When I Miss You

Rindu

Ketika ku merindukanmu, ku menemukan engkau ada di dalam diriku. Begitupun, ketika engkau merindukanku, temukanlah aku yang ada di dalam dirimu.

Wahai tangan-tangan yang tak terengkuh. Hati-hati yang tak tersentuh. Sorot-sorot mata yang terus bertumbuh. Diri-diri yang tidak pernah mengeluh. Telapak tangan yang siap merengkuh. Pergelangan yang tidak akan pernah membiarkanku jatuh. Wajah-wajah yang memandangku teduh.

Ya, masih bisa ku pandang saja, meski tidak tersentuh. Duuuch. Mestikah ku mengeluh? Saat engkau begitu teguh? Pantaskah ku putus asa. Ketika engkau bersungguh-sungguh? Layakkah ku mengaduh. Saat engkau menanggung derita, namun engkau terus melangkah, menjauh.

Engkau akan menjauh. Saat ku membuatmu semakin jauh. Begitu pun sebaliknya. Maka, ku dekat-dekat denganmu, walau tidak lekat. Ku melipir-lipir di jalan yang engkau tempuh. Sekalipun hanya untuk menyaksikanmu dari jauh. Ku melangkah juga, melangkah dan hup! Akhirnya kita berpapasan lagi.

***

Senyuman

Engkau tersenyum, aku pun sama. Sekarang kita bersenyuman.ย Senyuman yang menebar penuhi seluruh wajahmu. Wajah yang tidak bisa menatapku lama-lama, makanya engkau segera berpaling.ย Engkau tersenyum ringan, sekilas saja. Namun ku bisa membaca makna senyumanmu, masih.

Setelah seuntai suara engkau alirkan, tentang aktivitas yang biasanya ku lakukan sambi melangkah. Dan engkau, mendeteksi sebagai kebiasaan. Padahal, hanya kebetulan. Makanya, bertemu lagi, engkau menanyai. Tanya yang ku jawab dengan senyumin aja.

Senyuman tentang rindu yang utuh. Karena aku pun tersenyum, meski sebentar saja. Senyuman yang tidak ku tebar-tebarkan lagi padamu, seperti sebelumnya. Karena aku merasa ada yang tidak biasa, sejak saat itu. Kapankah?

Senyumanmu untukku yang engkau rindukan. Senyumanku untukmu yang ku rindukan. Ya, saat ini, hanya bisa ku senyumi engkau sebentar saja. Senyuman yang kita pertukarkan, meskipun tiada berpandangan, lama.

Walau tidak tertatap lagi oleh dua mata ini. Namun dalam ingatan, sesekali engkau menghampiriku. Engkau melangkah di dekatku, bersama segenap kehadiranmu. Cukup rasakan, aku ada bersamamu. Aku pun merasakan, engkau ada bersamaku. Dan kini, kita sedang bercakap-cakap penuh bahagia.

***

Bahagia

Bahagia yang tidak terucap, namun tersurat. Bahagia yang kita jemput segera, bila belum berkunjung, mendekat. Bahagia yang masih ada, dalam ketidakbahagiaan. Bahagia yang menjadi alasan, kita kembali bangkit dan melangkah, menyusuri tepi-tepi jalan. Dalam bahagia, aku bertemu denganmu. Engkau yang tersenyum bersamaku, semoga benar-benar berbahagia, yaa.

***

Campur-campur

Ahaaa. Beruntung kiranya, engkau tidak mengenalku utuh. Beruntung juga engkau, yang tidak ku kenal jauh. Hanya sekadar sapa, salam di saat berpapasan, lalu engkau menarik perhatikanku. Meski ku tidak menghentikan langkah walau sejenak. Yap, karena aku sedang dalam perjalanan, teman.

Teman yang saat mengingatmu, membuatku tersenyum, lagi. Ya, tersenyum saja mengingati. Bahwa engkau, sosok sepertimu, pun pernah ada dalam daftar impianku. Jadi? Apakah yang harus ku perbuat? Ketika satu persatu impian menjadi nyata, lagi? Dan ini melaluimu.

Engkau yang tersenyum, sempat juga menyapaku sekilas. Aku suka dan bahagia. Ya, gitu aja. Terima kasih ya, sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupku ini. Kelak, kapan-kapan ku teringatkan engkau lagi, aku mampir di sini.

Semoga saja jarak kita tidak jauh-jauh amat. Jadi, ku masih bisa tersenyum padamu, sekali-sekali. Pun, kalau kita berjauhan jarak, kelak di masa nanti. Cukup sudah bagiku, jejak tentang hari ini menjadi jalan hadirkan senyuman lagi.

Senyuman untuk diriku sendiri, yang tidak pernah mampu menyampaikan padamu, bahwa engkau sungguh berarti. Sekali lagi, terima kasih ku sampaikan. Ungkapan yang tidak akan terucap untukmu, barangkali. Hihii. ๐Ÿ˜€

Engkau, tahukah bagaimana semua ini terjadi? Supaya ku bisa menyelami makna kehadiran diri-diri lain dalam hariku. Apakah yang bisa ku bersamai sampai nanti lama-lama, atau yang hanya bertemu sekilas di dalam perjalanan.

Cukup sudah bagiku, selembar catatan lagi, menjadi buktinya. Bahwa aku sangat suka menerima kenyataan seiring impian menjadi nyata, seperti ini. Maka, mana bisa tidak ku senyumi? Bagaimana ku tidak berbahagia dengan semua ini? Atas kejutan demi kejutan dalam hari. Apakah ku prediksi atau tetiba sudah menghampiri. Awalnya ku tidak menyadari, lama-lama, ku pahami, sebagai bagian dari ingatan pada impian.

