Hai Awan, Ini Tentangmu

Hai Awan. Iya, ini tentangmu. Engkau yang datang membawa senyuman, bukan wajah kelam memendung menjelang hujan. Namun berseri-seri, saat ku pandangi. Meski warnamu memang hitam, tapi manis saat ku perhati. Makanya, ku ingin mengingatmu, lagi.

Iya, engkau Awan. Engkau yang datang menemuiku, hari ini. Pagi-pagi sekali. Oiya, aku yang menemuimu atau engkau yang menghiasi hari ini dan ada aku di dalamnya, yaa?

Datangnya awan tak selalu berarti hujanDatangnya awan tak selalu berarti hujan. Buktinya kali ini, ia menitipkanku senyumannya, kawan…

Dear Awan. Pagi, ya, sejak pagi aku menyediakan waktu untuk memperhati langit timur. Dan tahukah engkau, ternyata di sana ada engkau. Warnamu kali ini memang tidak putih. Namun engkau masih memperindah tampilan langit pagi.

Aku senang memperhatimu, berlama-lama. Ditambah lagi dengan formasimu yang tidak bertumpuk-tumpuk, namun menyebar, menebar.

Melihat awan seperti ini, aku segera membentangkan badan di atap, lalu membiarkan angin yang sudah bertiup, menyejukkan pipi. Eits, ada lagi aktivitas tambahan yang ku syukuri, sambil sarapan, ini akan ku rindui lagi. Iyaak, sarapan di puncak atap. Ssyuuut, jangan bilang-bilang ibu kost yaa, nanti beliau patroli.

***

Dear, Awan, tepat saat ku merangkai senyuman ini, engkau telah pergi. Engkau sedang meneruskan perjalananmu ke sana. Untuk menemui sesiapa saja yang engkau prioritaskan.

Semoga perjalananmu lancar yaa. Esok, lusa atau kapan-kapan, silakan datang lagi. Untuk ku saksikan senyumanmu. Senyuman berseri, seperti tadi. Engkau yang menebarkan kemewahan pagi, dengan senyuman.

Hai, Awan. Engkau barangkali tidak menyadari, kalau aku memperhatimu, tadi. Makanya, selepas bicara sebentar saja, engkau langsung berlalu. Bahkan ku tidak sempat menanyakan banyak hal tentangmu. Tapi tidak mengapa, ku tahu engkau memiliki keperluan lagi.

Selamat jalan, Awan. 🙂 Ku melepasmu dengan senyuman di pipi. Senyuman yang engkau tinggalkan sebagian, untuk menemaniku di sini. Senyuman yang engkau bagi, supaya hari-hari ku pun ada hiasannya.

Dear, Awan. Memang kehadiranmu tidak menurunkan hujan, namun hanya menghiasi hariku. Akan tetapi, tahukah engkau bahwa, beberapa waktu setelah engkau berlalu, ada yang membuatku tersendukan. Hiks!

Bukan, ini bukan tentang engkau. Akan tetapi, tentang… bisa ku sebut saja sejenis petir yaa. Aku menemukan ada sejenis rasa yang menggelayut di ruang hatiku. Aku sungguh tidak percaya, ia bisa gitu sama aku. Tepat setelah ku mendengar suara yang sampai di indera pendengaranku menjadi seperti ini, “Duaarrrr!”

Petir ini, datang-datang tanpa sebab. Tanpa ada alasan mendung dulu, sebelum hujan. Engga. Tanpa ada alasan dulu ada tetesan air yang ramai dari langit. Engga. Ia tidak menampakkan tanda-tanda akan datang, sebelumnya. Tapi, sudah ada di depanku tiba-tiba. Ia datang membawa suara yang membuatku ‘hiks!’ seketika. Di dalam hati saja, awalnya.

Iya, rasanya sedih kali aku melihatnya. Walaupun ku coba melirik padanya, segera. Tapi ia tidak menurunkan nada suaranya. Aku sebbbaalll sama tipe orang kayak gini. Aku tidak bisa melawannya. Karena kalau ku lawan, aku akan menangis di depannya. Aku tidak mau, kali ini.

Ujung-ujungnya, ku diam, aku diam saja. Bahkan saat dia memanggilku. Aku tidak bisa tersenyum, karena hatiku jadi kelabu. Entah karenanya, atau karena hanya perasaanku, saja.

Huuuuuwah! Pedas rasa suaranya, meskipun tidak mampir di lidah ini. Membuatku ingin minum air yang banyak. Berat menjalani waktu seperti ini. Ditambah lagi, aku tidak sukaaaak, pedas. Karena kulit lidahku tipis sangat. Jadi sangat mudah perih dengan kepedasan.

