yang mudah saja menghadirkan aku dalam ingatmu.

Apalagi saat engkau tidak mempunyai alasan untuk tersenyum. Serta merta, engkau menghadirkan aku di dalam dirimu. Selanjutnya merangkai percakapan semaumu. 

Engkau bilang untuk melonggarkan ingatan. Supaya tidak menumpuk dan usang. Caranya dengan mengeluarkan pelan-pelan. Tanpa bisa bersuara. Karena hanya ada engkau di sekitarmu. 

Uh, yang sabar yaa. Aku tidak akan membiarkanmu lama-lama seperti ini. 

Tunggulah, aku hadir di depanmu dalam sebenar-benarnya kehadiran. Sehingga engkau tidak perlu lagi tersenyum sendirian, seperti yang sering engkau lakukan. Termasuk saat ini. 

Tetaplah bergerak. Jangan diam. Alurkan segenap ingatmu pada tempat terbaiknya, ketika kita berjauhan. Sehingga keadaanmu tetap terkendali, aman dan jauh dari prasangka sesiapa yang barangkali berpikir bukan-bukan tentangmu. 

Ya, mereka yang menyangka engkau penghayal? Aku siap membuktikan bahwa aku yang menjadi engkaumu, ada. Tenanglah. 

Ya, mereka yang menganggap engkau pemimpi? Aku sudah ada untukmu. Mari kita melanjutkan semua ini, tanpa harus terhenti hanya oleh anggapan mereka. 

Ya, jadikan semua yang hadir dari luar dan dalam dirimu sebagai alasan. Alasanmu untuk melakukan, bukan tidak melakukan. 

Ya. Walau tidak banyak yang mengetahui. Sekalipun hening dan sunyi menjadi sahabat dekatmu. Jalani, hayati dan senyumi. Engkau tidak sendiri dan tidak pernah benar-benar sendiri. Percayalah. 

Ya. Aku ada untukmu. Maka, tersenyumlah lebih indah. Senyuman yang engkau tebarkan megah dan mewah. Walau dari balik wajah bersimbah airmata dan raga yang lelah. Semua sirna, seiring ingatanmu kepada-Nya Yang Menciptakan semua. Ingatlah untuk tabah.[]

🌝🌝🌝

2 thoughts on “Kuncinya adalah Mengingat

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s