Pasan Mandeh

Saat ini di sini, adalah kesempatanku untuk menyapa dan tersenyum padamu. Semoga hari Kamis ini manis dan membuatmu tersenyum menjalaninya. Sebagaimana yang berlangsung di sekitarku.

Padamu ku sampaikan, teman, “Terima kasih yaa, untuk masih ada, menjadi bagian dari hari-hariku. Bersamamu, hidupku menjadi lebih hidup. Sure, ku tidak tahu mau bilang apa lagi. Intinya adalah, ku bersyukur membersamaimu. Yups! Ini suara dari kalbu, tetesan tinta hati yang sedang haru. Huhuuhuuu. Aku terharu.”

Menyapamu lagi seperti ini, mengajak wajahku masih bisa kompromi. Ia malah tersenyum, ayu. Sedangkan pikirku? Apakah sama? Ia lagi mengingat apa?

Pasan mandeh, adalah nama sebuah tempat makan yang ku tatap tadi pagi. Tatapan yang membawa ingatanku nun jauh ke ujung sana. Tatapan yang mengajakku segera menepi dari langkah-langkahku. Untuk mengabadikan ingatan, lalu berhenti sejenak di sini. Kemudian, merangkai kalimat, tentangnya. Siapakah ia?

Ia adalah kalimat yang terbaca dan aku ingin menjadikannya sebuah catatan. Catatan yang membawaku pada ingatan pada pasan mandeh, sesungguhnya. Siapakah mandeh? Mengapa ada pasan?

Pasan adalah pesan.

Mandeh adalah ibu.

(Yang belum tahu, bisa tahu. Yang sudah tahu, makin tahu. Yuhuu. 😀 )

Membaca dua kata ini, aku langsung ingat ibu. Ingat pesan-pesan beliau padaku selalu, ada. Ada, selalu. Ada lagi. Lagi. Selalu. Beginilah yang segera berkelebat dalam pikirku.

Pikiran yang akhirnya penuh oleh pesan demi pesan beliau untukku, seorang ibu. Ibu yang jauh di sana, namun dekat dalam ingat. Apalagi saat menemukan kata seperti ini ‘Pasan Mandeh’, ketika ku sedang melangkah. Apa sajakah pasan mandeh untukku?

Ada banyak, teman. Banyak sekali. Sehingga ku tidak dapat menghitungnya. Walau begitu, ku kembali berusaha mengingat-ingat. Ingatan yang mengajakku tersenyum. Tersenyum saja, sambil melanjutkan langkah. Langkah-langkah menuju tempat beraktivitas, seperti biasa.

Langkah-langkah yang mempertemukanku dengan orang-orang tak terduga. Mempertemukanku kembali dengan orang-orang yang biasanya ku perhati, di jalan ini. Di antara beliau ada bapak-bapak tukang parkir. Berapa orang banyaknya? Apakah sebanyak pasan mandeh untukmu? Kalau bukan, berarti engkau masih dapat menghitungnya, bukan?

Di dekat sini, ada tiga orang yang selalu ku perhati. Namun, yang lebih sering adalah satu orang. Karena lapak beliau dekat di sini. Sedangkan dua orang lagi, agak jauh di sana. Jadi, apakah ada hubungan antara pasan mandeh dengan beliau, para tukang parkir yang engkau bahas?

Ada saja. Ini yang ingin ku ingat, juga. Ada pasan mandeh untukku tentang hal ini. Supaya aku, di mana saja berada, saat jauh dari beliau, baik-baik sama orang-orang yang ku temui. Siapapun beliau, apapun profesinya, seperti apapun parasnya. Meski orang yang tidak engkau kenal sama sekali? Iya, belum saja. Kalau kami sudah kenalan, bisa akrab juga, lihatlah.

Ku sempat memperhati ke ujung arah tatap, seseorang menanya saja, “Sibukkk??” Setelah ia menatap lama, sejak tadi. Tampaknya ia sedang mengawalku, mengawasiku. Kalau-kalau ada apa-apa. Maklumlah, di sini sunyi. Hiiiiyyy. Horooor. Walau siang hari dan terang, namun menguji nyali juga, lho. Hohoo. Karena bisa tiba-tiba ada yang menepi.

“Menghadapinya, bisa saja dengan tidak mempedulikan, dan jangan tatap matanya,” pesan temanku pada suatu hari. Pesan penting yang ku ingat saat sendirian di sini.

“Terima kasih teman, untuk mengingatkan sejak awal. Saat engkau tidak lagi di sisi, aku jadi terkenang padamu. Seperti ku mengenang pasan mandeh. Ketika beliau jauh dariku,” ku berbicara dengan diri sendiri.

