Inilah Indahnya Melangkah

“Tampaknya kita duduk-duduk aja, yaa. Tapi kring-kringnya engga berhenti. Sibuk terus teleponnya, he,he,he,” ungkap salah seorang temanku. Tertawanya, khas. He. He. He. Kayak terputus-putus gitu. Tepat, setelah ia menerima panggilan, lagi, lalu terdiam sejenak. Untuk bernafas, lega.

Teman yang ada di depanku, menyapaku dengan ekspresi khasnya. Ekspresi yang ku iya-kan dan ku mensenyuminya, segera. Karena ia pun tersenyum padaku. Senyuman yang membawa kedamaian, pada siang hari menjelang sore ini. Sore yang lumayan sejuk, karena mentari tidak bersinar terlalu terik. Sore yang lebih sejuk lagi dan adem, bersama senyumannya.

Asyiik, hari ini aku tidak lagi sendiri seperti hari-hari sebelumnya. Hari-hari yang sempat ku jalani dengan diri sendiri, di sini. Maksudnya, sering tanpa pribadi selain aku, di sini.

Hii, ngeri juga kalau ku pikir-pikir. Membayangkannya saja aku tidak berani. Namun, saat menjalani, ya, menjalani saja dengan sebegini adanya. Mengapa ngeri? Karena akan ada yang datang tiba-tiba, membawa wajah menyedihkannya, lalu menampung tangan, sambil bilang, “Tolonnggg laaaaa… (saat pelakunya adalah seorang tetangga yang suka mengisengi. Biasanya).

Kengerian lagi, ketika datang orang-orang yang bicara saja, tanpa tahu dengan siapa. Makanya, berada di sini memang mesti dan harus dalam kondisi sesadar-sadarnya. Kalau tidak? Akan kaget, adanya. Lalu, bisa terdiam tanpa senyuman, lho. 

Hari-hari yang membuatku mesti merangkai senyuman dengan lega dan penuh cinta. Karena, tidak ada yang mengetahui, kesibukkanku yang tidak terkata. Mengapa? Iya, begitu lah.

Jadi, menjadi pengalaman yang lumayan luar biasa, bagiku adanya. Bagaimana tidak? Dengan begini, ku bisa mengenali karakter-karakter orang-orang baru yang ku sapa. Apakah yang langsung menemuiku, ku menyambutnya, atau kami tidak berjumpa, tidak bertatap mata, namun bertukar suara saja.

Dari pertemuan suara kami, ada-ada saja yang menyelipkan ingatan padaku untuk tersenyum. Ada juga yang mengingatkanku untuk mendata suara, secara tidak langsung. Bagaimana bisa?

Ketika ada di antaranya yang menjawab sapaku dengan, “Halluuuuuuu.”

Ia bersuara halusss, sangat. Seperti dibuat-buat. Apakah karena ia terinspirasi setelah mendengar nada suaraku? Aku pun maklum. Jawaban di sana yang membuatku langsung tertawa kecil, seketika itu juga. Padahal, mestinya kami serius. Tapi, kali ini, tidak bisa.

Iya, yang ada kami langsung menjadi akrab selayak kakak dan adik yang lagi bersapa saja. Dalam hal ini, mengapa ku langsung tertawa meski kecil? Karena ingatanku langsung menepi pada adikku di sana. Ia yang biasa menyambut sapaku dengan kata senada, “Halluuuuuuuu” ini.

Aih! Aku baru teringat, belum sempat menyentuh menu bekal makan siangku. Huhuhuu, sedicch khan jadinya, perutku kriukkriuk ini. Jangankan makan siang, minum airpun aku tidak sempat dalam sehari, sejak pagiii. Tidak biasanya begini.

Ya, aku baru ingat juga. Setelah melirik gelas minum yang tersedia, di tempatnya. Ia tidak berfungsi hari ini. Hiiiks banget, kan? Kalau begitu, baiknya ku puasa saja, lagi. Tapi, engga bisa, karena pagi-pagi udah sarapan, bersama tamu yang datang berkunjung.

Tapi, ada nuansa tersendiri yang ku rasakan, dengan kondisi begini. Ada juga hikmahnya yang ku perhati. Ada juga manfaatnya yang ku dalami, sedalam-dalamnya. Ada juga maknanya yang ku petik meski dengan kondisi perut belum terisi. Aha? Apakah benar, ada pesannya?

