Crying Session

Barakik-rakik ka hulu, baranang ka tapian. Basakik-sakik dahulu, sanang kamudian. Kalimat ini ku ingat lagi dan lagi. Setiap kali ku tidak mampu tersenyum. Ketika kenyataan membuatku tergugu. Lalu meneteslah airmataku. Aku pilu dan kemudian mengalirkan rasa melalui bulir bening permata kehidupan di pipi. Aku sendu dan kemudian mengharu biru. Syahdu dalam kalbu terlihat pada wajahku, huhuhuuu.

Engkau bilang, “Tidak semestinya begitu. Hadapilah kenyataan sepenuh hati. Tetap tersenyum. Walau bagaimanapun situasi menerpa-nerpa jiwamu. Tetap teguh. Seperti apapun keadaan memberimu pengalaman. Tetap berjuang, dengan tenang. Tidak boleh lelah dan menyerah, meskipun engkau lemah. Tidak boleh menangis terus. Sekalipun engkau gundah. Tidak boleh langsung kalah. Sebab perjuangan masih berlangsung. Engkau harus menang. Engkau mesti tegar!”

“Tidak boleh terlalu kejam pada diri sendiri. Setidaknya, buatlah ia senang dan bahagia. Jangan biarkan ia terus menangis atas kelakuanmu yang tidak menenangkannya. Sampaikan padanya, bahwa engkau sungguh sayang. Ya, tersenyumlah di hadapannya. Lihatlah bagaimana ia berekspresi saat engkau tersenyum padanya. Tentu ia juga tersenyum padamu, bukan?? Iya, seperti ini cara menyikapi keadaan. Seperti ini cara memperlakukan diri. Seperti ini juga cara memperlakukan orang lain. Bila kita ingin orang lain tersenyum, tersenyumlah terlebih dahulu. Bila ingin orang lain peduli, pedulilah lebih awal. Bukan karena ada maksud tersembunyi, tapi dari hati,” engkau menambahkan. Bagian ini, sering ku terima sebagai masukan.

Hai, engkau tidak pernah tahu, ada apa di dalam hatimu ini. Aku tidak pernah bisa membaca, bagaimana pikiranmu. Aku tidak bisa mendengar suaramu, bila engkau tidak menyapaku. Aku tidak bisa melihat rupamu, bila saja kita tidak berpandangan.

Ya, karena aku adalah sekeping hati yang tersembunyi. Aku jauh di dalam dirimu, yang engkau bawa ke mana-mana. Tapi, ingatkah engkau bahwa aku masih ada, dalam segala gerakmu? Apakah engkau menyadari kebersamaan denganku? Bagaimana engkau memperlakukanku?

Apakah engkau biarkan aku begitu saja? Engkau tidak lagi mengingatku, ketika ku tidak bicara apa-apa? Apakah engkau yakiiiiin, masih terus bergerak tanpaku? Apakah engkau masih saja meneruskan perjalananmu tanpa menyapaku? Engkau tega, bila begitu. Engkau tidak boleh egois! Memperturutkan kataku, sendiri, saja. Tapi, turutlah juga kata orang tua-tua. Dengarkan nasihat beliau, jalankan dengan sepenuh hati, insyaAllah ada kebaikan berlimpah. Ada yang bisa kita senyumi di saat ingatan pada beliau merebak segera, dalam kebahagiaan kita menempuh masa.

Engkau kembali memesankan, “Iya, menjadilah anak yang patuh pada orang tua. Menurut pada nasihat beliau, baik adanya. Memohon doa dalam segala rencana, pada beliau orang tua kita. Memohon ridha dalam segala langkah, pada beliau tercinta. Selanjutnya, selamat menyambut hari bahagia, menempuh masa depan lebih ceria, menjalani hari ini dengan gembira bersama senyuman, yaa.. 🙂 .”

Aku tidak bisa menolak, sesuatu yang sampai padaku. Akhirnya nuruuutt aja tidak bisa berkata-kata. Lalu melakukannya sepenuh hati. Sesuai suara hati. Bila hati bilang iya, ku lanjutkan. Bila hati bilang tidak, yang terdeteksi dari tidak bersuaranya ia, aku mundur. Begini ku menyikapi keadaan, awalnya.

Seiring pengalaman yang orang lain bagikan. Seiring bacaan demi bacaan yang mampir dalam ingatan, aku mulai belajar menyadari. Ternyata, melakukan sesuatu sepenuh hati, benar hasilnya. Kita akan ringan melakukan, tanpa tekanan. Kita akan lega dan nyaman, tanpa godaan. Ini tentang melakukan sesuatu dari hati.