Seperti, tetiba seseorang melayangkan senyumannya dari depan sana. Ketika ku sedang melangkah sendiri. Lalu, menekukkan dua pergelangan tangannya, membawa jauh ke atas kepala. Dengan posisi jari-jari saling membelakangi. Ujung-ujung jari merapat, dan membentuk tanda hati, sebaik-baiknya. Seraya memiringkan badan lima derajat saja. Apa artinya? Ahaahaaa. ๐Ÿ˜€ Aduh, ini memang tidak biasa. Tapi, aku suka saja, ketika ia ceria menemuiku. Walau dari jauh, tidak tersentuh. Meski dari jauh, tidak terengkuh. Terima kasih, sekali lagi.

Apakah seseorang berikutnya adalah engkau? Ya, engkau di sana yang tidak ku tahu siapa nama? Engkau yang tidak ku tahu ada di mana? Engkau yang mudah-mudah saja mengajakku tersenyum juga. Meski tanpa bertemu, tidak bersua, aaaaa. Sungguh mengharukan ini semua, bagiku. Sungguh menyesakkan dada, bila tidak ku ingat bahwa ini maya. Sungguh menghabiskan semua ekspresi sekaligus.

Apakah menangis, tersenyum, kebingungan, berbahagia, terkejut, dan bisa saja ku marah-marah padamu. Ekspresi yang tidak henti-henti, ada lagi dan lagi, selamanya. Tapi, aku sungguh yakin, engkau di sana bisa juga berekspresi serupa. Apalagi saat menyadari, ku tidak sekalipun menganggapmu ada?

Yah! Aku sungguh kejam padamu, sesekali memang begini. Jadi, engkau mau apa? Aku bisa meniadakan keberadaanmu, dalam tatapan. Aku tidak bisa mengajakmu dalam langkah-langkahku saat berjalan. Hanya, membersamai semilir angin, seperti ini ku menganggapmu, terkadang. Semoga, engkau tidak marah yaa, seperti ku yang memarahimu dalam diam. Sepertiku yang suka saja bertukar ekspresi tanpa terduga.

Aku yang tiba-tiba nangis, lalu ketawa sedetik berikutnya. Aku yang mudah saja bertukar-tukar dalam sekejap. Ini pun tidak ku sangka. Semua terjadi, begitu saja. Ada apa denganku? Apakah ini yang namanya… Apa yaa? Aku sudah tahu, engkau pun pasti tahu.

Aku jadi tidak tega merangkainya menjadi sebaris kata pun. Padahal, aku ingin menjadikannya ada. Ini semua karenamu, engkau yang membuatku seperti ini. Ich, sudahlah yaa. Aku tidak akan menyalahkanmu sedetik berikutnya. Cukuplah baru saja, ia ada. Penyalahan yang ku sampaikan, karena aku tidak tahu juga, siapakah engkau sebenarnya?

Kalau ku mengetahuimu, tentu ku bisa menata segalanya menjadi sedemikian rupa. Supaya engkau dapat menerima kehadiranku, sebegini adanya. Aku yang tidak pernah engkau sangka, di luar perkiraanmu. Aku yang mudah berubah, di luar pemikiranmu.

Aku yang tentu saja terus berbenah, sekalipun aku lelah, payah dan sebentar kemudian rebah. Tapi ingat, ya, tolong ingat yaa. Bahwa semua adalah alasanku kembali bangkit, berjuaaaaaang dan semakin jauh meninggalkanmu. Kalau saja engkau tidak menyusuriku. Sekiranya engkau tidak menelusuri langkah-langkah dan jejak-jejak yang pernah ku tepikan dalam perjalanan tanpa bersamamu. Engkau tidak akan bertemu denganku lagi, kalau ku benar-benar pergi dari kehidupanmu. Apakah karena mauku, atau karena ketentuan-Nya sudah berlaku untukku.

Makanya, sebelum semua ku jalani, sekali lagi ku memikir ulang. Dalam rangka apa kita bertemuan? Untuk keperluan apa engkau menyapa dan kemudian tersenyum padaku? Sekalipun pertemuan kita tidak bisa lama-lama. Hanya sepersekian detik saja, sebentar, selama satu langkah mengayun. Selanjutnya, kita akan berselisih jalan, dan aku terus melangkah. Sedangkan engkau, ku tinggalkan. Bila engkau tidak bergerak juga, masih di sana, di tempatmu semula.

Ini yang terpikirkan olehku sejak lama. Ingatan pada diriku juga. Aku yang sedang menempuh hari, waktu, tanpa ku tahu, akan bertemu dengan siapa selangkah lagi? Makanya, sebagai ingatan pada diri sendiri, ku sampaikan tentang ini padamu. Supaya engkau pun tahu, bahwa engkau adalah aku. Aku adalah dirimu yang tidak pernah meninggalkan kita. Ya, ini tentang engkau dan aku.

Engkau tidak bisa langsung membiarkanku sendiri, bila ku tidak mau engkau bersamai. Begitu pun denganmu. Biarlah masa-masa kelam yang pernah kita jalani, menjadi pengingat dan pengalaman. Bahwa kita bisa meninggalkannya, dengan sepenuh keyakinan. Untuk berteguh-teguh tanpa mengeluh. Untuk menaati aturan tanpa menelantarkan. Untuk mengingat, ke mana kita sedang melangkah? Dalam rangka apa? Bersama siapa? Maka, adanya jalan-jalan yang membentang dapat kita tempuh dengan senyuman.

Di manapun berada, tetap bersungguh-sungguh. Kalau ada kecocokan, perteguh keyakinan. Bahwa di sanalah engkau mesti melangkah. Namun bila belum menemukan ketenangan, segera berpaling, merubah arah. Karena jalan banyak cabangnya. Engkau masih dapat memilih, sebelum melangkah jauh. Engkau dapat mempertimbangkan, sebelum benar-benar menjadi bagian dari jalan tersebut.

