Selamat Bermimpi Teman

Ingat sebelum lupa

Ingat sebelum lupa

Hai, teman.

Dari sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, dari gelapnya malam berhias cahaya bulan, diselingi kokok ayam jantan bersahutan, suara-suara jangkrik yang tak kelihatan, pernah juga berhiaskan suara kodok-kodok meminta hujan.

Ya, di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii…

Aku menyapamu, lagi. Sapaan yang semoga engkau hayati, sebagai bukti keberadaan diri. Bahwa hari ini, kita bisa bersama lagi. Semoga cukup untuk mengobati rindu yang tertahan.

Hai, teman.

Engkau yang ku rindukan. Tersenyumlah, tetap berbahagia, walau pun sekarang akhir pekan. Bergembiralah, walaupun aktivitasmu perlahan menyusut atau malah bertambah?

Ya, bahagialah sejak awal hari, ketika alam masih kelam tak bermentari. Tersenyumlah meski hari-harimu temaram belum bersinar. Dan tetap menjaga harapan, mentari kan hadir beberapa waktu lagi, tak sampai tahunan, hanya perlu kesabaran. Karena, masih ada yang bisa engkau lakukan, untuk masih membahagia jiwa. Di antara waktu-waktumu yang berharga, selipkanlah beberapa jenak untuk mengingat lagi.

Ingatkan diri, bahwa waktu yang ia miliki saat ini, adalah titipan terindah. Titipan yang semaksimalnya ia dayakan untuk beribadah.

Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah ia tinggalkan. Waktu yang semoga ia manfaatkan sebaik-baiknya dalam menyambut hari esok yang lebih baik. Mengapa?

Agar ia menghayati kebersamaan dalam waktu-waktu. Bersama siapapun. Supaya, sedesir kedon-gkolan dan keje-ngkelan saat menjalaninya perlahan sirna.

Walaupun tidak bisa terjadi begitu saja, memang. Tapi, ia bisa melatih diri, dari waktu ke waktu. Tidak bisa cepat, pasti. Namun, selagi masih punya kesempatan, bagaimana bisa tidak ia manfaatkan untuk membiasakan diri?

Membiasakan untuk mengingatkan diri lagi. Agar ia tidak jengk3l dan d0ngkol, namun bisa berbahagia dalam detik-detik waktu. Semudah itukah?

Iya, tidak mudah memang. Tapi, maukah ia meninggalkan hari ini dengan segenap keberatan tersebut? Bukankah waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi? Lalu, kesan seperti itu yang akan ia jadikan sebagai kenangan tentang waktu yang ia jalani?

Apalagi, usianya sudah tidak lagi belia. Ia yang bisa saja ngom3l-ngom3l, memang. Pada sesiapapun yang membuatnya menghembuskan nafas cepat, whhhuuush! Aku 53bbaaal, sama diaaa. Aku sedddih, menghadapinya.

Dia tidak pernah mengerti-mengerti yang ku maksud. Padahal sudah ku jelaskan, alasan ku melakukan semua ini. Tapi masih saja belum ia mengerti. Iiich. K3zzeell.

“Hei, teman. Segala ekspresimu yang terlihat olehku, malah membuatku tergelak. Engkau benar-benar tidak nyaman dengannya yang membuat harimu menjadi seburuk itu? Engkau tidak bisa lagi memberikan penjelasan padanya yang masih belum mengerti maksudmu?” aku juga sempat merasakan rasamu, meski secuil, adanya. Dan aku mengerti dengan ekspresimu.

Benar-benar keterlaluan, ia padamu. Aku mulai memahami sikapmu. Kalau pun aku yang mengalami, aku bisa saja berekspresi sama, sepertimu. Nah, karena ku memperhatimu memberikan tanggapan, ku jadikan pengalamanmu ini sebagai pelajaran. Seraya mengingatkan diriku ini.

Agar ia tetap senantiasa melangkah anggun dan menawan. Sekalipun ada yang membuatnya tidak nyaman. Sebab, dalam situasi apapun, bersama siapapun, tentu ada hikmahnya. Ada maknanya, teman.

Terima kasih yaa, untuk kehadiranmu hari ini, di depanku. Semoga, esok, hari-harimu menyenangkan. Begitu selanjutnya, ku untai selendang harapan untukmu.

Setelah ini, ku tahu engkau sedang melanjutkan perjalanan. Perjalanan hidup ini. Semangat menempuh perjalanan, yaa. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman.

Harapanku, kelak kita bertemuan, menghabiskan waktu dalam kebersamaan lagi, hingga berjaraknya kita tidak sedepa, nanti, senantiasa dalam lindungan dan ridha Allah subhanahu wa taala… Aamiin ya rabbalalamiin.

Tetap tersenyum, teman. Walau hari-hari yang engkau jalani terasa pahitnya. Meski asinnya membuatmu tidak sanggup menelan rasa-rasa yang ada. Meski getir itu sungguh tidak mengenakkan. Tapi, yakinlah, semua ada karena mereka bermakna.

Bersyukurlah, karena sudah mengecapnya sejak dini-dini. Sebelum usiamu beranjak meninggi. Karena, engkau bisa mengenalnya sejak awal. Sebelum ingatan berlalu meninggalkan diri. Sebelum tiada lagi kesempatan untuk merasa-rasai. Maka, enjoy it.

Sesakit apapun, jalanilah.

Kelak, setelah ia berlalu, ada yang engkau petik. Saat memperhatinya lagi, ada senyuman yang bisa engkau bagi. Untuk menjadi bukti, bahwa engkau pernah menangis saat menjalani.

Semua ada waktunya. Semua ada masanya. Cukup mempelajari, menyelami, kemudian membawa sisi baiknya. Sedangkan yang kurang bahkan tidak ada kebaikannya, silakan tinggalkan, setelah menoleh sekilas.

Miliki loyalitas pada diri sendiri, dan selamat berakhir pekan dengan bahagia, teman.

“Meski hidungku m3l3rr? Walau airmata terbit lagi? Hatttchiii! Hihiihiii. 😀 “eits ada yang nimbrung. Temanku di sini yang kurang sehat. Ia sedang rehat.

“Iyaak! Minum air putih yang banyak yaa. Terus bedrest seharian. Jangan ke mana-mana. Apalagi melirik-lirik mentari,” pesanku padanya.

Engga tahu dia nurut atau engga. Karena biasanya gitu.

“Semoga cepat sembuh, say… Biar kita bisa jalan-jalan lagi,” hiburku padanya yang kemudian memejamkan mata.

Aku menjaganya, tetap di sisi. Memperhati raut wajah yang tenang saat tak berekspresi. Ada bahagianya yang ku deteksi, dari baris+baris senyuman yang sesekali terlihat. Barangkali ia bermimpi, mimpi yang indah.[]

🙂 🙂 🙂

2 thoughts on “Selamat Bermimpi Teman

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s