Kita Bersahabat

Sahabat itu menyinari, seperti mentari

Sahabat itu menyinari, seperti mentari

​Sahabat itu seperti satu jiwa di dalam tubuh berbeda.

Sahabat itu seperti banyak orang di dalam satu tubuh.

Sahabat itu seperti semut, yang saling bekerjasama, menguatkan, tolong menolong, penuh kebersamaan, tidak meninggalkan meski berjauhan, tidak mendiamkan saat bersama.

Sahabat itu, saling memudahkan urusan satu dengan lainnya, tanpa memberatkan. Ia terkadang berani mengambil risiko demi memudahkan sahabatnya. Bila risiko gagal, ia yang akan menjadi korbannya. Sebagai seorang sahabat, ia tahu sejak awal. Akan tetapi, ia memang siap untuk itu. Mengorbankan kepentingan diri sendiri, demi kelancaran urusan sahabatnya.

Alhasil, sahabat menjadi lebih tahu diri. Setelah mendapatkan kemudahan, maka ia memberikan kemudahan yang bahkan lebih membahagiakan sahabatnya. Dengan penuh kerelaan, ketulusan, senyuman. Karena ia senang, mempunyai sahabat.

***

1. Bersahabat dengan diri sendiri

Bersahabat dengan diri sendiri, awal hadirnya persahabatan dengan sesiapa di luar diri. Mengapa? Ini bukan hanya teori, namun bisa menjadi pengalaman asli.

Saat sahabat bersikap tidak bersahabat, oleh satu situasi tertentu, jangan malah menyalahkannya. Pahamilah, bagaimana sahabat bisa demikian. Koreksi diri, bertanyalah dan introspeksi.

Saat sahabat kecewa, barangkali perkataan kita belum ramah dan sopan padanya. Sedangkan ia tidak suka. Saat kita berjanji, namun mengulur-ulur, sehingga sahabat jadi menanti. Maka, ingat-ingatlah. Kira-kira, adakah dari diri kita yang masih belum pantas terhadap sahabat? Sehingga sahabat menjadi tidak bersahabat.

Sahabat, tetaplah dirinya yang berseri-seri, di sana. Ai! Buat my friend, happy day di sana, ya. Terima kasih atas bantuannya, senyuman leganya, setelah sempat terdeteksi kecewa olehku. Huhuuhuuu, pardon me, please. 😉

***

Di sinilah ku melangkah saat ini. Melangkahkan lagi jemari, untuk bersinergi dengan sesiapapun di sana. Pribadi-pribadi lain yang tidak dapat ku tatap matanya, ku pandangi senyumannya, namun pertemuan kami hanya via suara.

Di sini, ruang sukses namanya. Sambil duduk manis, sesekali ku bersuara. Kalau lebih sibuk, lebih sering lagi bersuaranya. Padahal, aku khan pendiam aslinya? HaaH? Jadi, bagaimana ini?

Aku belajar, dong yaa. Aku berani-berani saja menyapa sesiapa di sana. Dan akhirnya terdeteksi dari nada suara, bagaimana rupanya.

Rupa yang ku perkirakan melalui suaranya. Apakah orangnya tinggi, manis, berlesung pipit, atau tidak berjerawat? Apakah matanya belo, atau sedikit sipit? Apakah ada tahi lalat atau engga?

Untuk sampai di sini, tidak terjadi begitu saja. Aku perlu melangkah terlebih dahulu. Melangkahkan kaki, mengayunkan tangan. Setelah di sini, hanya jemari yang berlari. Semoga ia tidak kelelahan, seperti kaki-kaki yang sempat mengeluhkan kelelahannya.

“Aaakh, sebentar, yaa. Mari kita atur ulang niat, awal melangkah, tadi. Yaa, kaki-kaki,” bisikku padanya. Saat ia terlihat mengurangi kecepatan. Sebelum ia bilang, aku lelaaah.

Sebelumnya … ada yang terpikirkan olehku. Begini.