Apakah akan memilih jalan berduri atau jalan mulus tanpa rintangan? Apakah harus berlelah-lelah dulu, menyibak semak belukar, merintis jalan perjuangan? Atau, melenggang bebas di antara pepohonan berdahan panjang? Yang terbang-terbang gitu. Yah, engkau bisa mengingat, bagaimana ia melakukan pergerakan. Engkau bukan dirinya. Tapi, engkau adalah aku.

Engkau bisa saja tidak seperti yang engkau pikirkan, dalam pandanganmu dari masa depan. Atas jejak-jejak yang menyisakan senyuman. Atas jejak-jejak yang menghadirkan tangisan. Atas pelajaran yang tidak terlupakan. Atas pengalaman yang mesti dan harus engkau bagikan. Apakah artinya?

Selagi memiliki dua pasang malaikat sebagai pembuka ingatan, pencerah pikiran, penenang hati, pemeriah senyuman, turut dan ikut nasihat beliau. Beliau adalah orang tua tersayang. Jangan lalaikan, usah mengabaikan. Karena senyuman beliau adalah alasanmu tersenyum. Sedangkan kebalikannya, adalah penentu kehidupanmu yang akan datang.

Aku tidak bisa menerangkan, ada apa di balik semua catatan ini, dengan sangat baik. Namun, sebaris ingatan pada perjalanan seorang insan, membuatku mau tidak mau menjadikannya sebagai pengalaman diri. Supaya ku bisa menjadikan sebagai pelajaran. Untuk melangkah, di jalan-jalan yang semestinya.

Meski harus berurai airmata di awalnya, tidak mengapa. Walau bersusah payah berlelah-lelah, tidak masalah. Sebab, dalam ridha orangtua ada barakah. Berbagi ingatan tentang hal ini, sungguhlah indah, sangat mewah kesannya, dan membuat senyuman semakin membungah, cerah. Alhamdulillah, terima kasih Amak dan Ayah. Walau tanpa penopang sempurna, beliau sering-sering mengingatkanku, untuk tabah.

Di balik kesedihan hari ini, ada kebahagiaan setelahnya.

Di ujung kepiluan yang terlewati, ada senyuman yang kita temui.

Di balik tetesan airmata, ada kelegaan tidak terkatakan.

Di atas langit, masih ada langit. Maka, bila hari ini langit mendung yang terlihat, percayalah di atas sana, langit berbeda memperlihatkan wujudnya. Walau tidak tertatap mata, meski tidak terjangkau tangan, tetaplah menatap.

Jauhkan harapan, tinggikan ingatan. Lalu, tetaplah berjalan. Tersenyumlah, meski dalam tangisan. Hapus airmata, supaya jelas pemandangan. Sesekali, biarkan ia mengalir, untuk mengembalikan ingatan, bahwa ini nyata.

Alirannya yang membasahi pangkuan, jadikan sebagai teman. Teman yang siap menyejukkanmu, lagi. Alirannya mengantarkanmu pada harapan baru. Setelah satu harapan tertinggalkan.

Wahai, ke mana lagi mengadu? Atas segala sendu? Untuk setiap pilu? Pada siapa yang mau tahu? Pada siapa yang tidak perlu tahu? Ah, Ada Yang Maha Tahu. Dan semua sudah tercatat tersusun rapi, dalam bentangan tulisan-Nya di Lauhul Mahfuz. Jadikan ingatan tentang hal ini sebagai peneguh kalbu yang terus saja menggugu. Untuk kembali tunduk dan bukan merutuk. Untuk menerima, bukan mencerca. Untuk merangkul, bukan menghina. Untuk menyapa, bukan meninggalkan, membiarkan. Untuk menyadarkan, bukan mengabaikan.

Atas segala kelirunya, tolong maafkan.

Bukankah ia sudah menangis terisak-isak atas segala penyesalan?

Sebagai pejalan di atas bumi ini, kita perlu dalam kondisi ingat. Ingat untuk mengingatkan. Merangkul yang terjatuh, agar ia tidak melemah sendirian. Supaya tidak terinjak tanpa pertolongan. Semoga, sesiapapun yang dalam kesedihan, segera terbukakan jalan bahagianya. Lalu tersenyum menempuh masa.

Engkau tidak bisa mengandalkan bahagia atau dukamu, pada seseorang. Laa tahzan, innallaha ma’ana. Dan tersenyumlah teman…ย  ๐Ÿ™‚ I miss you. Aku merindukanmu yang tersenyum menawan. Tersenyum dalam kesedihan. Tersenyum untuk menjemput lagi kebahagiaan yang sempat tertinggalkan.

I Miss You

Sekarang, aku tenang, senyumanmu sudah hadir lagi. Senyuman yang semoga setia menemani, meski selanjutnya, bukan berarti tidak menetes airmata lagi, atas kesedihanmu. Namun, bisa engkau senyumi sebagai salah satu ingatan kepada Penentu segala langkah, jalan dan tujuan.[]

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Advertisements

37 thoughts on “When I Miss You

  1. Hari yang teduh. Karena mentari sudah sembunyi lagi. Mariii kita tetap berseri-seri, meski temaram dan tiada penerangan. Ayo bergerak lagi, sekalipun dalam penantian. Tetap tersenyum, meski belum ada kejelasan. Apakah ia akan datang, atau tetap di sana tanpa jawaban?

    Semangat pagi, untuk menjemput siang yang berbinar. Semangat siang, untuk menyusul sore yang berkesan. Semangat sore, untuk menghidupkan malam yang tenang. Semangat malam, untuk menyambut pagi yang benderang.

    Yah, menjalani hari bersemangat adalah awal hadirnya terang. Terang yang kita impi, ketika sekitar masih gulita. Terang yang kita damba, ketika gelap merajalela.

    Saat cahaya belum terlihat, menjadilah pelita, berkelipan. Menjadilah sinar yang tidak pernah padam. Menjadilah lentera yang menerangi. Maka terang tak hanya impi.

