Sebuah Catatan di Ujung Januari

Dua Sisi BerbedaJanuari adalah sebuah bulan di awal tahun. Bulan yang ku buka dengan tetesan airmata tidak terbendung. Ya, awal-awal harinya adalah kesedihan, kepiluan, kedukaan, kelukaan, dan apa lagi namanya untuk menjelaskan? Tentang rasa yang menyayat-nyayat, menerbitkan airmata tidak sekali. Tentang rasa yang tidak terlihat, menghadirkan sendu tidak terperi.

Aku pun menangis saat sendiri, meluruhkan airmata yang terbit lagi.

Ya, hari-hari di awal Januari tahun ini, aku tidak bisa menahan airmata agar tidak turun. Tiba-tiba saja ia terbit, hadir, tanpa ku sangka. Membuat pipiku basah sering-sering, dan seringnya di ujung hari. Entah bagaimana dengan ujung hari ini? Aku pun tidak tahu. Ujung hari, menjelang Januari berakhir.

Ya, tersisa satu hari lagi, esok, di Januari. Dan hari ini, aku kembali menyusun catatan yang ku sebut senyuman, bersamanya. Agar ada yang bisa ku senyumi, sekalipun berairmata saat menjalani, Januari.

Supaya ada yang ku syukuri, saat ia menepi. Semoga, semua menjadi alasanku tersenyum di hari nanti, setelah semua berlalu. Lalu ku pandangi lagi, dengan senyuman. Senyuman yang ku upaya sejak hari ini, saat ini, bahkan saat airmata lagi deras-derasnya. Aku masih bisa tersenyum. Walau berat, meski tidak mudah. Namun harus. Yuuups.

Awal Januari sudah berlalu. Ujung Januari siap berlalu, juga. Jadi? Bagaimana kesimpulan tentang Januariku? Huhuhuu. Tapi bisa ~~~ …^   😀   ^…~~~~ juga. Tergantung cara pandang saja, memperhatinya lagi. Tergantung pada suasana hati juga, saat mendeskripsikan tentangnya. Semua kembali pada diri sendiri. Apakah Januari ku selamanya berairmata? Atau ada di antara hari-harinya yang berhias suka?

Benerannnn, ini sudah tanggal tiga puluh dan aku hapal sangat. Ini adalah detik-detik menuju perubahan emosi, pertukaran ekspresi, dan engkau harus tahu, hari-hari seperti ini aku mudah saja menjadikanmu sebagai objek untuk ku curahi segala hal tentang hati, lagi. Hihii…, aduch pipiku berat. Hidungku tersumbat. Suaraku serak-serak dikiiit, tapi aku mau bersuara, masih.

Semoga engkau sudi, dan tidak balas mengomeliku. Atau engkau langsung pergi. Karena tidak mau ku jadikan sebagai batu loncatan pertukaran ekspresi, kali ini? Dari sedih menjadi senyum, dari duka jadi bahagia? Benar? Yasudah, engkau bisa memilih jalan terbaik.

***

Hai, sudah menjelang akhir bulan aja. Pas sangat tanggalnya. Meski masih tersisa satu hari lagi sebenarnya, aku mau catatan ini adalah catatan terakhir di bulan Januari. Mengapa? Karena mau aja, yaa, begitulah.

Mauku saat ini ya, begini. Bisa saja besok muncul sebuah catatan lagi, bisa juga, kan yaa? Tapi, dengan adanya catatan dengan judul ini, semoga tidak akan muncul sebuah catatan lagi, esok. Artinya, aku akan menutup catatan bulan Januariku dengan tema, … “Engkau”.

Ya, ini tentangmu. Engkau yang menjadi bagian dari hari-hariku. Hari-hari yang ku jalani, walau engkau tidak selalu ada di sini, bersamaku. Tapi, setidaknya, kehadiranmu berperan, teman. Jadi, engkau berarti bagiku.