Hari ini, lewatlah di jalan berbeda, menuju tempat aktivitas. Ini pun kalau engkau berjalan kaki untuk sampai ke sana. Berbeda ceritanya bagi yang berkendaraan. Tentu jalan yang engkau lalui bisa saja sama dengan sebelumnya. Namun bisa memilih jalan berbeda juga. Terserah pada diri kita masing-masing, dan ini adalah pilihan. Pilihan baik yang menjadi hak kita. Hak azazi dalam perjalanan.

Iya, lewatilah jalan berbeda dari kemarin. Tempuhlah rute tak sama dengan sebelumnya. Walaupun lebih jauh, tidak mengapa. Meskipun bersimbah peluh. Karena mentari yang menunjukkan kekuasaannya, boleh saja. Namun, engkau masih terus melangkah di jalan tersebut. Jalan berbeda dari sebelumnya.

Saat berjalan, aku sering memperhatikan sekitar, lalu merenungi. Menghayati langkah-langkah, kemudian menemukan hikmah. Kalau aku melangkah seperti ini, kira-kira ada hikmah apa, yaa?

Menempuh jalan baru, tentu menghadirkan nuansa tersendiri, bukan? Jalan dengan pemandangan asing dan suasananya. Walau pun segala yang ada di jalan tersebut, bisa saja ada yang mirip dengan jalan yang pernah engkau lalui. Seperti jalan beraspalnya. Akan tetapi, tentu pepasir yang berserakan di sana, tidak sama dengan pepasir di jalan lain, bukan? Pepohonan juga, sama-sama ada. Akan tetapi, tingginya tidak serupa, bukan? Jenis pohonnya juga tidak sama, bukan?

Begitu pun dengan rumah-rumah dan gedung-gedung yang engkau pandangi dari sisi jalan. Ia ada sebagai tempat bernaung bagi penghuninya. Akan tetapi, ada perbedaan antara rumah satu dengan lainnya. Apakah warna-warni catnya, luas dan lebar halamannya, bebungaan yang tumbuh di depan rumah, termasuk jenis atapnya. Tidak semua rumah berhalaman luas, tidak semua rumah bercat cerah. Tidak semua rumah ada pagarnya, tidak semua rumah bertingkat-tingkat.

Dari perbedaan demi perbedaan tersebut, hadirlah ingatan. Ingatan untuk menemukan hikmah dari langkah-langkah. Sedapat mungkin, hayati langkah-langkah, kuasai diri dalam berekspresi. Sesuaikan dengan keadaan, tidak berlebihan.

Inilah seni melangkah. Kita bisa saja masih berjalan, melangkahkan kaki. Namun, menemukanlah pelajaran dan hikmah di dalamnya, menjadi luar biasa rasanya. Melangkah sekaligus menyelami lautan pengetahuan yang tidak tertulis dalam susunan kalimat yang berbaris rapi. Menghirup kesegaran yang tidak dapat terbayangkan, bila tidak menjalaninya langsung. Ada aroma wangi yang tidak ada bandingan keharumannya.

Iya, terkadang saat melangkah, ku memilih jalan berbeda. Sehingga bervariasi. Terkadang melewati jalan luruussss dulu. Saat ketemu simpang, lurus lagi, ketemu simpang, lurus lagi, lurus, lurus dan lurus. Sampai semua persimpangan terlewati. Nyampai dech.

Lain waktu, ku memilih belok kiri dulu, lalu lurus, belok kiri lagi, lurus, belok kanan, belok kanan, belok kiri, belok kanan, luruuuuss, nyampe juga akhirnya.

Lain hari, aku memilih belok kanan dulu, luruussss, lalu belok kiri, lurusssss, dan belok kanan, lurusss, lalu belok kiri, luruuuuus, hingga sampai di tujuan.

Pagi tadi, ku merasa melangkahku yang belum sampai-sampai, padahal sudah lama juga berjalannya. Masih melangkah, tanpa mempercepat atau mengurangi kecepatan. Hanya melangkah, menikmati keadaan sekitar. Karena memang ku perkirakan, waktu melangkah.

