Malaikat pun Tahu, Engkau Rindu Siapa?

Sebatas Rindu

Sebatas Rindu

Inilah baiknya berteman denganmu. Bila rindu menyapa, maka ku sapa engkau seperti ini. Sapaan yang ku susun perlahan, sedikit demi sedikit, satu persatu, melalui huruf-huruf. Sapaan penuh rindu dari dalam kalbu. Sapaan tanpa suara yang mengalir, memang. Namun ku berharap, semoga engkau mendengarkan suara rinduku untukmu. Lalu… Engkau teringat padaku. Seperti ingatanku padamu. Afirmasi.  😀

Yah, pagi ini, sejak kemarin dan hari-hari sebelumnya juga sama. Aku teringat padamu. Teringat saja, lalu teringat-ingat. Ingatan yang membuatku kelu, tidak bisa mengungkapkannya. Ingatan yang akan hilang begitu saja, bila ku tidak merekapnya seperti ini.

Ya, semoga engkau tahu, sebanyak apa ku merindukanmu saat jauh dariku. Agar engkau tahu, betapa rinduku ramai dan banyak jumlahnya. Walau tidak terhitung lagi huruf-huruf yang ku susun, tidak mengapa.

Ya, aku merindukanmu sungguh-sungguh. Sesungguh mentari muncul lagi di ufuk timur, maka hari bernama pagi. Sesungguh malam yang kelam tanpa sinarnya. Maka seluruh alam menjadi gulita, tanpa penerangan. Sesungguh hujan yang menetes saat ini, membasahi alam. Sesungguh ingatan yang hadir lagi dan lagi, lalu ku merindukanmu setelahnya. Sesungguh nyamuk-nyamuk yang mencari mangsa, dan ia tidak akan henti sebelum hinggap. Sesungguh angin yang bertiup, namun tidak kelihatan. Begitulah aku merindukanmu.

Betul, engkau perlu tahu tentang rinduku ini. Rindu yang ku tata lagi, semampu yang ku sanggup. Rindu yang mengajakku menepi-nepi lagi ke sini, meskipun suasana alam masih sunyi, hening, sepi, bila tak ada suara hujan di luar sana. Rindu yang berharga, makanya ku menjaganya.

Aku masih menjaga rinduku padamu, semaksimal daya sebagai hamba. Sedangkan yang mengatur segalanya adalah Dia. Dia pemilik hatiku sesungguhnya. Hati tempat bersemayam rindu. Maka, apakah yang terjadi, bila rindu ini tidak menjadi jalan kembalikan ingatanku kepada-Nya? Aku pun tidak dapat menerka apalagi menduga-duga. Kecuali menjalani saja, merasakan saja, mensenyuminya, lalu aku pun bergerak.

Saat rindu menyapa, aku bangkit. Aku bangun. Aku bergerak. Aku melangkah. Aku bersinergi dengan diriku, lebih awal. Lalu menyapanya dengan menggerakkan jemari. Untuk mengetahui, apakah yang ia sampaikan? Bagaimana ia menyahuti sapaku? Seperti apa ku membalas sapaannya yang berikutnya padaku? Sapaan balik sebagai responnya dari sapaku. Sapaan penuh kerinduan juga, bila dalam sehari ku belum juga menyapanya. Sapaan yang mengingatkanku bahwa rindunya padaku lebih lebih lebih dalam lagi, dari rinduku padamu.

Wahai, betapa menderitanya ia, kiranya. Bila ku hanya mementingkan egoku saja, tanpa pernah peduli, padanya? Maka, untuk mengalihkan rinduku padamu. Sering-sering pun ku menyapanya. Ku sampaikan padanya bahwa ia adalah sahabatku. Sahabat yang sangat memahami aku, kapanpun dan bagaimanapun cuacanya. Sahabat terbaik.

Sekarang, rinduku terus menetes. Seperti denting suara hujan yang menyisakan bekas di atap. Seperti kesejukkan yang hadir berikutnya, setelah hujan mereda. Seperti inilah rinduku padamu, menyisakan bekas.