Sebelumnya, aku bicara pelan, sopan, benar-benar dan serius, tapi ia tidak menanggapi semestinya. Malah berwajah yang sulit ku deskripsikan. Ia rupanya bercanda, tapi ku pikir bukan pada tempatnya bercanda. Akibatnya, aku d0ngk0l setengah mati. Iya, aku juga bisa. Akibatnya, ku tidak bicara lagi padanya. Aku pasang wajah terteduh, sebelum airmata terbit. Untunglah, ia tidak mendeteksi ekspresi sedihku. Yes, ku masih teringat berpikir jernih, xixii.

Sebelum ia pergi dan berlalu, aku sempat menanya padanya. Untuk meluruskan situasi. Supaya tidak ada luka di antara kami, agar tidak ada duka yang melengketi hati. Agar, keadaan kembali berseri-seri.

Ku bertanya padanya, sebenarnya ada apa dengannya? Atau apakah ada apa-apa denganku yang ia deteksi? Meski tidak bertanya langsung tentang hal ini. Dengan harapan, ku dapat mengetahui keadaannya yang sesungguhnya setelah ku sampaikan beberapa kata padanya.

Bertanyaku, dengan senyum yang terbit pelan-pelan. Ya, seperti munculnya mentari dari ufuk timur, kawan. Meski ia dan dirinya tidak ada senyum-senyumnya padaku. Hingga sampai pada sebuah kalimat, “Bagaimana halnya dengan yang ini…?”

Karena biasanya, dengan bertanya, tertemukan lagi pembuka pikiranku. Setelah ia memberikan jawaban, d0ngk0lku padanya perlahan memudar. Aku bisa tersenyum lebih terang, detik-detik berikutnya. Tersenyum saja pada diri sendiri. Meski wajahnya memang belum tersenyum, walau sebaris saja.

***

“Hai, apakah yang membuatmu bisa tersenyum lagi padanya? Bahkan sampai merangkai senyuman pula tentangnya? Apakah begitu pentingnya ia bagimu?” engkau bertanya.

“Begini. Aku mulai bisa tersenyum, tepat, setelah ku menerima beberapa baris kalimat yang ia suarakan. Ia bersuara tentang kekesalannya pada seseorang. Ya Rabb, imbasnya padaku, dech. Aku yang orangnya mudah terbawa situasi, tidak membaca ini lebih awal, memang. Akibatnya, yaa, aku jadi begini.

Aku tidak ingin menyalahkannya. Meski hujan turun di dalam hatiku.  Sebab, aku yang tidak mendeteksi ekspresinya sejak tadi.

Jelas saja, ia tidak membawa senyuman, ngapain juga ku perhati? Bukankah mestinya ku membiarkannya dengan dirinya? Ia yang asyik dengan pikiran yang ia bawa? Ah, aku belajar lagi tentang hal ini. Belajar mengenal ekspresi selain diriku.

“Lain kali, engkau bisa mengenali. Saat kondisi serupa engkau alami, dear me. Sekarang sudah tenang lagi, kan?” aku menyapanya.

“Iyyah, sudah, sudah. Udahlah ah, aku sudah menikmati waktu lagi, kok. Tidak usah mencemasi. Tenang saja, semua sudah berlalu. Petir pun sudah pergi. Kita bisa menempuh waktu lagi, tanpanya yang bisa kita jadikan alasan berubahnya suasana hati,” tanggapnya dan tersenyum padaku. Aku pun tersenyum padanya.

***

Tentang hal ini, aku masih harus peduli, hihii. Peduli sangat sama orang yang bersuara tinggi. Aku tidak akan betah menghadapi. Jika langsung meninggalkannya karena tidak sudi, bukankah namanya engga sopan, ya?

Kalau mendiamkan saja, malah membuatnya semakin asing jadinya. Maka bertanya padanya beberapa waktu kemudian menjadi pilihan. Karena bisa menjadi penengah antara aku dan dirinya. Jangan lupa senyumi. Begini ku mengingatkan diri.

Iya, seperti kasus yang ku alami. Seseorang yang menemui dan berhadapan denganku, membawa pikirannya. Setelah berinteraksi dengan seseorang lain, sebelumnya. Seseorang yang masih ia pikirkan tentang ekspresi dan sikapnya pada dirinya. Diri yang maunya mendapat perlakuan begini, namun di luar ekspektasi.

Eits, malah mendapatkan pengabaian, atau sejenis apa tadi yaa, beliau bilang… Hmmm udahlah, itu urusannya. Yang pasti, antara aku dan dia, tidak ada apa-apa. Aku dan dia baik-baik saja. Bahkan setelah kami berjarak. Selanjutnya, ia datang lagi, kami bisa berkomunikasi dengan baik. Sambil ku memperhati, ternyata, ia perlu menyelesaikan beberapa urusan penting, rupanya. Semua deadline hari ini, makanya…

***

Sejak ia berlalu dan ku menjalani waktu lagi, terpikirlah olehku lagi dan lagi. Apakah makna semua ini? Apakah sejenis reminder bagiku, atau padamu, barangkali? Iya, bisa jadi.