Ada, tentu saja.

Tentang hal ini, aku tidak mau terulang lagi. Cukup sekali ini saja. Selanjutnya ku bisa mengingat waktu. Tidak lagi dan lagi terasyikkan dengan kesibukkan, tanpa ingat yang seharusnya ku isi dan lengkapi. Tidak lagi terlupa untuk menambah ilmu dan pengalaman, termasuk membagi sebagiannya. Agar, ada juga yang ku jadikan sebagai kenangan.

Meski aktivitas padat merayap, sehingga tidak sempat bernafas lega? Ingat, ingat, engkau juga manusia biasa, dear me. Remember, please.

Ai, dalam pikirku, “Begini jugakah yang ia alami, teman-teman yang sempat ku sapa, ketika ia belum mau makan? Karena ia lebih memilih menyelesaikan aktivitas yang perlu ia kelarkan?” Kalau aku, beda cerita, bukan tidak mau, namun karena terlu-pa. Huwwwaaaaa.

Lalu, bagaimana untuk mengisi perut dengan makanan dan minuman? Bukankah ini pun kebutuhan? So, sesibuk apapun, sepelik apapun kegiatan, jangan lupa makan lagi, yaa? Jangan juga melupakan minum yaa? Supaya kesehatan terjaga, teman. Kecuali kalau engkau memang berpuasa, seharian. Jadi memang harus demikian adanya.

“Hai, mengapa malah melangkahkan jemari di sini, bukankah semestinya engkau menyantap menu, saaaaanaaaaa… Cepetaaan,” engkau mengingatkanku.

Tapi, aku tidak mau beranjak dari sini. Karena aku sudah memetik pelajarannya. Aku tidak boleh lupa makan, lagi. Makanya, catatan ini jadi pengingat buatku. Supaya tidak terjatuh ke kesalahan kedua, setelah kali ini bersalah pada diriku sendiri.

Baiklah, selanjutnya tidak akan ku bahas tentang keterlupaanku ini. Cukup menjadikannya sebagai pelajaran dan pengalaman. Supaya tetap menjaga kesehatan raga, bukan?

Seperti yang pernah engkau pesankan padaku, teman. Semoga engkau juga, yaa. Tetap menjaga kesehatan, tidak hanya raga. Namun, kesehatan pikiran juga, yaa. Kesehatan hati, apalagi. Begitu juga dengan kesehatan dompet, hihihiii. Sebab, dengan kesehatan semuanya yang terjaga, kita dapat melakukan aktivitas dengan leluasa, tanpa perlu lagi tersendat-sendat.

***

Haii, sebenarnya datangnya aku lagi ke sini, untuk menitipkan juga sekelumit ingatan pada hari lainnya yang berkesan. Ini tentang pertemuan. Pertemuan dengan siapa lagi yaa?

Hmm… coba ku ingat-ingat dulu, yaa. Kira-kira, pertemuan yang mana lagi yang membuatku ingin tersenyum menatapnya lagi, kelak. Tepat, setelah ingatan ini menjadi rangkaian senyuman seperti ini.

Kapan dan di mana bertemunya? Ada berapa orang yang ku temui, dan bagaimana kesan atas pertemuan kali ini? Apakah anak-anak, orang dewasa, remaja, atau karena menemukan diriku lagi? Atau menemukan diriku yang lainnya?

Kita melangkah bersama 015

Hendy dan Shindy’s smile for us

Ini adalah pertemuan kami yang ke sekian kali. Setelah hari-hari sebelumnya, kami suka berpapasan di jalan yang sama-sama kami tempuh. Terkadang kami jumpa di atas jembatan penyeberangan. Terkadang di jalan seberang, setelah ia menyeberang dan aku belum. Terkadang di jalan kecil, gang dekat sekolahnya. Terseringnya adalah di jalan raya yang banyak mobilnya. Tapi bukan di jalan pertemuan kami, kali ini.

Pertemuan kami pertama kali, di saat kami sama-sama mau menyeberang. Aku dan Shindy. Iya, sudah biasa juga. Kalau mau menyeberang, sering ku mencari-cari teman. Selain melayangkan pandang pada keadaan, sampai benar-benar sepi, baru menyeberang. Saat itulah, kami berpandangan, lalu bersenyuman, dan kami saling mendekat, untuk nyeberang bareng. Karena dari gerak-geriknya, ku kenali ia mau nyeberang juga. Lalu, kami sapaan, tapi belum kenalan.

