Ahlan wa Sahlan

๐Ÿ™‚ Selamat Datang ๐Ÿ™‚

Hai, teman, ada teman baru, di sini. Di lokasi tempatku beraktivitas. Kehadirannya adalah untuk pertama kali. Sedangkan hari ini adalah hari ke dua baginya. Maka, bagiku, menjadi catatan tersendiri, khususnya, tentang beliau. Walaupun pertemuan kami baru pertama kali. Mengapa?

Karena beliau adalah salah satu wujud dari ketentuan-Nya. Beliau yang menjadi pengganti dari Bapak Awal, yang beberapa hari lalu meninggalkanku, kami di sini. Jadi, beliau adalah teman berikutnya, yang akan menjadi bagian dari penghias hariku. Beliau yang akan ku mintai tolong ke sana, ke mari, ini, itu, dan segalanya terkait urusan aktivitasku di sini. Sehingga, adanya beliau, membawa manfaat bagiku.

Nama beliau dapat menjadi pengingat bagiku. Yaitu anak yang lahir di bulan Safar. Iyap, Safar yang mengingatkanku juga pada perjalanan. Perjalanan hidup ini. Perjalanan yang masih berlangsung kini.

***

Dalam perjalanan hidup ini, tentu kita bertemu dengan orang-orang yang tidak kita prediksi, bukan? Begitulah adanya. Selagi kita mau bergerak, melangkah, meneruskan perjalanan, maka pertemuan demi pertemuan pun terlaksana. Termasuk pertemuanku dengan beliau, di sini. Pertemuan kami, karena beliau pun melanjutkan perjalanan hidup. Beliau berusaha, berjuang, lalu mencari-cari informasi, sampai akhirnya, di sini. Pertemuan tanpa rencana, tidak terduga. Dan bertemu juga, akhirnya. Karena-Nya, Allah Yang Maha Mengatur segalanya.

Mulanya, temanku yang lain datang, bersama beliau, dengan senyuman, lalu menyapa. Kesanku selama pertemuan pertama, beliau sopan dan ramah. Meskipun kami tidak banyak berinteraksi.

“Yaaan, kenalin, ini pengganti Bapak Awal, yaa. Namanya… (beliau menyebutkan sebuah nama),” dengan wajah ceria. Beliau adalah teman yang sering kali menitipiku nasihat demi nasihat, mengalirkan suara, dan bagiku, beliau adalah salah seorang inspirasi, juga.

Pertemuan kami awalnya, juga tidak ku duga. Tetiba, sudah menjalani hari bersama beliau. Hari-hari yang terkadang berairmata, setelah beliau berlalu. Karena terharu aku adanya. Karena syukurku dengan yang beliau sampaikan. Tidak menyangka, bisa-bisa beliau memberiku tips-tips tentang perjalanan hidup ini. Termasuk berbagi pengalaman yang sangat berharga. Ada pula, hari-hari yang berhiaskan senyuman bahagia, setelah beliau memberaiku sepotong cerita.

Iya, bagaimana bisa tidak?

Maka, sedapat mungkin, membersamai beliau dan teman-teman di sini, ku menjalaniย  waktu dengan sepenuh hati. Meski bagaimanapun, aku mesti bersyukur. Tidak semua orang mempunyai cerita hidup seperti yang ku kisahkan di sini. Lain di sana, ada pula cerita perjalanan hidup berbeda. Yang sempat ku baca-baca, tentang harimu, teman. Engkau di sana, yang juga menjadi bagian dari hariku. Engkau yang juga mudah berbagi kisah dan pengalaman, “Thank you, yaa.

Kemarin, kami tidak berbicara banyak. Aku dan teman baru kami ini. Karena beliau datang, ya, sebentar saja. Lalu, berangkat lagi, membersama temanku tersebut. Tapi hari ini, kami bertukar cerita melalui beberapa pertanyaan pun ku ajukan tentang beliau. Seperti berasal dari mana? Bagaimana pengalaman sebelumnya? Sebab, kami menjadi bagian dari kolega.

