Kita Melangkah Seirama

Anak dan Amak

Anak dan Amak

“Karakter bisa tak sama. Wajah kita tentu berbeda. Apalagi pikiran demi pikiran yang kita bawa, bersama suasana hati yang tak serupa. Kalau kita masih bisa melangkah seirama, bagaimana tidak bersama?”

***

Teringatku pesan Amak, untuk berbaik-baik dengan teman. Wahai, siapakah temanku sesungguhnya? Apakah kami bisa melangkah dengan sebaik-baiknya, menuju tujuan sama? How? Who? When? What and Where? Hehee, nanya-nanya aja akunya. Supaya ada jawaban. Setidaknya, agar ku mau menerka lagi? Mengungkap sapa suara hati melalui rerangkai senyuman dari hari ke hari?

Aku sedang berpikir, dalam langkah-langkah kami. Beliau di sisi kiri, sedangkan aku di sisi berbeda. Ayunan kami seirama, kaki kiri di depan, kanan di belakang, saat pikiran demi pikiran hadir dalam ingatan. Atau, saat ingatan demi ingatan hadir dalam pikiran, ya? Bebaslah, yang jelas, kami sedang melangkah bersama, merasakan sejuknya angin yang bertiup sepoi pagi hari. Asyiks, ada Amak di sisi dan aku pernah mengimpi begini (lagi). Hihii. 😀

Bagiku, Amak adalah inspirasi. Peramai tatap saat sendiri. Penjemput asa saat menepi. Peneguh langkah-langkah kaki. Penggerak raga tetap bersinergi dengan hati. Pendamai pikir agar tak pergi-pergi. Peneduh jalan terik bermentari. Penyejuk hati oleh hangat sinarnya siang hari. Pembuka mata yang menutup rapi. Menjadi jalan sampaikan aku ke sini. Beliau adalah alasan ku kembali, bergerak dan terus berlari.

Sekalipun aku lelah, ragaku lemah, pikiranku payah, hatiku resah. Namun sedikit ingatan terhadap beliau menjadi celah di tengah tertutupnya pikiran ini. Aku lengah, beliau mengingati. Aku lemah, beliau hadir di sini. Sehingga, tidak lagi dan lagi membiarkan pipi ini basah, atas segala yang hadir dari luar diri. Kecuali menyadari kealpaannya, aku suka saja membuat airmata beramai-ramai tumpah ruah. Apa sebab? Ada deeeh. 😉

Ehiya, aku mau berkisah, tentang sedikit kesan sepagi ini. Pagi-pagi tanpa mentari, karena ia ada di sana. Masih asyik bercengkerama dengan angkasa yang luas, semesta yang lapang.

Iya, ini kisah tentang kami. Berpagi-pagi melangkah, untuk menjemput sumringah, menguntai berkah, mengunduh hikmah, dengan bersilaturrahmi. Ke manakah kami berangkat? Siapakah yang kami kunjungi?

Adalah beliau, salah seorang sanak keluarga kami di sini. Beliau yang sangat Amak rindukan, setelah sekian lama tidak bertemu. Beliau yang jauh di mata, sangat dekat di dalam ingat. Sebab sedarah seketurunan, satu ibu dan satu ayah, adik kakak sejak dalam buaian, menjadi pengingat saat berjauhan. Maka, rela-rela beliau berkunjung, untuk mengurai sedikit demi sedikit rindu, pada adinda tersayang…

Sebelumnya, sebelum beliau bertemuan, aku dan Amak punya cerita. Cerita ini tentang kami. Kami sesama perempuan, yang punya rasa hati dan pikir. Meski lebih sedikit pikir dari rasa, membuat kami terkadang terbawa suasana. Lalu terdiam dalam hening, bagaimana supaya bisa menjalaninya sampai akhir? Bersama kesan dan pesan yang terukir?

Hup! Sudah, sudahi segala rencana kita, bila rencana-Nya adalah yang terbaik. Akhiri segala duka di dada, lalu mencerah wajah menempuh waktu. Tersenyumlah, dalam segala suasana dan berbagai keadaan. Hadapi dengan senyuman, insya Allah, akhirnya pun penuh senyuman. Begini yang dapat ku petik, di antara pikir-pikir yang hadir sepanjang perjalanan yang kami tempuh.