Misalnya dua puluh menit kalau lewat jalur I. Lima menit kalau lewat jalur II. Sepuluh menit saja kalau lewat jalur III. Dan tidak sampai lima menit sudah sampai, kalau lewat jalur II karena lari-lari kecil.

Jalur II ini, ada d-o-g-g-y yang suka mejeng di depan rumahnya. Jadi aku sangat jarang lewat jalur ini. Hanya sesekali saja. Kalau ku lagi berani-beraninya. Sambil ngintip dulu dari kejauhan, tapi. Apakah d-o-g-g-y nya lagi bersantai di jalan depan rumah pemiliknya, atau di balik pagar dalam. Kalau iya, artinya aman bagiku. Sedangkan melewati jalur lain, aman-aman semua. Hanya saja, lebih jauh dari jalur pertama dan yaa, melelahkan, seperti yang terjadi berikut.

***

Seperti semut, mereka sangat kompak. Selalu bersapa, sering bermusyawarah. Bila ada yang mau berpaling arah, ada lagi yang menarik untuk mendekat. Supaya tiada yang melemah sendiri, namun saling menguatkan. Ketika ada yang mengeluh, yang lainnya mengingatkan, supaya bersyukur.

Tidak bisa mengeluh, namun bersabar. Tidak boleh berhenti, namun tetap melangkah. Walaupun ada yang lelah, yang lain memberikan asupan gizi dan energi. Sehingga si lelah tidak merasakan lelahnya lagi. Di perjalanan pagi ini, terjadilah percakapan di antara mereka. Siapakah mereka?

Mereka adalah kaki-kaki yang bertugas melangkah, sekeping hati yang menyemangati, selembar wajah yang tersenyum, dan jemari yang tidak hanya berdiam diri serta pikir yang bersuara. Semua ada pada tugasnya masing-masing. Ketika kaki-kaki masih melangkah, yang lain tidak tahu kelelahannya, kalau saja ia tidak bilang.

“Nah, inilah momen berbagi. Aslinya aku mulai lelah. Jadi, engga mau lagi melangkah. Tapi, bagaimana bilangnya yaa. Karena kami masih di perjalanan. Akankah ku berhenti begitu saja, tidak lagi bergerak? Bukankah tujuanku adalah sukses yang sedang menanti? Kalau ku henti, kami engga sampai-sampai dong, yaa. Apalagi kalau berbalik arah. Wah, ini bukan yang kami mau. Senyuman manis sekepinghati di ruang sukses yang terukir beberapa saat lagi adalah salah satu yang ku tuju hari ini. Ya, di ujung sana sukses menanti sekepinghati datang lagi. Demi Siti… sekepinghati,” Kaki-kaki bergumam.

Gumam yang semua sahabat terdekat mengetahuinya. Karena ia tidak sendiri dalam melangkah.

“Yups! Siip, mari kaki-kaki, kita bergerak sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah. Iyaah. Engkau lelah, aku tahu. Tapi, aku belum lelah. Hahaa. So, ikut denganku yaa. Tidak akan ku biarkan engkau rebah. Makanya, ku ajak engkau menghadapi hari ini. Engkau bisa sumringah, dengan sumringahku. Ku berikan engkau secuplik hikmah yang akan membuatmu bergerak lagi dan lagi, esok, kapan-kapan, tanpa mau bilang lelah. Sip, yaa. Siap yaa,” sekepinghati menyemangati.

“Iya, iya, kita semua bisa kalau kita yakin. Aku juga, walau keringat membanjiri, tapi aku masih mau tersenyum,” selembar wajah tak lagi manyun. Ia menarik dua ujung bibir berbarengan. Senyumannya pun terbit.

“Aku juga, engga apa-apa harus menepikan keringat berkali-kali dari pelipis, hidung, dan pipi-pipi. Aku engga bilang lelah. Nanti, demi senyumanmu juga, aku rela melangkah lagi. Saat kalian semua berehat, senyum-senyum. Tapi tidak denganku. Demi kebahagiaan kita, ku rela tetap dalam pergerakan,” bersuaralah jemari. Ia tidak mau kalah dengan teman-temannya. Karena ia juga berarti. Hihiii.