Sebelum ku larut, engkau mencolekku, segera, untuk membuyarkanku agar tidak bicara sendiri tapi padamu, “Iyaaa, aku tahu. Engkau rindu sesiapapun yang jauh darimu. Lalu, apakah pasan mandeh lagi, barangkali harapan beliau padamu? Diantaranya bisa saja yang membuatmu mau tersenyum lagi?”

Dan beliau harapkan, orang-orang yang ku temui pun baik-baik sama aku. Ini juga pasan mandeh untukku, di antara suara beliau yang sampai ke indera pendengaranku. Pasan mandeh yang ku tulis sangat rapi, lalu ku gantungkan di dalam hariku. Supaya mudah membacanya lagi, kapan pun.

Lalu, apakah orang-orang yang engkau temui, baik-baik padamu? Trus, apakah engkau membaiki orang-orang yang engkau temui seperti pasan mandeh padamu?

Untuk membaiki sesiapa yang ku bersamai, sejatinya, aku berusaha. Namun aslinya, ada yang senantiasa memperhati. Terkadang bukan aku yang mengetahui, apakah ia sudah ku baiki atau belum. Ini tentang pengetahuan sesiapapun, di luar kesadaranku. Sepenuhnya ku menyadari, ada yang diluar kendaliku.

Sejauh ini, orang-orang yang ku temui, baik-baik padaku. Termasuk beliau yang ku temui, tepat setelah ku melewati tempat makan tersebut. Tepat setelah tulisan ‘Pasan Mandeh’ yang menjadi nama tempat makan tersebut, terbaca selintas.

Seorang bapak tukang parkir tersenyum padaku. Padahal sebelum ini, kami tidak ada senyum-senyuman. Paling cuma berpandangan saja. Tapi, hari ini berbeda. Beliau seakan menyambutku, saat ku sampai di lapak beliau. Tepat, saat ku lewat di lokasi yang menjadi wilayah kekuasaan beliau.

Apakah karena ku tersenyum pada beliau? Atau, mungkin perasaanku saja? Atau, bisa jadi karena beliau memperhatiku sejak awal? Sebelum ku benar-benar dekat ke arah beliau?

Sejak ku melangkah dari ujung jalan sana beliau sudah memperhatiku? Kemudian membaca perubahan ekspresiku dari detik ke detiknya? Aku yang langsung tersenyum setelah membaca ‘Pasan Mandeh‘? Entahlah…

“Lha, kok gitu? Bukankah ekspresi tersebut ekspresimu?” engkau bertanya.

Sudahlah yaa. Usah memperpanjang. Karena beliau terlihat berbahagia di mataku. Beliau yang tersenyum, membuat wajah tegas dan tegar tersebut menjadi lembut.

Beberapa detik berikutnya, aku sudah berlalu dari beliau. Setelah kami pandang-pandangan, lalu bersenyuman benar-benar. Ku meninggalkan beliau, dengan perasaan tenang, damai, dan pikiran teduh.

***

Iya, ini Kamis yang manis bagiku. Hari yang damai semenjak pagi, tidak ingin terlewat begitu saja, tentu. Sebab, sesiapapun yang ku temui, di sini, tersenyum manis. Senyuman yang membuatku juga tersenyum membersamai mereka semua. Iya, mereka semua tersenyum padaku, saat kami bertemu lagi.

Pertama, senyuman dari bapak tukang parkir yang terperhati, olehku.

Kedua, teman-teman yang bertemu tatap semenjak pagi. Mereka adalah dua gadis manis berkulit putih. Keduanya sama-sama tersenyum, menyambutku yang datang kemudian. Karena ia sudah datang lebih dulu, lalu berdiri, di tempat biasa kami berjumpa.

Ketiga, temanku yang datang lagi, untuk berkunjung, tersenyum juga. Ia adalah Aurora. Tidak seperti biasanya, kali ini, kunjungannya pagi-pagi.

“Aktivitasku hari ini sangat padat, Kakkk, makanya mau cepat-cepat. Karena masih banyak lagi yang harus ku kunjungi, dalam seharian ini,” ucapnya sebelum bangkit dan berlalu dariku. Setelah ia menyelesaikan urusannya bersamaku.

“Hai, Aurora, selamat melanjutkan perjuangan. Semoga lancar aktivitas akhir bulannya, yaa. Sampai berjumpa lagi,” ku melepasnya dengan senyuman. Senyuman yang ku bagi-bagi, sejak tadi. Senyuman yang mendamaikan. Seperti sinar mentari pada satu pagi yang lalu. Walau sudah berlalu, aku teringat selalu.