Karena tidak ada sesuatupun yang terjadi sia-sia, begitu saja. Adalah sikap kita mempunyai andil di dalamnya, saat menjalani. Akankah suasana terburuk yang mend0ngk0lkan kita jadikan sebagai alasan untuk memusuhinya? Atau, malah mempelajari latar belakang sikap dan ucapnya pada diri?

Bukankah kita tidak mengetahui, ia sedang memikirkan apa? Bukankah kita tidak mengerti, suasana hatinya? Apalagi ia datang tanpa senyuman di pipi? Tentu dan bisa saja ada yang ia bawa dan memberati.

“Tentang hal ini, belajar lagi yaa, dear me. Jadi, engkau tidak mudah-mudah saja mencap seseorang begini dan begini. Kecuali, mempelajari dan mengerti, dulu. Memahami dan mengenali, lagi. Okey, sist??” aku mengingatkan diri sendiri.

Suasana di dalam diri kita saja, mesti kita kenali dan kendalikan terlebih dahulu, sebelum kita mengendalikan orang lain. Agar, kita dapat berdamai dan beramah tamah dengan selain diri. Bukan malah menjadikannya sebagai sebab, mengapa diri kita jadi begini?

Engkau, ya, engkau yang masih menjadi bagian dari perjalananku di dunia ini, dear me. Bukan ku mengingatkanmu lagi pada situasi-situasi yang tidak engkau sukai, seperti ini. Namun, untuk mengembalikan kesadaranku lagi, supaya mau belajar.

Belajar mengenali diri, dan mengenali sesiapa selain diri. Tidak hanya mau dimengerti, namun belajar mengerti. Tidak hanya mau dipahami, namun belajar memahami. Tidak lantas memusuhi atas ketidaksukaan, namun menyabari, lalu memetik pelajaran.

Ya, bersyukurlah dengan segala keadaan yang engkau temui dalam perjalanan hidup ini. Ini tandanya, engkau masih hidup. Dan hiduplah sebenar-benarnya, bukan hanya ikut-ikutan. Jangan sampai, orang hidup, engkau pun hidup. Orang bernafas engkau pun.

Bukan begitu. Engkau bisa bertemu ketidaksukaanmu, tapi bagaimana menyikapi? Inilah yang membuat hidupmu menjadi lebih hidup. Begitu pun dengan keinginan yang belum menjadi kenyataan, pelajarilah, lagi. Bila semua keinginan dan kesukaanmu saja yang engkau temui dalam hidup ini, atau lurus-lurus saja, tanpa gelombang, tentu kurang asyik saat menjalaninya.

Bukankah riak-riak di tengah samudera menambah indahnya tampilan lautan?

Bukankah, air yang menggenang lama bisa bersarang jentik-jentik nyamuk di dalamnya?

***

Maka, fleksibellah, usah terlalu menyeriusi. Engkau juga sihhhh tadi ku lihat serius kali. Hiihiii. Serius padanya yang sedang membawa beban, membuatnya memberatimu, khan? Ah, engkau ini, membuatku tergeli saja. Bagaimana ku tidak menertawaimu lagi seperti ini?

Iya, aku tahu engkau begitu adanya. Just the way you are. Apapun yang terjadi, aku ada di sisi. I always beside you. And you, follow me, too, okey? Engkau bisa tersenyum lagi, bersamaku. Meski bagaimana pun cuaca menampakkan diri, tetap tersenyum yaa. Bukankah tadi, Awan berpesan padamu, bahwa kehadirannya tidak mesti membawa hujan? Lalu, ngapain engkau bisa hujan airmata gitu, setelah ia berlalu?

Awan pasti tidak akan rela, melihatmu menangis. Makanya, tersenyumlah… Semanis senyuman yang Awan titipkan padamu, sejak pagi. Tersenyumlah, bukan hanya untuk Awan, tapi juga pada sesiapa pun yang engkau temui hari ini, yaa.

Sudahlah, hapus airmatamu. Bukankah engkau ada hari ini untuk tersenyum pada dunia? Kalau engkau nangis, duniamu juga menangis, lho. Engkaupun tahu itu, bukan?”

Sekeping hati, sukses mengingatkanku, lagi. Ingatan yang membuatku tidak bisa membiarkannya begitu saja. Aku menghapus airmata dengan ujung jari, lalu tersenyum padanya. Meski kami tidak bertatapan, tapi ku merasakan, senyumannya ada untukku. Dan senyuman ini hadir, bersamanya yang tersenyum.

***

Dear Awan, pardon me, please…

Catatanku untukmu, berubah menjadi begini. Aku memang seperti ini. Mudah saja membawa-bawa situasi yang ku alami di sepanjang waktu merangkai catatan. Ini juga inspirasi, bukan? Dan kabar bahagianya dariku adalah, “Tentang senyuman yang terbit lagi. Meski sebelumnya airmata sempat menitik satu dua tetes, hari ini. Terima kasih untuk hadir dan mengingatkanku lebih awal, yaa.”[]

🙂 🙂 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s