“Sudahlah, sudahlah, jangan saling mengandalkan diri sendiri. Tanpa kebersamaan dan kerjasama yang baik, maka senyuman manis di ruang sukses mana bisa kita jalani,” pikir bersuara.

“Baiklah. Saatnya melangkah lagi,” kaki-kaki pun semangat melangkah. Ia menyadari, masih ada teman-teman selain dirinya. Di sisi, sangat dekat sekali, malah. Di diri, tidak terpisah.

Ia melangkah bukan tanpa tujuan. Karena ada yang mengingatkannya lagi, dalam melangkah. Ada yang bisa ia bahagiakan, melalui langkah-langkah yang mengayun. Ada yang tersenyum, kelak ia tidak melangkah lagi. Karena sudah sampai di tujuan. Namun, selagi belum sampai, dan masih ada yang ingin ia sampaikan pada tujuan, maka, mana bisa menyerah begitu saja? Kalau tidak ingin mengecewakan, maka bergeraklah. Melangkahlah, meski lelah.

Melangkah ke lokasi tertentu dan tujuan tertentu, kaki-kaki mau saja bergerak. Namun untuk keperluan yang tidak tentu, ia bisa saja tidak mau bergerak sama sekali. Sekalipun teman-temannya yang lain tidak henti mengajaknya. Sekalipun sudah berulangkali ia sampaikan, aku ingin rehat saja. Bukankah sebelum ini ku sudah bergerak juga?

“Hmm, kalau begitu, silakan. Terserah. Kini, giliranku yaah yang menari-nari. Walaupun engkau berjuntai membahagiakan diri. Awas, engkau bisa kesemutan, lama-lama dalam posisi serupa. Sesekali, bergerak juga, yaa. Apakah hanya sekadar mengalihkan pikiran yang sebelumnya konsentrasi, atau menghirup udara segar melalui jendela. Sesekali, pergilah juga ke sudut ruangan, untuk memperhati. Barangkali, di sana ada inspirasi. Dan kemudian kita merangkainya menjadi bait-bait puisi,” tanggap jemari.

“Iyaa, iya, demi bahagiamu, aku akan segera melangkah lagi. Sekarang, silakan melanjutkan aktivitas, yaa,” kaki pun tersenyum, berselimut, dan tidak bangun-bangun, sampai ada yang menggerakkannya, lagi. Seringnya, ini terjadi malam hari.

***

Akan tiba hari, ketika engkau perlu menyemangati dirimu sendiri. Ketika tiada sesiapa di sisi yang biasa menyemangati. Saat tetiba terjadi yang di luar kendali, di luar harapan dan keinginan. Saat keadaan berada di luar impi. Maka, sapalah diri lagi, sampaikan padanya.

Misalnya, saat ia bersedih dan tidak bisa bicara dengan sesiapa, “Bukankah selama ini kita juga sering bersapa? Sebelum keadaan yang seperti ini kita alami juga? Apakah engkau tidak ingat, bagaimana perjuangan yang kita tempuh. Apakah engkau ingat, dalam kondisi terpelik kita juga saling bercakap? Tidakkah engkau ingat, betapa untuk kembali bangkit sebelum rubuh membutuhkan kekuatan yang penuh? Bukankah kita tidak benar-benar bisa menghadapi semua ini dengan diri kita sendiri? Maka, hayo, bersikap biasalah, jangan terlalu drama. Kalau nangisnya jangan lama-lama yaa. Oke, sist?” Dijamin, ia akan tersenyum padamu.

Sedihnya yang terkadang hadir, karena ketidaksengajaan dan ketidakmampuan diri dalam mengelola keadaan.