Selain melakukan sesuai kata hati, pun perlu mempertimbangkan. Ini tentang melakukan sesuatu setelah memikirkan. Ini sangat penting, dan masih ku pelajari lagi dan lagi. Karena, sebagai perempuan yang perasa, selama ini ku sungguh mengedepankan rasa. Ujung-ujungnya terlarut suasana, atas keputusan yang tidak tepat.

Saat ku rasa, tidak bisa begini. Ketika ku rasa, engga enak hati bila tidak melakukannya. Akhirnya, dengan alasan engga enakan, ku melakukan. Aku tidak bisa memikir, mempertimbangkan, awalnya. Kecuali demi kebahagiaan rasa yang ada, saja. Tanpa bertukar pikiran, tanpa mendengarkan pengalaman dan tanpa bicara dengan sesiapa. Hanya bicara dengan diriku sendiri, lalu membuat keputusan sendiri. Akibatnya adalah, aku jadi sedih, saat ternyata keputusanku belum tepat. Maka, ku memperoleh pengalaman. Pengalaman pribadi, namanya. Pengalaman yang menjadi bahan pelajaran, akhirnya.

Ke sini-sini, aku belajar dari kesedihan. Aku belajar dari kesalahan. Aku belajar dari kehendak hati sendiri, yang tidak mesti ku perturutkan. Maka, sepenuh kemauan, ku belajar mendengarkan saat ada yang berbicara denganku. Sesungguh niat, ku belajar mengerti saat ada yang menyampaikan nasihat dan pesan padaku. Sepenuh kehadiran diri, ku bersamai sesiapapun yang ku temui.

***

Sore hari kemarin,

Aku sedang melangkah. Melangkah saja, dengan tenang. Melangkah dengan senyuman di ruang ingat, bersama hati yang dekat. Tersenyum, setelah sukses menyeberang jalan raya yang menganca-m keselamatan. Tersenyum, setelah jalan menyisakan ruang lebih lapang, untukku bisa melangkah. Tersenyum, saat laju kendaraan melambat, dari kejauhan. Tersenyum, saat mereka tidak terburu ingin lewat, saat aku mau menyeberang. Tersenyum, karena segalanya begitu perhatian, pengertian, padaku yang moodian. Tersenyum, untuk melegakan lagi pikiran, melerai rasa yang terkadang tidak karuan. Tersenyum, di ujung hari yang sebentar lagi kelam. Aku tersenyum, dalam kelelahan. Tersenyum untuk menghayati perjalanan.

Dalam perjalanan, ada banyak persimpangan. Apakah ku memilih lurus, belok ke kanan, atau ke kiri. Nah, bagaimana kalau jalan di tempat? Ini artinya, ku tidak akan ke mana-mana. Ya, berjalan di tempat, tidak akan menyampaikan kita ke tujuan, bukan? Maka, selangkah lagi ku melangkah, mengikuti kata hati, ini yang berlangsung awalnya. Selangkah lagi ku bergerak, menuju pulang.

Pulang yang terbayang, penuh dengan kedamaian. Pulang yang mengungkit rindu, supaya ku tetap bergerak. Pulang yang mengajakku mendekatinya. Sebab setelah sampai, ku bisa rehat. Tidak lagi melangkah, dan penat. Namun bisa duduk manis, atau baring-baring. Pulang yang mengundang ingatan, lagi. Pulang, ku terkenang. Saat ku dalam perjalanan.

Iya, menyadari diri masih dalam perjalanan, ku tersenyum sambil melangkah. Aku yang belum sampai di tujuan. Makanya, ku pergegas gerak kaki. Ku ayunkan ia lagi. Dan jangan pernah bilang lelah, yaaaa. Aku sampaikan padanya agar tetap melangkah. Hahaa, 😀 kejamnya diri ini. Padahal, ada sarana termudah untuk sampai di tujuan. Ada kendaraan yang wara-wiri mau saja menyampaikanku pada tujuan, lebih cepat. Ada jalan lain yang bisa ku tempuh agar waktu terpakai dalam perjalanan tidak lama. Namun, aku tidak begitu. Aku hanya ingin menikmati waktu. Waktu hidup yang penuh anugerah ini. Makanya, ku berjalan, melangkah dengan sepenuh hati.