Engkau bermakna, lantas ku jadikan akhir catatan di bulan Januariku, tentangmu. Semoga engkau sudi, walaupun tidak ku sampaikan pasti, siapakah engkau yang ku maksud. Yang pastinya adalah, selain diriku, tentu.

Iya, ini tentangmu yang ku terima kasihi. Engkau yang mengingatkanku lagi dan lagi, saat ku terlupa. Engkau yang mudah saja menyapa, saat ku terdiam dan asyik dengan pikiranku sendiri. Engkau yang membuka lagi gerbang pikiran, ketika ku rasa suntuk tidak bisa memikir-mikir. Karena banyaknya yang ku pikirkan yaa? Memang iya. Banyak sekali yang ada dalam pikiranku, termasuk engkau.

Engkau yang mudah-mudah saja teringat olehku, kalau ingatanku tidak mengingat selain engkau. Hai, gimana sih? Engkau mulai berpikir, ini maksudku apa? Entahlah, aku pun tidak bisa mikir saat ini. Karena engga bisa aja. Tapi, aku masih mau tahu, apakah benar, aku tidak bisa mikir, yaa?

Maka, dalam kondisi ini, ku menyampaikan padamu, terima kasihku lagi. Terima kasih, karena hari ini engkau masih ada. Engkau yang sekarang jauh di sana, setelah sempat menepi, berkunjung, sebentar. Tidak lama, memang. Dan aku memaklumi, engkau hanya mau setor wajah? Hah! Sudah biasa pun dan aku mengerti.

“Emang wajahku sudah terlihat olehmu?” engkau mau tahu. Karena merasa, kita tidak pernah bertemu. Tapi aku bisa tahu. Ya, begitulah kekuatan cinta, ahaahaa. Bisa menemukan yang belum bertemu, memperlihatkan yang belum terlihat. Dan aku pun percaya, bukan aku yang menemukanmu atau engkau yang menemukanku, tapi pertemuan kita tentu ada alasan. Walau aku pun tidak tahu alasannya apa?

Hai engkau, terima kasih ya, untuk ada dalam hari-hariku terbaru. Engkau yang hadir tanpa ku tahu, ternyata menitipkan banyak sekali ingatan bagiku. Apakah ingatan pada sosok-sosok yang menjadi idamanku, kenanganku, impianku, dambaanku dan sebagainya yang pernah ku harapkan.

Ya, ini untukmu. Engkau yang menjadi bagian dari kenyataanku. Kenyataan yang ku jalani bersama senyuman, lagi. Selanjutnya menjadi pertanyaan untuk bertemu jawaban, sebelum bersua dengannya.

Kehadiranmu adalah jawaban dari pertanyaanku.

Nah, bagaimana bisa ku tidak bersyukur dengan bertemunya kita? Syukur yang ku tanyakan padamu, bagaimana cara mewujudkannya? Engkau bilang, terserah padamu. Jadi, inilah salah satu upaya yang ku daya, semoga engkau tahu. Bahwa aku sangat bahagia, mengenalmu atau engkau yang mengenalku?

Aku senang menyadari kehadiranmu dalam waktuku atau aku yang hadir dalam waktumu? Entah siapa yang mendatangi dan didatangi. Apakah engkau atau aku, aku pun sempat memikirkan sebelumnya. Tapi sekarang tidak lagi. Karena sudah mengalirkannya menjadi rangkaian senyuman. Kalau pun terpikir-pikir lagi, maka aku akan meruangkan waktu untuk memberainya menjadi ada.

Iya, aku akan merangkainya menjadi ada, dan membersamaiku tersenyum, lagi.

Hai, engkau, terima kasih ya, untuk menjadi bagian dari kisah hidupku berikutnya. Engkau yang tidak akan pergi-pergi, sekalipun engkau belum pernah datang. Engkau yang tidak akan hilang-hilang, sekalipun engkau belum pernah tertemukan. Tapi, sebuah catatan lagi hari ini yang ku tujukan padamu, semoga tidak membuatmu bimbang, namun tenang.