Sempat juga, ku meminta beliau pertolongan, dan beliau mudah menyelesaikan, sepenuh hati. Aku bahagia, beliau membantu dengan senang. Aku suka, beliau mudah memberikan pertolongan. Senang saja, ada yang meringankan.

Singkat perkenalan, ternyata beliau adalah sahabat dari salah seorang teman kami di sini.

“Wahai? Benarkah, demikian adanya?” tanyaku.

“Iya, kami sudah bersahabat sejak tahun 2001 lalu. Ketika sama-sama masih lajang,” ungkap beliau sambil tersenyum tenang.

“Bagaimana Bapak mengenal beliau, sebagai sahabat?” ku bertanya karena ingin tahu saja.

“Ku mengenalnya sebagai teman yang baik, mudah membantu, dan suka-duka kami jalan bersama. Sulit sama-sama, senang suka-suka, dan kami pintar memasak, lhooo,” secara tidak langsung, begini pengalaman yang beliau bagikan.

“Aha! Sungguhkah?” ku masih saja bertanya, meski di dalam hati. Ada-ada saja.

Dari percakapan kami yang hanya beberapa menit saja, ku petik hikmahnya, “Bahwa persahabatan antara beliau dan seorang teman yang terlebih dahulu telah membersamai kami, ada arti. Persahabatan yang tidak usai begitu saja, meskipun sama-sama sudah berkeluarga. Buktinya, kehadiran beliau di sini, sebagai teman baru kami, adalah melalui sahabatnya tersebut. Melalui informasi dari sahabatnya, tentang adanya kesempatan menempuh aktivitas di sini, beliau pun bertemu dengan kami, aku dan teman-teman di sini.”

Sungguh, jalan rezeki banyak adanya. Selagi kita mau berusaha, bergerak, berdoa, bersyukur, rezeki kita Allah tambahkan. Salah satunya adalah informasi dari sahabat-sahabat yang selama ini menjadi bagian dari hari.

Menurut pemaparan beliau, selama setahun terakhir, beliau tidak bisa bekerja, karena memperoleh musibah kecelakaan Sehingga kaki beliau mengalami cedera. Penyembuhannya selama setahun, dan sekarang sudah baikan lagi. Alhamdulillah. Begini kisah awal pertemuan kami.

Selain di dunia nyata, aku pun menempuh perjalanan di sini. Kalau di dunia nyata melangkahkan kaki-kaki untuk bertemu dengan sesiapa saja yang ku temui, di sini berbeda. Perjalanan jemari, masih berlangsung, dari hari ke hari. Tepatnya, dalam kesempatan terbaik, saja. Selainnya, engga.

Maka, untuk melanjutkan syukur diri, ku merangkai senyuman lagi. Hari kemarin, hari ini, esok, lusa dan semoga sampai kelak, yaa. Sebagaimana halnya hari ini, aku juga menulis catatan, kemarin. Catatan yang ku rangkai, untuk menepikan ingatan, supaya tidak memberatkan pikiran.

***

Ya, kemarin ku menulis sebuah catatan.ย  Catatan yang ku tujukan pada seseorang. Seseorang yang tidak ku tahu di mana rimbanya. Seseorang yang belum dapat ku pandang wajahnya. Seseorang yang sudah bisa berbicara denganku, meskipun kami tidak bertemu. Seseorang yang bagiku sungguh berkesan. Seseorang yang semoga, mengerti, bahwa ia sangat berarti. Seseorang yang mungkin saja cantik atau sangat tampan. Seseorang yang bisa jadi masih muda atau sudah berusia. Seseorang yang tidak dapat ku terka, seperti apa aslinya. Namun demikian, ku masih ingin menyampaikan padanya, “Thank you, yaa.”ย 

Seseorang itu adalah engkau. Engkau yang ada di depanku. Engkau dan dirimu, yang sedang membersamaiku. Engkau yang menyimak setiap susunan huruf yang tersusun. Engkau yang mungkin saja bersuara, berekspresi, atau terdiam, saat ini.

