Selamat Bergabung, Teman ^^

Picture : Bekerja sama dengan orang lain

“Mengalahlah untuk menang. Mundurlah selangkah, untuk maju beberapa langkah.”

Hari ini, aku mau mengingat-ingat beberapa orang yang hadir dalam hariku, dan pesan serta kesannya dalam kebersamaan kami.

Beliau semua adalah orang-orang yang akan ku jadikan sebagai kenangan, kelak di hari nanti. Beliau adalah bagian dari pengingatku untuk tersenyum menyambut kedatangan. Beliau adalah bagian dari orang-orang yang ku syukuri, menjadi bagian dari perjalanan. Beliau adalah para hamba-Nya yang menjadi inspirasi, secara tidak langsung. Walaupun pertemuan kami untuk pertama kali, untuk ke sekian kali, dan untuk tidak bertemu lagi?

Ya, kami tidak akan bersama selamanya. Tepatnya, setelah ku tidak di sini, lagi. Walaupun demikian, ku ingin mengajak beliau serta dalam kisah hidupku. Makanya, ku jadikan beliau sebagai bagian dari senyuman hari ini. Senyuman untuk beliau semua, special, karena aku suka.

Suka, yaa. Aku suka saja membersamai beliau, beliau, semuanya. Terlepas dari ada tidak adanya kesan yang beliau tinggalkan sebelum menjauh lagi, pergi, setelah menemuiku. Terlepas dari ada tidaknya senyuman yang beliau semaikan, di ruang hatiku. Senyuman yang semestinya mengajakku tersenyum, saat ingatan pada beliau, beliau, datang lagi. Maka, aku mau mensenyuminya, kali ini.

Siapa sajakah beliau yang ku maksudkan?

Orang pertama yang ku mau, adalah engkau. Ya, engkau. Engkau di sana, siapapun adanya, di manapun, yaa. Engkau yang seringkali berprasangka tentangku. Bahwa aku begitu, begini, dan tidak sesuai dengan prasangkamu, nyatanya.

Engkau yang menyangkaku, datang-datang ke sini, jauh-jauh, untuk mengumpulkan berkarung-karung money? Lalu bilang, sudah banyak yaaa uangnya. Sudah bisa dong, naik haji. Hihiihii.

“Sejumput ingatan yang engkau selipkan dalam rangkaian suaramu, padaku. Ujung-kalimat yang ku syukuri, lalu tersenyum bersemi-semi. Aamiin, yaa Allah. Kabulkanlah doa hamba-Mu ini, beliau yang berbaik sangka padaku. Berbaik sangka, tentang keberadaanku di sini. Walau bagaimana pun kondisi yang ku tempuh, semoga doanya menjadi nyata. Begitupun untuknya, siapapun ia, di mana pun berada. Semoga tercapai segala cita baiknya, sepanjang melangkah di dunia ini.”

Selanjutnya, engkau dan aku berbagi suara, bertukar kisah, bercerita tentang hari-harimu di sana dan hari-hariku di sini. Hari-hari di sana yang engkau tempuh dengan berkarya, melakukan aksi dan perjuangan, setiap hari.

Engkau yang tidak bisa diam, tapi bergerak setiap hari. Engkau yang tidak mau termenung tanpa kegiatan, makanya menjalankan usaha. Engkau melakukan yang bisa engkau lakukan, makanya terbiasa. Sedangkan aku, pun sama.

Di sini, ku melanjutkan perjalanan hidup dengan semaksimal daya dan upaya. Berusaha lagi bangkit, meski lelah meraja raga. Berjuang dan melangkah, sebelum rebah dan tertebas oleh putus asa. Berjibaku dengan diri sendiri, mengajaknya meneruskan perjalanan, sebelum sampai di tujuan. Maka, mampirlah aku di sini, hari ini, lagi.

Mampir yang mempertemukanku dengan beliau yang berikutnya, orang berikutnya. Masih bisa ku sebut, engkau.

“Hai,  aku suka gaya lo,” suaramu terdengar sayup dari kejauhan. Seraya menggerakkan jempol kanan di depan dada, engkau mendekat, terus melangkah, dan bergerak menujuku.

Tidak biasanya begini, ku perhati.  Biasanya engkau memang bahagia juga dan berekspresi ceria setiap kali menemuiku. Tapi setelah dekat dan duduk manis tidak jauh dariku. Bukan ketika sangat jauh di sana, seperti kali ini.

Ya, hari ini, berbeda. Engkau berwajah cerah penuh senyuman, pertama kali datang. Bahkan saat masih jauh, di sana.

“Selamat datang kembali,” sapaku menyambutmu.

“Aiya? Gimana, gimana ceritanya?” ku berikan perhatian padamu.

Engkau tersenyum penuh makna. Sungguh terlihat kebahagiaan dari sorot mata separuh bayamu. Mata yang berkelipan, memberi pesan bahwa engkau senang mengunjungiku, lagi.

Kebahagiaan yang engkau beraikan, menit-menit berikutnya dengan berkisah, bercerita untuk menjelaskan alasan hadirnya ekspresimu yang ku pertanyakan. Sehingga mengertilah aku. Engkau yang menyampaikan, suka dengan gayaku. Aha!

Siapakah engkau sesungguhnya?

Engkau adalah salah seorang dari sekian banyak orang-orang penting lainnya yang datang dan pergi dalam hari-hariku. Engkau adalah orang yang termasuk baru, mengunjungiku. Baru dua bulan terakhir, seingatku.

