A.B.E.L

Di mana pun engkau berada, menjadilah berarti

Di mana pun engkau berada, menjadilah berarti

A.roma wangi perpisahan sudah mulai tercium dari kejauhan. 

B.isikannya sayup-sayup mulai terdengar oleh indera pendengaranku.

E.lok rupanya menampakkan diri bersama senyuman.

L.alu, kapankah akan ku sampaikan pada Abel, tentang hal ini? 

***

Abel, adalah sebuah nama. Nama dari seorang teman. Nama keren lebih tepatnya. Nama persahabatan bisa juga. Nama-namaan, yang melekat padanya, sejak ia bertingkah aneh. Nama tersebut adalah ide dari seorang temanku yang lainnya, di sini.

Abel, mengapa Abel? Entahlah, aku pun tidak tahu ada alasan apa di balik nama yang ia beri. Kecuali untuk merekatkan keakraban saja. Tidak ada maksud lain di balik semua, apalagi untuk membuatnya terluka. Tidak, ia malah bahagia. Karena nama aslinya bukanlah Abel.

Abel, aku pun memanggilnya dengan panggilan tersebut. Panggilan yang membuatnya tersenyum lucu. Senyuman yang menandakan bahwa ia suka ku panggil begitu. Artinya apa? Tidak apa-apa.

Abel, adalah pribadi yang sungguh unik. Keunikan yang terpantau oleh ku, akhir-akhir ini. Sejak kami lebih sering berkomunikasi. Sejak ia sering-sering juga berkunjung untuk menemuiku. Sejak kami bertukar suara. Sejak kami berbagi pandangan, tentang cara melihat dunia. Sejak kami menjadi lebih akrab, selayak sahabat. Lalu menasihatiku tentang ini dan itu, begini dan begitu, lalu ku angguk-angguk setuju, sesekali tersipu.

Abel, ia berkesan bagiku, sejak pertama kami bertemu. Pertemuan pagi hari, lebih dari satu tahun yang lalu. Pertemuan, saat sinar mentari masih hangat. Pertemuan saat kami sama-sama dalam penantian. Menanti yang membuat kami akan sangat bosan, bila hanya menanti saja. Pertemuan sebelum berkenalan. Pertemuan karena kami, aku dan Abel berdiri agak berjauhan. Pertemuan yang tidak kami prediksi telah terjadi. Pertemuan dalam perjalanan hidup ini. Ketika itu, ku sedang melangkah, lalu berhenti sejenak. Abel pun sama. Ia sedang berehat rupanya. Pertemuan yang masih berlangsung sampai hari ini.

Abel, kulitnya sawo matang, bermata sipit, berwajah bulat, berambut pendek, dan tiada jerawat di pipinya. Tubuhnya lebih tinggi dariku, dengan postur yang lebih gemuk tentu saja. Dan ia lebih berusia dariku. Meskipun hanya beberapa tahun saja, artinya, kami tidak sebaya. Walau begitu, ada yang membuat kami bisa bertukar suara dalam berbagai kesempatan jumpa. Tentang tanya.

Abel, menanyaku pertama kali, sebelum kami berkenalan. Selanjutnya, tanya-tanya lagi, sampai akhirnya ku bercerita padanya. Walaupun ceritaku singkat-singkat saja, membuatnya tidak menghentikan tanya begitu saja. Inilah yang teringat olehku, tentang kesan pertama kebersamaan kami. Di antara tanya yang Abel ajukan padaku, dan aku menjawabnya, ia menyimpulkan bahwa aku lari dari kenyataan.

Kenyataan hidup ini, yang membawaku sampai di sini, hingga bertemu dengannya. Hai, apakah benar begitu? Engga dong, karena Abel hanya menerka, supaya ku bisa tersenyum. Tidak serius-serius amat saat berkomunikasi dengannya, hingga suasana pun mencair.

Tidak terasa, penantian pun berakhir, kami berjarak, lagi. Keesokkan harinya, sesekali bertemu, kami pasti sapaan. Entah aku menyapa duluan, atau Abel yang menyapaku. Selama percakapan kami, aku tidak pernah tahu, siapa namanya. Dan baru tahunya yaa, sejak beberapa bulan terakhir.

Sungguh menyedihkan mengenang ini. Tapi, ada yang membuatku tersenyum. Di ujung kebersamaan kami menjelang perpisahan ini, aku tahu namanya, melalui temannya. Afdal, nama yang bagus. Walau tidak ku tanya sebelumnya, dan aku pun tidak teringat sama sekali untuk menanya siapa namanya, sejak awal.

Abel, dalam pandanganku, ia seorang yang ramah. Meski tidak mudah tersenyum kalau sedang manyun. Tapi, senyumannya tiba-tiba simetris, saat ku senyumi pertama kali. Begitupun denganku.