Pagi yang bergerimis ketika itu. Gerimis yang mendominasi alam, sebelum mentari datang. Selanjutnya mentari, pun menyinari alam.

Iya, setelah gerimis berlalu.

Kepergiannya, menyisakan langit pagi yang masih berawan, ketika itu.

Mentari yang menitipkan pesan tentang perdamaian melalui sinarnya yang tidak henti ku pandangi tanpa harus menutupi mata lagi, namun langsung pada lingkarannya. Karena tidak menyilaukan.

Sinaran yang menyejukkan hatiku. Sinaran yang meneduhkan kalbu. Sinaran yang masih ingin ku tatap, selalu. Makanya, ia ada menjadi bagian hari ini ku.

Damainya tatapmu, meneduhkan hatiku

Damainya tatapmu, meneduhkan hatiku

Seraya ku menyapanya, “​Dear mentari yang bersinar syahdu… Apakah engkau tahu piluku, semalam?  Apakah engkau mengerti haruku yang tak berkesudahan? Apakah engkau benar-benar tahu suasana hatiku terbaru?”

Pertanyaan yang tidak ia jawab sama sekali, membuatku tersenyum akhirnya. Iya, senyum saja. Menyadari siapa aku dan siapa dia. Kami berbeda, tidak sama. Ia tidak bicara denganku, meski ku berbicara padanya. Begitulah, tapi aku masih suka melayangkan tatap padanya.

Iyah, malamnya memang syahdu. Hatiku terjerat pilu. Tapi, paginya tentu, tidak. Karena suasananya sudah berubah menjadi haru. Iya, terharu saya, menyambut pagi yang mencerahi alam. Terharu saja, mensenyumi hari yang baru. Terharu saja di dalam kalbu, tanpa bisa menitikkan airmata di pipi. Meski aslinya, ada rasa yang ingin ku uraikan. Iya ke?

“Beeeeeerrb, gimana nulisnya ini. Kakak mau buat ‘iya kah’ tapi pakai bahasanya Beerb,” ku alirkan suara pada my Berbi sister. Kami yang terpisah kamar-kamar. Tapi, masih berdekatan. Sehingga, tidak perlu bersuara keras, sudah cukup terdengar jelas olehnya.

“Tulisannya, i, Y pake E spasi ka ha dan E nya satu aja,” jawab Beerb dari kamar sebelah.

“Okeee, jadinya ‘Iye khe?’ yaa,” aku bangkit dari duduk dan menuju ke arah Berb, my Berbi sister yang sedang baring-baring di kamarnya. Di depannya terbentang sebuah buku bergaris, ia sedang menulis sesuatu.

“Iye,” balasnya sambil menatapku sekilas. Lalu kembali meneruskan gerak jemari. Rupa-rupanya, ia sedang merangkai catatan privat.

“Beerreb lagi buat apa siich?” tanya ku lanjut seraya melangkah mendekati pintu kamarnya.

“Apelah kakak ni. Boleh tak, jangan ganggu,” sahut adiknya Berb, Inel namanya. Dia lagi bercermin menata masker natur-g0 agar menempel indah di sekitar hidungnya. Sedangkan my Berbi sister langsung mengambil ancang-ancang menutup catatannya. Agar aku tidak mengetahui yang ia tulis. Meski ku jauh darinya.

“Okelah,” ku melirik wajah Inel di cermin. Wajah yang tersenyum, tidak sempurna, jadi terlihat unik. Karena wajahnya tidak boleh tersenyum cantik. Aku memahami, setelah gagal menggodanya supaya tersenyum sempurna. Aku memutar diri dan bergerak menuju pintu yang terbuka lebar. Lanjut mendekati teras, menengadahkan wajah, dan tersenyum sumringah pada bulan separuh di atas sana.

“Malam yang bening,” bisikku pelan.

Syahdunya memperhati langit malam bersama bulan. Sedangkan bebintang terlihat berkelipan, mengedipiku. Pemandangan malam yang semakin cantik dengan awan-awan yang turut ambil peran. Sedangkan angin, bercandaan dengan lembar dedaunan. Mereka penuh keakraban. Memperhatinya saja, sungguh mendamaikan pikiran, meneduhkan perasaan. Selanjutnya, malam berlalu, dan esok paginya, mentari mensenyumi bumi dengan kedamaian sinarnya.[]

🙂 🙂 🙂

2 thoughts on “Pasan Mandeh

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s