Wajahmu lebar, berambut ikal, dengan dua lesung pipit yang otomatis memperlihatkan diri, saat engkau tersenyum. Matamu tidak sipit-sipit kali, tapi akan sipit juga kalau tersenyum. Dua alismu membentang lurus. Alis tebal, gelap dan tumbuh subur di sekitar keningmu. Alis, hasil ciptaan Allah Maha Indah. Alis yang menempel rapi, menambah kegantenganmu sebagai seorang laki-laki.

Hai!

Aku terpesona oleh ekspresimu. Ekspresi bahagia, berseri-seri, selayak mentari siang hari yang cerah. Bahkan, sinar mentari pun kalah oleh pesonamu. Eheee.

***

Engkau adalah bagian dari orang-orang yang bekerja bersamaku. Engkau yang bahagia, saat ku mudahkan urusanmu denganku. Engkau yang bahagia, saat ku kabarkan padamu, informasi terbaru kami. Engkau yang sumringah menyambut sapaku, beberapa hari yang lalu. Dan itulah alasanmu membawa wajah cerah, kali ini. Yups, tercapai targetnya yaa. Selameeet, tanggapku di antara suara demi suara yang kita pertukarkan.

Aku baru menyadari, ternyata sekata sapa, sungguh berarti bagimu. Artinya, bisa menambah energimu, menghadirkan semangat lagi, dan ada yang engkau jadikan sebagai alasan untuk terus bergerak, berjuang, meneruskan misi, berpromosi.

“Iya, bulan lalu targetku segini, tercapai segini. Bulan ini, sudah segini padahal baru tanggal segini, hiiii,” engkau menyampaikan padaku, dengan ekspresi semakin berseri-seri.

***

Jadi, inti dari sebuah catatan lagi hari ini yang ingin ku bagi adalah ingin menitipkan makna dari bekerja sama dengan orang lain. Apakah intinya? Berkomunikasi.

Meski, aku pendiam, tidak banyak bicara, sekali-kali saja bersuara, tapi menjadikan kesempatan menyampaikan informasi dan menerimanya, untuk berlatih komunikasi.

“Walaupun tidak langsung lancar dan bisa, belajarlah. Begini ku sering mengingatkan diri. Sekalipun tidak bisa dan tidak tahu apa-apa, bertanyalah. Begini ku menyadari diri. Sekalipun tiada yang bisa ku ekspresikan, sapalah diri. Begini ku mengajaknya agar mau bergerak lagi. Sehingga dalam berbagai kondisi dan situasi, ada alasan untuk bersinergi dengannya, diri sendiri.”

“Walau engkau tidak bisa apa-apa sebelumnya?” engkau bertanya.

Iya.

Berlatihlah, belajar, mencoba.

Berusahalah, berjuang, bergerak, dan jangan mau instan.

Walau bagaimana pun pintarnya diri, masih ada yang lebih pintar. Maka, tetaplah merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa, lalu mau belajar lagi. Tidak mengapa, demi kebaikan diri dan mengembangkannya. Sehingga, tidak ada alasan-alasan untuk mencari pembenaran diri sendiri. Merasa sudah bisa ini dan itu. Sebaiknya, janganlah.

Sedapat mungkin, dengarkanlah nasihat, renungkanlah petuah, sediakan waktu untuk menyimak pesan dan kesan dari siapa saja. Apakah dari yang langsung berhadapan dengan diri, maupun dari sesiapapun yang berpapasan saja dan tidak sampai berkomunikasi.

Tidak ada kesempatan sama yang datang dua kali. Jadi jelilah, teliti dan jadikan kondisi apapun sebagai wadah menempa diri.

“Meski dari orang-orang kasar yang bersuara tinggi di hadapanmu?” engkau mau tahu aja.

Iya.

Tidak ada yang tidak bisa dilembutkan dengan hati. Sesangar apapun seseorang, sesungguhnya di dalam hatinya ada kelembutan, ada kebaikan, ada yang ia perjuangkan. Lihatlah, hatinya yang pingki, walaupun wajahnya tanpa senyuman. Di sana, ada senyuman yang bisa engkau gali, supaya menebar. Di sana, ada kebaikan yang siap ia bagi, sekalipun tidak terlihat. Namun dari pertukaran ekspresinya, engkau bisa membaca. Apakah ia menemukan manfaat dari komunikasi yang terjadi antara engkau dan dirinya? Perhatikanlah.

Hari ini, ada pelajaran penting yang ku petik dari kebersamaan kami. Kebersamaan dengan beliau yang masih suka dan sangat senang membagi pengalaman hidup beliau. Beliau yang memang tidak sebaya denganku, tapi kami bisa klop saat berkomunikasi. Ada kuncinya, yaitu mau mendengarkan.

Ku menyimak inti nasihat beliau kali ini adalah, “Bila kekerasan dilawan dengan kekerasan, tidak ada yang mau mengalah, maka masalah yang hadir tidak akan selesai-selesai, kecuali menghadapinya dengan kelembutan. Maka, ketenangan segera mengaliri ruang pikiran, menyejukkan perasaan. Perhatikanlah, yang terjadi baru saja, benar kan?”

Beliau tersenyum senang, setelah menyelesaikan sebuah pertikaian. Pertikaian yang tidak akan ada ujungnya, bila dua orang yang terlibat di dalamnya tidak ada yang mau kalah. Good Luck.[IG]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

12 comments

  1. Selama bergabung denganmu, saya sering rindu. Apakah engkau pun rindu?
    Lama tak jumpa denganmu, saya teringat selalu. Apakah engkau pun begitu? 😉
    Jelang hari-harimu dengan senyuman, wahai sahabat…

    See you,
    😀

    Liked by 1 person

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s