Aku tersenyum padanya, setiap kali bertemu dan berjumpa lagi dengannya. Sehingga pertemuan demi pertemuan kami bersama senyuman. Pasti ada saja yang kami senyumi. Dengan alasan apapun yang kami punyai, senyuman sudah mengembang di pipi. Intinya, menepikan kenangan tentang Abel, berarti mengingatkanku untuk tersenyum, lagi. Mengingat adanya Abel menjadi bagian dari hari-hariku di sini, mengingatkanku untuk tersenyum, juga. Apalagi saat kelak, akhirnya, kami sudah akan berjarak, raga.

Abel, belum ku sampaikan padanya, tentang rencana perpisahan kami. Karena aku tidak tega, aslinya, meninggalkan semua di sini. Huuwaa, ini memang hanya perasaanku saja. Sedihku rasanya, karena harus berpisah dengannya dan orang-orang yang berbaik-baik denganku, selama di sini.

Meskipun demikian, ku percaya, Abel tidak akan menghalangiku. Bila memang perpisahan kami adalah yang terbaik untuk masa depanku. Abel akan sangat senang mendengarnya dan ia tentu sangat bahagia, bergembira, bersukacita. Sebab dengan perpisahan ini, salah satu doanya untukku terkabulkan.

Abel, biasanya dalam waktu-waktu tertentu, ia akan hadir di depanku dengan mimik wajahnya yang berubah-ubah. Terkadang ala-ala orang-orang yang minta belas kasihan sambil menadahkan tangan. Terkadang ala-ala penyanyi, yang membawa peralatan apa saja, lalu bersenandung di depanku. Aku harus bilang apa selain tertawa. Atau, ia tiba-tiba sudah duduk tidak jauh dariku. Setelah datang dari ujung sana, membawa wajah penuh makna.

Apakah ia lelah? Pasti saja. Apakah ia kegerahan? Tentu, sudah biasa. Dan salah satu alasannya datang lagi, untuk menghirup udara segar. Karena di sekitarku memang ada kesejukkan buatan, dari kipas angin.

Duduk berlama-lama di depan kipas angin tentu menyejukkan, membuat mata mengantuk dan bisa saja terlena. Tapi tidak dengan Abel. Kedatangannya beberapa menit saja, tidak sampai lima menit pun. Kadang hanya duduk, lalu bangkit lagi.

Kalau ku beruntung, ia akan bertanya apa saja padaku. Pertanyaan yang ku senyumi, lagi dan lagi. Dan kalau ku sedang tidak beruntung dengan kehadirannya, ia hanya datang sekejap, lalu pergi lagi.

***

Ketiadaannya, menjadi tanda tanya bagiku. Ketiadaan yang membuatku merasa asing. Sebab sudah terbiasa dengan kehadirannya. Kapankah itu? Kemarin. Kemarin Abel tidak terlihat sama sekali. Setelah ia selalu dalam hari-hariku di sini. Apakah hanya memantauku dari kejauhan untuk mengetahui kondisi terkini, menyapa saat ku terdiam saat ia mengintip-intip dari sana, atau melucu di depanku tanpa ku minta.

Abel, seharian kemarin ia tidak terlihat. Aku tidak bertanya pada sesiapa, hanya menantinya saja. Karena tanpa ku panggil pun, biasanya ia sudah datang. Namun, sampai sore berlalu, kami tidak berjumpa sama sekali. Sampai akhirnya ku kabarkan pada seorang teman yang memberinya nama Abel, tentang ketidakhadiran Abel. Seorang lainnya yang mengajakku menghiasi waktu dengan tips-tips ala dia padaku. Apalagi kalau bukan, menyapa.

Ya, aku yang sering ia lihat terdiam, tanpa suara. Tiba-tiba berceria ria dan aku pun terbawa suasana. Bersamanya ku menempuh hari tetap penuh kesan. Walau Abel tidak juga kelihatan, hingga ujung kebersamaan kami dan mentari pun tenggelam.

***

Ketidakhadiran Abel kemarin, terbit lagi dalam ingatanku, pagi ini. Seiring terbitnya mentari.

“Abel, di mana Abel? Apakah hari ini ia ada?”, ku bertanya pada salah seorang temannya Abel.

Teman yang membersamai Abel lebih lama dariku, adalah yang ku panggil dengan abang Musa. Teman yang membersamai Abel, hampir seharian.

“Addaaaa, itttu (memalingkan badan dan tatapannya tertuju pada Abel, tapi ku tidak dapat melihat Abel; di mana? Ku mengulang tanya). Sakit gigi dianya. Lagi duduk di pojokan sana, sambil pegang pipi,” jawab abang Musa datar dan memeragakan ekspresi orang yang lagi sakit gigi.

Abang Musa, temannya Abel, pun lanjut bersenandung …. Lebih baik sakit gigi, dari pada sakit hati iniii…

“Aaabeeel,” ku melirik dan menyapanya, setelah ia tertatap olehku. Gitu aja, udah. Sapa yang berbalas senyuman saja dari Abel, sudah membuatku senang. Kemudian segera berlalu, setelah menyaksikan senyuman mengembang di pipi Abel. Pipi yang bulat, bukan karena sakit gigi, tapi karena wajahnya memang berisi.