Yes. Makanya ku bahagia sungguh sangat, merindukanmu.

Kerinduan yang ku jaga ada, walau engkau belum terlihat. Kerinduan yang ku siapkan untukmu, sampai terlihat, mendekat dan terdekap. Walau tangan-tanganku tidak dapat menjejak di wajahmu saat ini, ku rasakan engkau benar-benar dekat, terlihat dan ku sampaikan kalimat-kalimat ini dari dekat. Sedekat angin yang terasa, meski tidak terlihat. Semoga engkau merasakan, bahwa aku merindukanmu sangat-sangat.

Dalam suasana merindukanmu seperti ini, ada yang lekat di dalam tatap. Ada yang menempel tanpa perekat. Ada yang terpisah tanpa sekat. Ada yang membuatku terpikat. Apa sebab?

Tulus baktimu dan taat, menyampaikan amanat, mendengarkan nasihat, menjalankan niat, meneguhkan tekad, menyimpan segala rahasia dengan cara yang hebat. Sungguh, aku terpikat, dan semoga engkau juga ingat. Semua yang ada padamu membuatku tidak bisa tidak kembali teringat.

Teringat untuk merindukanmu, sangat sangat. Walau berat, meski sekelebat, sekalipun ciaaaaaat, ku harus melompat. Dengan kekuatan rahasia pula, aku gulirkan rindu yang terus mendekat sampai ke akhirat. Engkau sanggup? Tanyamu.

Ada yang membuatku kuat. Ada yang lebih kuat dan menggenggamku erat. Ada yang Maha Hebat. Ada yang membuatku teringat. Bahwa rinduku padamu, mendekatkanku dengan-Nya, makanya engkau merindukanku juga, karena-Nya. Jadi, sudah jelas, sobat? Rindu ini dahsyat.

Hei, seperti apakah dahsyatnya? Engkau melirikku sekilas, lalu melemparkan tatap jauh-jauh. Tatap yang ju jemput dengan semangat. Lalu, merawatnya, menjadikan sebagai alasanku tetap meneruskan merangkai huruf-huruf menjadi kalimat. Dan lihatlah, ada engkau yang ku ingat, saat ini. Ingatan tentang ketidakmampuanku untuk tidak ingat, padamu saat ku merindukanmu. Meski tidak ku peroleh apapun atas semua ini, namun ada yang menyapaku lagi, kelak.

Ya, sapaan darimu yang ku ingat saat ini. Sapaan yang engkau jawab setelah saat ini. Sapaan yang ku terima dari seluruh penjuru mata angin. Sapaan yang tertuju padaku, dan engkau bisa bahagia setelah tahu, sapamu tulus, fokus, makanya sampai padaku. Sapaan seorang sahabat, ya, engkau. Bagaimana bisa ku mempersahabatimu, dalam rinduku yang terus melaju? Laju yang cepat tanpa sempat ku dekap dari dekat.

Ya, karena kita berjauhan, makanya ku merindukanmu. Kalau berdekatan, artinya ku menatapmu.

“Tuch benar terbukti khan. Belum juga ku menyelesaikan rerangkai kalimat-kalimat ini menjadi senyuman, engkau pun ingat padaku, ternyata. Buktinya, engkau melayangkan sebuah pesan, padaku. Pesan yang mendekat, denganku. Membuat ingatku padamu semakin menderu, huhuhuuu… Sungguh aku rindu. Ya Allah, kepada-Mu ku bermohon, mendekatkan segala ingat, merekatkan segala rindu, sebelum dan ketika saatnya tiba, rinduku terekat, mendekat, pada sahabat dekat.

Wahai sahabat, semoga rindu kita terus mendekat, teringatkan satu sama lain, pada saat sama. Artinya, kita sehati, meski tidak sepemikiran, namun saling mengingat. Tetap saling mendekaaaaaaat walau berjauhan. Membuatku ingat merangkai lagi kalimat, tentang kita. Ya, kita. Engkau dan aku.