Yah, tenanglah, dan lanjutkan perjalanan. Semoga selamat sampai tujuan dan kembali lagi yaa. Kembali membawa senyuman untuk engkau bagi. Sekalipun senyumanku hampir seluruhnya ada padamu. Namun saat engkau kembali, aku bisa tersenyum, lagi.

Hai, engkau, terima kasih untuk masih ada hari ini bersamaku. Walau bagaimana pun kondisiku, engkau tetap mau menjadi bagian. Aih sweet-nya.

***

Hari ini mataku sepet, sekarang pun masih berat saat ku gerakkan. Apa sebab? Engkau jangan pura-pura tidak tahu lagi yaa. Memang bukan karenamu, tapi karena engkau harus tahu. Selanjutnya, aku mau bilang juga, bahwa hari ini hidungku mampet. Sedari tadi tidak nyaman, rasanya mau melepasnya, haaaai. Pegel gitu, trus, berat. Huuup! Aku memang tidak mengangkatnya, tapi, ini pun efek dari kebersamaannya dengan mata.

Kebersamaan yang patut ku acungi jempol, karena mereka sungguh luar biasa saat bekerja sama. Aku pun terpesona, lalu tertawa. Bagaimana bisa, hidung mampet bersamaan dengan mata sepet? Sudahlah. Titik. Tidak akan ku bahas lagi, sekarang ku sampaikan pada pipi, selamat tersenyum, lagi. Walau pun ia berat. Heheee.

Hai, engkau, terima kasih yaa, sudah mengajakku tersenyum kembali. Meski bagaimana pun ekspresi awalku padamu, engkau sungguh mengerti. Entah karena ini kah? Karena itu kah?

Ah, engkau sangat pintar menerka, masih. Dan terkaanmu tidak jauh meleset dari yang benar-benar ku alami. Sungguhpun demikian, aku berharap, jangan ulangi lagi yaa. Aku masih merelai, hari ini saja untuk terakhir kalinya, engkau mengira-ngira dan menyangka-nyangka tentangku.

Berikutnya, jangan, ku harap begini. Supaya ku bisa tersenyum, lagi.

Hai, engkau, terima kasih yaa, meski aku masih mementingkan kemauanku saja padamu. Sedangkan engkau lebih banyak memahami, mengerti, lalu menyimak segala apapun yang ku sampaikan padamu. Walaupun sudah memanaskan telingamu sampai memerah, engkau masih senyum saja menanggapi. Padahal, nun di dalam hatimu berkata, sudah, sudah, sudahi mencurhatiku, jangan lagiii.

Aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum, lagi.

Hai, engkau, “Haattttschi!”. Tuch kan, engkau masih mengira-ngira lagi? Aku memang kurang baik hari ini. Bersih-bersih, lalu bersin-bersin. Walau begitu, aku masih bisa tersenyum, seperti ini. Senyuman yang ku jadikan sebagai salah satu bukti tentang keadaanku terbaru.

Supaya engkau tahu, lalu mendoakan yang terbaik untukku.

Hai semoga engkau pun menerima kebaikan dari doa-doa yang engkau lantunkan, yaa. Doa yang sampai padaku, sedangkan aku tidak tahu siapa engkau yang mendoakanku. Semoga, engkau tetap istiqamah, yah, mendoakanku bersama senyuman yang engkau bagi. Senyuman yang mengajakmu tersenyum lagi dan tersenyum lagi, dalam berbagai situasi. Ya, tersenyumlah, lagi.

Hai engkau, mataku semakin berat, hidungku sama. Apakah yang lebih baik ku lakukan yaa? Berangkat dari sini, dan kemudian meneruskan langkah lagi, biasanya menjadi pereda segala. Menghirup udara segar yang sesungguhnya, menempuh jalan-jalan yang sebenarnya. Memandang alam yang sesejuk-sejuknya, tidak hanya di dalam ruangan dengan penyejuk buatan.

Iyah, sejenak kemudian ku berkemas, dari sini. Sampai bertemu lagi bulan depan,  teman. Semoga senyumanmu lebih indah. Senyuman yang siap engkau bagikan, dengan kisah berikutnya, pun aku.