Di jalan, aku memperhatikan sekitar. Di jalan, yang berbeda dari kemarin. Di jalan yang berbeda dengan saat berangkat. Di jalan yang hari-hari sebelumnya juga pernah ku lewati. Namun tidak setiap hari lewat di jalan satu ini. Di jalan, yang menjadi sarana sampaikan ku pada tujuan, menuju pulang.

Di jalan ini, aku berada kini. Jalan yang ku pilih, untuk bisa bersapa dengan sesiapa saja yang ku temui. Di jalan yang mengingatkanku, pada diri. Bahwa ia tidak bisa melakukan sesuatu, sendiri. Namun, perlu masukan dan motivasi. Ia perlukan selain dirinya, kemudian bersinergi.

Di jalan yang ku lalui, kali ini, belum pernah ku bertemu dengan sesosok pribadi lainnya. Karena jalannya tergolong sepi. Namun dalam langkah hari ini, ada yang ku temui. Pertemuan pandang yang membuatku ku tak bergerak sejenak, lalu benar-benar berhenti. Aku tertarik untuk mendekatinya. Beliau adalah sesosok muslimah berjilbab rapi.

Aku teringat untuk melayangkan pandang, yang tertuju pada beliau. Beliau, sedang menggoreng tela-tela. Namanya menjadi tela-tela, entah berasal dari mana? Seperti apa sejarahnya? Aku tidak mengerti, dan tidak mencari tahu. Sejauh ini, memang belum. Tapi, aku mau merangkai senyuman juga tentangnya specially. Semoga, ada yang menginspirasiku lebih lanjut, tentang tela-tela ini.

Ya, tela-tela. Apakah wujudnya? Siapakah ia sejatinya? Tela-tela adalah salah satu camilan di kota ini. Camilan yang ku sukai. Bahannya adalah dari singkong.

Yes, ubi kayu dipotong membentuk persegi panjang, seperti korek api. Tapi, ukurannya lebih besar. Seperti jemari di belah menjadi dua, kira-kira, yaa. Panjangnya bisa saja sepanjang jari-jari tangan ini. Untuk lebih mantab, dibalur dengan bubuk keju, balado, atau manis dan gurih, setelah digoreng. dan dikeringkan. Pilihan rasanya, sesuai selera.

Cara pengolahan sebelumnya hingga menjadi camilan yang lezat ini, dengan merebus terlebih dahulu. Setelah ubi kayu di potong-potong berbentuk tiang-tiang kecil. Setelah dicuci bersih, setelah dikupas kulit ari dan kulit luarnya. Setelah di panen dari pohonnya, setelah di tanam oleh petani singkong. Setelah batangnya yang mudah bertunas itu terpilih sebagai bibit untuk ditanam. Setelah sebelum-sebelumnya, batang-batang ubi kayu terbaik tertemukan. Setelah dari satu generasi ke generasi selanjutnya, ubi kayu menjadi bagian dari tanaman yang bermanfaat. Setelah sejak dulu, orang-orang tua kami menjadikannya sebagai bahan makanan pokok. Setelah masa berganti, tahun berubah, zaman canggih dan kini aku masih suka ubi kayu. Lhooo. Apalagi yang diolah menjadi tela-tela ini. 😀

***

Hikmah bermula. Ketika ku tertarik untuk mendekat. Saat langkah-langkah kaki mulai melambat hingga henti. Aku ingin henti sejenak, lalu menepi. Ku dekati beliau, yang bernama Kakak Suri. Begini beliau memperkenalkan diri, saat akhirnya kami terlibat percakapan bernas. Kebersamaan berlanjut, dengan kerelaan beliau menasihati diriku ini. Padahal kami baru bersapa. Namun beliau mudah memberiku pesan, tentang perjalanan diri. Sebagai mana pengalaman kakak, “Begini… begini… begini…, yaa.” Sambil menyiapkan pesananku, beliau beraikan suara nan lembut dan ramah.

Hai, beberapa menit kemudian, setelah kedatanganku dan kami bertukar suara dalam kebersamaan, datang lagi teman beliau, sebagai pembeli berikutnya. Lalu mengakrabiku dengan pengalaman yang juga beliau bagi. Begitu mudahnya kami akrab, semua tentu tidak terjadi begitu saja. Karena, kami membahas tentang seputar wanita dan kehidupannya yang berliku-liku. Ini cerita tentang perempuan yang bertemu sapa lalu ‘ngerumpi?‘ Bukan, tidak bisa ku sebut ini rumpi. Walau pertemuan kami memang untuk berbicara. Tapi, sekadar berbagi pengalaman, beliau berbagi. Untuk menjadi pengingat, ku jadikan sebagai catatan, tentang pertemuan kami.