    Kita tidak bisa selalu merutuk kegelapan, bila cahaya belum hadir. Begitu pun dengan basah karena hujan yang membuat kita kedinginan. Segera, ingatlah payung. Supaya hujan berikutnya, sudah siap-siap bawa payung. Artinya, tetap semangat kawan. Tersenyumlah menjalani hari.

    Selamat tinggal jejak-jejak dalam perjalanan.

    Happy week end,
    -ttd-
    You and Me
    ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

    Like

  2. Dari perjalanan, kita menemukan pengalaman. Dari kesalahan, kita mengenal pemaafan. Dari ketidaktahuan, kita mengenal pengetahuan. Dari pertanyaan, kita menemukan jawaban. Dari percakapan, kita memetik pelajaran.

    Hari ini ada pelajaran baru, lagi. Pelajaran yang ku syukuri atas pertemuan. Pertemuan dengan beliau untuk pertama kali. Namun kami mudah akrab, lalu bertukar suara beberapa kali. Tidak terlalu riuh, memang, namun cukup untuk memetik sebuah inspirasi. Inspirasi kali ini tentang mentari.

    “Mentari? Ngapain malam-malam ia muncul? Bukankah sudah gelap dan dari tadi gerimis menyapa? Lagi pula, siapa yang engkau temui? Haiii, engkau pergi-pergi yaa. Ke mana? Sama siapa? Berapa lama?” Tanyamu berguguran, bersama senyuman. Karena engkau tahu, pasti ku tidak sendirian pergi-perginya. Meski tanpamu bersamaku. Sebab engkau bisa menerka, siapa saja yang ada di sekelilingku, akhir-akhir ini. Hai, engkau kepo ya sama aku?

    Iya, aku perginya sama Tya, my soulmate sejak kenalan. Teman baik tak berkesudahan. Sahabat akrab tanpa alasan. Tetiba, kami sudah sampai di sebuah tempat makan. Tapi, sebelumnya ku sudah duduk manis di belakangnya sebagai penumpang dadakan. Sebelumnya lagi, ia menyapaku, “Bundoooo, udah di mana? Aku samperin barusan mau jemput, ternyata udah engga di tempat. Ayo, kita jalan, ketemuan di kosan aja yaa. Aku ke sana sekarang.”

    Sapanya berlanjut, tak henti-henti, sampai menemukan kabar terbaruku. Dan ternyata, aku sudah jalan duluan. Karena memang kami tidak janjian buat ketemuan. Tapi, begitulah yang terjadi, teman. Ke mana-mana ia mengajakku, lalu kami pun jalan-jalan, makan-makan, atau apalah namanya sebagai pelepas penat dan pembuka cakrawala pandang dalam pertemuan.

    Tidak lama setelah sapaan, ia sudah muncul di depan sana. Aku terpesona dan ia senyum-senyum manis seperti biasa. Kemudian, mempersilakanku duduk manis dan jangan berjalan lagi. Hihiihiii, ini anak engga kabar-kabari, sudah nyampe aja. Iya, iya, mariiii kita berangkat, bisiknya tanpa bisa ku tanya banyak lagi. Lalu kami melaju dengan kecepatan sedang, sambil bertukar kabar masing-masing.

    Sampai di lokasi pertama, kami menyantap menu yang super huwah dan aku mencoba-coba saja, ternyata suka. Kami pun kenyang dan kemudian siap-siap meneruskan petualangan lagi, menuju lokasi berikutnya. Hingga sebuah benda impian ada dalam genggamannya. Setelah, berjuang ke sana ke sini, menemukan solusi. Hihi, inilah kesempatanku menanya saat bertemu beliau yang ku maksud di awal tadi.

    Saat Tya berjibaku dengan aneka prosesi akad, kami bertukar suara. Kak Lis namanya. Seorang perempuan yang ku perhati dan menarik untukku ku tanya. Selanjutnya, kami bertukar sedikit cerita. Cerita ringan, untuk membagi wawasan.

    “Begitulah kami di sini. Datang saat mentari belum terbit, kembali saat mentari sudah tenggelam. Jadi, tidak bisa menyaksikan sinarnya setiap hari. Beginilah istilahnya,” urai Kak Lis tentang aktivitasnya.

    Tepat, saat ku menyampaikan rasa ingin tahuku padanya. Termasuk rasa ingin tahu dengan jadual-jadual aktivitasnya yang menurutku, unik. Ya, tentang bagaimana ia melakukannya, sedangkan bagiku tidak terpikir. Ia telaten dan mahir, lancar serta paham yang ia sampaikan. Ia menguasai aktivitasnya, aku jadi suka.

    Dalam kesempatan berikutnya setelah beberapa lama bertukar suara, ku menyadari. Bahwa beliau adalah pribadi yang tulus, loyal dan setia pada pelanggannya. Meski kedatangan kami hampir di ujung waktu, Kak Lis tidak lantas meninggalkan kami atau menjuteki. Namun, mau meluangkan waktunya demi melayani kami dengan prima, sangat baik. Hingga aku pun terharu.

    Hal penting lainnya yang tidak luput dari pandanganku adalah keramahannya, mendahulukan konsumen dan memberikan kepuasan, sesuai kemampuannya. Atas ketidaktahuan, ia menjelaskan. Dengan pengetahuan, ia mendetailkan informasi. Sehingga, kami tidak bertanya-tanya lagi. Karena semua ia sampaikan jelas, padat, ringkas dan tepat.

    Yang bertransaksi adalah Tya sebenarnya. Sedangkan aku sebagai pengantar saja, menemaninya. Walau begitu, ada bahagia yang ku petik dalam waktu kebersamaan kami kali ini.

    Terima kasih Tyaa, untuk jalan-jalannya, pertemuannya, dan pengalaman bertemu dengan orang baru yang akhirnya menitipku senyuman terbaiknya, dengan Kak Lis.