***

2. Bersahabat dengan selain diri sendiri

Yah, ada-ada saja kejadian di sekitar yang membuatmu terpikir, agar kembali mengingatkan diri. Ingatan yang bisa saja hadir, tanpa engkau prediksi. Ingatan untuk menyapanya lagi, untuk mengajaknya bergerak lagi. Agar ia tidak merasa tertinggalkan, meski sedetik. Untuk sering menyadari, bahwa ia dan bagian dirinya yang lain adalah satu satuan yang tidak terpisahkan.

Laksana semut yang bertemu dalam perjalanan, lalu bersalaman, seperti itu pula diri adanya. Agar dalam langkah-langkahnya, ia senantiasa awas dan terjaga. Supaya, kondisi bagaimana pun yang ia temui, mengingatkannya pada kondisi lain yang berbeda.

Dalam langkah-langkah kaki, meski sendiri, rasakanlah kebersamaan dengan teman-teman yang biasanya melangkah bersama-sama. Dalam keadaan alam bercuaca terik oleh sinar mentari, ingatlah akan hadir gumpalan awan detik-detik berikutnya. Yang akan menjadi pelindung dan menyejukkan.

Ada juga, keadaan di luar sana, yang tetiba mengajak diri berpikir lagi. Tentang bagaimana menghadapinya? Saat ada yang merasa terkecewakan, atas kenyataan yang di luar duga. Lalu, kalau terpikir-pikir terus, untuk membahagiakan sesiapa, kapan lagi bisa menyerahkan semua urusan kepada-Nya?

Barangkali, bisa jadi, boleh saja, kekecewaan yang ada di ujung sana, benar melalui diri, yang alpa. Diri yang belum sepenuhnya bisa menghiburnya agar bahagia. Haaay, silakan tersenyum sejenak, dear me.

Engkau tidak semengecewakan itu, bila memang ada yang kecewa. Lagi pula, bukan hanya engkau yang terlibat di dalamnya. Ada pribadi lain yang semestinya berkontribusi. Tapi, engkau tidak bisa mengendalikan waktu semuanya, bukan? Masing-masing ada kepentingannya. Masing-masing juga bisa saja harus menjalani keperluan tanpa duga. Masing-masing bisa saja, belum menyadari arti penting menjadi seperti semut. Dalam hal ini, ingatkan diri lagi, untuk memetik hikmahnya, yaa.

Usah tersedih, tapi tersenyumlah. Atas kecewa seseorang yang sampai padamu. Kecewa dari ‘dia’ di sana. Benar saja, engkau tidak dapat membahagiakan semua orang, namun masih ada yang bisa engkau bahagiakan. Berbahagialah, bahagiakan ‘dia’ mu yang pantas engkau bahagiakan. Dia adalah dirimu sendiri.

Untuk dapat bersahabat dengan sesiapa, engkau perlu mempersahabati dirimu sejak mula. Mengapa? Karena engkau akan memberikan kesan persahabatan pada sesiapa, seperti kesanmu bersahabat dengan dirimu.

Lihatlah, perhatikanlah, dengarkanlah, rasakanlah, bagaimana engkau menerima tanggapan dari seseorang. Apakah engkau mengetahui pesan persahabatan hadir melaluinya? Melalui tuturnya saat berbicara, melalui tatapan matanya saat berpandangan, dari caranya melangkah. Adakah ia mempersahabatimu dengan indah?

Saat ia tidak dapat memperoleh kemauannya melaluimu, lalu ekspresinya tetiba berubah? Atau ia masih melantun suara dengan lembut dan bersahabat? Engkau tentu dapat menilai. Misalnya, seorang yang engkau sayang, tidak bisa mengungkapkan rasa sayangnya padamu. Ya, tidak sama seperti yang engkau bilang padanya. Lalu, engkau bilang, ia egois dan tidak mengerti dirimu. Tidak sepertimu yang bisa saja berucap manis.