Pertemuan kami yang tidak terencana, namun akhirnya menitipkan ingatan. Karena ku mampir di antara jeda langkah-langkah. Pertemuan kami untuk keperluan apa? Kalau bukan untuk ku petik makna.

Awalnya ku mau beli sebungkus tela-tela saja, akhirnya berbonus pengalaman dari dua ibunda nan sahaja. Pengalaman tentang keadaan yang sedang berkecamuk dalam ingatanku. Beliau menjadi jalan cerahkan lagi pikir ini, kiranya.

Aku mau mengingat lagi, jadinya. Ini tidak dapat tidak untuk ku ingat. Karena ku suka gaya beliau bercerita. Supaya ku teringatkan lagi dengan beliau berdua dari masa depan. Maka ku merangkai senyuman spesial ini. Teruntuk sosok-sosok yang mengalirkan kedamaian hati. Sosok yang langsung mengingatkanku pada ibunda.

Ya, ibunda pernah berpesan dalam harap tentang hal ini. Agar yang ku temukan dalam perjalanan adalah orang-orang yang baik padaku, mudah mengingatkan saat ku salah, bukan mengabaikan. Bersikap lembut padaku, penuh pengertian dan pemahaman, bukan memarah-marahi kalau ku keliru. Berbagi pengalaman denganku, ilmu dan pengetahuannya, bukan malah mencela dan merendahkan atas ketidaktahuanku yang ia tahu. Kembali menyadari siapa aku, siapa ia, kami hamba-hamba-Nya yang bertemu atas izin-Nya. Mereka ada, untuk menjadi bagian dari perjalan hidupku.

Kalau pun harus berjarak raga, ku tahu, kami selalu bersama. Mereka masih ada dan mengirimkan doa, saat kami berjauhan. Sehingga kami senantiasa dekat tak lagi berjarak. Orang-orang penuh kebaikan. Sehingga menjadi jalan kembalikan ingatanku kepada Allah Yang Maha Baik. Mereka ada, untuk menjadi bagian dari kehidupanku. Menjadi jalan sampaikan kebaikan-Nya melaluinya dan mereka semua yang ku temui.

Bertemu dengan orang-orang yang kembali merengkuh supaya tegak lagi, melihatku sempoyongan. Terus saja melangkah di sampingku, untuk meneman dalam perjalanan kehidupan baik raga atau sebentuk doa. Sehingga ku kembali temukan kekuatan, saat ku kelelahan.

Orang-orang yang tidak meninggalkanku, begitu saja, namun menjaga terus dalam ingatan. Sekalipun kami akhirnya berjarak dan berjauhan, atas nama melanjutkan perjalanan. Karena setiap kita, sudah tercatat perjalanannya, bagaimana, mau ke mana, bersama siapa, kapan saja, dan berapa lama?

Sehingga ku tidak lagi lupa-lupa. Lalu, bersungut-sungut dan mengo-mel bila ada yang diluar duga. Namun bermudah-mudah mengembalikan semua kepada-Nya, untuk berserah diri. Tidak lagi suka-suka mencari kesalahan orang lain, padahal diri sendiri tidaklah sempurna. Tidak hanya mengharap orang lain melakukan hal-hal yang ku mau, untuk ku. Tanpa melakukan sesuatu yang ia mau, terlebih dahulu. Tanpa mengerti, perlakuan ku pada orang lain.

Bagaimana aku mau orang lain memperlakukanku, begitu juga ku memperlakukan mereka. Ini namanya belajar mengerti, berempati, bersinergi, berbagi, bersosialisasi. Tentang hal ini, aku masih perlu, sangat, harus, terus, berjuang dan belajar banyak. Mohon memahami. Sejauh ini ku juga mengingatkan diri, untuk begini dan begini, dalam melangkah. Sehingga panjangnya jarak perjalanan yang ku tempuh dalam hidup ini, pun mengetahuinya.