Selanjutnya, kami pun melangkah, berjalan, meneruskan niat yang sudah tercetus. Kami harus sampai, mesti selesai dan tuntas dengan pertemuan. Yuups, Amak, terlihat diam, berpikir, merenung, mendamaikan pikir. Sedangkan aku, belajar dari beliau, untuk tetap tenang dalam suasana segalau apapun. Haahaay, emang aku bisa yaa? Tidak terlihat galau, sekalipun hatiku risau? Masih terpantau senyum, dalam suasana kelabunya ruang jiwa? Masih terdeteksi bahagia, meskipun ada degup di hati yang tak bernama?

Ini namanya apa?

Apakah kecewa?

Putus asa?

Haru?

Bahagia?

Jatuh cinta?

Patah hati?

Bersedih dalam kepiluan?

Menyesal?

Berharap?

Semua seakan tumpuk menumpuk menjadi satu, dan aku susah sangat sulit mengartikannya menjadi kata. Maka, ku senyumi akhirnya, seraya menyusun beberapa angka-angka.

Aku siap beraksi, untuk menemukan sejenis solusi. Bagaimana ini? Siapa yang bisa memudahkan urusan kami? Akankah ada jawaban? Berapa lama lagi harus menanti?

Hai, satu lagi pesan dan kesan yang ku petik teman, supaya saat menanti, tidak hanya menanti. Namun lakukanlah sesuatu. Ya, beraktivitaslah, seperti berdandan rapi, berhias diri, bertanya pada hati, bersenang-senang dengan pikir. Lampirkan imajinasi, untuk sebuah kenangan terindah tentang waktu yang engkau jalani.

Ini maksudnya adalah, tetap bergerak, jangan hanya diam. Terus berusaha, tidak malah mengomeli keadaan, bila tidak sesuai dengan harapan.

Yah, terkadang bahkan sering, kenyataan yang kita jalani, sangat jauh dari harapan. Keadaan yang kita hadapi, tidak sesuai dengan rencana. Apakah kita terkecewakan, lalu bilang, apa-apaan ini?

Hai, sebelum berkeluh ingatkan diri, untuk menemukan secuplik hikmah di dalamnya. Sebelum berdebat dengan diri sendiri, ajaklah ia menghayati keadaan. Apalagi untuk menyalahkan sesiapa, bukan ranah yang mesti engkau jalani. Sebaiknya, menenangkan hati, membuka harapan baru, lalu melangkah.

Akhirnya kami melangkah, selangkah dua langkah, tiga langkah, dan langkah-langkah berikutnya ku bertanya, “Amak, ………………………………….”

Aku perhatian dengan beliau. Memperkirakan keadaan yang beliau alami, apakah benar? Dan beliau tersenyum, padaku. Senyuman yang membuatku tenangkan diri, supaya dia belajar dari beliau.

Amak, terima kasih untuk segala yang engkau hadirkan di dalam diri ini, melalui airsusu yang mengalir semenjak ku lahir di dunia. Sehingga, banyak sekali yang mendekatkan kita lagi, selagi jauh. Apakah ingatan, apakah perasaan, dan kini, raga kita kembali berdekatan.

Jauh-jauh melangkah, kita pun sampai di tujuan. Maka, selagi ada kesempatan, kemauan, waktu dan jalan yang membentang indah, wahai teman… tetaplah bergerak. Tatap nun harapanmu yang jauh di sana, bila masih jauh. Hadapi kenyataan yang engkau jalani saat ini, dengan ‘gagah dan teguh’. Lalu, sampaikan pada jalan-jalan yang engkau tempuh, untuk tidak mengeluh karena engkau sering-sering melangkah di atasnya. Berikan padanya jejak-jejak terbaikmu, supaya ia tersenyum, saat engkau meninggalkannya. Titipkan padanya kesan terindahmu, agar ia ingat padamu, meski engkau tinggalkan. Jadikan langkah-langkah yang terayun sebagai pengingat, pada tujuan. Jadi?

Hari ini, saat ini, engkau yang masih berjalan, tetaplah bergerak. Engkau yang bergerak, akan sampai di tujuan. Selagi engkau yakin dan percaya, selalu ada pertolongan dan kebaikan di sekitarmu. Masih banyak perpanjangan tangan yang sedia merengkuh ketika engkau kelelahan. Jadikan semua ingatan pada tujuan, agar kemauanmu tumbuh lagi. Bukan malah kewalahan, lalu menyalahkan keadaan.

Engkau, emangnya engkau siapa, yang mau mengatur rencana Tuhan?

Seindah-indah rencanamu, ada rencana terindah untuk engkau jalani, wahai teman.