Baiknya, yaa, berpikir tenang, sabarkan hati, sapa diri, teduhkan jiwa, dengan berprasangka, barangkali ia belum terbiasa. Dan tetiba, engkau hadir begitu saja, tanpa ia duga, lalu sayang-sayangin dia? Hai, apakah ini tidak membuatnya bertanya-tanya? Tentang siapa engkau sebenarnya? Sedangkan engkau telah terbiasa, tidak sama sepertinya?

Yah, ia egois di depanmu, tapi jauh darimu, ia tidak seperti itu. Mungkin ia sedang bertanya-tanya, mungkin saja gugup tiba-tiba, tidak bisa bicara. Karena ia belum mengenalmu.

“Hai, aku pun belum mengenalnya penuh, tapi mengapa aku bisa?” Engkau beraikan alasan dan mencoba membela diri.

Iya, benar adanya. Namun, engkau dan dia tentu berbeda. Engkau perlu memahaminya. Kalau benar adanya, sayang dan tulusmu dari dalam hati, ia pun akan tahu. Sekalipun engkau tidak bicarakan.

Ia akan mengingatmu. Meski dalam tangisan, ia tersenyum. Walaupun dalam senyuman, ia bisa saja menangis untukmu. Kalau ia menyayangi juga. Menangisnya karena tidak dapat menatap orang yang berlaku manis padanya. Menangisnya karena perlakuan manisnya yang tanpa kata-kata, tidak sampai pada orang yang menyayanginya. Karena baginya, mengungkapkan sayang tidak melalui kata-kata, tapi dengan tatapan mata. Hingga ia tenggelam di kedua tatapan orang yang ia sayang, tidak mengapa. Di sana, ia menemukan kesejukkan.

Ia menangis demi menunjukkan kasih sayangnya padamu, namun engkau tidak akan pernah tahu. Karena engkau tidak bertemu dengannya, tidak menatap dua bola matanya yang sudah seperti apa? Begitu pula dengan rasanya yang tercekat di kerongkongan. Rasa yang tidak bisa menjadi suara dan sampai padamu.

Meski ia menangis dan airmatanya meluruh sangat banyak itu bukan kesedihan baginya. Karena engkau perlu tahu bahwa di dalam hatinya, ia bahagia. Kebahagiaan yang tidak dapat lagi ia ungkapkan, kebahagiaan yang hanya ia rasakan, kebahagiaan bersama senyuman di dalam hati.

Senyuman yang semoga mensenyumkanmu juga, ya. Engkau yang menyayanginya. Apakah menyampaikan padanya seperti biasanya, atau tidak engkau sampaikan. Karena engkau mempunyai cara dalam menyayanginya, yang ia pun tahu dan kemudian mengambil hikmahnya.

Lama lama, ia percaya, terkadang hikmah datang dari arah yang tidak ia sangka. Termasuk engkau yang menyayanginya, padahal jauh di mata. Adalah hikmah terbaik dalam perjalanannya. Perjalanan hidupnya.

Ia menangis, karena tidak menyangka, kekuatanmu lebih jauh darinya. Engkau tidak kuat, karena tidak dapat menahan amarahmu padanya. Dalam hal ini, siapa yang egois, sebenarnya? Pikirkanlah.

Maka, daripada, menambah-nambah panjang tali perselisihan, ada baiknya engkau persahabati saja. Persahabatan yang engkau jaga ada. Hingga waktu yang tidak ditentukan.

“Mari, menjalaninya, sebagaimana yang engkau pesankan, sejak awal.”

Menjalani indahnya persahabatan, lalu menghirup segarnya udara kebebasan. Karena dengan bersahabat, kita bebas saling mengejek, bebas saling menghibur, bebas saling menguliti kekurangan dan juga kelebihan, tanpa perlu ada yang merasa-rasa ‘engga enak ah, nanti engkau ga terima’. Engga mau ah, nanti persahabatan kita rusak. Engga ah…

Engga akan ada lagi semua yang engkau pernah pikirkan yang engga-engga itu. Karena dalam persahabatan, duka suka adalah kebahagiaan yang engkau selami sepenuh jiwa. Luka sembuh adalah bagian dari persahabatan yang akan menghiasi waktu. Tanpa ada embel-embel, namun tulus.