Begini harapanku, terhadapmu. Harapan yang ku jaga selalu, menjadi bagian dari waktu. Harapan yang semoga mudah saat menjalaninya, saat menjadi kenyataan.

Mau ikutan Monthly Challenge Obrolin Januari juga aaaach. Tentang memori 2017 dan harapan 2018, yang di dalamnya ada “Engkau”.  #OMC #Obrolin #YukMenulis.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Catatan di Ujung Januari

  1. Di bawah lengkung langit, sang rembulan bercahaya menawan. Kelipan bebintang turut ambil bagian. Sedangkan di sini, aku memperhatikan.

    Ya, tampilan angkasa saat malam, merupakan alasanku merangkai senyuman lagi. Senyuman yang ku usaha menatanya, menyusunnya, melalui jemari. Supaya ada yang bisa ku pandang-pandangi lagi, saat rembulan tak terlihat nanti. Agar ada yang ku perhati, ketika bebintang tidak menampakkan diri esok hari. Agar, masih teringatku untuk tersenyum, sekalipun mereka tiada lagi, siang hari.

    Hari-hariku akan semakin berseri, meski malam kelam menggulita. Karena ingatan sudah ambil bagian, menjadikan mereka tetap di hati.

    Esok siang, rembulan sudah pias. Begitupun bebintang di atas sana. Mereka yang terlihat saat ini, akan terkalahkan oleh sinar mentari. Mentari yang bersinar sangat terik, menyaingi rembulan dan bebintang. Sehingga ia menjadi penguasa siang yang paling perkasa.

    Ah, bagaimana bisa mereka tidak hadir pada waktu sama? Supaya malam ada penghibur, agar siang ada penabur. Supaya malam tak selalu kelam, agar siang terang benderang. Itulah bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya untuk kita. Renungkanlah, wahai diri hamba…

    Betapa sayang-Nya tidak terkira, kasih-Nya tidak terukur. Semua ada, menjadi jalan agar kita bersyukur, atas segala ciptaan-Nya yang ada di sekitar kita. Apakah yang terlihat mata, terengkuh atau hanya terasa tanpa terjangkau, hanya terlihat tanpa terdengar, hanya terdengar tanpa rupa. Semua ada agar kita mau merenungi, untuk apa semua tercipta?

    Kalau engkau menangis dalam dukamu, bebintang turut meluruh airmata.
    Ketika engkau bahagia dalam sukamu, rembulan turut berceria ria.
    Saat engkau tergembirakan dengan bahagia jiwamu, mentari menambah semaraknya ruang hati.
    Saat engkau tersedu atas lukamu, tetesan hujan ambil bagian menyejukkan sanubarimu.
    Ketika engkau gamang melanjutkan langkah dalam perjalanan, ada bumi yang siap menopang tubuhmu agar tak sempoyongan.
    Ketika engkau melayang terbang meninggi atas kesenangan melingkupi, ingatlah ada angin yang tidak mau tidak menyapamu lagi. Supaya terbangmu bisa lebih tinggi bersamanya, tapi tidak membuatmu gamang.
    Ketika engkau merasa dirimu tinggiiii, lihatlah lengkung langit yang menaungi. Engkau tidak lebih tinggi darinya, dan tidak akan pernah.

    Engkau adalah sebuah titik yang tak terlihat dari atas sana, lalu apakah yang engkau banggakan?
    Saat engkau merasa sangat rendah hingga tidak sanggup lagi mengangkat wajah. Ah, jangan berlebihan, teman. Sedalam-dalamnya lautan, engkau tidak lebih rendah dari dasarnya terdalam. Kalau engkau menyadari, bahwa engkau masih ada di atas bumi. Maka, tersenyumlah seperti apapun kondisi diri. Engkau mesti bersamai dirimu dengan lebih baik lagi. Ia adalah sahabatmu yang sejati.