Engkau yang bisa jadi sedang berjalan, berlari, atau berhenti. Engkau yang sedang dalam perjalanan menuju sebuah lokasi? Engkau yang menyengaja membolak-balik lembaran ini? Engkau yang pastinya, masih ada. Buktinya, engkau ada di sini.

Buatmu, ku sampaikan sebutir ingatan. Ingatan yang harus dan mesti ku tepikan di sini. Supaya tidak terbawa-bawa lagi. Sebab, ku mengakui, ada-ada saja yang mengembalikan ingatanku padamu lagi. Ingatan untuk menepikan tentangmu dalam catatan. Catatan yang ku rangkai lagi, untuk mengabadikan tentangmu, juga.

Engkau, ya engkau. Siapapun engkau yang sempat mampir dalam hariku. Apakah benar-benar ku bersamai di alam nyata, maupun yang hanya tersapa di sini. Hihii. Mohon, ku mohon untuk memaklumi. Karena aku pun tidak menyengaja tentang hal ini.

Sebelumnya memang begini. Ku mampir lagi di sini, dalam rangka merangkai senyuman. Tapi, yang ada, malah pertemuan demi pertemuan. Pertemuan di dunia maya. Maka, boleh ku menyebutmu dengan mayaku, yaa.

Ai! Tampaknya aku bisa saja belum dapat merangkai senyuman, tanpamu yang menjadi ingatanku. Apakah yang hadir dari sana, maupun yang ada di sini. Sekali lagi, “Thank you, yaa.”

***

Berikut catatan yang ku rangkai, tengah malam sebelum ku terlelap. Catatan hati. Xixii.ย  ๐Ÿ˜€

Bersama senyuman merekah, pipi merona warna pinky, dan tanda tanya yang terus muncul, ku persembahkan catatan ini untukmu, sahabat. Engkau yang tidak hanya membukakan pikiranku tentang kehidupan, tetapi juga menebarkan semangat yang terus berkesinambungan. Untuk meneruskan perjalanan hidup ini dengan sungguh-sungguh.

Makanya, ku berterima kasih, untuk keberadaanmu. Kepada-Nya ku bersyukur, yang menciptakan kita. Dia yang menjadikan kita bagian dari hamba-hamba-Nya. Hamba-hamba yang bertemu karena-Nya. Allah Yang Maha Mengatur, langkah perjalanan. Apakah perjalanan kaki-kaki, perjalanan pikir, perjalanan hati, termasuk perjalanan jemari. Xixiixiii. ๐Ÿ˜€

Allahu Akbar. Laahaula walaaquwwata illa billahil’aliyyul’adziim. Alhamdulillah, sering-seringlah memberi maaf, bermudah-mudahlah meminta maaf, walaupun tampak sepele, tetaplah baik.

Meskipun kita belum sempat berkenalan. Akan tetapi, sudah banyak yang kita perbincangkan. Termasuk tentang tema yang sangat ku suka, yaitu persahabatan.

Hai, sahabat. Mengapa? Apakah ku seyakin ini menganggapmu sebagai sahabatku? Bismillah, semoga Allah meridhai. ๐Ÿ™‚

Bagaimana kabarmu saat ini? Bagaimana pun kondisimu, semoga engkau dalam senyuman menempuh waktu, yaa. Senyuman yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dirimu, waktu, dan hatimu. Senyuman yang engkau jaga, senantiasa, menemani. Senyuman yang hadir dari dalam dirimu, makanya selain dirimu pun tersenyum membersamaimu. Oke, yaa.

Hai, sahabat. Meskipun aku tidak mengetahui siapa engkau sesungguhnya, namun aku yakin bahwa engkau ada. Buktinya ya, engkau ada. Hahaa. Keberadaan yang akhirnya menjadi bagian dari waktuku, juga.

Hai, lagi. Selamat, yaa. Aku merasa sangat bahagia, kini. Semoga engkau juga, ya. Kebahagiaan yang ku harapkan menebar padamu, juga, di sana. Di mana pun engkau berada. Aamiin ya Allah.