Seorang yang menangis bukanlah selemah yang engkau sangka. Namun ia mengeluarkan airmata, karena tahu ada siapa di balik semua. Barangkali engkau yang tidak akan percaya, alasannya. Kalau pun ia menyampaikannya. Engkau tidak akan menyangka. Ternyata alasan dari menangisnya ia adalah engkau. Namun baginya, beraaattt untuk menyampaikan padamu.

Berratt untuk menjadi kuat sendiri. Beraat menyadari kenyataan, betapa kekuatannya sudah terlalu tinggi untuk ia pendam sendiri. Maka, ia memberikan kekuatan tersebut padamu, meski melalui sedu. Sedangkan engkau hanya mampu melihatnya terisak, tanpa niat menghapus airmatanya. Sesungguhnya, ya begitu. Semoga engkau tahu, hikmah dari semua ini.[]

🙂 🙂 🙂

8 thoughts on “Kita Bersahabat

    • Aku jawab ya. Dariku, engga ada ilmu khusus tentang dunia puitis. Tapi ku ingin berbagi juga sekadarnya, hasil dari pengalaman. Tolong baca yaa meski panjang. Kayak perjalanan hidup ini dengan liku-likunya. Silakan petik intinya saja. 🙂

      Ini berproses, seiring waktu, dari memperhati, bertanya, mendengar, lalu terbersit ingat untuk menjadikannya bacaan.

      Selainnya, adalah efek dari jalan-jalan. Perjalanan pikiran saat kaki-kaki belum bisa berjalan, bersyukur saat melangkah, ingat atas semua anugerah, sabar atas musibah, kekaguman pada indahnya ciptaan Allah, belajar dari sekitar…

      Begini sedikit gambaran yang ada dari balik catatan.

      Btw, terima kasih yaa, bilang aku puitis di sini, kalau aslinya nangisss atau malah senyumsenyumanis, bahkan histeris atau yang standarnya geleng+geleng, angguk-angguk, jadi, ilmunya : ini ala aku yaa, “Belajar mengekspresikan yang terlihat, terdengar, terasa, terpikir-pikir dengan kata-kata.”

      Semoga uraian lebar kali panjang di atas dapat menjawab kebelumtahuanmu, teman. Ku harap, semoga engkau masih penasaran. Penasaran dengan yang ada di sekitar. Karena bisa mengajak kita berpikir lagi, bertanya, melangkah, dan menemukan hikmahnya. 🙂

      Liked by 1 person

  1. wah, keren ya, aku suka bacanya, btw, sengaja bikin penasaran yaaa..?? heee btw lg kalo panjang dikali lebar = luas persegi panjang, apa perlu jg cari kelilingnya? jika bumi bulat dan bulat = lingkaran, apa kita siap jika harus cari2 luas dan kelilingnya?? bgmn bentuk2 yang lain, ada segitiga, segilima, segi enam, banyak lagi bentuk2 yang lain dan beragam, bgmn mengetahuinya??? hee, gak nyambung ya, btw terimakasih ya, inspiratif banget, aku coba petik hikmahnya , dan aku serapi ilmunya dan maaf kalo ada salah2 kata ni akunya, maaf ya please, ingat Kita Bersahabat<<– judulnya , dan aku ucapkan selamat mengawali hari di pagi ini dengan semangat dan senyumnya ya sahabat 😊 sib 👍

    Like

    • Hehee, okee, keadaan sekitar yang terkadang menghadirkan tanya. Bagaimana bisa begini, apa dan siapa?

      Aih! Jadi mikir nie, terbayang rumus-rumus yang olalaa. Sudahlah, jalani aja hidup ini pasti ada yang terbaik. #ngganyambungjuga yaa 😀

      Iyap, tersemangati juga ku di sini. Terima kasih kembaliiii. Senang bersahabat. 🙂 Selamat beraktivitas akhir pekan, yaaach.

      Like

  2. Pingback: Kita Bersahabat – Nogara

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s