Apa sebab? Karena kita adalah satu jiwa yang bersemayam di dalam raga berbeda. Kita adalah kelemahan-kelemahan yang bersatu untuk saling menguatkan. Semoga, engkau dalam kekuatan, aku pun sama. Makanya, kita bertemuan dalam ingatan, dalam kerinduan. Pertemuan yang menjadi rahasia-Nya untuk kita. Rahasia yang akan terungkap, pada saatnya. Maka katakanlah bahwa, engkau pun merindukanku, iya khannn? Ayo ngaku.

Mengaku saja, meski melalui tulisan. Mengaku saja, walau dengan senyuman. Mengaku saja, sekalipun suaramu tidak kedengaran. Mengaku saja, dalam diammu. Mengaku saja, dari kejauhan.

Pengakuan yang tidak akan membuatmu terhinakan, namun termuliakan. Tidak akan membuatmu malu, atau tersudutkan. Namun membuatmu bahagia. Karena kesuksesanmu atas ketidaksanggupan menyampaikan kerinduan, pada yang tidak berhak untuk engkau rindukan. Artinya, engkau akan menyampaikannya, hanya pada yang pantas, bukan?

Makanya, jagalah dengan sebenarnya, yakinilah dengan sesungguhnya, bahwa benar adanya, jodoh pasti bertemuan. Percayalah, jodoh pasti saling ingat. Percayalah, meski tidak bertatapan mata, tapi tatapan mata hati, memperlihatkan yang tidak kelihatan. Jadi?

Teguhkan keyakinan, tinggikan keimanan, tegapkan langkah-langkahmu, teman. Kelak kita bertemuan, bersama senyuman, yaa. Ya, tersenyumlah.

Senyuman yang bisa membebaskanmu dari keterpenjaraan. Senyuman yang melepaskanmu dari keterikatan. Senyuman yang mengajakmu ke mana saja, tanpa ketakutan, namun membagimu kekuatan untuk meneruskan perjuangan. Semangat menyemangati, dalam taat.

Karena engkau tidak sendiri dengan kerinduanmu. Sesiapapun yang engkau rindu juga mengalaminya. Maka percayalah, ada yang menemanimu, dalam kerinduan. Meski dari kejauhan.

Sungguh. Yakin dan percayalah. Dan kemudian, jalani kerinduan dengan senyuman. Senyuman yang membuatmu semakin ringan menjalani kerinduan. Ringan dan engkau menikmatinya tanpa keberatan. Berikutnya, saat rindu datang lagi, engkau sudah terkondisikan. Karena berpengalaman dari kerinduan sebelumnya (hari ini yang berkesan) bersama senyuman.

Ketika engkau dalam kerinduan, jangan hanya diam. Jangan. Tapi, bergeraklah. Gerakkan jemari untuk meluahkan dalam tulisan. Gerakkan kaki untuk melangkah dalam perjalanan. Gerakkan pikir untuk mengisinya dalam kerinduan. Karena gerakan adalah jalan. Jalan tanpa kelihatan. Jalan yang ada selama engkau mau bergerak. Ya, pergerakan itu sendiri. Jalan yang tidak akan pernah terlupakan. Maka, engkau menempuhnya lagi, di tengah kerinduan. Kerinduan yang terkadang mencekam? Hiii seram.  >:D<

Ketika aku dalam kerinduan, yang ku tahu, hanya aku yang merasakan. Tanpa tahu, ternyata ada juga yang mengalaminya, terhadapku. Sebelumnya, begini. Nah, ke sini-ke sini, mulai ada pemahamanku tentang kerinduan. Bahwa bukan aku saja yang rindu. Ah, kalau ku tahu engkau pun rindu, aku semakin ringan membentangkan senyumanku. Senyuman yang menebar, membebaskanku dari kerinduan.

