Tetap Semangat! Teman…

“It does not matter how slowly you go as long as you do not stop.” ~Confucius

Masih ada hal-hal yang mesti kita perbaiki dari diri ini. Hal-hal yang sederhana, sangat dekat, dan selama ini luput dari perhatian kita. Hal-hal yang penting, sangat perlu, dan selama ini tidak bisa menjalankannya. Hal-hal yang menurut kita biasa saja. Sesungguhnya bukan biasa bila kita terapkan. Hal-hal ringan, namun berat menjalaninya. Hal-hal berat, namun harus kita lakukan. Tapi kita tidak mudah melakukannya. Bisa saja dengan alasan mala-s, tidak berkenan, belum ada niat, atau karena belum ada yang memotivasi. Sehingga, kita terlewat satu hal penting ini.

Lama-lama kita menyadari, kita tidak bisa selamanya begini. Kita tidak bisa begitu-begitu saja. Padahal zaman sudah berubah. Usia terus berkurang. Kesempatan hidup belum tentu sampai kapan.

Apakah yang bisa kita senyumi kelak, di ujung perjalanan hidup ini? Apakah yang dapat menolong kita? Saat tidak ada lagi yang dapat memberikan bantuan? Siapa saja yang masih ada di dekat kita. Ketika kita tidak mampu mengenali diri lagi. Setelah ia kehila-ngan ingat-annya? Bisa saja di usia renta yang terus menua, kita masih ada, bukan? Wallahu a’lam bish shawab. Maka kita berdoa,

Allaahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijaal ~ Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari belenggu hutang dan tekanan manusia.

***

Seiring usaha, kita berdoa, setelah memunculkan tekad untuk memperbaiki diri. Agar kita juga bisa melakukan yang sudah orang lain lakukan, dengan mudah. Kita juga ingin seperti mereka. Mereka yang merasakan manfaat dari ibadah-ibadah yang mereka jalankan, istiqamah. Sehingga tampaknya, hidupnya tanpa masalah? Terlihat, mereka sangat menikmati harinya. Hingga muncullah kemauan diri, untuk meniru dan mengikut pada kebaikan. Ini lebih baik, bukan? Dari pada ikut-ikutan gaya hidup orang lain yang belum tentu sesuai kemampuan.

Ketika kita ingin memperbaiki diri, maka Allah mempertemukan kita dengan orang-orang yang juga sedang memperbaiki diri atau dengan orang-orang yang lebih baik dari diri yang sedang kita perbaiki. Ketika sudah bertemu, inilah saatnya memulai. Dalam hal ini, kita sedang fokus pada perbaikan di bagian mana? Apakah keistiqamahan shalat lima waktu? Shalat sunat tahajjud? Membaca dan memahami al Quran? Shalat Duha? Sedekah? Tersenyum? Bersyukur? Menjadi orang yang sabar? Berkata baik-baik dan sopan? Berakhlak terpuji? Silaturrahim? Pilihlah, bagian mana yang sedang kita perbaiki dan ingin berbaikan dengannya. InsyaAllah, ada jalan. InsyaAllah, ada kemudahan demi kemudahan.

***

Ada jalan membentang indah, di dalam kehidupan ini. Jalan-jalan yang siap kita tapaki, kalau kita memiliki kemauan. Jalan-jalan yang tetap di sana, kalau kita tidak mendekatinya. Jalan-jalan yang tidak bergerak, namun kita yang bergerak ke arahnya. Inilah usaha yang mesti kita dayakan. Iya, kita mesti berjuang.

Saat melangkah di jalan-jalan tersebut, tentu ada rintangan. Apakah cuaca yang kerap berubah? Apakah gangguan dari orang-orang yang sama-sama melangkah? Apakah dari dalam diri kita sendiri yang terkadang mau menyerah? Jadikan rintangan sebagai penggerak lagi. Jadikan cuaca sebagai cara kita mengenali, sejauh apa kita bisa bertahan di tengah badai. Sejauh apa kita mampu berjemur di bawah terik mentari. Sekuat apa kita berada di dalam hujan. Kita harus mengenali kelebihan dan kekurangan diri.

Supaya kita menyadari, batasan-batasan yang dapat ia lampaui atau tidak mampu ia taklukkan. Kita harus mengerti, dengan diri kita sendiri, terlebih dahulu. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan sesiapa, saat kita berhadapan dengan rintangan.

Tidak, jangan, kecuali bertanya pada diri, apakah ia sudah dapat menyesuaikan antara badan dan bayang-bayang? Maksudnya, tidak ada ketimpangan. Maksudnya lagi, tidak melakukan sesuatu, melebihi kesanggupan. Maksudnya, mengintrospeksinya bila ada yang belum semestinya ia peroleh. Maksudnya, menyikapi kegagalan dengan senyuman. 🙂

Mengapa mesti ingat untuk menyesuaikan antara badan dan bayang-bayang? Supaya tidak tepar, kelelahan. Namun, bergerak proporsional. Ini pesan ibunda, hari ini. Saat beliau menanya dan mengingatkan, “Bagaimana perjalanan yang ku tempuh? Seperti apa kondisiku sekarang?”