    Buat Tyaa, semoga ke depannya semakin bertambah tumbuh manfaat diri dan menebarkannya tiada henti. Berkah segala harta, setiap titipan berguna panjang, tanpa henti. Akhirnya, sampai berjumpa lagi, I will miss you dear sister. Hehee, selamat ya, buat pernik terbarunya. Selamat juga untuk tercapai impiannya.

    It is the wonderful blue one,
    -ttd-
    You and Me

    Like

  3. Aku : Hai engkau, iya, engkau. Aku datang lagi untuk menyapamu, menitip rindu yang terbersit. Supaya engkau tahu, bahwa engkau kembali ku ingat. Iya, ingat saja, dan menepikannya menjadi kalimat. Seperti ini, menjadi tersurat, dan engkau bisa mensenyuminya, yaa. Karena ku merangkainya bersama senyuman.

    Engkau lagi apa, sekarang? Kabarnya bagaimana? Semoga sehat dan senang yaa. Karena sekarang kan hari libur, jadi lebih banyak waktu buat keluarga.

    Selamat menjalani kebersamaan yaa. Bersamailah keluargamu dengan akrab, selagi masih sempat. Supaya mereka ingat, bahwa engkau pun ingat keluarga. Engkau menyayangi semua, sangat-sangat.

    Oiya, aku juga sama. I love my family, aku suka berada di tengah-tengah keluargaku. Walaupun jauh, ku masih merasakan semua dekat, jadi sangat jarang ku tidak merindukan mereka. Huuwaa. Akhirnya, ku tepikan ingat menjadi susunan kata. Supaya ku tahu, sejauh apa ku peduli pada keluarga.

    Ah, mengerti juga aku akhirnya, bagaimana ku semestinya. Setelah menyadari, hanya menyimpan kebersamaan kami dalam ingat, dan tidak sering-sering merangkai senyuman tentang keluarga. Dan sekarang, saat ku ingat keluarga, ku mau menepikannya menjadi senyuman.

    Ingat keluarga, aku ingat dengan masakan. Aku ingat dengan ibu, dan ingat menu-menu kesukaan kami. Jadiii solusinya, agar tidak hanya ada dalam ingatan, ku berangkat ke pasar, belanja bahan-bahan, lalu bereksperimen menjadi koki dadakaaan. ๐Ÿ˜€

    Nah, satu yang mau ku pesankan. Engkau tidak boleh membayangkan bagaimana penampilanku saat ini. Karena engkau akan… syuut, sensor.

    Saat ini, ku sedang memasak. Tapi bisa mampir sini juga.

    Engkau : Haaaah? Napa kau tinggal-tinggal, nanti gosong, keasinan, kurang garam, cepetan aduk-aduk sayurannya. Eh, engkau masak apa? Ada sayurannya engga? Aku suka sayur soalnya.

    Trus, bawang-bawang, cabai, masih kurang bersih cucinya. Benerin lagi potong-potongnya. Dan jangan lupa mengolah dengan senyuman, yaa. Agar hasilnya pun manis dan lezat. Yummy, saat menikmatinya.

    Aku : Engkau udah kayak senior koki gitu padaku. Ku memandangmu penuh makna, tanpa bicara. Hanya ku lirikkan mata, tanpa suara memang. Tapi, ada yang mau ku sampaikan padamu sekarang, “Karena ku sedang menunggu, jadi begini deh. Menunggumu yang tak kunjung tiba. Menunggumu yang mau ku masakin, ckckckkck. Nanti masakan udah ada, masak iya masak-masak sendiri, makan-makan sendiri,… (*engkaunya di manaaa?)”

    ๐Ÿ˜€

    Hahaahaaa, aku mampir karena lagi nunggu. Jadi daripada ku melamun, saat menunggu. Maka ku meratakan jemariku di antara huruf-huruf ini. Lalu mengolah juga sebuah catatan. Agar ada yang ku jadikan sebagai kenangan tentang aktivitas ini. Hihihii. Jadi ku tidak sepenuhnya meninggalkan olahan menu masakan kali ini.

    Engkau : Beneran? Engkau masak apa gitu? Emang bisa masaknya? Bukankah sukamu jalan-jalan? Main-main di sini, trus lupa waktu?

    Aku : Huwaaa, adonanku sudah mendidih, ku tinggal dulu yaa? Sekejap. Aku kembali, hihihii. ๐Ÿ˜€

    … Menit-menit berikutnya, aku pun bolak balik. Ke sini dan ke sana.

    Engkau : “Hai, fokus lah, fokus, kalau masak ya masak aja. Kalau main ya, main aja. Jangan multitalenta, dear. Cepetaaan, aku lapeerr, mau ikut makan ceritanya.”

    Aku : Dah, udah, daaah siap sajiannya. Makanya, ku kembali lagi ke sini.

    Engkau : Huups pinteer. Masak apa tadi? Jangan-jangan boonglagii. Mana ku percaya engkau masak. Paling juga lagi berjuntai kaki, atau leyeh-leyeh di depan tipi, atau jangan-jangan menunggu mentari yang tak kunjung menampakkan diri sejak pagi tadi? Hihihi, pardon me, menyangkamu sekali lagi. Tapi ku tahu engkau tak begitu. Engkau pasti tahu jadual harianmu. Engkau tentu paham rutinitas dan keseimbangan di antaranya. Bahwa engkau harus pintar masakkkkk, kakakakakaaa, karena ku suka yang pintar masak.

    Aku : Eheheeheee, iya, ku tahu. Semua suami pun mau yang istrinya pintar masak. Biar hematlah, supaya lebih sehatlah, semoga istri kreatiflah, agar tahu bagian mana dari bahan-bahan dapur yang pedas, asin, asam, dan sebagainya rasa yang ada. Seperti hidup ini yang beraneka ragam rasanya.