Senyuman yang mengembang, membawaku ke mana-mana, bersamanya. Hingga sampai padamu yang ku rindukan? Iya. Bisa jadi. Hihii. Dan kemudian, engkau pun tersenyum, di sana. Setelah tahu bahwa yang ku rindukan adalah engkau. Ya, dan kita bersenyuman, atas kerinduan yang kita percayai saja sebagai pembebas diri agar ia terus berkembang, bukan malah sebaliknya.

Rindu yang membungahkan senyuman bersama kembang-kembangnya. Rindu yang terjaga, tidak melukai, tapi menyehatkan.

Engkau yang ku rindukan. Aku yang merindukan. Kita harus tetap semangat, bergerak, melangkah, melayang, membebaskan diri, untuk kebahagiaan sejati. Tanpa henti, walau ada-ada saja yang membuat kita tergelak, lagi. Ah, ada-ada saja. Tidak pernah terbayangkan sebelum ini, tapi kita jalani sepenuh hati, yaa.

Karena rindu tidak salah. Yang salah adalah yang tidak cakap menempatkan rindu. Yang salah adalah yang menjadikan rindu sebagai penghambat. Yang salah adalah yang tidak yakin, rindu datang bukan tanpa alasan. Namun membawa pesan, agar yang rindu hinggapi semakin yakin, ada yang menyampaikan rindunya pada yang bersangkutan.

Kelak, setelah hari ini berlalu, senyuman perlu masih ada, sobat. Senyuman atas kemenanganmu mengalahkan pasukan yang membawa kerinduan hingga memenuhi ingatan hingga ruang hati. Pasukan yang tersenyum lega padamu, atas kesempatannya menjadi bagian dari hari inimu. Dan malaikat-malaikat pun tahu, engkau rindu siapa?

Engkau merindukan harapanmu menjadi nyata? Bangunlah pagi-pagi. Tebarkan semangat pada dingin yang menusuk hingga ke sumsum. Alirkan energi pada nadi-nadi yang terus bekerja untuk diri. Sampaikan pada tatapmu untuk membuka lagi, dan perhatikanlah sekitar.

Ada banyak yang perlu engkau syukuri, daripada merutuki. Alangkah indahnya hidup ini, bila engkau sabari. Dan lanjutkan perjalanan, lagi. Berjuanglah, berproseslah, bersinergilah dengan semesta.

Ada sisi-sisi tersembunyi untuk engkau ungkap rahasianya. Apakah membuatmu tersemangati dengan melakukannya? Lanjutkanlah. Apakah membuat mood mu menepi? Hentikanlah!

Lalu, putar haluan dan temukan jalan berbeda. Ingatlah, masih ada jalan, selagi ada kemauan. Mau belajar, mau mengerti, mau bersalaman dengan kenyataan. Mau bersenyuman dengan impian. Maka, engkau dapat merangkai kisahmu pula. Kisah tentang aneka ragam rasa dan rupa yang engkau perhati.

Kisah yang ada aku di dalamnya? Aku juga merangkainya. Kisah yang ada engkau di dalamnya. Maka, yuuk kita lanjutkan ‘persaingan’ ini. Bersaing dengan sehat, selamat datang di dalam catatan tentang rinduku padamu, berikutnya yaa. Don’t forget to subscribe this page. Heheheee dari dunia nyata menuju dunia maya? Atau dari dunia maya menuju dunia nyata? Sama saja. Yang jelas, rindu ini ada. Makanya, sampai saat ini, ku rela menyapamu, lagi. Hihii.

Terima kasih untuk sapa, ingatan dan merindukanku, yaa. Hahaa, emang ada yang merindukanku? Ada, meski ia tanpa suara, walau dalam diamnya, rindu terlantun melalui doa-doa.

Doa-doa yang ia sampaikan kepada-Nya. Dan rindunya sampai padaku, melalui-Nya. Begitu pun dengan rinduku padamu, padanya, karena izin-Nya. Alhamdulillah….[NM]

🙂 🙂 🙂 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Malaikat pun Tahu, Engkau Rindu Siapa?

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s