Berhubung dalam waktu terakhir, ku melakukan aktivitas dua kali lipat dari semestinya. Sebagai tantangan untuk diri, ceritanya. Makanya ku menerima, demi bisa belajar lebih lagi. Belajar hal-hal yang belum tentu ku peroleh bila tidak menerimanya. Untuk mengajaknya belajar mengemban amanah, yang bertambah. Supaya ia tetap memetik hikmah, dalam melakukannya. Semoga, tetap sumringah, yaaaah. Aku suka menasihati diri, begini.

***

Dari hari ke hari, kita harus dan mesti lebih baik lagi. Tidak begitu-begitu saja, namun bergiat lebih rajin, bergerak lebih jauh, melangkah lebih lama, dan istirahatnya sejenak saja. Berikutnya, berjuang lagi, untuk melanjutkan perjalanan. Agar apa? Supaya waktu yang ada tidak terasa, namun menikmatinya dari masa ke masa. Agar episode demi episode dalam perjalanan, menjadi semakin berkesan. Tidak malah membosankan, namun menjadi kenangan yang memesankan. Saat kita melayangkan pandang padanya, dari masa depan. Kita sebarkan senyuman padanya, karena telah menjadi bagian dari perjalanan. Terima kasih kenangan, begini kita menyapanya saat reunian.

Tidak ada kejanggalan dan keanehan dari bertambahnya amanah, kecuali menitipkan lebih banyak lagi pengalaman. Kecuali, menambah pengetahuan, dari sisi-sisi yang belum tentu kita dapatkan jika tidak mengembannya, bukan? Inilah yang bisa ku petik hikmahnya. Makanya, ku melakukan aktivitas melebihi semestinya. Tidak lagi banyak-banyak bersantai, namun mencari celah untuk merangkai makna.

***

Aku yang masih saja suka lelah dan seakan mau menyerah, tetiba bersenyuman lagi dengan waktu. Tepat, saat seseorang menyapa, lalu bilang, “Semangat, yaa.” Padahal, aku siap rebah. Walau tidak menyengaja, dan merencana. Nah, inilah pentingnya menemukan diri-diri lain di sana. Diri-diri lain yang juga sedang memperbaiki dirinya. Diri-diri yang lebih baik dari diri kita. Agar kita dapat berkaca pada mereka, menjadikannya sebagai pelecut semangat.

Buat sesiapa saja yang hadir dalam ingat, saat ku merangkai catatan ini, tidak bisa ku susun huruf-huruf untuk mewujudkan dirimu, teman. Namun demikian, aku mengukir senyuman sangat rindangnya, untukmu berteduh. Daunnya ramai, meneduhkan, dari wajah ini. Wajah yang ku bersamai, sepanjang hidup.

Wajah yang sangat senang membersamai wajah-wajah teduh juga. Wajah-wajah yang tanpa keluhan namun teguh. Wajah-wajah yang terang tidak keruh. Wajah-wajah yang damai tidak kacau. Wajah-wajah yang bening, tidak kering. Wajah-wajah yang mengajakku tersenyum, karena ia membersamai senyumanmu. Wajah-wajah yang ringan berekspresi, meski bagaimana pun suasana hati.

😀 Dalam tawa, nangis juga, akhirnya. Dalam tangis, bisa tertawa. Inilah indahnya, menikmati keharuan. 😀

***

Hiya, dia memang gitu. Kalau sedih tertawa. Apalagi bahagia, tentu lah ia tertawa,” bisik teman sebaya pada temannya. Saat temannya bertanya, mengapa ku tertawa tadi. Ia yang sempat mendengarkan, lalu mendekat padaku, dan mengintip apa yang ku lakukan. Ternyata aku sedang membaca. Bacaan yang membuatku segera mengembangkan senyuman, indah. Senyuman bersuara. Senyuman pagi hari, yang mulai benderang. Senyuman untuk mensyukuri nikmat sehat, nikmat hidup, nikmat kebersamaan, dan menyambut tamu yang membawa senyuman.

Terkadang memang ku bisa tertawa, tersenyum, lalu menangis sambil bahagia. Ini yang terjadi, dan mendapat perhatian dari teman sebaya. Teman sebaya yang mudah memahamiku, dan mengerti seperti apapun ku berekspresi di depannya.

Tapi, pernah pada suatu ketika, ia bergumam tidak ku sangka. Membuatku berpikir, lalu bertekad memperbaiki diri. Setelah teringat-ingat, pesan yang ia sampaikan padaku. Pesan yang ku senyumi akhirnya. Ia sedang mengoreksiku, kiranya. Ia memberiku masukan, saran, dan nasihat.