    Sekali-kali jangan pernah menjadi sesiapapun, saat engkau merasakan ada yang berbeda dari dirimu. Beri ia kesempatan untuk tenang, berpikir, mendamaikan diri. Hingga tahap engkau percaya bahwa ia adalah titipan terindah dari-Nya, untuk engkau bersamai. Maka, jaga diri sejak di bumi.

    Perhatikan diri, luar dan dalamnya. Jadikan diri sebagai pengingat, bahwa ia tidak hadir ke dunia ini begitu saja, tanpa alasan. Namun penuh arti dan bermakna, bukan percuma atau untuk tersia.

    Catatan ini menjadi, renungan malam yang super romantis, bukan?

    Lihatlah, di atas sana, senyuman rembulan bulat menjelang sempurna. Bebintang yang berlirikan turut ambil kesempatan mencuri perhatianmu pula. Begitupun gumpalan awan yang sering berganti formasi. Tidakkah semua membuatmu mengembangkan senyuman juga? Ditambah lagi semilir angin malam yang dingin.

    Hai, engkau sudah di dalam ruangan lagi, bukan? Jangan berlama-lama terkena angin malam yaa, tidak baik untuk kesehatan. Jadi, sebisamu segeralah memejamkan mata. Walau bagaimana pun suasana hati, isi pikiran, selamat berehat teman. Aku di sini memang belum bisa lelap. Hidungku masih berat, kalaupun rehat tidak nyaman.

    “Ooiya, temanku bilang, berat hidungku tidak seberat cintanya padaku, nah aku musti bilang apa padanya? Lama-lama, kepalaku juga berat, mataku semakin-semakin beratnya, tapi tidak bisa memejam, karena pegal kondisinya. Makanya, aku mampir di ruang yang ada engkau di dalamnya. Kemudian kita bersenyuman seperti ini. Rasanya sungguh menyenangkan. Ah, haruuu.”

    Ku tahu, esok, lusa dan di hari-hari nanti. Saat membaca lagi note ini, ku teringatkan pada seseorang di sana. Seorang yang menginspirasi, xixiixiii.

    Yah, barangkali engkau? Bisa jadi. Engkau yang akhirnya menepi, berkunjung. Engkau yang hadir menyapa, ketika ku rebahan di atas atap beratap langit bertabur bintang, awal malam ini. Sedangkan rembulan tersenyum pada kita. Senyuman yang ku bilang padamu, akan ku jadikan alasan tersenyum juga. Karena senyumannya yang cantik dan aku mau memandangi kecantikannya dalam senyumanku.

    Engkau malah menimpali, “Secantik apapun cahaya rembulan menaburi alam, tidak lebih cantik darimu yang ku pandangi. Asyiks!”

    Dan kemudian terpikirku, lalu berkata padamu, “Apa iya?”

    Engkau tersenyum sahaja, melirikku penuh makna. Lalu memandang rembulan di atas sana. Dan kita pun bersenyuman, menghabiskan ujung hari ini bersama. Karena esok, kita belum tentu bisa berjumpa. Ragaku melemah, soalnya. Ditambah lagi kehadiranmu yang tanpa ku undang, tetiba sudah datang.

    Engkau, ini masih tentangmu. Saat ini, semoga sudah membersamai bebintang di alam mimpi. Catatan ini ku rangkai untukmu, sebagai persembahan spesial seperti yang engkau pinta, untuk merangkaikanmu barisan senyuman tentang benda-benda langit di atas sana. Tapi semua ini belum sempurna, tanpamu. Dan engkau berjanji melengkapinya, setelahku menyelesaikan bagianku. Sedangkan bagianmu, engkau serahkan padaku, esok.

    “Hasilnya untukku, yaa. Sedikit bermanja padamu, aku coba. Tapi engkau tidak mengabulkan, hanya bilang, untuk kita berdua aja. Darimu untukku dan dariku untukmu. Aku terdiam, engkau pintar sekali. Makanya ku jadikan inspirasi. Semoga sehat selalu, teman. Semangat malam.”