Beberapa lama kemudian, masih pagi…

Saat ku duduk-duduk manis, menghitung hari, menatap lepi, merenung sendiri, menggerakkan jemari, Abel menghampiri. Dari kejauhan, ia sudah senyum-senyum sendiri. Senyuman khas yang ku pelajari dari hari ke hari. Senyuman sebagai tanda, ia lagi berseri-seri. Maklumlah, masih pagi hari. Berbeda kalau siang hari, ia akan berekspresi lain lagi.

“Aaabel, ke mana kemarin, tidak kelihatan?” bertanyaku seraya merapikan berkas-berkas yang sejak tadi ku pelototi tiada henti. Kemudian meruangkan waktu, menyambut kehadiran Abel, bersama senyuman di pipi. Setidaknya, ku bisa olahraga wajah sejenak.

“Sakiiitt anakku,” tanggapnya, memutar-mutar tali raffia dalam genggaman, melingkarkan di antara jemari dan memasang wajah menyedihkan.

“OooO, abang Musa bilang sakit gigi, apakah benar? Sekarang gimana? Masih sakit giginya?  Hihihii,” ceriwisku tiada henti.

“Sekarang udah engga. Memang aku sakit gigi, tapi kemarinnya lagi, sore hari. Nah, malamnya gigiku udah sembuh. Jadi, kemarin ku engga masuk karena anakku sakit,” Abel menggembungkan pipi, tersenyum lagi.

“Okelah, hei, kok pergi lagiiii,” belum juga ku berkedip, Abel sudah ada di sana, menjauh, menjauh dan hilang dari pandangan.

Abel, kemarin tidak terlihat, memang. Ternyata, ada yang kurang baik dalam harinya. Bukan tentangnya, tapi keluarganya. Semoga, semua sudah terkendali dan terkondisikan. Karena sekarang ia sudah terlihat lagi. Betapa senangnya aku, seakan menemukan penceria hari lagi. Bagaimana tidak?

Abel memang begitu. Mampir-mampir melipir, lalu pergi lagi. Lihatlah, beberapa jam lagi, dia akan datang menemuiku. Seakan sudah terjadual, seperti sudah terdaftar dalam memorinya untuk memberikan pertanyaan dan menyampaikan ingatan padaku, “Yaaaaaaaanii, udah makan? //Yaaaaaannnnii, lagi sibukk yaa? //Pulang lagiii…. Yaaaaannniii  //Yaaaaanni, melamun aja, hihihiii, sibuk kali, yaa. ”

Setengah jam sebelum aku pulang, …

Tuch kan, ia datang lagi sambil lari-lari pelan (ceritanya mau mengageti, tapi gagal). Dan ku menyambutnya dengan, “Yaaanii, pulang lagiii, 😀 .”

“Ih, belum lagiiiii, setengah jam lagi yaaa pulangnya, hahahaa. 😀 ,” ia manyun dan kembali lagi, berlalu, menjauh. 

Lumayan lah ya, menjadi intermezo sore hari yang rapi dan sendu sebening ini. Karena tiada sinar mentari menghangati. Suasana alam sungguh sejuknya. Ditambah lagi, adanya mendung putih di ujung sana, mendamaikan tatapan mataku.

Nah, kemarin, saat Abel engga ada, beruntunglah aku masih ingat makan, ingat pulang dan tidak melamun seperti yang ia bilang, alhamdulillah.

Meski tanpa Abel, hari-hariku masih berlangsung, berlanjut. Begitu pula saat kami kelak sudah berjarak sungguh sangat jauhnya. Ketika ku sudah tidak di sini lagi, semoga Abel masih setia menyapa siapapun yang menjadi generasi penerusku.

Dalam harapku, mereka pun mudah bersahabat, menjadi akrab, dan sapa-sapaan seperti ia menyapaku. Jadi, yang ada di sini nanti, merasakan kebahagiaan sebagaimana yang ku alami.

Siapapun dia adanya, sejak saat ini ku berpesan padanya, “Agar, siap-siap dengan segala kejutan yang akan ia temui setiap hari. Karena, berbeda hari, berbeda pula kejutannya.”

Begitulah kehidupan, dan kita harus siap, bersedia, lalu menjalani dengan senyuman. Mudah-mudahan banyak kemudahan, teman, siapapun engkau, kelak. Semoga, betah, semoga tetap semangat, semoga, engkau selalu ingat, bahwa di sini pernah ada seorang aku, sebelummu. Ya, ya, yaa.

Ya, aku yang duduk-duduk manis, senyum-senyum sendiri dalam waktu-waktu tertentu, kemudian merangkainya menjadi ada. Agar ku mengerti, kapan dan siapa saja yang ada di balik senyumanku, selama ada di sini. Thank you.[RS]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

2 thoughts on “A.B.E.L

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s