Singkat cerita tentang kebersamaan kami, aku terbuka pikiran lagi. Benar juga yang beliau sampaikan. Karena beliau berdua sudah kembali dari masa-masa yang ku jalani saat ini. Beliau adalah pejuang tangguh bernama ibu. Tentu saja yang beliau sampaikan, untuk kebaikan. Maka, ku jadikan sebagai penggerak diri, supaya ia kembali semangat, dan bersinergi dengan diri. Untuk bersiap-siap menghadapi masa-masa sebagaimana yang beliau telah dan sedang jalani. Berhubung masih sangat minimnya pengetahuan dan pengalamanku. Menyadari diri, sedikit-sedikit ku masih mensenyuminya. Tepat saat pikir ku menepi pada suatu masa yang tidak akan pernah kembali lagi. Hari ini. Hari yang masih menjadi milikku, bagaimana menjalani?

Apakah hari ini, ku mau belajar memahami? Apakah ku masih giat mendata diri? Apakah ku suka ketika masih ada yang menasihati? Hai, suka banget. Aku sangat suka menerima nasihat dan masukan. Untuk selanjutnya ku timang-timang dalam ingatan. Ku pikirkan baik buruknya, lalu tersenyum dech. Lanjut mengucap syukur. Alhamdulillah. Karena selalu ada dan sangat banyak yang sayang padaku. Mereka semua tulus dan ikhlas.

Meski tidak ku minta, beliau tetap ada. Walau tidak ku sapa, beliau hadir segera. Tepat, saat ku benar-benar mendamba. Tepat, saat ku sedang membutuhkan jalan keluar. Tepat, saat ku sedang dalam kebuntuan. Tepat, saat ku tidak bisa berpikir lagi. Ini seharusnya bagaimana menyikapinya? Tepat, dalam waktu yang pas, pertolongan demi pertolongan datang. Huuwaaa, aku bisanya nangis aja kalau sudah begini. Aku bisanya terharu, dalam senyuman. Aku bisanya menitikkan airmata di pipi, lalu bercermin. Ih, aku jelek kalau nangis. Aku pun tersenyum, lagi. 🙂

Semua yang ku tangkap, dari nada-nada suara yang terdengar, ku rekam dengan sepenuh kemampuan dengan mengingat. Inti pesan yang beliau sampaikan, untuk kebaikan ku di masa mendatang. Ku mendengarkan dengan seksama. Ku menyimak dengan sepenuh jiwa. Aku lega sungguh bahagia, Allah mempertemukanku dengan beliau-beliau semua. Termasuk baru-baru saja, kawanku datang lagi.

Beliau bercerita segalanya, tentang perjalanan hidup yang penuh coba. Beliau berkisah, untuk jangan terlena. Beliau mengingatkan, untuk mengimpi yang sempurna, terbaik, berusaha, berdoa, dan hasil akhir ada di ujung usaha. Bertawakkallah, jangan lupa. Supaya kaki-kaki kembali mau melangkah, bagaimana pun kenyataan yang terpampang jelas di depan mata. Aku mengangguk, aku suka pesan beliau.

Di sini, ku merangkai senyuman. Untuk merangkai kembali ucapan terima kasih yang ku sampaikan juga dalam waktu-waktu kami bertukar suara. Untuk yang mengingatkanku melalui rangkaian suara, ku menyampaikan terima kasih dengan menuliskannya.

Semoga, ada yang terpetik manfaat juga, dari perjalananku merangkai senyuman ini, yaa. Buat sesiapa yang sebaya denganku atau lebih muda. Buatmu teman, yang menempuh uji dan coba dalam perjalan. Ujian keikhlasan, keimanan, keteguhan dan ketekunan. Engkau yang masih berjuang, jangan pernah lengah. Karena goda dan sapa ada di mana-mana. Tetaplah melangkah, insyaAllah ada bungah senyuman yang siap terukir, di ujung simbah airmata yang mengalir.

Menempuh proses, kita semua sedang berbenah, bukan? Berbenah lagi, sikap-sikap yang belum tepat. Berbenah lagi niat-niat yang belum pas. Berbenah lagi, untuk menjadi lebih baik. Berbenah lagi, untuk mengajaknya, bangkit!

Diri kita tidaklah terjadi dengan sendirinya, seperti saat ini kita membersamainya. Namun, ada yang berada di balik layar, itulah orang-orang terbaik yang mendukung. Apakah terlihat mata dan bersapa, atau yang hanya hadir di dalam asa.