Sedangkan dengan adiknya, kami bertemu setelah ke sekian kalinya, berpapasan di jalan yang sama-sama kali lalui. Saat Shindy dan adiknya melangkah bersama, maka kami pun berkenalan.

Aku menyapa, ia menjawab sapa dengan senyuman. Keduanya sama-sama murah senyum. Makanya, aku suka dan senang saja bertemu lagi dengannya. Termasuk kemarin sore.

Kami sama-sama melangkah dan bertemu, di jalan sama, lagi. Jalan yang kami lalui, sama, memang. Iya, makanya kami bertemu. Walaupun tujuan berbeda. Makanya, namanya berpapasan, yaa.

Pertemuan di jalan bertemunya kami lagi, adalah pertemuan kami yang pertama. Ternyata, mereka juga suka lewat di jalan-jalan berbeda. Hahaa, 😀 aku ada teman rupanya. Kalau kemarin sore ku tidak lewat di jalan ini, kami tidak mungkin berjumpa. Kalau ku masih lewat di jalan biasa, tempat kami berpapasan, kami tidak akan berjumpa, begitu yaa.

Hikmahnya:: Melangkahlah, di jalan berbeda lagi, hari ini. Maka kalau jodoh, kita pun bertemuan juga, bukan? Wahai adik-adik yang manis senyumannya.

“Hai, kita foto dulu yuuuu..” sapaku padanya. Saat kami sudah sama-sama dekat. Bagaimana mereka memberikan tanggapan? Mereka, langsung berhenti dan siap-siap ku foto.

Wahai, aku bahagia, karena mereka mau ku foto, ternyata. Meski awalnya ku hanya menyampaikan pinta, tanpa memaksanya supaya mau. Karena ia setuju, segera, ku membuka tas dan meraih hape yang tersedia baterainya. Supaya, ku bisa mengabadikan wajah mereka berdua, senyumannya yang menebar indah, dan ekspresi unik anak-anak yang tulus. Senyumannya, membuatku tersenyum.

“Kakak senang bertemu kalian, adik-adik, namanya siapa yaaa? (Aku lupa namanya, padahal udah sempat nanya, di pertemuan ke sekian kami) ” beraiku setelah sukses menangkap senyumannya.

“Salamannya Shindy, erat dan tegas. Sama seperti awal kami bersalaman. Ia calon pemimpin masa depan. Semoga adik Hendy dan adik Shindy bertumbuh menjadi anak-anak yang mudah tersenyum, sampai selamanya, di dalam usianya, lancar sekolahnya, yaa.”

“Baru saja dari mana, kok lewatnya jalan ini, sekarang?” lanjutku menanya. Karena memang tidak biasanya, kami berjumpa di jalan ini. Biasanya, kami berjumpa di jalan berbeda, jalan lain, di sana, lagi.

“Iya, Kak, barusan ambil tempat kue di sana,” jawab dik Shindy seraya melayangkan telunjuknya ke arah belakang sambil memutar wajah dan tatapan. Aku memaklumi, lalu tersenyum padanya.

“Oiya, nanti nyebrangnya di jalan atau lewat jembatan penyeberangan, kayak biasa?” aku kepoo yaaa? Hahaaa. 😀

“Lewat jalan, kak. Engga di jembatan,” masih jawab Shindy, sedangkan adiknya menemani kakak tersenyum.

“Oiya, Hendy kelas berapa dan Shindy kelas berapa?” tanyaku kepoooo lagi.

“Hendy kelas tiga,” jawab Hendy malu, tapi tersenyum.

“Shindy kelas lima, kak,” jawab Shindy menebarkan senyuman manisnya.

“Baiklah, baiklah. Kita berpisah lagi, yaa. Selamat melanjutkan perjalanan adik-adik. hati-hati nyebrangnya yaaa,” balasku. Lalu, kami pun berpisah. Aku melanjutkan langkah, sedangkan mereka berdua, juga.

Pertemuan kami tidak lama-lama, saat berpapasan di jalan, saja. Lalu, bersapa seperti semut. Ya, ala-ala semut berjumpa temannya, gitu. Inilah indahnya melangkah, untuk ku jadikan kenangan.[]

🙂 🙂 🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s