    Ini beneran, dan masakanku di luar dari yang orang-orang prediksi tentangku. Aku asli dari suku yang terkenalnya penyuka pedas, tapi aku engga suka pedas. Berlatarbelakang ras yang biasanya masak rendang, aku masaknya semur. Biasanya masak gulai yang banyak bumbu-bumbuan, sedangkan aku sering mengolah tumis-tumisan yang ada iris-irisan bawangnya. Kalau sambel ijo ini udah biasa, sama goreng tempe dan tahu, di mana-mana ada.

    Aku : Siapa jadinya? Aku ya, aku. Bukan sesiapa. Saat ada yang bertanya, gimana ku tidak suka sambel yang pedas-pedas sangat. Karena sudah pedas pun hidup ini, tertemui dan terlewati.

    Pesan moralnya: “Kita tidak bisa menilai seseorang dari suku dan ras mana ia berasal, lalu mencap ia begitu dan begini semaunya, sesuai penilaian kita saja, yaa. Kecuali mengerti dan memahami, semua kita sama dalam pandangan Allah, kecuali tingkat ketaqwaan yang membedakan kita.”


    Aku : Memang, sederhana aja masakanku, tapi ku percaya engkau mau, mau, mauuu? Mari kesindang, kita berpandang-pandang, lalu kenyang. ๐Ÿ˜€

    Engkau : Kenyang aja pandang-pandangan? Mana bisa? Aku mau yaa? Mana-mana hasilnya?

    Aku : Udah siaaaph. Mariii ini buat maksii (makan siang).


    Eits, ada pesan.

    Tya menyapa, “Bundoo..
    Get ready at 2 o’clock yaaa..
    Jgn lupa helm.”

    Artinya, Tya mau ajak aku jalan-jalan lagiii, menemaninyaaaa. ๐Ÿ˜€

    Wahai Tya, ku berdoa untukmu sayang, semoga segera berjumpa jodoh terbaik yaa, dan kelak jalan-jalannya engga hanya sama aku lagi, tapi sama seseorang yang menyayangimu, mencintaimu, tulus padamu, dengan segala yang ada padamu.

    Bukan hanya karena berlimpahnya hartamu, menariknya parasmu yang cantik dan semakin cantik dari hari ke hari, tapi demi melengkapi separuh agamanya yang masih setengah. Karena ia memandangmu dari sisi keimanan yang dapat menunjang taatnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

    Seperti yang engkau sampaikan semalam, dalam pertemuan terbaru kita, tentang cintamu pada kedua orangtua dan ingin beliau senang saat engkau sudah berumahtangga.

    Semoga, semoga terjawab dalam tahun ini, yaa, aamiin ya Allah. Sangat berharap ku tentang hal ini, sebagaimana yang engkau pinta juga tentangku.

    Kita bisa mengimpi, saling mendoakan, meski tidak saling tahu, mendamba tanpa jemu, menguntai harap selalu.

    Semoga, ini menjadi peneduh kalbu yang sempat dan masih saja menanya, “Ya Allah, benarkah ia jodohku? Jika benar, dekatkan kami dengan cara-Mu, atas ridha-Mu, dengan ridha dari kedua orang tua kami. Karena kami menyayangi beliau berdua, sebagaimana beliau menyayangi kami semenjak kecil. Karuniakan kesehatan, kebahagiaan, ketenangan di dalam hati-hati beliau, meski saat ini kami belum membersamai menantu idaman untuk beliau pandang. Jadikan hati beliau rela, siapapun yang datang meminang, sekalipun dari jauh beliau datang. Mudahkanlah prosesnya ya Allah, proses yang kami tempuh dalam mengikuti dan menjalankan sunnah Rasul-Mu. Dengan begini, kami tenang melanjutkan perjalanan hidup ini, yang kami tidak tahu, akan berujung kapan dan di mana. Sampai di ujung perjalanan, kami ingin tetap bersama, saling mengingatkan kepada-Mu. Bahwa engkau adalah Penentu segala pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya raga.”


    Ku melanjut catatan lagi, menyambungnya, karena ada perannya di sini, menjadi inspirasiku tak bertepi. Setelah akhirnya Tya menyapa via suara, karena ku belum membalas pesannya.

    Iyaalaah, saat ku asyik mencuci, pesan masuk dan aku membacanya setelah panggilannya datang. (B-coz, suara panggilan lebih jelas dan tinggi nadanya daripada bunyi pesan).

    Tapi Tya sudah mengerti, aku memang begitu. Hape entah di mana, diri ada di mana. Nah, sekali pegang hape, jadi lupa waktu.

    Aku tersadar, “Haaai, udah jam berapa? Jam dua Tya udah datang. Aku mau siap-siap, yaa. See you, teman. I will miss you. Saat rindu datang menyapa lagi, aku tersenyum untukmu.”

    By : Calon istrimu. Catatan ini selesai, dan dia lagi nyuci baju. Sebagai kelanjutan aktivitas sebagai perempuan, di rumah. Sembari menyahut sapa dari tetangga yang bertanya, apakabarnya? Aku main ke tempatmu yaa? Masak apa hari ini? (Yang masih damba).

    Semangat!
    -ttd-
    You and Me
    ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

    Like

  4. Aku lagi bersantai. Setelah berpinta camilan di dalam kotak, padanya. Aku duduk di sampingnya. Siapakah dia?

    Dia adalah seorang teman. Ia sedang menyantap menu makan malamnya. Ia menikmati sendok demi sendok, sangat teliti. Sesekali melirik tipi, sesekali menyuap.

    Aku sibuk sendiri, meski santai. Serius, setenang embun pagi. Senyum, seanggun mentari sore hari. Seraya membaca-baca sebuah catatan. Di antara perut keroncongan, karena ia ku isi menu berbeda hari ini. Jadinya?