***

Pada beliau yang tersapa, saat beli tela-tela kemarin sore, aku bersyukur, “Terima kasih untuk nasihatnya.” Terima kasih atas pertemuan ku dengan Kak Suri dan teman beliau. Terima kasih atas barisan kalimat yang terdengar dan ku hayati, lalu ingin dapat ku baca lagi. Akhirnya, beliau muncul lagi di depan mata, seperti saat kami bertukar suara bertatap mata. Tidak lagi terdengar-dengar oleh telinga suara beliau, namun telah mewujud senyuman.

Atau, ku cari-cari nasihat dari sekitar, terdekat dan sangat akrab dengan diri, yaitu sekeping hati. Atau, suasana sejuk yang ada di sini. Ini juga nasihat untukku lagi. Supaya, masih mau tersenyum, bagaimana pun kondisi.

Ku melirik sekejap ke depan sana, di luar ruangan tampak redup. Mentari yang tadi bersinar ceria, tidak lagi terlihat. Karena ada awan putih yang berebut mengambil tempat terdekat dengannya. Mereka sangat sibuk, ramai saling dulu-duluan. Hingga akhirnya, timbullah tumpukan awan dalam pandangan. Sinar mentari pun susah sekali sampai ke bumi. Sudahlah. Ini namanya nuansa hari menjelang hujan. Tampaknya, mendung yang semakin berat ini sudah bersiap turunkan hujan. Ini berarti, siap-siap dech, membersamai suasana yang lebih sejuk lagi. Kesejukkan yang menjadi bagian dari waktu-waktu ke depannya, insyaAllah. Tepat, saat hujan turun lagi.

Di sana, bagaimana cuacanya, teman? Apakah juga bermendung (suasana hati tidak menentu), sedang turun hujan (airmata berguguran), mentari bersinar terik (bahagia sampai tertawa menghiasi perjalanan dan waktu) atau cuaca lain yang tidak ku sebutkan?

Walau bagaimana pun kondisinya. Seperti apapun cuacanya, hadapi, tetap melangkah, yah. Biarlah bersakit-sakit dahulu, demi senang kemudian. Tapi, jangan sakit-sakit yaa. Semoga engkau sehat selalu, teman… Tetap hidup dengan semestinya, jangan redup tanpa harapan. Namun, bersinarlah lagi dengan senyuman. Untuk hidup yang lebih hidup. Mari saling mendoakan, yuuk. Walau tidak terbariskan jejak-jejak langkah saat berjalan, tidak tersusun nama dalam kalimat, semoga dalam ingatan kita terus berjalan.

Mudah-mudahan, impian demi impian yang pernah ada, mendekatkan kita satu dengan lainnya. Agar dapat terus saling mengingatkan dan teringatkan, untuk semangat lagi dan bangkit, setelah mengurai tangisan. Berjuang, berdoa dan tawakkal. Tolong ingatkan aku juga, jangan sungkan dan segan. Karena, kita berteman…

Berteman, sangat perlu. Teman yang tidak bisa mengantarkan kita pada kebaikan lebih baik, jangan ditiru. Teman yang menghalangi kita pada taat, jangan diikuti. Teman yang tidak menjadikan kita lebih mengenal diri, jangan hakimi juga. Karena kita tidak tahu, pada bagian mana ia mampu meluruhkan airmata kita, lagi. Makanya, belajar mendengarkan ini perlu. Sangat perlu, dan kita harus menyiapkan diri untuk ini. Mendengarnya saat bercerita tentang latar belakangnya. Mendengarkan suaranya yang meminta kita berbicara padanya. Mendengarkan permintaan seperti ini, aku merasa asing. Mengapa?

Iya, aku tidak bisa bicara banyak, aslinya. Tapi, ia mau agar aku memberaikan sebuah cerita atau kisah yang dapat menghiburnya. Menghibur teman yang sedang tidak ada aktivitas penting untuk ia lakukan. Makanya, ku bersedia. Ku coba saja, mengurai kata. Ku sampaikan saja, segala yang ku rasa. Hingga terciptalah sebuah kisah tentang kenyataan, di atas.

Kenyataan, adalah keadaan yang saat ini kita jalani. Kenyataan seperti apakah yang engkau alami, teman? Apakah engkau dalam kesedihan? Atau bersama senyuman? Atau dua-duanya datang bersamaan menemuimu? Bagaimana engkau memberikan tanggapan dan menyikapinya? Seperti apa engkau menghadapinya? … begini ku memulai kisah, untuknya. Selanjutnya, nangis… karena ia terlihat berubah. Berbeda, tidak seperti biasanya. Lanjutan ceritaku untuknya ya, note ini.” [MS]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close