Lain kesempatan, masih ada juga yang mengingatkanku, tentang perilaku dan sikap. Sikap-sikap yang menurutnya belum semestinya padaku. Dengan sebenarnya ia menyampaikan. Ia membuka pintu hatiku setelah mengetuk. Kemudian menyapa dengan lembut dan ramah. Hingga aku pun tersadar. Lanjut, menerima kehadirannya dengan senang hati. Walau membuatku terkejut, terpikir sebagai respon awal, “Ini tidak mungkiiiin.”

Tapi, memang demikian adanya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Aku tidak bisa menolak. Ku menerima dengan senang hati, lalu mengakui. Berikutnya, mengendapkan sebentar, meminta padanya waktu. Agar mau memahami dan mengerti, tentang kondisi terakhirku.

Ujungnya adalah ku anggukkan kepala, seiring hadirnya jalan keluar. Setelah ku bertanya, dan memberikan alasan mengapa ku bisa begitu. Pemahaman dan penerimaannya membuatku lega. Sebab tertemukan jalan keluar, akhirnya.

Berikutnya, ada yang mematahkanku, sejenak. Setelah ia bilang, bagaimana ku bisa begitu? Nah, kalau ku memberikan jawaban pun ia tidak akan tahu kronologinya. So, ku tekadkan, “Barangkali aku kurang usaha? Tidak seperti mereka-mereka yang sudah tidak begitu lagi. Tidak sepertiku yang sebegini adanya. Aku, yang masih saja diriku. Tidak bisa sama-samain dengan sesiapa, yaa.”

Dengan kehadirannya, ku berpikir sekali lagi, untuk menemukan solusi terbaik. Aku tidak boleh langsung patah. Tapi, bisa meliuk, mengambil arah untuk membungkuk, dan tegak lagi setelah ia lengah. Yah. Untuk menggerakkan diri lagi, supaya ia masih tegak, dan kemudian melanjutkan hidup dengan bahagia. 😀

Menanggapinya dengan menyanggah, bisa saja. Kalau merasa diri sudah benar dan sempurnya. Atau mencari-cari alasan yang bisa saja membenarkan diri sendiri, bukan? Tapi,  kita pun tidak sepenuhnya benar. Karena terkadang, ada bagian tertentu dari sikap kita yang bisa orang lain ketahui, dan sebaiknya tidak begitu. Maka, terimalah, tersenyumlah, engkau bermakna. Ia sayang padamu, sungguh inginkan kebaikanmu. Makanya, rela meluangkan suaranya untuk menyampaikan hasil pikirnya tentangmu. Kalau tidak sayang, ia mungkin mengabaikanmu. So, what do you think about this?

***

Tidak ada yang bisa mematahkan semangatmu, bila engkau tahu ke mana sedang melangkah, siapa saja yang ada di sisimu, dan bagaimana mereka memberikan perhatian terbaik padamu. Ingatlah, kebaikan-kebaikan mereka padamu, dengan begitu, engkau bangkit lagi.

Ya, engkau tidak boleh menyerah. Karena masih ada kesempatan untuk belajar lagi, dari sekitar. Termasuk darinya, yang memberikan masukan untukmu, supaya tidak begitu-begitu saja. Artinya, ada kebaikan yang ia selipkan padamu, dengan caranya. Jadi, lihat dari sisi baiknya saja. Karena kehadirannya dalam waktumu, tentu ada yang menggerakkan. Ia tidak bergerak sendiri. Seperti halnya engkau. Engkau yang tidak ada daya dan kekuatan tanpa pertolongan-Nya. Begitu juga, dengannya. Ia adalah jalan kebaikan dari-Nya, untukmu. Ingatlah, teman. Bahwa kebaikan ada di sekitarmu.

Semoga menyikapi begini, mempermudahmu untuk merangkai senyuman lagi. Sebagai salah satu cara untuk mengingat orang-orang yang hadir dalam waktumu. Untuk mengingatkanmu tentang pentingnya memperbaiki diri ini.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

4 thoughts on “Tetap Semangat! Teman…

  1. Hanyut awak baconyo uni..bagi2 lah ilmu menulisnyo uni..enak dibaco, ringan tapi berisi. Salut…

    Liked by 1 person

    1. 😀 Alhamdulillah. Kasadonyo terjadi dengan alami, sanak. Ilmu dari sekitar, saat memperhati, merenungi dan ingin mengingat lagi, lalu menuliskan dalam catatan. Sungguh, laa haula wa laquwwata illabillahil’aliyyul’adziim. Wah terharu, tarimokasi yoo. 🙂

      Like

      1. Oh iyo uni..samo2..👍

        Liked by 1 person

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close