    Bertanyalah ia, begini, “Engkau bagi apa padaku? Aku belum ingat ini semua. Aku tidak mau menerimanya. Tapi sudah terlanjur ada, padaku. Makanya ku kriuk-kriuk yaa. Bukan berarti lapar, tapi aku bersabar. Aku berusaha mencernanya. Aku mencoba mengolahnya. Engkau baik-baik saja, kah? Aku masih aman.”

    Dalam ketenanganku, keseriusan tapi santai, temanku tadi sudah sibuk juga. Huwahhuwah berulangkali. Ku pikir memang harus begitu. Karena ada si cabai super pedas di antara menu. Aku yang sempat mengicipnya juga, engga sanggup menahan perih di lidah. Tampaknya ia mengalami kondisi sama.

    Hingga sebaris suara ia luahkan, atas deritanya, “Udah kayak naga dah, aku jadinya, haaaaah. ๐Ÿ˜€ .”

    Aku masih asyik. Hingga detiik-detik berikutnya, lama berselang, aku tertawa senang. Karena baru konek dengan penderitaannya. Tawa yang ia tertawakan, kemudian. Karena ku terlambat koneknya.

    “Yaaaah, baru tertawa dah kakak. Aku udah dari tadi kayak gini, hihii ๐Ÿ˜€ ,” ia menertawaiku.

    Yaaach, beginilah koneksiku terkadang… . Orang tertawa kapan, aku kapan. Udah gitu, lebih lamaan. Teman yang mestinya udah usai tawanya, menertawai sudah. Ah, engga usah terpesona gitu, kawan. Ini menjadi selingan kami dalam kebersamaan. Sehingga ekspresiku menjadi sejenis hiburan juga bagi teman-teman yang akhirnya mengerti, aku. Setelah lama-lama kami berteman.

    “Cepat, cepat obatin pakai buah, biar cepat hilang pedasnya, hahaa ๐Ÿ˜€ ,” ku memberinya saran.

    Selanjutnya kami berpandangan. Ia tersenyum penuh makna. Aku mulai merapikan ekspresi lagi. Ekspresi yang sempat berantakan. Karena menyadari yang ia sampaikan.

    Berikutnya, kami melanjutkan aktivitas masing-masing. Menyusuri waktu rehat bersama senyuman.


    Tidak perlu ragu, siapa yang ada di sisimu. Kalau engkau mau menghayati waktu, ada saja pelajaran yang bisa engkau petik bersamanya. Selanjutnya, menghiasi waktu bersama senyuman. Senyuman dalam kebersamaan. Senyuman tentang pemakluman, pengertian, pemahaman dan pengertian terhadap teman.

    Teman yang menjadi bagian dari perjalanan. Perjalanan hidup kita yang masih berlangsung. Apakah yang engkau pikirkan, teman? Memang beginilah aku yang sebenarnya. Sedangkan yang sebenarnya engkau inginkan, bagaimana? Masih merindukan?

    “Iya, saat kita berjauhan, aku merindukanmu. Sedangkan saat kita bersama, aku bahagia,” jawabmu tanpa sempat menoleh padaku sedikitpun.

    Selanjutnya, engkau pun asyik dengan gerak jemarimu yang sempat tertunda demi menjawab tanyaku.

    “Okelah, kalau begitu, bagaimana kalau kita saling merangkai bahasa saja? Tentang rindu yang bermunculan, sebelum kita bertemuan. Ini tentu sangat mengesankan. Apalagi, yang kita rindukan sama-sama merasakannya terhadap kita. Ya, seperti engkau padaku? O, bukan. Seperti aku padamu. Tapi, padaku engkau tidak menyampaikannya. Karena engkau sudah tahu pun, tentang rindumu padaku. Jadi, deal, kan?

    “Heii, bukankah sebelumnya engkau pernah bilang padaku, tentang -biarkan engkau saja yang merindukanku. Sedangkan aku jangan? Karena akan ku rasakan juga seperti yang engkau rasakan. Akan ku alami juga sebagaimana yang engkau alami. Akan ku rangkai juga kalimat sebagaimana yang engkau rangkai. Bukankah akan sangat tersibukkan kita dengan begini? Waktu-waktu kita terhias dengan ingatan demi ingatan satu terhadap lainnya. Lalu, bagaimana dengan ingatan kita masing-masing pada penggenggam diri dan segala yang ada pada kita.

    Iya, semua yang ada pada diri kita sebagai titipan, ini. Bagaimana kita mendayagunakannya? Apakah membuat kita terlalai dan terlena, bahkan tersibukkan padanya, bukan kepada-NYA? Dan ku tanya padamu satu hal saja kali ini, engkau lagi apa?”

    “Memandangmu,” jawabku.

    “Nah, lha, lha, mandangin aku aja betah berlama-lama atau baru saja? Ngajinya udah ada belum, sehari ini?” Tanyamu.

    (Aku terdiam).

    “Napa kok diam?,” engkau mau jawaban.

    “Jawabannya ada padamu. Karena apa yang ku lakukan adalah cermin lelakumu. Bukankah kita merupakan bagian satu dengan lainnya?,” beraiku.

    “Iya, karena engkau cerminku dan aku cerminku, maka, mari kita tetap berteman. Menjadi teman yang saling mengingatkan satu sama lainnya. Dengan begini, kita sama-sama dapat bersenyuman, saling membagi ingatan dalam kehidupan,” engkau tersenyum menawan. Senyuman yang menjadi cermin bagiku.
    -ttd-
    You and Me
    ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

    Like

  5. Ku memperhati ada motornya di parkiran. Saat melewati lokasi parkir, motor berbeda terlihat lagi. Ya, ada penandanya, ‘Rafa’ tertulis rapi di sekitar plat nomer.

