Baby Face

Hai cantik, bagaimana kabar diri? Apakah senyumanmu masih menemani raga? Bagaimana dengan suasana hati di dalam dada? Tentang fikir lagi ke mana?

Apa yang ada pada wajah dan terlihat mata, sedikit banyak merupakan cerminan dari dalam diri. Makanya, selagi masih pagi mari berbenah sejak dini. Mumpung belum tersibukkan dengan riuhnya aktivitas hari ini. Yuk mari menata hati. Mengkondisikannya menjadi berseri-seri, berbinar-binar menerangi. Yuk mengolah pikir, menempatkannya pada posisi yang semestinya ia berada.

Hai lagi, cantik. Engkau di sana yang sendiri. Bagaimana kalau kita bernostalgia lagi. Mengembalikan diri pada hari-hari yang suci, bersihnya hati, tanpa noda-noda pikiran dan masih bayi. Ketika diri ini begitu murni, tanpa polesan. Kecuali yang alami. Saat kecantikanmu tanpa make up sama sekali. Karena memang belum bisa berdiri. Apalagi mengoleskan bedak di pipi.

Hati adalah pusat kendali setiap gerak dan tingkah laku. Sebelum pikiran mengajak diri mau ke Barat atau Utara.

Hai, bagaimana kalau ke Timur saja? Karena di sana ada mentari. Ia siap tersenyum lagi. Mari menatap ke arah sana sejenak. Kita nanti kehadirannya sejak pagi.

Engkau yang bersuara damaikan hati, selayak langit menaungi. Engkau yang berwajah teduh tenteramkan pikir, selayak gemawan meneduhi. Engkau yang tersenyum berseri-seri, selayak mentari yang terbit lagi. Engkau yang ada di depanku, menjadi inspirasi.

Engkau yang cantik dari dalam diri, selalu jaga pikir dan hati. Semoga kecantikanmu abadi sampai nanti. Sehingga menjadi alasan sesiapapun yang mengingatmu tersenyum rapi. Karena mengetahui secuplik rahasia yang engkau bagi, tentang diri.

Bagaimana yaa, wajahnya masih imut sekali, padahal usianya sudah meninggi. Senang saja melihat dan berada di sisinya. Rasanya ingin berlama-lama menemani, selalu bersamanya sampai nanti. Lalu, ku bertanya memberanikan diri.

Hai cantik, apakah ada tips supaya wajah terlihat imut dan segar alami seperti ini?

Ia menarik dua ujung bibirnya ke samping kiri dan kanan, bersamaan. Sehingga bibirnya bertambah panjang dua senti. Sedangkan dua bola matanya mengerling, saat ku amati lagi. Terlihat ia sedang memikirkan sesuatu. Sebelum menjawab tanya yang ku ajukan.

Apakah yang ia pikirkan? Bagaimana suasana hatinya saat ini? Apakah ia terpesona oleh ketampananku, sampai tidak bisa berkata-kata saat bersamaku? Atau ia sedang mengingat dirinya yang memang tertakdir cantik sejak lahir? Atau karena ia melihat dirinya di dalam bola mataku?

***

Tersenyumlah, Nak. Ya, begitu. Kami semua menyayangimu. Buka matamu dan lihatlah dunia pun tersenyum padamu. Bersamai kami dengan kelucuanmu, menjadi pengobat hati yang pilu. Tatapmu mendamaikan jiwa yang kelabu.

Seperti bayi yang belum tahu apa-apa tentang dunia, engkau datang di hadapanku. Lalu ku menceritaimu banyak hal tentang segala yang dunia perlihatkan padaku. Menyampaikan segala keluhku, tapi engkau malah tertawa. Menyampaikan dukaku, engkau tersenyum manja. Engkau sempat ingin bicara, menanggapi ceritaku. Tapi belum bisa.

Tersenyumlah, Nak. Ya, begitu. Kami semua ada untukmu. Keberadaanmu untuk kami. Mari bersama bersenyuman. Menghiasi waktu yang ada. Tenanglah jangan menangis, sayang.

Tersenyumlah, Nak. Ya, begitu. Kami semua tersenyum untukmu.

😋😋😋

2 thoughts on “Baby Face

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s