Senyumanmu Tersenyum Padamu

Senyumanmu, tersenyum padamu

Mentari pun tersenyum

Hallo, teman. Senang, bertemu lagi di awal pekan yang tenang. Mengapa tenang? Karena suasana alam, sungguh sejuk, damai, adem, dan mentari belum menampakkan senyumannya sejak tadi. Bahkan sampai sore hari. Jadi, bawaannya teduh, gitu, di sini.

Bagaimana kabar berakhir pekannya, semalam, teman? Aku menyapamu begini, karena ada juga yang menyapaku, begini. Xixiixiii. 😀

Tepat, hari ini, ada seorang teman bertanya, “Semalam week end ke mana?”

Aku yang sudah mengerti, menjawab, “Engga ke mana-mana.”

Ia bertanya seperti ini, karena kami bersapa lagi. Ia adalah salah seorang tetanggaku di sini. Selanjutnya, aku berlalu dari hadapannya, untuk melanjutkan aktivitas. Setelah kami sempat beramah tamah, sebagai sesama tetangga.

Pertemuan lagi, setelah kami sempat terpisah masa, walau sehari saja. Namun jelas, ada yang kembali ku senyumi saat kami berjumpa lagi. Mereka yang sudah berjejer berbaris, seakan menunggu ku datang. Atau suatu ketika, mereka sedang duduk-duduk berdua, saling bicara. Terlihat dari jauh, duhai romantisnyaaaa, mereka. Tapi, tidak. Tidak begini, aslinya.

Mereka adalah dua orang pemuda yang memang harus berada di sana, bukan sengaja menungguku, yaa. Aku saja yang bisa-bisa menganggap kalau mereka menungguku, padahal tidak, adanya. Tujuannya supaya aku bisa tersenyum lagi. Begitu pun dengannya, yang segera ku sapa setelah mendekat, lalu mereka pun tersenyum.

***

Kalau di sini, ‘semalam’ berarti ‘kemarin’ atau yang ‘telah berlalu’. Begini makna yang ku tangkap, arti yang ku petik. Setelah merenungkan lama, memikirkan, dan bertanya. Lalu, menarik kesimpulan, setelahnya. Mengapa? Kok bisa?

Aku juga sempat bertanya-tanya. Saat awal-awal berada di kota ini. Ada teman yang bicara padaku begini, “Tahun semalam, gini… Bulan semalam, di sini juga. Semalam kamu ke mana aja? Semalam juga sudah ku kerjain sebagian, tinggal kamu lanjutin, yaa.”

Makanya, mendengar lagi tentang kata ‘semalam’ hari ini, ku jadi ingin membahasnya, saja. Lalu, menepikan dalam catatan. Berkebetulan, ku teringat lagi pada teman yang mengenalkan kata ini padaku, pertama kali. Teman yang membuat keningku tetiba mengerut, saat ia bicara menggunakan kata ini. Saat ia bicara, denganku, pikirku  langsung bertanya-tanya, “Mengapa ada tahun semalam, dalam kamus kata-katanya, yaa?”

Iya, aku teringat lagi dengan temanku tersebut. Teman yang pertama kali berbicara padaku dengan kata ‘semalam’ dalam kalimat-kalimatnya. Meskipun keadaan atau peristiwa yang ia maksud tidak malam hari.

Teman yang baru ku kenali, ketika itu. Teman yang bersuara tegas, namun lembut orangnya. Teman berwajah teduh dan bicaranya sedikit saja. Wajah tanpa senyuman yang sering menebar di permukaannya, kecuali sesekali. Pribadinya unik. Dan selama kami bersama yang hanya lebih kurang sepuluh hari saja, ia menitipkanku kesan tentang ketenangan. Ya, tenang saja bawaannya, kalau ku teringat padanya.

Sepanjang kebersamaan kami, aku belajar kosakata baru ini. Bagiku baru, memang. Sedangkan baginya bukan baru lagi. Karena ia sudah biasa memakainya. Hari-hari berikutnya, meskipun tidak berbicara dengannya, aku pun terbiasa menggunakan kata ‘semalam’ untuk mengartikan, ‘kemarin; yang lalu’ dalam percakapan dengan sesiapa. Sehingga telah lama-lama di sini, aku pun terbiasa. Karena belajar lagi dan lagi, hal-hal baru.

“Maksudnya gimana sich? Apa yang engkau pelajari lagi? Belajar-belajar aja, kapan pintarnya?” engkau bertanya.

Maksudku, begini.