Semanis-manis harapanmu, ada kenyataan termanis yang tersenyum padamu.

Sebaik-baik upayamu, ada hasil termegah yang membuatmu bergumam pelan, terima kasih ya Allah, tiada yang dapat ku lakukan, tanpa Engkau yang Mengizinkan. Tidak ada yang dapat ku capai, tanpa Engkau yang Memudahkan. Tiada daya dan kekuatan, tanpa pertolongan-Mu, wahai Rabbku. Lalu tersenyumlah, agar ada yang tersenyum dalam senyumanmu.

Terima kasih pun kami alirkan pada orang-orang baik yang menemani kami saat melangkah. Mereka semua adalah juga inspirasi bagiku. Semoga berberkah segala langkah-langkah yang mengalun indah sepanjang kebersamaan kita. Semoga membungah senyum-senyum yang megah, dalam waktu-waktu selanjutnya. Meskipun tidak selamanya kita bersama, bersenyuman menghias waktu. Meskipun jumpa kita hanya sekali saja, lalu jauh dan tidak terjangkau lagi.

Engkau, tetaplah melangkah, teman. Kami, yang sudah sampai di tujuan, tersenyum indah saat engkau tinggalkan.

Selagi ada langkah, ada jalan-jalan membentang indah. Percayalah. Jadi, jangan cari-cari alasan lagi yah, untuk kemudian bilang, aku kecewaah karena diaah, aku tidak relaaah, segala perlakukannyaaaah. Aku bisa saja maraaah maraaah, atas sikap-sikapnyaaah. Pipiku mulai memerah dan aku pun harus bilang apaaah?

Selembar tanya ia sampaikan lagi, saat ku menjawab. Sebaris jawaban ia sampaikan, saat ku bertanya. Karena kami sedang berkomunikasi. Komunikasi dadakan yang ku prediksi tidak berjalan lancar, namun mau mencoba.

Ya, karena penasaran juga, salah satunya. Aku penasaran dan bertanya, “Bagaimana kalau begini dan begitu? Bisakah kita melangkah bersama, teman? Hehee, sedikit malu-malu, aku sungguh terkadang tidak tahu malu. Tapi, malu bertanya sesat di jalan bukan? Walau jaman sekarang, malu bertanya bisa saja jalan-jalan? Aku tidak mau hanya sekadar jalan-jalan saja. Tapi, ingin sampai di tujuan dengan waktu yang tepat, pas dan hatiku pun tenang, tidak degdegan. Sebab ada yang menjadi kewajiban, untuk ku selesaikan, juga. Makanya… ku bertanya.”

Aku menemani beliau, Amak tersayang yang melangkah tenang. Ketenangan yang sampai padaku, di antara risaunya hatiku. Aku yang mulai gamang, meraih pergelangan beliau, lalu bilang, “Ada, masih ada jalan. Ada, masih ada cara. Ada, dan saat itu aku mulai kehilangan ide, aslinya. Tapi, selagi masih ada kemauan, ada jalan dan ini jelas dan pasti. So, yuuk, melangkah, mari, dear me. Ku menyapa diri, ia yang sejak tadi ikut-ikut denganku saja. Tanpa berkontribusi, setidaknya memberikan inspirasi? Malah Amak yang berdiri di sebelahku, ia ajak melangkah lagi. Padahal ia tahu, bagaimana seharusnya. Amak tidak boleh lelah, Amak mesti sumringah, beliau harus berwajah ceria, dan selanjutnya, … Amak, kita senyum dulu yuu… saat ku deteksi, langkah-langkah kami seakan enggan mengayun.”

Amak, beliau padaku sungguh sayang. Membagi kebaikan yang beliau terima, padaku sungguh senang. Memberikan senyuman melalui suara demi suara yang beliau perdengarkan benderang, saat kami berjauhan, tidak lagi sedepa atau setatap mata dua orang yang berbicara. Mengalirkan suara-suara melalui bibir dengan pemilihan kaya yang ku pikir, ini adalah alasanku terbawa riang. Saat, kami asyik-asyik membahas tema serius yang tidak bisa mengajak pipi mengembang. Sehingga, aku pun tersenyum, dan menjadi lebih tenang. Setelah sempat terdeteksi gamang, oleh beliau.

Dan selalu, bagiku, Amak adalah mentari yang bersinar … di tengah mendungnya hatiku.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Kita Melangkah Seirama

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s