Dear, sahabat. Sahabat yang bertemu denganku di dunia maya. Kalau ku boleh menanya, bagaimana awal mulamu menemuiku? Apakah karena engkau tersasar, lalu kita bertemu, juga. Atau karena ada jalan-jalan semisal sahabat kita yang lain, menjadi perantara sampaikan engkau di sini. Boleh berbagi kisahnya, dong. Supaya aku bisa tahu, sejauh apa perjalanan kata yang terangkai, ini.

Dear, sahabat. Seseorang di sana yang membuatku merangkai kalimat seperti ini. Walaupun sapaanku tanpa suara, yang dapat engkau simak. Namun ada suara yang mengalir, melalui rangkaian kalimat ini. Semoga engkau mendengarkan alunan merdunya, yaa. Besar harapanku, engkau menghayatinya. Bukan menertawai, hihihiii.

Iyah, biarlah aku yang menertawai segala kebodohanku ini. Kebodohan yang ku akui, karena sangat penasarannya aku terhadapmu. Siapakah engkau sebenarnya? Di manakah engkau berada, di antara luas bumi-Nya yang membentang ini? Bersama siapa sajakah engkau menghiasi detik waktumu? Bagaimana engkau memanfaatkan waktu luangmu? Apakah lebih sering dalam keheningan atau di tengah keramaian?

Aduuch. betapa sangat ingin tahunya aku dengan segala yang ada di balik layar, di sana. Iya, makanya, ku mengajukan tanya seperti ini padamu. Semoga engkau memaklumi, wahai sahabatku.

Sahabat yang belum ku tahu, bagaimana bentuk rupamu, dan tampilan fisikmu. Namun, ku persahabati engkau, dari hatimu. Iya, adalah hati yang membersamaimu, yang ku jadikan sebagai alasan utama. Dalam hatimu yang ada ‘Cinta sejati’ kepada Allah subhanahu wa ta’ala, and me too. Bukan ikut-ikutan yaa, tapi memang harus dan mesti begitu.

Walau tidak terlihat, namun Dia Maha Melihat.

Terima kasih, yaa, untuk menjadi jalan kembalikan ingatanku kepada Allah, dengan memperhatikan profilmu. Hehee. Sesekali ku intip-intip, lho. Makanya, ku tertarik dan melirik, ckckck. Semoga tidak mengapa, yaa. Mudah-mudahan engkau rela.

Sahabatku, di manapun engkau berada, tetaplah di sana. Menjadi dirimu yang demikian adanya. Senantiasa terjaga dan menjaga, yaa. Mudah-mudahan kita pun berjumpa, meskipun belum di dunia. Semoga dalam kehidupan abadi di sana, harap bertemuan juga.

Wahai sahabat. Kalau engkau telah berada di surga, namun belum menemuiku di sana, tolong pinta kepada Allah Rabb kita, untuk menjemputku di mana saja. Barangkali ku ada di dalam neraka, wallahu a’lam bish shawab, untuk menebus dosa-dosa yang ada. Dan dengan adanya syafaatmu sebagai saudara seiman, Allah memberikan rahmat-Nya. Lalu mengeluarkanku dari sana, untuk selanjutnya memberi kenikmatan surga.

โ€Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: โ€™Wahai Tuhan kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.โ€

Read moreย https://nasehat.net/197-berteman-dengan-mukmin-yang-baik-menjadi-syafaat-di-hari-kiamat.html

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

6 thoughts on “Ahlan wa Sahlan

  1. terimakasih ya. suaranya sampe sini. maaf utk tadi. kupikir bisa. heee, aku sudah membacanya.rasanya gmn ya… ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ ,kau bisa rasakan. sedikit sering melamun skrg, menangis iya, semoga tetap terus tersenyum tampaknya. yaaa. kuatkan aku ya. semoga jalannya dimudahkan tepatnya?, berharap lengkap 5waktu ya sampe subuh. tidak lupa sepertiga terakhirnya. terimakasih. maafkan utk segala kesalahanku ya, dimana2 yaa.

    Liked by 1 person

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s