    Rafa adalah nama keponakannya. Nama yang ku senyumi pertama kali, karena menempel di plat motor, dan sempat membacanya. Berkali-kali membaca pada waktu-waktu lalu, terketahuilah bahwa motor tersebut kepunyaan Scatzy, hihii. ๐Ÿ˜€ Dulunya memang begini. Namun hari ini sudah ku ketahui jelas. Sehingga ku tidak hanya tersenyum saja, namun terbahagia jiwa. My roommate datang lagi.

    Mengetahui Scatzy kembali, segera ku berlari menaiki tangga. Anak-anak tangga yang lumayan terjal, ku langkahi satu persatu, tanpa merasa-rasakan lelah. Padahal sebelumnya ku sudah melangkah lumayan lama dan jauh dari sana menuju ke sini. Hingga seluruhnya terlewati dan sampailah aku di pintu besi.

    “Scatzy, welcome home again. Happy with you dear sister and I am really, miss you so much,” ku menyapanya saat masih di pintu.


    Engkau ternyata datang lebih cepat. Bukan esok, tapi sekarang. Horeee, ada teman lagi. Aku tersenyum mengetahui keberadaanmu kembali.

    Ketika ku datang, engkau sedang berdandan. Kedatanganku engkau sambut dengan senyuman. Senyuman cerah yang engkau bagi. Senyuman ayu menenangkan hati. Senyuman manis meneduhkan pandang. Senyumanmu ku sukai.

    Bertemu lagi setelah berjarak raga, adalah kebahagiaan yang ku alami. Ada rasa berbeda di dalam hati, dari sebelumnya. Rasa yang membuat senyuman lebih mudah menebar di pipi. Senyumanku pun terbit berkali-kali. Meskipun sudah sore dan sinar mentari perlahan memudar.

    Mentari. Sore-sore begini menjelang senja, biasa ku ajak engkau memperhati mentari. Meski tidak selalu, engkau memenuhi. Tapi, saat mentari begitu cantiknya dan godaanku manjur, engkau segera berlari ke arah teras. Ini sering terjadi, saat ku kembali dan menyapamu segera. Ketika ku dapati, engkau ada di dalam.

    “Hai, Scatzy, ayoo ke sini. Lihatlah, sunsetnya cantik dan menarik.

    Lalu, tanpa membuang waktu, engkau sudah ada di sisiku. Sehingga, aku tidak melepas kepergiannya sendirian, lagi.

    Selain itu, kita juga pernah terpesona dengan tampilan langit di tengah kelam. Selepas senja menjelang malam, ketika itu. Terlihat awan bergerak dengan kecepatan di luar dari biasa. Ditambah lagi gumpalannya yang ringan, melayang seperti kapas-kapas, ringan sekali.

    Sebuah fenomena alam dalam gelap malam yang kita syukuri. Seraya terus menerus melantun puji dan syukur kepada Allah yang menggerakkan awan, membuatnya indah dalam pandangan. Meniupkan angin, supaya awan berpindah dengan mudah. Menjadi pemandangan alam yang berkesan, bagiku.

    Engkau juga terkagum-kagum, menengadahkan wajah ke atas. Di ujung tatap, terlihat bebintang satu satu.


    Hari ini, engkau ada rencana menemukan sesuatu. Barang titipan untuk engkau bawa kembali ke kampung halaman. Dan seorang teman siap menemanimu menemukannya, teman sebaya denganku. Sebelum pamitan, tidak lupa engkau mengingatkanku, barangkali ada titipan?

    “Kak, mau ada nitip sesuatu? Apakah baso goreng, tahu bakar, mie ayam, nasi goreng, atau apa aja, nanti kita carikan,” engkau menawarkan kebaikan.

    Ketika tanggapanku engga ada, engkau masih bersedia mencarikan selainnya untukku.

    “Atau mau titip pacar, bisa aja,” tambahmu.

    “Oiyaa, mau, mau, Scatzy, yang berjanggut tipis yaaa…,” request-ku berseri-seri. Sambil menepikan aktivitasku sejenak.

    “Waahahaaaa, kalau janggutnya lebat yang bertemu, gimanaaa,” teman sebaya menambahkan.

    “Kalau begitu, berarti bonus, ckckCckk…,” senyumku pun menaburi pipi.

    “Siyaaph, nanti aku bungkusin satu yaa, kaaak,” balas Scatzy dan bersiap berangkat.

    “Okesiip, hati-hati di jalan yaa. Semoga selamat sampai di tujuan dan kembali lagi dengan senyuman. ๐Ÿ™‚ ,” ku melepasnya berangkat.

    Jangan malam-malam kali pulangnya yaa, gumamku di dalam hati saja. Karena ku tahu, ia mengerti jadual. Apalagi teman sebayaku, sungguh paham dengan waktu.

    Semoga tertemukan yang engkau cari, dear. Untukmu, untuknya dan semoga untukku juga. Terima kasih, sebelumnya.


    Dua jam kemudian, Scatzy dan teman sebayaku pun kembali. Mereka membawa buah tangan. Bukan yang berjanggut tipis seperti pintaku. Namun bulat-bulat kecil yang Scatzy bilang ‘engga ada janggutnya, tapi botak-botak’, mereka adalah para duku yang manis saat kami santap bersama. Yihaa.

    Berikutnya kami pun menikmati waktu lagi, bersama senyuman. Sambil melirik-lirik tayangan sinetron terbaru yang tayang pukul dua puluh satu tiga puluh. Menonton kali ini engga adem ayem, tapi penuh komentar, hahaaa. Sebab, ada saja yang kami uraikan terkait pendapat masing-masing, atas tema tayangan yang berlangsung. Menghiasi masa kebersamaan saja, bukan benar-benar menyeriusinya. Namun ada pengalaman dan pelajaran yang kami petik di dalamnya.

    Bersamamu lagi ada cerita tentang kita,
    -ttd-
    You and Me

    ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

    Like

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s