    When I miss you,
    -ttd-
    You and Me
    🙂 🙂 🙂

    Like

  2. Hello mentari…

    Akhirnya engkau muncul juga. Setelah sesekali hilang. Engkau bilang lagi sembunyi di balik awan. Jadi, jangan mencariku selagi ku tidak terpandang olehmu yaa. Pesan yang usang dan kembali engkau perbarui.

    Saat engkau melihatku mulai bimbang dan mulai bergumam pelan, “Wahai, ini sudah pagi, tapi mentari belum tersenyum.”

    Hingga akhirnya, engkaupun datang, bersama cemerlang sinarmu yang tidak bisa ku tatap langsung, memang.

    Hello mentari…

    Semangat pagi, sayang. Selamat berjumpa lagi pada waktu bernama siang. Setelah semalaman engkau berpetualang meninggalkan alam menjadi kelam. Setelah engkau menerangi bagian bumi di sana, di sana. Selamat datang kembali, dan aku senang.

    Senang dan bahagia rasa di dalam hatiku, saat melihat mentari bersinar lagi. Walau bagaimana pun kondisiku, mentari dapat menjadi penenang.

    “Appaaaa?” Sekepinghati tersenyum riang. Karena ku sebut-sebut ia yang lagi tenang. Aih! Padahal hidungku meler, mataku pegal. Tatapanku sendu, tapi lagi dan lagi, masih bisa senyum sih, aku. Yuuup. 😀

    Yah, terkadang memang begini. Entah apa yang ada dalam pikiranku. Segala hal terkait mentari tidak akan mengalihkanku dari situasi apapun. Jadi?

    Aku mau mentari tetap tersenyum seperti pagi ini, supaya bahagiaku senantiasa dalam kebersamaan kami. Walaupun ini mauku, belum tentu mau-Nya. Makanya, saat waktu bernama sore, mentari kembali ke dunianya di sana. Sedangkan aku, melanjutkan perjalanan bersama waktu meski tanpanya. Ini pun sudah biasa. Aku tidak bisa memaksakan semua mauku pada mentari nun jauh di sana. Karena kami mempunyai jalan bakti yang tidak sama.

    Ia harus tetap bersinar, lalu aku pun belajar darinya. Sesekali ku mengintipnya, dan ku percaya ada sinarnya yang sampai padaku walau tak banyak. Untuk ku bawa menerangi jiwa yang tanpa penerangan.

    Setiap kali teringatku pada mentari mengingatkanku untuk tersenyum juga, walau bukan padanya. Namun senyumanku untuk diri sendiri yang sering mendamba bahagia, ketika bahagia bercanda. Lalu, tidak mendekat-dekat, karena ia mendeteksiku tidak mau bercanda dengannya. Apa sebab? Ya begitulah, sudah bawaan kali yaa, hahaa.

    Pagi ini juga sama. Saat mataku perlahan meredup, hidungku terasa aneh, lalu haaaatttchi! Eh, bahagia pun datang segera dan ia tertawa. Aku? Aku diam saja, lalu bahagia segera berlalu.

    Iya, ku pikir-pikir apa maksudnya, coba. Dalam sendunya hatiku, melernya hidungku, redupnya mataku, ia masih saja merdeka. Sedangkan aku sudah begitu tersiksa tak bisa lagi apa-apa. Jadi, aku tidak bisa membersamainya.

    “Lalu maumu apa?” Mentari bertanya.

    “Mauku engkau ada di sini lalu tersenyum secerah tadi, engkau yang muncul lagi. Bukan hanya sembunyi di balik awan dan sesekali mengintipku. Tuch kan, engga terlihat lagi. Hihii. 😀 peace, aku hanya lagi menunggu dan sekarang sudah berakhir. So, I am sorry, bila engkau menjadi lahan curhat lagi. Oke, aku pergiii dan sampai berjumpa lagi my dear mentari. Tetap tersenyum hari ini yaa, meski dari balik awan.”

    Your smile is my inspiration,
    -ttd-
    You and Me
    🙂 🙂 🙂

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s