Inti yang ingin ku petik dari percakapan kami dalam sapa pagi ini, adalah tentang bahasa. Terkadang, kita mengartikan bahasa seseorang yang kita dengarkan, sesuai persepsi kita saja. Padahal, ada arti lain dari bahasa yang kita dengar, tersebut.

Apalagi sebagai pendatang baru di sebuah wilayah, misalnya. Maka, kita perlu mengenali dulu, bahasa-bahasa yang biasa mereka gunakan. Supaya apa? Agar tidak timbul tanda tanya yang banyak. Tepat, saat kita berinteraksi dan bersapa dengan orang-orang yang ada di wilayah tersebut. Bagaimana solusinya?

Bertanyalah.

Tanya saja yang membuatmu bertanya-tanya. Pasti mereka, mau memberikan jawaban. Dan jawaban tersebut, membuatmu bilang, “Oooow, begitu tha, maksudnya. Aku pikir, engga gitu, tadi.”

Tuch, kan. Pikiranmu saja berbeda dengan yang nyatanya ada.

Seperti yang ku alami. Sebagai pendatang baru di kota ini dan ku bertemu dengan orang baru yang bicara denganku. Ku mengartikan ‘semalam’ yang ia sampaikan, sebagai tadi malam’. Sedangkan baginya, ‘semalam’ berarti kemarin. Maksudnya yang telah berlalu. Misalnya, tahun semalam, berarti tahun kemarin; tahun lalu. Bulan semalam, ya, bulan lalu; bulan kemarin. Sedangkan ‘semalam’ yang ia maksud adalah kemarin.

Inilah pengalaman baru yang ku petik, sejak awal berada di sini. Awal mula ku mengartikan ‘semalam’.

Ini baru satu kata saja, yaa. Bagaimana dengan adat budaya dan bahasa-bahasa indah lainnya? Begitu pula dengan karakter penduduk suatu wilayah, ya? Bagaimana dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada. Jelas saja berbeda dengan yang selama ini kita lakukan dan kita ketahui, tentu.

Bisa kita memperhati, yaa. Bumi ini luas. Penduduknya, beraneka ragam. Segala ada.

Pikiranku yang satu orang aja, bermacam-banyaknya. Bagaimana dengan orang-orang lain di sana? Mereka juga punya pemikiran masing-masing dengan cara pandangnya terhadap dunia. Lalu, mana bisa ku mempersamakan persepsiku dengan semua? Bagaimana ku tidak mau belajar lagi? Belajar memahami, mengerti, bertoleransi? Tentu saja dalam batasan sesuai kemampuan yang ku miliki.

Untuk orang-orang yang sudah ku kenal lama saja, ia bisa berubah suatu waktu. Lalu, bagaimana halnya dengan orang-orang baru yang belum ku tahu seluk beluknya? Makanya, perlu untuk meluaskan cara pandang, mengubah pola pikir, membuat diri ini kembali mau belajar, dan mengembangkan wawasan. Ini pelajaran penting yang ku petik, lagi.

Saat memasuki daerah baru, bertemu dengan orang-orang baru. Sedapat mungkin, ku pelajari dulu satu persatu. Tentang hal-hal yang pasti saja banyak tidak ku tahu. Dengan begini, hari-hari dan waktu yang ku jalani menjadi semakin penuh pembelajaran. Ini sungguh menyenangkan, bila ku mau, meneruskan perjalanan ini.

Jadinya, bertemu satu orang baru, adalah belajar hal baru. Berkunjung ke wilayah baru, belajar hal baru. Berjumpa lagi denganmu hari ini, teman, adalah hari baru yang sungguh-sungguh ku pelajari.

Semoga, di ujung hari, ada hal penting yang akhirnya ku genggam dalam ingatku. Selanjutnya, ku beraikan menjadi pengalaman terbaru. Ini, salah satu aktivitas yang sering membuatku terharu. Haru saja, karena masih mempunyai kesempatan meneruskan impianku yang lalu. Maka, mana bisa ku membiarkanmu berlalu begitu saja? Padahal engkau jelas-jelas ada dalam hariku?

Ku menghaturkan, terima kasih yaa. Untukmu teman, yang menjadi bagian dari hari-hariku. Atau aku yang menjadi bagian dari hari-harimu, yaa? Entah aku yang hadir dalam hidupmu, atau engkau yang hadir dalam hidupku… Kita bisa sama-sama belajar hal baru, tentu. Yuhu.[]

🙂 🙂 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s